Disclaimer : I do not own Naruto.

Warning : OOC

Rating T untuk adegan dan kearoganan yang tidak boleh ditiru tanpa ada bimbingan dari orang tua.

Untuk Hiburan.


Nasty Temper

The Feelings

Ino membuat pemuda pucat tampan itu bisa merasakan emosi-emosi baru, yang membentuk perasaan yang sedang dinikmatinya saat ini.

Seorang Sai juga adalah lelaki tulen. Jadi wajar saja jika ia menyenangi rasa ciuman dengan gadis itu. Atau malah, bisa jadi ia merasa ketagihan.


Seerrr.

Deru friksi batang rerumputan yang dihembus angin merembet ke seluruh ruang pori-pori mikro atmosfir.

Kriik. Kriik.

Suara tungkai serangga yang saling bergesekan mulai memecah keheningan suasana sehabis senja itu.

Jejak dua pasang kaki terdengar pelan menghantam tanah.

Yamanaka Ino tidak biasanya jadi pendiam semenjak Sai tiba-tiba saja menciumnya di tepi tebing, barusan. Selama perjalanan menuruni tebing dan melalui jalan setapak lembah itu, Ino lebih memilih untuk tetap bungkam seribu bahasa.

Pikirannya berkabut dan badannya terasa sempoyongan. Kedua belah pipinya masih merona, barangkali akibat side effect yang ditimbulkan akibat ciuman pertamanya direnggut. Untung lelaki yang menciumnya itu adalah calon suaminya kelak, yang tampan, keren dan seksi. Jadi Ino tidak terlalu merasa kecolongan. Toh, cepat atau lambat, nantinya mereka akan menikah juga. Kejadian seperti ini bisa dianggap hanya sebagai 'pemanasan'. Maka dari itu, seharusnya Ino mampu bersikap biasa saja, kan? Seharusnya sih iya.

Suasana saat itu sudah gelap, sehingga ia bisa menyembunyikan pipi ranumnya yang sedang kemerahan. Ino dengan susah payah memijaki permukaan lembah yang mereka lewati untuk sampai pada petakan kebun bunga Yamanaka. Untuk tetap berdiri tegak saja, tubuhnya mengandalkan topangan tangan Sai yang sedari tadi menggenggam erat tangannya.

Malam sudah sepenuhnya menggelap. Bintang-bintang bertaburan di langit semesta. Angin semilir menggoyangkan daun pepohonan, dan menyapu tangkai-tangkai kecil hamparan bunga daisy. Seharusnya suasana indah perbukitan yang mengelilinginya ini mampu membuat otot-ototnya santai, jiwanya damai dan batinnya tenang. Tetapi semua pemandangan itu malah terasa kabur dari penglihatan manik biru Ino yang ikut menggelap seperti cahaya malam. Jantungnya tidak bisa diajak kompromi, karena masih saja berdebar.

Disamping si gadis, Sai tetap tampak kalem seperti pembawaannya yang biasa. Sebenarnya, Sai juga sedang terkena side effect yang sama dengan si gadis. Hanya saja karena si pemuda memang sudah dari sananya irit bicara dan banyak diam, makanya jadi tidak kelihatan. Satu tangan Sai yang sedang memegang smartphonenya diangkat sejajar kepala berambut hitamnya. Sekedar untuk menerangi jalan setapak lembah yang sedang mereka lewati, dengan cahaya flashlight yang dipancarkan salah satu lubang di handphonenya itu. Netra gelapnya fokus memperhatikan permukaan tanah yang sedikit terjal dan berbatu, satu tangannya yang lain memastikan keselamatan gadis disampingnya.

Dalam hati, Ino diam-diam berharap Sai akan salah memilih jalan sehingga membuat mereka tersesat dan berputar-putar lebih lama mengilingi tempat tersebut. Jujur saja, meski suasana batinnya sedang teramat sangat kacau dan canggung, Ino suka rasa genggaman tangan mereka yang terasa hangat ditengah dinginnya malam seperti ini. Kehangatan tersebut seolah menjalar merata ke seluruh tubuhnya.

Tapi sayang sekali, walaupun agak berkelok, namun satu-satunya jalan setapak yang sedang mereka lewati itu menjanjikan jalan utama petakan kebun bunga Yamanaka yang terbentang beratus meter di depan mereka. Tanpa arahan dari si gadis pun, Sai dapat mengantarkan kembali diri mereka ke cottage kebun dengan selamat.

