"Tadi harusnya Taehyung aja yang dateng ke acara ini duh."

"Emang kenapa, pa?"

"Sekarang pimpinan perusahaan muda-muda, ma. Papa jadi minder. Barusan ketemu pengusaha muda yang baru dateng dari Seoul. Anaknya juga masih sekolah, nggak jauh dari Jihoon kayaknya."

Baekhyun cekikikan sambil bantu ngelepas dasi di kemeja Chanyeol. "Papa juga masih muda kok. Taehyung aja udah disuruh belajar bisnis kan waktu sekolah."

"Anak tadi jauh muda lho, ma. Satu hari doang disini, besok terbang ke Seoul lagi buat sekolah."

"Siapa sih dia?"

"Tertutup gitu orangnya. Masuk ke perusahaannya aja susah, ini menurut gosip. Orang-orang pada manggil tuan muda Bae."

"Boleh tuh kita jodohin sama Jihoon."

Chanyeol ngajak Baekhyun ke balkon kamar hotel, dia ketawa sebentar. "Udah papa bilang masuk ke perusahaannya susah, malah mikir jodoh-jodohan."

"Anak mama imut gitu nggak bakal ada yang nolak."

"Iya iya. Kalo sore jalan-jalan beliin sepatu warna pink. Ntar ngamuk tuh anak mama."

"Anak papa juga idih."


Cheers Luv

By twowyyy

[Jinyoung x Jihoon] with! [Guanlin x Seonho]

slight! [Samuel x Daehwi] [Woojin x Hyungseob]

GS for Uke! AU! Typo! Non baku!

School life! Drama! Dont Like Dont Read!


"Oppa,"

"What?"

"Baejin langsung pulang?"

"Dari kemarin nanya itu terus panas nih kuping gue. Udah oppa bilangin si Jinyoung langsung cabut, elunya tidur, dodol."

Jihoon cemberut, ganti channel tv di depannya yang nayangin perform idol. "Kok gue bisa ketiduran ya."

"Emang tadinya ngapain?"

"Ngerjain tugas."

"Rajin banget adek gua ngerjain tugas malah tidur."

"Ih, tugas udah selesai. Baejin duluan yang tidur." Jihoon cemberut lagi pas Taehyung ngerebut remote, ganti tayangan sepak bola. "Yang mindahin gue ke kasur siapa? Tadinya tidur di karpet."

"Ya Jinyoung kali. Gua dateng lu udah selimutan kayak bayi."

"Tadi Baejin malah nggak masuk sekolah. Dia kemana ya. Nanya ke pak Jaehwan sih cuma ijin doang nggak ada keterangan."

"Ji, lu curhat?"

"OPPA NYEBELIN SUMPAH!"

"Ngambekan ih." Taehyung ketawa sebentar sebelum ngelirik salah satu pergelangan kaki Jihoon yang di balut kasa perban. "Kaki lo kenapa?"

"Keseleo."

"Atraksi mulu sih lo."

Jihoon nggak jawab, sekarang asik main instagram.

"Keluar yuk ah, bete."

"Kemana?"

"Ngapel ke rumah Jungkook."

"Ogah, jadi obat nyamuk nanti." Jihoon berenti main ponsel sebelum matiin tv. "Oppa kan disuruh jagain gue. Atau gue lapor papa nih."

"Nih bocah judes amat. Nggak bakal gua cuekin deh, paling lo sama Jungkook yang asik sendiri. Dia kan waktu SMA ikut Cheers juga."

"Seriusan?"

"Hm." Taehyung muter mata males sewaktu Jihoon semangat. "Ikut nggak?"

"Gendong."

"Adek gua baik banget minta gendong. Cus, buru."

Jihoon nyengir sewaktu Taehyung jongkok di depannya. Sambil ngelingkarin tangan ke leher oppanya, dia gumam. "Kaki gue sakit, oppa. Pengertian dikit lah."

"Iya bawel."

.

.

