WARNING : NO BASH, NO FLAME, TYPO, DON'T LIKE DON'T READ, YUNJAE GS, NO PLAGIAT

Joongiekitty presents~

Kim Jaejoong membolak balik katalog di tangannya sejak setengah jam yang lalu, Junsu dengan handuk di rambutnya yang basah menatap bosan pada sahabatnya "Apa kau hanya akan memandanginya ? segera pilih, aku bahkan sudah selesai sejak tadi Kim Jaejoong" berkacak pinggang mata sipitnya melotot pada gadis cantik yang mengenakan bathrobe salon sama sepertinya. Khusus hari ini Jaejoong mau melakukan perawatan tubuh.

Besok adalah hari pentas mereka dan hari ini adalah hari khusus wanita yang di deklarasikan secara sepihak oleh Junsu hingga para pria mendesah pelan akibat kekeras kepalaan kekasih Park Yoochun yang terkadang diluar nalar manusia.

Bibir Jaejoong mengerucut mendengar suara khas Junsu yang membuat beberapa pekerja salon meringis. Ia masih bingung apakah rambutnya akan diberi warna atau dibiarkan apa adanya. Seunghyun bilang rambutnya sudah bagus tapi Jaejoong juga ingin mencoba sesuatu yang baru.

Ia sangat kagum saat melihat rambut platina Boa yang terlihat begitu apik membingkai wajah mungil gadis yang sering kali mengajari Jaejoong koreografi yang susah ia hafal. Tapi Junsu bilang ia akan terlihat pucat dengan rambut platina, karena kulit Jaejoong putih, medekati pucat. Atau mungkin seperti Junsu yang mengecat rambutnya dengan warna tosca terang, warna yang sangat berani. Namun justru warna itu menonjolkan kesan dewasa pada diri Junsu.

Gadis kekanakan itu berubah menjadi tipe gadis yang akan membuat siapapun menoleh. Bukannya sebelumnya Junsu tidak cantik, hanya saja rambut coklatnya yang lama tidak membuatnya terlihat dazzling seperti saat ini. Apalagi dengan berani gadis itu memotong rambut sepunggungnya menjadi sedikit lebih panjang dibawah bahu. Terlihat begitu fresh.

Dan Jaejoong juga ingin yang seperti itu, ia ingin tampil dengan luar biasa sama seperti teman-temannya yang lain. Bibir Jaejoong semakin mengerucut, ia ingin membuat Yunho terpesona. Sesederhana itu.

Menatap cermin dihadapannya Jaejoong menghela napas. Rambutnya panjang dan lurus, hitam. Dengan poni menyamping, kalau bukan digerai ya ponytail. Mendengus pelan Jaejoong menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Huh…. tidak menarik.

"Apakah ada katalog lain ?" ia bertanya pada pria cantik yang sedari tadi menungguinya. Dengan senyum tipis pria itu beranjak dan kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah katalog berbagai jenis dan warna rambut yang sedikit lebih kusut dari yang sedari tadi ia genggam.

"Ini adalah katalog lama, tapi siapa tahu nona cantik tertarik" suaranya halus dan dipanggil cantik mau tidak mau membuat Jaejoong tersenyum juga. "Apakah ada rekomendasi untukku ?" Jaejoong kembali bertanya saat mendapati Junsu tidak ada disekitarnya.

"Jika nona cantik tidak suka model atau warna yang berlebihan mungkin model-model seperti ini cocok" pria itu membantu membuka bagian yang ia maksud. Warna-warna sederhana dengan model yang cantik.

Mata Jaejoong terpaku pada salah satu gambar, senyum terukir di bibirnya. "Bagaimana dengan yang ini ?" ia tidak bisa menahan binar harapan dimatanya saat mendongak menatap si pria cantik. "Pillihan bagus, rambutmu akan menjadi sangat cantik. Kita hanya perlu merubah warnanya" menerawang menatap Jaejoong lewat pantulan cermin, mencoba membayangkan bagaimana tampilan yang sempurna untuk gadis itu. Jaejoong tersenyum lebar saat mendapati keantusiasan yang sama besarnya pada mata si pria cantik.

Menghela napas gugup Jaejoong berharap hasilnya sesuai dengan apa yang ia harapkan. Jantungnya berdegup pelan saat tangan si pria cantik mulai menyentuh rambutnya. Apakah ia akan terlihat luar biasa? Apakah orang-orang akan menyukainya? Apakah Yunho akan menyukainya?

"Apakah sudah dimulai ?" Yunho dan Changmin menjulurkan kepala mereka mengedarkan pandang melewati kepala-kepala lain yang berdesakan satu sama lain. Meskipun kenyataannya tidak perlu karena tinggi mereka diatas rata-rata. Mereka baru saja menyelesaikan tugas salah satu mata kuliah wajib yang harus mereka serahkan hari itu juga, dosen tua pemarah. Sial

"Itu Yoochun" Yunho menunjuk sebuah titik tidak jauh dari mereka. Dan tanpa dikomando keduanya membelah kerumunan mendekat pada Yoochun yang berdiri bersama Seunghyun dan Yihan, posisi mereka lumayan dekat dengan panggung. Spot yang pas untuk menyaksikan pertunjukan apapun yang ada diatas sana.

"Hyung" Yoochun menyapa saat Yunho berdiri disisinya "Apa kami ketinggalan ?" mata Yunho menatap penuh penasaran ke arah panggung besar yang terletak di tengah-tengah lapangan utama Toho. Acara ini lebih ramai dari yang ia duga, banyak masyarakat umum yang datang karena memang tiket acara ini dijual bebas. Jangan lupakan juga pamflet dan poster yang terpasang di sekeliling area sekolah.

"Tidak, giliran Jaejoong dan Junsu masih sekitar sepuluh menit lagi" ujarnya. Untuk siapa lagi mereka mau repot-repot berdesakan di barisan depan jika bukan demi dua gadis kesayangan mereka itu. Meskipun harus Yoochun akui, banyak hal-hal menarik yang ditampilkan.

