Disclaimer : FMA dan segala urusan tetek bengeknya itu punya Hiromu Arakawa seorang! Huh!

~oOo~

Miss Bradley menyeruput tehnya sedikit demi sedikit. Teh itu terlalu manis untuknya dan dia tidak boleh meminumnya hanya karena satu alasan; takut gulanya akan naik. Maka dari itu setelah ia puas walaupun hanya menyeruput sedikit, ia menaruh cangkir di bawah kasur tidurnya lalu mengambil sepiring nasi dan lauk pauk yang tadi ada di sampingnya. Ia lalu mulai makan. Keadaan di ruang tahanan tempatnya disekap sekarang, tidak terlalu menyeramkan seperti yang biasa diceritakan. Mungkin karena ia adalah istri dari mantan Fuhrer Amestris terkemuka?

Miss Bradley hanya menyuap nasinya itu dengan ekspresi datar. Tatapan matanya kosong seperti tidak memikirkan apapun. Seperti tak ada jiwa dalam cangkangnya itu. Tersadar dari lamunannya, ia segera mengambil sebuah alat kecil berkabel panjang dari saku bajunya. Sebelumnya, ia letakkan piringnya itu di bawah kasurnya lalu memasang alat itu di telinganya.

Kemudian ia menekan sebuah tombol ON pada kabel lalu terdengar suara "bzzzt" dari dalam alat tersebut. Beberapa menit kemudian, alat itu pun menyambung dan memperdengarkan suara seseorang di seberang sana.

"Ada apa lagi, Miss? Aku sedang bekerja!" bentak seseorang di seberang sana.

"Ya aku tahu. Aku hanya ingin menanyakan, ini sudah pagi atau malam?"

"Huh, merepotkan kau nenek tua."

Muka Miss Bradley menunjukkan ekspresi kaget bercampur marah.

"Kurang ajar kau! Jawab atau tidak!"

"Sudah malam. Memangnya kau tidak bisa melihat keadaan di luar?"

"Tak ada jendela atau celah-celah di ruanganku ini. Kau tahu? Ruangan ini diisolasi dari keadaan di luar. Aku hampir depresi disekap di sini."

"Baru juga dua hari kau tidur di sana."

"...Benar juga. Tapi aku sudah tidak tahan di sini."

"Sudah kuduga anda tidak tahan. Untungnya kau membawa headset satelit itu di sakumu. Anda begitu 'lucky', bisa kubilang."

Miss Bradley tertawa mendengar penuturan orang yang sedari tadi diajaknya berbicara.

"Kau pintar menganalisis. Tidak salah kupilih kau menjadi anak buah kepercayaanku, Serena."

~oOo~

"Roy aku pulang dulu. Ada urusan yang lebih penting di luar" kata Riza sambil berdiri dari sofa yang ada di ruang kerja Roy. Roy yang sedang memijit-mijit kepalanya karena terlalu banyak paperwork itu, mendongak.

"Ah-jangan dulu Riza. Temani aku. Aku butuh dirimu."

CKREK! Tokalev mengacung tepat di depan wajah Roy. "Kerjakan,"

"Atau mati?" ancam Riza. Roy menyender pada kursinya dengan ekspresi takut. "Ba-baik, Kolonel."

Riza mendengus. "Lagian juga Meylisse masih mengerjakan tugas-tugasnya. Dia ada di ruangan sebelah" kata Riza menjelaskan sambil memasukkan Tokalev nya di posisi yang benar.

Mata Roy berbinar membuat Riza agak heran. "Ada apa, Sir? Tampaknya anda senang sekali saat kuberitahu ada Meylisse?"

Roy yang mendengar penuturan Riza sedikit kaget. "Tidak kok, Kolonel. Saya hanya senang karena ada juga teman yang senang mengerjakan paperwork dengan lambat."

"Karena ia personil baru, Sir Mustang. Anda ini seperti orang bodoh saja."

"Aku memang bodoh."

