Malam menjelang saat Kyungsoo menyelesaikan acara belajarnya, gadis itu menutup buku paketnya dan berniat pergi tidur sebelum dia teringat pada kejadian tadi siang. Ah, ciuman pertamanya telah hilang pada orang asing. Maksudnya, dia dan Kai memang dekat, tapi mereka tidak memiliki hubungan apapun sehingga Kyungsoo merasa sedikit kecewa saat Kai menciumnya.
Gadis itu lalu mengeluarkan buku tua yang dipinjamnya dari perpustakaan dan membuka halaman pertamanya, mengenyit merasa aneh membaca deretan kalimat yang tertulis disana. Dia juga teringat buku yang dibelinya di toko tua beberapa hari yang lalu, itu buku sejarah kota ini dan isinya tidak jauh berbeda dengan buku tua di perpustakaan yang dipinjamnya, juga sama persis dengan perkataan Minhyun saat mereka dipantai.
"Ratusan tahun yang lalu, hiduplah bangsa vampire dan werewolf yang saling bermusuhan." Itu adalah kalimat awal yang Minhyun ucapkan sebelum dia meneruskan bercerita.
"Kenapa mereka bermusuhan?"
"Aku tidak yakin. Itu terjadi dari para pendahulu dan sudah turun temurun. Kami dipisahkan dengan sebuah batasan wilayah, dimana jika salah satu dari kami melewati batasan wilayah yang sudah ditentukan, akan terjadi sebuah pertempuran."
"Apakah mereka masih ada sampai sekarang?"
"Tentu." Minhyun menatapnya dan tersenyum. "Tapi tidak ada yang tahu dimana mereka bersembunyi."
"Lalu bagaimana cara menemukan mereka?"
"Ada beberapa cara, mereka mungkin bersembunyi, berbaur diantara kita. Tapi ada beberapa hal yang membongkar identitasnya jika kau cukup jeli."
"Hal macam apa?"
Minhyun menatapnya. "Siapa yang ingin kau ketahui? Clan vampire atau werewolf?"
"Vampire."
Lelaki itu mengangguk, lalu kembali berbicara. "Clan vampire cukup mencolok untuk dikenali. Ciri umumnya adalah suhu tubuhnya yang dingin dan selalu menghindari cahaya matahari."
Suhu tubuh yang dingin? Menghindari cahaya matahari?
"Bagaimana dengan clan werewolf?"
"Cukup sulit untuk menemukannya karna mereka tidak terlalu mencolok dan lebih terlihat seperti manusia pada umumnya."
"Apa itu artinya Kai dan keluarganya itu vampire?" Lelaki disebelahnya itu terdiam, dia terlihat tengah berfikir untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo, jangan sampai dia salah bicara dan menimbulkan kesalahpahaman.
"Itu semua tergantung dari bagaimana kau menilainya." Ucap Minhyun.
"Bagaimana kau bisa mengetahui semuanya? Apa kau salah satu dari mereka?" Minhyun menatap cepat pada Kyungsoo, mengernyitkan alisnya sebelum menggenggam tangan gadis tersebut dengan erat.
"Hei, apa yang–"
"Apa ini dingin?" Kyungsoo menatap tidak mengerti, namun dia menggeleng saat merasakan suhu tubuh Minhyun yang hangat menyelimuti tangannya.
"Kau berfikir aku salah satu dari mereka ya?" Lelaki itu terkekeh, lantas melepaskan genggamannya. "Kau ini lucu, jika aku salah satu dari mereka, missal bangsa vampire, aku sudah menghisap darahmu sedari dulu."
Oke, Kyungsoo cukup terkejut dengan kalimat Minhyun barusan. Tapi gadis itu merasa yakin bahwa lelaki ini bukan salah satu dari dua clan tersebut, dia terlihat seperti manusia lain pada umumnya disini, itu membuatnya lega. Hanya satu orang yang membuatnya curiga.
Kai.
Kyungsoo membuka lembaran buku tua tersebut lebih banyak sampai dia menemukan sebuah judul besar tepat ditengah-tengah buku.
