Mobil yang di kendarai Naruto berhenti tepat di depan pelataran kediaman Uchiha. Setelah ia mematikan mesin mobil dan membukakan pintu di bagian samping sisi kemudi untuk kekasih baru tercintanya, Naruto lekas menautkan jari-jemarinya untuk menuntun Sasuke masuk. Ia merasa sangat senang bisa menghabiskan sedikit waktu bersama pemuda raven itu, meskipun di sepanjang perjalanan Sasuke terlihat lebih pasif dari yang biasanya, bahkan sejak tadipun Sasuke cenderung diam dan melamun, seakan-akan ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya entah apa.

"Kau akan langsung masuk?" Naruto bersuara ketika mereka sampai di depan pintu utama. Di area pelataran tempat Naruto memarkirkan mobilnya, ada banyak pelayan serta penjaga yang berbaris rapi untuk menyambut kepulangan Sasuke.

"Hn," Anggukan kecil di berikan Sasuke pada Naruto. Tak ada hal lain yang keluar dari mulut itu selain gumaman khas Uchiha-nya. Perhatian Naruto tertuju pada sepasang iris kelam Sasuke yang nampak kosong juga tertekan. Dia mengernyit samar. Ada apa dengan Sasukenya?

"Kau baik-baik saja?" Tangan kiri Naruto terjulur menempelkan ibu jarinya di pelipis mata Sasuke, mengusapnya pelan-pelan berusaha mengalihkan tatapan kosong itu menjadi berpusat padanya.

"Ya," Jawaban yang terdengar tidak yakin. Naruto tanpa sadar menghela napas lagi dan menangkup kedua telapak tangannya di wajah porselen itu.

"Ada apa denganmu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Apa ini berkaitan dengan Sai? Atau… hal lain yang tidak ku ketahui?"

Sasuke memejamkan matanya, menikmati belaian lembut Naruto pada kedua pipinya. Apakah ia harus mengatakannya? Atau memendamnya sendiri saja? Sasuke tidak yakin dirinya setega itu melibatkan orang lain, apalagi orang itu adalah orang yang sangat di cintainya. Tapi untuk apa orang-orang itu mengancamnya? Dan siapa mereka? Lalu apa hubungan mereka dengan keluarga Uchiha?

"Kau tampak lelah, sebaiknya kau istirahat. Aku akan pulang saja," Suara Naruto kembali menyadarkan lamunannya. Dia membuka mata dan menatap mata biru itu dengan tatapan penuh kehampaan.

"Naruto…."

"Hm?" Naruto masih membelai wajah Sasuke dan sesekali mengecupi bibir dan pipinya, tanpa peduli pada barisan penjaga dan pelayan yang memandangi keharmonisan mereka.

"Kau bilang, kau tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku kan?"

"Ya," Dia mengangguk. "Lalu apa ada orang yang menyakitimu? Apa mereka berusaha melukaimu?"

Sasuke menggeleng, kerongkongannya serasa kering mendapati tatapan intens Naruto menghujami bola mata onyx nya. Dia menyentuh kedua tangan Naruto yang menempel di wajahnya dan menggenggamnya erat. "Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, ataupun berusaha melukaimu," Di kecupnya telapak tangan Naruto dan menempelkannya kembali di pipinya. "Aku juga akan menjagamu."

Segaris senyum simpul merekah di wajah tan Naruto. Ia mendekatkan dirinya untuk mendekap erat tubuh Sasuke. Di ciuminya leher putih yang menguarkan aroma mint bercampur vanila, khas Sasuke. Tangan kekarnya melingkar, memeluk, dan mengusap bahu sempit kekasihnya.

"Kalau begitu kita akan saling menjaga satu sama lain. Tapi, aku yang akan lebih menjagamu, karena aku adalah dominanmu."

Cubitan kecil di terima Naruto pada pinggangnya, ia pun terkekeh geli mendapati Sasukenya tiba-tiba saja merajuk.

"Lepaskan, aku ingin masuk," sungut Sasuke setengah sebal mendapatkan usapan gemas pada surai ravennya hingga terlihat berantakan.

"Baiklah, sampai nanti… Dan, oh ya… Berjuanglah untuk Olimpiade-mu besok, jangan sampai kalah dan jadilah pemenang. Sasuke-ku adalah murid yang cerdas dan jenius bukan?"

"Hn."

"Kalau begitu aku akan menanyai hasilnya ketika kau sudah pulang besok. Aku tidak bisa menemanimu tapi doaku selalu menyertaimu," Naruto terkekeh kecil melihat wajah putih itu di hiasi semburat warna merah muda walau tipis. "Aku mencintaimu," Ungkapan itu disertai ciuman kilat yang diiringi oleh cengiran lebar Naruto.

"Dobe," rutuk Sasuke, namun ia tetap tersenyum juga saat melihat lambaian tangan dari dalam mobil yang melaju ke luar gerbang rumahnya. Sasuke membalikan tubuhnya kemudian masuk ke dalam.

DUAK!

Baru saja ia sampai di dalam, tiba-tiba kepalanya terbentur sesuatu hingga kakinya limbung dan punggungnya menabrak kusen pintu. Sasuke meringis, ia mengusap hidungnya yang berdarah akibat benturan itu dan mendongakan kepalanya keatas. Dia langsung terpaku, perasaannya mencelos disertai rasa sakit yang menghinggapi relung hatinya.

"Minggir!" desis seorang pemuda bersurai eboni. Matanya yang hitam menyorot benci pada wajah polos Sasuke yang hanya mampu terdiam. "Ku bilang minggir!" Suaranya membentak lagi, kali ini lebih keras, disertai ayunan kakinya untuk menggeser paksa tubuh Sasuke dari depan pintu.

Remaja raven itu lagi-lagi terdiam, dadanya sesak, belum lagi rasa sakit di punggung dan hidungnya yang berdarah, dan jangan lupakan pinggangnya yang mendapatkan tendangan kasar dari Sai untuk menyingkirkannya dari ambang pintu.

Sai memelototinya dengan tajam sebelum melangkahkan kakinya melewati garis pintu utama. Dia sangat muak melihat wajah Sasuke, apalagi mendapati pemandangan menyakitkan antara dia dan Naruto beberapa menit yang lalu. Sai tidak sengaja melihatnya saat hendak pergi ke luar, dan ketika ia hampir membuka kenop pintu, ia mendengar suara Naruto, karena itulah ia mengintipnya dari jendela, namun kejadian selanjutnya sanggup membuat Sai kesal dan gelap mata. Dia melihat Naruto, mantan kekasihnya, mencium bibir Sasuke di depan para pelayan yang berbaris di luar sana. Betapa hatinya merasa sangat panas, dia membenci Sasuke, dan karena kejadian ini Sai jauh lebih membencinya lagi, untuk itulah dia menyambut kepulangan Sasuke dengan sengaja menubrukan tas ranselnya yang super padat dan berat ke wajah tak tahu diri itu.

Melihat kepergian Sai dengan motor besarnya, akhirnya Sasuke memutuskan untuk bangkit. Dia mengusap lebam yang ada di pinggangnya, mengusap darah yang masih mengalir dari hidungnya, dan Sasuke berusaha menahan hatinya yang sakit dengan berjalan cepat-cepat menuju kamarnya. Setelah dia sampai disana pun, perasaannya tak kunjung membaik. Ada sesuatu yang seperti mengganjal, namun Sasuke berniat untuk mengabaikannya. Dia meletakan tas ransel diatas meja belajar, melepaskan dasi beserta blazer sekolahnya, kemudian berjalan kearah jendela bermaksud membuka tirainya. Tetapi pemandangan selanjutnya yang terpampang di depan mata, justru semakin membuat perasaannya kian buruk.

Tiga orang yang tadi mengancamnya di sekolah, tengah berdiri di sebuah dinding di ujung blok sana, tatapan mereka menyiratkan sebuah ancaman, dan salah seorang dari mereka menggerakan tangannya seperti membuat gestur menggorok leher. Mereka seperti ingin menegaskan kalau ancaman mereka bukanlah main-main. Sasuke sadar, sejak awal keputusannya untuk datang ke kota ini memang salah, dan kini ia harus menelan semua pil pahit itu sendirian.

