LIMIT
| ikon fanfiction | doubleb or bobb.i | bobby/b.i |
| iKON © YG ENTERTAINMENT |
| LIMIT © dumpling-lion |
| rated T | boys love |
| chaptered |
don't like don't read
any same idea, it's just acidentally same
and remember, it's just a FICTION
warning. out of character and typos take a big part of my writing world
chapter eight: suprising things
Aku akan menemukan cara untuk memecahkan dua masalah kita ini, Bin.
9.21 PM (Read)
Dua?
9.21 PM (Read)
Tentu saja. Pertama soal Mino hyung dan teman-teman kita lalu yang kedua tentang Jisoo.
9.22 PM (Read)
Oh.
9.22 PM (Read)
Kalau begitu cepat temukan dan segera perjelas hubungan kita.
9.22 PM (Read)
Hanbinie [insert sticker kiss]
9.22 PM (Read)
EWH [insert sticker puking]
9.22 PM (Read)
[insert sticker love]
9.22 PM (Read)
Hei kenapa cuma di read?
9.22 PM (Read)
KIM HANBIIIIIN
9.22 PM (Read)
.
.
.
Akhir-akhir ini Jiwon merasa resah tentang kisah cintanya dalam masa sekolahannya ini.
Tentang kawan-kawannya yang curiga akan hubungannya atau tentang Mino yang terlalu mencurigakan.
Karma?
Yep, mungkin ini karma karena Jiwon sejak dulu menggantung hubungannya dengan sahabatnya tersayang sejak jaman sekolah menengah pertama dahulu.
.
Hanbin pernah beberapa kali berpikir untuk melupakan Jiwon karena ia lelah menunggu.
Terlebih saat kisah Jisoo yang menyedihkan diungkap, yang menjadi alasan Jiwon menggantungnya.
Hanbin berpikir apakah itu menjadi batas hubungannya dengan Jiwon? Batas bahwa ia cukup menjadi sahabatnya dan Jiwon harus bersama seorang wanita.
.
.
.
Seperti biasa, pagi itu Jiwon mampir ke rumah Hanbin untuk menjemput pemuda itu.
Namun bedanya, kali ini Jiwon memutuskan untuk tidak mengendarai mobilnya. Sejujurnya itu bukan keputusan Jiwon, sih. Kemarin Jiwon tanpa sengaja memecahkan lampu belakang mobilnya dan membuat baby kesayangannya itu harus menginap di bengkel.
"Kau tidak bawa mobil?" tanya Hanbin kepada Jiwon yang dengan nyamannya nangkring di ruang tamu rumahnya sembari menggendong Hanbyul.
Diam-diam Hanbin mendengus melihat adegan itu. Teringat janji dalam hatinya kalau adiknya itu harus dijauhkan dari para makhluk bermulut manis seperti Jiwon dan Junhoe (Satu kali Hanbin tanpa sengaja bertemu Junhoe dan Jinhwan di supermarket, pemuda itu langsung menjadi fans berat Hanbyul, bahkan membuat Jinhwan merasakan kecemburuan bodoh pada anak kecil.)
Jiwon mengadah lalu nyengir bodoh yang selalu menjadi trademark-nya, "Mobilku rusak dan aku ingin sesekali naik bus."
Hanbin hanya mengiyakan, ia lalu mengulurkan tangan untuk mengambil Hanbyul dari pelukan Jiwon.
"Tunggu diluar sana." perintah Hanbin dengan tingkah bossy-nya yang kurang lebih sama dengan Hayi.
"Aye, aye, hubby~"
"Kita masiih SMA bodoh."
PLAK!
Hanbin menggeplak belakang kepala kelinci amerika itu dan melenggang masuk kamar ibunya dengan wajah memerah. Sementara Jiwon masih dengan cengiran bodohnya tertawa nista dalam hati.
Senang rasanya karena setelah minggu-minggu yang sulit bagi hubungan tak jelas mereka, Hanbin bisa tersenyum lebar dengan tulus berkat Jiwon.
.
.
.
"Aish, bisnya penuh sekali. Hei, Kimbap, geser sedikit, dong." keluh Hanbin sembari menyikut Jiwon yang berdiri di kanannya.