Ciri-ciri seorang Vampire:
Meminum darah sebagai makanan pokok
Berwajah pucat dan memiliki suhu tubuh yang dingin
Memiliki kecepatan tingkat tinggi
Insting yang sangat kuat
Bola mata yang berubah, dan
Membenci sinar matahari
Gadis itu terdiam, tertegun sejenak. Otaknya berputar mulai mengaitkan ciri-ciri yang tertulis dibuku tersebut dengan hal-hal yang mungkin Kai lakukan. Lelaki itu dan saudara-saudaranya berwajah pucat, saat dia menggenggam tangannya, itu terasa sangat dingin, bahkan bibir lelaki itu juga demikian. Lalu bola mata yang berubah, serta selalu absen saat matahari bersinar dengan cerahnya. Kenapa itu semua mengarah pada Kai? Dan mungkin jika itu semua benar, terjawab sudah siapa orang yang menahan mobil Hyunbin tempo hari yang lalu. Dia tidak berhalusinasi.
Kyungsoo menutup buku tua tersebut, beralih pada buku yang dibelinya diperpustakaan. Gadis itu memijat pelipisnya saat dia menemukan hal yang sama, Kyungsoo tidak terlalu ingin percaya, dan untuk memastikan itu, dia membuka laptopnya dan mulai mencari-cari artikel tentang bangsa vampire.
Dan semuanya sama, mengarah bahwa Kai adalah seorang vampire. Ah, Kim Familly pastinya adalah keluarga vampire. Memang, dari awal saat dia pindah kemari, ada sesuatu yang menarik dari keluarga tersebut, terutama pada Kai. Dan dia sudah menemukan jawabannya sekarang, meski dia tidak percaya sepenuhnya sebelum dia bertanya langsung pada lelaki itu.
Kemudian keesokan harinya saat akan berangkat kesekolah, dia dikejukan dengan adanya Kai dirumahnya, beralasan bahwa dia akan mengantar Kyungsoo kesekolah karna Kris sedang sibuk. Saat menatapnya refleks Kyungsoo mundur selangkah.
"Vampire.."
.
.
.
Kyungsoo menghela nafas. Setelah Kai mengantarnya sampai depan pintu, gadis itu lalu memasuki kelasnya dan menemukan keadaan kelas yang masih cukup sepi, hanya ada segelintir murid salah satunya adalah Mingyu yang tengah bermain game dilaptopnya.
"Mingyu, selamat pagi." Sapanya pada lelaki itu dan duduk disebelahnya.
"Hei." Lelaki itu tersenyum sejenak pada Kyungsoo sebelum kembali beralih pada layar laptopnya.
"Um, bagaimana kabarmu dengan gadis itu?"
"Wonu?" Mingyu bertanya tanpa menatap Kyungsoo yang mengangguk.
"Hm ya, begitulah. Kami memang sering bertukar pesan, tapi sepertinya cukup mustahil mentayakan cinta padanya saat ini. Aku harus lebih mendekatinya dulu." Lelaki itu lalu menghentikan pergerakannya diatas keyboard laptop, menatap Kyungsoo yang sepertinya ingin bertanya sesuatu.
"Ada apa?" Tanyanya, memilih menutup laptopnya dan menatap fokus pada gadis disebelahnya.
"Ingin bertanya sesuatu?" Kyungsoo mengangguk dan menatap lelaki didepannya ragu.
"Kau sedikit banyak mengetahui gosip disekolah ini."
"Lalu?"
"Um, aku ingin bertanya sebelumnya, apa kau percaya bahwa bangsa vampire itu masih ada?" Kyungsoo bertanya dengan volume suara yang teramat kecil sementara Mingyu nampak terdiam, namun dahinya yang berkerut tajam menandakan bahwa lelaki itu tengah berfikir.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah ada orang yang kau curigai?"
"Tidak, bukan begitu. Kemarin aku menemukan sebuah buku tua diperpustakaan yang menyebut-nyebut tentang vampire. Aku hanya merasa penasaran."
"Well," Mingyu menggaruk belakang kepalanya sebelum mengangkat bahu. "Mereka mungkin memang masih ada, tapi tidak ada yang tahu dimana mereka. Kau mencurigai seseorang adalah vampire disekolah ini?"
Kyungsoo buru-buru menggeleng. "Tidak. Hanya penasaran saja." Tutupnya dengan raut setengah ragu, Mingyu ingin bertanya lagi namun bel pelajaran pertama sudah berbunyi dengan nyaring, Kyungsoo segera saja beranjak kekursinya saat seluruh penghuni kelas juga sudah berdatangan. Mingyu menebak pasti ada sesuatu hal yang Kyungsoo sembunyikan tentang vampire, apa gadis itu tengah mencurigai seseorang sebagai salah satu bangsa vampire? Siapa? Kai? Ah, jika iya itu artinya Wonu juga bagian dari keluarga tersebut? Mingyu menggeleng, menghilangkan pemikirannya sendiri. Nanti, mungkin dia akan mencari tahu.
.
.
.
