Will You Marry Me?

REMAKE story by Fatma Sudiastuty Octaviani

Just REMAKE no Plagiat!

Main Cast : Kaisoo

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Other cast :

Hunhan,

KrisLay

.

.

.

DI depan pintu, Eomma tertegun mendapati putrinya pulang berlinang air mata. Saat beliau hendak bertanya, Kyungsoo malah berlari ke kamar. Yixing yang masuk belakangan menjadi sasaran pertanyaan eomma, Kris, juga Han ajhumma.

Di kamar, Kyungsoo menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur berkeping-keping seakan tak bisa disatukan lagi. Jongin benar-benar kejam. Dia memberi Kyungsoo begitu banyak perhatian namun akhirnya mengecewakannya.

Memberinya mimpi yang begitu indah namun kemudian membangunkannya dari tidur dan kembali ke kenyataan yang hampa.

"Kyungie, boleh eomma masuk?" Tak ada jawaban.

"Sayang, kamu kenapa?" Eomma kembali mengetuk pintu berwarna biru muda itu. Tetap tak ada jawaban.

"Kyung, ini yixing. Gue boleh masuk?" ganti Yixing yang mencoba membujuk.

"Lo nggak pa-pa, kan?" Tetap nggak ada hasilnya. Jangankan membuka pintu, bersuara aja nggak.

"Apa perlu kita dobrak pintunya, Eomma?" Yang ini suara Kris. Anehnya, kalimat Kris ini malah menggerakkan Kyungsoo untuk membuka pintu.

"Kyungsoo nggak apa-apa kok," kata Kyungsoo dengan wajah ditekuk. Matanya tampak sembap dan membesar karna terus-terusan mengeluarkan air mata. Air mata yang masih saja mengalir tanpa bisa dikendalikan. eomma, Kris, Yixing, dan Han ajhumma memandangnya prihatin. Kyungsoo semakin sedih melihat mereka. Dipeluknya eommanya dan kembali menangis sejadi-jadinya.

"Sudahlah, soo. Relakan saja. Kalau Jongin memang jodohmu, dia takkan lari ke mana," hibur eomma. Kyungsoo hanya menjawab dengan tangisnya. eomma mengelus lembut rambut putrinya.

"Maafkan eomma Sayang. Hanya karna eomma buka katering, kamu jadi dipermalukan oleh mereka," eomma ikut-ikutan menangis. Kyungsoo melepas pelukannya. Lalu perlahan diusapnya air mata eomma. Dia berusaha tersenyum di antara kesedihannya yang mendalam.

"Eomma tidak perlu meminta maaf. kyungie bangga kok sama eomma. eomma telah membesarkan kami seorang diri. Kyungie nggak pernah merasa malu. Dari katering eomma-lah kyungie makan dan sekolah, juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan anak-anak lain sepantaran kyungie." Suasana haru menyelimuti keluarga Kyungsoo. Han ajhumma dan Yixing bahkan ikut menitikkan air mata.

"Udah dong, kok malah jadi Kyungie sih yang menghibur kalian? Harusnya kan kalian yang menghibur Kyungie."

Serta-merta semua memeluk Kyungsoo bersamaan. Kyungsoo jadi merasa tak sendirian lagi, walau rasa sakitnya atas pengkhianatan Jongin tak kunjung reda.

.

.

.

Malam itu Yixing menginap di rumah Kyungsoo. Dia sendiri yang menawarkan diri menemani Kyungsoo yang sedang kacau itu. Dan usul itu langsung disetujui seluruh keluarga. Terutama Kris, yang mengancam akan mendatangi sekolah Jongin untuk membuat perhitungan dengan cowok itu.

"Liat saja. Akan gue remukin dia," ancamnya.

"Nggak usah, Oppa. Kalo Kris Oppa sampai masuk penjara gara-gara Jongin, Kyungsoo lebih nggak rela, lagi," kata Kyungsoo. Mendengar itu Kris akhirnya meninggalkan kamar Kyungsoo tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Yixing mengenakan baju tidur Kyungsoo. Ia berbaring di sebelah Kyungsoo yang masih berlinang air mata.

Mereka berhadap-hadapan.

"Kyung, gue minta maaf, ya. Karna gue, lo jadi seperti ini." Yixing benar-benar merasa sangat bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Kyungsoo menggeleng pelan.