Semua beban yang di terimanya seakan menumpuk di dalam dada.

.

Pagi ini, Sasuke maupun Juugo sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba Olimpiade hari ini. Perlombaan akan di adakan tepat pukul 10.00. Tetapi mereka harus berkumpul di sekolah terlebih dahulu pada pukul 07.00, untuk menerima pengarahan dari beberapa guru di sekolah.

Sasuke dan Juugo sekarang sudah berkumpul di ruang kepala sekolah. Disana sudah ada Sarutobi Hiruzen yang tidak lain adalah kepala sekolah mereka, dan juga Kurenai sensei yang tidak lain adalah guru SAINS mereka. Keduanya diberi pengarahan terlebih dahulu, karena pukul 08.30 nanti mereka akan segera pergi menuju lokasi.

"Pokoknya kalian tidak perlu memikirkan hal lain. Apa yang kalian yakini, apa saja yang melintas di pikiran kalian, itulah yang akan menjadi jawaban kalian. Kalian ingat disana banyak sekali anak-anak pintar. Saya percaya pada kalian, kalian pasti bisa," Itulah pengarahan terakhir yang di berikan Hiruzen kepada Sasuke dan Juugo.

"Baik Pak, kami akan berusaha," jawab Sasuke.

"Yasudah… kalian boleh istirahat di luar, tapi ingat jam setengah sembilan nanti kalian harus sudah ada di depan."

"Baik Pak."

Sasuke dan Juugo pergi dari ruangan itu setelah mendengar pengarahan dari Hiruzen. Mereka berkumpul bersama teman-temannya yang lain, yang ternyata akan ikut ke lokasi perlombaan untuk memberi mereka semangat.

"Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Sasuke kepada Juugo yang hanya membalasnya dengan anggukan.

Sasuke segera meninggalkan teman-temannya yang menuju arah kantin, sementara dirinya memasuki toilet pria yang cukup sepi. Hanya butuh waktu 2 menit untuk Sasuke menuntaskan hasratnya, ia lekas meninggalkan pintu toilet untuk segera berbaur dengan teman-temannya yang lain, namun malang baginya, ketika baru saja ia melangkahkan kaki menuju arah kantin, sebuah balok kayu tiba-tiba saja menghantam kepala bagian belakangnya. Mata Sasuke lekas terpejam erat menahan rasa sakit, ia ingin melihat siapa yang telah memukulnya, akan tetapi pandangannya langsung berubah kabur. Erangan kesakitannya terdengar cukup lirih, dan Sasuke berusaha keras untuk memegangi kepalanya yang sakit. Telapak tangannya segera basah, dan ia lebih dari cukup tahu untuk menebak cairan apakah yang mengalir deras di kepalanya.

Sasuke terjatuh, kakinya mendadak lemas dan gemetar. Dia melirik kearah telapak tangannya yang tergeletak pasrah di lantai, terdapat bercak merah kental berbau anyir. Ia terlalu shock, juga lemas untuk sekedar menjerit bahkan berteriak. Kegelapan total lekas membungkus pandangannya yang beriak bagai air.

.

"Kalian berangkat jam berapa?" tanya Suigetsu yang sedang duduk berhadapan dengan Juugo di kantin.

"Setengah sembilan," Ia melirik arloji di tangannya. "Sebentar lagi… Tapi kenapa Sasuke begitu lama di toilet?"

"Kenapa tidak kau susul saja? Biar kami yang menunggu disini," saran Karin. "Jika nanti Kurenai sensei datang, kalian sudah siap dan bisa langsung berangkat."

Juugo mengangguk. Sebenarnya dia juga berpikiran hal yang sama, meskipun di dalam hati ia merasa janggal, Sasuke tidak mungkin berada di dalam toilet selama ini, kalaupun tiba-tiba ia ingin pergi kesuatu tempat di sekolah, pemuda raven itu pasti mengabarinya. Juugo menggacak pelan rambut poninya, hatinya mendadak tak tenang. Mungkin memang sebaiknya dia menyusul Sasuke saja.

Sembari berlari, Juugo mencari keberadaan Sasuke di dalam toilet, tetapi cowok raven itu tak ada di bilik manapun. Juugo juga mencarinya ke perpustakaan, ruang guru, taman belakang, tapi tetap saja Sasuke tidak ada dimanapun. Ia mendadak resah, kekhawatiran segera menyelimuti batinnya.

"Aku tidak bisa menemukan Sasuke di manapun. Sudah ku cari dia ke dalam toilet, perpustakaan, taman belakang, dan tempat-tempat lainnya di sekolah, tapi dia tak ada," Juugo menghampiri teman-temannya di meja kantin dengan napas putus-putus sehabis berlari. "Apa sejak tadi dia belum juga menemui kalian?"

Karin dan Suigetsu saling berpandangan dan tak lama mereka menggeleng secara bersamaan.

"Tidak biasanya Sasuke menghilang seperti ini. Aku takut terjadi apa-apa dengannya," Wajah Juugo berubah frustasi dan penuh kecemasan.

"Tunggu… kalian tenang dulu," sergah Suigetsu berusaha menenangkan Juugo dan Karin yang mulai terlihat panik. "Kita berpencar saja, siapa tahu kita bisa menemukannya."

Keduanya pun mengangguk setuju dengan usulan Suigetsu. Tanpa berpikir panjang lagi, mereka bertiga mulai berpencar, mencari keberadaan Sasuke juga mencemaskan keadaannya. Dalam hati mereka berdoa semoga firasat buruk yang mereka rasakan tidak benar-benar terjadi.

Ketiga remaja itu memasuki setiap kelas dan ruangan-ruangan yang terdapat di sekolah, termasuk gudang yang ada di bawahpun tak luput dari pencarian mereka. Namun, Sasuke rupanya belum juga di temukan. Tak hanya sampai disitu, mereka juga mencarinya di setiap lapangan olahraga yang terdapat di sekolahnya, tapi tetap saja hasilnya nihil, tak ada sosok Sasuke dimanapun, hanya ada ranselnya saja di dalam kelas, tidak dengan sang pemilik.

"Bagaimana? Kalian menemukan Sasuke?" tanya Juugo saat mereka sudah berkumpul kembali.

Suigetsu dan Karin hanya menggeleng.

"Sial! Bagaimana ini?" Juugo tampak frustasi, dia kebingungan memikirkan keberadaan Sasuke. Tentu saja ini aneh dan ia yakin pasti terjadi sesuatu hal yang tidak baik pada teman ravennya itu.

"Kau tenang dulu, Juugo," kata Suigetsu tak kalah panik. Tapi kemudian ia berhenti ketika mendapati Kurenai sensei yang berjalan cepat menghampiri mereka.

"Juugo, kau harus bersiap-siap, 5 menit lagi kita akan berangkat," Mata hazel sang guru meneliti sekitarnya. "Dimana Sasuke?"

Ketiganya saling pandang dan menggeleng secara serempak. "Kami tidak bisa menemukan Sasuke dimanapun, sensei," Karinlah yang akhirnya menjawab.

"Apa? Mungkin… mungkin Sasuke ada di kelasnya, atau dia sedang berada di toilet?"

"Kami juga sudah mencarinya kesana, tetapi Sasuke tetap tidak ada," sahut Suigetsu lesu.

"Kalian yakin?" Terlihat perubahan ekspresi di wajah Kurenai. "Kita harus segera menemukan Sasuke," Kurenai yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya mulai beranjak menemui kepala sekolah yang sedang mempersiapkan bus untuk keberangkatan mereka. "Pak, kami memiliki masalah."

Mendengar ucapan Kurenai, Hiruzen segera berbalik dan menatapnya heran. "Masalah? Masalah apa?"

"Sasuke menghilang."

Hiruzen yang mendengarnya segera mengerutkan keningnya. "Menghilang? Tidak mungkin jika tiba-tiba dia menghilang. Kalian sudah mencarinya? Sebentar lagi kita semua akan berangkat."

"Kami sudah mencarinya kemanapun, tapi Sasuke tidak juga ditemukan," sahut Juugo, disebelahnya Karin mulai tampak berkaca-kaca, gadis itu menggigiti kuku jarinya seperti kebiasaannya ketika sedang panik. Suigetsu yang berada di sebelahnya pun mencoba untuk mengusap bahu sang gadis yang hampir saja terisak.

