Selamat membaca~


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku dan Juvia langsung pergi ke luar kelas. Hari ini Erza akan pulang dengan Jellal sedangkan Levy akan pergi ke perpustakaan jadinya kami tidak pulang bareng.

"Lucy-san, hari ini Natsu-san, Gray-san dan Gajeel-san kenapa mengikuti pelajaran satu hari penuh ya?" tanya Juvia, keheranan.

"Mungkin karna mereka takut tidak naik kelas" jawabku.

"bisa jadi" ucap Juvia sambil mengangguk.

"oh ya Lucy-san hari ini ke rumah Juvia ya, ada resep baru soalnya, jadi dicicipi ya" ucap Juvia lagi.

"benarkah? Baiklah aku akan ke rumah mu Juvia" ucap ku senang. Sudah pasti senang Juvia kan kalau memasak sesuatu pasti enak.


-di rumah Juvia-

Setelah memberi salam pada nenek Juvia, kami berdua langsung menuju dapur. Aku disuruh Juvia duduk saja di meja makan yang ada di dapur sambil menunggunya membuat kue.

Setelah kuenya matang Juvia langsung meletakannya di meja makan.

"baunya enak Juvia" ucapku sambil tersenyum ke arah Juvia.

"benarkah? Juvia senang sekali" sahut Juvia dengan wajah riangnya.

"lebih baik kau ajak nenek mu juga untuk mencicipi kue buatan mu Juvia" ucapku.

"benar juga, baiklah, tunggu sebentar ya Lucy-san, Juvia akan memanggil nenek dulu" ucap Juvia sambil pergi untuk memanggil neneknya.

Tak berapa lama kemudian, Juvia sudah kembali dengan neneknya dan GRAY.

Aku terbelak kaget, 'kenapa Gray bisa ada di sini?' batinku.

"Lucy-san hari ini Gray-san datang LAGI ke toko Juvia, jadi sekalian saja Juvia tawarkan untuk mencicipi kue buatan Juvia" ucap Juvia yang tahu aku butuh penjelesan kenapa tiba-tiba ada Gray di sini.

Aku, nenek Juvia dan Gray pun akhirnya mencicipi kue buatan Juvia, dan ternyata kuenya enak sekali.

"sepertinya ada pelanggan, nenek ke depan dulu ya, kalian makan-makan saja di sini" ucap nenek Juvia, lalu pergi ke depan untuk melayani pelanggannya.

"kue ini enak banget Juvia" kata Gray yang masih mengunyah kue buatan Juvia.

Juvia pun tersenyum mendengar kata-kata Gray. Yah walaupun sebenarnya Juvia tidak menyukai Juvia, tapi siapa sih yang gak seneng dipuji sama cowok sekeren dan seganteng Gray.

"iya Juvia, kuenya enak banget" tambah ku.

Setelah itu kami bertiga diam saja, tidak bicara apa-apa sama sekali, mungkin karna ada Gray di sini, karna biasanya Juvia dan aku pasti akan mengobrolkan sesuatu.

"makasih banyak ya Juvia kuenya, aku pulang duluan ya Juvia, lucy ada urusan" ucap Gray sambil mengambil tasnya dan pergi dari dapur.


Setelah Gray hilang dalam pandangan kami berdua, Juvia langsung duduk di sebelah ku.

"itulah yang Juvia bilang tadi pagi, Gray-san datang terus ke sini SETIAP HARI" sahut Juvia sambil mengguncangkan tubuhku.

"kan sudah ku bilang pada mu bahwa dia menyukaimu" kataku sambil merapikan seragam ku yang berantakan karna guncangan dari Juvia tadi.

"tidak mungkin, tidak mungkin orang seperti Gray-san menyukai Juvia" ucap Juvia

"baiklah seterah kau saja Juvia" kataku yang mulai pusing karna Juvia.


-Malam hari di kediaman Heartfilia-

Saat aku sedang belajar, aku mendengar suara ketukan di jendela kamarku, aku sedikit ketakutan tapi memutuskan untuk mengeceknya.

Saat aku membuka jendela kamarku, aku melihat natsu yang bepose seperti ingin melempar sesuatu ke arah jendela, tapi setelah melihat ku dia langsung melambaikan tangannya dan tersenyum.

"apa yang kau lakukan di sini Natsu? Ini kan sudah malam" teriakku pada Natsu agar dia bisa mendengarku.

"boleh aku ke kamarmu Luce?" tanya Natsu balik.

