I own nothing. Only Ballard and some other characters you didn't know
Chapter Eight
Hermione Granger
Aku seorang pembunuh.
Adegan-adegan di malam itu selalu terulang, bahkan di bawah alam sadarku. Aku masih mengingat jelas bagaimana aku merapalkan mantra pada salah satu anggota The Bratva itu dan dalam sekejap saja aku meledakannya. Demi Tuhan aku sama sekali tak berniat membunuhnya. Aku hanya ingin mengenyahkan dirinya dari Draco yang sudah terlihat bersimbah darah. Tetapi, semuanya terjadi begitu saja. Ia mati di tanganku. Bahkan darahnya masih dapat kurasakan di tanganku hingga saat ini.
Draco berusaha sekeras mungkin mengatakan bahwa aku bukan seperti dirinya. Aku bukan pembunuh. Semua hal yang kulakukan malam itu semata-mata hanya untuk membela diri. Membela Draco Malfoy, suamiku. Namun, segalanya terasa salah. Seharusnya aku hanya melumpuhkannya. Alih-alih melakukan hal itu, aku justru merapalkan mantra secara membabi buta.
Fakta yang kuketahui dari hal ini adalah Blaise begitu bangga padaku. Ia mengatakan bahwa ia tak pernah bertemu dengan wanita sepertiku. Dan sebagai istri dari pemimpin mafia di London, aku seharusnya bangga. Aku seharusnya bangga karena dapat menghabisi nyawa dari pria yang bahkan sanggup membuat Draco terluka, tapi pada nyatanya tidak. Perasaan bersalah itu tak pernah sekalipun hilang dalam hidupku.
"Madam."
Aku menengadah dan mendapati Ballard telah berdiri di sampingku. "Ada apa?" tanyaku.
Ballard meletakan nampan berisi sandwich dan jus jeruk ke meja kecil tepat di samping kursi malas ini. "Kau belum sarapan sejak pulang lari tadi dan Mr,Malfoy memintaku untuk mengingatkanmu makan," jawabnya.
Keningku mengerut. "Kemana sebenarnya Boss-mu itu?" tanyaku kesal.
Dia menghilang begitu saja saat aku kembali dari lari pagi ini. Dia hanya menuliskan pesan yang mengatakan bahwa ada hal yang perlu ia bereskan dan tak perlu menunggunya makan malam hari ini. Dia pergi di pagi hari dan tak akan pulang bahkan setelah makan malam di akhir pekan, katakan bagaimana caranya agar aku tak kesal padanya.
Ballard tak menjawab pertanyaanku, tapi aku tahu bahwa ia tahu dimana keberadaan suamiku. "Kemana Draco? Sedang mengadakan transaksi atau mengejar salah satu anggota The Bratva?"
Dia tetap tak menjawab. "Pergilah," ujarku dan Ballard menuruti permintaanku.
Di malam pernikahan putri John Eerie, bukan hanya aku berubah menjadi seorang pembunuh tapi aku juga sadar bahwa aku sudah menikah dengan seorang pembunuh. Aku tahu Draco membunuh dengan alasan 'pertahanan diri' sejak hari pertama aku menikahinya, tapi aku sama sekali tak pernah menyaksikannya secara langsung. Dan malam itu, di atas bahu pria separuh raksasa itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana suamiku dapat dengan mudah menghilangkan nyawa seseorang. Dengan satu kali hentakan tongkat dan rapalan mantra serta tikaman dengan belati yang selalu dibawanya kemanapun itu, ia berhasil menghilangkan nyawa orang yang menghalanginya. Aku masih tak percaya bahwa aku benar-benar berada di dunia yang bahkan tak sesuai dengan hati nuraniku. Mungkin seharusnya aku lari saja sejauh mungkin dan hidup sebagai muggle atau memilih mati di tangan mereka. Kuhela napasku sesaat dan meminum jus jeruk yang dibawakan Ballard tadi.
Suara derap langkah dari dalam Manor menyita perhatianku dan membuatku melongok ke sana. Theodore Nott tengah berjalan ke arahku dengan setelah khas para anggota The Sociaty. For heaven'sake ini hari minggu dan mereka seperti tak memiliki waktu santai sama sekali. Aku kembali menyandar di kursi malas ini dan menghirup udara pagi serta membiarkan sianr matahari menelusup perlahan ke pori-pori kulitku.
"Morning, Madam," sapa Theo yang sudah duduk di kursi malas tepat di seberangku.
Kulepaskan sunglass yang sedari tadi kugunakan untuk melihatnya sesaat lalu kembali mengenakannya. Kuambil gelas berisi jus jeruk itu dan menyesapnya. "Kau tak ikut bersama suamiku dan Blaise pagi ini?" tanyaku.
Ia menggeleng lalu menunjukan gulungan perkamen dari balik jas hitam yang dikenakannya. "Ada pekerjaan yang harus kukerjakan hari ini," balasnya.
Keningku mengerut. "Di akhir pekan? Apa yang kalian lakukan sebenarnya?" tanyaku yang hanya dijawab dengan senyuman darinya.
"Katakan, kemana sebenarnya suamiku pagi ini sampai ia harus memintaku untuk makan malam sendiri di akhir pekan seperti? Bertemu dengan drug dealer lain atau ia sedang memburu para anggota The Bratva?" tanyaku kesal.
