Previously …
…
"Ya, itu Min Yoongi yang sama."
"Daebak!" gumam Seungyoon kagum. "Lalu, bagaimana sekarang, hyung?" Jiyoung berfikir sejenak.
"Apa kita harus menyimpan buronan di rumah ini?" tanyanya.
"Itu hakmu 'kan? Kau yang menyelamatkan nyawanya." balas Jeany acuh.
"Tapi, bukankah rasanya keterlaluan menyerahkannya pada polisi dalam keadaan koma?" sahut Seulgi masuk akal.
"Setidaknya, sebelum menyerahkannya kepada polisi kita buat dia merasa hutang budi pada kita." sahut Jeany.
"Yak! Apa dikepalamu ini selalu hanya ada uang, uang, dan uang?" cibir Jiyoung kesal.
"Ayolah, jangan munafik! Dia orang terkaya ketiga di Korea Selatan, itu artinya kekayaannya berkali-kali lipat dengan kita. Dia bukan berasal dari orang kalangan rendah, jadi sudah sepantasnya kita perhitungan padanya." jelas Jeany.
…
"Woah~ ternyata aku menyelamatkan seorang perampok," Jimin tertawa. "Tapi, apa keluargamu tahu?"
"Keluarga?" raut Jimin mendadak sedih. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa kedua orang tuaku." Hoseok tampak merasa bersalah. "Sejak bayi, aku tinggal di panti asuhan. Jadi, aku tidak tahu tentang asal-usulku."
"Maafkan aku, Jimin-ssi." Jimin tersenyum manis.
"Tidak apa, Hoseok-ssi. Bukan hal baru lagi untukku." balas Jimin. "Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa, kau tinggal disini sendiri?"
"Kedua orang tuaku sudah meninggal karena bunuh diri." kini giliran Jimin yang memasang raut bersalahnya.
"Maafkan aku, Hoseok-ssi." Hoseok tersenyum maklum.
"Kau tahu itu bukan masalah?" balas Hoseok tenang. "Dan—jika kau sudah membaik, boleh tidak kau kenalkan aku dengan beberapa kenalanmu?" Jimin tersenyum manis.
"Tentu saja. Aku akan mengantarmu menemui mereka." balas Jimin yang dibalas senyum lega dari lelaki bermarga Jung itu.
…
"Bisa aku minta satu hal padamu?"
"Kita memang tinggal satu rumah, tapi itu karena Namjoon hyung. Kita memang bertemu tapi bukan kemauanku. Dan, kau tentu tahu itu karena siapa. Jadi, satu hal yang pasti yang harus kau lakukan padaku—bisakah kau tidak memperdulikanku? Tinggal satu rumah bukan berarti harus mengakrabkan diri." Taehyung mendecih kesal.
"Ya, kau benar. Memang tidak seharusnya aku mengakrabkan diri pada orang yang anti sosial sepertimu." sindir Taehyung. Jungkook beranjak dari duduknya dan menatap Taehyung tak suka.
"Baguslah, jika kau mengerti!" balas Jungkook tak peduli yang setelahnya hanya melengos pergi meninggalkan Taehyung di dapur seorang diri.
Jungkook menutup pintu kamarnya yang berada paling ujung dengan keras. Ia memejamkan kedua matanya seraya mengacak rambutnya frustasi.
Bruk!
Jungkook jatuh terduduk di lantai kamarnya. Kepalanya tertunduk dan nafasnya memburu. Rasa sesak mulai menyelubungi dadanya. Rasa sesak yang selalu ia rasakan tiap kali ada orang yang mempertanyakan tentang dirinya atau apapun itu.
Jungkook mencekeram dadanya kuat-kuat. Rasa sakitnya menjalar hingga ke ubun-ubun kepalanya membuat Jungkook ingin sekali menyerukan pada dunia bagaimana rasa sakit yang ia rasakan. Tapi, selanjutnya akan adakah yang memperdulikannya? Bahkan, Namjoon sekalipun yang memberikannya tumpangan hidup padanya, ia yakin Namjoon tak akan bersedia memberikan semua kemewahan ini jika tidak menginginkan sesuatu darinya.
Heol! Apa mereka pikir Jeon Jungkook adalah seorang bocah? Jangan salah sangka, justru Jungkook adalah manusia terpeka di dunia karena efek dari terbiasanya menghadapi dunia yang terlampau kejam kepadanya.
Jungkook bangkit, menuju ranjangnya kemudian ia menarik laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya mengambil sebuah benda yang sudah menemaninya mengurangi rasa sakitnya selama ini. Dan, kembali lagi pada kebiasaan lama. Kebiasan lama yang selalu ia lakukan di toilet umum setiap hari.
Sreeet~
Senyum Jungkook merekah ketika darah keluar dari lengannya akibat goresan pertama yang ia lakukan hari ini. Ini benar-benar menenangkan. Dan Jungkook sangat menyukai sensasi perihnya. Terutama saat darahnya sendiri keluar malu-malu dari goresan yang ia buat.
'Apa gunanya, jika pada akhirnya semua orang akan membuangku lagi?'
'Apa gunanya, jika pada akhirnya aku memang tak memiliki tempat yang pantas untukku?'
'Dan, apa gunanya aku hidup lebih lama lagi?'
…
"Siapa kau?"
"Aku?"
"Sayang sekali kau harus berurusan denganku."
"Apa maksudmu?!"
"Hey hey hey... Relax boy~ relax... Aku hanya ingin bicara baik-baik padamu. Itu pun jika kau tidak memancing amarahku."
"Aku tidak punya urusan denganmu!" Chanyeol berbalik badan tapi dengan sigap Seokjin menendang punggungnya dengan kakinya yang membuat pria tampan itu tersungkur dengan wajahnya yang mencium lantai.
"Shit! Apa maumu?!" seru Chanyeol marah. Ia bangkit dari posisinya hanya untuk mendapati Seokjin yang menyandarkan tubuhnya di meja toko dengan santai.
"Mau ku? Mendapatkan apa yang ku mau!" jawab Seokjin menunggu Chanyeol berjalan mendekat yang padahal mungkin saja akan menghancurkannya dengan kedua tangannya sebentar lagi.
…
Namjoon berlari memasuki toko perkakas. Bahkan, ia hampir membanting pintu kayu reot itu dengan tubuh besarnya.
Namjoon menghentikan langkahnya. Ia mengerjapkan kedua matanya kala melihat keadaan toko layaknya kapal pecah. Bahkan, si pemilik toko sampai bergetar seluruh tubuhnya saat melihat keadaan tokonya yang hancur lebur. Tapi, yang lebih mencengangkan lagi adalah sosok pria cantik yang baru saja muncul dari pojok toko dalam keadaan baik-baik saja. Tak terluka sedikitpun. Membuat Namjoon mengeryitkan keningnya terkejut.
Seokjin membenarkan letak jaketnya dan berdiri dihadapan Namjoon yang masih menatapnya antara takjub dan tak percaya.
"Apa yang—"
Hah~
Seokjin memutus ucapan Namjoon dengan helaan nafas beratnya. Kedua matanya berubah sendu dan menyiratkan kecemasan yang berlebih.
"Ayo pulang!" ajaknya. Namjoon mengerjapkan kedua matanya tak mengerti. Pulang? Yang padahal ia belum memulai apa-apa sejak kedatangannya tadi selain menjadi sopir pria cantik itu? Dan sekarang, dengan mudahnya Seokjin mengajaknya untuk pulang?
Seokjin keluar dari toko perkakas bersamaan dengan Namjoon yang melirik kearah pria incaran mereka yang sudsh terkapar tak berdaya dengan darah mengalir di kepalanya. Namjoon berfikir sejenak. Mengingat-ingat kejadian yang sudah ia alami sejak ia pulang ke Seoul. Mulai dari kejadian Jungkook, Taehyung hingga Seokjin sekarang ini. Bahkan ini baru tiga dari orang yang diincarnya. Bagaimana dengan tiga lainnya? Ia yakin, tiga orang yang entah dimana saat ini pasti akan lebih tak terduga dari tiga yang sudah ia dapatkan.
'Sebenarnya, seperti apa orang yang sedang kuhadapi saat ini?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ROGUE
Cast : Park Jimin, Min Yoongi, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook, Kim Taehyung, etc.
Pairing : YoonMin, NamJin, VKook.
Genre : Crime, Drama, Romance.
Rated : M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"hey, apa kau baik?" tanya Namjoon setelah sepanjang perjalanan hanya ada keheningan diantara ia dan Seokjin, bahkan ketika Renault Duster-nya berhenti di basement yang sengaja dibangun di depan markas tempat tinggalnya. Tempat dimana jajaran mobil serta motor mewah yang belum tersentuh oleh siapapun yang tentu saja disediakan oleh orang yang sama yang menyediakan rumah super besar dengan fasilitas lengkap di dalamnya, sekaligus sebagai penameng jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi suatu saat nanti.
Seokjin menoleh dan tersenyum kecil kearah Namjoon.
"Katanya—" jedanya sejenak. "-Jimin sudah berhasil melarikan diri" kedua mata Namjoon melebar sempurna sementara Seokjin tampak menarik nafas.
"hah~ dimana aku harus mencari anak itu?" cemas Seokjin. "Dia pasti kedinginan dan ketakutan," racau Seokjin yang membuat Namjoon menyakini kesulitan apapun yang Seokjin lalui bersama Jimin sebelumnya, pasti hanya akan menambah hubungan erat satu sama lain.
"Apa dia sangat berarti bagimu?" tanya Namjoon hati-hati. Seokjin kembali menoleh kearah Namjoon dan menatapnya nyalang.
"Dia lebih berarti daripada hidupku sendiri!" sarkas Seokjin yang entah kenapa menimbulkan sebersit rasa iri yang tak bisa Namjoon jabarkan sendiri. Karena sungguh, Namjoon tumbuh dan hidup di lingkungan keras tanpa ada rasa kasih sayang, kekeluargaan, pertemanan, persahabatan apalagi cinta. Ia buta akan semua itu, jadi ketika melihat Seokjin yang memiliki kecemasan berlebih pada orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, membuatnya bertanya-tanya bagaimana rasa dicemaskan dan mencemaskan seseorang.
"Kenapa dia begitu berarti bagimu?" tanya Namjoon ingin tahu.
"Karena ketika tidak ada satu orang pun yang menginginkan hidupku, maka Park Jimin adalah satu-satunya orang yang menjadi alasanku berada disini." Jawab Seokjin tenang. "Kau tahu?" lanjut Seokjin semakin menjadi. "-jika bukan karena aku, hidup Jimin pasti akan lebih baik daripada sekarang." Namjoon mengeryit, ia paham betul apa maksud kalimat terakhir Seokjin. Ia sedikit mengetahui bahwa pekerjaan yang mereka berdua lakukan pada awalnya hanya dilakukan Seokjin, dan bukan bersama Jimin.