Ino menghembus-hembuskan pelan napasnya, mencoba untuk mengatur kembali ritme respirasinya saat Sai tiba-tiba berhenti melangkah. Pemuda itu memutar tubuhnya untuk menghadap si gadis, membuat Ino mendongakan kepala bersurai pirangnya.

Segera si gadis melonjak ketika melihat kulit wajah Sai yang pucat itu berpendar terang saat terciprati satu-satunya cahaya dari sinar senter ponsel Sai. Rupanya si gadis yang sedang melamun itu kaget saat melihat sosok kepala pucat si pemuda, tampak seperti vampir yang tiba-tiba menyembul dari kegelapan malam. Duh, pikirannya yang kacau berpadu dengan realitas situasi kikuk yang sedang ia jalani ini.

Tubuh Ino yang tiba-tiba oleng hampir terjengkang ke belakang jika tangan Sai tidak cepat-cepat menarik tubuh si gadis, membuat tubuh ramping itu menghantam tubuh depan Sai.

Bruk.

"Kau kenapa?" tanya Sai, kaget melihat gadis yang biasanya enerjik itu kehilangan kontrol atas diri dan tubuhnya.

Ino yang bengong menjawab sambil napasnya mengap-mengap. "Jangan mengagetkanku seperti itu!" si gadis sempat mengusap dadanya sebelum meninjukan kepalan tangannya ke dada si pemuda.

Sai merengut. "Kau seharusnya tidak membiarkan pikiranmu kosong dalam keadaan seperti ini, Ino."

Si gadis mengernyit sambil mendongak, belum mengatakan apapun lagi. Memangnya salah siapa lamunan Ino melayang kemana-mana?

Sai menghela napas. Ia membantu gadis itu untuk kembali menegakkan tubuhnya. Sambil menyodorkan handphone yang sedang digenggamnya kepada Ino, Sai berkata. "Pegang ini."

Huh? Alis pirang Ino sempat naik, tetapi si gadis tetap meraih telepon genggam hitam yang masih mengeluarkan cahaya itu.

Kemudian, tanpa aba-aba Sai mengangkat tubuh Ino dalam satu ayunan, dan menggendongnya ala bridal style.

"Kyaa!" Ino menjerit akibat gerakan tiba-tiba itu, membuat Sai kembali menempatkan manik onyxnya menemui aquamarine Ino.

Dahi Sai berkerut ketika merasakan tubuh si gadis yang menegang. "Pegangan yang erat." pinta si pemuda.

Oh Tuhan, apalagi kali ini? Sai sedang menggendongnya? Ino yang sedang tercengang langsung berkata gelagapan, "A-apa yang kau lakukan?"

"Menggendongmu." jawab Sai.

Yaelah. Tentu saja Ino tahu kalau dirinya sedang digendong. "K-kenapa?" tanyanya, masih terbata.

"Kau terlihat lelah. Bahaya membiarkanmu jalan sendiri." jelas si pemuda.

Si gadis menahan napasnya. Pipinya kembali tersipu. Jantungnya masih berpacu. Salah siapa batinnya terasa lelah, coba?

Lutut Ino sedaritadi memang terasa lemas, bukan akibat kelelahan karena lama berjalan, tapi karena satu alasan lain. Karenanya, tanpa protes lebih lanjut, Ino langsung melingkarkan lengan kanannya di bahu Sai. Tangan kirinya mengacungkan ponsel milik Sai untuk menerangi jalan yang akan dilangkahi si pemuda.

Ino langsung menatap ngeri jalanan gelap di depan sana. "Kau yakin mau melewati jalan ini sambil menggendongku, memangnya kau kuat?"

Bukannya menjawab, si pemuda malah balik bertanya, "Memangnya, kau yakin bisa jalan sendiri? Kau hanya akan memperlambatku, nantinya."

Ino mendengus. Memang si gadis tidak yakin jika dirinya tidak akan terjengkang lagi. "Pasti susah, kan."

"Ini mudah saja. Lagipula," Pemuda itu tersenyum tipis. "Ternyata tubuhmu tidak seberat kelihatannya ya, Ino."

Ino kembali meninju pelan dada Sai. "Perhatikan saja langkahmu, tuan. Kau akan terima akibatnya jika sampai menjatuhkan tubuhku."

Ino bersikap tsundere padahal batinnya menahan rasa senang. Sai hanya merespon dengan tawa. Ia mempererat pelukannya dan mulai memijaki jalan setapak itu dengan hati-hati sambil tetap memegangi tubuh si gadis.