"Bunda, aku pulang." Jinyoung berlutut di depan wanita yang duduk di kursi roda. Meski wanita itu tatepannya kosong.. meski wanita itu nggak bisa ngeliat dunia lagi, nggak bisa jalan lagi, Jinyoung nggak pernah ngira dia punya ibu yang cantik. Dia ngasih isyarat ke bibi Yoon, pelayan rumah sekaligus pengurus ibunya, buat ngasih waktu mereka berdua.

"Young-ah, kamu langsung ke rumah?"

"Iya bun, dari bandara langsung pulang, nggak ke kantor dulu. Sekretaris bisa handle urusan di Manhattan tadi kok." Jinyoung senyum sewaktu tangan ibunya raba-raba mukanya pelan sebelum nangkup pipi.

"Anak bunda udah besar ya. Mulai berani bulak-balik luar negeri. Udah punya pacar kan sekarang?"

Jinyoung ketawa pelan. "Nggak. Aku nggak mau kena masalah."

Seketika senyum ibunya hilang, "Young-ah, kalo yang kamu kuatirin itu soal Ayah kamu, nggak perlu takut. Dia nggak bakal tau kita masih hidup. Ayah kamu emang gila, tapi kamu nggak harus batasin diri, sayang."

Jinyoung inget sewaktu masih usia sepuluh tahun, pertama kali ibunya cerita bahwa dia di tuduh anak dari pria lain sama ayahnya sendiri. Jinyoung padahal masih di kandungan. Saat itu Luhan, ibunya minta tolong Kim Jongin, sahabat suaminya sekaligus rekan kerja yang kebetulan dateng ke rumah karena keperluan ngambil suatu dokumen.

Luhan minta tolong Jongin buat ngambil cincin kawin yang jatuh di saluran air. Karena disekitar lantai itu licin Luhan sempet jatuh, Jongin niat nolong tapi ikut terpeleset dan nindih Luhan. Kejadian itu kepergok Oh Sehun, suami Luhan dan ayah biologis Jinyoung.

Sehun tadinya emang merintah Jongin dateng ke rumah buat ngambil dokumen mereka, tapi dia kelupaan sesuatu karena dokumen di simpen disuatu tempat, cuma Sehun yang tau passwordnya. Luhan yang hari itu mau bilang ke Sehun kalau dia hamil, suaminya malah nggak percaya dan nuduh yang bukan-bukan.

Sehun itu orang yang berbahaya, dominan, keras kepala, berkuasa dan terobsesi sama Luhan. Sehun nggak ragu buat bunuh Luhan karena kesalah pahaman ini. Iya, sampai segitunya. Bahkan Kim Jongin tewas karena Sehun mencelakai pria itu. Sehun udah bikin Luhan cacat dan buta di masa-masa dia hamil Jinyoung.

Luhan beruntung masih bisa hidup. Luhan beruntung masih mampu besarin Jinyoung sendirian. Anak itu hebat. Anak itu udah bisa megang perusahaan mendiang orang tua Luhan dari usia lima belas. Itu kenapa Jinyoung kelihatan lelah banget. Bagi waktu buat sekolah dan kerja emang nggak gampang.

Luhan beruntung punya Jinyoung. Mungkin hidup mereka emang nggak bebas. Sehun harusnya membusuk di penjara, tapi pria itu hebat, polisi nggak bisa nemuin jejaknya. Luhan sampai detik ini masih sembunyi dari Sehun. Bahkan dia ngaku identitas nama Xiao dan ngasih Jinyoung marga Bae. Itu semua Luhan lakuin buat sembunyi.

Sehun masih nggak terima salah paham dimasa lalu yang bikin otaknya rusak. Sehun masih nggak percaya kebenaran karena terlalu sakit hati sama salah paham sialan itu. Kalo sampe pria itu tau Luhan masih hidup, Sehun bakal nguntit mereka dan nggak segan bunuh Jinyoung juga. Luhan nggak tau gimana lagi bikin Sehun percaya, karena itu dia harus nutup diri dari dunia luar.