Riza terdiam. Akhirnya ia sadar ia telah kehilangan beberapa menit untuk menyelesaikan urusannya. Ia melirik jamnya lalu mengambil tas tangannya dengan cepat.

"Maaf, Sir. Saya harus buru-buru. Permisi dan sampai bertemu esok hari!"

Riza berbalik lalu menuju ke arah pintu, membuka lalu menutupnya kembali. Meninggalkan Roy sendirian dalam ruangannya. Tanpa pikir panjang, ia melanjutkan kembali pekerjaannya atau terkena resiko bakal menginap di kantor.

Tiba-tiba, telepon di ruangan kerjanya itu berbunyi nyaring. Roy menaruh penanya di atas kertas paperwork nya itu lalu mengangkat telepon.

"Halo?"

"Selamat Malam, Tuan Mustang!" kata seseorang di seberang sana.

"Ah iya. Selamat malam. Ini siapa?"

"Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Aku hanya ingin memberimu peringatan lagi."

Roy tersadar dan langsung membentak sang penelepon. "Oh jadi kau yang meneror ku beberapa hari yang lalu dan kemarin malam meledakkan bagian kota Ishvar ya?"

"Tepat, Jenderal. Tidak salah Grummon memilihmu menjadi Brigjen."

Roy mendengus marah.

"Apa maumu, Homunculus. Katakan saja kalau kau mau berperang dengan semua lagi!"

"Tidak secepat itu, Mustang. Ada beberapa tahap yang akan kau lewati untuk berperang dengan kami lagi. Kami akan menerormu terus, mengintai penjagaan bisumu,"

"Hei! Dari mana kau tahu hal itu?" potong Mustang dengan nada sedikit gugup karena rencananya telah dibongkar dengan orang yang seharusnya menjadi target pengincaran.

"Gampang saja, Mustang. Seperti yang kubilang tadi, kami mengintaimu. Sepertinya harus kami jelaskan lagi arti kata mengintai, eh?"

"TIDAK PERLU!" bentak Roy.

"Oh tenang dulu, Brigadieur Jenderal Mustang. Telingaku pekak mendengar teriakanmu!"

"PERSETAN DENGAN KAU! MAKSUDMU AP-"

"Halo, Mustang. Aku di belakangmu."

Roy berbalik dan melihat sesosok tubuh perempuan kecil yang sengaja menggerai rambutnya yang panjang dan lebat.

"Ucapkan selamat tinggal dengan kehidupanmu. Dan ucapkan selamat datang pada kehidupan abadimu!"

Perempuan itu menarik senapan otomatisnya dari saku celananya untuk menembak Mustang. Tapi sebelum ia menjentikkan kekuatan alchemist andalannya pada perempuan kecil itu, ada yang menduluinya.

DOR! Sebuah letusan keluarnya peluru terdengar. Mustang melihat perempuan kecil itu roboh di hadapannya, lalu ia berbalik mencari sumber lepasnya peluru itu.

"Meylisse? Aku baru tahu kalau kau bisa menembak juga?" kata Roy terheran-heran.

Meylisse membantunya berdiri lalu berbicara dengan Roy. "Itu keahlianku."

Roy membulatkan mulutnya. "Wah, sepertinya para wanita di sekelilingku jago menembak ya?"

Meylisse hanya tersenyum malu mendengar penuturan Mustang.

"Kalian berdua, jangan lupakan aku ada di sini!"

Mereka berdua berbalik dan seketika itu juga peluru perempuan kecil itu menyerempet luka yang terdapat di lengan Meylisse.

"AAAAAAGH!" Meylisse mengerang kesakitan. Ia pun roboh lalu menggelepar. Perih, nyeri, sakit yang teramat sangat yang dapat ia rasakan. Semua tubuhnya dingin dan sepertinya mati rasa.

Roy menatap tajam kepada perempuan kecil itu. "KAU SIAPA?"