Yunho melepas jaket yang ia gunakan, memakai jaket ditengah-tengah kerumunan bukan ide bagus. Menyisakan kaos hitam berlengan pendek Yunho menyampirkan jaket disela-sela tali ranselnya. Yoochun menatapnya penuh minat, melirik tubuhnya sendiri yang berbalut seragam dan tubuh Yunho bergantian.

Matanya bergulir ke samping dan menatap Seunghyun yang bersedekap menatap panggung. Sedikit memiringkan kepalanya Yoochun berucap lirih "Sepertinya aku harus olahraga" Yunho terkekeh pelan mendengarnya. Membuat Yoochun menoleh kaget dan berdehem dengan canggung. "Lupakan hyung" ujarnya sedikit merengut.

"Ya benar, kau harus olahraga. Otakmu hanya berisi gadis saja selama ini" Seunghyun bergumam cuek membuat Yunho tertawa tanpa bisa ditahan. Membuat Yoochun mendelik.

Suara MC yang tidak lain adalah Ahra membuat perhatian mereka sontak teralihkan pada panggung. Tubuh Yunho menegak tanpa sadar, begitu antusias mengetahui sebentar lagi untuk pertama kalinya ia akan melihat kekasihnya tampil diatas panggung. Yunho menggigit bibir dalamnya mencoba menahan senyum yang hampir saja muncul. Ia tidak ingin membuat yang lain curiga tentu saja. Mengingat permintaan kekasihnya untuk merahasiakan hubungan mereka.

Sekumpulan gadis dengan jaket hoodie kebesaran yang menutup kepala mereka dan rok berwarna peach mengambil posisi diatas panggung. Senyum lebar tidak dapat lagi Yunho tahan saat mengenali Jaejoong sebagai salah satu gadis yang ikut berdiri disana. Kekasihnya seperti anggota idol group saja.

Music up beat menjadi pembuka, gerakan energic membuat kerumunan penonton bersorak kencang. Mereka berjumlah delapan orang hanya saja mata Yunho terpaku pada satu gadis yang berada di posisi kanan. Sekilas Yunho melihat Junsu di sisi satunya. Jaejoong tersenyum tipis di setiap gerakan, menikmati koreografi yang Yunho yakin sudah ia hafal diluar kepala mengingat betapa sibuk gadis itu akhir-akhir ini hingga untuk menelponnya saja Yunho harus menunggu hingga malam.

Gerakan gadis itu luwes, postur tubuhnya benar-benar mendukung. Hoodie kebesaran yang mereka gunakan hingga menutup kepala sama sekali tidak terlihat menghambat gerakan-gerakan mereka yang Yunho akui sangat bagus dan singkron satu sama lain. Irama music mulai melambat dan gadis-gadis didepan sana berganti posisi sembari menarik resleting hoodie perlahan.

Dibelakang punggungnya Yunho dapat merasakan euphoria lautan laki-laki yang bersorak girang. Yunho menelan ludah seakan-akan ada batu besar yang mengganjal kerongkongannya. Menatap tanpa berkedip pada Jaejoong yang berkilau dihujani sinar matahari.

Bibirnya terbuka pelan. Dadanya sesak bukan oleh desakan yang semakin terasa di punggungnya atau suara sorak sorai yang makin menggila. Namun oleh penampilan gadis cantik di depan sana.

Jaejoong yang ternyata terbalut mini dres one piece berbahan wollpeach yang membalut mengikuti kontur tubuhnya, melekuk indah hingga Yunho nyaris tersedak. Rambutnya yang selalu dikuncir kuda kini tergerai seperti sutra paling mahal yang dapat manusia temukan. Bergelobang indah membingkai wajahnya yang terbalut make up tipis.

Menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya luar biasa diiringi senyum tipis di bibirnya Jaejoong terlihat sama sekali berbeda dari yang terakhir kali ia ingat, mengambil posisi di tengah.

Diantara warna platina Boa, gadis yang ia ingat sebagai orang yang dicemburui Jaejoong, Junsu yang tersenyum sensual disisinya ataupun gadis lain dengan rambut tak kalah cantik. Jaejoong dengan rambut hitam legam tanpa poni yang biasa menaungi dahinya, ujung rambutnya yang biasanya lurus dan rata kini menekuk halus dan bergelombang membingkai Jaejoong seperti lukisan hingga Aprodhite akan bersujud dikakinya.

Terlihat dewasa, luar biasa cantik sekaligus menggoda. Diatas panggung image gadis polos sirna sepenuhnya. Meliukkan tubuhnya sesuai music tema yang mereka pilih yang Yunho ketahui merupakan lagu salah satu boygroup naik daun saat ini. Senyum kecil Jaejoong terlihat misterius sekaligus mengundang.

Gaun berwarna peach sewarna kulitnya membuat warna hitam rambut Jaejoong begitu menarik pandangan. Suara berbisik di sebelah kirinya entah mengapa menarik perhatian Yunho "Jangan" bisik salah seorang pemuda sembari menarik-narik lengan temannya.

Melihat apa yang terpampang di layar ponsel pemuda itu sontak rahang Yunho mengeras. Lengan kiri Yunho terulur mencengkeram ponsel sekaligus jemari pemuda yang sudah pasti hendak mengambil gambar Jaejoong dari sudut yang benar-benar tidak sopan.

"Jangan yang satu itu atau kau akan remuk ditanganku" setengah menggeram, wajah kaku Yunho serta suara beratnya membuat pemuda itu mundur selangkah hingga menabrak temannya. Meringis sambil menatap jemarinya yang memerah dalam cengkraman Yunho. "Sudah kubilang jangan duo kim. Penjaganya selalu berjaga sekitar panggung" wajah pias temannya sama sekali tidak membuat Yunho melepaskan tatapannya pada si pengambil gambar yang sontak terburu menjauh sambil menarik temannya sedetik setelah Yunho melepas cengkeramannya.

Mata Yunho mengedar pelan, mencoba mencari tuan-kurang-ajar lain yang siapa tahu saja memiliki niat sama bejatnya terhadap yang satu tadi. Kekehan Changmin membuat Yunho menghentikan kegiatannya yang mungkin terlihat sangat bodoh.