Sepertinya, acara jalan-jalan sore yang singkat itu mampu memberi sebuah sentuhan berarti pada hubungan mereka kedepannya.

X X X

Suara langkah bergema riuh di sepanjang koridor.

Puluhan pasang kaki hilir mudik.

Ketukan heels berbagai jenis sepatu pria dan wanita saling meredam satu sama lain.

Hari kerja terakhir di minggu itu membuat sibuk gedung perusahaan Shimura Anbu Root.

Seorang CEO muda berwajah tampan dan berkulit pucat tengah mengepalai sebuah briefing. Ia memberikan pengarahan pada seluruh kepala divisi tentang proyek yang sedang mereka emban. Pembawaan dan penampilan mengesankannya membuat seluruh anggota pertemuan di salah satu ruangan lantai 35 itu, baik wanita ataupun pria, tua dan muda, tak ada yang mampu mengalihkan perhatian mereka dari sosok pemimpin rapat singkat itu.

Tak pernah ada yang akan mengira, bahwa di suatu tempat di atas bumi yang mereka pijak ini, ada seorang nona yang pernah mengatai pemuda itu 'mempunyai masalah kepribadian'. Bahkan, sepertinya mereka tidak akan pernah mempercayai rumor yang mengatakan bahwa pemimpin mereka itu pernah gagal menikah karena ditinggal lari oleh pengantinnya.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, ternyata.

"Sekian pertemuan hari ini. Saya meminta kerjasama dari semua pihak untuk kelancaran proyek ini." Dua kalimat tersebut mengakhiri pertemuan yang berlangsung, dan mengundang tepuk tangan dari seluruh hadirin.

Brief meeting tersebut selesai dalam waktu yang lebih cepat dari biasanya.

Sekretaris pribadinya merupakan orang terakhir yang tinggal dalam ruangan eksklusif tersebut setelah seluruh karyawan lain meninggalkan ruangan. Wanita berambut pendek itu segera pamit keluar ruangan, setelah menyimpan berkas dan notulensi rapat di meja kerja sang CEO.

Sai menyandarkan punggungnya di kursi putar saat pekerjaan terakhirnya ini berakhir. Untuk pertama kalinya, semenjak pemuda itu diangkat menjadi CEO perusahaan raksasa Shimura 4 tahun lalu, si pemuda merasa ingin cepat-cepat menyelesaikan seluruh rapat yang ia pimpin.

Jawabannya ada dalam laci meja kerjanya.

Benar.

Sai menarik laci itu. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah katalog bisnis, membuka jilidnya, lalu menatap isinya lekat-lekat. Itu adalah rutinitasnya selama 2 hari belakangan ini. Ingin cepat-cepat ditinggalkan sendirian sekedar untuk memandangi katalognya dalam waktu yang lama.

Baru pertama kali Sai memiliki ketertarikan mendalam pada sebuah katalog fashion.

Ceritanya dimulai di pagi hari kemarin.

Sebelum Sai menghadiri serangkaian rapat kerjanya, sekretarisnya mengangkat setumpuk berkas dari loker milik sang bos. Wanita berambut hitam itu memilah dan membereskan perkamen-perkamen penting tersebut. Ia hendak memindahkan sejumlah katalog, saat ujung iris Sai menandai sebuah nama familiar tersemat di salah satu jilid berkas tersebut.

Ternyata sebuah katalog fesyen, dari perusahaan Yamanaka.

Sai sudah sering membaca katalog Yamanaka'grup, pula membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kerja sama mereka dengan perusahaan besar tersebut. Jadi dirinya memang sudah tak asing lagi dengan nama perusahaan pemiliknya. Terlebih, belakangan ini, nama marga Yamanaka menjadi sangat sensitif untuknya.

Dengan cepat Sai meminta sekretarisnya untuk menyerahkan berkas bisnis tersebut.

Sai sedikit membisu saat ia melihat sampul katalog. Disana memang tertulis nama Yamanaka, namun katalog yang dipegangnya saat itu jelas berbeda dengan katalog-katalog mereka sebelumnya. Bukan Katalog bisnis Yamanaka Flofash alias Yamanaka Florist and Fashion seperti biasa, namun yang tersemat disana adalah Yamanaka Floral, dengan desain katalog yang juga jelas berbeda.

Apa mereka berganti nama atau tema? Atau mengembangkan anak perusahaan baru, barangkali?