"Kalau begitu kita semua harus mencarinya lagi. Para guru dan murid juga akan membantu, ayo semuanya berpencar," Sesuai perintah dari Hiruzen, para guru dan murid segera berpencar untuk menemukan Sasuke. Tapi tidak dengan Karin, Juugo, dan Suigetsu yang masih tetap berdiri disana, di karenakan gadis berambut merah itu mulai menangis dan kedua pemuda itu tengah berusaha menenangkannya meski mereka juga mencemaskan keadaan Sasuke.

Mereka benar-benar panik, sebentar lagi seharusnya mereka sudah berangkat, tapi Sasuke tetap saja tidak ketemu. Di tengah suara isakan tangis Karin, terdengar bunyi ponsel yang bergetar di saku roknya. Dengan lemas dan mata yang masih berair, gadis itu meraihnya, dan mendapati nama Kurama di layar touchscreen itu.

"Kak Kurama…," Karin tergugu, dia meremas ponsel yang berada di telinganya juga meremas rok sekolahnya sampai kusut. Kurama yang belum sempat menyapa adik sepupunya, kini mulai mengerutkan dahinya di sebrang sana.

"Ada apa, Karin? Apa ada masalah? Kami baru saja ingin menyusul kalian ke perlombaan."

"Sasuke… Sasuke menghilang kak… kami tidak bisa menemukannya dimana-mana. Kami bahkan sudah berpencar untuk mencarinya, tapi kami tetap tidak bisa menemukan keberadaannya," Suara Karin terdengar begitu sumbang. Juugo dan Suigetsu yang ada di sebelahnya hanya mengusap bahunya yang terus bergetar.

"Apa? Sasuke menghilang?" Di sebrang sana Kurama langsung berdiri dari kursinya. "Kalau begitu aku akan segera menghubungi Itachi. Kau tunggu kami disana, kami akan segera datang."

Belum sempat Karin menjawab, Kurama sudah mematikan sambungan telepon mereka. Dengan masih menggunakan pakaian dinas, Kurama segera meraih jaketnya yang tersampir diatas kursi dan pergi bersama 2 anak buahnya. Di tengah perjalanan, dia mencoba menghubungi Itachi yang juga harus tahu tentang hal ini.

"Ada apa, Kyu?" Suara Itachi terdengar dari sebrang sana.

"Itachi, kau sudah berangkat ke sekolahnya Sasuke?" tanya Kurama langsung.

"Aku masih berada di kantor, ada beberapa file yang belum kuselesaikan. Memangnya ada apa?"

"Ada masalah, Karin bilang Sasuke tiba-tiba saja menghilang. Pokoknya kau harus kesana sekarang, aku juga sedang berada di perjalanan."

"A-Apa? Oke, aku akan segera kesana," Itachi segera menutup teleponnya. Tanpa menghiraukan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani, Itachi langsung bergegas bersama beberapa orang pengawalnya dan juga Kisame.

.

20 menit kemudian, mobil Kurama memasuki halaman sekolah, Di ikuti dengan 3 mobil Itachi yang menyusul dari belakang, 1 mobil di tengah adalah mobil yang dinaiki Itachi dan Kurama, sedangkan 2 mobil yang berada di depan dan belakang, adalah mobil pengawal.

Itachi, Kurama, dan Kisame langsung turun menghampiri Karin yang masih sesegukan di temani Juugo dan Suigetsu di masing-masing sisi tubuhnya. Kedatangan mereka rupanya menjadi pusat perhatian seluruh siswa dan siswi, dimana tahun saat mereka masih bersekolah di sekolah ini, mereka sangatlah terkenal. Tidak ada yang tidak mengenal mereka.

"Karin, dimana Sasuke?" tanya Itachi panik yang sudah berdiri dihadapan ketiga remaja itu.

"Aku tidak tahu kak… Sasuke tiba-tiba saja menghilang. Juugo bilang sebelumnya Sasuke sempat pamit ke toilet dan sampai sekarang dia tidak kembali lagi," sahut Karin serak. Perhatian Itachi dan yang lainnya segera terpusat kearah Juugo.

Seakan mengerti arti dari tatapan itu, Juugo segera menjelaskan kejadian kronologisnya pada mereka. "Begini… setelah kami mendapatkan pengarahan di ruang kepala sekolah, Sasuke berpamitan kepadaku untuk ke toilet, dan akupun menunggu dia bersama Karin dan Suigetsu di kantin, tetapi setelah lama kami menunggunya, Sasuke tidak juga kembali, dan akhirnya kami berinisiatif untuk mencarinya dengan cara berpencar."

Itachi mulai menghela napas berat dan terlihat memijit keningnya yang terasa berdenyut sakit. Disampingnya, Kurama juga terlihat melakukan hal yang sama.

"Apa kami harus mencarinya, Tuan?" tanya salah satu pengawal Itachi yang ada di belakangnya.

"Mereka sudah mencarinya beberapa kali, tidak ada gunanya kalau kita mencari lagi, dan kalaupun Sasuke ada, dia pasti sudah ikut berkumpul bersama mereka disini," ungkap Kurama menyuarakan analisis di kepalanya.

Itachi lagi-lagi menghela napasnya. Dia menumpukan sebelah tangannya di pinggang, dan yang sebelahnya lagi berusaha mengusap keningnya seperti tengah berpikir. Disaat yang bersamaan, Shisui datang membuyarkan lamunan Itachi.

"Bagaimana dengan Sasuke, kak?" Shisui terlihat panik, dia memang sudah mendengar semuanya dari Itachi melalui telepon.

"Dia belum juga ditemukan," jawab Itachi pelan, dia masih mempertahankan posisinya dan semakin berpikir keras.

"Kalian sudah mencarinya di gudang? Mungkin saja kan Sasuke terkunci di dalam sana," usul Kisame yang sedang merangkul bahu adiknya, Suigetsu.

"Kami juga sudah mencari Sasuke disana kak, dia tetap tidak ada," kata Suigetsu lesu.

Itachi kembali berpikir dan terus berpikir. Dia berusaha untuk tenang meskipun dia sedang panik karena mencemaskan Sasuke. Dan tiba-tiba saja suatu tempat terlintas di dalam benaknya. Tempat itu dulunya sering dia kunjungi bersama Kisame dan Kurama sewaktu masih di sekolah dulu, tak lupa dengan Yahiko yang pada saat itu masihlah sahabat akrab mereka bertiga. "Ada!" Seruan spontan Itachi, mengalihkan perhatian rekan-rekannya, juga beberapa pasang mata di sekitar. Dia lekas menatap Kurama dan Kisame sembari menaikan alisnya, lalu tak lama ia mengangguk pelan. Seakan mengerti dengan isyarat itu, keduanya hanya tersenyum simpul sembari mengikuti langkah Itachi dari belakang.

"Kak, kalian tahu dimana Sasuke?" bisik Suigetsu pada Kisame. Mereka rupanya juga mengikuti langkah Itachi bersama para guru yang nampaknya juga penasaran.

"Di gudang," jawab Kisame singkat.

"Gudang?" Suigetsu tampak semakin bingung. Karena semua gudang sudah di periksa, tapi Sasuke tetap tidak ada.

Suigetsu mencoba untuk tidak bertanya. Dia terus mengikuti Kisame, dan ternyata mereka pergi ke belakang sekolah. Yang mereka tahu disana tidak ada lagi ruangan. Mereka sempat bertanya-tanya sebenarnya Itachi mau kemana, Namun ketiga pria itu terus saja diam dan berjalan. Sampai akhirnya mereka sampai di sudut, dan itu mempunyai jarak yang cukup jauh dari sekolah. Terlebih lagi mereka sangat kaget ketika melihat di balik dinding itu, ada sebuah ruangan kecil yang tidak pernah mereka tahu.

"Aku tidak pernah tahu tempat ini," bisik Suigetsu pada Juugo.

"Akupun juga sama," balas Juugo yang hanya diam terpaku.