"Kukira kau berbeda hyung, ternyata kau sama seperti mereka" dengan dagunya Changmin menunjuk Seunghyun yang menggenggam sebuah ponsel menatap datar seorang pemuda yang menunduk takut dihadapannya. "Ini alasan mengapa hyungdeul selalu mengambil tempat-tempat strategis di depan panggung. Karena tidak semua orang mengambil gambar secara wajar" jemari Changmin membuat tanda kutip.

Kembali mengalihkan pandangannya kedepan Yunho mendesah lirih mendapati ia masih terpesona pada penampilan Jajeoong di depan sana. Gadis itu menjadi cantik, sangat cantik, jauh lebih cantik dari sebelumnya. Dan entah Yunho harus senang atau sedih mengetahui akan semakin banyak pria yang menginginkan gadisnya itu. Gadis nakal Yunho terkekeh dalam hati.

Yunho bahkan baru sadar Yoochun, Seunghyun dan Yihan berdiri menyebar menyisakan dirinya dan Changmin. Astaga, seposesif itu kah? Tapi jika mengingat apa yang dilakukan pemuda sialan tadi tentu itu adalah hal yang harus dilakukan. Mengingatnya saja membuat darah Yunho mendidih. Membayangkan entah siapa memiliki foto kekasihnya yang diambil dari sudut 'berbahaya' membuat jantung Yunho memukul dadanya lebih liar.

Dalam beberapa ketukan terakhir gerakan gadis-gadis yang Yunho akui semuanya cantik diatas sana berhenti. Membuat Yunho bernapas lega. Setidaknya ia tidak harus khawatir lagi akan tangan-tangan jahil yang mencoba menyentuh kekasihnya, secara tidak langsung.

Changmin terkekeh lebar, cengirannya membuat Yunho menyernyitkan alis "Hyung sangat menyukai noona ya?" menatap Channgmin membuat Yunho teringat akan dirinya dimasa lalu. Dirinya setiap kali merengek sesuatu pada sang ayah. "Siapa yang tidak menyukainya ?" jawabnya. Bersedekap bocah cerdas itu melanjutkan dengan nada serius "Tidak masalah jika hyung menyukai Joongie noona. Hanya saja tidak akan mudah hyung tahu itu kan?"

Yunho bersedekap terseyum tipis terhadap apa yang Changmin ungkapkan. Tentu saja ia tahu, sangat tahu. Tapi bukankah itu bukti jika Jaejoong memang seberharga itu? Amat berharga hingga ia harus bersusah payah. Yah meskipun hati gadis itu sendiri sudah ada dalam genggamannya namun kecintaan orang-orang di sekelilingnya menyulitkan.

Getaran di sakunya mengalihkan perhatian Yunho, Changmin melirik sekilas lalu berpaling kembali ke atas panggung. Sebuah pesan singkat yang membuat Yunho sudah payah menahan ulasan di bibirnya. "Aku ke kamar mandi sebentar" ujarnya sambil lalu pada Changmin.

Beberapa kali Yunho memiringkan tubuhnya membelah kerumunan. Menghembuskan napas lega setelah sampai di koridor yang tidak terlalu ramai karena hampir semua orang berdesakan di lapangan utama. Kaki-kaki jenjangnya dengan lincah meniti satu-persatu anak tangga menuju lantai tiga gedung Senior High school.

Koridor lantai tiga benar-benar sepi. Mata Yunho mengedar mencari ruang yang dimaksud Jaejoong dalam pesan singkatnya barusan. Kelas Jaejoong. Menatap satu persatu papan yang terpasang di setiap pintu kelas entah mengapa Yunho malah berdehem gugup saat menemukan tujuannya.

Diputarnya pelan kenop pintu dan menjulurkan kepalanya kedalam. Tubuhnya baru setengah masuk dan bibirnya belum sempat mengucapkan satu patah katapun saat Jaejoong menubruknya begitu kencang hingga membuatnya mundur beberapa langkah.

"Astaga !" lirihnya setelah beberapa detik sadar dari keterkejutan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada siapapun yang melihat pelukan brutal dari sang kekasih Yunho berjalan masuk dengan Jaejoong yang masih setia menyembunyikan wajah di dada bidangnya. Menutup pintu dan menunduk pada gadisnya.

"Berhenti melakukan hal seperti itu oke? Kau bisa melukai dirimu sendiri manis" dengan gemas didekapnya Jaejoong lebih erat. Sang gadis terkikik dalam rengkuhan Yunho.

Jaejoong mendongak menatapnya dengan senyum lebar yang coba ia tahan "Bagaimana ?" Yunho menyernyit tidak mengerti "Bagaimana penampilanku hari ini?" Jaejoong mengulang dengan gemas

Yunho menghembuskan napasnya sejenak. Menatap lekat mata berbinar kekasih cantiknya. Gadis itu masih memakai dress berwarna peach yang dipakainya di panggung tadi. Dengan rambut bergelombang indah dan ujung-ujung yang dipangkas tidak beraturan yang jatuh secara luar biasa menaungi punggung Jaejoong.

Sejenak Yunho merasa darahnya mengalir lebih cepat saat merasakan lekukan-lekukan tubuh kekasihnya yang masih setia bertengger, bergelayut padanya dengan mata besar yang menatap penasaran.

"Kau cantik" ujarnya sedikit kaku. Jaejoong mengangguk antusias masih menatapnya dengan penuh harap. Yunho terdiam seperti pemuda dungu. Antara bingung dengan maksud kekasihnya dan mencoba meredakan desiran darahnya yang bertambah cepat saat senyum Jaejoong semakin lebar. Bibir Jaejoong mencebil lalu menghentakkan lengannya yang sedari tadi melingkari tubuh gadis itu "Hanya itu ?" tuntutnya sebal

Yunho menggaruk tengkuknya sambil meringis bingung "Ya" bisiknya ragu. Dengan sebal Jaejoong merengek "Maksudku apakah gerakan danceku bagus ? apakah menurutmu orang menyukainya ? apakah kau menyukainya ?" Jaejoong menghentakkan kakinya yang dibalut sepatu sport berwarna putih.

