Paparazzi!

Disclamer: Masashi Kishimoto.

Rating: T

Pair: SASUNARU! REMEMBER! IT'S SASUNARU!

Warning: Miss typo, BL, dan lain-lain

Tidak suka jangan dibaca!

Don't Like, Don't Read!


CHAPTER 8: SAI'S DILEMA!


Anak kecil berambut hitam, berkulit pucat, dengan wajah yang penuh ketakutan bersembunyi di balik mobil. Dirinya sudah sangat ketakutan karena mendengar bunyi senjata api yang terus dilucutkan, dari berbagai arah. Anak kecil yang bernama Sai tersebut menutup telinganya sampai pada saat seseorang dengan wajah keji muncul di hadapannya..

"Ja-jangan!" teriak Sai yang sangat ketakutan, dan tubuhnya pun tidak kuasa untuk menggigil ketakutan.

"Anak kecil rupanya," kata pria tersebut dan akan menembak kepala Sai sebelum seseorang dengan rambut kuning, wajah yang tampan, memukul dan menembak pria tersebut dari arah belakang.

Sai pun masih merasa ketakutan sebelum pria tersebut menundukan tubuhnya, hingga wajah Sai dan pria tersebut sejajar.

"Kau tidak apa-apa?" kata pria tersebut pada Sai setelah orang yang akan membunuh Sai mati di depannya.

Sai menganggukan kepalanya. Orang di depannya meskipun tampak sangat baik tetapi aura wibawanya sangatlah terasa oleh Sai.

"Jangan takut seperti itu, tersenyumlah dan semua akan menjadi baik," kata pria yang kini merupakan pahlawan bagi Sai.

Pria tersebut akan membawa Sai pergi sebelum seseorang menyerang pria tersebut dan—

Sai terbangun dari mimpinya dengan peluh di sekujur tubuhnya, dan napas tersenggal-senggal. 'Orang itu, siapa dia?' pikir Sai.

Sai melihat ke arah jam di atas meja samping tempat tidurnya. 'Pukul 08.00' pikir Sai.

'Chk, aku harus siap-siap,' pikir Sai.

Sai pun segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menemui seseorang yang paling dia tidak ingin temui. Seseorang yang selalu menerornya dengan ucapan-ucapan sadisnya. Seseorang yang bernama Orochimaru adalah orang yang kini menjadi rekan Danzo, dan Sai lah yang merupakan penghubung bagi mereka berdua.

Author: Pete

Hujan pun telah tiba, sehingga tumbuhan-tumbuhan yang sempat mengering ketika musim panas kini secara perlahan kembali tumbuh. Naruto Uzumaki yang merupakan seorang artis terkenal di Konoha sedang sibuk memandangi jendela. Bukan karena bolos kerja, dia bisa bersantai-santai seperti itu, tetapi karena ditundanya acara pemotretan lah yang membuat Naruto harus berdiam diri di apartemennya selama seharian penuh.

Pintu kamar Naruto pun terbuka, Iruka yang merupakan orang tua asuh Naruto memasuki kamar bernuansa oranye tersebut dan berdiri di samping Naruto. "Seharusnya anak seumuran dirimu ini berjalan-jalan, ke luar rumah pada saat waktu luang seperti ini," kata Iruka.

Naruto menghela napas, jendela yang tertutupi embun dibersihkannya dengan memakai telapak tangannya. "Ya, itu akan terjadi jika aku bukanlah Uzumaki Naruto yang merupakan seseorang bintang terkenal."

Iruka menganggukan kepala. "Apa kau berniat untuk mengundurkan diri dari dunia kerartisan? Nada bicaramu seperti putus asa saja," tanya Iruka.

Naruto terdiam, seolah-olah pertanyaan Iruka adalah pertanyaan yang sangat sulit. 'Bagaimana aku akan mundur dari dunia keartisan bila aku terus mengingat Uchiha yang akan tersenyum penuh kemenangan dengan kekalahanku?' pikir Naruto.

"Kenapa di—"

"Maaf mengganggu Umino-sama, Uzumaki-sama. Haruno-sama telah menunggu Uzumaki-sama di ruang tamu," kata seorang pelayan yang memutus perkataan Iruka sambil berdiri di balik pintu kamar Naruto yang terbuka lebar.

Naruto dan Iruka saling pandang.