Tanpa berpikir panjang, Itachi langsung menggedor pintu itu. "Sasuke… Sasuke… kau ada di dalam?" Dia terus saja berteriak dan menggedor-gedor pintu itu. Tapi, tetap tak ada jawaban siapapun dari dalam. Itachi menoleh kearah dua temannya, dan mereka hanya mengangguk seperti mengisyaratkan sesuatu.

Dengan cepat, Itachi langsung mendobrak pintu itu bersama Kurama. Keduanya seakan tidak menghiraukan pakaian mereka yang kotor terkena debu yang menempel di dahan pintu. Mereka terus saja mendobrak, hingga dobrakan yang ketiga, pintu itupun akhirnya terbuka. Itachi dan Kurama sempat terjatuh menghantam lantai, tetapi mereka tidak menghiraukam rasa sakit yang mendera di badan, melainkan keduanya langsung terlihat panik karena mendapati sosok yang di carinya ternyata memang benar ada di dalam.

Sasuke ada disana, tergeletak diatas lantai kotor dengan mata terpejam erat, entah bagaimana dirinya bisa berbaring di tempat ini, yang pasti saat ini Itachi merasa takut terjadi apa-apa pada Sasuke, karena itulah dia berlari dan lekas memangku kepala adiknya yang ternyata berdarah. Kedua telapak tangan Itachi bergetar, dia menatap nanar Shisui yang juga ikut berlutut dengan ekspresi panik.

"Darah…," ucap Itachi lirih, memandangi kedua telapak tangannya yang terkena darah Sasuke. "Shisui, Sasuke berdarah…."

Kurama yang mendengar hal itu segera mendudukan tubuh Sasuke dan melihat luka di kepalanya. "Ini hanya luka kecil, tenanglah Itachi, Shisui," katanya, lalu berpaling kearah adik sepupunya, Karin. "Kau membawa minyak angin?"

Karin mengangguk sambil merogoh saku roknya, kemudian ia memberikan sebuah botol kecil berisi minyak angin beraroma mint yang biasanya ia gunakan untuk menggosok keningnya jika lelah membaca di perpustakaan.

Setelahnya Kurama segera bertindak cepat, dia menuang sedikit cairan dari botol kecil itu di telapak tangannya kemudian menggosoknya sebentar, lalu mulai mendekatkannya ke hidung Sasuke. Tak sampai 2 menit, Sasuke tersadar, perlahan dia membuka kelopak matanya yang memberat, dia mendesis merasakan sakit yang menusuk-nusuk di bagian kepalanya yang di pukul. Pandangannya mengitari sekitar, mendapati banyak guru dan murid yang berada di hadapannya, lalu ia lekas melirikan matanya keatas, melihat raut cemas, Itachi, Shisui, Kurama, dan Kisame yang memandangnya.

"Ka-Kak…," panggil Sasuke, bibirnya lagi-lagi meringis saat Kisame membantunya untuk duduk tegak. Itachi lekas mencium pipinya, berusaha untuk mengusir rasa takut yang masih menggelayuti hatinya. Namun, Sasuke hanya tersenyum, dia menggerakan tangannya untuk mengusap mata Itachi yang terlihat berkaca-kaca. "Aku tidak apa-apa."

Semua orang yang mendengarnya tak langsung bernapas lega, mereka tahu luka di kepala Sasuke meskipun hanya luka benturan kecil, tetapi tetap saja akan terasa sakit jika di gerakan. Sekarang giliran Shisui yang bertindak, dia mengusap kepala Sasuke untuk melihat seberapa parah lukanya, setelah itu dia menerima sebuah kotak P3K yang diberikan oleh salah seorang pengawal kepadanya. Diapun mengobati luka itu pelan-pelan dan tak jarang Sasuke akan meringis saat merasakan perih yang langsung di dekap erat tubuhnya oleh Itachi. Shisui juga merasa tidak tega, tetapi dia tetap melilitkan perban untuk menutupi luka itu, kemudian dia merekatkan ujungnya dengan menggunakan plester.

"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Shisui halus, Sasuke menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Itachi dan Shisui begitu lega melihat keadaan sang adik.

"Kak, aku kan mau lomba," ucap Sasuke sembari menatap Itachi yang sedang merapikan rambutnya.

"Kita batalkan saja ya? Seragammu kotor, dan keadaanmu juga tidak baik. Aku tidak apa-apa jika kau tidak sanggup, mungkin ini bukan kesempatan baik untuk kita," kata Juugo, lalu berlutut di hadapan Sasuke.

"Tidak, kita harus kesana, Juugo. Aku sudah tidak apa-apa, aku bisa," Sasuke meyakinkan Juugo, kemudian dia berpaling kearah Shisui. "Kak, ini jam berapa?"

"09.30," jawab Shisui singkat, tangannya mengusap debu kering yang menempel di leher belakang Sasuke.

"Kita masih memiliki waktu 30 menit. Kau yakin, kau bisa Sasuke?" sambung Kurama.

"Aku bisa kak," sahut Sasuke yakin.

"Baiklah, kita akan kesana," Itachi berujar pasrah. Dia beranjak dari posisinya sembari membantu Sasuke berjalan. Tubuh adiknya masih agak lemah, karena itulah dia merengkuhnya, berusaha membantunya berjalan bersama dengan Shisui yang berada di sisi kiri Sasuke.

Dengan waktu yang tersisa, mereka semua pergi ke tempat tujuan. Termasuk Suigetsu dan Karin.

.

Di sisi lain, Arashi, Kamikiri, dan Jigumo, duduk di bawah pepohonan dengan napas yang tidak teratur.

"Kami takut, Arashi, yang kita hadapi sekarang itu, Sasuke, keluarganya pasti akan bertindak tegas begitu tahu kalau kitalah yang mencelakai dia," ujar Jigumo yang masih mengatur napasnya.

"Benar, ini berbahaya untuk kita. Aku tidak mau dipenjara," sambung Kamikiri yang juga merasa takut.

"Kalian itu bisa diam tidak sih? Jangan jadi pengecut, kita kan sudah sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Kenapa kalian harus takut?" bentak Arashi yang sebenarnya juga merasa takut.

"Tapi dia terluka… kau tahu kan kalau Uchiha Itachi tidak akan pernah melepaskan siapapun yang telah melukai adik-adiknya? Siapapun tidak akan bisa lolos darinya," sergah Jigumo gemetar.

"Benar apa yang dikatakan oleh Jigumo. Sewaktu kasus pemukulan Uchiha Sai dan Uchiha Shisui saja, dia terlihat sangat murka. Dan kabar yang ku dengar, para pemukul itu masih di penjara sampai sekarang," lanjut Kamikiri.

"Kalian ini… berhentilah berpikiran macam-macam! Kalian pikir aku tidak takut? Aku juga tidak bermaksud melukai Sasuke. Semuanya terjadi begitu saja. Niatku hanya untuk membalas, bukan untuk mencelakai," Mata Arashi nampak berkaca-kaca, dia merangkul kedua temannya yang masih bergetar ketakutan. "Pokoknya apapun yang terjadi nanti, kita akan menerima dan menjalaninya bersama-sama."

"Tapi Arashi—"

"Dengar… kita tidak bisa lari. Kita sudah terlanjur melakukan ini, dan kita jugalah yang memulai. Jadi, kita harus menerima apapun yang terjadi nanti," ucap Arashi yang begitu bijak untuk pertama kalinya.

.

Naruto yang baru saja keluar dari ruang ujian segera tersentak mendengar kabar mengenai Sasuke yang terluka. Dia bahkan berencana untuk menyusul ke tempat lomba itu di adakan, tetapi karena masih adanya mata kuliah penting yang harus dia hadiri, mau tak mau Naruto menuruti perkataan Kurama untuk bersabar dan menunggu sekembalinya mereka di rumah Itachi.

"Tapi, Kyu… kau harus memenjarakan pelaku pemukulan Sasuke, atau aku akan menghancurkan ruang kerjamu," ancam Naruto tak main-main. Di sebrang sana Kurama hanya menghela napas berat mendengar nada egois sang adik.

"Dengar Naruto… tanpa kau mengancamkupun aku akan tetap memenjarakan orang itu. Kau pikir Itachi dan Shisui akan rela begitu saja membiarkan si pelaku lolos?"