"Jinyoung, nggak apa-apa kalo kamu punya pacar." Nggak ada ibu yang nggak pengen anaknya bahagia, Luhan nyesel udah cerita soal Sehun ke Jinyoung yang bikin hidup mereka di bawah ancaman, meski itu emang bener. Tapi Jinyoung yang dulu terus nanya siapa ayahnya bikin Luhan nggak tega. "Jangan ragu, jangan takut, nak."

Jinyoung ngeraih tangan ibunya, ngusap jari lentik Luhan. "Bun, kalo suatu hari keberadaan kita ketauan ayah, aku nggak bakal biarin dia nyakitin bunda atau orang-orang disekitar Jinyoung. Bunda bilang ayah itu 'sakit' kan? Aku cuma kuatir dia juga bakal celakain—"

"Pacar kamu? Temen-temen kamu?"

"Bun, aku nggak punya pacar."

"Tunggu." Luhan bales megang tangan Jinyoung. "Jangan bilang kalo kamu juga nggak punya temen karena terlalu takut?"

"Temen ada, tapi aku jaga jarak."

"Kamu cuma nggak punya pacar kan? Nggak mungkin. Anak bunda ganteng pasti banyak yang suka."

Jinyoung sempet tertegun, karena disaat situasi serius Luhan masih bisa ketawa godain dia. Luhan bahkan nggak pernah tau muka Jinyoung gimana tapi wanita tegar itu selalu muji.

"Kamu udah gede. Seenggaknya pasti ada orang yang disuka. Ayo ngaku sama bunda."

Akhirnya Jinyoung nyerah, dia buang napas lalu senyum. "Iya, ada."

"Tuh kan.. siapa? Cantik kan anaknya? Siapa? Siapa?"

"Iya, cantik." Kata Jinyoung, suaranya merendah. "Dia leadernya di ekskul Cheerleader."

"Wah... keren." Luhan ngusap bahu Jinyoung semangat. "Young-ah, jangan takut punya pacar. Kita aman dari ayah kamu, bunda jamin. Kita udah sembunyi bertahun-tahun, dia mungkin udah lupa sama bunda. Jangan kuatir lagi, kamu harus dapetin anak itu oke?"

"Bunda, tapi—"

"Ah akhirnya anak bunda punya pacar. Kapten Cheers lagi."

Jinyoung ketawa ringan, dia bakal lakuin apapun asal Luhan senyum. "Belum jadian, bun."

"Tapi janji harus jadian ya."

.

.

"Besok jam sembilan malem." Guanlin senyum miring sewaktu dia berhasil pesen ruang VIP di klub itu. "Gua mau yang nganterin minum yang namanya Hoho."

"Maaf, tuan. Untuk besok ada customer yang sudah booking Hoho. Kami bisa memberi penawaran pelayan kami yang lain—"

"Harus Hoho!"

"Maaf, tuan—"

Guanlin ngedecak keras. "Siapa sih tuh orang, hah?"

Pegawai cewek dibalik meja bar itu ngecek komputernya sebelum natep Guanlin takut-takut. "Disini tertulis tuan Ha Minho."

Sambil ngeluarin dompet, Guanlin ngumpat kasar. "Biasanya si bangsat bayar berapa nyewa Hoho? Persetan dia punya saham. Gua bisa bayar lima kali lipat. Club malem ini bakal lebih untung. " Dia nyodorin black card. "Besok malem jam sembilan. Hoho harus ada di kamar pesenan gua, ngerti?"

Abis itu Guanlin pergi, gabung lagi sama Dongho, Daniel, Jonghyun yang nunggu di tempat biasa mereka duduk.

"Kampret gua kalah sama Guanlin." Dongho ngeraih rokoknya. "Dia udah mau maen sama cewek padahal masih bocah."

"Beda anak orang kaya mah." Jonghyun ngeledek. "Terus gimana si Jihoon?"

"Nyerah gua." Kemarin Guanlin baru paham, mulai ngerti sama raut muka Jihoon sewaktu Bae Jinyoung pergi selepas ngasih buku. "Jihoon beneran suka sama orang lain kayaknya. Tapi kali ini gua nggak boleh mundur dapetin Hoho." Atau.. Seonho. Tapi nggak ngaku.

