Gadis Air

Chapter 8

Juvia's past

"Sejak lahir, hujan selalu mengikuti Juvia. Tak peduli kemanapun Juvia pergi." Juvia mulai bercerita. Gray terdiam, mendengarkan.

.

.

.

Juvia Loxar, gadis suram dan penyendiri. Ia tidak mengenal orang tuanya. Dia dirawat di sebuah panti asuhan desa Rosemary sejak bayi.

"Juvia tidak memiliki keluarga. Tentu saja, Juvia merasa iri melihat anak lain bersama kedua orang tuanya. Juvia ingin sekali mengenal orang tua Juvia. Setiap hari, Juvia terus-terusan memikirkan hal itu."

Juvia diasuh dan mendapat perlakuan sama dengan anak-anak lainnya. Tapi dia kesepian. Karena tidak ada anak yang mau berteman dengannya. "Ano…bolehkah Juvia bermain dengan kalian?" tanya Juvia penuh harap pada sekelompok anak yang sedang bermain kartu.

"Tidak!" tolak seorang anak yang bernama Totomaru.

"Kamu main sendiri saja sana!" usir Angel, disambut anggukan dan pernyataan setuju dari yang lainnya. Juvia melangkah lesu meninggalkan menoleh ke belakang, berharap salah satu dari mereka mengajaknya bergabung. Namun tak seorangpun yang memedulikannya dan tetap asyik bermain.

Juvia mengambil payung kesayangan yang selalu menemaninya. Di tengah hujan, dia meninggalkan panti asuhan untuk menghibur diri. Seperti biasa, Juvia duduk di taman tak jauh dari panti, "Kenapa Juvia selalu ditolak? Kenapa Juvia tidak bisa memiliki teman? Apakah Juvia memang anak pembawa sial?" Juvia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Selagi melamun, Juvia merasa beberapa pasang mata tengah mengawasinya sambil berbisik lirih.

"Anak itu aneh. Dia sering duduk disana ketika hujan." bisik perempuan muda berambut cokelat dikepang dua pada temannya, Arania Webb.

"Apa dia tidak punya keluarga?" sahut Arania, wanita berambut hijau pucat.

"Bagaimana dia bisa memiliki keluarga? Kudengar dia bukan manusia!" tukas wanita bertubuh gemuk, Risley Law.

"Eh, jadi dia anak yang digosipkan pembawa sial itu?" Si perempuan berambut cokelat, Beth Vanderwood, menunjuk Juvia.

"Iya, semua orang bilang begitu. Makanya dia dijauhi." timpal Risley.

"Sudahlah, Risley, Beth. Tidak usah membicarakannya, lebih baik kita pergi. Sebelum hujan bertambah deras." Arania menengahi, mengajak kedua temannya pergi.

Tak lama setelah ketiga wanita itu pergi, banyak orang lain yang berlalu lalang di dekat Juvia. Mereka tampak berbisik-bisik sambil melirik kearah Juvia. Juvia berusaha mengabaikan mereka, memilih diam pura-pura tak tahu.

Bukan hanya anak-anak panti saja yang menjauhi Juvia, bahkan penduduk desa juga melakukan hal yang sama. Mereka sering mengucapkan komentar miring tentang Juvia. Juvia juga sudah pernah mendapat berbagai perlakuan tak mengenakkan dari penduduk desa. Juvia hanya bisa memendam semuanya sendirian.

"Suatu hari, ada seseorang yang menghampiri Juvia. Orang yang membuat Juvia bebas dari kesepian untuk pertama kalinya."

"Orang itu adalah teman pertamamu?" tebak Gray.

Juvia hanya mengangguk, wajahnya menyiratkan sedikit kebahagiaan, "Orang itu…"

"Apa yang kau lakukan disini?" Seseorang menyapa Juvia dari belakang. Juvia terkejut dan melihat ke belakang, mengernyit heran, " Siapa kau?"

Seorang anak laki-laki berambut biru dengan tato merah di mata kanannya tersenyum. Wajahnya tampak bersahabat dan menunjukkan kesan ramah, "Namaku Jellal."

"Jellal?"

"Kalau kau?"