Hanbin akui ini salahnya, ia terlalu lama mencari buku Kimia sehingga sampai di halte ketika bus terakhir nyaris berangkat. Jadilah mereka harus berdiri hingga nanti bus ini sampai ke halte dekat sekolah mereka.
"Kau itu yang geser, Bin. Aku sudah terlalu mepet dengan tiang."
Hanbin melotot.
"GESER, KIMBAB!" serunya kesal tanpa sadar ia sedang berada di antara keramaian. Jiwon sendiri kekeuh, malas menanggapi kelakuan childish Hanbin yang sebenarnya enggan berdesak-desakan.
"Hell, bisa diam tidak sih, Bin?!"
"Tidak sebelum kau geser!"
"Eomma, kenapa kakak itu mendorong kakak yang itu?"
Celetukan anak TK bertopi kuning yang duduk di kursi sebelah Hanbin bersama ibunya membuat dua pemuda itu berhenti saling dorong. Ibu
nya, wanita tiga puluhan dengan pakaian kantoran dengan enggan melirik ke arah Jiwon dan Hanbin yang terpaku, lalu mengusap rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan diperhatikan, nak. Mungkin kedua kakak itu hanya sedang bermain." kata Nyonya itu disertai pelirikan tajam 'berhenti-berbuat-bodoh-dan-memberi-contoh-buruk-pada-anakku' pada Jiwon dan Hanbin yang mengangguk canggung.
"Ahjumma itu seram juga, ya." bisik Jiwon lalu bergeser sedikit memberi ruang gerak pada Hanbin. Pemuda kelinci ini memutuskan untuk mengalah sebelum Hanbin memulai lagi drama konyolnya dan membuat mereka dipelototi oleh orang lain lagi.
"Tapi anaknya lucu sekali. Seperti puppy mungil." gumam Hanbin, masih dengan tatapan lekat pada anak bertopi kuning tadi.
Duh, Bin, hentikan tatapanmu sebelum kau dikira anak SMA pedofilia di tengah kota.
"Kau ingin punya anak? Bagaimana kalau kita membuatnya bersam-OUCH!"
Belum selesai Jiwon berucap, Hanbin langsung menginjak sepatu pemuda itu dan melirik sadis ke arahnya.
Nah, lebih baik ia memandangku begitu daripada memandang anak kecil dan dikira pedofil.
"Kau mengajakku membuat anak sedangkan kau sendiri belum mengajakku pacaran? Dasar kelinci bodoh." sungut Hanbin masih dengan pelirikan judes dan membuat Jiwon tersedak ludahnya sendiri mendengarnya.
Lagi-lagi, Hanbin memberi kode minta dipacari.
.
.
.
"Yunhyeong hyung, menurutmu aku dan Jiwon itu apa?" tanya Hanbin cepat, teringat beberapa hari yang lalu Kyung yang seolah berusaha menguak hubungannya dengan Jiwon.
Yunhyeong, yang sedang sibuk chatting dengan adiknya yang secantik dewi, terdiam sesaat lalu menopangkan dagunya di meja.
"Kalian manusia, kecuali kalau kau mau menyebut bahwa Jiwon itu manusia mutan kelinci yang tergabung bersama X-men."
Fuck.
Hanbin menahan diri untuk tidak berkata kasar dengan volume ekstra mendengar jawaban menyebalkan Yunhyeong yang jauh dari harapan.
"Kau bodoh, hyung." balas Hanbin yang disambut gerutuan tak suka dari Yunhyeong tentang pertanyaan Hanbin yang terlalu ambigu.
Segera saja, Hanbin beralih pada Donghyuk yang tengah sibuk dengan PR Sastra Inggrisnya. Uh, Hanbin jadi berpikir kapan sih pemuda ini tidak mengurusi pelajaran dan berbahagia menikmati masa muda.
"Dongie, menurutmu hubunganku dengan Jiwon itu terlihat seperti apa?" tanya Hanbin, kali ini dengan pertanyaan yang lebih tepat.