Dan Theo kembali tersernyum. Ia hanya tersenyum. Demi Tuhan. Semua orang berkonspirasi dengan Draco. Aku pernah mendengar Draco mengatakan bahwa his words is a rule dan aku sadar sekarang betapa kuat posisinya di mata para anggota The Sociaty ini.
"Percayalah, bila Malfoy tak ingin menceritakan padamu, artinya kau juga tak ingin tahu apa yang tengah ia kerjakan."
Aku tak ingin tahu apa yang tengah ia kerjakan? Apakah sekarang ia tengah membunuh seseorang dengan belatinya? Atau menyiksanya perlahan seperti para Pelahap Maut dulu saat menginginkan sebuah informasi dari sanderanya.
Kulepaskan sunglass-ku dan bangkit dari sandaranku kemudian menatap Theo serius. Ia ikut menatap dan tak dapat menahan tawanya yang mendadak terdengar. "Apa yang ingin kau tanyakan, Hermione? Kau tampak tetiba sangat serius," ujarnya.
"Apakah aku semudah itu untuk kalian baca pikirannya?" tanyaku kesal.
Pertama, Draco dan kini Theo. Mungkin sebentar lagi Blaise akan ikut dengan mudahnya membaca pikiranku.
Senyum Theo masih berada di wajahnya. "Tak heran Malfoy menyukaimu, aku kira kalian hanya menikah untuk kepentingan masing-masing."
Aku terdiam mendengar pernyataan darinya. Draco menyukaiku. Hal itu sudah dapat dipastikan. Setelah semua yang kami lakukan. Setelah ia selalu mengatakan bahwa aku memiliki tubuh yang mengagumkan dan ia dapat mengunciku di kamar kami seharian penuh, sudah dapat kupastikan bahwa ia menyukaiku. Tetapi, apakah ia mencintaiku? Aku tak berani menanyakannya.
"Jadi, apa yang akan kau tanyakan tadi, Hermione?" tanya Theo yang membuatku keluar dari pikiran tadi.
Aku bersila di bangku malas itu sambil menatapnya serius. "Sejak kapan kau berteman dengan Draco?"
"Sejak menggunakan popok."
Jawabannya membuatku tertawa. "Sejak kami masih kanak-kanak. Aku, Blaise dan Draco tumbuh bersama. Masuk ke sekolah yang sama bahkan asrama yang sama. Kami menyukai hal-hal yang sama. Hal itulah yang menyatukan kami hingga sekarang."
"Same interest, huh?" tanyanku.
Theo mengangguk. "For killing people," tandasku.
Theo menyeringai dan menggeleng. Mereka benar-benar mirip. Baru kali ini aku melihat Theo menyeringai persis dengan apa yang sering dilakukan suamiku. "For power," ujarnya.
"We have same interest for power and become a murderer is a part of that."
Holy shit.
"But you guys're savages," balasku.
"Hal itu yang memmbuat kami di takuti. Hal itu yang memberikan kami kekuasaan."
Percakapan tentang kekuasaan dan bagaimana cara mereka mendapatkannya terlihat begitu mudah saat Theo yang menjelaskannya, sementara aku hanya mampu mencernanya perlahan. Mencerna dan menyadari bahwa aku benar-benar dikelilingi pembunuh-pembunuh profesional.
"Dan aku mengagumi serta menghormati suamimu, Madam Malfoy."
Alisku mengerut saat ia mengatakannnya. "Semua orang memanggilnya The Boogeyman karena ia tak pernah segan dan ragu untuk menghabisi siapapun yang dianggap musuh dan menghambat jalannya."
Aku menelan ludah saat mendengar penjelasan Theo. "Malfoy akan sangat senang menggorok langsung leher musuhnya dan menatap langsung saat orang itu meregang nyawa," ujarnya tersenyum.
Theo membicarakan Draco dengan penuh rasa takjub, sementara aku akan hanya dapat menahan mualku. Membayangkan Draco menikam jantung pria The Bratva pada malam itu saja sudah membuatku bergedik, aku tak dapat membayangkan ia menggorok leher musuhnya.
Theo terkekeh. "Aku sudah terlalu banyak bicara. Aku pamit dulu, Hermione."
Dia bangkit dari tempatnya dan meninggalkan aku yang masih tak tahu harus apa mendengar ceritanya. Saat bayangannya sudah tak tampak lagi di pandanganku, aku kembali bersandar. Kuambil gelas yang masih terisi jus jeruk itu lalu menenggaknya hingga habis. Haruskah aku bangga dengan siapa sebenarnya suamiku? Atau haruskah aku lari darinya untuk kembali menjadi diriku sendiri?
000
Malam sudah sangat larut saat aku sadar bahwa Draco belum juga kembali dari pagi tadi. Aku tahu ia memintaku untuk makan malam terlebih dahulu, tapi aku tak tahu bahwa ia belum akan kembali bahkan hingga tengah malah seperti ini. Dan mataku tak sanggup menahan kantuk ini.
Baru sebentar tertidur, aku merasakan ranjangku sedikit bergerak dan bibir hangat itu sudah berada di leherku. Aku berbalik dan mendapati Draco sudah berada di sampingku. "Hey," sapaku yang langsung mengecupnya.