Naruto berdecih sembari melangkah menyusuri lorong koridor. "Kalau begitu, setelah perlombaannya selesai, kau harus segera mengusut tuntas masalah itu."

"Tenang saja… aku bahkan sudah mendapatkan beberapa bukti yang tertinggal di gudang rahasia itu. Jadi… berhentilah bersikap berlebihan seperti Itachi, aku ini polisi jadi memang sudah tugasku untuk menangkap pelaku tindak kriminal, bodoh!"

"Cih! Dasar rubah merah jelek. Ngomong-ngomong dimana Sasuke sekarang?" Setelah sampai di ujung lorong sepi, Naruto segera duduk di kursi panjang yang tersedia di sepanjang lorong Fakultas.

"Dia ada di mobil belakang bersama kedua kakaknya. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin, Sasuke terlihat pucat dan beberapa kali dia hampir limbung ketika berjalan tadi."

"Jangan remehkan Sasuke-ku!" dengus Naruto dengan nada mencibir.

"Hei! Sejak kapan dia menjadi Sasuke-mu?" protes Kurama.

"Itu bukan urusanmu, Bodoh! Ya sudah aku juga harus bersiap-siap menjalani mata kuliah selanjutnya. Sampai nanti, dan sampaikan salamku untuk Sasuke."

"Hm, baiklah… jaa~"

Sambungan telepon telah terputus. Naruto mendesahkan napas lega mendengar Sasukenya ternyata baik-baik saja, meskipun kepalanya terluka, setidaknya dia masih bisa mengikuti Olimpiade yang sangat ditunggu-tunggunya sejak kemarin. Mungkin dengan cara ini, Sasuke bisa membuktikan pada dunia bahwa dirinya tidak jauh berbeda dengan ketiga kakaknya yang lain.

"Kau terlihat lega. Padahal kulihat tadi kau begitu panik," sergah sebuah suara dari arah belakang. Naruto tidak berniat berbalik, dia justru hanya mendengus karena ia sudah dapat menebak sosok siapakah yang sedang berada di belakang punggungnya.

"Dan kau seperti tidak peduli. Padahal aku yakin kau mendengar seluruh isi percakapanku," ketusnya, "Ada apa, Sai?" Naruto segera berbalik dan menatap malas sosok Sai yang sedang berdiri bersandar di tiang bangunan.

"Tidak ada," sahutnya dingin.

"Kau tidak cemas? Sasuke baru saja di celakai seseorang."

"Itu bukan urusanku."

Naruto mencibir disertai dengusan sinis yang terdengar dari bibirnya. "Ah, aku lupa… kau kan sangat membencinya. Lagipula untuk apa juga aku berdebat dengan orang keras kepala sepertimu."

Tanpa sadar Sai mengepalkan tangannya mendengar hal itu. Tapi dia tak berniat memukul Naruto karena bersikap begitu menyebalkan, Sai hanya diam membiarkan Naruto berjalan melewatinya begitu saja.

.

Mereka sampai di gedung yang amat besar tempat Olimpiade itu dilaksanakan. Suasananya sangat ramai, semua murid-murid dari sekolah Internasional ada di sana. Bahkan para wartawan pun juga ada. Bukan hanya untuk menerima hasil siapa pemenang Olimpiade itu, tetapi tujuan utama mereka, karena mereka tahu Sasuke ikut dalam Olimpiade itu.

Baru saja mereka turun dari mobil, para wartawan itu sudah menutupi jalan mereka. Para wartawan yang haus akan berita segera mengambil foto Itachi, Shisui, dan Sasuke yang ada di hadapan mereka. Berbagai pertanyaan mereka lontarkan, tetapi tak ada satupun yang berhasil di jawab, karena yang terpenting adalah mereka bisa masuk untuk mengejar waktu 5 menit yang tersisa. Kurama beserta 2 anak buahnya dan juga para pengawal Itachi berusaha untuk menghalangi para wartawan dan memberi jalan pada Itachi dan kedua adiknya untuk masuk ke dalam.

Sementara itu di dalam, acara hampir saja akan dimulai. Beruntung Sasuke dan Juugo datang tepat waktu. Mereka segera mengambil tempat yang sudah di sediakan, sedangkan Itachi dan yang lain mengambil tempat di lantai dua untuk menonton.

Pada soal pertanyaan yang pertama dan kedua, sempat di lewatkan begitu saja oleh Sasuke karena dia masih merasakan pusing di kepalanya hingga membuat dirinya tidak fokus. Tapi mengingat akan hadirnya Itachi dan Shisui disini, Sasuke mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan menahan rasa sakit yang didera.

Seiring berjalannya waktu, Sasuke dan Juugo mulai tenang dan menjawab pertanyaan dengan cepat dan benar, membuat semua orang yang ada di sana terkagum-kagum karena kecerdasan dua pemuda itu. Itachi dan Shisui yang melihat itu pun ikut tersenyum bangga.

.

Suasana tegang terpancar di gedung yang amat besar tempat Olimpiade itu di laksanakan. Para peserta juga sudah duduk berbaris untuk menunggu pengumuman pemenang. Juugo menggenggam kedua tangannya seperti sedang berdo'a, sedangkan Sasuke sendiri mencoba bertahan atas rasa sakit yang mulai terasa di tubuhnya. Kepalanya pun mulai terasa sakit, dan tak lama Sasuke merasa tubuhnya mulai berkeringat dingin. Tetapi dia tetap berusaha tersenyum saat Juugo menatapnya.

"Baiklah… kami sudah mendapatkan hasilnya dari para dewan juri. Kalian semua adalah murid-murid yang pintar. Disini saya bisa melihat poin kalian saling kejar-mengejar. Tetapi siapapun pemenangnya kalian semua tetaplah yang terbaik. Dan sekali lagi saya tegaskan, tidak ada kecurangan dalam Olimpiade ini. karena ini hasil murni dari usaha kalian selama ini. Sekarang saya akan mengumumkan juara ketiga yang mendapatkan 80 poin, dan mereka adalah… SMA Tatsuno!" Sorakan dan tepuk tangan mengisi ruangan itu. para peserta juga saling memberikan ucapan selamat.

"Juara kedua mendapatan 85 poin, mereka adalah... SMA Chukyo!" Sorakan itu kembali terdengar, dan di atas panggung sekarang sudah ada dua pemenang.

"Baik… sekarang adalah saat yang di tunggu-tunggu. Saya juga sangat takjub, atas hasil yang didapatkan anak-anak ini," Suasana semakin menegang. Terutama Itachi yang sangat berharap kalau piala itu jatuh kembali ke tangan pihak sekolahnya dulu.

"Juara pertama dengan nilai 99 poin…," Semua orang saling bertatapan. 99 poin bukanlah angka yang kecil. Bahkan itu adalah angka yang mendekati sempurna.

"Seperti tahun kemarin… Horikoshi Gakuen kembali mendapatkan juara bertahan!" Teriakan sang moderator semakin mengisi keramaian yang ada di ruangan itu. Semua orang berdiri memberikan tepuk tangan yang meriah. Itachi dan Shisui nampak berpelukan diatas sana, mereka sangat senang. Kurama, Kisame, dan semuanya meloncat kegirangan seakan menambah riuhnya suasana yang tercipta di dalam gedung. Sedangkan Sasuke dan Juugo hanya saling bertatapan, mereka tidak pernah menyangka akan mendapatkan hasil semaksimal itu.

Semua pasang mata menatap ke arah mereka. Sasuke dan Juugo berdiri dan naik ke atas panggung. Mereka menerima uang tunai yang cukup besar, ditambah dengan piala yang sangat besar. Tak hanya itu, mereka juga mendapat santunan karena menjadi juara terbaik tahun ini. Sasuke diberikan Microfon untuk memberikan sambutannya, dan ia seketika merasa sangat gugup, namun Sasuke mencoba untuk tenang dengan merangkai kalimat-kalimatnya di dalam otak.

Sebelum menyuarakan apa yang hendak dia sampaikan, Sasuke sempat menghela napas panjang terlebih dahulu, kemudian barulah ia menatap para penonton yang nampak begitu penasaran dengan apa yang akan ia katakan di depan sana.