"Juvia….Juvia Loxar." Juvia menyebutkan namanya.

"Nama yang bagus. Kenapa kau sendirian saja?" Anak bernama Jellal itu duduk di samping Juvia. Juvia tidak menjawab, ia enggan menjelaskan. Merasa Juvia tidak ingin menjawab pertanyaannya, Jellal bertanya lagi, "Kamu tinggal di sekitar sini?"

Juvia menjawab dengan anggukan, "Juvia tinggal di panti asuhan."

"Begitu, ya."

"Kalau Jellal-san? Tinggal di sekitar sini?"

"Aku hanya menumpang tinggal di rumah pamanku. Aku bukan berasal dari Rosemary. Aku berasal dari kota Edolas. Aku kesini untuk mengunjungi sepupuku."

"Edolas? Jauh sekali! Sudah berapa lama berada di Rosemary?"

"Sekitar dua minggu."

Tanpa terasa, Juvia dan Jellal sudah berbincang akrab. Menurut Juvia, Jellal sangat ramah dan pandai bergaul. Juvia merasa nyaman berbicara dengannya. Ingin rasanya ia berteman dengan Jellal, tetapi Juvia ragu. Apakah Jellal mau berteman dengannya? Ia takut Jellal menjauhinya jika tahu Juvia disebut pembawa sial.

"Oh ya, Juvia…" Jellal kembali berbicara, "…..tadi kau bilang kau tinggal di panti asuhan, kan?"

"Iya, kenapa?"

Jellal tampak memikirkan sesuatu, "Sebenarnya aku ingin mengajakmu tinggal denganku di Edolas." ucap Jellal ragu-ragu.

" Eh?" Juvia tidak memercayai pendengarannya sendiri, "Kenapa begitu? Ini terlalu tiba-tiba!"

"Aku …." Jellal menggantungkan kalimatnya sejenak, "….kau tampak kesepian disini. Jujur saja, ya, Juvia. Selama tinggal di Rosemary, aku sering memperhatikanmu. Duduk disini sendirian. Aku sudah mendengar cerita tentangmu dari pamanku. Tapi aku tidak peduli. Aku kasihan melihatmu sendirian. Makanya aku ingin kau ikut denganku agar kau tidak kesepian lagi. Lagipula, aku punya banyak teman di Edolas. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka."

Juvia tertegun mendengarnya, tidak menyangka ada orang yang memperhatikannya. Punya banyak teman? Juvia sangat menginginkan itu.

"Jellal-san yakin, Juvia boleh ikut denganmu ke Edolas?" Juvia memastikan.

"Tentu saja aku yakin." jawab Jellal mantap.

"A-apakah teman-teman Jellal-san mau menerima Juvia…walaupun Juvia berbeda dari yang lain?"

"Tenang saja. Mereka anak-anak yang baik, pasti mau menerimamu apa adanya." kata Jellal yakin. Dia terdiam sesaat, lalu melanjutkan, "Jadi, bagaimana? Apakah kau mau ikut denganku tinggal di Edolas?"

Tentu saja Juvia ingin menerima tawaran Jellal. Dia anak yang baik, Juvia ingin berteman dengannya. Namun masih ada sedikit keraguan di hatinya "Tapi, bagaimana kalau keluarga Jellal-san menolak Juvia? Juvia tidak mau merepotkan Jellal-san."

Jellal tersenyum, "Jangan khawatir. Aku tidak punya keluarga yang tinggal di Edolas. Aku tinggal sendirian disana. Tidak sepertimu, aku punya rumah sendiri. "

Mendengar jawaban Jellal, Juvia menjadi yakin untuk menerima tawarannya, "Baiklah! Kalau begitu, Juvia tidak keberatan."

.

.

"Hei, kau sudah dengar?"

"Apa?"

"Katanya, si anak hujan itu mau pindah ke Edolas!"
"Benarkah? Akhirnya! Sudah lama aku menantikan hari ini!"

"Syukurlah kalau begitu. Dengan begini tidak ada yang merusak acara tamasya kita! Hahahaha!"