Ia tersenyum. Aku dapat melihatnya walau dalam gelap sekalipun. Draco menunduk untuk menciumku. Bibir hangat itu memintaku untuk terbuka untuk untuknya. Kuletakkan tanganku di kedua pipinya saat tangannya perlahan menuruni gaun tidurku. Ada yang berbeda dalam ciumannya kali ini. Terasa begitu menuntut dan tergesa-gesa. Kulepaskan tautan bibir kami dengan tanganku yang masih menangkup kedua pipinya. "Ada apa?" tanyaku.
Ia hanya menggeleng lalu kembali menunduk lalu menarik dan kembali menciumku. Aku kembali hanyut ke dalam buaiannya sampai akhirnya tanganku berhenti di lengannya. Terasa basah. Dan aku tahu bahwa itu bukanlah keringat. Kuleapaskan dirinya dan terburu-buru aku menghidupkan lampu kamar ini. Mataku langsung tertuju pada lengan kanan setelan Draco yang terlihat terkoyak dengan darah yang masih belum mengering. Kuambil lengan itu dan tanpa tedeng aling-aling lagi merobek dengan sempurna lengan baju itu. Luka sayatan terlihat di baliknya. Hatiku mencelos seketika. Kualihakan pandanganku pada bagian tubuhnya yang lain dan terlihat pelipis kirinya juga terluka. "Apa yang tejadi?" tanyaku dengan suara yang bergetar.
Dari malam hingga pagi tadi ia masih bebas dari luka-luka ini dan kini tetiba saja tubuhnya dipenuhi luka sayat dan baret. Ia menggeleng. "Hal ini biasa terjadi," balasnya berusaha menenangkanku.
Aku menggeleng. "Kau pergi dengan sempurna Draco, walaupun aku tak melihatmu pagi ini tapi aku tahu luka-luka itu belum ada. Dan sekarang kau pulang dengan luka-luka seperti ini."
"Aku baik-baik saja," balasnya.
Ia hendak bangkit dari ranjang ini, namun langsung kutahan. "Duduklah."
Alih-alih menentangku ia hanya mengikuti apa yang kuinginkan dan tetap duduk di tepi ranjang kami. Aku bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi kami lalu mengambil peralatan 'perang' yang ditinggalkan Doc untukku saat ia terluka kemarin. Aku duduk bersila di tegah ranjang ini dengan Draco yang sudah menanggalkan atasan yang ia kenakan tadi. Kuambil lengannya yang terlihat paling parah dan mulai membersihkan pinggir lukanya dengan alkohol. Tak ada ringisan seperti malam pertama kali aku menemukannya. Ia hanya menatapku tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Dalam waktu beberapa bulan ke belakang ini, aku sudah melihat ia berdarah berkali-kali. Dan ini kali keduanya aku membersihkan lukannya dengan tanganku sendiri. Perasaan aneh berkecamuk di hatiku. Pria ini dapat terluka kapan saja. Setiap ia melangkahkan kaki keluar dari Manor ini aku tak yakin apakah ia akan kembali dengan utuh lagi. Kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi tanpa dapat seorangpun mengontrolnya.
Aku mulai menetaskan dittany ke lengannya lalu sekali lagi membersihkannya dengan alkohol sebelum menutupnya dengan kain kasa dan perban sihir untuk mempercepat penyembuhannya. Saat aku akan beralih pada luka di pelipisnya, Draco memegang tanganku dan menyentuh daguku untuk menatapnya. "Kau menghindari kontak mata kita," ujarnya.
"Karena aku akan menangis begitu mata kita saling beradu," jawabku.
Dan benar saja, air mataku meleleh begitu saja tanpa dapat kukendalikan. Aku tak suka saat aku terlihat lemah di depan siapapun termasuk dirinya. Aku Hermione Granger dari asrama Gryffindor, keberanian adalah hidupku. Tetapi, Draco dan semua kehidupannya membuat aku kehilangan keberanianku. Aku takut akan kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa pria di hadapanku dan aku tahu pasti akan berdampak pada kehidupanku.
Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Shh, jangan menangis. Aku baik-baik saja."
"Bagaimana bila kau mati?" ucapku begitu saja.
Aku menghela napas setelah mengatakan hal itu. Draco menarikku ke dalam dekapannya. Hangat tubuhnya selalu dapat menenangkanku. "Aku tak akan mati dengan mudah. Aku seorang penguasa. Aku yang memerintah kota ini. Kematian tak akan semudah itu datang kepadaku."
"Kau tak dapat mengendalikannya," ujarku yang bangkit dari dekapannya.
Ia masih memegang tanganku. "Tentu aku bisa, Hermione."
"Aku tak dapat bersama seseorang yang bahkan aku tak yakin apakah ia akan pulang kepadaku dengan selamat," balasku.
Draco tak menjawabnya. Kini ia yang tak sanggup menatapku. Dan sekarang aku yang menggenggam erat tangannya. "Berjanjilah padaku bahwa kau akan menghindari hal seperti ini."