Sejujurnya ia sangat senang mendengar dari mulut Yunho sendiri bahwa ia terlihat cantik tapi apakah hanya itu yang ada di otak Yunho. Astaga secantik itukah Jaejoong ? percaya diri sekali eoh…

"Ya gerakanmu bagus, aku juga menyukainya" lanjut Yunho cepat. "Kenapa kau terlihat terpaksa mengatakannya" Jaejoong memukul perutnya pelan. Membuat Yunho mengaduh, tidak sakit hanya terkejut.

"Apakah dance-nya harus seksi seperti itu ?" Yunho menyandarkan punggungnya pada pintu yang tertutup di belakangnya, tasnya sedikit mengganjal namun Yunho mengabaikannya. Ditariknya pelan lengan mulus gadisnya hingga lutut mereka bertemu.

"Itu tidak seksi Yun-ah, gerakan seperti itu sudah biasa" jawaban enteng kekasihnya membuat Yunho mendelik. Otaknya memutar memori tentang si pemotret mesum. "Sudah biasa ?" suara Yunho naik beberapa oktaf hingga Jaejoong tersentak kaget.

"Mwoya…" jari-jari Jaejoong menarik pelan kaosnya "Kenapa kau histeris sekali ? apa kau marah padaku ?" mata musang Yunho terarah pada jari-jari nakal kekasihnya yang kini mulai memainkan kancing di bawah kerah kaosnya. Gesture manis dan raut murung gadis yang kini menunduk dihadapannya mau tidak mau membuat Yunho luluh juga.

"Aku tidak marah" tangannya terulur membelai rambut yang menjuntai menutupi punggung kekasihnya "Kau sangat cantik hingga membuat semua lelaki menatapmu" menunduk untuk mempertemukan dahi mereka Yunho berbisik "Dan aku cemburu sayangku"

Kekasihnya menggumam manja lalu kembali menyembunyikan wajahnya yang memerah hingga telinga di dada Yunho. "Dasar genit" cibirnya membuat Yunho terkekeh. Ditariknya tubuh itu lebih dekat hingga Yunho bisa mendekapnya lebih erat.

Dengan senang hati Jaejoong menumpukan seluruh berat tubuhnya di tubuh jangkung sang kekasih. Tinggi Jaejoong yang hampir seratus tujuh puluh terlihat mungil dalam dekapan Yunho.

"Aku gugup sekali. Aku takut bagaimana jika nanti aku lupa choreo kami atau aku membuat kesalahan atau sesuatu terjadi diatas panggung" gumamnya mendongak menatap Yunho hingga pemuda itu tidak mampu menahan senyum.

"Kau sangat hebat, aku sampai tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu. Aku percaya kau tidak akan membuat kesalahan karena kau sudah berlatih begitu keras. Ingatlah kerja keras akan selalu terbayar Joongie" jemari Yunho menyeka pelan keringat di dahi kekasihnya

Jaejoong tersenyum manis sebelum berjinjit meraup bibir kekasihnya dalam tautan bibirnya sendiri, sebelum melepasnya beberapa detik kemudian. Membuat napas Yunho tercekat. Kecupan manis yang membuat pipi Jaejoong semerah persik "Salah sendiri kata-katamu manis sekali" bisiknya menunduk malu.

Menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih saat mendengar kekehan pelan lolos dari bibir Yunho. "Kekasihku nakal sekali eoh" dengan gemas ia usak puncak kepala Jaejoong. "Lihat aku sayang" tangan besarnya menangkup sebelah wajah Jaejoong "Aku merindukanmu" menunduk hingga mata mereka bertemu Yunho tersenyum lebar.

Mengecup pucuk hidung kekasihnya dan memagut bibir lembab Jaejoong saat mendapat balasan kata yang sama. Dilumatnya perlahan bibir yang terasa seperti strawberry dan mint milik kekasihnya. Tangan Jaejoong naik perlahan menuju bahunya dan bertaut sempurna dibalik tengkuk si pemuda.

Dengan senang hati Jaejoong memejamkan mata membiarkan sekali lagi sang kekasih menawan bibirnya. Yunho melepaskannya sejenak untuk mengambil napas. Sebelum lengan kirinya terkalung sempurna di pinggang Jaejoong sementara tangan satunya merayap menangkup tengkuk gadis itu.

Dilumatnya bibir bawah Jaejoong hingga Jaejoong melenguh perlahan, mengeratkan rengkuhannya di leher Yunho. Memiringkan kepalanya Yunho meraup seluruhnya. Memanja Jaejoong dengan gerak konstan bibirnya. Suara-suara basah mulai bergaung di ruangan yang kosong itu. Menggigit bibir kenyal kekasihnya Yunho menelusupkan lidahnya membuat Jaejoong melenguh panjang.

Ia bisa merasakan lidah Yunho dalam rongga mulutnya. Menyapu apapun yang berada di dalam sana hingga Jaejoong merasa lidahnya digoda untuk ikut bergerak mengimbangi pria pertamanya ini.

Dengus napas Yunho yang menerpa wajahnya menghangatkan tubuh Jaejoong hingga membawa tubuhnya makin menyatu dengan sang kekasih. Merasa bahagia saat lengan Yunho meremat pinggangnya.

Dengan gerakan kaku dibalasnya pagutan dalam Yunho. Mencoba membuat Yunho merasakan hal yang sama sepertinya. Setetes saliva mengalir menuruni dagunya dan Jaejoong tidak peduli itu milik siapa. Yang memenuhi otaknya hanya lidah Yunho yang kini mencumbu langit-langit mulutnya, membuat tubuh Jaejoong bergetar.

Merasa lehernya kaku karena terus menunduk Yunho melepaskan bibir manis candunya dan membawa Jaejoong dalam dekapannya. Dengan mudah menghela tubuh kekasihnya ke atas meja terdekat sebelum kembali mengulum bibir kekasihnya membungkam protes Jaejoong yang pada akhirnya tak pernah terucap.

Kedua tangan Yunho menjangkau apapun yang dapat dijangkaunya. Bergantian dari punggung hingga pinggang Jaejoong. Gadis itu dengan pasrah menghisap bibir atasnya saat Yunho memagut bibir bawahnya. Kedua tangannya menangkup rahang Yunho yang terasa begitu keras dan tegang.

