Gelap

Sesak

Sakit

Sejuk

Tunggu, sejuk? Setahu Kardia, tidak ada frasa 'Sejuk' dalam mimpinya. Sejak kapan panas menyesakkan di ganti dengan sejuk? Namun Ia mengenali rasa sejuk ini, seperti embun kristal di pagi hari yang akan mencair saat Dewa Apollo datang.

Ia mengerjap singkat, retina biru dongkernya berusaha bertoleransi pada bias cahaya temaram ruang dimana Ia terbaring.

Terbaring? Ya, Ia sedang terbaring di kasur empuk yang sama seperti Ia jajah beberapa jam lalu.

"Kar...dia" terdengar gumaman namanya disertai gesekan tipis kertas di ujung sana.

Ia yakin satu hal, itu suara si Pinguin. Matanya berkedip beberapa kali. Sebelum kepalanya terangkat sedikit 'tuk memastikan yang Ia maksud berada di ujung sana.

Masih membaca lembaran kertas bersampul yang biasa disebut buku. Namun dari sampulnya sudah sangat kentara bahwa buku itu bukan bacaan ringan. Terbukti dengan kedutan ganjil di kening pemuda itu.

Ia kembali menutup kelopak matanya sesaat, sinar matahari dari jendela yang membelakangi Dégel justru membuat kepalanya pening. Walau Ia harus akui pemuda itu 'lebih' tampak seperti malaikat. Plus dengan mata indigo cantik yang tidak terhalang kaca bening.

"Ngh..." helaan nafas berat berhasil lolos dari bibir pucatnya.

"Kau sudah bangun?"

Kembali Ia membuka mata dan menemukan Dégel berdiri di samping tempat Ia berbaring. Lengkap dengan kacamata tentunya.

"Kau pasti tahu serangan jantung dalam keadaan pingsan sangat berbahaya" ucap pemuda itu tenang walau terselip kekhawatiran.

Kardia mengernyit heran, ini bukan kali pertama Ia pingsan saat terkena serangan jantung. Dan salah satu pertolongan pertama adalah...

"Aku melakukan RJP untuk menolongmu" kata Dégel seolah mengerti tatapan Kardia.

Sungguh jika Ia tidak sedang salam kondisi ini, Ia pasti sedang ber-hoek ria. Bagaimana tidak? Dégel melakukan RJP?! 30 kali menekan dadanya dengan kuat – kuat dan 2 kali memberinya bantuan... nafas? Itu berarti, dua kali bibir Mereka bersentuhan?! #HOOOOOEEEEEEEK! *Author dipentung bendera semaphore*

Tanpa sadar Ia menggigit bibirnya sendiri membayangkan hal itu. Beruntung Ia belum makan siang jadi kemungkinan ber-hoek rianya tidak terjadi. Ngomong – ngomong soal makan siang, sekarang sudah jam berapa?

"Jam setengah tiga sore" gumam Dégel. Oh, mungkin Kardia harus percaya bahwa Dégel sudah read overdosis hingga juga bisa membaca pikiran orang lain.

Kardia membangun kekuatan 'tuk sekedar bangun. Namun baru beberapa saat tangannya ancang – ancang, telapak tangan berbalut satin sudah bertengger di dadanya.

"Jangan bangun dulu" Pinta pemuda itu datar seperti wajahnya.

Kardia hanya menurutinya. Kembali tenggelam dalam empuknya kasur milik temannya itu. Menarik nafas panjang berkali – kali, dadanya tak lagi sesak dan sendi – sendi geraknya tak lagi kesemutan. Tapi sesuatu mengganjal di pikirannya. Bagaimana caranya Ia bisa disini?

"Kau lapar?" tanya Dégel singkat yang hanya Ia jawab dengan anggukan.

Sosok itu langsung pergi meninggalkan kamar dalam hening. Tunggu, hening? Apakah selama ini Dégel sudah sangat akrab dengan yang namanya hening? #lupakan.

Butuh waktu setengah menit bagi Kardia hanya sekedar duduk. Walau akhirnya Ia berhasil dengan kepayahan menyandarkan punggung pada tepian ranjang itu. Dan menatap kosong keluar jendela disana.

Satu hal yang harus Kalian tahu tentang kebiasaan Kardia setelah terbangun dari pingsan-saat-serangan-jantung, selalu berfikiran kosong selama beberapa menit. Entah karena Ia memang jarang berfikir atau karna juga membuat kepalanya pening.