"ngapain?" tanyaku lagi.

"nanti aku jelasin, tapi sekarang aku ke kamar kamu dulu ya" pinta Natsu.

"oke" jawabku singkat. Setelah mendengar itu, Natsu lansung tersenyum dan memanjat ke arah kamar ku.

'dia jago manjat' batinku.

Setelah Natsu menjatuhkan kakinya di lantai kamarku, dia langsung berteriak ke arah ku, dan itu berhasil membuat ku cukup kaget sampai mundur ke belakang.

"LUCE TOLONG AJARIN AKU BIOLOGI, AKU GAK BISA SAMA SEKALI, PADAHAL BESOK ADA ULANGANNYA!" teriak Natsu.

"oke-oke aku ajarin kamu, tapi jangan teriak-teriak begitu dong, bisa ketahuan sama orangtuaku nanti" kataku sambil meletakkan jari telunjuk ku ke bibir.


Setelah 2 jam aku mengajari Natsu biologi akhirnya Natsu mengerti juga, ternyata memang benar Natsu adalah tipe orang yang cepat tanggap.

"makasih banyak ya Luce udah di ajarin" ucap Natsu senang.

"iya, udah sana cepet pulang, udah jam 9 malam nih" kataku mengingatkan Natsu.

"kok ngusir sih Luce?" kata Natsu langsung sedih.

"bukan ngusir, tapi ini kan udah malam, nanti orang di rumah mu mencari-cari mu" ucap ku pada Natsu.

Natsu langsung membuang mukanya. "cih, tidak ada yang akan mencari ku" jawab Natsu dengan sebal.

"Jangan kayak gitu dong Natsu, kalau aku ada di posisi keluargamu, aku pasti akan khawatir" ucapku.

Natsu menghela napas berat lalu berkata "oke deh Luce, kalau begitu aku pulang ya, dadah" sambil melambaikan tangannya dan meloncat ke luar jendela.

'Ada-ada saja dia itu' batinku.

Akhir-akhir ini aku merasa Natsu dan aku sangat dekat, tepatnya aku merasa Natsu seperti mendekati ku, tapi mungkin ini cuman perasaan ku saja, soalnya apa yang terjadi dengan aku dan Natsu, seperti yang terjadi pada Juvia dan Gray.


NATSU POV

'YESSSSSSS!' aku berteriak dalam hati. Aku sangat girang hari ini sampai tidak tahan untuk tersenyum lebar, walaupun aku tahu pasti akan sangat aneh melihat ku tersenyum sambil mengendarai motor, tapi aku tidak peduli karna hari ini aku sangat senang.

Jujur walaupun hari ini aku mengikuti satu hari penuh pelajaran tapi aku tidak menyimaknya sama sekali. Aku hanya memperhatikan Luce yang duduk tepat di depan ku dan sepertinya Gray juga melakukan hal yang sama pada wanita berambut biru yang ada di depannya, sedangkan Gajeel dia hanya tertidur sembari mendengarkan lagu di i-phone nya.

Luce adalah tipe orang yang serius di kelas, dia tidak akan mengobrol seperti anak lainnya, maka dari itu aku tidak heran kalau Luce itu anak yang pintar. Dia saja adalah murid beasiswa.(A/N: di cerita ini Lucy, Juvia dan Levy adalah murid beasiswa, dan SMA fairy tail adalah SMA yang bagus yang dimana semua muridnya adalah murid golongan atas/kaya) Beda sekali kalau dibandingkan denganku.

END OF NATSU POV


-di kediaman redfox-

GAJEEL POV

Aku menatap layar hp ku dengan pusing. Hari ini aku baru dapat nomor 'dia'. Tapi aku gak tahu bakal nelfon 'dia' atau enggak.

Akhirnya aku memutuskan untuk menelfon 'dia', tapi saat aku hendak menelfon 'dia' , tubuhku seakan-akan membeku.

"sial!" ucapku sambil melemparkan hp ku ke kasur.

'kenap dia tidak tahu aku? Apa dia lupa?' batinku seraya merebahkan diri ke kasur sambil mengingat kembali tentang aku dan 'dia'.

END OF GAJEEL POV


Author tidak akan berkomentar apa-apa tentang chapter ini, karna jujur saja, author sendiri juga deg-degan pas nulis bagian terakhirnya (Lho kok malah authornya sih yang deg-degan, yah pokoknya anggap saja begitu)

Reviews~