"Bilang pada dia aku akan segera menemuinya," kata Naruto, dan pelayan tersebut pun pamit untuk menyampaikan pesan Naruto pada Sakura.

Setelah pelayan tersebut menghilang dari hadapan mereka berdua, Iruka memandang Naruto dengan heran."Tumben sekali Sakura datang menemuimu," kata Iruka, dan Naruto hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda diapun tidak mengerti dengan kedatangan Sakura ke tempatnya.

Author:Pete

Ruangan bernuansa klasik, dengan alunan musik klasik yang terdengar di sepenjuru ruangan tentu sangat cocok dengan orang yang memiliki karakter seperti Hiashi Hyuuga. Penerus kekayaan Hyuuga tersebut tampak sibuk membaca buku yang tebalnya cukuplah untuk membuat orang pingsan ketika kau melemparnya.

Saat akan membalikan halaman tiba-tiba pintu ruangan perpustakaan keluarga Hyuuga terbuka lebar, dan dengan langkah cepat Neji memasuki perpustakaan tersebut, untuk menghampiri pamannya.

"Paman, Hinata-sama terlalu banyak meminum obat penenang, dan sekarang dia tidak sadarkan diri," kata Neji dengan napas terputus-putus karena telah berlari sambil menahan rasa paniknya, dan wajah Hiashi yang biasanya terlihat tenang kini begitu pucat dan panik ketika mendengar kabar dari Neji.

'Apa yang kau lakukan Hinata?' Pikir Hiashi yang langsung berlari dari perpustakaan menuju kamar Hinata.

Author:Pete

Naruto memandang lekat-lekat gadis yang sempat mengisi hatinya di masa lalu. "Tumben sekali kau kemari, Sakura?" tanya Naruto dengan seringai khas-nya.

Sakura mengangguk kepalanya dengan semangat. "Kita jalan-jalan,yuk!" ajak Sakura.

Naruto terdiam sejenak. "Aku tidak bias," jawabnya singkat.

Sakura memanyunkan bibirnya, dan membuat dirinya terlihat lebih manis, sehingga siapapun pria yang melihatnya akan merasakan debaran jantung yang sangat hebat, tetapi, karena Naruto sudah sangat kenal dengan Sakura, dia menganggap hal tersebut adalah hal yang biasa.

"Ayolah..," Sakura merajuk.

Naruto menghela napas. "Aku tidak bisa Sakura, aku lelah dengan tingkah-laku para wartawan yang selalu mengejarku," kata Naruto.

Sakura memandang Naruto dengan tatapan bosan. "Kau jadi penakut Naruto? Biasanya saja kau cuek dengan kejaran para wartawan," kata Sakura dengan nada merendahkan.

Naruto terdiam sejenak, tidak rela dibilang pecundang.

"Ya sudah, aku bersiap-siap terlebih dahulu," kata Naruto.

Yes!

Sakura tersenyum dengan lebar. "Itu baru Naruto yang aku kenal!" seru Sakura, dan Naruto hanya bisa tersenyum kecil.

Author: Pete

Hiashi membuka pintu kamar Hinata dengan sangat kasar, dan mengakibatkan bunyi benturan pintu dan tembok yang sangat keras. "Hinata!" Teriak Hiashi sambil berlari ke arah tubuh Hinata yang terletak di atas kasur, dan tidak peduli dengan para pelayan yang sibuk berbisik-bisik di sekelilingnya.

"Paman, mobil telah disiapkan sebaiknya kita cepat-cepat bawa Hinata-sama ke rumah sakit," kata Neji, dan Hiashi pun langsung menggendong tubuh Hinata, untuk membawanya ke rumah sakit.

Neji akan mengikuti Hiashi sebelum dia melihat sebuah majalah tergeletak di atas kasur. Neji berjalan secara perlahan-menuju majalah tersebut dan mengambil majalah yang terbuka tersebut lalu membacanya.