Biasanya saat Ia terbangun, pasti Ia berada di sebuah kamar putih dengan sinar menyilaukan mata, plus selang infus ditangan dan selang oksigen di salah satu lubang hidungnya. Dan jangan lupakan kardiogram yang berdenting seirama detak jantungnya.

Namun kali ini beda, tidak ada infus, tidak ada selang oksigen, dan...

"Kau melamun?"

Pertanyaan yang lebih mengarah ke pernyataan membangunkan kekosongan akalnya. Dégel sudah duduk tepi ranjang dengan memangku sepiring bubur.

'Darimana dapet buburnya?'

"Tadi Aku beli" gumam Dégel seakan mengerti apa yang dipikirkan Kardia (lagi...?).

"Kenapa Kau harus memakai sarung tangan?" tanya Kardia lirih.

Dégel tidak menyahut, melainkan mulai menyendokkan bubur ke mulut Kardia. "Buka mulutmu" pintanya dengan nada seperti biasa.

Tapi mulut Kardia masih terkatup walau sendok bubur itu ada di depan mulutnya. "Apa Aku harus menelfon Agasha untuk datang dab menyuapimu?" tanya Dégel disertai errrr... seringai?

Perlahan mulutnya terbuka dan membiarkan bubur gurih itu masuk kekerongkongannya.

Acara menyuapi-kardia itu berakhir dengan lupus setelah sendokan terakhir masuk kemulut si rambut megar.

Keesokan Harinya.

"Aku tidak jadi ikut merayakan acara kemah"

Degel berhenti mengaduk susu panas yang baru dibawakan pelayan kantin itu, alisnya terangkat sesaat disertai pandangan tak percaya. Karna menurut penilaiannya selama beberapa minggu ini, Kardia bukanlah seseorang yang suka plin – plan. "Kenapa?"

"Yeah... Kau benar, Aku tidak boleh memaksakan diriku. Apalagi Kita ada ujian, jadi Aku tidak jadi ikut kemah" ucap Kardia disela makannya.

"Hem..." Dan begitulah respon yang didapatnya dari si rambut lumut. Meskipun Kardia juga bisa melihat sunggingan senyum setipis sutra Damaskus(?) dibibir Dégel.

"Lagi pula, sebenarnya acara ini dimaksudkan untuk membina mental calon bantara"

"Aku tahu" gumam Dégel singkat.

Alis Kardia terangkat, menatap heran Dégel yang ternyata memperhatikan topik Mereka. Susu panas yang tadinya mengepulkan uap hangat milik Dégel kini menjadi dingin, namun itulah yang membuat pemiliknya kehilangan nafsu untuk melanjutkan minum.

"40 persen adalah calon bantara dan sisanya adalah senior Mereka. Sebenarnya acara ini dilakukan untuk menggembleng mental Mereka, kan?"

"Iya..."

"SMK-ku melakukan hal yang sama, tapi dilakukan setiap awal Oktober. Kami menyebutnya 'Kemah Block'" jelasnya kemudian.

Kardia menyeringai kecil -dasar tukang nyeringai-, tumben – tumbennya Dégel mau merespon perkataannya dengan lebih dari lima suku kata.

"Lalu?" tanya Kardia. "Sejak awal Kau juga tidak ingin ikut, kan? Lalu Kau punya acara di akhir pekan?"

Acara di akhir pekan? Oh... apa yang biasa Dégel lakukan di akhir pekan selain membaca buku, membaca buku, dan membaca buku... Oh tunggu! Terkadang Ia juga mendapat mandat dari Ibunya untuk mengajak client Ibunya -yang sudah menceng kurang dari 90 untuk jalan – jalan keliling komplek.

"Biar kutebak!" ucap Kardia seraya menempelkan ujung sendok yang ternyata masih ditempeli sisa nasi di dahi #HOOOOOEEEEEEK!. "Membaca buku, kan?"

"Gak takut matamu tambah min apa?"

Tidak, batin Dégel. Sebenarnya kacamata yang tengah Ia pakai saat ini adalah kaca mata baca, omong – omong. Maka Ia memilih untuk berfokus pada susu cokelat panas yang kini telah bertransformasi menjadi es susu cokelat yang tinggal setengah gelas. "Habiskan saja makananmu" ucapnya sebelum kembali menyedot air cokelat itu lewat sedotan.

"Akhir pekan Aku gak ada acara nih... Ortuku pergi ke kota sebelah ngunjugi nenekku"

Degel tidak langsung menyahut, melainkan menghabiskan esnya terlebih dahulu. "Kau tidak ikut?"