Juvia mengabaikan pembicaraan yang didengarnya. Dia sibuk mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke koper. Memang ia tidak langsung berangkat bersama Jellal. Jellal akan kembali lebih dulu ke Edolas untuk menyiapkan segala keperluan Juvia.

"Kalau semuanya sudah siap, aku akan kembali dan menjemputmu." janji Jellal. Kata-kata itu bagaikan penyemangat bagi Juvia. Tak heran ia tampak gembira. Bagaimana tidak, dia akan segera meninggalkan orang-orang desa dan teman-teman yang menolaknya, perasaan kesepian, dan semua kenangan buruknya, digantikan teman-teman yang mau menerimanya.

"Cepatlah pergi, Juvia. Aku sudah tidak tahan melihatmu disini." kata Angel, saat berpapasan dengan Juvia.

Untuk pertama kalinya, Juvia berani membalas, "Juvia juga sudah tidak sabar meninggalkan kalian."

"Huh, kau jadi sombong rupanya." dengus Angel.

"Berhari-hari Juvia menunggu kedatangan Jellal. Berharap dia segera datang. Tapi…dia tidak pernah kembali ke Rosemary." Air mata Juvia menetes, sulit untuk membedakannya dengan tetesan air hujan yang menerpa wajah Juvia.

Juvia terbelalak. Raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan akan apa yang baru saja di dengarnya, "Apa kau bilang barusan?"

Anak yang berada di depannya, Jenny, terkekeh pelan, "Dengar, ya, teman yang kau tunggu itu tak akan pernah datang. Dia sudah berada di alam lain sekarang."

"A-apa maksudmu?"

"Dia kecelakaan. Kereta kuda yang ditumpanginya terjatuh ke dalam jurang di perbatasan desa Rosemary. Mana mungkin dia selamat!"

Awalnya, Juvia tetap tidak percaya. Sama sekali tidak ada raut keseriusan dari Jenny. Dia malah terlihat main-main. Jenny melempar sebuah surat kabar ke arah Juvia, "Baca saja sendiri!"

Setelah Jenny meninggalkannya, Juvia memungut surat kabar itu. Matanya melebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berita tentang kecelakaan kereta kuda yang kabarnya terjadi dua hari yang lalu. Kereta ditemukan dalam kondisi rusak parah. Dapat dipastikan penumpang dan kusir kereta itu tewas. Menurut surat kabar, penumpangnya hanyalah seorang anak laki-laki berumur 12 tahun berambut biru yang identitasnya sedang diselidiki.

Juvia langsung terduduk lemas. Tangannya gemetar, matanya mulai basah. Sudah jelas korban kecelakaan itu adalah Jellal.

"Itu artinya…Juvia benar-benar…pembawa kesialan?" Menyadari hal itu, Juvia tak sanggup menahan tangisannya lagi. Air mata membanjiri wajahnya, koran dalam pegangan Juvia terjatuh, "Jadi…yang dikatakan orang-orang itu…benar?"

Entahlah, perasaan Juvia benar-benar sedih saat ini. Pikirannya kacau. Dan yang bisa dilakukannya hanyalah menangis. Hujan di luar sana semakin deras.

"Seharusnya Juvia menolak tawaran Jellal!"

.

.

Saat malam tiba, Juvia memandang keluar jendela kamarnya. Melihat titik-titik air menerpa kaca jendela. Itu memang kebiasaannya. Langit tertutupi awan gelap seperti biasa. Perasaan Juvia sedikit membaik. Ia sudah lelah menangis. Juvia berdiri di depan jendela di antara dua buah ranjang .Satu ranjang ditempati olehnya, dan yang satunya lagi, tidak ditempati siapapun. Juvia mengamati ranjang kosong itu, "Andai Juvia punya teman untuk membagi kesedihan ini..." pikirnya.

Juvia menggeleng pelan, mencoba menghapus pikirannya sendiri, "Tidak. Sebaiknya jangan. Juvia tidak ingin ada lagi orang yang tertimpa sial gara-gara Juvia."