"Kai, tunggu dulu!" Suara Suho menahan langkah Kai yang akan meninggalkan ruang tamu, lelaki tan itu lantas berhenti dan berbalik, menemukan Ayahnya yang terlihat sanga serius. Ah, apakah ada sesuatu?
"Ada yang aku bicarakan pada kalian." Suho menarik nafas, kemudian menceritakan tentang penemuan mayat dipinggir hutan serta asumsinya tentang keluarga vampire yang lain.
"Mungkinkah dia keluarga lain yang pindah kesini?"
"Bisa jadi," Suho menjawab pertanyaan yang Sehun lontarkan. "Tapi kenapa mereka melakukan hal itu? Merubah manusia menjadi vampire, apakah mereka sedang membentuk sebuah pasukan?"
Semua orang yang berada didalam ruang tamu itu lantas terdiam, yah masalah ini akan menjadi serius jika hanya dibiarkan.
"Kuharap kau berhati-harti Kai, mungkin saja mereka akan menganggu."
"Ayah tenang saja." Sahut Kai dengan yakin. Sementara Suho mengangguk.
"Kau akan pergi dengan Kyungsoo? Jaga juga dia dengan baik," Lelaki tan itu kembali mengangguk kemudian tersenyum dengan tipis, berbalik dan melangkah memasuki mobilnya, dia siap berkencan dengan Kyungsoo.
.
.
.
Lay sedang duduk disisi ranjang kamarnya, membuka sebuah buku tua bersampul kulit yang berisi ukiran-ukiran rumit nan indah. Itu adalah buku keluarga 'Kim Familly' yang berisikan silsillah keluarga mereka. Dimulai dari petinggi clan dan bagan keluarga mereka. Tentu saja dia dan Suho adalah kepala keluarga Kim, Chanyeol sebagai putra pertama, Kai putra kedua, Sehun putra ketiga, Wonwoo putri bungsu dan Luhan, menantu keluarga mereka, mate Sehun.
Wanita cantik tu tersenyum, membalik lembaran berikutnya dimana satu lembar foto putra-putrinya berselebahan dengan lembar yang masih kosong, kecuali pada lembar milik Sehun. Tentu saja, foto lelaki itu berada tepat disebelah lembar Luhan, yang mana artinya mereka sudah sah menjadi pasangan, seorang Soulmate.
Lembar kosong itulah yang nantinya akan mengisi gambar Soulmate Chanyeol, Kai dan Wonwoo. Wanita itu tersenyum, sepertinya sebentar lagi lembar kosong disebelah Kai akan terisi.
"Sedang apa?" Suho muncul dengan tiba-tiba, memeluk istrinya dan mencium tengkuknya. Lelaki dewasa itu memperhatikan apa yang sedang istrinya lihat.
"Menurutmu apakah Kyungsoo akan menjadi mate Kai?" Tanya Lay. Suho menggumam sejenak.
"Entahlah, gadis itu anak yang baik dan manis, sepertinya cocok untuk Kai." Suho duduk disebelah istrinya, memeluknya dengan nyaman.
"Ah, aku jadi tidak sabar menantikan itu. Aku ingin segera melihat anak-anakku memiliki Soulmate."
"Kau akan segera memilikinya," Suho terkekeh, lantas mencium istrinya dengan lembut. Mereka akan menuju ke tahap yang lebih panas jika saja pintu tidak dibuka kasar oleh seseorang.
"AYAH! IBU!" Wonu membuka pintu dengan tergesa, wajahnya cemas.
"Ada vampire baru yang menyerang rumah kita!" Serunya, dan detik itu juga Wonu bisa merasakan bahwa Kai memanggilnya meminta bantuan. Tapi..
"Ayo!" Suho dan Lay segera membenahi diri mereka sebelum berlari cepat menuju lantai bawah dimana Chanyeol, Sehun dan Luhan yang tengah bersiap menyerang. Wonu tidak bisa membantu Kai kali ini, gadis itu mengabaikan telepati kakaknya dan segera merubah diri, membantu keluarganya membasmi vampire baru yang mengelilingi rumah mereka dengan jumlah yang cukup banyak.
.
.
.
Title : Blood, Sweat & Tears (피땀눈물): SOULMATE.
Cast :
KaiSoo.
And onother EXO couple, Nuest, SVT.
GS/Gender Switch, Fantasy, Vampire!AU.
.
.
.
Happy reading!
Don't read if you not light!
No plagiat! No ctrl c + ctrl v!
.
.
.