Yunho menghisap lidah Jaejoong sebelum lidahnya sendiri menjilati bibir atas dan bawah Jaaejoong bergantian. Suara napas Jaejoong yang terputus-putus membuat gairah Yunho naik hingga kepala.

Disesapnya keras kedua belah benda manis kekasihnya. Hingga Jaejoong merengek karena bibirnya sedikit nyeri. Tangannya bergerilya di hamparan rambut Yunho. Mengusapnya tidak beraturan hingga sengal napas Yunho yang bertambah keras menyapa telinganya.

Tangan Yunho turun mengusap pahanya, meremasnya pelan. Bersamaan dengan gigitan pada sudut bibir Jaejoong. Jaejoong memekik antara nyeri dan nikmat. Bibir nikmat Yunho berpindah menuju ceruk lehernya, secara reflek Jaejoong mendongak. Matanya terpejam.

Lidah Yunho menjalar disepanjang pembuluh darahnya yang menjadi berkali lipat lebih sensitive dari biasanya. Mengikuti alur samar di leher Jaejoong hingga belakang telinganya. Yunho menyesap titik sensitive dibalik helaian surai Jaejoong.

"Nghhhh…" erangan Jaejoong bagaikan alarm dalam otak Yunho. Adrenalin menggelegak di sepanjang tulang punggungnya. Melompat mundur Yunho melepaskan seluruh cengkeramannya atau apapun itu dari tubuh Jaejoong. Begitu tiba-tiba hingga Jaejoong harus terhuyung mencengkeram pinggiran meja.

Napas Yunho tersengal, mengusap wajahnya setengah ngeri. Sekaligus menenggelamkan gairah yang bergumul di ambang kesadarannya. Apa yang baru saja ia lakukan

"Yun.." Jaejoong berbisik serak, cemas sekaligus takut melihat Yunho yang masih berdiam bagai patung dengan rona pias. Menatapnya Yunho kembali mendekat dan memeluknya.

"Astaga maafkan aku sayang, maafkan aku" kata itu Yunho bisikkan berulang kali. Dengan mata berkabut akibat gairah yang ditimbulkan pria yang tengah mendekapnya Jaejoong untuk kesekian kalinya menyerah.

Kata-kata Yunho jelas menyadarkan Jaejoong, bahwa apa yang baru saja mereka lakukan sudah terlampau jauh. Tumbuh dalam lingkungan hangat keluarga Jaejoong selalu dibekali dengan petuah-petuah ayahnya hingga dewasa. Bahkan setelah usianya kini, setelah keluarganya terpecah menjadi dua sang ayah masih terus memantau bagaimana perkembangannya. Belum lagi keempat sahabatnya yang selalu menjadi alarm pertama bagi Jaejoong.

Memejamkan mata keduanya sama-sama meredakan gairah yang membumbung beberapa detik lalu. Dengan lembut dibalasnya dekapan Yunho "Aku juga minta maaf" bisiknya kemudian.

Membantu Jaejoong turun dari atas meja mata Yunho terpaku pada bercak kemerahan di bawah telinga Jaejoong. Alis Yunho menekuk canggung. Tangannya merapikan rambut kusut Jaejoong sekaligus menutup tanda yang baru saja dibuatnya. Untung saja tempat itu sedikit tersembunyi, Yunho tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya jika tanda itu ada di bagian leher Jaejoong. Oh mungkin ia akan dibunuh para pria posesif yang mengelilingi gadisnya.

"Kau berbahaya sekali" gerutunya pelan. Jaejoong terkikik geli membiarkan Yunho merapikan anak rambutnya yang nakal menempeli pipi Jaejoong. Menikmati sentuhan hangat Yunho di wajahnya. Sesungguhnya tidak terlalu berantakan hingga Yunho harus menghabiskan bermenit-menit untuk merapikannya. Hanya saja Jaejoong tidak keberatan, ia menikmatinya. Mereka menikmatinya.

"Selamat untuk suksesnya penampilanmu hari ini hm…" Yunho menangkup dagunya "Aku punya sesuatu untukmu" pemuda itu mundur selangkah dan meraih ransel dipunggungnya.

Dengan penasaran Jaejoong melongok pada isi tas kekasihnya hingga ia melihat sebuah kotak kecil berwarna coklat. Yunho tersenyum menatap mata Jaejoong dan membuka tutupnya.

Satu set jepit dan karet rambut. Karetnya berwarna peach dan campuran biru laut, dari kejauhan nampak seperti gelas. Bening dan transparan. Jepit rambutnya berwarna sama dengan ujung sebuah hiasan dari berlian-berlian kecil membentuk Kristal salju. Masing-masing ada sepasang.

Jaejoong tertawa gembira "Astaga…. ini manis sekali" menggigit bibirnya gemas. Telunjuknya membelai Kristal-kristal kecil yang terlihat begitu berkilau. Jajoong pernah menerima hadiah. Kalung, cincin, boneka dan banyak lagi. Hanya saja ini pertama kalinya Jaejoong menerima hadiah semanis ini.

Ia kembali mendongak pada Yunho. Jaejoong tersenyum bahagia. Atau karena pria inilah alasannya. Ya, karena pria ini. "Terimakasih" bisiknya. "Kau akan terlihat sangat cantik" Yunho meraih satu jepit rambut dan menyerahkan kotaknya untuk Jaejoong pegang.

Dipasangkannya pada sisi kanan rambut Jaejoong. Terlihat berkilau, seperti mata gadisnya. Yunho tersenyum lebar "Lihat, bukankah aku selalu benar" dipandanginya dengan puas "Aku bahkan tidak tahu lagi mana yang lebih cantik, jepit rambutnya atau dirimu" dan cubitan serta pipi memerah menjadi balasan untuk Yunho.

"Ayo kuantar sampai ke ruang ganti" Yunho menautkan tangan keduanya. Namun sebelum Yunho meraih kenop pintu Jaejoong menahan langkahnya. Kekasihnya itu tersenyum gugup saat Yunho menatapnya penuh Tanya.