"Jika tahu begitu, kenapa kau masih membiarkannya?" Seokjin menghembuskan nafas beratnya dan menunduk.
"Lucunya, aku masih tidak tahu apa alasannya untuk tetap bertahan bersamaku sampai sekarang." Seokjin mengangkat wajahnya dan menatap Namjoon memohon. "Aku mohon padamu, bisakah kau menemukan Jimin? Dalam keadaan baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja. Karena jika tidak—" jeda Seokjin sejenak. "-aku akan mati perlahan,"
.
.
.
Jika mesin waktu itu benar-benar ada, Namjoon bersedia untuk mencari dimanapun alat itu meskipun diujung dunia sekalipun, karena sungguh ia benar-benar ingin mengulas semua yang terjadi sekarang dari awal. Semuanya. Karena menurutnya, apa yang terjadi sekarang diluar rencananya. Ia bahkan tidak menyangka akan sesulit ini untuk menghadapi para kriminal Seoul sedangkan ia lebih dari seorang pro untuk meladeni orang-orang ingusan yang hanya menjadi pencemar masyarakat. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Bukannya ia yang mengejutkan tapi entah kenapa ia yang merasa dikejutkan.
Sudah selama 15 menit ia menghaluskan lantai kamarnya. Berjalan kesana-kemari tanpa tujuan dengan begitu banyak tanda tanya besar yang memenuhi otak jeniusnya.
Ting!
Namjoon mengangkat sebelah alisnya mendengar bunyi notifikasi yang berasal dari laptopnya. Bergegas ia menghampiri meja kerja yang ada di kamarnya dan menghidupkan laptopnya yang ter-sleep.
'Surel dari MI6?' batin Namjoon tampak terkejut. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar terutama untuk memastikan pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat.
Namjoon mengotak-atik laptopnya untuk membuka surel yang masuk ke e-mail pribadinya. Keningnya berkerut setelah mengetahui apa isi dari surel yang dikirim dari kantornya.
"oh-man,..." gumam Namjoon menatap tak menyangka pada surel yang ternyata berisi auto-map. Namjoon membuka auto-map itu dan mengoperasikannya secara detail. Dapat ia lihat, layar laptopnya yang menunjukkan denah seluruh penjuru Seoul. Dan dari denah itu, ia bisa melihat enam titik merah yang tiga diantaranya berada di tempat yang sama dengannya. Namjoon mempelajari map di laptopnya sejenak dan baru menyadari jika, "Mereka pasti tahu jika aku belum berhasil mengumpulkan mereka semua."
Kesepuluh jari Namjoon menari indah diatas keyboard laptopnya untuk menulis huruf per-huruf sehingga membentuk tiga kata 'Park Ji Min' untuk menemukan dimana keberadaan bocah manis itu. Namjoon mengetuk-etuk jari dipinggiran laptop hitamnya kala layarnya menunjukkan tulisan loading… selama beberapa saat.
"Eh?" Namjoon membulat terkejut menatap layar laptopnya tak yakin. Pasalnya setelah tulisan loading… menghilang, Namjoon mendapati dua titik merah di denah yang sebelumnya ia yakini bahwa dua titik merah itu milik si pengusaha muda, Min Yoongi dan seorang hacker yang mana adalah tangan kanannya, Jung Hoseok. Tapi, lihatlah sekarang, dua titik merah yang berada di tempat yang sama itu justru menunjukkan bahwa salah satu dari mereka adalah Park Jimin dan salah satunya pasti diantara Min Yoongi atau Jung Hoseok, membuat Namjoon tergoda untuk mengklik satu titik merah yang berdampingan dengan titik merah yang menunjukkan keberadaan Jimin, sampai satu titik merah itu menunjukkan nama dan profil dari 'Jung Hoseok'.
Namjoon berfikir sejenak. Membiarkan otak jeniusnya untuk bekerja dengan benar kali ini, sebelum akhirnya sebuah seringai tampan muncul dari sudut bibirnya.
"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan sekarang."
.
.
.
.
.
.
.
Tit~
Tiit~
Suara mesin pendeteksi aktivitas jantung beralun berirama di sebuah ruangan yang terletak di sudut rumah yang memiliki nuansa jauh dari kata modern. Rumah besar yang berdinding kayu yang terletak jauh dari keramaian Seoul, yang dimiliki oleh lima orang tetapi hanya dihuni satu orang sebagai penghuni tetapnya.
"eonnie, bagaimana keadaannya?" yang bertanya adalah si penghuni tetap, Kang Seulgi pada dokter cantik yang kebetulan berkunjung untuk memastikan pasien yang mereka tolong setidaknya masih bertahan hidup.
"Sama seperti sebelumnya," jawab Jeany, sang dokter singkat.
"Tapi, kenapa Jiyong oppa memutuskan untuk memindahkannya kemari?" tanya Seulgi masih tak mengerti dengan keputusan kakak sepupunya. Jeany tak langsung menjawab karena ia masih difokuskan pada cairan merah yang ia ambil dari tubuh sang pasien dengan suntikan yang sengaja ia bawa. Setelah dirasa cukup, dokter berdarah Britain itu menarik jarum suntik yang terpasang pada lengan sang pasien dan menyimpannya ke dalam nierbeken yang juga ia bawa bersama suntikan itu.
Jeany berbalik dan memandang gadis cantik yang lebih muda darinya.
"Dia bukan orang sembarangan, Seulgi-ya" balas Jeany berjalan keluar dari kamar sang pasien diikuti Seulgi yang turut mengekor. "Kita harus memantau setiap perkembangannya, baru setelah itu kita meminta bayaran yang setimpal." Seulgi tampak menarik nafas. Ketara sekali di wajahnya jika sebenarnya ia jengah untuk berurusan dengan orang asing seperti sekarang ini.
"Singkatnya begini. Bukankah tidak efektif jika orang-orang mengetahui pengusaha muda dan terkaya nomor tiga se-Korea Selatan sekaligus buronan nomor satu saat ini, berada di rumah utama?" tanya Jeany masuk akal. "Lagipula, melihat kasusnya ini, aku yakin apa yang terjadi pada dirinya bukanlah ketidak-sengajaan. Ada seseorang yang menginginkan kematiannya. Dan, bertaruh padaku, mereka pasti mengira jika pria ini pasti sudah tiada karena terseret arus sungai." Seulgi mengangguk paham.
"Kau tak perlu cemas. Seungri akan menemanimu disini, dan aku juga akan sering berkunjung." Lanjut Jeany yang tahu betul kenapa gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya merasa cemas berlebih. Karena, itu sudah semacam trauma lama yang Seulgi rasakan sejak kecil terhadap orang asing.
"hm, gomapta. Aku merasa aman jika sudah berada di sekitarmu." Jeany tersenyum lembut.
"Apa perlu aku menginap disini?" Seulgi menggeleng samar.
"Aku tidak mau membuat kau dan Jiyoung oppa semakin menjaga jarak."
"hey, aku sudah selesai dengannya. Sekarang, aku dan dia hanyalah rekan kerja. Jadi, jangan bersikap tak enak padaku, hm…" Jeany mengusak surai panjang Seulgi lembut. "Aku akan menghubungi Seungri untuk segera datang. Aku juga akan mengirim beberapa orang untuk berjaga. Dan, aku juga akan menginap setelah urusanku di Seoul selesai." Seulgi mengangguk pasrah. toh, jika ia menolak eonnie-nya ini tetap akan bersikeras jika sudah memutuskan sesuatu.
"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu," pesannya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Seulgi seorang diri bersama pasien yang entah kenapa memunculkan firasat buruk kali ini.
.
.
.
.
.
.
.
Sebenarnya, Seokjin berada dalam suasana hati yang memburuk. Karena, dimana pikirannya memenuhi kecemasan berlebih terhadap sosok yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya akan tetapi keberadaannya masih belum ia ketahui entah berada dimana saat ini.
Seokjin menarik nafas. Kini, ia tengah berkutat di dapur yang ia yakini tak pernah tersentuh sebelumnya. Melihat bagaimana perabot-perabot mahal itu masih tertempel stiker toko membuat Seokjin yakin bahwa ia adalah orang pertama yang menggunakan seluruh peralatan dapur. hm, jangan tanya kenapa Seokjin berada di dapur karena memasak adalah jawabannya. Mungkin, ia memang baru di tempat asing itu hampir selama 24 jam tapi sungguh—ketika melihat isi lemari pendingin yang nyaris kosong dan hanya berisi kaleng-kaleng bir, soda, dan cola. Oh jangan lupakan, ada satu bahan makanan yang mungkin akan membuat semua orang menggeram marah merasa bahwa para penghuni di tempat asing ini benar-benar sangat keterlaluan.
Maka disinilah, Seokjin memutuskan untuk keluar sebentar tanpa memberitahukan ketiga penghuni rumah yang lain, untuk membeli bahan makanan di minirmarket terdekat.
Seokjin memasuki minimarket yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumah yang akan ia tempati. Seokjin mengambil keranjang belanja yang disediakan dan mulai mengitari minimarket yang kebetulan sedang sepi pengunjung. Dan, jika mungkin ia sedang berada dalam mood-nya, Seokjin benar-benar tergoda untuk merampok beberapa bahan makanan yang ia butuhkan. Tapi sepertinya, hanya ada Seokjin yang berbaik hati hari ini. Ya, hanya hari ini—karena jika semuanya sudah kembali normal, lebih tepatnya ketika Jimin sudah kembali, tidak ada yang namanya Kim Seokjin yang mengambil barang-barang di minimarket dan membayarnya.
"Semuanya 250ribu won." Seokjin menekuk wajahnya setelah meletakkan dua keranjang belanjaannya diatas meja kasir dan mendengar jumlah nominal yang harus ia bayar. Dua ratus lima puluh ribu? Itu pemborosan namanya. ya, tentu saja pemborosan karena bahan makanan yang ia beli mencapai sekulkas kosong di rumah yang mulai sekarang akan ia tinggali.
"hm,… bisakah aku menambah satu kardus ramen?" pinta Seokjin tiba-tiba. Sang pelayan kasir tersenyum dan mengangguk sopan.
"Tentu saja tuan, kami akan menyiapkan."
"oh, kamsahamnida." Balas Seokjin tersenyum senang.
Setelah membayar uang tambahan untuk sekardus ramen, dengan susah payah Seokjin membawa dua kantung belanja besar serta satu kardus berisi ramen membuat Seokjin berfikir keras, kenapa ia sampai repot-repot melakukan semua ini?
"uh~" keluh Seokjin setelah mengalami perjalanan sulit, akhirnya ia sampai di depan pintu rumah barunya. Seokjin meletakkan kardus ramen di depan pintu dan membukanya dengan susah payah. Dan untuk kesekian kalinya, ia mendengus melihat keadaan rumah yang terlampau besar itu sepi seperti pemakaman.