Donghyuk berhenti menulis, ia lalu terdiam sejenak sebelum menjawab dengan polosnya yang sukses membuat Hanbin speechless, "Kalian terlihat sedang dimabuk cinta seperti Elizabeth Bennet dan Fitzwillian Darcy pada akhir kisah Pride and Prejudice."
What the fuck?
Hanbin tak bisa memungkiri bahwa ia sedikit terkejut, tapi ia sungguh tidak punya bayangan apa itu Pride and Prejudice.
Ingatkan ia untuk men-googling-nya nanti.
.
.
.
"Chanu-ya, menurutmu hubunganku dan Jiwon itu seperti apa?"
Chanwoo, yang sibuk dengan Mousse coklat pesanannya serta dua kotak styrofoam tteobokki (yang ngomong-ngomong adalah makanan wajibnya di istirahat pertama) mengadah dan menatap Hanbin dengan tatapan ilfeel.
"Ewh, jadi kini kau baru mau mengakui hubunganmu dengan Jiwon hyung?" komentarnya dengan wajah 'bitch please.'
"KA-KAMI BAHKAN TIDAK PUNYA HUBUNGAN APA-APA!"
Hanbin tergagap, ia menggeleng berkali-kali sebelum pergi begitu saja sembari mengambil satu kotak tteobokki Chanwoo yang tentu saja membuatnya diteriaki bagaikan maling oleh pemiliknya.
"HEI HYUNG PENCOLONG! ITU MAKANANKU! AISH!"
.
.
.
Jiwon terbahak ketika Hanbin menceritakan bagaimana hasil investigasinya di rooftop sekolah pada istirahat makan siang.
Semenjak kawan-kawannya mendadak kepo akan hubungan mereka, Jiwon dan Hanbin lebih memilih untuk tidak pergi ke kantin agar tidak bertemu mereka (yang bodohnya sebenarnya membuat mereka lebih mencurigakan.)
"Please, apa kita sedekat itu? Kalau di depan mereka kita 'kan terli-oh, Jiho hyung?"
Tawa Jiwon terhenti melihat sesosok pemuda bermata unik berdiri di belakang Hanbin dengan wajah datar yang membuatnya was-was.
Akan ada apa lagi ini?
"Halo hyung." sapa Hanbin tanpa menutupi kecanggungan dan beringsut ke sisi Jiwon.
"Mau sampai kapan kalian tidak mau jujur?! Dengar! Kami semua sudah lelah menghadapi tingkahmu dan Hanbin yang selalu kucing-kucingan dengan kami!" seru Jiho tiba-tiba dengan nada keras tanpa menjawab sapaan dua temannya, yang sontak membuat Jiwon dan Hanbin terdiam.
Mereka benar-benar sudah tahu?
"Kalau kau ingin tahu bagaimana yang lainnya bisa tahu, salahkan saja aku dan Kyung yang tanpa segaja mencuci tangan di kamar mandi berhantu di dekat lantai dua dan mendengar suara laknat dari sesi making out kalian." kata Jiho seolah menjawab pertanyaan dalam hati Jiwon.
Pemuda dengan marga Woo itu mendesah jengah dan menyipitkan mata menatap kedua orang yang lebih muda darinya tersebut, "Kami ini suportif, Kim. Maka dari itu kami pura-pura tidak tahu hingga kami muak dengan bagaimana cara kalian saling membohongi diri! Segeralah berpacaran dan kalian tidak perlu lagi bersembunyi-sembunyi."
Jiwon menggertakkan gigi.
Bagaimana bisa Jiho mengatakan hal itu kalau ia tidak tahu apa alasannya? Apa dia tidak kalau Jiwon juga ingin sekali bisa bebas bersama Hanbin.
"Kau tidak tahu apa-apa hyung! Jangan mengguruiku! Aku ini juga menghargai Mino hyung yang menyukai Hanbin!" bentak Jiwon tanpa peduli nantinya hubungan pertemanannya dengan Jiho akan meretak.
"AHAHAHA!"
Tanpa diduga, Jiho tertawa terbahak-bahak lalu tersenyum miring seperti psikopat mencari mangsa yang disambut kebingungan oleh Hanbin dan Jiwon.