"Hyuuga berkabung"

Pelarian diri Naruto Uzumaki dari acara pertunangannya merupakan hal yang menyedihkan bagi keluarga Hyuuga. Terlebih, pelarian diri tersebut diakibatkan dari hadirnya Uchiha Sasuke yang merupakan salah satu pewaris keluarga Uchiha yang kini berprofesi menjadi seorang paparazzi. Sebenarnya apa yang terjadi dibalik pertunangan itu semua? Apa benar Hyuuga hanya bermimpi untuk mendapatkan seorang Uzumaki Naruto? Lalu apa benar seorang Uzumaki dan pewaris keluarga Uchiha tersebut adalah seorang pecinta sesama jenis? Berikut kisahnya—

Melihat foto Naruto yang sedang melarikan diri bersama Sasuke- yang terdapat di dalam majalah- Neji langsung meremas majalah yang berada di tangannya dengan wajah yang sudah merah padam karena menahan amarah. 'Akan aku buat dia menjadi milik mu Hinata-sama, aku bersumpah,' pikir Neji.

Author:Pete

Setelah berputar-putar mengelilingi kota dengan menaiki mobil pribadinya, Naruto dan Sakura berhenti di sebuah kedai kopi yang letaknya cukup jauh dari central kota. Suasana yang sepi dan nyaman membuat kedua sahabat tersebut terhanyut dalam lamunan masing-masing.

Sakura memandang orang di depannya yang sibuk memandang ke arah luar jendela. "Naruto..," kata Sakura, memecahkan keheningan yang ada.

Naruto memandang Sakura. "Iya?"

"Aku sebenarnya men—"

Sakura menghentikan perkataannya ketika telepon seluler kepunyaan Naruto berbunyi. Naruto tersenyum, meminta maaf pada Sakura lalu segera mengangkat telepon selulernya.

"Kiba" pikir Naruto setelah membaca layar ponselnya.

"Hallo?" Sapa Naruto pada Kiba.

"Naruto, kau dimana? Hinata masuk rumah sakit!" Seru Kiba, dan kedua mata Naruto langsung membesar karena terkejut.

"Dia kenapa?" tanya Naruto.

"Ceritanya panjang, kau cepatlah datang ke rumah sakit Konoha," seru Kiba dan langsung menutup teleponnya.

Naruto memandang Sakura.

"Ada apa?" tanya Sakura dengan nada sedikit cemas.

"Hinata masuk rumah sakit, kau bisa kan pulang naik taxi sendirian? Aku harus ke rumah sakit konoha!" seru Naruto sambil beranjak dari kursi.

"Aku ikut!" Sakura pun beranjak dari kursi, mengikuti Naruto.

'Ada apa sih sebenarnya?' pikir Sakura.

Author:Pete

Hiashi berdiri di depan pintu UGD, menanti dokter yang sedang sibuk untuk menyelamatkan Hinata. Jika terlambat sedikit saja Hiashi membawa anaknya ke rumah sakit, nyawa Hinata pastilah tidak dapat diselamatkan.

Beberapa saat kemudian, munculah Kiba dengan diiringi oleh Naruto, dan Sakura.

Melihat Naruto, Neji yang sejak tadi berdiri di samping pamannya langsung mendekati Naruto dan menarik Naruto menuju tempat yang jauh dari keramaian, dan Sakura yang melihat hal tersebut hanya bisa terdiam di tempat dan melihat Naruto dibawa pergi oleh Neji.

BRAK!

Neji membanting tubuh Naruto ke arah tembok sambil memegang kerah baju Naruto. "Jika terjadi sesuatu dengan Hinata, aku pasti akan membunuhmu!" teriak Neji, tidak peduli jika dia masih berada di area rumah sakit meskipun tempatnya sepi.

Naruto memegang tangan Neji, dan menyingkirkan tangan Neji dari kerahnya dengan kasar. "Apa maksudmu, hah? Kau pikir aku dewa kematian yang bisa mencabut nyawa Hinata? Hinata berada di tempat ini bukan gara-gara diriku?" kata Naruto dengan nada bersungut-sungut, tidak rela dituduh sebagai orang yang membuat Hinata bunuh diri.

"Sebaiknya, kau baca ini," tiba-tiba Kiba muncul dari arah belakang Neji sambil menunjukan sebuah majalah.

Naruto mendorong Neji, dan berjalan ke arah Kiba, lalu diambilnya majalah yang berada di tangan Kiba.

Naruto membaca berita yang telah dibaca Neji pada saat di kamar Hinata.

"Apa-apaan ini?" seru Naruto sambil memandang kedua orang di depannya.

Neji dan Kiba saling pandang.

"Hentikan ulahmu Naruto, atau bukan hanya Hinata saja yang akan menjadi korban, tetapi orang-orang di sekelilingmu juga!" kata Kiba dengan nada penuh emosi, sedangkan Neji hanya mendengus, kesal.