"Apa mereka tidak lapar?" gerutu Seokjin tak habis pikir. Ia meletakkan dua kantong belanjaannya diatas meja makan di dapur dan kembali ke pintu depan untuk mengambil kardus ramen.
"hah~ untung kalian bertemu dengan orang baik sepertiku!" lanjut Seokjin menyaut kardus ramen dan membiarkan pintu depan terkunci secara otomatis.
Seokjin menarik nafas, menyemangati diri sendiri sebelum memutuskan untuk menata segala belanjaannya ke tempat-tempat kosong yang ia yakini merengek untuk diisi jika mereka bisa bicara.
Tak berapa lama setelah memastikan semua barang sudah berada pada tempatnya, Seokjin merenggangkan tangannya dan menarik nafas untuk menyiapkan diri dengan kegiatan selanjutnya. ya, apalagi jika bukan membuatkan makan malam untuk ia dan ketiga penghuni lain. Maka dari itu, Seokjin memutuskan untuk membuat bibimbap di hari pertamanya di rumah baru. hm, setidaknya Seokjin mulai membiasakan diri untuk merasa nyaman dan betah di rumah yang mulai sekarang ia tempati.
Dengan telaten, Seokjin menyiapkan segala bahan yang diperlukan untuk membuat bibimbap yang sudah ia beli di minimarket beberapa saat lalu. Sebenarnya, Seokjin tak begitu yakin apakah tiga orang lainnya akan menyukai masakannya atau tidak. Tapi, ia juga tidak akan tahu jika belum mencobanya 'kan?
Bak chef professional, kedua tangan Seokjin begitu terampil mengolah bahan-bahan bibimbap seolah sebelumnya ia sudah biasa memasaknya. Perlu diketahui, Seokjin memang memiliki hobi memasak dan itu merupakan salah satu keahliannya. Bahkan, beberapa orang yang mengenalnya turut mengakui cita rasa masakannya yang memang patut diacungi jempol.
"Sempurna~" gumam Seokjin tersenyum puas setelah bergelut selama satu jam lebih untuk membuat empat porsi bibimbap yang ia tata sedemikian rupa di atas meja makan yang selalu kosong semenjak rumah besar dihuni selama kurang lebih dua bulan yang lalu.
"Baiklah, aku akan memanggil mereka dan mengajak mereka makan bersama." Seokjin berujar antusias. Ia berjalan meninggalkan dapur dan memutuskan untuk menuju kamar berpintu abu-abu milik Namjoon.
Tok! Tok! Tok!
"Namjoon?" panggil Seokjin tenang. "Apa kau di dalam?" tanyanya yang kemudian direspon cepat dengan terbukanya pintu abu-abu itu.
"Ada apa, hyung?" tanya Namjoon mengacak rambut basahnya asal, ketara sekali jika pria tampan itu baru saja selesai mandi.
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Pergilah ke meja makan dan tunggu sampai aku memanggil Taehyung dan Jungkook." Namjoon tampak mengeryit dan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia tidak salah dengar 'kan?
"ah~ aku rasa aku masih mengantuk," racau Namjoon yang membuat dahi Seokjin berkerut tak mengerti.
"hey… kau baru mandi, tidak mungkin kau mengantuk!" tutur Seokjin. Namjoon terdiam sejenak.
"oh, jadi apa aku salah dengar?" tanya Namjoon masih tak percaya dan Seokjin hanya menatapnya sinis.
"Apanya yang salah dengar?"
"Kau baru saja menyebut 'makan malam'." Seokjin tersenyum kecil.
"Aku bukan menyebut tapi mengajak." Namjoon tampak terkejut.
"Kau benar-benar mengatakan makan malam?" Seokjin menghela nafas dan mengangguk kecil.
"hm, aku sudah memasakkan bibimbap untuk kalian."
"Memasak?"
"hm, pergilah ke dapur jika kau ingin tahu. Sementara, aku akan memanggil yang lain." Seokjin berlalu meninggalkan Namjoon yang masih tercengang ditempatnya.
"daebak!" gumam Namjoon kembali menatap kagum pada Seokjin yang kini tengah mengetuk pintu kamar berpintu ungu milik Taehyung.
"Tae…" panggil Seokjin agak ragu. Pasalnya setelah ia mengetuk pintu, pintu kamar Taehyung sudah dalam posisi sedikit terbuka tapi tak juga ada tanda-tanda si pemilik kamar yang merespon panggilannya.
"Kim Taehyung?" jadilah, Seokjin kembali memanggil nama Taehyung seraya mengetuk pintu ungu itu.
"Kim Tae—"
"Ada apa?" Seokjin tampak terkejut mendapati wajah dingin Taehyung yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Seokjin tersenyum canggung.
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Kita makan malam bersama, hm?" dan lagi, respon Taehyung sebelas-duabelas dengan respon Namjoon sebelumnya, membuat Seokjin bertanya-tanya apakah ajakannya merupakan kesalahan?
"hey, kenapa hanya diam? Kau belum makan 'kan?" tanya Seokjin membuyarkan lamunan Taehyung.
"oh, nde. Tapi, biasanya ini belum jam Namjoon hyung delivery makanan." Dan entah kenapa Taehyung melihat wajah Seokjin yang mengerut tak suka.
"delivery itu tidak baik untuk kesehatan. Aku memasak bibimbap untuk kita semua."
Uhuk!
Seokjin melirik Taehyung sinis kala pria tampan berwajah bak anime itu tersedak ludahnya sendiri.
"Apa aku baru saja salah bicara?"
"ani hyung. Aku hanya—aku pasti salah dengar" Taehyung bergumam pelan pada kalimat terakhirnya tapi masih tertangkap jelas di kedua telinga tajam Seokjin.
"Responmu sama seperti Namjoon. Sekarang, keluarlah dan tunggu di meja makan sampai aku dan Jungkook datang."
"Jungkook?"
"wae? Kau tak suka?"
"Bukan begitu, hyung. Dia sendiri yang tidak suka."
"hah~ pergilah. Tunggu bersama Namjoon." Seokjin menolak untuk merespon dan lebih memilih untuk menyuruh Taehyung untuk menyusul Namjoon. Taehyung mengedikkan bahunya tak peduli dan berjalan menuju meja makan.
Sepergian Taehyung, Seokjin menuju kamar berpintu merah. Dengan ragu, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu yang ia ketahui selalu tertutup rapat sejak ia menginjakkan kaki di rumah besar ini.
"Jeon Jungkook?" panggil Seokjin tak yakin. "Apa kau di dalam?" lanjutnya seraya menempelkan telinganya pada daun pintu, mencari tahu kiranya ada kehidupan di balik pintu merah ini atau tidak.
"Jungkook?" panggil Seokjin lagi seraya kembali mengetuk pintu merah untuk kedua kalinya. Seokjin menggigit bibir bawahnya cemas. "Apa kau di dalam? Bolehkah ku masuk?" izin Seokjin yang ajaibnya langsung mendapat respon dengan bunyi krietan dari pintu merah menandakan bahwa si pemilik kamar membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya si pemilik kamar membuka sedikit celah pintu kamarnya tak berniat untuk membuka seluruhnya dan menemui Seokjin yang masih dengan sabar berdiri di luar pintu kamarnya.
"Saatnya makan malam."
"Aku tidak lapar." Jawabnya datar. Seokjin tak kehilangan akal untuk membujuk siswa SMA yang masih enggan keluar dari zona nyamannya.
"Kau belum makan seharian ini, 'kan? Aku sudah memasakkan bibimbap untukmu dan yang lain. Yah, aku tidak tahu kau suka atau tidak. Tapi, cobalah. Lagipula, jika terus delivery itu juga tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kau masih dalam masa pertumbuhan."
"Jangan pedulikan aku," Seokjin menggeram tertahan.
"hey, tak ada salahnya untuk makan bersama 'kan?" kekeuh Seokjin yang selanjutnya tak mendapat respon dari Jungkook. "Jungkook-ah, aku tahu kau pasti bosan dengan makanan pesan-antar. Jadi, keluarlah dan kita bisa makan bersama." Ajak Seokjin masih belum menyerah.
"Jeon—"
"Sebenarnya apa maumu?!" potong Jungkook dengan amat sangat terpaksa membuka pintu kamarnya selebar mungkin dan menatap Seokjin tajam.
"Aku hanya mengajakmu makan bersama. Kita tinggal satu rumah, jadi biasakan untuk tidak mengabaikan keberadaan orang lain. Kau tidak tinggal sendiri disini. Hargai orang-orang yang ada disini meskipun mereka hanyalah orang asing bagimu!" sarkas Seokjin tak tahan. Jungkook menggeram kesal. "Dan juga—jika menurutmu makanan yang kumasak tidak enak atau yang paling parah membuatmu mual. Aku pastikan ini adalah kali pertama dan terakhir aku mengajakmu makan malam bersama." merasa tertarik Jungkook mengangkat sebelah alisnya.
"Kau berjanji tidak akan mengusikku?"
"ya, jika kau mau jujur. Katakan enak jika enak, katakan tidak jika tidak." tegas Seokjin.
"Baiklah. Aku setuju." Seokjin menarik sudut bibirnya membentuk senyuman cantik.
"kajja, Namjoon dan Taehyung sudah menunggu." Dan tanpa sadar, Seokjin menarik tangan Jungkook menuju meja makan menyusul keberadaan dua pria tampan yang lain.
.
.
.
"daebak, ini bukan hologram-kan?" pekik Taehyung dibuat takjub dengan bibimbap yang tersaji diatas meja makan.
"Aku sudah lama tidak melihat masakan rumah." lanjut Namjoon ikut antusias. Sementara Taehyung mulai sibuk mengabsen satu persatu barang-barang yang ada di dalam kulkas.
"woah~ hyung, lihatlah kulkas kita terisi penuh." Seru Taehyung yang membuat Namjoon tersenyum tampan. "Jika begini 'kan, aku tidak perlu kelaparan."
"Kau tidak akan kelaparan mulai sekarang!" sahut Seokjin yang baru saja datang dengan tangan Jungkook yang masih berada dalam genggamannya.
"Kapan kau membeli semua ini, hyung?" tanya Namjoon diikuti Seokjin dan Jungkook yang duduk bersebelahan sementara Namjoon dan Taehyung duduk di depan keduanya.
"Tadi siang." jawab Seokjin. "Karena mulai sekarang aku juga tinggal disini, aku harap kalian tidak keberatan dengan apa yang aku lakukan. Karena, aku sudah terbiasa membuat makanan sendiri." lanjutnya.
"jja, cobalah. Aku rasa untuk kesan pertama akan lebih baik makanan yang lebih ringan. Maka dari itu, aku membuat bibimbap. Aku harap kalian suka." Seokjin tersenyum cantik bersamaan dengan ketiga lelaki yang tinggal bersamanya tampak mematung menatap sendu mangkok yang berisi bibimbap buatan Seokjin.