"Eh hati-hati lo entar."

"Kenapa emang bang?"

"Main aman, bego." Sambil nepuk punggung Guanlin, Daniel nyaut. "Awas anak orang hamil."

"Anjir lupa. Bang, beli kondom dimana?"

"Pait pait. Inget Lin masih sekolah."

.

.

Latihan kali ini sampe sore nyaris malem, dan paling nyebelin adalah tiba-tiba hujan. Karena dijadwal latihan bareng tim basket lagi, Jihoon heran liat Guanlin langsung lari ke mobilnya dan ngegas pulang. Iya, tanpa ngajak Jihoon pulang bareng kayak biasa.

"Ji, lo sama Guanlin nggak kenapa-napa? Tumben dia pulang buru-buru gitu."

Jihoon ngehela napas sewaktu Minhyun nanya. "Kakak masih percaya gosip kapten basket sama kapten cheers pacaran? Basi tauk."

"Sensi banget sih, darling. Tau kok kalian sahabatan doang. Yaudah hati-hati pulangnya, gue sama Hyunbin duluan ya."

Jihoon ngangguk lalu merhatiin squad cheers dan tim basket yang berhamburan pulang. Dia liat mobil Hyunbin yang keluar gedung sekolah, terus Haknyeon yang boncengan so sweet sama Euiwoong naik motor sport item, apalagi Ung imut banget pake jas ujan gambar kartun babi. Terus ada Samuel yang kebetulan bawa mobil kelihatan lagi bujuk temen—uhm—Daehwi buat pulang bareng. Dan yang lain nunggu jemputan atau bawa kendaraan sendiri.

Nggak lama ujan mulai reda. Jihoon jalan bareng Hyungseob keluar gedung. Hyungseob mau pulang naik bus, jadi Jihoon ngikut. Tapi sewaktu di depan gerbang Woojin dengan skuter jadul, warna biru, knalpot cempreng, hidup lagi, dia nyapa mereka, lebih tepatnya sih matanya lurus ke Hyungseob.

"Eh eneng eneng cantik, pulang naek apa?" Woojin nyengir lebar. Diantara tampilannya sekarang, cuma kaos jersey basket dan gingsulnya yang kelihatan keren. "Pulang bareng yuk?"

Karena Woojin sering curhat soal Hyungseob ke Jihoon sewaktu kelas dance, Jihoon mulai merasa ada sinyal kalau dia bakal pulang sendirian. Mana Taehyung lagi ngurus laporan, Jihoon nggak mungkin minta jemput oppanya. Woojin itu naksir berat sama Hyungseob, jadi nggak tega kalo minta Hyungseob tetep pulang naik bus.

"Lo ngajak siapa nih?"

"Yang mau aja. Kalo bisa sih Hyungseob yang bonceng."

"Bilang kalo mau berdua." Jihoon natep Woojin sinis sebelum noleh ke Hyungseob. "Seob, Woojin tuh naksir lo. Notice sana."

"Eh anjir Jihoon kalo ngomong suka bener!" Woojin sewot. But.. ini sewot macam apa?

Hyungseob malah ketawa malu-malu, lalu merhatiin motor jadul Woojin. Yang lain pake mobil, motor keren, lah ini...

Tapi Hyungseob bukan tipe yang mandang orang dari tampilan. Malah dia lebih peduliin Jihoon. "Jihoon gimana? Nggak mungkin vespa lo muat tiga orang."

"Lo ikut gingsul aja. Gua sendiri bisa kok." Jihoon jawab nggak rela. Bukan apa-apa, dia masih takut pulang sendirian. "Puas lo, jin?"

"Makasih banget, Ji. Puas gue."

Jihoon cuma dehem sewaktu Hyungseob minta dia buat hati-hati sebelum naik ke motor Woojin. Tapi shit... kok mereka lebih so sweet daripada yang pulang naik mobil atau motor gede. Tanpa sadar Jihoon senyum liatin mereka pulang bareng, lalu lanjut jalan ke halte.