"Bukan salah lo kok, Yi. Gue malah berterima kasih, karna lo, gue jadi tau kebusukan Jongin," jawab Kyungsoo. Air matanya kembali menetes. Yixing menyapu air bening itu dengan jemarinya.

"Nggak, Kyung, ini semua salah gue." Yixing kelihatan bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

"Kalo aja gue nggak ngasih tau Krystal tentang hubungan lo sama Jongin..." Yixing menundukkan kepala.

"Cukup, Yi. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Kalo Jongin nggak berkhianat, ini nggak bakal terjadi, walaupun lo ngasih tau Krystal kalo gue pacar Jongin. Lagian gue bangga ama lo yang berani berkata jujur ke gue." Kyungsoo berusaha tersenyum.

Yixing membalas senyuman itu. "Terima kasih." Ia terdiam sebentar.

"Kyung, apa mungkin ya peristiwa tadi hanya akal-akalan Krystal aja? Jongin..."

"Cukup, Yi. Kita nggak usah ngebahas itu. Udah malam. Tidur yuk. Lo pasti capek juga, kan?" kyungsoo memotong kalimat Yixing. Ia tak ingin membicarakan cowok bernama Jongin lagi.

"Tapi, Kyung..."

"Sssttt..., kita bobo, oke?"

"Baiklah, tapi liat aja. Gue akan cari jawaban buat lo," janji Yixing.

"Makasih, Yixing." Kyungsoo tersenyum lelah. Kemudian dipejamkan matanya, mencoba tidur.

.

.

.

"Jong, lo mau ke mana?" tanya Kyungsoo di antara guyuran hujan. Dilihatnya Jongin berjalan ke arah Krystal tanpa memedulikannya.

"Jong tunggu...! Tunggu, Jong... Jangan pergi sama dia, Jong. Jangan..., jangan pergi, Jong..., Jongin..." Tubuh Kyungsoo menggigil.

Suhu badannya tinggi sekali. Yixing terbangun saat tangan Kyungsoo yang menggapai-gapai tak sengaja menyentuh kulitnya.

"Ya Tuhan..., Kyungsoo! Lo demam." Yixing panik mendapati keadaan Kyungsoo.

"Jongin, jangan pergi... Jong..., jangan pergi..." Kyungsoo terus-terusan mengigau. Rupanya dia tidak sadarkan diri. Berkali-kali Yixing menggoyangkan tubuhnya, tapi tetap saja Kyungsoo mengigau.

"Jong, mau ke mana... Jangan tinggalin gue, Jong..." Air mata mengalir dari mata Kyungsoo yang terpejam.

Karna panik Yixing memanggil Kris, Eomma, dan Han ajhumma. Mereka langsung berbondongbondong ke kamar Kyungsoo. eomma terlihat paling cemas. Beliau langsung menyuruh Kris menelepon dokter, sedang Han ajhumma mengambil air untuk mengompres. eomma dan yixing tetap di tempat, menjaga Kyungsoo yang masih saja mengigau.

"Dia kecapekan, dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Kalau dibiarkan begini terus, dia bisa terserang tifus," Dokter Changmin yang tinggal tak jauh dari rumah keluarga kyungsoo, memberitahu analisisnya.

"Apa nggak apa-pa kalau dia terus mengigau begini, Dok?" eomma terlihat sangat cemas.

"Dia mengigau sebagai reaksi suhu tubuhnya yang tinggi. Kalau nanti panasnya turun, dia akan berhenti mengigau. Tapi saya sarankan, panggilkan orang yang disebutnya dalam igauan itu. Karna kalau kondisinya tak juga membaik, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit," nasihat sang dokter. eomma dan Yixing berpandang-pandangan. Lalu Yixing mengambil inisiatif.

"Biar saya yang menghubungi Jongin, eomma," katanya menawarkan bantuan.

Dia pun segera berdiri saat eomma mengangguk. Tapi baru saja Yixing melangkah ke luar kamar, Jongin sudah muncul di ambang pintu.

"Jong, elo...?" Jongin tidak memedulikan ucapan Yixing.

Dia langsung menerjang masuk dan menghampiri Kyungsoo yang tergolek tak berdaya di tempat tidur. Tadinya Kris hendak menerjang Jongin saat itu juga, tapi eomma mencegahnya dan menggeleng pelan pada putranya itu. Kris terdiam, dan menuruti larangan Eomma.