Juvia membuka jendela kamarnya dan menjulurkan tangannya keluar, merasakan dinginnya hujan di malam hari. Juvia selalu berharap bisa melihat langit malam yang cerah dengan taburan bintang dan bulan yang indah. Kedengarannya mustahil. Dia sudah berusaha untuk menghentikan hujan yang mengikutinya dengan berbagai cara. Di langit-langit kamar, tergantung banyak boneka penangkal hujan. Boneka serupa terdapat pula di sekitar ranjangnya.

Juvia memeluk sebuah boneka penangkal hujan besar buatannya, "Kapan hujan akan berhenti?" lirihnya.

Sudah tak terhitung berapa banyak boneka yang Juvia buat. Tapi tak membuahkan hasil sedikitpun. Justru malah membuat Juvia semakin kesepian. Ditambah berita kecelakaan yang menyebabkan kematian Jellal, anak-anak lain semakin giat mengejek dan membencinya. Juvia dapat mendengar suara mereka di luar kamar.

"Boneka jelek macam apa ini!" ejek Jenny sambil membuang boneka Juvia ke lantai, lalu menginjaknya.

"Sudah buat sebanyak itu, masih tidak berhasil juga." sindir Cobra.

"Bahkan kesialan juga menimpa orang yang baru dikenalnya. Sampai mati." Angel memberi penekanan pada dua kata terakhir.

"Bisa-bisa dia membawa kesialan untuk desa juga. "

"Menakutkan sekali." komentar Racer, terkesan menyindir.

"Hahahahaha!"

Juvia panas mendengarnya. Matanya kembali berair. Juvia berusaha menahan air matanya. Tapi tak bisa. Setetes demi setetes cairan bening keluar dari matanya. Mengalir deras menuruni pipinya. Tangan Juvia meremas seprai kasur kuat-kuat, "Beraninya…beraninya mereka…menertawakan kematian Jellal-san seperti itu!" geram Juvia.

Juvia kembali menangis tersedu-sedu. Menyalahkan dirinya lagi. Juvia merasa dialah yang membunuh Jellal secara tidak langsung, "Juvia…hiks…tidak tahan lagi," Juvia menyeka air matanya dengan punggung tangan, "Kalau begini terus, lebih baik Juvia pergi saja!"

Ketika malam telah larut dan semua penghuni panti tertidur lelap, Juvia melangkah mengendap-endap keluar panti. Berjalan sepelan mungkin dan tak menimbulkan suara. Sesampainya diluar, Juvia langsung berlari secepat mungkin. Dia hanya membawa payung kesayangannya. Juvia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan Rosemary.

Juvia terus berlari sampai kelelahan. Dia menengok ke belakang, panti sudah tak terlihat. Hanya ada rumah-rumah penduduk yang tak dikenalnya. Juvia membuka payungnya, dia mulai berjalan, "Sekarang, kemana Juvia harus pergi?" tanyanya pada diri sendiri. Ia tak punya tempat tujuan , hanya mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Juvia sibuk memikirkan tempat untuk dituju, sampai tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya. Hingga akhirnya ia sudah keluar dari desa Rosemary.

Tanpa Juvia sadari, Juvia sudah berada di depan sebuah hutan yang kini dikenal dengan nama Hutan Berkabut. Juvia memandangi hutan di depannya cukup lama. Dia belum pernah kesana sebelumnya. Hanya pernah mendengar cerita dari anak-anak panti kalau hutan adalah tempat yang menyenangkan. Mereka sering bermain disana. Namun Juvia tidak yakin. Ia merasa hutan menjadi suram karena kehadirannya.

Juvia membuang jauh-jauh pikirannya. Dia mencoba memberanikan diri memasuki hutan. Walaupun terlihat menyeramkan, Juvia menyadari hutan merupakan tempat yang menyenangkan. Sepertinya anak-anak panti itu benar.

"Saat itu, Hutan Berkabut tidaklah seperti sekarang. Yang ditakuti orang-orang. Hutan Berkabut adalah tempat yang menyenangkan bagi Juvia." Juvia masih bercerita.

"Menyenangkan? Meski kau sendirian?"

"Juvia merasa aman dan diterima. Tidak seperti di Rosemary. Tapi…..bukan berarti itu membuat Juvia melupakan mereka yang membenci Juvia."