Jari Jaejoong menarik lepas jepit rambut yang Yunho pasangkan, bersamaan dengan elakannya atas genggaman Yunho. "Kau keluarlah duluan. Aku akan menyusul belakangan"

Senyum Yunho lenyap. Untuk sejenak tadi Yunho lupa bahwa dimata semua orang statusnya dengan Jaejoong adalah bukan apa-apa. Ia bukanlah siapa-siapa, hanya anak baru yang kebetulan kenal dengan Yihan. Dan masuk ke dalam lingkup pertemanan mereka.

Hampir dua bulan, dan mereka menyembunyikannya dengan cerdas. Bertingkah seperti teman, berbicara seperti teman. Bahkan Jaejoong cenderung menghindari percakapan dengannya saat mereka bersama yang lain.

Mengingat semua itu mau tidak mau Yunho jadi berpikir, apa seburuk itu mengakui dirinya di depan para sahabat Jaejoong? Yunho tahu mereka semua posesif dan menginginkan yang terbaik untuk Jaejoong, hanya saja jika mereka mengatakan yang sebernarnya apakah akan seburuk itu?

Jaejoong sudah mengatakannya, tentang bagaimana ia takut akan penerimaan sahabatnya untuk Yunho. Jaejoong hanya tidak bisa jika melihat Yunho harus berurusan dengan tingkah sahabat-sahabatnya yang terkadang bisa begitu gila. Jaejoong mencintai Yunho namun juga menyayangi pria-pria gila yang menemaninya selama beberapa tahun belakangan.

Yunho tahu itu hanya saja dengan menyembunyikannya seperti ini bukankah hanya membuat semuanya semakin rumit. Jaejoong adalah yang pertama, ini adalah pertama kalinya bagi Yunho. Dan setitik ego dalam dirinya menyeruak ingin mengklaim Jaejoong sebagai miliknya. Agar semua orang tahu bahwa Kim Jaejoong milik Jung Yunho.

Untuk urusan sahabat-sahabat Jaejoong, dengan senang hati Yunho akan memperjuangkan Jaejoong sesuai yang mereka mau. Choi Siwon bisa melaluinya, ya benar. Yunho tahu bagaimana pemuda itu menatap Jaejoong. Mereka bertemu saat ia berkunjung ke rumah Jaejoong untuk bertemu ibunya. Bersama yang lain juga tentunya.

Bahkan Choi Siwon sampai lebih dulu dari yang lain, membuat setitik bara membakar jantung Yunho yang langsung padam begitu ibu Jaejoong tersenyum menatapnya.

Pemuda itu bahkan bebas bertamu ke rumah Jaejoong. Lalu mengapa ia tidak bisa? Selama ini Yunho diam karena ia tahu, dibandingkan mereka ia bukanlah apa-apa. Dan mungkin, mungkin saja Jaejoong masih ragu padanya. Namun bukankah dua bulan ini sudah cukup untuk membuktikan betapa ia serius pada Jaejoong?

"Baiklah" Yunho tersenyum hambar. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Jaejoong. Tanpa menoleh sekalipun. Dalam ruang sepi yang menjadi saksi beberapa menitnya bersama Yunho Jaejoong menunduk sendu pada benda-benda indah pemberian kekasihnya. Jaejoong merasa begitu kejam.

Yunho kembali ke lapangan saat matanya menangkap Seunghyun diujung lorong lantai satu. Tengah duduk seorang diri. Mata Seunghyun yang tadinya menatap ponsel beralih pada Yunho saat pemuda itu menghempaskan tubuhnya disamping Seunghyun.

"Mana yang lain ?" ia bertanya pada Seunghyun namun matanya menerawang di kejauhan. "Ada tugas yang belum diselesaikan. Mereka mentraktir Changmin sebagai bayaran mengerjakan tugas mereka. Hyung tidak keberatan pulang bersamaku bukan? Karena Yihan ikut dengan Yoochun"

Dengan malas Yunho mengangguk "Tidak masalah jika tidak merepotkan, atau aku bisa naik bis atau taksi toh aku sudah tahu ruteya" duduk tegak Seunghyun menggeleng keras "Oh jangan hyung, hyung harus menemaniku hari ini" untuk pertama kalinya Yunho melihat cengiran pemuda dengan tinggi hampir sama dengannya itu. Tentu saja Yunho harus pulang bersamanya hari ini, atau rencananya gagal.

Alis Yunho menukik saat Seunghyun membawanya memasuki daerah entah dimana, yang pasti disepanjang jalan yang mereka lewati Yunho dapat melihat banyak anak-anak muda dengan tampilan unik berkumpul.

Beberapa pria tegap dengan tato disekujur lengan menghentikan laju mobil mereka. Seunghyun menurunkan kaca mobilnya, dan mereka dibiarkan lewat begitu saja. Berbelok kecepatan mobil Seunghyun menurun sebelum berhenti diantara mobil-mobil mewah yang terlihat begitu tidak cocok dengan sekelilingnya.

"Err…. Seunghyun-ah tempat apa ini?" Yunho bertanya seperti anak kecil. Bukannya Yunho tidak tahu, karena dulu… dulu sekali Yunho akrab dengan tempat yang mungkin akan ia masuki, lagi. Namun Yunho berharap dugaannya salah.

"Kita akan bersenang-senang hyung" menyeringai Seunghyun melepas seatbelt dan melangkah keluar. Yunho mengikuti dengan was-was, ia tidak tahu Seunghyun akrab dengan tempat semacam ini. Seunghyun berjalan pada bangunan luas dengan neon besar diatas pintu masuknya, HOOK.

Bangunan kumuh yang mereka masuki sungguh jauh berbeda di dalamnya. Lampu-lampu terang dan kerumunan pemuda mengitari apa yang menghantui benak Yunho semenjak bermenit lalu. Sebuah ring besar ditengah-tengah ruangan, dimana dua orang pemuda tengah beradu kepalan.

"TOP !" sapaan keras di tengah-tengah sorak sorai memecah atensi Yunho. Seunghyun berpelukan dengan seorang pemuda juga derai tawa menghiasi bibirnya. Mereka terlihat begitu akrab.