Untuk Jungkook sendiri, ini adalah kali pertama setelah enam tahun ia tidak makan di meja makan. Berlebihan memang tapi memang itulah kenyataannya. Masa kecil Jungkook yang penuh kasih dan sayang berhenti tepat ia berusia 12 tahun. Bahkan, ia tidak menyangka di angka selanjutnya ia harus merasakan apa yang tak pantas untuk ia terima kala itu.
Berbeda dengan Jungkook, berbeda pula dengan Taehyung. Sebenarnya bibimbap bukanlah hal yang spesial untuknya karena mendiang neneknya sering membuatkan masakan semacam ini yang Taehyung yakin masakan neneknya akan terasa berkali lipat lebih enak dari masakan Seokjin meskipun ia belum mencobanya. Tapi, entah kenapa dibalik semua itu hatinya merasa tercabik karena secara tidak langsung bibimbap ini justru mengingatkannya pada kenyataan pahit yang ingin ia lupakan dan ia kubur dalam-dalam.
Sementara Namjoon, ia justru merasa asing dengan makanan rumah yang terbilang sangat sering dimasak oleh sebagian besar para ibu rumah tangga. Tapi, apalah dia yang tak pernah merasakan bagaimana kehangatan keluarga dan sekarang harus disuguhi oleh makan malam pertamanya yang dibuat di dapur rumahnya sendiri. Namjoon benar-benar tak menyangka jika salah satu impiannya terwujud hari ini. Dimana, ia benar-benar menginginkan satu mangkok masakan rumah. Dan sekarang? Impiannya terwujud berkat Seokjin.
"hey, kenapa kalian hanya diam? Kalian tidak suka bibimbap?" merasa ketiga lelaki disamping dan depannya terdiam merenung membuat Seokjin semakin tak mengerti apa yang terjadi pada ketiganya.
"Jika kalian tidak suka tidak apa. Maaf jika aku terlalu memaksakan diri, kita bisa delivery jika—"
"Tidak, hyung!" sela Namjoon dan Taehyung kompak.
"Aku akan memakannya." Namjoon meraih sendok diikuti Taehyung yang hanya mengangguk setuju. Seokjin mengerjapkan kedua matanya lucu melihat kedua pria tampan di depannya yang terlihat menunduk untuk menyembunyikan entah wajah mereka yang terlihat berantakan atau kedua mata mereka yang berkaca.
"Ini enak sekali, hyung." Taehyung mendongak dan menatap Seokjin bersamaan dengan setetes air matanya yang keluar dari ekor matanya begitu saja.
"Apa kau baik?" tanya Seokjin cemas. Taehyung mengangguk cepat.
"Aku baik. Tapi, bisakah kau memasakan apapun lagi untukku? Untuk kami?" Seokjin membulat tak percaya.
"eoh, tentu saja. Dengan senang hati." balas Seokjin tersenyum cantik.
"hm, hyung, aku setuju dengan Taehyung. Dan mungkin, kita juga harus membagi jadwal untuk belanja nanti." Seokjin tampak tersenyum puas dengan penuturan Namjoon.
"eoh, aku sangat setuju." dan dalam hitungan detik, bibimbap yang berada di mangkok Namjoon dan Taehyung raip dalam sekejap membuat Seokjin merasa bahagia karena alasan yang tak ia ketahui serta membuatnya bertekad untuk membuat makanan yang lebih enak lain waktu.
"oya, hyung. Setelah selesai, datanglah ke ruang kerja. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu." Seokjin mengangguk bersamaan dengan Namjoon yang berdiri dari duduknya lalu meninggalkan ketiga penghuni rumah yang lain.
"Terima kasih untuk makan malamnya, hyung. Ini sangat enak." Seokjin mengangguk kaku dan Taehyung adalah orang kedua yang meninggalkan meja makan. Meninggalkan ia bersama Jungkook yang masih belum menyentuh makanannya sedikitpun.
"Kau tidak suka?" tanya Seokjin. Jungkook tetap bergeming untuk menatap bibimbap yang masih utuh di mangkok makanannya. "Jika tidak suka, aku bisa memesan sesuatu untukmu." lanjut Seokjin yang sayangnya masih tak direspon oleh Jungkook. Seokjin menarik nafas.
"Baiklah, aku akan bertanya pada Namjoon dan memesan makanan yang biasa kau makan. Tunggu sebentar, hm?" Seokjin beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jungkook seorang diri.
Meskipun tahu Seokjin sudah pergi, tapi Jungkook tetap diam dan memandang tak kedip bibimbap didepannya. Seolah, jika ia berkedip sekalipun makanan yang ada di dalam mangkoknya hilang dalam sekejap. Jungkook memejamkan kedua matanya sesaat, menenangkan diri. Kemudian, ia membuka kedua mata indahnya perlahan dengan tangan kanannya yang bergerak pelan meraih sendok makannya.
Dengan tangan gemetar, Jungkook mengambil satu suapan bibimbap dan memakannya bersamaan dengan kedua matanya yang mengeluarkan air mata begitu saja. Jungkook mengunyah sendokan pertama, tapi yang terjadi adalah tangisnya yang berubah menjadi isakan hebat yang harus ia tahan agar tidak menarik perhatian penghuni rumah yang lain.
Jungkook menunduk, masih dengan terisak ia melanjutkan memakan bibimbapnya sampai habis. Sesekali ia juga mencekeram dadanya yang terasa sesak tanpa sebab.
"Sial! Kenapa enak sekali—hiks!" Jungkook membekap mulutnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tanpa henti menyuap bibimbap ke dalam mulutnya meskipun mulutnya masih penuh dengan suapan sebelumnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Dan karena terisak. Karena terlalu terburu. Karena terlalu terharu. Hingga karena begitu lezatnya bibimbap buatan Seokjin membuat Jungkook tersedak hebat yang tentu saja hanya akan ia atasi sendiri, tanpa menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya sendu.
Sepasang mata cantik itu memperhatikan bagaimana ketika Jungkook mengangkat sendoknya, memakan bibimbapnya, menangis pada suapan pertama, hingga tersedak seperti sekarang ini. Si pembuat bibimbap, mendongak mencegah sebulir likuid yang sedari tadi ingin meloloskan diri. Tapi, ia sadar ia tak bisa menahan lebih lama untuk tidak ikut merasakan sesak seperti apa yang lelaki SMA itu rasakan saat ini. Karena entah sejak kapan, rasa ingin melindungi, rasa ingin memberikan kasih sayang sebagai keluarga muncul begitu saja dalam dirinya.
'Ya, setidaknya aku memiliki alasan lain kenapa aku berada disini.'
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, kau anak tunggal?" yang bertanya adalah pria mungil berperawakan manis dengan kedua pipinya yang gembil serta rambutnya yang hitam menambah kesan polos serta menggemaskan dalam diri pria mungil bermarga Park itu.
"hm, aku anak tunggal. Justru aku bersyukur tidak memiliki saudara." yang menjawab tentu saja si penolong Park sekaligus pemilik flat sempit yang sekarang sedang mereka tempati bersama.
"Kenapa bisa begitu?" Jimin bertanya sementara Hoseok hanya mengulas senyum tampan. Sudah selama tiga jam keduanya hanya duduk diam dan berbincang seperlunya. Bahkan, keduanya tak menyangka dalam waktu tiga jam itu keduanya bisa menjadi lebih dekat hingga topik pribadi tentang keluarga atau latar belakang mereka muncul begitu saja.
"Aku hanya tidak tahu bagaimana harus menghidupinya setelah semua hal mengerikan yang terjadi dalam hidupku. Kau bisa membayangkannya 'kan?" Jimin mengangguk paham. "Kau sendiri?" Jimin terdiam sejenak, seperti tampak mengingat.
"Aku sudah berada di panti asuhan sejak bayi."
"Apa pada saat itu tidak ada yang berniat untuk—"
"Mengadopsiku?" tebak Jimin kala Hoseok terlihat tak sampai hati untuk mengucapkan kata selanjutnya. Jimin tersenyum kecil dan itu terlihat sangat manis. "Entah hal buruk apa yang aku lakukan di kehidupan sebelumnya, pihak panti selalu menolak jika ada sepasang orang tua yang berniat mengadopsiku."
"Tapi kenapa?" Jimin tersenyum kecil.
"Entahlah, mungkin karena sesuatu yang lebih baik untuk tidak kuketahui."
"Tapi, apa kau mengetahuinya?" Jimin tak langsung menjawab tapi ia tetap tersenyum manis.
"Bisa ya dan bisa tidak. Kadang aku mengetahui tapi—detik selanjutnya, aku sadar aku harus tetap berpura-pura tidak tahu." Jimin tersenyum penuh teka-teki.
"Oh! Aku jadi penasaran padamu."
"Kenapa bisa begitu?"
"Apa kau selalu suka bertanya dengan tiga kata itu?" Jimin terkekeh.
"Itu hanya refleks hyung."
"hyung?"
"hm, bukankah menurutmu aku lebih muda darimu?" ujar Jimin percaya diri.
"Benarkah? Bukan kau lebih tua dariku?" canda Hoseok. Jimin merengut protes.
"Aku baru 25 tahun, hyung."
"jinjja? Lalu, menurutmu berapa umurku?" Jimin menatap Hoseok intens.
"26?" balas Jimin tak yakin. Hoseok bergumam takjub. "Benar 'kan?" lanjut Jimin senang dengan reaksi Hoseok sebelum berujar dengan bangga untuk mengatakan, "Aku ini bisa menganalisis umur seseorang hanya dari garis wajahnya, hyung. Jadi, tebakanku selalu benar."
"daebak. Apa garis wajahku terlihat seperti berumur 26 tahun?" Jimin mengangguk.
"Setiap tahun garis wajahmu akan bertambah satu. Dan, jika dihitung itu pasti sesuai dengan umurmu."
"daebak! Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ketika aku berumur 19 tahun, aku sempat menjadi relawan di Afrika. Banyak hal yang bisa kupelajari disana."
"Afrika? Berapa lama kau disana? Dan apa yang kau lakukan?" Jimin terkekeh melihat antusiasme Hoseok jika pria tampan itu sudah tertarik pada sesuatu.
"Aku disana hanya tiga tahun. Setelah itu, aku kembali dan menjalani hidup lamaku di Seoul sampai sekarang." Hoseok mengangguk paham tak merasa curiga dengan cerita masa lalu Jimin.
"Apa kau tidak penasaran dengan siapa orang tuamu?" Jimin tertawa kecil. Daripada dirinya ia merasa Hoseok yang lebih penasaran tentang siapa orang tuanya.
"Dan, bagaimana jika aku sudah tahu tentang siapa orang tuaku?" Jimin balik bertanya dan Hoseok merengut tak paham.