"Oh, ya ampun. Jangan konyol, jadi begitu yang kalian kira?" tanya Jiho disela tawa hyena liarnya.
Angguk.
"Mino menyukai Hanbin? Sejak kapan? Dengarkan aku Kim Jiwon. Mino selalu bercerita padaku kalau ia selalu memelototi kalian dan itu adalah bentuk dukungannya!"
"Apa maksudmu?" tanya Hanbin bingung, diliriknya Jiwon yang memasang wajah menboong tak tahu harus bagaimana.
Jiho nyengir lebar seperti anak kecil lalu mengangkat bahu sembari terkekeh-kekeh, "Mino sayang padamu, Bin."
"Mino hanya ingin mendukung kalian, karena kalau ia berperan sebagai 'orang yang menyukai Hanbin' Jiwon pasti akan terpacu untuk segera mengklaim Hanbin. Maka dari itu ia melakukan segala cara demi kebaikan hubungan kalian." jelas Jiho dengan ekspresi lebih santai.
Hanbin dan Jiwon speechless.
Jadi... mereka salah paham?
Oh, kenapa rasanya sungguh bodoh?
"Termasuk Mino hyung yang menciumku di depan Jisoo?" tanya Hanbin setelah mencerna baik-baik perkataan Jiho selama dua menit penuh.
Jiho mengangkat bahu lagi, "Mungkin dia sedang menguji teori homophobia Jisoo." sahutnya yang sontak membuat Jiwon menegang waspada dibawah tatapan mata Jiho.
"Tenanglah, hanya aku dan Mino yang mengetahui hal itu dan kami tidak berniat menyebarkannya." tambah Jiho sembari mengibaskan tangannya yang mendadak terlihat seperti ibu-ibu arisan.
Kini tiga orang pemuda itu pun larut dalam keheningan canggung.
Jiwon dan Hanbin terdiam karena merasa malu dengan teori-teori konyol mereka sedangkan Jiho merasa menang
akan keterdiaman mereka.
Untuk memecah keheningan, Jiwon berdehem pelan lalu bertanya, "Kenapa Mino hyung melakukan ini?"
Lagi, Jiho tersenyum miring yang sukses membentuk ekspresi wajahnya seperti tokoh antagonis dalam drama yang sebenarnya protagonis.
"Mino sayang sekali pada Han-"
"Sayang?" sindiri Jiwon tajam, mulai blak-blakan kalau ia tak suka kalau Jiho berkata kalau Mino sayang pada Hanbin-nya.
Reaksi Jiho? Tentu hanya memutar mata cuek.
"Pada awalnya Mino hanya ingin main-main. Tapi setelah ia tahu masalah homophobia Jisoo, Mino berpikir bahwa kisah kalian harus diperjuangkan, tidak seperti kisahnya yang kandas hanya karena Mino tidak mau memperjuangkannya." jelas Jiho panjang lebar.
"Aah."
Seketika Jiwon dan Hanbin dengan kompak berkomentar, walau dahi mereka berdua berkerut kebingungan akan maksud perkataan Jiho. Karena seingat mereka, Mino tidak pernah punya hubungan lebih dari sahabat dengan siapa pun.
Menyadari kebingungan sepasang manusia di hadapannya, dengan setengah rasa kemalasan yang mendera Jiho berucap, "Mino pernah punya pacar saat ia kelas 10 dulu dan mereka putus akibat orang tua Mino yang tidak setuju karena orang pilihan Mino yang sedang kecanduan obat. Nah, semua sudah jelas 'kan? Aku pergi dulu! Jangan lupa untuk segera mengakui bahwa kalian ini pacaran~"
"KAMI BELUM BERPACARAN!" seru Jiwon dan Hanbin bersamaan, dilatari oleh tawa hyena khas Woo Jiho yang pergi menuju pintu keluar rooftop sembari melambaikan tangan.
"Yeah, ternyata begini. Dugaan kita salah semua." gumam Jiwon lalu menatap Hanbin yang hanya nyengir canggung.
Hening lagi.