Naruto terdiam, enggan mengakui kesalahannya.

Kiba menganggukan kepalanya. "Kau memang benar-benar egois," kata Kiba, dan setelah itu Kiba pun beranjak pergi dari hadapan Naruto dengan diikuti oleh Neji.

Naruto masih terdiam. Pikirannya sudah sangat kacau, dan beberapa saat kemudian, Naruto pun berlari menuju mobilnya. 'Aku tahu siapa yang seharusnya disalahkan atas semua ini!' pikir Naruto.

'Uchiha Sasuke, memangnya kau siapa hah? Bisa-bisanya kau berbuat seenaknya,' seru Naruto di dalam hatinya.

Author: Pete

Sepasang mata onyx berkilat tajam ketika memandang tulisan majalah di depannya. Senyuman sinis a la Uchiha terlukis di bibirnya. Beberapa saat kemudian, kesendiriannya terganggu ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

"Masuk!" seru Uchiha bungsu, Sasuke Uchiha.

Karin yang merupakan sekretaris Sasuke memasuki ruangan dan berjalan ke arah hadapan Sasuke. "Sasuke-sama, ada seseorang yang ingin menemuimu," kata Karin.

Sasuke memandang Karin dengan galak. "Aku sudah bilang jika hari ini aku tidak mau digang-

"

"Jangan bermimpi kau akan hidup tenang jika masih berurusan denganku, Teme!" seru Naruto yang secara tiba-tiba memasuki ruang kerja Sasuke.

Sasuke memandang pemilik rambut pirang di depannya dengan senyuman sinis. "Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum bertamu ke tempat seseorang?" sindir Sasuke.

Naruto tidak mendengar ucapan Sasuke, dia langsung berjalan ke arah Sasuke dan secara bersamaan, baik Sasuke maupun Naruto menarik kerah baju lawannya masing-masing.

"Kau pikir kau siapa hah? Akibat ulahmu Hinata hampir saja kehilangan nyawanya!" seru Naruto sambil memandang bola mata Sasuke yang begitu gelap.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. 'Hyuuga bunuh diri? Atau apa?' pikir Sasuke.

"Oh, rupanya dia hampir mati?" komentar Sasuke.

Naruto menggertakan giginya. "Teme! Apa kau sudah tidak punya hati nurani? Dia bunuh diri akibat ulahmu!" teriak Naruto.

Sasuke melepaskan tangan Naruto dari kerah bajunya, dan berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan. "Aku memang seorang pembunuh dobe, pembunuh karakter," kata sasuke dengan santai.

Naruto mengerutkan keningnya.

"Apa kau lupa jika profesi-ku adalah seorang paparazzi?" tanya Sasuke.

Naruto terdiam.

"Berita mengenai masuknya Hyuuga ke dalam rumah sakit, pasti akan sangat menghebohkan,"kata Sasuke dengan santai dan membuat mata Naruto membulat dengan sempurna.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto.

"Terima kasih telah memberikan suatu bahan berita yang bagus pada diriku," kata Sasuke dengan senyuman sadis.

Naruto menghela napas, dan memandang penyandang nama Uchiha dengan wajah kalut. "Jika memang seperti itu, aku mengaku kalah... Aku akan mundur dari dunia keartisan...," kata Naruto dan setelah itu Naruto meninggalkan Sasuke yang tidak percaya dengan apa yang baru aja dia dengar.

'Sial, jika dia menyerah di sini aku akan kehilangan pion ku untuk mencegah Itachi membawaku kembali ke kediaman Uchiha,' pikir Sasuke.

Author: Pete

"Kau memang hebat, Sai," kata seseorang dari balik cahaya remang-remang.

"Kau telah membuat berita yang sangat menarik dibandingkan berita-berita lainnya," lanjut orang tersebut.

Sai yang duduk di depan orang tersebut, tersenyum tidak penuh arti, dan tangannya terkepal dengan sangat kuat. "Tentu saja Orochimaru-sama, melawan seseorang seperti Uchiha Sasuke merupakan hal yang mudah, dan tampaknya Naruto pun adalah orang yang cocok untuk menghancurkan Sasuke," kata Sai.