Kyungsoo tidak bisa bereaksi saat lelaki didepannya semakin mendekat, sosok vampirenya nampak menyeringai saat kaki pendeknya mencoba kembali muncur namun tidak bisa karna badan depan mobil menahannya.
Dari penjelasan Minyun, buku yang dibaca dan semua sumber diinternet mengatakan bahwa Kai adalah seorang vampire. Yah, ciri-cirinya memang memperkuat spekulasi tersebut, namun gadis itu belum merasa yakin sampai dia bertanya sendiri kepada Kai. Dan lihat sekarang, lelaki itu sudah mengatakannya sendiri bahkan menunjukkan bagaimana aslinya sesosok vampire.
"Kau takut?" Kai berbisik, mata merahnya yang tajam memandang Kyungsoo dengan intens. Gadis itu mengerjap, berfikir apakah lelaki ini akan membunuhnya sekarang seperti dua orang tadi. Tapi mungkinkah?
"Kau tahu Kyungsoo? Aroma darahmu itu sangat manis, membuatku selalu merasa haus." Jemari lelaki itu lalu menyentuh untaian rambut Kyungsoo dan membawanya kebelakang bahunya.
"Ka–kau akan membunuhku?" Gadis itu mendongak dengan segala ketakutannya melihat Kai yang menyeringai.
"Kenapa? Kau takut aku akan menghisap darahmu sekarang?" Dengan nafas tercekat gadis itu menggeleng.
"Kau.. ti-tidak akan melakukannya kan?"
"Kenapa tidak?"
Kyungsoo terdiam sejenak. "Karna, k-kau mencintaiku." Gumamnya pelan. Kai menyeringai, tangannya mendorong Kyungsoo mendekat sebelum bibir lelaki itu meraih lehernya. Kyungsoo sontak memejamkan matanya, tubuhnya menegang saat hidung lelaki itu mengendus lehernya dan menggeram rendah. Dia fikir, Kai benar-benar akan membunuhnya setelah ini.
"Mph!" Kedua tangan Kyungsoo terangkat dan refleks meremas kemeja didada Kai saat lidah dan gigi lelaki itu menyapa lehernya. Gadis itu tidak bisa berfikir apapun, dia pasrah dan nyaris menangis.
Chup!
Kai memberikan kecupan ringannya setelah sebelumnya memberikan jilatan panas pada tanda kemerahan dileher Kyungsoo. Tidak, tentu saja dia tidak menggigit gadis itu, dia hanya memberikannya sebuah tanda berupa ciuman yang meninggalkan bekas kemerahan. Lelaki itu terkekeh melihat Kyungsoo yang masih terpejam ketakutan sebelum mengangkat tubuh gadis itu keatas kap mobil, lalu kedua tangannya mengurung gadis itu dikedua sisi tubuhnya. Perlahan-lahan Kyungsoo membuka matanya yang sedikit berarir dan menemukan Kai yang tersenyum, sudah kembali pada mode manusianya. Jemari panjang lelaki itu menyusuri jengkal wajahnya, mengusap pipinya lembut.
"Bagaimana kau berfikir aku akan menggigitmu sementara kau adalah gadis yang kucintai hm?" Kyungsoo mengerjap, menemukan dirinya yang masih hidup. Kai tidak menggigitnya, tapi apa yang sudah dia lakukan pada lehernya?
"Kau tidak meghisap darahku?" Kyungsoo bertanya dengan begitu polosnya, membuat Kai gemas dan mencuri satu kecupan dibibirnya.
"Tidak sayang," Balas Kai dan pipi Kyungsoo rasanya memanas mendengar panggilan manis itu. "Aku memang menginginkan darahmu sedari dulu, tapi sekarang yang kuinginkan adalah dirimu." Tukasnya. Keadaan menjadi hening sejenak karna keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Kyungsoo, kau sudah mengetahui siapa jati diriku yang sebenarnya. Aku tidak mau menahan perasaan ini lebih lama lagi, apakah kau menjadi kekasihku hm?"
Deg!
Jantung Kyungsoo berdetak dengan cepat mendengar pertanyaan tersebut, gadis itu menatap gugup lelaki didepannya.
"A–aku.."
"Tidak masalah jika kau belum bisa menjawabnya. Aku akan menunggu,"
"Tidak!" Kyungsoo dengan cepat menahan pundak lelaki itu dengan kedua tangannya, wajah memerahnya menunduk sejenak sebelum menggumam lirih.