Yang jelas jawabannya ada di dalam isi katalog tersebut.

Sebelum membuka lembarannya, Sai sempat melirik tanggal yang tersemat di sudut kanan katalog itu. Segera dirinya menaikan alis. Tanggal 4 minggu lalu. Waktu dimana Sai, bahkan belum 'cukup mengenal' Keluarga Yamanaka secara pribadi alias saat sebelum terjalinnya perjodohan. Tapi, kenapa ia belum pernah melihat katalog ini sebelumnya?

Ah. Saat itu Sai sedang sering-seringnya dinas keluar kota. Terlebih, ada cukup kencan buta yang harus ia hadiri, dirinya tidak sempat.

Duh. Ini adalah kali pertamanya juga ia mempermasalah-besarkan saat dirinya melewatkan sebuah katalog bisnis di bidang fesyen.

Dimulailah Sai membuka halaman katalog eksklusif berisi 10 halaman itu.

Halaman pertama, menjelaskan mengenai profil produk.

Oh. Ternyata Yamanaka Flofash sedang mengembangkan produk besar baru.

Yamanaka'grup selalu menyertakan 2 bagian berbeda di katalog bisnis mereka. Yaitu bagian khusus segala tentang perbungaan, florist, dan bagian khusus lain tentang produk penampilan, fashion.

Produk yang sedang ditatap onyx Sai saat itu jelas merupakan sebuah produk fesyen, yaitu desain-desain berbagai macam baju, namun produk tersebut juga termasuk pada produk flora, karena membubuhkan gambar banyak jenis bunga. Jelasnya, floral adalah sejenis fabric dengan desain pola serat bunga. Floral adalah codename sejenis kain dari bahan dasar struktur bunga. Perpaduan antara penampilan dan alam. Itu yang dijelaskan katalog mengenai pengertian produk baru mereka tersebut. Semacam kain organik seperti kain sutera yang terbuat dari kepompong ulat sutera gitu ya?

Sai membuka lembaran selanjutnya yang menunjukan berbagai pola desain kain itu, menatap lekat pola bunga-bunga yang nampak senyata aslinya. Seketika dirinya mengingat citra seorang gadis. Lembaran-lembaran selanjutnya menampilkan berbagai baju menggunakan kain floral, lalu lembar selanjutnya lagi . . . Sai tiba-tiba terpaku.

2 halaman katalog itu penuh menampilkan gambar close up seorang model.

Seorang gadis tengah memandang tajam ke arah si pemuda dengan satu manik birunya. Seluruh sisi kanan wajahnya tertutup oleh poni rambutnya, termasuk manik birunya yang lain. Poni pirang pucatnya disatukan oleh sebuah lilitan renggang salur tumbuhan merambat. Warna pirang pucat rambutnya, warna coklat ranting yang membalut poninya, berpadu dengan warna hijau dedaunan yang menghiasi ranting salur memberikan kesan kedalaman hutan tropis yang tak terjamah. Manik biru cerahnya berpendar merefleksikan warna langit yang tak bisa tersentuh. Kulit putih di pipinya yang memerah dan rangka hidungnya yang dipertegas menggunakan make up cokelat seolah menggambarkan pemandangan perbukitan diantara lahan landai.

Bibir merahnya dibiarkan merenggang, memberikan kesan seksi dan menantang. Sebuah mahkota perpaduan bunga melati dan aster disematkan dikepalanya. Satu tangannya diletakan di atas puncak poninya, sambil menjepit sebuah tudung kain floral yang menyelubungi kepala blondenya. Tangannya yang lain di tempatkan di rahangnya. Dagunya diangkat. Sebuah kain baju itu pun menutupi seluruh bagian bahunya, hanya lehernya yang dibiarkan terbuka, baju berpola tebaran mahkota bunga mawar di langit abu-abu yang dikenakannya itu menyelimuti tubuh bagian atas si gadis dari konsumsi publik. Seluruh ekspreksi dan pose gadis itu dapat sukses menggoda si penglihat untuk masuk menjelajahi keindahan dirinya dan seluruh keindahan alam yang disematkan pada setiap inchi foto tersebut.

Ekspreksi misterius yang mengundang seperti itu hanya bisa dikeluarkan oleh seorang model profesional.

Sai menelan ludah. Ia berkedip dua kali setelah lama memandangi foto tersebut lekat lekat.

Perlahan ia menggerakan bola mata hitamnya menuju rangkaian kata di halaman atas.