Jiwon dan Hanbin lalu bertatapan, sebelum pada akhirnya Jiwon tersenyum lebar dan mengecup bibir Hanbin sekilas.
"Sebentar lagi, Bin. Bersabarlah."
.
.
.
Jiwon dan Hanbin berdiri di depan kelas Mino dengan senyum lebar di wajah sepulang sekolah.
Sepasang sahabat yang akan menjadi sepasang kekasih itu tak henti-hentinya tersenyum dikarenakan mood baik yang sedang mendera akibat penjelasan dari Jiho tadi siang.
Dan alasan mereka mencari Mino? Ingin berterima kasih sekaligus bertanya beberapa hal tentunya.
"Kalian mencari Mino? Ah, tadi dia bilang ingin pergi ke kelas Taehyun." kata Jinwoo diikuti anggukan dari Seunghoon, yang merupakan oramg terakhir yang keluar dari di kelas Mino ini.
Taehyun?
Hanbin jadi teringat tatapan tajam Mino padanya dan Jiwon di kantin.
Apa mungkin itu karena Mino dan Taehyun dulu sepasang kekasih?
Pft, rasanya Hanbin mulai meragukan keabsahan feeling-nya karena akhir-akhir ini feeling-nya selalu tumpul dan tidak membawa ke jalan yang benar.
Lagipula Taehyun tidak terlihat seperti pecandu 'kan? Mana mungkin ada anak sekolah mereka yang pecandu?
"Dimana, sih, kelas Taehyun it-"
"Sini ikut aku, kebetulan aku juga ingin pergi ke kelasnya."
Perkataan Hanbin terpotong oleh suara dalam khas Seungyoon. Pemuda pucat itu memberikan senyum sekilas pada Jinwoo dan Seunghoon sebelum menatap dua orang lain yang ada disana masih dengan senyum di wajah.
"Ada urusan apa dengan Taehyunie?"
.
.
.
"Sejujurnya kalian itu kompak sekali. Aku juga jadi ingin membentuk hubungan seperti itu dengan Taehyun." gumam Seungyoon yang membawa sebuah gitar di punggungnya.
Hanbin dan Jiwon yang mengekori Ketua Kedisiplinan itu hanya saling bertatapan lalu tertawa canggung, teringat bagaimana anehnya hubungan mereka kini.
Antara sahabat dan pacaran yang amat sangat absurd.
"Itu gitarmu hyung?" tanya Jiwon sambil memandangi berbagai sticker yang tertempel disana. Termasuk stiker berukuran cukup besar berwarna berwarna abu-abu yang tertempel di sisi bawah case gitar yang menarik mata Jiwon.
Hugeboymino.
"Ini punyaku, ada apa?" jawab Seungyoon cepat, langkah kakinya berbelok menuju ke kanan di pertigaan lorong setelah mereka berjalan sekitar 15 meter.
Tunggu, tapi apa masa' Seungyoon hyung adalah pecan-
Ah, obat tidur.
Jiwon jadi teringat kejadian di aula beberapa hari yang lalu.
Tiga obat tidur yang diteguk bersama air dari tumbler pink.
"Hyung, kau ini mantannya Mino hyung?" tanya Jiwon blak-blakan.
Seungyoon seketika berhenti melangkah sementara Hanbin langsung melirik antara Jiwon dan Seungyoon dengan tatapan terkejut. Pemuda yang dipanggil tersebut kemudian menegokkan kepala ke belakang dan tersenyum lebar.
"Jadi Jiho hyungie memberitahumu? What a surprise."
TBC
A/N:
SATU CHAPTER LAGI BEFORE LIMIT COMPLETE /tebar confetti/
ugh, aku sebenernya seneng aku berhasil ngumpulin semangat buat nulis lanjutan fanfic chaptered terpanjangku ini.
nunggu doubleb jadian? sabar yaaa :))) ini saya nyelipin minyoon 'cuz i'm a big fans of them hehe :)))
sekali lagi, atas reviewnya, kemauan readers buat baca atau ngikutin fanfic ini bener-bener moodbooster bagiku :) saran kritiknya juga hehe /send hug and kisses/
love,
dumpling-lion