"Jika tahu, kenapa kau masih hidup seperti ini?"
"Seperti perampok maksudmu?" Hoseok tampak bergerak salah tingkah.
"Tidak. Hanya saja, kau tahu maksudku 'kan?" Jimin terkekeh kecil dan menatap Hoseok lembut.
"Ayahku sudah meninggal. Sedangkan ibuku, dia memiliki kehidupan baru yang tak boleh kusentuh." jawab Jimin singkat. "Dan lagipula, aku cukup senang dengan apa yang kulakukan sekarang." lanjut Jimin, menoleh kearah Hoseok dengan eye smile yang membuat Hoseok terpana melihatnya. "hm, hyung bisakah kita meninggalkan topik tentang 'keluarga' atau semacamnya? Jujur, aku sedikit tidak nyaman."
Hoseok tersenyum kecil.
"mianhae…"
"hey~ itu bukan sesuatu yang salah. Jangan meminta maaf." balas Jimin. Hoseok mengedikkan bahunya.
"Tapi, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Hoseok lagi. Jimin mengangguk kecil. "Kenapa kau berani menggunakan pheromone, jika faktanya kau sama sekali tidak seperti ingin tidur dengan orang lain?" Jimin tampak terdiam. Tepatnya, merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Hoseok.
"aniyo~ aku hanya iseng. Sebenarnya, aku suka melihat orang-orang bergairah ketika melihatku. Dan aku lebih senang lagi, ketika mereka sudah merasa tak bisa mengontrol hormone mereka apalagi mereka juga tak kan bisa menyentuhku."
"Kenapa?"
"Karena itu yang akan aku lakukan jika kau tidak mau kepalamu terpisah dari badanmu." sinis Jimin penuh ancaman membuat Hoseok menelan ludahnya gugup.
"Kau benar-benar melakukannya?" Jimin mengangguk enteng.
"Setidaknya aku pernah mematahkan lima kepala yang berani menyentuhku." Hoseok menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kau tahu… kau benar-benar luas biasa." puji Hoseok entah tulus entah paksaan yang membuat Jimin terkekeh puas.
"Kau tidak tergoda untuk menyentuhku 'kan, hyung?" Hoseok membulat horor.
"yangbenarsaja," gumam Hoseok menggeleng samar. "Aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam sex dan kawan-kawannya."
"Itu karena kau belum mencobanya."
"Kau juga belum pernah mencobanya 'kan?"
"Bagaimana kita mencobanya sekarang?"
"PARK JIMIN!" desis Hoseok takut yang membuat Jimin tertawa terpingkal.
"Jangan takut begitu, hyung. Aku tidak akan memperkosamu sekarang." Hoseok menggeleng tak percaya.
"aish, bocah ini benar-benar…"
.
.
.
.
.
.
.
Klik!
Namjoon menoleh saat mendengar suara pintu ruang kerja mereka terbuka menampilkan sosok yang sudah ia tunggu sejak tadi.
"Kau sudah datang, hyung?" sapa Namjoon kembali mengalihkan pandangannya pada layar komputernya.
Seokjin, sosok yang Namjoon tunggu berjalan mendekat si pria tampan dan berdiri di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Seokjin.
"Aku sudah menemukan keberadaan adikmu." Kedua mata Seokjin berbinar cerah.
"Benarkah? Kau sudah menemukan keberadaannya?" ulang Seokjin tak percaya. Namjoon menoleh dan menatap wajah cantik Seokjin yang berkali lebih cantik dan mempesona saat ini.
"hm, dia berada di Chang-dong di distrik Dobong, di sisi utara sungai Han."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Seokjin penuh kecemasan.
"Kita tidak tahu jika belum memastikannya." jawab Namjoon.
"Apa dia sendirian?"
"Sayangnya tidak. Ada seseorang yang bersamanya." jawab Namjoon membuat Seokjin semakin merasa cemas.
"Bisakah kita pergi sekarang?"
"Kita pergi besok pagi."
"Jimin tidak bisa menunggu!" tanpa sadar Seokjin meninggikan suaranya.
"Dia baik-baik saja."
"Dan, kenapa kau begitu yakin?"
"Karena aku tahu betul dengan siapa Jimin sekarang."
"Apa maksudmu?"
"Kau tak perlu cemas. Jimin akan baik-baik saja." Seokjin mengepalkan kedua tangannya menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan.
"Jangan menjamin sesuatu yang tidak bisa kau jamin!" sarkas Seokjin yang membuat kedua mata Namjoon berkilat tajam.
"Aku bisa menjamin keselamatannya."
"Dan siapa kau bisa menjamin keselamatannya?" tukas Seokjin kadar emosinya semakin meningkat. "Kau bahkan tidak memiliki seseorang yang kau jaga, kau lindungi atau bahkan seseorang yang keberadaannya sangat berarti bagimu. Tidak ada! Jadi, jangan bersikap bahwa nyawa seseorang bagai selembar tisu tak terpakai." sindir Seokjin yang membuat Namjoon terpaku di tempatnya, tepatnya mencerna segala sindiran Seokjin yang sepenuhnya benar tentangnya. Ya, dia memang tidak memiliki seseorang yang bisa ia jaga, ia cemaskan, tempat untuknya berbagi ataupun seseorang yang berarti untuknya. Namjoon memang tidak pernah merasakan semua perasaan-perasaan asing yang seharusnya biasa dirasakan oleh manusia pada umumnya. Ya-seharusnya, tapi tidak dengan dirinya. Membuat Namjoon bertanya-tanya, apakah ia bisa merasakan perasaan umum yang biasa manusia normal rasakan? Perasaan dimana adanya keluarga, teman, sahabat, dan cinta. Bukan perasaan takut serta risau akibat musuh yang selama ini ia hadapi?
'bisakah, aku merasakan semua itu?'
.
.
.
Dor!
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi tak juga membuat salah seorang penghuni rumah mewah untuk bergelut diatas kasur empuknya. Justru, yang ia lakukan adalah mengasah kemampuan menembaknya mengingat sudah cukup lama ia berstatus sebagai pengangguran. Mengandalkan segala fasilitas yang lebih dari lengkap yang disediakan di rumah mewah itu.
Dor!
Pria tampan dengan garis rahang tegas pada wajah tampannya serta seringai keji yang selalu ia tunjukkan kala tembakannya tak pernah meleset sedikitpun dari targetnya.
Kim Taehyung, pria tampan yang sedikit gila karena memutuskan untuk berlatih tembak di dini hari itu membenarkan letak earphone-nya sebelum kembali membidik target selanjutnya.
Dor!
Dan lagi, seringai puas yang muncul di sudut bibirnya selalu terlihat setelah tembakannya tak pernah meleset sedikitpun.
"Jadi—apa yang membuatmu terbangun jam segini? Kau tidak berniat untuk membunuh seseorang 'kan?" interupsi seseorang membuat Taehyung menoleh dan tersenyum kecil mendapati Namjoon berjalan mendekatinya seraya membawa sebuah remot yang tak Taehyung ketahui untuk apa.
Setelah berdiri tepat di samping Taehyung, Namjoon mengarahkan remot di tangannya kearah atap ruang kerja mereka yang otomatis langsung terbuka dan menunjukkan langit gelap dengan ribuan bintang kerlap-kerlip di langit hitam sana.
"Bukankah mereka sangat indah?" tanya Namjoon seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Taehyung menghembuskan nafas, ia menurunkan earphone-nya dan ikut memandang langit tengah malam bersama Namjoon.
"hm, mereka sangat cantik." tutur Taehyung setuju yang selanjutnya hanya ada keheningan diantara mereka.
"Jadi—apa kau sudah menemukan pria itu?" tanya Taehyung memutuskan untuk memecah keheningan dengan orang yang sudah dua kali menyelamatkan nyawanya. Namjoon menarik nafas dan hanya mengangguk kecil.
"Dan, apa kau juga akan memintanya untuk tinggal disini?" nyatanya Taehyung bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari alasan Namjoon menyelamatkan nyawa bajingan seperti dirinya. Dan nyatanya, Taehyung tidak cukup buta untuk mengetahui bahwa pria tampan yang lebih tua darinya ini mengumpulkan beberapa orang pilihannya untuk melakukan pekerjaan yang pastinya hanya akan menguntungkan Namjoon sendiri.
"Tentu saja." Taehyung tersenyum kecil.
"Kau mengambil kesempatan pada situasi sekarang dan menggunakan Kim Seokjin dalam waktu bersamaan. Kau tahu? Aku rasa Tuhan memang berpihak padamu." sindir Taehyung yang membuat Namjoon menoleh. Ditatapnya pria yang lebih muda darinya dengan seringai kecil dari sudut bibirnya.
"Dau kau—" jedanya sejenak. "—bagaimana kabar keluarga yang membuangmu?" Namjoon menyerang telak Taehyung yang membuat pria bermarga Kim itu mendecih kesal.
"Aku tidak membutuhkan kabar dari keluarga yang membuangku!" sarkas Taehyung tak mau kalah. Namjoon tertawa miring.
"Jika kau ingin mendengar kabar mereka. Hubungi aku, hm?" remeh Namjoon tersenyum puas sementara Taehyung menggeram tertahan. Namjoon menepuk pundak Taehyung sebelum memilih untuk pergi meninggalkan pria tampan itu seorang diri.
Taehyung mengepalkan kedua tangannya setelah kepergian Namjoon. Kedua matanya berkilat kelewat tajam dan—
Brak!
—nafas Taehyung tersengal setelah ia membanting pistol dan earphonenya menjadi hancur berkeping.
"ARGHHHH!" seruannya penuh frustasi yang tanpa ia sadari rasa kekesalannya membuat Namjoon yang masih berdiri di balik pintu ruang kerjanya tersenyum kecil. Senyuman yang menyiratkan luka tanpa sebab.
'setidaknya, aku tidak merasa kesepian seorang diri.'
.
.
.
"Kau sudah bangun?" sapa Seokjin pada Jungkook yang baru saja muncul di dapur pagi ini. Jungkook tersenyum kecil, ia melirik sekilas kearah Taehyung yang dengan acuh memakan sarapan paginya sementara Seokjin terus mengomel untuk tidak memakan makanannya sebelum seluruh penghuni rumah keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Duduklah, aku sudah memasakkan nasi goreng Kimchi pagi ini, aku harap kau suka." Jungkook menurut tapi tak berniat untuk membalas ucapan Seokjin sedikitpun dan lebih memilih untuk duduk di depan Taehyung.
"Makanlah." Seokjin mempersilahkan Jungkook untuk mencicipi masakannya diiringi Taehyung yang mencibir iri.
"Padaku saja, kau tidak mengijinkanku makan~" desis Taehyung kesal bukan main. Seokjin berdecak sabar.