"Bantu aku untuk meyakinkan perasaan ini bahwa aku juga mencintaimu." Jawaban lirih Kyungsoo membuat lelaki tan itu tersenyum, tanpa fikir dua kali lagi dia segera mengangkat dagu Kyungsoo, meraih bibirnya dan memberikan sebuah ciuman dalam yang panas. Kyungsoo merasa sedikit malu, namun akhirnya dia mengalungkan kedua lengannya dileher lelaki tersebut, memeluk erat.
Srak!
Kai melepaskan ciumannya saat mendengar derap langkah yang mendekat dengan cepat, dia melirik sekitar dengan waspada namun akhirnya tersenyum tipis melihat saudara-saudaranya yang datang. Lelaki tan itu menatap gadis didepannya dengan senyuman tampan, mengusap bibir Kyungsoo yang basah dengan jemari tangan.
"Mulai sekarang kau adalah milikku," Gumamnya tegas sebelum membantu gadis itu kembali menapaki tanah, menatap saudara-saudaranya yang sepertinya terkejut. Ada dua hal yang membuat mereka terkejut. Pertama, karna ada dua mayat vampire dengan tubuh terbelah, dan Kedua, posisi antara Kai dan Kyungsoo terlihat sangat intim, membuat mereka berspekulasi bahwa keduanya sudah menjadi sepasang kekasih.
"Wow, kutebak apakah kalian sudah berpacaran?" Luhan merubah dirinya menjadi mode manusia diikuti Sehun dan Wonwoo sementara Chanyeol masih terdiam ditempat dengan wajah datar.
"Um, selamat untuk kalian. Kyungsoo, mulai sekarang kita adalah saudara!" Luhan berseru dengan senang, mendekati Kyungsoo dan memberikannya pelukan bersahabat.
"Terimakasih." Balas Kyungsoo dengan wajah malu, dia menatap Chanyeol yang berdiri tidak jauh darinya, berniat menyapanya, namun lelaki itu sudah menghilang entah kemana.
"Biarkan saja," Kai mendekati Kyungsoo, meraih gadis itu dengan wajah datarnya. Kepergian mendadak kakaknya tadi membuatnya bertanya, apakah Chanyeol merasa marah? Heh, untuk apa dia harus marah?
"Ayo aku akan mengantarmu pulang." Kai membawa Kyungsoo yang tidak banyak bertanya itu kedalam mobil, menutup pintunya dan mendekati saudaranya.
"Kalian pulanglah, aku akan mengantarnya pulang."
"Kau tidak marah karna kami terlambat datang memberikan bantuan?" Tanya Sehun dan Kai menggeleng, tentu saja dia tidak akan marah, karna keterlambatan mereka Kyungsoo bisa mengetahui jati dirinya bahkan sekarang menjadi kekasihnya. Mungkin akan menjadi lain cerita jika mereka semua datang membantu.
"Tidak, aku yakin pasti terjadi sesuatu."
"Kau benar, akan kami ceritakan saat dirumah." Kai mengangguk, berniat pergi dari sana sebelum Sehun menahannya.
"Dia benar-benar menerimamu ya?"
"Ck, tentu saja." Kai menyeringai, memasuki mobil dan segera melaju pergi dari sana, meninggalkan ketiga vampire yang saling menatap satu sama lain.
"Ayo pergi."
.
.
.
"Terimakasih," Kyungsoo menggumam saat Kai sudah mengantarkannya menuju rumah dengan selamat.
"Mau kuantar sampai kedalam?" Gadis manis itu menggeleng, tersenyum dengan manis saat kekasihnya itu terus menatapnya dengan senyuman tipis.
"Aku akan masuk," Kyungsoo berbalik hendak memasuki rumahnya sebelum Kai menahan lengannya, menariknya cepat dan memberikan kecupan ringan di dahi.
"Selamat malam sayang," Bisiknya pelan. Kyungsoo terbakar, gadis itu tersenyum malu sebelum berlari kecil memasuki rumahnya, melambai dengan manis sebelum menutup pintu. Lelaki tan itu menyeringai kecil, berjalan santai memasuki mobilnya dan melaju pergi sana. Dia bahagia, akhirnya Kyungsoo sudah menjadi miliknya.
.
.
.
"Sepertinya ini adalah ulah dari keluarga lain." Suho melepas kaca matanya, kemudian menatap Sehun dan meminta putranya itu untuk membawa mayat itu keluar. Lelaki pucat itu mengangguk, lantas dengan cepat melakukan perintah Ayahnya.
"Ini akan menjadi masalah serius." Keluarga Kim itu lalu berkumpul diruang tamu, kebetulan juga Kai yang baru datang bergabung dengan mereka.