Hujan tiba-tiba deras lagi, Jihoon lari neduh di halte meski kakinya masih sedikit sakit. Sewaktu rapihin rambut cokelat madunya, dia kaget karena cowok yang pake seragam Hanlim duduk di pojok itu Bae Jinyoung. Jihoon pikir siapa.

"Bae?"

Jinyoung yang nunduk karena lagi baca buku ngangkat kepala, agak kaget liat Jihoon.

"Kok masih disini?"

"Kemarin nggak sekolah, jadi ketinggalan pelajaran." Jawabnya sambil masukin buku ke tas. "Habis belajar di perpus tapi pulang malah kejebak ujan."

Jihoon senyum, Jinyoung mulai bicara panjang sekarang. Jinyoung ini terlalu mandiri atau apa, dikelas bahkan nggak minta bantuan temen buat pinjem catatan. Sewaktu dia duduk di sebelah cowok itu, Jihoon jadi keinget Daehwi yang tadi pulang bareng Samuel. "Nanti liat catetan gue aja. Emm, gue boleh nanya something?"

"Thanks, Ji. Sure."

"Gue pikir lo lagi nunggu pacar latihan cheers?"

"Pacar?"

"Daehwi, i mean."

"Maksud lo?"

Jihoon ngerutin dahi, berasa bingung sendiri. "Bukannya lo pacar Daehwi?" Makin bingung sewaktu Jinyoung malah ketawa. Tapi Jihoon melongo, cara Jinyoung ketawa itu manis tapi tampan. "I like your smile." Dia gumam tiba-tiba.

"Apa?"

"Eh, nggak.. bukan apa-apa."

"Kok bisa nyangka gue pacar Daehwi?"

Jihoon masih inget banget muka cemburu Daehwi soal jaket varsity itu. "Lo kan pernah pinjemin gue jaket, Daehwi bilang jaket itu punya cowoknya."

Kali ini Jinyoung ketawa lagi. Sekali lagi Jinyoung ketawa, Jihoon beneran mau melting.

"Itu jaket Samuel, ketinggalan waktu les."

Ekspresi Jihoon yang melotot kaget itu bikin Jinyoung ketawa lagi, tapi lebih pelan. "Ja-jadi gosip mereka pacaran bener?"

"Nggak tau juga sih."

"Ish, Daehwi kok ngaku-ngaku pacar—aaa!"

Omongan Jihoon kepotong sama suara petir, dia kaget bukan cuma karena petir itu.. tapi juga soal Jinyoung yang ngelingkarin tangan ke bahunya, ngedekap Jihoon.

Jinyoung natep Jihoon lama, sebelum narik tanganya pelan buat lepasin, tapi Jihoon cepet nahan. Bukan karena genit atau nyabe kayak mamanya dulu, dia bener-bener suka Jinyoung sampe berasa sesek napas, jadi Jihoon diem sambil ngejatuhin tubuhnya ke dekapan Jinyoung.

Jihoon bisa ngerasain perlakuan tulus Jinyoung sewaktu dia sedikit ketakutan tiap denger suara petir. Apalagi mereka cuma berdua di halte dan situasi sepi karena hujan deras.

Jihoon penasaran, pengen dengan egois tau apa yang Jinyoung pikirin ketika cowok itu tiba-tiba ngangkat sebelah tangan. Telapaknya nangkup pipi tembam Jihoon yang merah, jemarinya mulai ngelus pelan. Untuk sekarang Jihoon nggak bisa nahan sama jarak mereka.

Karena itu dia nutup mata selagi hidung mereka mulai saling nyentuh.


TBC


Guan mau ngapain.../ehe/ Ucup yang nyabe udah biasa, pengen buat gingsul yang ngejar-ngejar/wkwk/

Thanks yang review kemarin, meski nggak bales tapi saya baca dan jujur mood jadi naik /pelukcium/

See u :)))