Ia masih tak mampu menatapku dan aku tak peduli. Aku tahu ia tak akan mampu menghidari hal seperti ini, namun sekali lagi aku mengatakan bahwa aku tak peduli. Aku tak sanggup melihat luka-luka lain yang akan menjadi koleksi baru di tubuhnya. Sudah terlalu banyak gurat luka yang menutupi tubuh kekar dan bidangnya itu. Kusentuh luka itu satu per satu. Bekas jahitan di dada kirinya. Guratan panjang di perut bawahnya. Bahkan ia memiliki bekas luka tembak di bahu kanannya. Dan sentuhanku berhenti di bekas luka yang berhasil kujahit malam itu dan sudah ditambal dengan rapih oleh Doc beberapa hari yang lalu.
"Aku tak sanggup bila harus kehilanganmu," ujarku.
Aku kembali menutup jarak di antara kami lalu mengecup bibirnya lembut. Ia melepaskanku. "Don't, Hermione."
Keningku mengerutnya. "What?" tanyaku bingung.
"Don't ever love me," balasnya.
Akhirnya ia mengatakan hal itu. "Why?" tanyaku memberanikan diri untuk mendengar apapun yang akan menjadi balasannya.
Bahkan aku siap jika mendengar bila mungkin saja ia memiliki wanita yang sungguh-sungguh ia cintai di luar sana. "I'm not capable of love."
Aku terdiam mendengarnya. "I'm not a man with heart and flowers. Like you said to me, I'm dark and dangerous. I'll always be like that."
Aku lemas mendengarnya. Perlahan kulepaskan genggaman tanganku padanya namun ia tak melakukan hal yang sama. Dia justru semakin menggenggam erat tanganku. Draco menggeleng. "Aku mungkin tak dapat mencintai dan tak pantas untuk dicintai, tapi aku ingin bersamamu, Hermione. Aku ingin menjadi suamimu. Satu-satunya lelaki yang dapat kau andalkan."
Draco menunduk dan kembali menciumku. Ia menangkup wajahku dan aku menghela napasku sesaat. "Setidaknya berjanjilah untuk mengurangi menghabisi nyawa orang lain."
"Berjanjilah untuk tak menggorok leher orang lain dengan mudahnya," bisikku dalam peluknya.
"Siapa yang mengatakannya padamu?" tanyanya lembut dengan dagu yang diistirahatkan dengan nyaman di puncak kepalaku.
Aku menggeleng. "Sleep?" tanyaku.
Kali ini Draco yang menggeleng. "I want you," bisiknya yang mulai menciumi telinga dan leherku.
"Are you okay,Mister Malfoy?" tanyaku terkekeh saat ia sudah berada di antaraku.
Dia menyeringai. "More than just okay."
Dan dalam sekejap gaun tidur ini menghilang dari tubuhku dan aku seakan lupa dengan percakapan kami tadi.
000
Draco Malfoy
"Aku tak dapat membiarkan kau pergi tanpa pengawalan, Hermione," ujarku padanya disela sarapan kami.
Ia menggeleng seraya melipat Daily's Prophet yang tadi kubaca untuk kemudian beralih ke tangannya. Hermione menyesap tehnya sesaat dan kembali menggeleng kepadaku. "Aku hanya akan ke kampus dan seharian berada di carrel-ku selepas mengajar."
"Tapi, Ballard tak dapat menjagamu hari ini," kilahku.
Dia tampak tak memedulikan pemintaanku. Wanita ini lebih keras dari batu ternyata. "Aku akan baik-baik saja. Tak ada yang dapat menembus penjagaan kampusku."
Aku bisa dan tentunya The Bratva serta musuh-musuhku yang lain. Aku tak mungkin membiarkan istriku pergi tanpa pengawalan sama sekali. Walaupun aku tahu dia dapat menjaga dirinya sendiri setelah aku melihat dengan mata kepalaku sediri ia menghabisi si raksasa The Bratva itu, tapi aku tak akan mengambil resiko. The Bratva dan beberapa mafia negara lain sudah mengetahui kabar pernikahanku dan Hermione akan menjadi sasaran empuk mereka dalam menghancurkanku. Terutama The Bratva yang sudah menunjukkan serangannya secara terang-terangan.
"Aku tetap tak akan membiarkanmu keluar. Bila perlu aku yang akan langsung menemanimu ke carrel perpustakaan itu."
Hermione menghela napas dan terlihat menyerah kepadaku. "Baiklah, berikan aku salah satu pengawal atau kaki tangan terbaikmu. Karena aku tak mau kau mengekoriku seharian."
Alisku bertaut. "Mengapa kau tak mau aku mengekorimu? Apakah kau akan makan siang lagi dengan si Kutu Buku Lane itu lagi?"
Hermione menatapku tak percaya. "Tepat sekali," ujarnya lalu ia tertawa kepadaku atau lebih tepatnya menertawakanku.
"Jangan bercanda, Hermione," balasku.
Dia masih menatapku sambil tersenyum. "Aku tak akan berselingkuh darimu dengan Lane, Draco," ucapnya yang membuatku lega.
"Aku pasti akan menaikkan standar ku sehingga dia dapat mengalahkanmu," kekehnya.
"Coba saja dan aku akan langsung mematahkan lehernya serta memastikan bahwa ia tak akan lagi menyicipi indahanya bernapas," balasku.