"Senang kau pulang" pemuda itu menepuk punggung dengan semangat "Aku hanya berkunjung, sekaligus mengajak temanku untuk 'main'" menunjuk Yunho dengan dagunya. "Ah…."Jonghyun mengangguk mengerti "Kau akan melawannya ? seperti pemuda sopan beberapa tahun lalu itu?" Seunghyun terkekeh mendengar Jonghyun masih memanggil Siwon dengan sebutan itu.

Sebelum mendapat ijinnya untuk mendekati Jaejoong, Seunghyun menghabisi Choi Siwon diatas ring. Meskipun ia adalah atlete Taekwondo namun disini aturan tidak berlaku. Mereka menjatuhkan lawan, apapun usahanya. Cukup menakutkan melawan pemuda yang kelihatan kalem itu, karena sungguh tendangan kakinya tidak main-main.

Punggung Seunghyun membiru selama tiga minggu dan pelipis Siwon robek akibat left hook darinya. Lawan yang menyulitkan kalau boleh Seunghyun akui. Dan hari ini ia akan melihat bagaimana Jung Yunho 'menari' diatas ring.

"Tapi kau lupa sesuatu" Jonghyun menunjuk ring "Ini hari rabu, dan games tetap berlaku TOP. Pemenang bebas memilih, hari ini kau tidak dapat menentukan semuanya"

Sial! Seharusnya Seunghyun tidak datang hari ini. Rencananya adalah melawan Jung Yunho diatas ring namun ini adalah hari rabu. Setiap rabu ketiga dalam satu bulan ada satu agenda khusus yang membuat klub tinju bebas milik Jonghyun melegenda.

Hari dimana semua orang mencari juara, yang menang diatas ring berhak memilih siapapun untuk menjadi lawannya. Karena itu semua petarung berkumpul hari ini. Bodoh ! Seunghyun mengumpat dalam hati. Kalau begitu rencananya harus diubah sedikit. Seunghyun harus menang dan menantang Jung Yunho.

Menoleh menatap Yunho yang tidak bergerak selangkahpun dari posisinya sejak tadi, mata Seunghyun melotot "Jaejoong akan membunuhku" desisnya. Karena disana, Park Hyungsik, bajingan liar yang hidup di jalanan nyaris sepanjang umurnya berdiri tepat dihadapan Jung Yunho.

Dengan penuh perhatian Hyungsik menatap dari atas ke bawah pemuda berpakaian rapi dihadapannya. "Siapa kau ? aku tidak pernah melihatmu" ujarnya congkak. Peluh sisa pertandingannya tadi menetes hingga membuat sekujur tubuhnya basah.

"Aku datang bersama teman" Yunho menjawab dengan tenang. Diam-diam ikut mengamati pemuda dihadapannya. Dalam salah satu sejarah hitamnya Yunho pernah atau bahkan sering bertemu dengan yang seperti ini. "Menjauh bajingan !" Seunghyun meraung mendekat.

Seringai Hyungsik melebar "Ah….. si anak emas dan kawannya" melebarkan tangannya seolah-olah menyambut pemuda itu "Bagaimana jika kita bermain hm? Kawan lamaku" ujarnya santai.

Seunghyun menggeram tertahan. Pemuda ini tidak semurahan kelihatannya. Hyungsik adalah salah satu petarung terbaik di Hook. Melawan Hyungsik sama saja dengan menghabiskan tenaga. Apa yang harus ia lakukan? Ia berniat menjajal sejauh apa kemampuan bela diri Yunho, namun tidak ada Hyungsik dalam rencananya.

"Kau takut ya? Bagaimana jika temanmu menggantikanmu hm?" pemuda itu bersorak keras "Aku menantang pria manis ini diatas ring !" dan sorak sorai membahana dalam ruangan yang didesain dengan atap seperti stadion itu. Seunghyun maju mencengkeram pundak Hyungsik namun Yunho menahan sebelah lengannya yang sudah terkepal. Menepuk pundaknya dua kali dan berbicara pada Jonghyun "Berikan aku Hand wrap-nya" mendengar itu Hyungsik melompat ke atas ring.

"Hyung ?!" Seunghyun berseru kaget "Dia berbahaya" ujarnya memperingatkan. Diluar dugaan Yunho tersenyum santai "Aku laki-laki Hyun-ah" mengikuti langkah Jonghyun Yunho memantapkan hatinya. Ia sudah lama memutuskan untuk meninggalkan segala hal buruk demi ibunya, namun bukan berarti Yunho menolak tantangan yang diajukan langsung di depan hidungnya bukan. Sudah ia bilang, Jung Yunho adalah remaja normal.

Berdiri di salah satu sisi ring benak Yunho melayang pada tahun-tahun pemberontakan dirinya. Semuanya terasa familiar, hanya saja dulu ia masih sangat muda. Dan rasa gugupnya lebih berdentum daripada sekarang.

Melepas kaosnya Yunho membuat beberapa orang berseru takjub. Bahkan untuk sesama lelaki sekalipun, tidak sulit mengakui bahwa Jung Yunho memiliki tubuh mempesona. Ia tersenyum tipis dan menggumamkan terimakasih menerima uluran Hand wrap dari Jonghyun. Seunghyun berdiri gelisah disisinya.

Selama beberapa detik pemuda itu takjub pada kelincahan Yunho memasang Hand wrap, seolah-olah Yunho telah terlatih bertahun-tahun."Hyung jangan terluka atau Jaejoong akan membunuhku" desisnya pasrah. Yunho meliriknya sejenak, menaikkan sebelah alisnya "Tidak usah berpura-pura" Seunghyun mendengus kesal "Aku tahu hubungan kalian" mau tidak mau Yunho terkejut dibuatnya

"Berhenti dengan wajah bodohmu itu, cukup tumbangkan bajingan diatas sana" Seunghyun kembali mendesis, meskipun ia sendiri tidak yakin. Terkekeh takjub Yunho naik ke atas ring dengan mudah. Sedikit meregangkan ototnya sambil menatap Hyungsik yang menyeringai penuh. Satu sisi dalam kepala Seunghyun penasaran apakah pemuda itu akan lebih baik dari Choi Siwon.