"Aku?" tunjuk perempuan kecil itu pada dirinya sendiri. "Aku Dark, kaki tangan Pride. Masa kau tidak tahu?" katanya sambil tersenyum licik.

"Awas kau!" Roy pun menjentikkan jarinya ke arah perempuan itu.

Tak ada reaksi.

SIAL! Bukannya kena perempuan kecil itu, malah menghidupkan api di tungku api. Cepat sekali larinya!, batin Roy.

Roy menghampiri Meylisse yang tengah terbaring lemah di lantai ruangannya. Ia lalu membantunya berdiri lalu mendudukkannya di sofa.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Roy cemas. Meylisse mengangguk. "Saya tidak apa-apa, Brigjen. Sungguh!"

"Ya sudah. Mungkin hanya perlu diperban. Mau kuantar pulang?" tawar Roy.

"Tapi, pekerjaan anda belum selesai. Saya takut, Kolonel marah padaku karena tidak mengawasimu terus menerus. Katanya aku harus menembak kepalamu kalau tidak menyelesaikan tugasmu."

Roy melirik ke arah lain lalu mendengus. "Ya sudahlah. Kau tunggu di sini."

~oOo~

Riza mencari-cari sesuatu di dalam tas tangannya. Tidak ada. Di saku celananya, tidak ada juga. Rupanya ia meninggalkan kas bon pembelian bajunya. Aduh! Pasti aku lupa di sofa!, batinnya. Ia pun meminta maaf pada pelayan butik itu lalu berjalan keluar menuju kantor HQ lagi. Ia mengganti rencana awalnya. Mungkin besok baru ia akan menukar bajunya di butik itu.

Tak berapa lama, ia telah masuk di halaman kantor. Ia mendongak ke atas, ke ruangan Roy. Lampunya masih menyala dan itu berarti dia belum menyelesaikan paperworknya. Riza tersenyum. Dalam hati ia bisa menghabiskan kebosanannya malam ini, setidaknya ia tidak langsung pulang ke rumah.

Boot Riza beradu dengan lantai kantor. Ia pun berjalan agak cepat, karena lorong kantor sudah sangat gelap dan hanya mendapat pasokan cahaya dari sinar bulan di atas sana.

Pintu kerja Roy sudah berada tepat dihadapannya, lalu ia membukanya.

Dan ia langsung menjatuhkan tas tangannya ke lantai. Ia tertegun dengan apa yang dilihatnya sekarang.

"Tuhan..." gumamnya. [1]

~oOo~

Dark masuk ke dalam gedung tua itu. Tampak Pride sedang menyeruput cairan yang ada dalam cangkirnya itu.

"Bagaimana, Dark? Pembunuhanmu berjalan lancar?"

"Tidak."

Pride menaruh gelasnya di meja yang tepat berada di depannya.

"Mengapa? Sesulit itu kah melawan Brigadir Jenderal bangkotan itu?"

Dark menggeleng.

"Tidak sulit jika tidak ada wanita penghancur itu!"

"Siapa?"

"Serena William. Atau ia sekarang menyamar menjadi Meylisse Wound."

~oOo~

A/N : fiuh. fiuh. Kayaknya chapter ini panjang ya? Bener gak sih? Hoho. Author lagi berusaha buat fic yang puanjaaaang. Soalnya author kebiasaan menulis pendek-pendek. Segini belum cukup? Diusahakan buat yang lebih panjang! Yup yup!

Udah pada ngerti kan para OC-nya? Iya kan? Iya kan? Ayo dong ngerti! *apaan sih? tampoked author!*

Buat fic rated M ku, kemungkinan besar akan secepatnya di publish chapter dua. Beneran! Dan pembukaan kayaknya bakal ada gore lagi. SIP!

Oh ya. Keterangan!

[1] : Mau tahu apa kejadian selanjutnya? Nah, baca fanfic Disappointed ku untuk mendapat jawabannya!

Nah, tunggu chapter 9!

:)

Nagisa