Orochimaru mengangguk perlahan."Aku harap kau tidak berubah pikiran untuk membantu idola mu dibandingkan aku sebagai tuan mu, Sai," kata Orochimaru.

"Tentu saja tidak Orochimaru-sama," kata Sai dengan wajah tampa ekspresi.

"Sama sekali tidak."

Author: Pete

Sasuke berjalan memasuki sebuah gedung. Gedung yang merupakan tempat percetakan majalah kedua terbesar di Konoha setelah percetakan kepunyaannya.

Seluruh orang yang di dalam gedung memandang Sasuke. Mereka memandang dengan kagum sekaligus terheran-heran. "Apa aku bisa bertemu dengan pemilik perusahaan ini?" tanya Sasuke pada receptionist.

Receptionist pun mengangguk dan mempersilahkan Sasuke untuk menunggu. Setelah menghubungi orang yang bersangkutan, Sasuke dipersilahkan oleh receptionist untuk memasuki ruangan direktur.

'Berita brengsek itu harus aku akhiri sekarang juga,' pikir Sasuke.

Author: pete

Naruto berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Setelah mengetahui penyebab kecelakaan Hinata, Naruto merasa sangat bersalah pada Hinata, dan akan melakukan apapun juga untuk menghilangkan rasa bersalahnya.

"Aku kira kau tidak akan mempunyai nyali untuk datang kemari," kata Neji, dengan nada menyindir.

Naruto memandang Neji. "Aku sedang tidak ingin bertengkar Hyuuga," kata Naruto.

Neji mengangkat kedua bahunya. "Yah, jika kau memang ingin menghilangkan rasa bersalahmu maka kau harus menyukai Hinata seperti Hinata menyukaimu."

Naruto memandang Neji dengan heran. "Apa maksudmu?"

Neji tersenyum sinis. "Kau harus selalu berada di samping Hinata setelah dia tersadar," jawab Neji, dan setelah itu Neji pergi meninggalkan Naruto.

'Apa maksudnya?' Pikir Naruto.

Author: Pete

Sasuke memandang orang di depannya dengan tajam. Danzo yang merupakan direktur perusahaan majalah terkenal sedang duduk di depannya dengan senyuman licik.

"Suatu kehormatan bagi perusahaan kami telah didatangi orang hebat seperti anda, Tuan Uchiha," kata Danzo.

"Apa maksudmu menerbitkan berita sampah seperti itu? Bukankah sudah suatu kesepakatan jika berita itu hanyalah aku yang boleh mengeluarkannya, Tuan Danzo yang terhormat?" kata Sasuke yang tidak berniat berbasa-basi sama sekali.

Danzo tertawa sangat keras. "Hahaha, ayolah Uchiha, ini hanyalah sedikit humor yang perusahaan kami buat untuk menghormati dirimu," kata Danzo.

Sasuke mendengus, kesal. "Oh iya? Bagaimana jika perusahaan aku pun membuat sedikit humor mengenai dirimu?" tanya Sasuke dengan nada penuh ancaman.

Danzo menganggukan kepalanya. "Itu akan menjadi suatu kehormatan bagi diriku," kata Danzo yang bermaksud menantang Sasuke.

Sasuke beranjak dari kursi, dan memandang Danzo dengan senyuman a la Uchiha. "Asal kau tahu saja, hanya dalam 24 jam aku bisa membuat mu bertekuk lutut pada diriku," kata Sasuke sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan Danzo.

"Oh iya, dan satu hal lagi, Orochimaru tidak semudah itu untuk dikendalikan," kata Sasuke sebelum menutup pintu ruangan kerja Danzo.

Danzo yang sejak tadi terdiam mendengar ucapan Sasuke langsung melemparkan gelas di sebelahnya ke arah pintu. "Brengsek kau, Uchiha!" teriak Danzo setelah Sasuke menghilang dari hadapannya.

Author: Pete

Sasuke memasuki mobilnya dengan wajah sangat kesal. Diambilnya kamera yang berada di sampingnya. 'Jika Uzumaki mengundurkan diri, aku akan kehilangan satu pertahanku—' pikir Sasuke.

'—oleh karena itu,siapapun akan aku hancurkan jika orang tersebut telah mengganggu teritorial kekuasaanku,' pikir Sasuke.

"Akan aku tunggu suatu kesempatan yang bisa menghancurkanmu, Danzo," gumam Sasuke. Dan kesempatan tersebut pastilah akan tiba!