"Aku harap kau tidak menangis pada mamamu saat semua berakhir manis" dengan gaya berlebihan Hyungsik mengolok Yunho. Beberapa penonton yang mendengarnya tertawa, beberapa lagi mendengus malas. Mengabaikannya Yunho mengangkat kedua tangan sejajar dada, menguatkan kuda-kuda.

Sejenak Yunho merasa canggung, sudah lebih dari tiga tahun sejak ia memutuskan untuk berhenti sepenuhnya dari dunia bawah. Sebuah sapuan melayang di depan wajah Yunho, membuatnya mengerjap pelan. Dari tekanan udara yang ditimbulkan Yunho yakin kepalanya akan langsung pening menerima tendangan sekeras itu.

Pukulan-pukulan mengikuti dengan membabibuta, Yunho mengangkat tangan melindungi wajahnya dan mengelak sebisa mungkin. Bocah ini benar-benar tidak memakai aturan, gerakannya secepat kilat dan sulit diprediksi. Lawan-lawan Yunho yang terberat adalah petinju-petinju bebas senior. Gerakan mereka cenderung terstruktur dan rapih namun luar biasa mematikan.

Sementara pemuda ini benar-benar seperti orang gila. Jika bukan karena refleknya yang kebetulan luar biasa sudah pasti ia babak belur sedari tadi. Yunho melepaskan double jap dan hook, gerakan dasar dalam tinju. Cukup untuk membuat Hyungsik mundur sesaat, terkejut akan kecepatan Yunho.

Sedikit membuat jarak Yunho mencoba peruntungannya. Baiklah seperti apa yang sudah ia pelajari bertahun lalu. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengamatan.

Ia sudah tahu Hyungsik tipe penyerang, gesit dan nyaris tidak dapat diprediksi. Pemuda itu berpusat pada sisi kanan tubuhnya. Mata Yunho menunduk sekilas namun berulang-ulang menatap kaki sang lawan, pemuda itu lemah di poros kirinya. Ia harus tahu sejauh mana kekuatan seorang Park Hyungsik. Mungkin ini terdengar sedikit gila, tapi cara terbaik untuk menjadi paham dalam hal apapun adalah dengan mengalaminya sendiri.

Buagh!

Yunho terhuyung ke sudut, sudut bibirnya robek setelah satu hantaman Hyungsik menyapanya. Ia sudah cukup mengamati, termasuk pukulan tadi. Dari skala satu sampai sepuluh, pukulan Park Hyungsik bernilai….

Double jap, left hook.

Enam, tidak lebih.

Kepalan Yunho menghantam sisi kepala lawannya. Ayunan kaki kiri Yunho mendarat di sisi kepalanya yang lain. Membuat kaki sang lawan terhuyung goyah untuk beberapa sekon.

Langkah pertama, mengambil sisi yang memaksa Hyungsik untuk menggunakan poros kaki kirinya. Kedua, menyerang engsel bahu kanannya. Dan yang terakhir adalah, bersenang-senang.

Adrenalin Yunho terpacu bebas, pemuda itu berbalik menyerang Hyungsik dengan gerakan-gerakan gesit yang jelas sekali tidak dimiliki pemula. Sesekali pemuda itu membiarkan Hyungsik berbalik menyerang dan mengambil kesempatan menghantam lengan kanan Hyungsik berkali-kali.

Geraman mengerikan lolos dari bibir lawannya, pemuda itu marah. Merasa terjebak dalam permainan si anak rapi yang tak ia sangka sama sekali memiliki kemampuan begitu bagus.

Pemuda itu tidak bicara, tidak tersenyum wajahnya datar. Namun entah mengapa setiap gerakannya seolah memprovokasi Hyungsik untuk bertindak lebih brutal. Ia bergerak kesetanan, memukul menendang segala arah dengan sasaran kepala pemuda itu.

Namun disini Yunho lah yang akan bersenang-senang, ia mendaratkan pukulan beruntun di bahu kanan si pemuda brutal. Berputar tiga ratus enam puluh derajat dengan kecepatan mengerikan dan menghantamkan kakinya tepat di leher Hyungsik, membuat lawannya terkapar berdentam. Pun dengan gerakannya yang menakjubkan kaki Yunho tetap bertumpu tegak pada porosnya, pemuda itu terlihat begitu kokoh, begitu kuat.

Hyungsik kembali bangkit dengan pandangan kabur dan lengan bengkak hanya untuk mendapat sebuah pukulan tepat di hidungnya. Si berandal jalanan tumbang dengan darah mengucur dari hidung. Kehilangan kesadaran.

Jung Yunho berdiri tegak di atas ring, rambutnya turun menutup dahi. Napasnya dalam dan berat, bahkan dari bawah Seunghyun dapat melihat betapa keras otot-otot lengannya. Tubuh atasnya yang terbuka basah kuyup oleh keringat, bahkan luka di sudut bibirnya hanya membuat pemuda itu berkali lipat lebih mempesona. Kerumunan menyorakkan kemenangannya, namun telinga Seunghyun seolah tuli.

Melihat apa yang baru saja terjadi diatas sana membuat tengkuk hingga sekujur tulang belakang Suenghyun meremang. Jika pemuda itu memang tidak sebaik kelihatannya dan berniat menyakiti Jaejoong. Seunghyun tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan…

Bahkan dengan pengalamannya bertanding lima tahun ini, dengan ratusan lawan yang jatuh di bawah kakinya. Melihat bagaimana pemuda itu membantai Hyungsik dengan mudahnya, Seunghyun tahu.

Bahkan untuknya, mengalahkan Jung Yunho di atas ring adalah mustahil !

TBC

Note :

Jap : pukulan pembuka, biasanya sebagai pengecoh.

Hook : pukulan dari samping (kanan atau kiri), biasanya melengkung dan mematikan.

Nyahaaaaaaaaa….. babang Yunho sini dielap keringetnya. Maaf kalo ngaret ya, tapi saya jamin ga akan menelantarkan kalian selama berbulan-bulan kaya dulu huuuuu T^T

kangen readerskuuuuhhhhh *Kechup satu-satu* noh silakan berfantasi ria sama babang Yunho yang keringetan

so…..

Berminat meninggalkan jejak ?