Floral Princess.

Beberapa sentimeter ke bawah, tepat disamping foto si gadis, tertulis kata-kata lain.

Floral's Brand Ambassador dan Fashion Design.

Model. Yamanaka Ino.

Ah, hatinya jadi berdenyut-denyut.

Sai tidak pernah tahu bahwa nona itu adalah seorang model. Ia memang tidak begitu up to date mengenai masalah fashion dan permodelan, karenanya wajar saja bila ia tidak hapal bahkan pada satu atau dua orang model.

Sai juga tidak pernah tahu bahwa Ino dapat berekspresi seperti demikian.

Potret gadis itu sudah sangat menggambarkan perpaduan antara keindahan penampilan dan alam.

Setelah detik itu, Sai langsung memutuskan untuk selalu membawa Katalog tersebut kemana-mana. Padahal, wajah Ino yang terlihat hanya sebelah sisi saja, tetapi efeknya besar sekali untuk kesehatan jantung si pemuda.

Sai sempat bingung dengan obsesi yang sedang ia rasakan sekarang. ia sempat heran dengan aksinya yang entah mengapa tiba-tiba medapat dorogan ingin menyentuh gadis itu. Ia sempat mempelajari kondisinya dengan membaca lebih banyak buku literatur, dan ia dibuat paham sekarang. Salah satu buku tersebut berkata bahwa, dirinya sedang jatuh cinta. Mungkin.

Rupanya begini, rasanya cinta.

Sai tidak pernah tahu, jika ia sempat melihat katalog ini sebelum pertemuannya dengan Ino, apa yang terlihat dari persfektifnya saat itu? Atau, saat pertama berjumpa dengan gadis itu?

Kesan pertamanya terhadap Ino adalah wanita gelamor.

Entah apalah itu. Yang jelas detik ini Sai menganggap gadis itu sebagai suatu seni terindah yang pernah diciptakan Tuhan.

Ino membuat dirinya bisa merasakan emosi-emosi baru yang membentuk perasaan yang sedang dinikmatinya saat ini.

Sambil mengelus-elus pipi mulus Ino di katalog, Sai menarik bibirnya melengkung ke bawah.

Semenjak kencan terakhir mereka di tepi tebing, dan setelah adegan ciuman itu, sosok Yamanaka Ino dengan sukses telah memenuhi benaknya.

Seorang Sai juga adalah lelaki tulen. Jadi wajar saja jika ia menyenangi rasa ciuman dengan gadis itu. Atau malah, bisa jadi ia merasa ketagihan.

Hal tersebut memang bukan sesuatu yang pantas dirutuki, sih.

Sai merengut karena alasan lain. Kencan tersebut adalah kali terakhir mereka bertemu.

Setelah hari itu Sai sama-sekali tidak mempunyai waktu luang. Setumpuk pekerjaan dijejalkan kepadanya. Kakeknya pun entah mengapa tidak menginisiasi dan menyusun pertemuan mereka lagi. Dan lagi, pemuda itu lupa menanyakan nomor ponsel si gadis.

Ah.

Ia bahkan tidak bisa untuk sekedar menghubungi gadis itu.

Kalau tak bisa bertemu dengan orangnya, fotonya pun jadi.

Ngomong-ngomong, tolong jangan beritahu siapa-siapa. Apalagi gadis itu. Ini hanya antara Sai, dan kau yang sedang membaca, ya?

Karena itu ia sembunyi-sembunyi menatap kagum potret si gadis.

. . .

Sebuah sore di hari jumat.

Yamanaka Ino merasa aneh. Sudah dua hari ia merasa sikapnya berubah janggal.

Pertama kalinya ia merasa uring-uringan setelah menjalani beberapa pertemuan kencan buta. Ia akui, partnernya kali ini memang adalah seorang pria yang tampan, keren dan seksi. Juga, polos. Sekarang setelah Ino sedikit lebih mengenal Sai, image polos itulah yang si gadis terapkan untuk pemuda itu.

Setelah insiden di ambang tebing tempo hari, benak Ino seakan-akan menjadi berkabut oleh gas merah jambu.

Untung saat itu, setelah Sai tiba-tiba menciumnya, Ino tidak refleks mendorong jatuh tubuh Sai dari atas tebing. Pemuda itu bisa cerdera, terluka, bahkan mati jika jatuh dari ketinggian sedemikian. Si gadis bisa-bisa menyesal seumur hidup.