Hermione terdiam. Aku hanya mencoba untuk bercanda. Tetapi, sepertinya aku harus lebih berhati-hati terhadapnya. Sejak malam ia membunuh si raksasa itu, Hermione benar-benar menjadi sangat sensitif dengan hal ini.
"Baiklah, jadi siapa yang akan menemaniku selama Ballard pergi?" tanyanya.
Tak banyak orang yang kupercayai di The Sociaty. Blaise, Theo dan Ballard sajalah yang benar-benar mengerti dan yang aku percayai seutuhnya. Dan aku tak mau melepaskan Hermione dengan anggota yang tak kompeten di bidangnya, tapi aku memiliki pekerjaan yang harus kulakukan dengan Blaise semenatara Theo harus kembali ke Rusia beberapa hari ini. "Kau bisa pergi bersama Pietro," ujarku akhirnya.
Pietro adalah salah satu MadMen terbaik The Sociaty dan akan aku pastikan bahwa Hermione akan aman dibawah perlindungannya. "Great," balas Hermione yang benar-benar sudah menyudahi sarapannya lalu berjalan ke arah tangga menuju kamar kami untuk bersiap ke kampusnya.
Tak lama kemudian Pietro sudah tiba di Manor untuk bertugas mengawasi istriku paling tidak sampai Ballard kembali dari tugas yang kuberikan. "Jaga jarakmu, jangan sampai isitriku merasa terganggu."
"Awasi sekitarnya. Aku tak mau kejadian dengan si raksasaa The Bratva terulang kembali. Dia istriku. Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu bila terjadi sesuatu pada dirinya, bukan?"
Pietro mengangguk. "Yes, Sir."
Hermione turun dengan cantik seperti biasanya dari kamar kami. Rambut cokelat sebahunya di biarkan tergerai begitu saja. Terkadang aku sempat berpikir kemana semua rambut singa saat kami bersekolah dulu. Pubertas benar-benar menakjubkan. "Jam berapa kau akan pulang?" tanyaku saat aku menghampirnya.
Dia tampak berpikir dengan bibirnya yang merengus. "Entahlah, saat makan malam mungkin. Aku tak tahu pasti. Kau akan pergi?" tanyanya padaku.
Aku menggeleng. "Aku akan di Manor sepertinya," balasku.
Ia mengangguk. "Aku pergi," ujarnya lalu mengecup pipiku.
Saat ia akan berbalik aku menarik tangannya dan ia kembali ke pelukanku. Aku mengisyaratkan pada Pietro untuk hengkang dari hadapan kami. Ia pasti akan menunggu di foyer Manor ini. Kuletakkan tanganku di pinggangnya. Dia tersenyum. Sangat cantik. "Kau akan membuatku terlambat."
"Aku donatur tetap universitas itu, kau tak akan pernah datang terlambat. Mereka yang datang terlalu cepat," balasnya.
Dan Hermione terkekeh mendengarku. "Tapi aku harus mampir ke panti asuhanku terlebih dahulu," jawabnya.
"Baiklah," ujarku.
Wanita ini hanya menatapku begitu pula aku kepadanya. "Seandainya aku bisa mengantungimu dan kubawa kemana-mana," ucapnya.
"But I have to go. So see you at dinner," ujarnya lagi.
Dia melepaskan tangannya yang juga telah nyaman berada di pundakku. "Give me a proper kiss," ujarku dan menariknya ke dalam ciuman kami.
Bibirnya selalu lembut dan manis. Seperti campuran kayu manis dan vanilla yang mengingatkanku pada Natal. Dan Natal adalah hari kesukaanku. Kulepaskan tautan kami dan teresnyum padanya. "See you at dinner," balasku.
Hermione melambai padaku dan ia pergi bersama Pietro.
000
Blaise datang tak lama setelah istriku pergi. Ada beberapa masalah dengan para drug dealers yang tetiba saja menghilang. Ada banyak spekulasi yang mengatakan bahwa ada bandar yang menjual di bawah harga pasaran dan hal itu merusak segalanya. "The Bratva pasti dalangnya," ujar Blaise.
Aku masih melihat berkas yang dibawakannya padaku. "Dia ingin menjatuhkan kita, sudah pasti dia akan melakukan segala cara termasuk membanting harganya serendah mungkin."
"Tetapi, barang kita berkualitas di atas rata-rata," tandasku.
Blaise menggeleng. "Para pecandu itu terkadang sudah tak sanggup lagi membedakan. Namun saat mereka mendengar ada dealer lain yang menjual harga murah, pecandu-pecandu itu pasti akan lari ke mereka."
"Kau yakin semua ini kelakukan The Bratva?"
Ia mengangguk. "Seratus persen yakin."
Aku harus menyusun rencana untuk menjatuhkan bedebah-bedebah itu. Mereka tak tahu siapa yang sedang di hadapinya. Aku yang menjalankan kota ini dan tak ada yang bisa menggangguku. "Ada kabar dari Ballard?" tanyaku
"Seharusnya ia kembali malam ini."
Ballard tengah mengintai markas dan pabrik pembuatan narkoba milik The Bratva dan seharusnya ia kembali malam ini dengan segudang informasi untukku menjatuhkan kecoa-kecoa busuk itu. "Setelah Ballard kembali, aku ingin kita menyerang pabrik-parik narkoba dan gudang-gudang prorperti The Bratva. Aku ingin Zaslavsky hancur berkeping."