"Apakah ada sesuatu yang kulewatkan?" Lelaki tan itu bertanya begitu menemukan ada banyak serpihan kaca dilantai.
"Rumah kita baru saja diserang." Luhan menyahut, gadis itu lantas menceritakan tentang serangan para vampire baru dirumah mereka. Para vampire baru yang menyerang dan mengamuk tanpa kendali, meski akhirnya sebagian banyak dari mereka sudah mati dan sisanya melarikan diri. Diantara Kim Familly, insting membunuh Sehun, Kai dan Chanyeol sangatlah besar, sebagian banyak yang menumpas musuh tadi adalah Sehun dan Chanyeol, andai kata Kai bergabung, mungkin tdak akan ada satupun yang selamat.
"Apa kalian tidak mendapat informasi satupun dari mereka?" Tanya Kai.
"Mereka semua bungkam, memilih untuk mati daripada bicara. Yah, sepertinya mereka terlalu patuh pada Tuannya itu."
"Yah, intinya kami disini sibuk bertempur sementara kau dan pacarmu itu asik berciuman." Sahut Luhan, membuat Suho dan Lay menatap terkejut padanya yang meyandar santai dibahu Sehun sebelum serempak menatap pada Kai.
"Apa maksudnya ini?"
"Mereka sudah jadian. Kai dan gadis kesekiannya,"
"Bukan kesekian lagi Lu, aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku." Tukas Kai.
"Itu benar?"
"Seperti yang Ibu dengar." Kai mengangkat bahu, memperhatikan kedua orang tuanya yang saling bertatapan sebelum tersenyum kecil.
"Aku belum pernah melihatmu seserius ini Kai," Komentar Ibunya dan lelaki tan itu hanya tersenyum tipis. Yah selama ini dia mendekati gadis-gadis memang hanya ingin menjadikannya yang kesekian, alias hanya menjadi santapannya saja. Tapi tidak dengan Kyungsoo.
"Aku tidak sabar menunggu saat kau akan mengenalkannya kemari."
"Tentu saja,"
"Selamat untukmu Kai. Tapi apakah dia bisa dipercaya?" Kai menatap mata Ibunya, mengerti maksud dari perkataannya.
"Ibu tenang saja, dia tidak akan mengatakan apapun–"
"Bisakah kita kembali ke topik awal?" Chanyeol yang sedari tadi diam menginterupsi, lelaki itu menatap saudaranya dengan pandangan datar.
"Bisakah sekarang kita fokus pada penyerangan ini?" Kai menatap kakaknya dengan sinis, dia lantas membuang muka.
Sehun, Luhan, Wonu dan kedua orang tuanya itu belum bisa memahami situasi yang terjadi diantara Kai dan Chanyeol. Namun untuk mencairkan suasana, Suho berdehem.
"Baiklah, ada serangan vampire baru dirumah kita. Dan pertanyaannya, siapa yang mengubah mereka dan memberi perintah untuk menyerang rumah kita?" Suho berbicara dengan serius.
"Semisal pelakunya berasal dari keluarga lain, berarti mereka sudah mengetahui penyamaran kita. Dan juga, akhir-akhir ini ditemukan banyak sekali mayat yang meninggal karna sebuah gigitan binatang liar, aku yakin mereka adalah pelaku semua ini. Kita semua berburu dengan aman dan bersih."
"Berarti kita hanya harus mencari tahu dari keluarga mana mereka berasal?" Tanya Sehun dan Suho mengangguk.
"Serta alasan kenapa mereka melakukan semua hal itu."
"Kita juga harus waspada." Pria itu kemudian menatap putra keduanya. "Apalagi ada satu orang baru yang mengetahui identitas kita, kuharap kau bisa mengatasinya." Kai mengangguk sebagai jawaban, tentu dia paham apa maksud Ayahnya tersebut.
Wonu yang sedari tadi hanya diam dengan pandangan yang lurus kedepan tiba-tiba meremat kedua tangannya yang tertaut diatas paha, dia menatap tajam tembok didepannya seolah mata coklatnya itu bisa menembusnya.
"Ada seseorang yang sedang memperhatikan kita." Semua anggota Kim Family sontak menatap kearahnya. Apakah adik bungsu ini sedang melihat sesuatu?
"Apa yang kau liat?" Tanya Luhan. Wonu mengerjap sebelum memejamkan matanya.
"Belum terlihat jelas, namun aku melihat Kyungsoo ada disana."
"Apa akan terjadi sesuatu padanya?" Itu pertanyaan cepat dari Kai. Wonu sekali lagi menggeleng.
"Aku belum bisa melihatnya dengan jelas Oppa, maaf."