Ino mendadak menyimpan rapi foto si pemuda yang dulu pernah diberikan oleh ayahnya, dan membawa-bawanya di dalam dompet.

Ayah dan ibu Ino merasa agak heran dengan sikap anaknya. Tapi mereka bisa sedikit berhipotesa tentang apa yang sedang terjadi pada putri semata wayang keluarga Yamanaka itu.

Semenjak pulang dari kencannya bersama tuan muda keluarga Shimura dua hari lalu, nona Yamanaka itu jadi menunjukan gelagat yang berbeda.

Bisa tiba-tiba jadi pendiam, sebal sendiri, senyum-senyum sendiri, bersenandung ria, dan tambah penuh semangat.

Terutama Ino selalu menjadi mendadak kaku setiap kali sang ibu menggodainya dengan menggumam-gumamkan nama Sai. Perilaku putrinya tersebut membuat Tuan dan Nyonya Yamanaka menjadi kesenangan, sekaligus gagal paham.

"Kalau akhirnya kau bisa kesemsem Nak Sai seperti ini, kenapa dulu kau kabur dari pernikahanmu dengannya segala sih, Ino?" Ibunya bertanya.

"Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Beda cerita. Kalau dulu tidak begitu, bisa jadi sekarang tidak akan begini jadinya." Sahut Ino santai, sambil melenggang anggun.

Orang tuanya tampak masih tak paham dengan apa yang gadis itu ucapkan.

"Jadi kapan kalian bertemu lagi? Cepat bicarakan dengannya, agar kalian berdua bisa segera menikah." Gumam si ayah.

"Benar. Kau bahkan tidak pernah terlihat menghubungi Nak Sai." tambah Si ibu yang bingung dengan minimnya interaksi diantara mereka.

Ziing.

Ino tiba-tiba membatu.

Sebenarnya, si gadis merasa ingin bertemu dengan pemuda itu lagi. Tapi, kalau ingat kejadian tak terduga di kencan kemarin . . . Gara-gara ciuman maut itu Ino jadi takut kalau tiba-tiba ia diserang lagi.

Ia sedikit lega karena si pemuda tidak segera muncul di hadapannya. Si gadis masih harus menata kembali dirinya, dan ia butuh waktu.

Gadis itu hanya tertawa canggung. "Semua butuh proses, kan. Kenapa juga harus buru-buru." Ucap Ino, kaki jenjangnya dilangkahkan cepat-cepat untuk pergi masuk ke dalam kamarnya.

Terlebih lagi, Ino gengsi kalau harus mengakui bahwa dirinya lupa meminta nomor handphone pemuda itu.

X X X

Empat hari berlalu dari kencan pasangan muda si tuan tampan dan nona cantik.

Ino sempat berpikir bahwa si tuan muda pucat mulai naksir dirinya, setelah lelaki itu tiba-tiba saja mencium bibirnya mesra tempo hari. Tapi nampaknya Ino hanya kegeeran sendiri. Buktinya sudah mau seminggu dan sama sekali tidak ada kabar lagi dari si Tuan muda berkulit pucat itu.

Sai pasti lebih memilih untuk mengisi waktu libur akhir pekannya dengan mengunci diri di rumah untuk melakukan kegemarannya. Melukis sampai lupa waktu, dan lupa segalanya. Begitu saja terus sampai tua.

Ino jadi sedikit keki sih. Si gadis memang pernah bilang dirinya butuh waktu, tapi kalau sampai selama ini tetap tak ada kabar, sudah kelewatan juga namanya.

Apa pemuda itu serius menjalin hubungan percintaan dengannya, atau hanya main-main sih?

Tunggu. Apa mungkin sebenarnya pemuda itu memang hanya sedang bermain-main?

Hanya karena sentuhan singkat di bibir, Ino jadi sempat lupa bahwa si pemuda lihai memporak-porandakan hati wanita. Hatinya juga pernah diguncang-guncang.

Si gadis ingat kalo pemuda itu pernah berkata, 'Kau pasti akan berguna untuk mengisi waktu luangku'.

Ah, sial. Nampaknya si pemuda baru akan menemui si gadis hanya jika ia sedang mempunyai waktu luang.

Ino menghabiskan akhir pekannya dengan bergelantungan di hammock. Instruktur aerial yoga-nya, Mrs. Kurenai, menaikan menu latihannya menjadi dua kali lipat. Ino sih bahagia saja. Entah sejak kapan ia mulai menggemari olahraga itu. Ino memakai busana olah tubuhnya, yaitu sebuah kaos oblong berbahan spandex berwarna abu dengan bawahan sebuah legging hitam. Rambut pirang panjangnya diikat dalam sebuah sanggul longgar.