"Gak, palingan di kurung di kamarnya nenekku lagi. Aku juga dah terlanjur minta ijin ama ortuku buat ikut kemah tapi kalau ndak jadi, pasti Mereka nyuruh Aku ikut ke rumah Nenek. Kan gak asik! Mending kerumahnya Manigoldo nonton Bok-"

SLAAASSSS!!!

Dégel langsung memelototinya. "Nonton apa?"

Kardia langsung salah tingkah sendiri mendapati lirikan tajam Excalibur milik El Cid di balik lensa bening di mata indigo itu. Segera Ia tundukkan kepala. "'Bok' apa ya? Aku lupa judulnya" elaknya sebelum kembali menyendok nasi ke dalam mulut dan Ia kunyah secepatnya.

Kemudian...

"Manigoldo"

Manigoldo yang saat itu sedang berjalan santai setelah dari kantin menemukan Dégel melambai ramah dibelakangnya. "Yo, Dégel. Ada apa nih?"

Degel menyamakan langkahnya dengan Manigoldo. "Jika Kardia main kerumahmu, Kalian biasa ngapain?"

"Hm... Kami biasanya main bareng, PS-an sampe sore, main monopoli(?), poker, nonton hentai"

Degel berpura – pura polos sesaat dengan menelengkan kepala kesamping. "Hentai? Hentai itu film apa?"

"Ih, ituloh... kayak nonton bok-"

"MANIGOLDO!!!!" lengkingan suara Kardia menggelegar sebelum-

BRAAAK!!!

Manigoldo yang punggungnya diterjang langsung nyerocos. "APAAN SIH? DATANG – DATANG LANG-"

"ADIK LO NEMBAK HELENA!"

"APA?!"

Kardia berpura – pura senang dan tertawa seakan melupakan eksitensi Dégel. "HAHAHA... KASIHAN, KAKAK KEDULUAN ADEK!"

JDAAAR!

Petir imaginer menyambar rambut Manigoldo yang mencuat melawan hukum fisika hingga ujungnya menyemburkan api imaginer.

SSYUUUSSSS!!!

Kini kepiting biru itu berlari kencang di koridor yang senggang itu.

'Aku selamat' batin Kardia. Beruntung Ia spontan mendapat ide gila tadi. Mungkin sekarang Manigoldo sedang kembali ke kelas, menyalakan handphone-nya dan menelfon adiknya diseberang sana.

Namun baru saja Ia menoleh, Ia menemukan raut serius Dégel. Sangat kentara dari lekukan halus di dahi pemuda lumut itu. 'Mungkin tidak' batin Kardia menelan ludah.

"Bagaimana caranya Kau tahu, Kardia? Sedangkan adiknya Manigoldo sekolah di Bluegrad dan Helena, Dia sekolah disini 'kan?" tanya Dégel curiga tingkat tinggi.

Kardia mulai merinding. "Ko...kok tahu?"

"Tahu apa?!" tanyanya galak dengan menaikkan satu oktaf. Oh... Demi Pak Phantasos yang kadang tittle-nya harus diubah menjadi Bu Phantasos karna guru yang bersangkutan memiliki kelamin ganda!(?) Kardia benar – benar terpojok!

"Ta...ta...tahu... Ah!" Kardia menjentikkan jari. "Tahu adiknya Manigoldo sekolah di Bluegrad sedangkan Helena sekolah disini! Tahu darimana Kau?"

Raut serius Dégel melunak, lalu Ia langsung memalingkan wajah dan langsung berjalan pergi.

"Hei!" merasa diacuhkan, Kardia lantas menyamakan langkahnya.

Namun Dégel hanya memberinya isyarat untuk diam. Yeah, setidaknya diantara Mereka berdua masih ada yang memperhatikan keadaan koridor yang mulai ramai di jam istirahat kedua itu.

Tentu saja Dégel tahu Angelo, adik Manigoldo. Angelo adalah salah satu adik kelas beda jurusannya dari Tehnik Komputer semasa di SMK Bluegrad dulu. Sedangkan Helena? Jangan ditanya lagi... hanya ada satu nama Helena di tempat ini, dan Ia mengenalnya. Karena orang tua Helena adalah penjual bunga di kaki gunung tempat dimana Dégel tinggal. Yang juga selalu mendapat pasokan bunga dari kebun bunga temannya, keluarga Agasha sepanjang minggu.

Jum'at di minggu itu

Kardia menghela nafas kecewa menatap barisan adik kelasnya ber-tittle 'Calon Bantara' yang mulai berkemah di sore nanti dari balik kaca jendela kelasnya.

