Jongin terengah, tubuhnya menimpa tubuh mungil Kyungsoo yang juga tengah sibuk menyerap oksigen.
"Kau milikku, Kyungsoo. Dan selamanya akan begitu.."
Sebuah kecupan mendarat di pipi Kyungsoo.
Jahat.
Air mata mulai membasahi pipi Kyungsoo.
Sudah tidak ada jalan keluar..
Kyungsoo meringis saat ia meraskan Jongin mencabut kejantanannya dari lubang Kyungsoo yang terisi penuh oleh benihnys sampai-sampai cairan itu meluber ke paha Kyungsoo.
Semuanya akan hancur bersamaan.
Ia menatap Jongin yang langsung berbaring dan terlelap, sebelum bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sakit memang, tapi Kyungsoo tidak bisa mengelak bahwa ia juga menikmati dosa yang baru saja mereka perbuat. Impiannya untuk menjadi milik Jongin akhirnya menjadi kenyataan walaupun mereka menempuh cara yang hina.
Setelah membersihkan diri, Kyungsoo kembali ke dapur untuk mengambil baju-baju yang tercecer di lantai sementara tubuhnya terbalut bathrobe milik Jongin.
"Apa yang kau lakukan dengannya?"
Kyungsoo refleks melepas pakaian yang ia pegang saat mendengar suara berat itu. "C-Chanyeol.."
Nada bicara Chanyeol terdengar aneh, tapi Kyungsoo tidak menyadarinya, ia terlalu ketakutan kalau kekasihnya benar-benar melihat apa yang Jongin lakukan padanya.
"Do Kyungsoo, jawab aku!"
Mata bulat Kyungsoo melebar, tubuhnya tersentak saat Chanyeol membentaknya, "M-Maafkan aku, aku.. Jongin mabuk, dia-" ia membeku saat lelaki jangkung itu memeluknya dari belakang, kepalanya tersandar di pundak Kyungsoo.
Aneh..
Tak lama kemudian ia mendengar dengkuran. Alis Kyungsoo bertautan,
Chanyeol tidur sambil berjalan?
Ia mendesah lega dan memeluk Chanyeol, mencoba untuk menarik tubuh sang raksasa kembali ke kamarnya, membaringkan tubuh kekasihnya. Wajah Kyungsoo lagi-lagi memerah saat melihat tubuh atletis Chanyeol.
Astaga, apa yang aku lakukan..
Kyungsoo mengecup bibir Chanyeol dengan lembut, "Maafkan aku.." bisiknya. Ia melihat sebuah senyum mengembang di bibir Chanyeol.
Maaf..
Pagi harinya, Chanyeol terbangun dengan sebuah tubuh mungil meringkuk di pelukannya. "Kyungsoo? kenapa kau ada disini?" tanyanya sambil menatap kedua mata jernih nan menggemaskan itu. Biasanya Kyungsoo akan meminta izin Chanyeol terlebih dahulu sebelum tidur dengannya, dan tunggu, kenapa Kyungsoo tidak memakai celana? Apa Kyungsoo memakai baju Chanyeol?
"Kau yang meminta untuk bercinta denganku, kau pasti lupa.."
Kebohongan itu meluncur dengan mulus dari lidah Kyungsoo. Sebuah dosa yang ditutupi dengan tatapan polos dan wajah tak bersalah seorang Do Kyungsoo.
"B-Bercinta?"
Kyungsoo memanyunkan bibirnya sambil terus mengawasi ekspresi Chanyeol. Lelaki itu terlihat begitu terkejut dan tidak percaya. "Astaga, aku benar-benar seorang bajingan, kita bahkan belum setahun pacaran," gumam lelaki berambut hitam itu. Terang saja Chanyeol percaya, toh ia terkadang tidur sambil berjalan, pernah suatu hari ia bangun di kolam ikan milik tetangga.
Lelaki mungil bermata bulat itu terkekeh melihat kekasihnya yang salah tingkah.
"A-Apa aku mengeluarkannya didalam?"
Kedua pipi tembam Kyungsoo memerah hebat, "I-Iya," bisiknya.
Kumohon maafkan aku..
"Ya ampun.. Aku.. Maaf, Soo.." Chanyeol menangkup pipi Kyungsoo dan mencium bibirnya lembut dan nyaris bergerak. "Tidak apa-apa," sahut lelaki mungil itu.