"Kyung. Kyungsoo... Bangun, Sayang, ini gue, Jongin," ujarnya seraya menggenggam erat tangan kyungsoo yang panas seperti terbakar. Kyungsoo tetap mengigau memanggil nama Jongin.

"Jong, jangan pergi, Jongin..." suara Kyungsoo semakin lemah.

Meski begitu matanya tetap terpejam. Jongin menciumi tangan Kyungsoo sambil terus membisikan kalimat-kalimat sayangnya. Menyaksikan semua itu, eomma pun akhirnya mengajak yang lain keluar dan membiarkan Kyungsoo berdua saja dengan Jongin.

"Kyung, maafin gue, Kyung... gue udah bohong ke elo. Tapi Kyung, gue sayang lo, kyung... sayang banget. Bangun, kyung." Jongin duduk di samping tempat tidur Kyungsoo. Dia sampai tak sadar telah menitikkan air mata.

"Gue ke sini karna lo manggil gue. Makanya lo mesti bangun dan dengarkan penjelasan gue." Jongin terus menemani Kyungsoo seperti itu. Sampai lidahnya kelu. Sampai dia sendiri ketiduran saking capeknya. Di rumahnya semalaman itu Jongin tak bisa tidur. Dia terus memikirkan bagaimana cara meminta maaf kepada Kyungsoo. Dan ketika akhirnya tertidur, dia malah bermimpi Kyungsoo memanggilnya dan terus menangis mencarinya. Siapa sangka itu terjadi di dunia sebenarnya. Betapa hancur hati Jongin mengetahuinya. Jongin terbangun saat ia merasa tangannya diguncang-guncang dengan kasar.

"Kyung, syukurlah akhirnya lo sadar juga. Gimana perasaan lo?" Ia mencoba menggapai tangan Kyungsoo dan membawanya ke bibirnya. Namun Kyungsoo mengibaskannya lemah.

"Pergi," usir kyungsoo parau. Ia sama sekali menolak memandang Jongin. Jelas benar kebencian yang terlihat di mata Kyungsoo yang memandang sayu langit-langit kamarnya.

"Kyung, dengar dulu penjelasan gue. Gue..." Jongin terus berusaha menjelaskan. Tapi sekali lagi kyungsoo menampiknya tanpa melirik sedikit pun.

"Cukup. Pergi!" ucap kyungsoo tegas di antara suaranya yang lemah.

Jongin tak punya pilihan lain, ia tak ingin memaksa Kyungsoo mencerna sesuatu yang malah akan membuat keadaannya semakin buruk. Dengan berat hati ia pun mengalah dan memilih keluar dari kamar Kyungsoo. Sepeninggal Jongin, Kyungsoo kembali meneteskan air mata. Kalau saja air mata bisa melunturkan kesedihannya. Tapi kenapa hatinya malah semakin pedih terasa? Dia terus terdiam dalam tangis.

"Appa, Kyungie sudah salah pilih. Rasanya kyungie ingin menyusul Appa sekarang juga," rintihnya sendu.

.

.

.

Kris sudah siap memukul Jongin dengan tangan terkepal.

"Heh. Lo apain adik gue sampai jadi begitu he?" tantangnya garang. Eomma berusaha mencegahnya, sementara Jongin tampak berdiri pasrah di depan Kris.

"Pukul aja, Hyung. Gue memang salah." ucapnya parau.

"Jangan sok deh lo, lo kira gue nggak berani mukul lo?" Satu pukulan mendarat di pipi Jongin. Dia sempat tersungkur, tapi kemudian perlahan-lahan bangkit berdiri lagi. eomma langsung menarik tangan Kris dan memaksa anaknya itu menghadap kepadanya.

"eomma nggak pernah mengajarkan untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan," kata eomma.

Randy terdiam.

"Biarkan saja, eomma. Berapa banyak pukulan pun akan Jongin terima untuk menebus kesalahan Jongin," kata Jongin lirih.

"Tidak, bukan seperti itu penyelesaiannya. eomma ingin kamu menjelaskan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap eomma bijak.

"Jongin juga tidak tau, eomma." Wajah Jongin tampak kusut tak keruan. Disekanya darah segar yang mengalir di sudut mulutnya.

"Jongin cuma tau, Jongin bikin perjanjian dengan Krystal. Awalnya dia mengancam akan melukai Kyungsoo kalo Jongin nggak ninggalin Kyungsoo. Tapi Jongin bersikukuh akan jagain Kyungsoo.