"Aye, Sir."
Blaise tampak meminum whisky-nya. Ini masih tengah hari dan dia sudah meminum setengah botol whisky tanpa tampak mabuk sekalipun. Dasar orang gila. "Ada yang masih ingin kau kerjakan denganku?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Bagus. Karena aku akan memeriksa barang kita yang hari ini akan di kirim dengan kereta menuju Wales," balasnya.
"Aku pikir aku yang akan pergi memeriksanya secara langsung."
"Kau di rumah saja atau jemput saja istrimu itu. Aku bahagia saat kau bahagia."
Aku melemparnya dengan perkamen bekas di meja ini. "Sejak kapan kau menjadi menjijikan Blaise," kekehku.
"Sejak aku melihat kehidupan kalian berdua. Mungkin aku akan mencari wanita yang tak sengaja mengetahui rahasia kita lalu memaksanya untuk menikahiku agar aku dapat bahagia seperti kalian," ujarnya panjang lebar.
Aku menatapnya. "Bloody hell. You drunk, mate."
"Kau mengenalku puluhan tahun, mabuk tak pernah menjadi kata di dalam hidupku."
Kami berdua tertawa dan akhirnya aku ikut minum bersamanya. Ketenangan kami berdua terinterupsi oleh Magnus yang terlihat cemas. "Master," ujarnya.
"Bicara, Magnus," jawabku.
"Tuan Ballard berada di bawah dengan seorang pria di tangannya dan darah yang terus mengalir dari hidung dan pelipisnya."
Aku tekejut mendengar. "Fuck," ujarku dan Blaise bersamaan dan kami langsung bangkit lalu berlari turun.
Ballard berdiri dengan limbung di foyer dengan seseorang yang tak kukenal di tangannya. "Sir," ujarnya lalu tetiba saja rubuh.
"Shit."
000
Doc segera datang sesaat kemudian untuk memeriksa keadaan Ballard. Dari luka yahg didapatnya kupastikan bahwa ia berhasil melewati battle yang cukup berat. Tetapi, melihat siapa yang tengah kubicarakan aku yakin Ballard berhasil mengatasinya. Ia terluka cukup parah di wajah terutama kepala bagian belakangnya. Sambaran mantra dan sayatan pisau menjadi menyebabnya. Ballard masih tertidur saat aku dan Blaise melihat sandera yang dibawanya. Tato di pergelangan tangan kirinya menandakan bahwa ia adalah anggota The Bratva. Pria ini masih sama belum sadarnya dengan Ballard. Dan aku berencana menyembuhkan dirinya sebelum menginterogasi manusia satu ini.
Menjelang sore Ballard dan sanderanya sudah sadarkan diri. Aku langsung memerintahkan beberapa anak buahku membawanya ke dungeon untuk proses interogasi, namun sebelumnya aku ingin memastikan keadaan Ballard terlebih dahulu. "Lebih baik?" tanyaku padanya yang sudah dapat duduk bersandar di kamarnya.
Ia mengangguk. "Apa yang terjadi?" tanya Blaise yang duduk di sofa sudut kamar ini.
"Mereka menangkapku ketika aku sedang mencuri dengar percakapan mereka," ujar Ballard cepat.
"Dan kau berhasil kabur begitu saja?" tanyaku
Ia menggeleng. "Mereka tangguh. Setidaknya aku berhasil menghabisi 10 dari mereka baru aku dapat melarikan diri bersama salah satu MadMen mereka."
Sepuluh orang dihadapinya seorang diri. Sudah kukatakan bahwa aku tak pernah salah dalam menilai dan mempercayai seseorang. "Lalu apa yang kau dapatkan?" tanyaku lagi.
"Aku pikir kita telah disusupi."
"Disusupi?" tanya Blaise yang bangkit dari kursinya.
"Ada seseorang yang berkhianat pada kita dan menjadi agen ganda antara The Sociaty dengan The Bratva," jelasnya.
Tak mungkin. The Sociaty tak mungkin disusupi. Akan kucabik dengan tanganku sendiri bila aku menemukan si pengkhianat itu. Aku tahu tak semua anggota menyukaiku, tapi aku tak yakin bila mereka sanggup berkhianat.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanyaku lagi.
Ballard mengedik. "Dari apa yang aku dengar mereka hampir tahu semua pergerakan kita bahkan dimana semua gudang penyimpanan dan laboraturium pembuatan barang kita."
"Bloody hell," umpat Blaise
"Kau ada petunjuk siapa yang menjadi pengkhianat itu?" tambah Blaise.
Ballard menggeleng. "Aku belum sempat mendengar suara si pengkhianat itu saat tetiba seseorang sudah menyerangku. Oleh karena itu aku menyisakan satu untuk kita tanyai dan bantai secara perlahan."
"Great. Beristirahatlah," ujarku.
"Tunggu, Sir," ucap Ballard.
Kuhentikan langkahku yang baru saja hendak keluar dari kamar ini. Aku hanya menatapnya. "Aku masih tak yakin, tapi sepertinya mereka mengincar istrimu."