Kai sontak terdiam, lelaki itu nampak berfikir. Wonu melihat Kyungsoo di pengelihatannya? Apa yang akan terjadi? Apa sesuatu akan terjadi pada Kyungsoonya? Jika begitu maka Kai harus menjaga gadisnya itu dengan hati-hati. Lelaki tan itu lalu mendongak, menatap kakaknya dengan tajam.
"Bisa kita bicara berdua, Chanyeol?" Si jangkung menatapnya datar, namun tanpa berkata apa-apa melangkah menuju ruang perpustakaan. Saat dia membuka pintu dan masuk, Kai sudah ada disana dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Apa kau masih mengharapkan Kyungsoo?" Dahi Chanyeol mengernyit, dia sudah menduga Kai akan menanyakan hal ini.
"Aku mungkin tidak bisa memahami perasaanmu, tapi kita adalah saudara dan aku bisa sedikit merasakan bahwa kau juga menginginkan Kyungsoo."
Chanyeol masih diam, pandangannya tetap datar dan dingin.
"Lalu?"
"Lalu?" Kai mendecih kemudian mendekati saudaranya tersebut, menatapnya dengan tatapan yang sengit.
"Dia sudah menjadi milikku! Jadi jangan berharap kau akan bisa mendapatkannya."
"Kenapa tidak?" Balas Chanyeol tak kalah dingin. "Dia adalah gadis kesekianmu bukan? Dan aku akan merebutnya jika kau melakukan itu."
"DIA BUKAN GADIS KESEKIANKU!" Kai berkata dengan tegas, matanya memerah dan dia meraih kerah baju saudaranya dengan kasar.
"Dia adalah milikku, dia akan menjadi mateku." Chanyeol menggerakkan tangan kanannya yang berkobar api untuk memukul Kai, namun secepat kilat lelaki itu menghilang dan berada tepat dibelakangnya.
"Sialan."
Duag!
Tubuh jangkung Chanyeol terpental dan menabrak rak buku dengan keras, lelaki itu lantas bangkit, tidak mau mengalah dan menyerang Kai dengan kedua tangannya yang berkobar api, membuat percikan api muncul dan membakar buku-buku yang berada didalam rak.
"Jangan pernah berani merebut milikku atau aku akan membunuhmu, tidak peduli kau adalah saudaraku."
Kai berniat menyerang, namun terhenti saat pintu terbuka dengan tiba-tiba, saat itulah keluarga datang menghentikan keduanya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Suho berkata dengan keras, buru-buru memadamkan api yang mulai membakar ruang perpustakaan. Sehun dan Luhan menahan Kai yang marah sementara Wonu menghampiri Chanyeol yang berkobar dengan apinya.
"Oppa! Oppa! Tenanglah." Gadis itu menatap kedua kakaknya yang saling memandang dengan tatapan sengit sebelum mendesah. Gadis itu nampaknya mulai memahami apa yang terjadi.
"Sudahlah, Kyungsoo adalah milik Kai dan tidak ada yang bisa mengubah takdir itu."
.
.
.
Kyungsoo terbangun karna dering alarmnya yang berisik, sambil merengut kesal gadis itupun terpaksa bangun dan mendudukkan dirinya. Mengusap kecil sebelum memasuki kamar mandi. Dia harus pergi kesekolah. Tidak butuh waktu lama untuk mandi, sepuluh menit kemudian gadis itu sudah keluar dengan handuk melilit tubuhnya, sambil mengeringkan rambutnya yang basah, Kyungsoo berdiri didepan cermin dan menemukan ada tanda merah keungunan tercetak yang dilehernya.
Tanda ini,
Kyungsoo mengerjap, tangannya terangkat mengusap tanda tersebut. Uh apakah ini bekas yang Kai tinggalkan? Apakah ini bekas ciuman?
Kyungsoo tidak bisa untuk menahan rona kemerahan diwajahnya. Gadis itu lalu bergegas memakai seragamnya. Ada suara klakson mobil yang berbunyi, dia lantas mendekati jendela, menyibak gordennya dan menemukan mobil Ferrari merah Kai sudah terparkir manis dihalaman rumahnya. Lelaki itu keluar dari sana, mendongak kearahnya dan melambai. Kyungsoo tidak membalas, dia menutup kembali gorden kamarnya dan bergegas untuk bersiap.
Sial, jantungnya berdetak.