"Karena kau sudah makan, Jungkook juga diperbolehkan makan. Seharusnya kau juga yang memimpin doa karena kau yang pertama memakan makanan di meja ini." Taehyung mempoutkan bibirnya tak terima.
"Aturan darimana itu?" tanya Taehyung yang membuat Seokjin memutar kedua bola matanya jengah sedangkan Jungkook tetap diam menyimak.
"Dasar tidak tahu tata karma!" sinis Seokjin.
"Memangnya itu perlu?" balas Taehyung masih enggan menuruti ucapan Seokjin.
"Tentu saja, itu sebagai tanda syukur kita pada Tuhan."
"Kau sangat lucu, hyung. Kau bukan manusia baik tapi bersikap seolah kau adalah manusia yang taat." sindir Taehyung.
"Setidaknya, jika aku bukan manusia yang baik tapi aku masih memiliki sedikit hati untuk bersikap taat dan memiliki perasaan sebagai manusia. Tidak sepertimu dan manusia sok kuasa itu!"
"Siapa yang kau sebut sok kuasa?!" seru seseorang yang membuat Taehyung dan Jungkook menoleh tapi tidak dengan Seokjin yang masih kesal bukan main karena pembicaraan mereka semalam.
"Habiskan sarapan kalian. Dan kau Tae! Setelah semua selesai, cuci semua piring kotor!" titah Seokjin tanpa beban.
"yak! Kenapa aku? Siapa kau berani sekali menyuruhku?!" seru Taehyung tak terima yang tentu saja diabaikan Seokjin yang berjalan meninggalkan dapur yang otomatis berjalan melewati Namjoon yang entah sejak kapan sudah berada di dapur rumah mereka.
Dengan lancangnya, Namjoon menahan tangan Seokjin ketika pria cantik itu melewatinya begitu saja.
"Kau marah padaku?" tanya Namjoon entah kenapa terlihat peduli.
Seokjin menoleh dan menatap Namjoon kelewat tajam. Dengan kasar ia menarik tangannya dari genggaman Namjoon.
"Aku sudah menurutimu untuk pergi pagi ini. Jadi baiknya, kau tepati ucapanmu semalam dan membawa adikku kembali dalam keadaan hidup dan sehat!" tukas Seokjin yang selanjutnya memilih untuk berjalan menuju kamarnya yang berpintu putih.
"Kau mau pergi?" tanya Taehyung. Namjoon menarik kursi di samping Jungkook dan hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
"yah~ seperti yang kau tahu." Jawab Namjoon sekenanya.
"hm, tampaknya aku harus mulai terbiasa dengan tempat penampungan ini."
"yak!" seru Namjoon tak terima. Taehyung tersenyum miring dan memutuskan untuk melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda karena perdebatan tak pentingnya dengan Seokjin beberapa menit yang lalu.
"Kook?" panggil Namjoon yang membuat Jungkook menoleh namun tak menyaut sedikitpun panggilan sang hyung sementara Taehyung secara diam-diam memasang kedua telinganya lebar-lebar.
Namjoon memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda persegi yang biasa disebut sebagai ponsel. Ia meletakkan ponsel yang sudah mengalami keretakan parah pada layarnya itu di samping piring Jungkook yang menghasilkan kerjapan lucu dari kedua mata yang lebih muda.
"i-ini…" lirih Jungkook terbata.
"Aku sudah memperbaiki ponselmu." tutur Namjoon menjawab segala kebingungan Jungkook tentang keberadaan ponsel pertamanya yang sudah lama rusak.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Jungkook akhirnya membuka suara membuat Namjoon tersenyum kecil.
"Orang mana yang tidak butuh ponsel?" balas Namjoon masuk akal. "Memang casing-nya aku gunakan ponsel lamamu. Tapi, percaya seluruh fitur dan system-nya sesuai dengan teknologi sekarang. Jadi ya, ponselmu lebih canggih meskipun dari luar terlihat rusak." Jungkook bergumam tak percaya dan akhirnya mengambil ponselnya meneliti casing depan dan belakang kemudian menghidupkan ponselnya yang sudah lama mati tapi selalu ia bawa kemana-mana.
"daebak! Aku tak percaya ini." gumam Jungkook menggemaskan yang tak menyadari jika reaksi polosnya itu membuat Namjoon baik Taehyung tersenyum kecil melihat pemuda SMA yang jujur saja, sangat mereka sayangkan harus mengalami hal buruk di usianya yang masih terlalu muda.
"Dan satu lagi—" Namjoon menjeda ucapannya sejenak yang kali ini mengalihkan pandangannya kearah Taehyung. "—mulai hari ini, Jungkook adalah tanggung jawabmu."
"mwo?!" pekikan keluar dari dua suara berbeda yang tentu saja menyerukan keberatan atas keputusan sepihak Namjoon.
"Kenapa dia menjadi tanggung jawabku?" tolak Taehyung keras.
"hyung, aku bukan anak kecil. Aku bisa menjaga diriku sendiri!" lanjut Jungkook seraya sesekali melirik Taehyung sinis.
"Kau masih terlalu rawan untuk mengambil keputusan. Lagipula, aku rasa kalian berdua cocok." komentar Namjoon yang membuat Taehyung maupun Jungkook membulatkan kedua mata mereka horror.
"Cocok? / yangbenarsaja…" gumam keduanya sama-sama berdecak kesal.
"Tidak! Aku tidak mau menjaga bayi besarmu!" seru Taehyung yang membuat Jungkook mendelik kesal kearahnya.
"Siapa yang kau sebut bayi besar?!"
"Kau tentu saja! Kau pikir, siapa disini yang masih bayi? Namjoon hyung?!" sinis Taehyung emosinya memuncak. Jungkook berdecak tak menyangka.
"woah~ kau benar-benar pria tua mengesalkan!"
"Siapa yang kau sebut pria tua?!"
"Kau tentu saja! Kau pikir, siapa disini yang sudah tua? Aku?!" sindir Jungkook yang baru menyadari jika ia menggunakan kalimat yang sama dengan jawaban Taehyung beberapa detik yang lalu.
"see~ kalian berdua itu sangat cocok." tutur Namjoon yang kembali mendapat delikan tak terima dari kedua orang yang lebih muda darinya.
"Kami tidak cocok!" seru Taehyung dan Jungkook bersamaan.
"woah~ selain cocok kalian juga kompak!" goda Namjoon. Jungkook menghembuskan nafasnya sabar dan Taehyung memutar kedua bola matanya malas.
"Dengar, Jeon! Aku akan mengijinkanmu keluar kemanapun asal kau bersama Taehyung. Aku mengijinkanmu untuk melakukan apapun yang kau mau." lanjut Namjoon yang membuat Jungkook terdiam, merasa tertarik dengan penawaran Namjoon. "Dan dengar Kim! Aku tidak akan membatasi semua senjata di ruang kerja rumah ini jika kau mau menjaga Jungkook dan mau bekerja sama dengannya. Karena juga mulai sekarang, seisi rumah ini, serta seluruh mobil dan motor di basement tidak hanya milikku tapi resmi milik kalian dan orang-orang yang akan tinggal di rumah ini. Dan ya, kalian bisa memilih satu mobil yang ingin kalian miliki sendiri."
"Kau tidak bercanda 'kan?" Namjoon menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Taehyung.
"Kalian bebas melakukan apapun yang kau mau selagi kita free."
"free?" tanya Jungkook tak mengerti.
"ya, selagi kamar dirumah ini masih kosong dan selagi pekerjaan belum mendatangi kita. Jadi, lakukan apapun yang kalian inginkan, selagi kalian masih memiliki waktu."
"Lalu, bagaimana dengan Seokjin hyung?" tanya Taehyung. Namjoon tersenyum miring.
"Dia pun juga akan melakukan apapun yang dia inginkan." jawab Namjoon penuh teka-teki.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana jika temanmu tidak menerimaku?" tanya Hoseok cemas.
Hari ini, adalah hari yang Hoseok tunggu. Dimana ia bisa mendapatkan kehidupan normalnya sebagai manusia pada umumya. Mempunyai pekerjaan yang layak dan hidup dengan damai tanpa merasa takut akan hobi yang tak seharusnya ia lakukan.
"Kau tenang saja, hyung. Dia teman masa kecilku. Dia selalu menyukai apa yang kusukai. Yah, meskipun hanya sebuah minimarket tapi aku harap itu bisa merubah hidupmu selanjutnya." Hoseok tersenyum kecil.
"minimarket atau apapun itu tidak masalah untukku. Aku sudah cukup beryukur jika temanmu menerimaku menjadi pegawainya." Jimin tersenyum manis. Ia menyeimbangi langkah Hoseok yang terlihat antusias dan tak sabar untuk bertemu dengan teman lamanya.
"Aku akan pastikan itu, hyung. Lagipula, jika dia tidak menerimamu. Aku masih memiliki banyak channel yang lain."
"Jika kau memiliki banyak teman yang sukses kenapa kau memutuskan untuk—kau tahu maksudku 'kan?" Jimin tersenyum kecil. Senyuman yang terlihat tulus kala mengatakan,
"Selalu ada alasan dibalik pilihan yang kita ambil." Hoseok mengangguk paham. "hm, hyung… bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Bertanyalah."
"Terakhir kita bertemu kau tidak sendiri 'kan?"
"ah-ya. Dua bulan yang lalu aku bekerja sebagai tangan kanan pengusaha muda berdarah dingin, Min Yoongi."
"Min Yoongi?" Hoseok mengangguk dan menatap heran pada Jimin yang tampak terkejut.
"waeyo? Kau mengenalnya?"
"a-ani… aku hanya terkejut. Pantas saja, wajahnya seperti tak asing untukku."
"Apa yang membuatmu terkejut?"
"Maksudku. Bukankah yang kau maksud adalah Min Yoongi pengusaha muda dan terkaya ke tiga seantero negara ini?"
"ya, dia orangnya?"
"Lalu, kenapa kau bisa berada disini? Apa yang terjadi? Dan, aku ingat kemarin kau mengatakan bahwa kau diusir oleh pria dingin itu 'kan?" Hoseok terkekeh.
"Baru kali ini aku melihatmu seantusias ini." Jimin tergelak.
"Maaf, hyung. Aku pasti banyak bertanya ya?"
"aniyo. Tidak masalah bagiku. Lagipula, dia sudah menjadi mantan bosku."
"Kau benar." balas Jimin mengangguk paham.
"Tapi, aku justru beryukur diusir olehnya."
"wae?" Hoseok mengangguk kecil.
"Aku lebih memilih dia mengusirku daripada aku yang mengundurkan diri. Kau tahu maksudku 'kan? Bekerja dengan orang seperti Min Yoongi itu, tidak menerima segala toleransi dan kesalahan sekecil apapun. Semuanya harus terlihat sempurna dan professional. Kau tahu? Dia tidak sembarangan mengerjakan orang."