Napasku tertahan saat mendengar Hermione terbawa dalam masalah ini. "Beristirahatlah sesaat. Temui aku di dungeon pukul lima sore ini. Kau pasti tak mau melewatkan saat kita menguliti tikus busuk itu bukan," jawabku.
Saat aku dan Blaise sudah keluar dari kamar Ballard, kuperhatikan sekitar Manor dan bersumpah akan membunuh sendiri si tikus pengkhianat itu. "Perketat penjagaan. Simpan semua berkas dan aset kita di East Wing Manor ini dan perbaharui sandinya. Tak ada satupun yang boleh luput dari pengawasanku."
"Secepatnya aku ingin menghancurkan mereka."
Blaise memegang tanganku. "Jangan terbakar emosi. Ini bukan ciri khasmu. Kita kumpulkan informasi sebanyak mungkin baru kita hancurkan mereka."
"Tapi mereka mengincar istriku," balasku.
Blaise menangguk. "Hal itu normal melihat apa yang kau lakukan pada salah satu Zaslavsky beberapa bulan yang lalu."
Kuhela napasku seperti yang sering dilakukan Hermione saat ia putus asa akan sesuatu.
"Kita bertemu di dungeon pukul lima nanti kan. Aku akan berkoordinasi dengan beberapa anak buah terlebih dahulu."
Blaise menghilang dari hadapanku. Mereka dapat menghadapiku, tapi jangan harap untuk menyentuh Hermione-ku sedikitpun.
000
Tepat pukul lima sore, aku dan Blaise sudah berada di dungeon Manor ini dengan Ballard yang sudah berada di tempatnya dan sudah mengenakan setelan yang biasa digunakannya. "Kau sudah membaik?" tanya Blaise.
"It was just piece of cake, Sir," jawabnya lalu kembali menatap sandera terbaru kami dengan wajah seriusnya.
Blaise terkekeh lalu menatap tikus yang terikat rantai di kursinya. Ia setengah sadar karena beberapa anak buahku sudah sedikit melakukan pemanasan kepadanya sebelum kami sampai. Aku harus melakukan interogasi ini dengan cepat karena Hermione tak boleh tahu ada tikus yang kusiksa di bawah atap tempat ia bernaung. Aku tak mau dia histeris sepert saat malam ia menghancurkan raksasa The Bratva itu.
Aku melangkah untuk menatap tikus Rusia ini lalu menyentuh dagunya dengan tongkat sihirku. "Mikhailov, huh?" ucapku.
Matanya menatapku dengan angkuh meski darah sudah mengalir dari sudut bibir dan hidungnya. Ditambah memar di dekat matanya ia tak berhak menatapku seperti ini. "Semua akan menjadi mudah bila kau bekerja sama denganku. Aku akan tetap membunuh, tapi semuanya bergantung padamu."
"Kau bisa membuatnya cepat atau kau memilih kukuliti sedikit demi sedikit."
Dia membuang wajahnya lalu sedikit menatapku. "Go to hell, Malfoy."
Aku menyeringai lalu merapalkan mantra dan seketika ia kesakitan. Urat-uratnya terlihat menggeliat di bawah kulit pucatnya. Saat aku menghentikan rapalan itu dia terlihat begitu lega. Kembali aku meletakkan tongkat sihir di dagunya. "Jadi, apa yang kau tahu tentang rencana The Bratva untuk menyerangku."
"Enyah saja kau," balasnya.
Aku tahu bahwa hal ini tak akan menjadi mudah. Aku mundur dan meminta Ballard untuk melakukan hal yang memang ingin dilakukannya. Ia maju ke kursi itu dan langsung melemparkan bogem mentah ke perut Mikhailov sialan ini. Ditambah dengan sedikit rapalan mantra, Ballard memukulinya hingga aku yakin dia akan lebih memilih mati. "Cukup," ujarku.
"Dia memang tak tahu apa-apa," ujarku.
Saat Ballard memukulinya aku berusaha masuk ke dalam pikirannya. Aku tak tahu apakah dia benar-benar tak tahu apa-apa atau dia memang sudah menangkal diriku untuk masuk ke dalam pikirannya. Dan Verittaserum tak akan berguna untuk orang-orang seperti kami. "Aku kira kau berguna, tapi ternyata kami hanya membuang waktu," ujarku lagi.
Kutarik kursi lain untuk duduk tepat berhadapan dengannya. Wajahnya sudah tak berbentuk. Darah sudah mulai mengalir dari pergelangan tangannya karena rapalan mantra dari Ballard tadi. Aku melirik Blaise dan ia hanya mengedik yang artinya 'silahkan bunuh tikus di hadapanmu itu'.
"Sayang sekali kita harus berpisah disini, Mikhailov," ucapku dan dalam sekejap saja menancapkan belatiku ke pahanya.
"Aaarrrgh," dia berteriak sangat kencang.
Saking kencangnya aku takut Lucius bangkit dari makamnya seketika. Namun tetiba saja di tertawa. "Kau akan membayar hal ini, Malfoy. Kau dan istrimu akan membayar semua dosamu," ocehnya sambil tersengal.
Istriku. Berani-beraninya ia membawa Hermione ke masalah ini. "Tenang saja," ucapku lalu bangkit dan berjalan ke belakang kursinya.