Bahkan Jongin bilang akan segera tunangan dengan Kyungsoo untuk ganti mengancam Krystal. Tibatiba dia berubah baik dan membuat kesepakatan, bahwa dia akan relakan Jongin bersama Kyungsoo asalkan jongin mau menghabiskan tiga hari bersamanya. Mengurus ulang tahunnya dan menghadiri pestanya dengan baju yang sudah dipilihkan olehnya. Jongin bahkan bersedia pontang-panting nganterin dia ke mana aja asal bisa segera kembali kepada Kyungsoo dan terbebas dari Krystal. Siapa sangka kejadiannya bakal sepertinya ini." Wajah lusuh itu tertunduk lesu.

"Jongin bahkan nggak nyangka akan membuat Kyungsoo sakit hati sampai seperti itu, eomma. Jongin hanya ingin menjauhkan Kyungsoo dari keganasan Krystal." Semua terdiam mendengar penjelasan itu. Bahkan Kris telah melemaskan tangannya yang tadi terkepal menahan marah.

"Tapi, Jong..." Yixing memecah keheningan. "Waktu itu jelas-jelas kami liat rangkaian bunga besar ucapan selamat bertunangan buat lo dan Krystal. Bunga itu diletakkan di pintu masuk rumah Krystal. Lo bisa jelasin itu?" tanya Yixing tegas. Entah dari mana ia mendapat keberanian hingga sanggup mengemukakan pertanyaan itu.

"Bunga apa? Gue nggak tau, Yi. Gue nggak tau," sahut Jongin pelan. "Tapi percayalah, gue nggak mungkin mengkhianati Kyungsoo. Setelah apa yang terjadi antara gue dan dia selama ini," sambungnya.

Eomma mengembuskan napas panjang. "Jong, eomma percaya sama kamu," katanya sambil mendekati Jongin dan menepuk bahunya pelan.

"Eomma tahu, karna mata itu takkan bisa berbohong pada eomma." Ditatapnya mata Jongin yang terlihat sayu dan sedih.

"Tapi untuk meyakinkan kyungsoo, eomma rasa perlu sedikit waktu lagi. Kamu tahu sendiri gimana kyungsoo. Hatinya sudah terlanjur sakit. Dia pasti sudah menutup rapat-rapat hatinya. Dan untuk membukanya lagi, bukan hal yang mudah."

"Kris belum bisa percaya seratus persen, eomma. Kris akan ke SMA Teitan untuk mencari jawaban atas perlakuan cewek sialan itu!" Kris ikut berkomentar.

"Ya, pergilah ke sana, kamu boleh cari gara-gara, biar masalah semakin panjang," tantang eomma.

"Kamu kira apa yang tidak bisa dilakukan orang kaya? Menuduhmu melakukan penganiayaan dan menjebloskanmu ke penjara itu bukan hal sulit bagi mereka. Jadi lakukanlah niatmu itu. Tapi jangan pernah panggil aku eomma," ancam eomma galak.

Ini memang salah satu jurus Eomma menangani putranya yang kadang nekat. Dan terbukti jurus itu ampuh, karna Kris langsung terdiam.

"Jongin, lebih baik sekarang kamu pulang. Tenangkan pikiran dan coba cari jalan untuk membujuk Kyungsoo. Biasanya kan kamu paling pinter mengambil hatinya. Sementara kami juga akan ikut mencoba membujuknya."

"Terima kasih, eomma," ujarnya Jongin. Dijabatnya tangan Eomma lalu diciumnya dengan sayang sebelum akhirnya meninggalkan rumah Kyungsoo.

" Yixing," panggil eomma.

"Ya, eomma."

"Kamu saja yang cari tau soal rangkaian bunga itu. Biar cowok sok macho itu lebih percaya lagi kalo Jongin sungguh-sungguh dengan perkataannya," pinta Eomma seraya mengedikkan kepala ea rah Kris. Yixing mengangguk cepat.

"Baik, Eomma." Baginya itu bukan tugas, melainkan kasih sayang eomma kepadanya yang diwujudkan dalam bentuk kepercayaan. Yixing akan lakukan apa pun untuk menemukan jawaban atas semua ini, eomma. Karna Yixing juga sudah janji pada kyungsoo, katanya dalam hati.

.

.

.

.

TBC

Langsung Review aja okey?

Fav/foll/review

TERIMAKASIH SEMUANYAAAAAAAA :*

HANNA

KAISOODYO