Saat ini, Ino sedang melakukan beberapa gerakan yoga jungkir balik atau inversion pose yang menjadi kegemarannya belakangan ini. Antigravity yoga dapat meminimalisir cidera sehingga ia bisa lebih bebas mengeksplorasi pose yoga tersebut. Si gadis bergelantungan di hammocknya dengan posisi kepala di bawah, tangannya dililitkan pada ayunan sedangkan kedua kakinya dinaikan lurus ke atas. Sanggulan longgar rambut pirangnya kini mulai menjuntai jatuh ke lantai.

Saat hammock digunakan untuk menopang tubuh semampainya, gerakan dimana kepala berada di bawah dan kaki berada di atas atau inversion yoga seperti headstand, handstand dan shoulderstand yang sedang dilakukannya secara berturut-turut ini, memang jadi bisa dilakukan dengan lebih maksimal. Selain baik untuk kesehatan dan bentuk tubuh, katanya gerakan antygravity yoga sangat efektif untuk mengatasi stres dan memberi efek meditasi yang menenangkan pikiran. Sangat cocok untuk mengatasi keadaan pikiran Ino saat itu, yang sedang gundah diakibatkan oleh sikap dingin calon suaminya.

Tapi Ino gengsi untuk menunjukan kelemahannya. Si gadis meluapkan kekesalannya dengan berakrobatik di udara, sambil mengayun-ayunkan tubuhnya di atas lantai selama sisa kelas yoga tersebut.

Senin itu adalah hari pertama kerja di bulan Maret. Perusahaan-perusahaan di seluruh pelosok negeri memulai kembali kesibukannya.

Ino baru akan memulai harinya, saat ia menemukan Sai, pemuda yang sudah 5 hari tidak ditemuinya, kini sedang berdiri di depan pintu kamarnya di lantai dua kediaman Yamanaka.

Ino hampir akan menganga saat Sai tiba-tiba berkata tanpa basa-basi sama sekali.

"Aku perlu pendamping untuk pergi ke suatu acara di suatu tempat." Ujar Sai.

Ino tak sempat berkomentar apapun karena si pemuda keburu menarik lengannya.

. . .

"Kenapa kau tidak menjelaskannya dari tadi sih, aku kan bisa ganti baju dulu di rumah." gerutu Ino, mereka baru saja mampir ke salah satu cabang butik Yamanaka.

"Aku tidak bisa menghubungimu, dari kemarin sampai tadi." Jawab Sai.

Tentu saja. Mereka kan tidak punya kontak masing-masing.

Kini, mobil sport hitam Sai tengah melesat memasuki kawasan indah pegunungan hijau.

Jadi, ceritanya senin ini, hari pertama di bulan Maret ini, Sai ditugaskan oleh Direktur Shimura untuk menyiapkan acara launching resort baru mereka yang telah rampung akhir bulan lalu. Acaranya mendadak sekali, Sai sampai harus menghabiskan seluruh akhir pekannya untuk mempersiapkan acara ini. Pemuda itu bolak-balik ke tengah pegunungan hidden Konoha, tempat resort mereka dibangun. Tempat tersebut merupakan hamparan perbukitan, resortnya sendiri terletak dalam sebuah lembah berhutan rimbun di daerah pegunungan. Shimura Root's Resort and Spa ini menerapkan konsep tradisional modern yang nyaman untuk diinapi dengan fasilitas mewah hotel berbintang. Suasana alam dengan pepohonan hijau yang rimbun serta kamar yang berada di pinggir danau memastikan setiap tamu mendapatkan waktu istirahat yang berkualitas.

Begitu katanya. Dan Ino diminta secara khusus oleh sang Direktur untuk medampingi Sai di acara tersebut.

Ino mendesah pelan.

"Aku pikir kau sudah tidak ingat padaku." gumam Ino, manik aquanya bergerak mengikuti pergerakkan jemarinya yang sedang menggenggam smartphone Sai. Gadis itu tengah memasukkan info kontaknya sendiri ke dalam ponsel si pemuda.

Tidak ada jawaban dari Sai.

Mana mungkin si pemuda tidak ingat, disaat dirinya terus membawa katalog berisi foto gadis itu kemanapun ia pergi.

"Ino."