"Kenapa jadi membahas tentang dia? Yang aku herankan kenapa dia mengusirmu?" tanya Jimin tak terima.
"Karena kejadian dua bulan yang lalu tentu saja."
"eh?"
"Kita berbeda pendapat dan—booom! Dia langsung mengusirku begitu saja." Jimin mendecih terlihat tak suka. "Dan kenapa aku melihat kau seperti tak menyukainya?"
"Semua orang 'kan memang tidak menyukainya!" sanggah Jimin yang direspon anggukan setuju dari Hoseok.
"Kau benar! Aku sendiri juga tidak menyukainya." Jimin tertawa keras atas candaan Hoseok sampai kedua matanya menangkap sebuah bangunan yang tak begitu kecil pun tak begitu besar.
"Itu tempatnya, hyung!" seru Jimin semangat dan berlari menyebrang jalan meninggalkan Hoseok yang hanya bisa menggelengkan kepalanya gemas. Jujur saja, ia memang baru mengenal pria mungil bermarga Park itu, tapi entah kenapa ia merasa seperti memiliki adik kecil yang harus ia jaga sehingga membuatnya merasa sebersit tak rela akan berpisah dengan Jimin.
"Jimin, hati-hati!" seru Hoseok berlari menyusul Jimin menyebrang jalan tanpa menyadari jika ada sebuah mobil jeep yang mengintai gerak-gerik mereka berdua.
"Dongwoo hyung?!" panggil Jimin dengan suara merdunya yang seketika langsung memenuhi seisi setiap sudut minimarket yang baru ia masuki.
"Siap—Jimin?" balas pria tampan yang memiliki cengiran khas kekonyolan yang dulunya selalu menghiasi masa kecil Jimin.
Melihat salah satu hyung kesayangannya muncul dari pintu khusus karyawan, membuat Jimin melambaikan tangannya dan berjalan riang menghampiri pria yang bernama lengkap Jang Dongwoo.
"astaga~ apa benar kau Park Jimin?" tanya Dongwoo senang bukan main. Ia menangkup wajah mungil Jimin dengan kedua tangan besarnya sebelum membawa sang adik kecil ke dalam pelukannya. "aigoo~ sudah lama sekali anak nakal."
"Aku bukan anak nakal, hyung!" protes Jimin namun dengan senang hati membalas pelukan Dongwoo.
"Darimana saja kau? Kenapa tidak pernah menemuiku?" tanya Dongwoo sorot matanya berubah akan kecemasan. "Dan, aku dengar kau di Afrika."
"Bertanyalah satu-satu, hyungnim. Dan ya, aku di Afrika tiga tahun yang lalu. Dan aku disana selama tiga tahun."
"Jangan bilang aku sudah tidak bertemu denganmu selama enam tahun." Jimin tampak mengingat sebelum tersenyum jahil.
"Lebih mungkin?" goda Jimin.
"aish, anak ini tidak pernah berubah." gemas Dongwoo.
"Dan, apa kau sudah menemui kel—"
"hyung!" dengan cepat Jimin memotong ucapan Dongwoo saat ia merasa bahwa Dongwoo akan membahas sesuatu yang tak ingin ia dengar dari dulu hingga sekarang.
"Aku kemari karena ada tujuan." Dongwoo berdecak seraya berkacak pinggang dihadapan Jimin.
"Selalu seperti itu. Ada apa lagi kali ini?" tanya Dongwoo datar membuat Jimin terkekeh sebelum berbalik dan melambai pada seseorang yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan bagaimana interaksi Jimin dan orang asing itu.
"hyung, kemarilah!" Jimin melambai yang membuat Hoseok berjalan mendekat kearah mereka. Mencoba mengabaikan tatapan selidik yang sedang Dongwoo berikan padanya.
"hyung, kenalkan ini Jang Dongwoo, pemilik minimarket ini dan—Dongwoo hyung, kenalkan ini Jung Hoseok, dia hyung-ku." pernyataan Jimin itu membuat Hoseok tersenyum puas sementara Dongwoo berdecak tak suka.
"Baiklah, aku hanya pemilik minimarket ini sementara dia adalah hyungmu."
"hyung~" rengek Jimin yang membuat Dongwoo memutar kedua bola matanya malas. "hyung, sebenarnya kedatanganku kemari—aku ingin meminta tolong padamu, apakah bisa jika Hoseok hyung bekerja disini bersamamu?" dahi Dongwoo berkerut dan kembali menatap Hoseok penuh selidik.
"Jadi, itu tujuanmu kemari?"
"mian, hyung~" sesal Jimin. Dongwoo menarik nafas, pandangannya tak pernah lepas dari Hoseok sampai hanya ada keheningan diantara ketiganya. Lama terdiam, Dongwoo menghembuskan nafasnya sebelum memutuskan,
"Baiklah, kau ikut denganku. Kita bisa wawancara sekarang." Jimin tersenyum sumringah sementara Hoseok hanya tersenyum kecil.
"Terima kasih, hyung. Aku menyayangimu."
"ya, katakan sayang jika kau membutuhkanku." sindir Dongwoo yang membuat Jimin mencebikkan bibirnya kesal.
"hyung~" Dongwoo menghela nafas dan mengerling Hoseok untuk mengikutinya.
"arra-arra, tunggulah disini." pesan Dongwoo yang tentu saja diangguki oleh Jimin.
"Semoga beruntung, hyung." bisik Jimin menyemangati Hoseok.
"Terima kasih, Jim." balas Hoseok tersenyum tampan yang selanjutnya ikut mengekor kemana Dongwoo pergi membawanya.
Sepergian Hoseok dan Dongwoo, Jimin memutuskan untuk mengitari minimarket yang sudah lama tidak ia kunjungi. Berharap, mungkin saja ada beberapa barang yang ia butuhkan yang bisa ia ambil secara cuma-cuma.
"Rasanya sudah lama. Tapi, tempat ini tidak banyak berubah." gumam Jimin sarat akan kerinduan.
Jimin mengambil sebuah minuman kaleng isotonic dari lemari pendingin. Membuka penutupnya dan meminumnya beberapa teguk. Jimin menutup pintu lemari pendingin itu bersamaan dengan empat wajah sangar yang entah muncul dari mana berada di balik pintu itu.
"omo!" pekik Jimin terkejut dengan keberadaan empat pria berbadan kekar dengan setelan hitam formal, kompak menyapanya dengan membungkukkan badan mereka dihadapan Jimin.
"Maaf jika kami mengagetkan anda, tuan muda." ujar salah satu dari keempat pria besar itu.
Jimin gelagapan. Ia menoleh kesana kemari untuk memastikan keadaan jika tidak ada orang selain dirinya dan empat pria itu.
"Ada apa? Kenapa kalian bisa disini?!" tanya Jimin suaranya meninggi.
"Maaf jika keberadaan kami mengganggu anda, tuan muda." Jimin berdecak kesal.
"Berhenti meminta maaf dan katakan, ada apalagi sekarang?!" tanya Jimin tak ingin berbasa-basi.
"Tuan besar Park ingin bertemu dengan anda." Jimin mengeryitkan keningnya.
"Lagi? Ada apa sekarang? Tiga bulan yang lalu aku sudah menemuinya!"
"Ada hal penting yang ingin tuan besar Park sampaikan pada anda."
"Hal penting apa?" tuntut Jimin jengah.
"Maaf, kami tidak bisa menyampaikannya pada anda, tuan muda."
"Kalau begitu pergilah! Aku tidak punya waktu untuk menemui pria tua itu." usir Jimin tak peduli.
"Tapi, tuan muda—"
"Aku memberi kesempatan pada kalian untuk pergi dengan kaki kalian sendiri atau harus kutuntun dengan tanganku?!" tawar Jimin dengan sorot mata yang berkilat menyeramkan.
"Baiklah, tuan muda. Kami akan pergi. Dan, pintu rumah utama tuan besar akan selalu terbuka untuk anda." Jimin berdecak.
"Pergi! Dan katakan pada pria tua itu, bahwa aku tidak akan menemuinya dan berurusan dengannya ataupun keluarganya lagi!" desis Jimin yang hanya dibalas bungkukan badan dari keempat pria kekar sebelum memutuskan untuk pamit.
"Kami akan menyampaikan pesan anda, tuan muda." Jimin hanya berdehem dan membiarkan keempat pria besar itu pergi meninggalkan minimarket tempatnya berada.
'Sial! Mereka kekeuh sekali untuk menarikku!'
.
.
.
Klik!
Jimin menoleh ketika ia mendengar pintu ruang khusus karyawan terbuka setelah ia menunggu hampir dua jam lamanya.
"Bagaimana, hyung?" tanya Jimin penasaran. Dihampirinya Dongwoo yang pertama kali keluar disusul Hoseok dibelakangnya. Dongwoo tersenyum sekilas dan menepuk bahu Jimin.
"Kau tenang saja. Hoseok bisa mulai kerja besok pagi." sontak, mendengar pemberitahuan ini membuat kedua mata Jimin berbinar lucu dan tanpa ragu berhambur memeluk Dongwoo erat.
"gomapta, hyung. Gomapta!" tutur Jimin senang bukan main tanpa menyadari jika saat ini baik Dongwoo maupun Hoseok saling melempar tatapan tajam, terlebih mengingat wawancara yang lebih merujuk pada hal pribadi yang baru saja mereka bicarakan selama kurang lebih dua jam.
"Aku tidak tahu darimana asalnya dirimu. Tapi, mengingat bagaimana Jimin mengakuimu sebagai hyungnya. Maka dengan terpaksa aku harus menerimamu untuk bekerja disini."
"Kau tidak perlu melakukannya jika terpaksa."
"Cih! Sombong! Apa kau sedang memanfaatkan kepolosan Jimin?"
"Kalau aku mengatakan ya, kau mau apa? Lagipula dia berhutang nyawa padaku!"
"Sial! Jika bukan Jimin yang meminta aku pastikan, kau sudah tak bernyawa setelah keluar dari ruangan ini."
"Ck! Siapa Park Jimin sehingga membuatmu bisa menahan diri untuk membunuhku?! Lakukan, jika itu yang kau inginkan!"
"Jaga bicaramu, bajingan! Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau berani membuat Jimin merasa dikhianati oleh manusia keji sepertimu!"
"Kutunggu ancamanmu, kalau begitu!"
Dan, untuk Hoseok terutama. Entah kenapa setelah berbincang penuh ketegangan dengan Dongwoo membuat rasa penasarannya berkali lipat perihal siapa Jimin sebenarnya. Mungkin, sebelumnya ia merasa bahwa tidak penting siapa sebenarnya sosok yang ia tolong. Tapi, entah kenapa ia memiliki firasat lain dimana ia harus melindungi pria mungil itu. Dan ia bertekad untuk mencari tahu diam-diam serta mengikuti permainan bos barunya yang tampak mengetahui sesuatu tentang Park Jimin.