"Prestasi ini bukanlah sepenuhnya milik saya. Jika tidak ada teman-teman dan orang-orang yang saya cintai mendukung langkah saya, saya tidak mungkin bisa sampai di tempat ini. Berkat mereka saya menjadi yakin, jika saya bisa, dan karena mereka jugalah saya berani menghadapi dunia luar," Tanpa sadar Sasuke meneteskan airmatanya saat mengucapkan hal itu. Dia melirik Itachi dan Shisui yang terpaku di tempatnya kemudian berujar lirih sembari menggenggam piala yang ia dapatkan bersama Juugo. "Kak Itachi… Kak Shisui… terima kasih… Piala ini… untuk kalian. I love you."

Kedua pria yang dimaksud oleh Sasuke tersenyum haru mendengarkan lantunan kalimat yang menggetarkan itu. Sementara blitz-blitz kamera wartawan berlomba-lomba memotret Sasuke yang sedang meneteskan airmata di atas podium sana.

.

Kepulangan mereka, ternyata sudah menjadi incaran para wartawan. Sejak Sasuke memberi sambutan, mereka segera merekam, bahkan mereka juga mengambil foto Sasuke saat memegang piala, tetapi mereka tidak puas hanya sampai disitu. Mereka ingin mewawancarai Sasuke langsung, tapi Shisui segera melindunginya. Para pengawal dan polisi yang sudah memberi jalan, dimanfaatkan Shisui untuk segera membawa Sasuke masuk ke dalam mobil. Dia segera menutup pintu mobil tanpa memberi kesempatan para wartawan menanyainya tentang ini-itu.

Tidak berhasil mendapatkan Sasuke, mereka mengincar Itachi. "Itachi-sama kita bisa berbicara sebentar dengan Sasuke?" pinta salah satu wartawan penuh harap, saat Itachi sudah berada di depan pintu mobilnya.

"Maaf ya… Sasuke sedang tidak enak badan," jawab Itachi sekenanya sembari tersenyum tipis.

"Bagaimana perasaan Anda atas kemenangan Sasuke?"

"Sebagai kakak, saya merasa sangat bangga. Dia sudah menunjukkan yang terbaik. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin hingga mendapatkan hasil yang sempurna."

"Selamat ya atas kemenangan Sasuke."

"Ya, terima kasih juga atas partisipasi kalian semua." Setelah mengucapkan itu Itachi segera masuk ke dalam mobilnya. Meskipun masih banyak yang harus wartawan itu pertanyakan, namun mereka harus pasrah saat para pengawal Itachi berusaha untuk menahannya. Mereka semuapun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

.

"Sasuke!" Di depan pintu rumah, Naruto menyambut kedatangannya sembari berlari cepat menghampiri Sasuke. Bocah raven itu baru saja keluar dari dalam mobil, dan ia tidak terlalu siap mendapatkan pelukan super erat dari Naruto, alhasil pijakan kakinya limbung dan nyaris saja terjatuh jika Naruto tidak mendekapnya cukup erat. "Kau baik-baik saja?" bisiknya sambil mengusap bahu sempit yang nampak rapuh di dalam pelukannya.

"Hn, hanya benturan kecil, Dobe," sahut Sasuke malas, memutar matanya melihat rona khawatir yang berlebihan di raut kekasih pirangnya.

"Kecil?" tanya Naruto tak setuju. Dengan sengaja ia mencolek luka yang terbalut oleh perban di kepala Sasuke, sampai si empunya mengaduh kesakitan sembari memberinya pelototan super tajam.

"Itu sakit!"

"Kau bilang hanya luka kecil?" Naruto mencibir dan segera menggiring Sasuke untuk masuk ke dalam. "Jangan berlagak sok kuat, Teme."

"Aku tidak bermaksud begitu, kau saja yang terlalu berlebihan, Dobe."

Kikikan kecil terdengar dari sela-sela bibir Naruto yang terbuka. Segera saja ia melancarkan kecupan di kening Sasuke hingga membuat ketiga pria di belakang mereka menatap shock tidak percaya.

"Na-Naruto?" Kurama mengedipkan matanya berkali-kali, lalu melihat punggung lebar adiknya berbalik disertai cengiran menyilaukan dari wajah sang adik.

"Kenapa Kyu? Kau terlihat begitu kaget?" Cengiran itu berubah menjadi seringaian.

"Kau… mencium… sasuke?"

"Memangnya kenapa?" Naruto mengecup kening Sasuke lagi yang lantas mendapatkan sikutan sadis dari si raven tercinta. Namun Naruto menutupi rasa sakitnya dengan tertawa kering, dan sebagai pembalasan ia mencuri ciuman lagi di bibir Sasuke sembari menggigitnya gemas.

"Aw!" Ringisan Sasuke membuat Itachi khawatir. Faktanya adik Kurama satu itu memang sedikit agresif dan juga hiperaktif. Sewaktu berpacaran dengan Sai dulu, Naruto memang tidak terlalu segemas sekarang, karena itulah Itachi berpikir kadar agresif Naruto meningkat selama dia dekat dengan Sasuke.

"Baka! Ku bunuh kau Naruto!" Raung Kurama yang hendak bersiap-siap menjitak kepala pirang Naruto. "Sasuke itu adiknya Itachi, Bodoh! Setelah Sai, kau ingin memacarinya juga, heh? Dasar pirang serakah!" serunya mencak-mencak.

Naruto meringis mendengarnya. "Dimana wibawamu sebagai polisi, Kyu? Kau tampak bodoh jika bersikap seperti itu. Lagipula aku dan Sasuke memang sudah berpacaran. Dia milikku. Dan kau terlambat untuk memperingatiku."

Pernyataan spontan Naruto sukses membuat ketiga pria di hadapannya terkejut. Itachi, Kurama, dan Kisame, melebarkan sedikit bola matanya, yang hanya di tanggapi kikikan geli beserta juluran lidah nakal Naruto.

"Aku selangkah lebih maju dari kalian," Sekali lagi Naruto menjulurkan lidahnya sembari menggeret Sasuke masuk ke dalam, lebih tepatnya kamar si bungsu yang berada di lantai 2. Meskipun kelihatannya Naruto masih sempat bersikap konyol, namun dalam hatinya ia masih sangat mengkhawatirkan raut pucat Sasuke. Mungkin kekasih ravennya itu memang membutuhkan banyak istirahat untuk sementara ini.

.

Setelah memastikan Sasuke beristirahat di kamarnya dengan di temani oleh Naruto, Itachi segera menggiring masuk Kurama dan Kisame ke ruang kerja pribadinya. Mereka duduk dengan saling berhadapan, dan ekspresi santai yang semula terukir di wajah mereka, berubah menjadi ekspresi serius bercampur tegang.

"Aku akan segera mengatakan hasil penyelidikanku," kata Kurama, yang semakin membuat kedua temannya penasaran. Dia menghela napas panjang sebelum mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, dan menaruhnya diatas meja. Menjadikan benda logam berbentuk bintang segi enam itu sebagai pusat perhatian mereka saat ini. "Benda ini di temukan di dalam rongsokan mobil ayahmu, Itachi."

Itachi menatap nanar benda itu, ia meraihnya dengan tangan yang gemetar dan menelitinya dengan seksama. Itachi memutar benda itu seakan sudah mengetahui siapa pelaku penyebab kematian ayah kandungnya.

"Paman Madara?" Suaranya terdengar parau, entah kenapa dadanya mendadak sesak ketika mengetahui bahwa orang terdekatnyalah yang ternyata menjadi dalang kematian ayah tercintanya.

"Ada satu hal lagi… supir Fugaku-san saat itu dalam keadaan tidak sadar. Kami menemukan kadar alkohol yang cukup tinggi di dalam tubuhnya. Tetapi kami belum tahu pasti, apakah dia memang meminum minuman beralkohol itu, atau ada seseorang yang sengaja mencampurkan minumannya dengan alkohol."

"Sebelum mereka pergi. Supir Fugaku-san memang sedang minum. Tapi dia hanya minum air mineral biasa," jelas Kisame angkat bicara.

"Kalau begitu benar dugaanku. Minuman itu sudah di campur dengan alkohol."