"Hn." Respon singkat gadis itu, matanya masih berpendar merefleksikan cahaya ponsel hitam si pemuda.

"Kau bekerja sebagai model?" tanya Sai tiba-tiba. Pemuda itu sudah ingin mengajukan pertanyaan ini semenjak 4 hari yang lalu.

Kini Ino menoleh ke arahnya, sambil mengangkat satu alis, "Tidak."

"Hn? Aku melihat fotomu ada di salah satu katalog bisnis Yamanaka."

Sai masih memfokuskan pandangannya ke jalanan di depan, namun satu lengannya dilepaskan dari kemudi untuk menjangkau sebuah katalog yang ia selipkan diantara berkas-berkas penting di samping joknya.

Si gadis menurunkan pandangannya ke arah berkas-berkas tersebut, lalu ekspresinya berubah saat ia melihat sebuah katalog bisnis perusahaan Yamanaka. Gadis itu meraih katalog tersebut, sambil tertawa.

Ino ber-oh pelan. "Aku hanya memodeli katalog khusus untuk high class business Commercial Print."

Pelipis di wajah pucat Sai yang sedang menyamping itu nampak menaik. Jadi, apa bedanya?

Ino sudah membuka lembaran katalog, menyimpan tatapannya di potret wajahnya dalam katalog tersebut.

"Ayah tidak akan pernah mengizinkan keelokan anak gadisnya sembarangan menjadi tontonan publik. Catalog business commercial print ini kan tidak untuk dipublikasikan secara umum. Jadi, aku bukanlah model." Tambah si gadis.

Sai hanya ikut mengeluarkan 'oh' pelan. Ia jadi teringat, bahwa katalog yang ada diruangannya adalah katalog bisnis khusus yang hanya bisa dimiliki oleh petinggi perusahaan. Bahkan berkasnya saja disegel, hanya beberapa orang khusus yang boleh memilikinya.

Artinya, sosok Ino tidak dipakai untuk mempromosikan produknya pada orang awam. Iklan komersial umum akan memakai model profesional yang lain.

Sai mengangguk paham.

"Tapi kau dapat mengeluarkan ekspresi yang bagus." Komentar si pemuda.

Ino tertawa tambah keras. "Ah, tentu saja. Aku paham tema dari pemotretannya, sih. Juga, ayah bilang aku cocok dengan image produknya. Jadi itu urusan gampang."

Sai hanya menatap lurus kemudinya dalam diam, sedikit tidak setuju dengan si gadis. Ekspreksi misterius yang mengundang sekaligus menantang seperti itu hanya bisa dikeluarkan oleh seorang model profesional.

"Tapi yang paling berpengaruh, adalah editan photoshopnya." Tambah Ino. "Aplikasi pengeditan foto itu sungguh menakjubkan."

Hn. Bahkan seorang Sai pun tahu bahwa aplikasi semacam photoshop hanya bisa meningkatkan efek dan kualitas gambar. Namun jika ekspresi, adalah murni berasal dari sang peraga.

Ah, lupakan saja. Kalau begini ia jadi merasa lega.

Berarti tidak sembarangan orang dapat menikmati kecantikan si gadis yang ditampilkan dalam katalog bisnisnya. Entah sejak kapan, Sai menjadi sedikit posesif.

Disampingnya, Ino masih sedang senyum-senyum sambil melihat-lihat desain pola struktur bunga-bunga favoritnya.

Sementara Sai, menginjakkan kakinya di gas, menambah laju mobil balap yang sedang dikendarainya melesat masuk ke kedalaman hutan berbukit.

.

.

.

To be continued . . .


Produk yang ada dalam cerita ini, dan ceritanya sendiri merupakan fiktif belaka.

'Gara-gara ciuman maut itu aku jadi takut kalau tiba-tiba diserang lagi' adalah kutipan kalimat batin Adelia dari my prewedding, komik webtoonnya kak Annisa Nisfihani.

Jadi intinya, chap ini sungguh sangat lebay. Aku juga gak tau kenapa jadi nulis ke arah sini. Tolong jangan ada yang ilfil sama image Sai disini ya. lol. Tapi Sai yang sedang jatuh cinta itu aku suka.

Terimakasih banyak atas ucapan, dukungan dan komentarnya.

Silakan repyu lagi, jangan lupa XD

Kalau kurang dengan momen SaiIno disini, aku bakal kasih banyak di chapter depan hahahaha

Sampai jumpa~

Updated : 15/04/16

(Waktu Indonesia)