"…" Sepertinya Gray bisa menebak apa yang akan Juvia lakukan.

Juvia kecil mengamati sekitarnya dengan perasaan cemas. Ia tidak melihat apapun selain pepohonan besar dan rimbun dan langit gelap yang menurunkan tetes-tetes air, "Juvia…tidak mengenal tempat ini." Dia mencengkeram payungnya lebih erat sambil terus berjalan.

Hari masih malam, Juvia merasa lelah dan kedinginan. Ia mencari tempat untuk berteduh dan beristirahat. Sayangnya Juvia tidak menemukan apa yang dicarinya. Juvia hampir menyerah, ketika matanya menangkap bayangan bangunan besar tak jauh darinya. Sebuah kastil. Juvia mengawasi kastil itu selama beberapa saat, menilai apakah kastil itu berpenghuni atau tidak. Mata Juvia melirik kedua jendela di menara kastil yang terbuka.

"Kelihatannya tidak berpenghuni."

Juvia berjalan mengitari kastil, mencoba mencari jalan untuk masuk. Di belakang kastil, ia menemukan celah kecil di tembok pagar yang bisa dimasuki anak-anak sepertinya. Juvia merangkak memasuki celah itu. Setelah berhasil masuk, Juvia meraih payungnya yang tertinggal di luar.

Rasa takut menghinggapi dirinya saat memasuki kastil lewat pintu depan yang rapuh, "Bagaimana kalau ada sesuatu yang menakutkan disini?"

Seluruh ruangan di kastil itu gelap, anehnya Juvia malah merasa nyaman. Pelan-pelan rasa takutnya menghilang. Juvia menjelajahi seluruh kastil. Walau tak ada penghuninya, Juvia heran mengapa perabotan dalam kastil itu tampak rapi dan terawat, "Mungkin kastil ini belum lama ditinggalkan." pikirnya.

Juvia duduk di sofa, "Juvia tidak yakin kalau kastil ini benar-benar tidak berpenghuni. Bisa saja sebentar lagi dia pulang. Lebih baik Juvia menunggu saja." Saat menunggu, Juvia merasa sangat mengantuk. Ia tertidur sampai pagi. Ternyata penghuni kastil yang ditunggunya tidak datang. Juvia keheranan, tapi dia tetap menunggu sampai malam kembali menyapa. Bahkan sampai hari-hari berikutnya, tetap tidak ada yang datang.

"Kalau penghuninya tetap tidak datang, Juvia bisa tinggal disini. Sayang sekali kalau kastil sebagus ini disia-siakan."

Sejak saat itu, Juvia tinggal di kastil. Ia membiarkan sebagian besar ruangan di kastil itu gelap. Dia tinggal di kastil itu sendirian selama bertahun-tahun. Selama tinggal di kastil, Juvia melihat masih banyak beberapa orang berkeliaran di sekitar kastil. Apapun tujuannya, Juvia tetap tidak suka melihat mereka. Dia tak suka orang lain berada di dekatnya.

Karena itulah, Juvia mencoba mengusir orang-orang itu dengan membuat kabut tebal di sekitar kastil. Juvia juga membuat kabut tebal di pinggiran hutan. Cara itu tidak sepenuhnya berhasil mencegah orang memasuki hutan. Meski jumlahnya telah berkurang, tapi tetap saja masih ada orang yang berani melakukannya.

Juvia berpikir untuk melakukan sesuatu yang lain. Orang-orang itu membuatnya teringat pada masa lalunya. Bicara soal masa lalu, Juvia tak ingin mengingatnya. Dia ingin melupakannya. Tetapi Juvia merasa tidak puas jika hanya melupakan. Dia masih merasa sakit hati. Aura jahat menguar dari tubuh Juvia, "Juvia…..akan balas dendam."

.

.

.

.

"Setelah itu, kau mulai menculik para penduduk untuk balas dendam," Gray menyimpulkan, "Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang selama ini kau culik? Apa itu juga termasuk dalam bentuk balas dendammu?"

Dengan tenang, Juvia menjawab, "Benar."