Ini jam kosong jika Kalian bertanya. Setengah dari penghuni kelas ngacir ke kantin tanpa takut ketahuan guru piket sedang ada pula beberapa memilih tinggal.

SREEEK

Gesekan antar lembar kertas bertuliskan ribuan rumus mulai membuat Kardia jenuh. Sangat. Namun tidak dengan pemilik tangan yang menghasilkan bunyi tersebut setiap beberapa detik sekali.

Ia menoleh dan menemukan Dégel yang masih memaku pandangan pada buku Kimia. "Kau tahu, dulu Aku sangat ingin seperti Mereka" ucap Kardia dengan tatapan sayu.

"Hem?" Dégel yang ditarik paksa dari dunianya mengerjap tidak mengerti dengan arti perkataan Kardia.

Kardia mengedikkan bahu keluar jendela, menampakkan Defteros yang memberi komando kepada sekitar 30 siswa – siswi dengan atribut pramuka lengkap.

Kini Dégel mengerti maksud Kardia, namun Ia tidak ingin mendengar kelanjutannya. Sangat tidak ingin!

Merasa diacuhkan seperti biasa, Kardia memulai kisahnya sendiri. Toh bagaimanapun, walau Dégel terlihat tidak mendengarkannya seperti biasa, Dia merasa sedikit uneg – unegnya hilang.

"Saat kelas satu dulu Aku juga ingin ikut semua eskul. Bantara seperti Defteros, Paskibra seperti Shasa dan lainnya, Taekwondo seperti El Cid. Aku sangat ingin tapi..." Kardia meletakkan tangan didada. Dégel melihatnya iba dari ekor mata. "...jantungku tidak pernah mau kerja sama"

Kini Kardia membuang pandangan keluar jendela lagi, para calon bantara kini duduk di pinggir lapangan bersama senior pembimbing Mereka. Bukan hanya terbakar panas matahari, Mereka juga tampak terbakar semangat membara.

Bahkan Kardia tidak tahu bahwa Dégel menatapnya hangat ketika Ia membelakanginya. "Aku iri dengan Mereka"

Namun ketika Kardia menengok kebelakang, Dégel pura – pura kembali membaca buku. "Tapi El Cid, Shaka, Manigoldo, Dohko, Sisyphus akan ikut besok sebagai peserta dengan bocah – bocah itu sebagai pemimpin. Sayang sekali manigoldo juga ikut, itu berarti aku akan sendirian di akhir pekan"

Dégel menutup bukunya jengah. "Kardia"

"Ye?"

Dégel membuang nafas kasar, Ia bisa saja pergi ke perpustakaan kalau saja Ia tidak sedang mager alias males gerak. "Bagaimana jika Kau menginap di rumahku malam ini hingga minggu nanti?"

Kardia tersenyum -seringainya di buang dulu- dengan mata berbinar. "Bener nih?"

"Yah"

Kardia yang tadinya terlihat galau langsung semangat! "Yeh, lumayan juga. Lagian Kau juga pasti sepi kalau libur 'kan? Hehehe!" tawanya senang.

Dégel hanya menggeleng samar, sebenarnya Ia juga kasian kalau Kardia sendirian di rumah. Lagipula, besok libur!

"Dan Kardia" Dégel kembali menginterupsi.

"Hem?"

"Apa Kau tahu jabatan Defteros di bantara? " Dégel tersenyum kecil.

Kardia yang wajahnya masih semangat riang langsung bingung. "Ehm...setahuku kayak pemimpin gitu. Emang kenapa?"

"Jangan pernah bahas pramuka di depanku lagi"

Kardia bingung, itu benar. Namun belum sempat Ia kembali berceloteh, Dégel baru berdiri dari bangku belajarnya. Kemudian membelakanginya. "Karena... Aku pernah punya teman yang sama pangkatnya dengan Defteros"

Dégel kemudian meninggalkan pemuda itu dengan tampang sedingin balok es.

Author Note :

"Yeeee... Saya kembali lagi!!! Melenceng dari jadwal ya? Oh! Jika ada yang bertanya apa jabatan Defteros di Bantara sekolah tsb, jabatannya adalah Pradana (pemimpin) biasanya dibantu sama Pradani (wakil Pradana tp cewek). Dan Aku juga dah janji buat nambahin peran Defteros (walau di ff asli adegan Defteros juga lumayan). Author berterima kasih kepada para pembaca yang men-suport dan me-rivew jalannya ff ini. Maaf banget, hp Author lagi rusak nih, karna Author banting bulan lalu. Jadi typho bertebaran. Suwun"4