"Aku akan mengingat setiap perkataanmu. Sampaikan salamku pada Zaslavsky junior saat kau sudah sampai di neraka," tambahku dan tanpa perlu berpanjang lebar lagi aku menggorok lehernya.
"Aaaargh," teriakan melengking terdengar di telingaku dan suara itu bukan berasal dari tikus ini.
Mataku menuju pintu dungeon ini dan Hermione berada di ambangnya. "Holy shit," umpatku.
Hermione berlari dari tempatnya. "Bereskan tubuhnya," ujarku pada Blaise dan Ballard yang disambut dengan anggukan dari keduanya.
Tanpa tedeng aling-aling lagi aku berlari dari dungeon ini menuju kamar kami. Dia seharusnya tak pulang secepat ini dan seharusnya beberapa penjaga itu sudah cukup untuk mencegahnya masuk ke dungeon sialan ini.
"Hermione," ujarku.
"Berhenti," tandasnya.
Aku melihat air mata itu kembali mengalir di pipinya. Napasnya tak beraturan karena ketakutan dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Darling, aku bisa menjelaskannya."
Dia menggeleng. "Aku baru saja memintamu untuk tak melakukan hal itu dan pada nyatanya kau tak dapat menepatinya, Draco. Kau menggorok pria itu dengan sangat mudah," ucapnya.
"Aku tak tahu bahwa kau melihatnya."
"Dan itu tak akan menjadikanmu berhak untuk membununya," teriak Hermione.
"Tapi dia musuh kita. Dan aku tak akan segan untuk membunuhnya."
Aku melihat kemarahan di matanya. Pikiran kacau dan meninggalkanku terlintas begitu saja di pikirannya. Beberapa kali aku memasuki pikirannya dan beberapa kali pula ia berpikir untuk meninggalkanku. Aku tak sanggup memikirkan hal itu, tapi aku juga tak sanggup menahannya dan merubah dirinya menjadi sosok yang akan dibencinya kelak.
"Keluar dari pikiranku, Malfoy!" teriaknya.
Aku tersentak dan menarik diri dari pikirannya. "Apakah itu benar? Kau berpikir untuk pergi dari diriku?" tanyaku.
Hermione tak menjawabnya. "Hermione," ucapku untuk memanggilnya.
"Kau berjanji untuk tak membawaku jatuh terlalu jauh dalam duniamu, tapi hal itu tak dapat kau lakukan. Kau justru membuatku masuk terlalu dalam perlahan-lahan. Aku membunuh untukmu dan aku melihat pembunuhan dimataku hampir kapan saja. Semua itu bertentangan dengan diriku."
Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Aku hanya mematung di tempatku berdiri. "Kau tahu siapa diriku," ucapku.
Ia memandangku dengan air mata yang masih mengalir. Ia mengangguk. "Aku tahu dan aku tak dapat memintamu berubah."
"Beri aku waktu," balasku.
Seumur hidup aku tak pernah meminta sedikitpun pada siapapun dan kini aku meminta waktu pada wanita ini. Hermione menggeleng. "Kau bahkan tak dapat mencintaiku, tak ada yang dapat kuharapkan darimu."
I'm not capable of love and it's period. Mengapa wanita ini tak dapat mengerti? Mengapa ia harus membuat segalanya menjadi lebih runyam.
Ia mendekat padaku tanpa berani bersentuhan sedikitpun denganku. "Let me go, Draco."
"Kita tak akan bercerai. Aku tahu Katholik dan The Sociaty tak mengenal perceraian. Cukup lepaskan aku," pintanya.
Aku lemas saat mendengar permintaannya. Aku tahu ia bersungguh-sungguh dan hal ini menjadi masuk akal. Bila orang-orang tahu kami berpisah, ia tak akan lagi menjadi incaran The Bratva. Aku berjalan ke arah safe box di kamar ini dan mengeluarkan beberapa dokumen dari dalamnya. Passpor dan identitas baru baginya yang kubuat setelah kejadian malam itu. Kuserahkan benda itu padanya.
"Ini identitas baru serta beberapa kartu kredit untuk menyokong hidupmu sampai kau mampu membiayai sendiri hidupmu yang baru. Tinggalkan Hermione Granger-Malfoy disini. Hiduplah sebagai muggle sejauh mungkin," ujarku berat.
Ia menerima amplop cokelat ini dengan gemetar. "Kau melepaskanku?"
Aku mengangguk. "Run, Hermione. Run as far as you can. If I find you someday, I'll never let you go anymore. So run now."
Ia tampak menelan ludahnya lalu mengambil tas yang masih tergeletak di ranjang kami. Tanpa menatapku lagi ia keluar dari kamar ini.
000
to be continued
So how's this chapter? Let me know what you think, okay?
Saya suka senang sekali dengan tanggapan, komentar dan respon dari kalian. Dan saya suka tertawa sendiri saat kalian begging to not kill Hermione or Draco. Padahal saya berpikir untuk membunuh dua-duanya hehe (I'm kidding really, don't kill me please hehe). Jadi jangan lupa tetap tinggalkan review kalian. I'm dying to know what's on your mine, because unlike Draco, I'm not a mind reader hehe. Just remember you guys're my mood booster. So see you in the next chap. Thanks xoxo