"Kurasa aku mengerti sekarang. Penduduk desa yang kau culik adalah mereka yang menyakitimu, bukan? Itu sebabnya kau menculik mereka. Tapi bagaimana dengan Chelia dan anak-anak lainnya? Apa alasanmu menculik mereka?"

"Ternyata kau lebih pintar dari kelihatannya." puji Juvia, "Yah, Juvia benci kesendirian. Tapi, anak-anak itu malah menunjukkannya. Di mata Juvia, mereka terlihat kesepian. Kesepian dan kesendirian merupakan bagian dari diri Juvia yang tidak bisa dipisahkan. Jadi itu juga termasuk dalam balas den-"

"Alasan macam apa itu?!" teriak Gray menyela. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Juvia.

"Mereka mengingatkan pada masa lalu Juvia." lanjut Juvia, tetap tenang.

"Lalu, apa yang terjadi dengan orang-orang yang kau culik selama ini?"

"Mereka lenyap, menguap seperti air. Juvia menghapus kebencian, kesendirian, dan…" Mata Juvia berkilat licik, "….keberadaan mereka."

"Kalau begitu, mereka mati?!"

Juvia menampakkan senyuman sinis, "Tepat seperti yang kau katakan. "

"Kau…!" Gray sangat marah, menurutnya alasan Juvia sama sekali tidak masuk akal. Juvia juga terlihat tidak merasa bersalah. Bagaimana mungkin dia bisa tetap tenang? "Memang apa untungnya kau melakukan itu?!" Gray menyiapkan tongkatnya, "Aku akan memberimu pelajaran!"

"Bagaimana caranya? Kau tidak bisa melukaiku."

Tanpa diduga, Gray tersenyum, "Aku sudah menyiapkannya."

"Apa?!" Juvia terkejut menyadari terdapat serpihan-serpihan es kecil membentuk lingkaran di sekitar kakinya. Rupanya Gray berhasil membuat jejak-jejak es dengan tongkatnya saat Juvia menceritakan masa lalunya.

"Kapan kau…" Belum sempat Juvia menyelesaikan kalimatnya, Gray berteriak sambil menyentuhkan ujung tongkatnya ke permukaan atap kastil, "Ice Pillar!"

Muncullah pilar es yang meluas dan membekukan semua yang ada di dalam lingkaran. Ruang yang ada di dalam serpihan-serpihan es membeku, tetapi Juvia berhasil menghindar.

"Masih ada yang lain! Ice Pillar!"

Pilar es lain muncul, mencoba memerangkap Juvia di dalamnya. Tapi Juvia tetap berhasil menghindar.

"Percuma saja kalau seranganmu tidak mengenaiku."

Gray terdiam sejenak, "Aku masih bisa melakukan satu mantra lagi." Dia mengamati jarak antara dirinya dan Juvia, "Kurasa ini cukup dekat."

"Aku tahu. Lebih baik aku mulai serius." Sebelum kembali menyerang, Gray melepas kemejanya.

"Tu-tunggu dulu! Kenapa k-kau malah me-membuka baju?" teriak Juvia. Ekspresi datarnya lenyap, digantikan wajah memerah dan panik.

"Pakaian basah hanya akan menghambatku." ujar Gray sambil melempar kemejanya.

"Ke-kenapa Juvia jadi gugup begini?" Juvia bisa merasakan seluruh wajahnya menjadi merah. Juvia jadi tidak bisa fokus pada pertarungannya yang masih berlanjut. Seluruh tubuh Juvia memanas, menjadi merah seperti wajahnya, "Juvia mendidih!"

Gray tidak menyadari ulahnya membuat Juvia salah tingkah. Dia bingung melihat perubahan ekspresi Juvia. Gray bahkan bisa melihat asap putih mengepul dari kepala Juvia, "Kenapa dia jadi aneh begitu? Apa dia mulai bersungguh-sungguh melawanku?"

Tapi Gray tidak terlalu memikirkannya dan kembali fokus pada pertarungan, "Terima ini!" Gray menyentuhkan tongkatnya ke permukaan atap lagi, "Aku akan membekukanmu!" Gray mengerahkan seluruh kekuatannya dan berseru, "ICE GEYSER!"