"Tapi bukannya jalanan itu sepi?" lanjut Kisame.

"Ya, jalanan itu memang sepi, tapi dugaanku disaat dia sudah terpengaruh oleh alkohol, sebuah mobil melaju dari arah depan mencoba untuk mengalihkan konsentrasi si supir, dan karena dalam pengaruh alkohol yang cukup tinggi, sulit untuknya mengendalikan mobil itu. Hingga terjadi lah kecelakaan tersebut," jelas Kurama yang mencoba menggali penyebab kecelakaan itu.

Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Itachi, lidahnya benar-benar kelu, dan dia nampak begitu terpukul mendengar penjelasan ahli dari kekasihnya yang menjabat sebagai Komandan di kepolisian. Itachi terus memegangi dahinya. Dari awalpun sebenarnya dia memang sudah curiga dengan peragai sang paman, tapi tetap saja rasanya begitu shock mengetahui sebuah kebenaran yang selalu berusaha ia tepis sekuat tenaga. Tapi meski begitu Itachi masih menganggap Madara sebagai Pamannya. Mungkin Itachi memerlukan sedikit waktu untuk menenangkan kekalutan batinnya, hal ini sejak awal memang cukup berat untuknya.

.

Di sisi lain. Shisui sedang tidur di pangkuan Deidara. Mereka menikmati suasana di taman itu. Tangan-tangan halus Deidara terus membelai rambut Shisui. Dia ikut senang atas kemenangan Sasuke dalam Olimpiade bergengsi itu. Tapi berada di dekat Shisui, cukup membuat Deidara resah. Karena ucapan Madara kemarin di kedai buah milik usaha keluarganya.

"Kau yang bernama Deidara?" tanya Madara angkuh, dia melirik sinis kedai buah pinggiran jalan yang sedang di jaga oleh pemuda berambut pirang panjang itu.

"Ya, saya Deidara, maaf Anda siapa?"

Lelaki itu mendengus sinis. Dia memerintahkan para anak buahnya lewat kerlingan mata, dan dalam sekejap saja, orang-orang berjas rapi itu mengelilingi kedai Deidara lalu mulai menghancurkannya tanpa ampun.

"Ap-Apa yang Anda lakukan?!" pekiknya histeris. "Tolong… jangan lakukan ini. Kami hanya pedagang kecil, Tuan… ku mohon jangan hancurkan usaha keras ayahku untuk membangun tempat ini!" Isakan dan teriakan berbaur dalam suaranya yang serak. Deidara berlari menerjang salah seorang pengawal Madara yang sedang menginjak-injak buah jeruk yang menggelinding ke aspal jalan. "Hentikan!"

Grab! Bukannya Deidara yang berhasil menghentikan tindakan orang-orang itu, justru dirinyalah yang di lumpuhkan dengan kedua sisi tubuh yang di tahan dan di kunci oleh lengan-lengan kekar dua orang pengawal bertubuh besar. Dia memberontak tapi tenaganya tak cukup kuat, di tambah rambutnya kini menjadi sasaran jambakan orang-orang jahat itu.

"Tolong… hentikan… jangan menghancurkan tempat ini… siapa sebenarnya kalian? Dan apa maksud tujuan kalian melakukan hal ini padaku?"

Madara melangkah maju, tangannya mencengkeram rahang pemuda cantik itu dan mendekatkan wajah liciknya tepat di depan raut memelas Deidara. "Siapa aku? Dan apa mauku?" Ulang Madara dengan senyum iblisnya. "Kau pasti pernah mendengar nama Uchiha Madara bukan?" Pertanyaan itu sontak melebarkan kedua iris biru Deidara. "Ya, benar… akulah Uchiha Madara, paman kandung dari lelaki yang saat ini tengah kau rayu dan dekati. Sebenarnya permintaanku sederhana Deidara… cukup jauhi Shisui dan tinggalkan dia secepat yang kau bisa. Atau… kau ingin nasib kedua orangtuamu juga seperti kedai ini?" Melihat Deidara yang menggeleng sambil berurai airmata, memunculkan senyum kemenangan di bibir Madara. "Bagus kalau kau mengerti. Memang sebaiknya kau tidak menentangku atau nasib keluargamu menjadi abu di tanganku. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jauhi Shisui dan tinggalkan dia. Aku jauh lebih tahu tipe pemuda seperti apa kau ini? Makhluk rendah sepertimu mana pantas bersanding dengan seorang Uchiha!" katanya congak penuh dengan nada arogansi. Setelahnya Madara menghempaskan rahang Deidara dan mengisyaratkan para anak buahnya melepaskan pemuda itu dan meninggalkannya yang terkulai seorang diri di pinggir jalan, dalam kondisi kedai yang tak berbentuk lagi dengan ceceran buah-buah rusak di sekitarnya.

Lamunan Deidara buyar saat Shisui memanggilnya.

"Dei…," Telapak tangan sang Uchiha mengusap halus wajahnya sambil masih terbaring nyaman di pangkuan Deidara.

"Hm?" gumamnya yang sangat terdengar jelas.

"Kenapa kau diam?"

"Aku hanya senang melihatmu yang bercerita dengan wajah ceria seperti itu."

"Hn," Shisui mengangguk, perhatiannya tertuju kearah langit memperhatikan arakan awan putih diatas sana. "Aku sangat bahagia. Dulu Sai yang sudah membuatku bangga, dan sekarang Sasuke. Mereka bahkan sama-sama mendapatkan nilai yang hampir sempurna."

"Sasuke memang pintar, dia tidak berbeda dengan kalian," kata Deidara sembari tersenyum.

Shisui pun ikut tersenyum. Dia menarik tangan Deidara dan menggenggamnya erat. "Dei… kapan kau siap kuperkenalkan dengan kak Itachi?"

"Nanti… saat keadaannya sudah mulai tenang. Aku hanya takut hal ini menambah beban di bahu kak Itachi."

"Maksudmu?" Sebelah alis Shisui menukik tinggi.

"Aku hanya pemuda miskin yang tidak memiliki apa-apa. Kami tidak sebanding dengan kalian—"

"Dei—"

"Bukankah hubungan ini terdengar mustahil?"

"Dei… apa yang kau katakan," Mata onyx Shisui mendelik tidak suka. Dia bangkit dari posisinya dan duduk berhadapan dengan Deidara yang sedang menunduk murung. "Setelah satu tahun kau baru mengatakan hal ini? Bukankah sudah kukatakan kak Itachi bukanlah orang yang memandang rendah status sosial orang lain, dan bagiku kau lebih tinggi dari yang orang bayangkan," Tatapannya berangsur lembut. Jari-jemari Shisui mengelus pelan tulang hidung Deidara.

"Tapi, jika seandainya kita harus berpisah—"

Shisui tak mendengarkan ucapan Deidara selanjutnya karena dia memang tak ingin. Bibirnya dengan cepat mengunci mulut Deidara lalu mendekap tubuhnya dengan posesif, seolah-olah Shisui ingin menegaskan kalau dia tidak akan pernah melepaskan Deidara atau membiarkan hubungan mereka berakhir begitu saja.

"Ugh!" Shisui tiba-tiba meringis dan melepaskam ciumannya. Tangan berusaha menekan lambungnya yang terasa nyeri. Dia lupa kalau sejak pagi tadi dia belum memakan apapun, mungkin penyakit maag-nya sudah lambuh karena kelalaiannya sendiri.

"Ada apa?" tanya Deidara panik.

"A-ahh… Aku tidak apa-apa," sahut Shisui mulai pucat.

"Kau pasti lupa makan kan? Dasar ceroboh! Seharusnya kau makan dulu, bukannya menjemputku disini. Sekarang ayo cepat pulang lalu makan!" desak Deidara yang mulai membantu Shisui untuk bangun kemudian memapahnya sampai mobil.

.

Sehabis memastikan Shisui sampai di rumahnya dengan selamat, Deidara mulai melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumahnya sendiri. Melalui via telepon, Shisui mengabari kalau dirinya sudah makan lalu minum obat pereda sakit maag, dan tanpa babibu lagi Deidara segera menyuruhnya untuk tidur. Shisui memang tidak memprotesnya, tapi entah kenapa ia cukup berat untuk memutus sambungan telepon itu sendiri.