Kai mungkin sudah sering menjemputnya seperti ini, tapi hari ini lelaki itu datang menjemputnya sebagai seorang pacar. Rasanya sedikit mendebarkan. Entahlah, Kyungsoo sendiri tidak tahu kenapa semuanya menjadi seperti ini. Seharusnya, saat dia mengetahui jati diri Kai sebagai vampire, Kyungso merasa takut, apalagi pengakuan lelaki itu terhadap aroma darahnya. Tapi… Kyungsoo juga tidak bisa menyembunyikan perasaan tertariknya pada lelaki itu. Yah, mungkin ini akan menjadi hubungan yang sulit, namun dia akan menjalaninya, dia percaya jika Kai akan selalu melindunginya, seperti yang sudah-sudah.
.
.
.
Kyungsoo lagi-lagi menjadi tontonan semua orang, apalagi saat Kai dengan gentle membukaka pintu mobil untuknya, membuat beberapa gadis yang tanpa sengaja lewat memekik kecil. Bahkan seluruh fans Kai nampak patah hati, beberapa mencoba menyusun rencana licik untuk Kyungsoo, tapi tenang saja, Kai sudah mengetahuinya dan dia akan menghentikannya sebelum kejadian seperti Somi itu terjadi lagi. Kai akan melindungi Kyungsoo.
"Ayo, aku akan mengantarmu kekelas." Kai meraih jemarinya, menggenggamnya lembut sebelum menariknya menuju kelas. Tentu saja dengan tontonan semua pasang mata. Kyungsoo awalnya merasa malu, tapi yah, dia terbiasa. Kai mengantarkannya mencapai pintu kelas, mengatakan bahwa dia akan menjemputnya saat makan siang sebelum berbalik dan pergi. Kyungsoo tersenyum malu, memasuki kelasnya dan langsung mendapat rentetan pertanyaan dari Baekhyun.
"YA! Kalian sudah jadian ya? Bagaimana bisa? Ceritakan padaku!" Kyungsoo gemas sekali, ingin sekali rasanya dia mencubit bibir tipis Baekhyun yang banyak bertanya itu.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Bagaimana aku tidak tahu? Kalian keluar dari satu mobil dan lelaki itu menggandengmu menuju kelas!" Seru Baekhyun. Rose dan beberapa siswi lainnya juga mengerubunginya penasaran. Tapi hei, dimana Mingu ya?
"Hm yah, kami sudah jadian."
Nah kan, Baekhyun dan sebagian teman sekelasnya nampak heboh. Beberapa memberikannya ucapan selamat, menyuarakan rasa irinya bahkan salah seorang teman meminta pajak traktiran.
"Minta saja pajak traktiran pada Kai, jangan padaku." Balas Kyungsoo sambil tertawa, mengabaikan tatapan Minhyun yang diam-diam mengawasinya dari balik kaca jendela, lelaki itu terdiam sejenak sebelum berlalu dari sana dengan wajah dingin.
.
.
.
Wonu meraih ponselnya, bermain-main pada kotak pesan disana. Ada nama Mingyu yang menjadi pengirim pesan terakhir kali, tapi itu sudah dua hari yang lalu dan sampai sekarang Wonu belum mendapat pesan lagi dari lelaki itu. Dia juga tidak terlihat ada disekolah, kemana perginya? Uh. Menghela nafas, gadis itu merasa aneh pada dirinya sendiri. Untuk apa dia harus peduli? Toh, itu bukan hal yang penting. Tetapi tetap saja–
Deg!
Gadis itu langsung terdiam begitu dia mendapatkan sebuah firasat baru. Matanya terpejam, mengabaikan keadaan perpusatakaan disekelilingnya. Ada pengelihatan baru, yang kemarin masih terlihat begitu samar.
Ada Kyungsoo, ada Kai serta beberapa serpihan kaca berlumur darah.
Dan,
Satu orang lagi, siapakah dia?
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
.
Yuhuuu~
Happy Maljum day semuanya hahaha~
Finally I'm back! Apa kabarrrrr? Miss me? Miss me? Wkwkwk.
Semoga update next chapter ini tidak mengecewakan yah haha. Maaf belum bisa jawab pertanyaannya satu-satu TT
Semogaaa sukaaaa^^
Ohya, Laxy pernah bilang kalo ff ini hanya sedikit chapter? Haha maaf guys, kayaknya ini juga bakal jadi panjang hahahahaha.
Okeh, segitu aja cuap-cuapnya^^ Selamat malam, mimpi indah guys! Ohya jangan lupa jaga kesehatannya, jangan sampe kaya Laxy yang lagi batuk wkwk, lagi musim pilek + batuk ini kkk.
Thanks you!
See you next chapter~
Love'y'all~