Juvia terkesiap. Detik berikutnya, es berbentuk duri besar dengan ujung yang tajam muncul dari dalam permukaan atap mendekat kearah Juvia . Juvia yang tidak menyangka es itu akan mengenai dirinya, tidak sempat menghindar.

"Apa…" Mata Juvia menatap ngeri pada es yang semakin membekukannya, "I-ini tidak mung-AAAAAAAAAAAAA!"

Gray berhasil membekukan Juvia. Seluruh tubuhnya membeku dalam duri-duri es besar, tak bisa bergerak dan membebaskan diri, "Walaupun aku tak bisa melukaimu, tapi aku masih bisa membekukanmu, kan?"

Butuh kekuatan sihir lebih untuk melakukan mantra 'Ice Geyser.' Kini Gray benar-benar kehabisan tenaga. Nafasnya terengah-engah, "Hah...hah...sial, seandainya saja...aku sedikit lebih kuat." Gray hanya berharap Juvia tidak sanggup berkutik lagi.

Tak lama setelah tubuhnya membeku, Juvia tumbang bersama dengan hancurnya es. Tubuhnya terjatuh, membentur atap. Juvia masih sadarkan diri, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya, "Juvia…kalah?" Lama-kelamaan, pandangan Juvia mulai kabur. Tubuhnya terasa dingin. Wajahnya juga terlihat semakin pucat.

Gray mengira Juvia akan berusaha bangkit dan kembali menyerangnya, kenyataannya mata Juvia perlahan-lahan menutup. Gray mendekati Juvia, memastikan dia benar-benar tak sadar. Dipegangnya tangan Juvia. Dingin, sangat dingin. Gray mulai merasa bersalah sekaligus sedikit khawatir, "Sepertinya aku terlalu berlebihan. "

"Gray-san!" Mendengar Rufus memanggilnya, Gray langsung menoleh ke asal suara, "Kau terlambat. Aku sudah mengalahkannya."

"Mengalahkan?" Rufus mengedarkan pandangannya, dan mendapati Juvia terkapar, "Jadi kalian benar-benar bertarung?"

"Begitulah." Gray tersenyum penuh kemenangan, "Aku tak menyangka bisa mengalahkannya. Dimana Chelia?"

Chelia muncul di ambang pintu. Dia tampak takut untuk keluar. "Aku menyuruhnya menunggu di bawah, tapi dia mengikutiku kesini." jelas Rufus. Chelia hanya melihat mereka sambil bersembunyi di balik pintu.

"Jangan khawatir. Kau sudah aman sekarang!" seru Gray dengan suara keras, agar Chelia bisa mendengarnya. Meski matanya masih menyiratkan ketakutan, Chelia hanya mengangguk. Chelia sudah mengerti apa yang terjadi padanya.

"Haruskah kita kembali sekarang?" tanya Rufus.

Gray mengangguk, "Ya, Sherry pasti sudah sangat khawatir."

Saat Rufus dan Chelia akan meninggalkannya, Gray kembali menengok kearah Juvia. Dalam hati, Gray merasa tidak enak meninggalkan Juvia begitu saja. Apalagi membiarkan Juvia tak sadarkan diri di bawah guyuran hujan. Gray jadi menyadari sesuatu, hujan menjadi lebih reda saat Juvia tidak sadar. Sangat berbeda dibandingkan dengan saat mereka bertarung tadi.

"Rufus, kau dan Chelia duluan saja. Tunggu aku di bawah. Aku akan menyusul kalian." suruh Gray sembari tetap memandang Juvia.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Masih ada sesuatu yang harus aku lakukan. Kau pergi saja."

Rufus menurut dan meninggalkan Gray bersama Chelia, "Apa yang dia rencanakan?"

To be continue

A/N : Kira-kira apa yang bakal dilakukan Gray? Apakah dia bakal marah sama Juvia? Jawabannya hanya ada di chapter selanjutnya. Gomen kalau updatenya lebih lama (Lagi-lagi begini). Terima kasih sudah menunggu kelanjutan fic ini dengan sabar^^ Buat fans Jellal, author minta maaf karena author terpaksa membunuh Jellal di chapter ini. Hontouni gomen nasai!*ojigi