Sesampainya Deidara di pekarangan rumahnya yang kecil, ia di kejutkan oleh suara barang-barang yang di lempar menghantam tanah. Deidara tentu saja sangat kaget, apalagi saat ini mendengar suara jeritan histeris ibunya, juga suara teriakan sang ayah pada seseorang entah siapa.

"Ayah… Ibu… ada apa ini?" tanyanya yang tidak mengerti. Di depan pintu rumahnya terdapat beberapa orang pria yang melempar keluar semua perabotan di dalam rumahnya. "Apa yang kalian lakukan? Hentikan!" Deidara menjerit keras lalu berusaha menghentikan tindakan orang-orang itu dan malah mendapatkan pukulan menyakitkan di wajahnya. Tubuh kurus Deidara terlempar menghantam pot tanaman hingga pecah.

"Dei!" pekik sang ayah yang begitu panik melihat putranya mengaduh sakit setelah jatuh dipukul oleh salah satu orang berbaju hitam itu.

"Ugh! Ayah… kenapa mereka mengeluarkan barang-barang kita dari dalam rumah?" tanya Deidara sambil masih meringis sakit. Sang ibu ikut berlutut dan mengusap pipinya yang lebam kebiruan.

"Maafkan ayah, Dei…," Wajah sang ayah bertambah sendu ketika menatapnya. "Mereka menyita rumah kita karena ayah tak mampu membayar hutang."

"Hutang?" Deidara masih juga belum mengerti. "Tapi bukankah ayah bilang hutang kita sudah lunas?"

Sang ayah mengangguk lemah lalu menambahkan. "Seharusnya begitu, tapi kata mereka ayah belum membayar bunganya hingga akhirnya membengkak. Ayah tak punya uang lagi untuk membayarnya setelah mengganti semua kerusakan yang ada di kedai kita."

Mata biru Deidara nampak berkaca-kaca. Ia memeluk ibunya yang tiba-tiba terisak lalu mencium keningnya. "Maafkan aku… ini semua salahku…."

"Kau tidak salah, nak."

"Tidak! Ini salahku!" Deidara segera bangkit dan menerjang orang-orang itu dengan brutal. "Hei! Katakan pada bos kalian untuk berhenti melakukan hal ini. Aku akan menuruti apa yang diminta oleh pria brengsek itu!"

"Sudah terlambat. Sekarang enyahlah!" Salah seorang dari mereka membalas pukulan Deidara. Bahkan dua orang menahan kedua sisi tubuhnya yang terus memukul liar dan memberontak, mereka mengeroyok Deidara yang hanya sendirian tanpa ampun sampai kedua orangtua Deidara menjerit histeris dengan memohon-mohon pada mereka agar putranya di lepaskan.

"Uhuk!" Bercak darah keluar dari dalam mulutnya membasahi sebagian telapak tangannya yang bergetar. Deidara merasa seluruh tulangnya remuk dan ada beberapa bagian yang mungkin bergeser. Kedua orangtuanya tak henti-hentinya menangis dan mengusap lebam yang menghiasi tubuh anaknya.

"Sekarang pergilah dari kota ini dan jangan pernah berniat untuk kembali lagi!" bentak orang-orang itu sembari menarik paksa Deidara dan orangtuanya untuk pergi dari tempat itu.

.

Shisui terlonjak dari kasurnya ketika membaca pesan singkat yang di kirimkan oleh Deidara 5 menit lalu. Dengan gerakan cepat dan terkesan buru-buru, Shisui meraih jaket di dalam lemari kemudian segera berlari keluar kamar untuk menuruni tangga. Dia bahkan mengabaikan panggilan Sasuke yang pada saat itu sedang menaiki tangga sambil memegang segelas air di tangannya. Dia terus saja berlari, mengeluarkan mobilnya dari dalam bagasi kemudian meluncur ke tempat Deidara berada sekarang ini. Shisui berharap semoga semua yang Deidara katakan melalui pesan singkat itu hanyalah sekesar lelucon bodoh yang baginya tidak lucu sama sekali. Tidak mungkin Deidara memintanya putus setelah seharian ini mereka menghabiskan waktu luangnya bersama-sama.

Setelah keluar dari dalam mobilnya yang terparkir asal di taman itu, Shisui segera berlari lagi untuk menghampiri sosok Deidara yang menunggunya di kursi taman favoritnya. Lelaki cantik itu mengenakan sweeter rajutan berwarna biru dengan syal putih polos yang melingkari leher jenjangnya. Dengan cepat Shisui menggenggam tangannya hingga membuat Deidara tersentak, lalu tak lama pemuda bermata biru itu terpaku melihat ekspresi pucat di wajah kekasihnya, beserta lelehan peluh, dan napas yang putus-putus.

"Katakan… hhh… kalau kau… ha…nya… bercanda… hhh… Dei," pinta Shisui di tengah sulitnya ia mengatur napas.

Deidara melepaskan genggaman pada lengannya kemudian berdiri. Ekspresi wajahnya terlihat datar, meskipun bekas lebam masih tercetak samar di wajah putihnya. Untungnya remangnya cahaya lampu taman berhasil menyamarkan seluruh luka yang terdapat di tubuhnya.

"Maaf, Shisui, aku benar-benar harus pergi dan mengakhiri hubungan konyol ini."

"Konyol?" ulang Shisui tak terima. Mata onyx nya menyorot tajam iris biru Deidara. "Jangan mengatakan hal bodoh disaat-saat seperti ini Dei. Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh mengatakannya," Nada suaranya meninggi disertai getaran yang entah mengapa membuat dadanya serasa sesak.

"Kenapa tidak?" tantang Deidara, lagi-lagi ia menangkis tangan Shisui yang berniat menggenggamnya. "Aku sudah tidak berniat melanjutkannya, ini terlalu monoton lagipula aku sudah mendapatkan pengganti yang lebih mampu memuaskan keinginanku di bandingkan dirimu. Dengan ini aku menyatakan bahwa aku telah selesai, terima kasih atas kebaikanmu selama ini."

Tanpa menyadari ada nada getar dalam suara Deidara, Shisui langsung terpaku dengan pandangan yang kosong menatap suatu tempat entah apa. Ucapan itu seperti halnya sebuab tombak yang menusuk telah relung hatinya hingga menghancurkan serpihannya tanpa sisa. Shisui menatap nanar punggung Deidara yang semakin bergerak menjauh. Dia tak bisa menerimanya, dia tak ingin menerimanya. Shisui ingin mengejar Deidara tetapi rasa sakit di perutnya kembali terasa hingga membuat langkah kakinya goyah.

"Dei! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Shisui sambil meringis memegangi perut. "Kau tidak bisa melakukannya!" Dia terus meneriaki Deidara yang tetap melangkah ke depan tanpa berniat menoleh untuk melihat keterpurukannya. "DEIDARA!"

Teriakan kencang Shisui rupanya tetap tak juga membuat Deidara berbalik. Pemuda itu terus melangkah pasti membelah kegelapan malam. Satu yang tidak diketahui oleh Shisui, airmata sudah mengalir deras di kedua pipi Deidara sejak ia memutuskan untuk meninggalkan Shisui tanpa mengatakan kejadian yang sebenarnya. Ini memang sudah menjadi keputusannya. Semua demi keselamatan ayah, ibunya. Jika seandainya Deidara tetap egois untuk mempertahankan Shisui, maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadi korban. Ia tidak mau hal itu terjadi. Disetiap pijakan langkahnya kini seperti menghantarkan ribuan jarum yang menusuk-nusuk otot syaraf telapak kakinya. Deidara tak sanggup untuk berjalan, ia ingin berbalik, memeluk Shisui, membisikan kalau semua yangcia katakan adalah bohong belaka. Tapi… ia tak bisa. Seseorang yang diutus oleh Madara menyaksikan semua gerak-geriknya dari salah satu pohon yang ada di kawasan taman itu.

.

.

Tbc

.

.

Fic ini ga bakal nyampe 20 chapter kok, episode selanjutnya mungkin Sasuke yang bakalan nangis2 karena di dzolimin Sai. Nyahaha~