"Kau tidak berniat pulang cepat 'kan?" tanya Dongwoo setelah Jimin melepas pelukannya. Jimin tersenyum maaf.
"mian, hyung. Aku harus mengurus sesuatu yang belum selesai." Dongwoo berdecak. "Tapi, aku janji lain kali aku akan menginap ke tempatmu."
"Jangan berjanji jika kau tak bisa menepati."
"hyung~" mohon Jimin. Dongwoo tersenyum kecil.
"arra-arra, pergilah. Lagipula, aku punya firasat akan sering bertemu denganmu jika aku menerima Hoseok bekerja disini." Jimin tersenyum manis.
"Tentu saja itu benar, hyung!" balas Jimin antusias. "Kalau begitu, kami berdua pamit dulu, hyung. Sampai jumpa!" pamit Jimin memeluk Dongwoo sekilas yang dibalas Dongwoo dengan tak rela.
"Sering-seringlah, berkunjung." Jimin mengangguk.
"Aku akan." Jimin melambai diikuti Hoseok yang melirik sekilas kearah Dongwoo yang setelahnya mengekori Jimin tanpa berniat untuk berpamitan pada bos barunya.
"Apa Dongwoo hyung, bersikap menyebalkan?" nyatanya Jimin bukanlah anak kecil yang tidak mengetahui jika Dongwoo maupun Hoseok saling melempar tatapan tak suka satu sama lain dibelakangnya. Jadi, disaat ia dan Hoseok berjalan beriringan cukup lama dengan hanya keheningan yang menyelimuti keduanya, Jimin tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.
"ya, seperti yang kau tahu." jawab Hoseok yang membuat Jimin menyadari satu hal jika Hoseok adalah tipikal orang yang lebih suka mengatakan apa-adanya.
"Sebenarnya, aku juga tidak begitu suka dengannya." ucapan Jimin ini sontak membuat langkah Hoseok terhenti. Hoseok menatap Jimin tak mengerti sementara yang ditatap hanya tersenyum sekilas. "Sebenarnya, tidak hanya Dongwoo hyung tapi—semua kenalanku memang sangat menyebalkan. Dan aku, tidak begitu menyukai mereka."
"Tapi, kenapa dia terlihat over protektif padamu?"
"Tidak hanya dia. Semua kenalanku seperti itu padaku. Jadi, mulai sekarang, kau tak perlu heran jika ada orang asing yang tiba-tiba bersikap berlebihan padaku."
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Apanya yang tidak bisa?"
"Kau tidak menyukai seseorang yang sepertinya sangat menyayangimu." Jimin tersenyum kecil.
"Selalu ada alasan dibalik rasa tidak suka itu, hyung." rasanya, Hoseok pernah mendengar kalimat itu namun bermakna berbeda.
"Lagipula, aku sudah cukup senang melihatmu sudah mendapat pekerjaan. Woah~ aku benar-benar bahagia sekali, hyung. Dan ya! Aku tidak mau tahu, gaji pertamamu kau harus mentraktirku. Call?" pinta Jimin yang membuat Hoseok terkekeh gemas. Hoseok mengangguk berniat untuk membalas permintaan Jimin sebelum—
Ckiit!
Sebuah Renault Duste berhenti tepat di samping mereka. Dahi Hoseok mengeryit bertanya-tanya siapa orang yang sepertinya sengaja memberhentikan mobilnya di dekat mereka sementara Jimin tampak was-was melihat mobil asing itu.
Blam!
"JIMIN!" seru suara familiar membuat kedua mata Jimin berbinar indah melihat siapa sosok yang baru saja keluar dari Renault Duster tersebut.
"Jinnie hyung!" balas Jimin antusias terlebih kala hyung cantiknya melompat kepelukannya dan terisak hebat.
"Syukurlah kau baik-baik saja~" racau sosok cantik yang tak lain adalah Kim Seokjin.
"Aku sangat merindukanmu, hyung." adu Jimin manja. Seokjin melepas pelukan Jimin dan menangkup wajah mungil adik kecilnya dengan kedua tangannya, memeriksa setiap inch jika saja ada goresan luka di wajah manis Jimin.
"Kau tidak terluka 'kan? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit? Kau pasti ketakutan~"
"hyung~" rengek Jimin kembali memeluk Seokjin erat. "Aku memang takut tapi sekarang sudah tidak. Momma-ku sudah datang menjemputku. Jadi, tidak ada yang perlu kau cemaskan lagi." Seokjin terkekeh dan kembali menangkup wajah Jimin untuk mengecup bibir sang adik gemas.
"Katakan berapa umurmu? Kau sudah 25 tahun, tapi seperti 3 tahun untukku!"
"Tiga tahun terlalu muda, hyung." protes Jimin. "Lagipula, tak baik mengkorupsi umur. Bisa gawat jika jumlah populasi orang tua tidak juga bertambah."
Pletak!
"Berhenti bicara asal!" decak Seokjin yang dibalas cengiran dari Jimin.
"Dan—kenapa kau bisa bersama dengannya?" tanya Jimin yang baru menyadari jika Seokjin tidak datang seorang diri. Seokjin yang paham betul siapa yang dimaksud Jimin hanya bisa mengigit bibir bawahnya gugup.
"Aku meminta bantuan padanya untuk menemukanmu."
"Lalu?" dan jangan sebut Park Jimin yang mengenal Seokjin sejak kecil jika tidak mengetahui kebiasaan Seokjin jika sedang dilanda dilema atau merasa bersalah.
"Lalu, tawarannya adalah—aku bergabung bersamanya. Tinggal bersamanya."
"mwo?" pekik Jimin terkejut meskipun Seokjin menjelaskannya dengan suara yang kelewat pelan.
"Kau tahu, aku tidak bisa jika melihatmu dalam bahaya. Lebih parahnya jika sampai kau terluka. Jadi, aku mohon jangan membenciku karena keputusan sepihakku." mohon Seokjin yang membuat Namjoon bahkan Hoseok sendiri dibuat takjub dengan interaksi dua orang asing yang berubah menjadi hubungan layaknya kakak dan adik.
"Kenapa aku harus membencimu?" tanya Jimin tenang. Digenggamnya kedua tangan sang hyung lembut. "Jika nyatanya yang kau lakukan demi diriku?" lanjut Jimin yang membuat Seokjin menatap kedua mata indah yang selalu membentuk garis lurus jika sedang tersenyum. Kedua mata indah yang selalu menatapnya lembut. Kedua mata indah yang membuatnya merasa bagaimana rasanya memiliki keluarga dan menjadi seorang kakak.
"Jadi—kau tidak akan membenciku 'kan?" Jimin tersenyum manis.
"Tepatnya, aku tidak bisa membenci hyung-ku." balas Jimin. "Dan, Karena itu pula—aku juga akan memutuskan hal yang sama denganmu." dan kali ini keputusan Jimin membuat Namjoon membulat terkejut mendengarnya.
Jimin berbalik badan dan berniat untuk menyapa sosok yang sudah membantu Seokjin untuk menemukannya.
"Jadi, apa tawaranmu masih berlaku juga untukku?" tanya Jimin. Namjoon tersenyum tampan.
"Tawaran itu masih berlaku sampai kapanpun." jawab Namjoon yang sebenarnya tak hanya merujuk pada Jimin, tapi juga pada Hoseok.
"Kalau begitu, aku menerima tawaranmu sekarang." Namjoon tersenyum senang, lega tepatnya. "Dan, omong-omong kita juga belum berkenalan secara resmi." Jimin mengulurkan tangannya yang tentu saja dibalas dengan senang hati oleh Namjoon.
"Park Jimin."
"Kim Namjoon. Senang melihatmu memutuskan untuk bergabung—Jiminie! Apa kau tidak keberatan jika aku memanggilmu dengan nama kecilmu?" Jimin menggeleng.
"Tidak tentu saja." jawab Jimin tersenyum manis.
"Dan—apa masa tawaran itu juga berlaku untukku?" tanya Hoseok tiba-tiba yang membuat Jimin menoleh kearahnya.
"hyung?" tapi kali ini, Hoseok tak mengindahkan Jimin dan hanya menatap pada satu objek, Kim Namjoon.
"Tentu jika kau mempertimbangkannya." jawab Namjoon. Hoseok terdiam sejenak. Memikirkan matang-matang tentang keputusan yang ia ambil kali ini. Ia memang ingin hidup normal dan memiliki pekerjaan yang layak meskipun tak seberapa. Tapi, kembali lagi pada kehidupan awalnya. Kehidupan yang sudah mendarah-daging dalam dirinya. Kehidupan dimana hanya ada system, teknologi, kode-kode rahasia yang ada diotaknya. Jujur saja, ia merindukan semua itu. Dan ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia lebih menginginkan untuk kembali menjadi J-Hope bukan Jung Hoseok.
Hoseok menarik nafas, menenangkan diri. Ditatapnya Namjoon dan Jimin bergantian sebelum pandangannya jatuh pada pria yang dua bulan lalu mendatanginya ketika ia masih bekerja bersama Yoongi.
"Baiklah, aku juga terima tawaranmu." putus Hoseok yang membuat Namjoon mengangkat sudut bibirnya membentuk seringai tampan. Ia tidak menyangka dengan satu umpan ia langsung mendapat dua pancingan sekaligus.
'Park Jimin benar-benar mengagumkan. Seokjin yang datang sendiri dan Hoseok yang menerima tawarannya dengan cuma-cuma. Aku baru menyadari jika aku mendapatkan dua orang ini berasal dari dirinya. Dan aku yakin, dia akan mempermudah semua tugasku termasuk untuk membawa sang ace, Min Yoongi. Maaf harus mengatakan ini, tapi—permainan akan dimulai sebentar lagi!'
tbc
Yuuhuuuu...
[-] Siapa yang kangen Rogue? -angkatkaki
[-] Woah... akhirnya bisa update juga dan lebih panjang. Hm, tapi siapa nih yang udah mulai bosen atau ini terlalu panjang? Kalau kepanjangan next update aku kurangi wordnya, kkkk...
[-] Siapa yang kangen Yoongi? Doain aja semoga Yoongi cepet sadar dan gabung sama mereka biar cepet lengkap dan ngringkus musuh-musuhnya yang udah mau otw, kkkk. Dan, udah tahu kan siapa main cast-nya? hehe,... aku gak bisa lepas buat nistain Jimin (oops!). Habisnya gemes sendiri sama buntelan mochi satu ini. Tapi, tenang aja aku usahain semuanya adil, makmur dan sentosa. Biar jadinya main cast-nya itu bangtan. oke oke?
[-] Thanksful, buat yang tetap nungguin Rogue. Sayang banget sama kalian, emuachemuach :* :*
[-] Want to next? So, see you in next chapter..
Bye bye, and..
Kamsahamnida,