"Apa bokongmu sakit?" tanya Chanyeol, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam, apalagi saat Kyungsoo mengangguk. "Kau mau ke dokter? Aku bisa meminta izin ke Jongin, lagipula ini kan hari minggu." "Tidak usah, Chanyeol,"
Sementara itu, sang pemilik rumah bangun dengan kepala yang pening, kamarnya dipenuhi bau alkohol dari botol-botol kaca kosong yang berserakan dimana-mana. Ia bahkan tidak menghiraukan kenapa ia bangun tanpa celana dan tubuhnya berbau seperti sperma.
Mungkin Jongin tidak akan ingat, apalagi Kyungsoo membersihkan bekas-bekas bercinta mereka dengan sangat bersih, terutama bekas sperma di kasur Jongin, tapi ia tidak berani menyentuh tubuh majikannya, ia takut membangunkan Jongin.
"Kyungsoo!" panggil Jongin dengan kuat walaupun nadanya menunjukkan bahwa ia masih setengah sadar.
"Ya, Jongin?"
Lelaki berkulit tan itu menautkan alisnya, "Kau menggunakan baju Chanyeol?" tanyanya. Aneh memang, daripada memperhatikan apa yang melekat pada dirinya, Jongin justru hafal pakaian orang lain yang dikenakan Kyungsoo, jangan lupakan paha mulusnya yang terpampang secara cuma-cuma. Sungguh indah.
"Ah, ini, aku buru-buru. Apa ada yang bisa kubantu?" lelaki mungil itu mengalihkan perhatian Jongin, "Kepalamu pasti sakit, aku akan siapkan air, kau harus mandi. Aku akan ambil obat dan menyiapkan bajumu," celoteh Kyungsoo sambil membantu Jongin bangkit dari kasur dengan menarik lengannya.
Cup
Kyungsoo melebarkan matanya karena terkejut saat Jongin tiba-tiba mencium bibirnya, "Maaf." Dahi sang pelayan berkerut kala mendengar Jongin meminta maaf.
"Maaf? Untuk apa?"
Untuk semuanya..
Untuk semua hal yang tekah kurenggut darimu..
"Aku.. Selalu merepotkanmu, tidak seharusnya aku minum sebanyak itu. Sekarang aku menambah tugasmu untuk membersihkan kamar dan menyiapkan obat,"
Kyungsoo tersenyum sedikit, lucu juga melihat Jongin meminta maaf dengan wajah yang memelas seperti itu, "Apa yang kau bicarakan.. Kau membayarku untuk ini, jadi sudah tugasku," ucap Kyungsoo sambil menatap mata elang milik majikannya, tatapan itu tidak berlangsung lama, Kyungsoo tidak kuat menatap Jongin terlalu lama. Tatapan itu terlalu indah dan memabukkan, Kyungsoo sudah tersesat dan dibutakan olehnya, ia tidak ingin tatapan Jongin membunuhnya perlahan. "Lain kali, ku mohon hentikan aku." Jongin menatap wajah Kyungsoo dengan serius.
Hentikan aku dari menyakitimu, Soo..
Kyungsoo tersenyum lembut, "Akan aku usahakan. Sekarang minum obatmu selagi aku siapkan airnya,"
"Soo.."
"Iya?"
"Terimakasih.."
"Daritadi topik pembicaraanmu aneh, Jongin. Terimakasih untuk apa?"
Untuk perasaan indah yang telah kau berikan..
Untuk semua perhatianmu..
Untuk semua yang kau lakukan..
Untuk pengorbananmu..
"Untuk segalanya," Jongin tersenyum miris. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin membalas rasa cinta Kyungsoo kepadanya, ia bahkan sudah terobsesi oleh sosok mungil bermata bulat itu sampai-sampai mencari pelampiasan, namun apa dayanya? Mendiang ayahnya berpesan agar ia mempertahankan perusahaannya, yang berarti ia harus memiliki keturunan. Sesuatu yang mustahil bisa diberikan seorang lelaki seperti Kyungsoo.
Aku bersikap bodoh.
Maafkan aku..
Selamat tinggal,
Sang pelayan pribadi menggelengkan kepalanya pelan, heran melihat sisi Jongin yang tak biasanya ia tunjukkan. Jongin yang biasanya garang dan tegas, justru terlihat begitu rapuh sekarang.
Air mata mengalir di pipi Jongin saat ia mengamati tubuh mungil Kyungsoo yang menghilang kedalam kamar mandi.
Apa kau tidak lelah?
Kenapa kau belum menyerah juga?
Kau pasti kesakitan..
.
.
.
.
TBC