Author: Pete

Naruto memandang Hinata yang terbaring dengan tenang di depannya. Wajah Naruto yang biasanya ceria kini begitu kalut. Bagaimana tidak kalut? Rasa bersalah terus menghantui dirinya, dan seluruh tanggung jawab mengenai peristiwa bunuh dirinya Hinata diberikan kepada dirinya.

"Kau sudah makan?" tanya Kiba pada Naruto.

Naruto menggelengkan kepalanya.

"Sebaiknya makanlah terlebih dahulu, jika kau seperti ini, maka kau pun akan ikut sakit," kata Kiba.

Naruto beranjak dari kursi. "Tolong jaga dia, aku ingin berbicara pada Tuan Hiashi," kata Naruto.

Kiba memandang punggung Naruto, dan setelah Naruto menghilang dari hadapannya, Kiba memandang Hinata dengan pandangan sedih. "Kau beruntung Hinata, sebentar lagi kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan," gumam Kiba.

Author: pete

Pemuda yang selalu tersenyum, dan memiliki wajah berkulit pucat memasuki gedung kepunyaan Danzo dengan langkah cepat. Melihat hal tersebut, Sasuke yang sejak tadi menunggu datangnya kesempatan menghancurkan Danzo segera turun dari mobil.

'Rupanya orang itu selain bekerja sama denganku, bekerja sama dengan Danzo juga,' pikir Sasuke.

Sasuke mengikuti Sai dari arah belakang sampai pada saat seorang penjaga menghadangnya. "Maaf pak, anda tidak boleh masuk ke dalam gedung tanpa alasan yang jelas," kata penjaga tersebut.

Sasuke tersenyum kecil. "Aku adalah rekan kerjanya Tuan Sai, tetapi jika kau tidak mengijinkan aku masuk ya sudah. Aku akan bilang pada direkturmu dan Tuan Sai jika pekerjaannya tertunda akibat seorang penjaga," kata Sasuke.

Mendengar ancaman Sasuke, penjaga tersebut sedikit takut. "Jika begitu, silahkan masuk," kata penjaga gedung tersebut, dan Sasuke langsung menyusul Sai yang sudah jauh berada di depannya.

'Sial, rupanya diapun sepertinya telah memanfaatkan aku, pasti dia sudah mengetahui masalah Naruto dan keluarganya,' pikir Sasuke.

Author: Pete

Hiashi sedang menuju mobilnya, hendak ke kantor ketika Naruto mendatanginya dan berdiri di depannya.

"Mau apalagi kau?" tanya Hiashi dengan nada kesal.

Naruto memandang Hiashi dengan ekspresi serius. Kali ini seluruh ucapan yang akan diberikannya pada Hiashi merupakan suatu kesungguhan. "Ijinkan aku untuk menikahi Hinata," kata Naruto dan membuat Hiashi sangat terkejut.

'Anak ini benar-benar sulit ditebak jalan pikirannya,' pikir Hiashi.

Author: Pete

Sai menyadari jika seseorang telah mengikutinya. Sai pun menghentikan langkahnya dan membalikan badannya.

Sai pun bertatapan mata dengan mata onyx kepunyaan Sasuke.

"Untuk apa kau mengikuti diriku?" tanya Sai.

Sasuke tersenyum sinis. "Ternyata dugaanku benar, kau bukanlah seseorang yang tidak terikat dengan aliansi manapun. Ternyata kau adalah anak buah Danzo, Sai," kata Sasuke.

Sai tersenyum. Tersenyum sangat ramah. "Maaf telah mengecewakanmu, Tuan Uchiha," kata Sai.

Sasuke menganggukan kepalanya. "Jika begini, Naruto pun lebih baik mengetahui jika kau adalah seseorang yang lebih hina dariku," kata Sasuke.

Senyuman Sai menghilang seketika. Baru pertama kali dia bertemu dengan orang yang lebih mengintimidasi dibandingkan Orochimaru. "Kau tidak akan pernah berani Uchiha," jawab Sai.

Sasuke memandang Sai dengan pandangan 'polos.' "Apa alasanku untuk tidak berani?" tanya Sasuke.

Sai tersenyum penuh kemenangan. "—karena aku telah mempunyai sesuatu yang akan membuatmu menghentikan seluruh perbuatanmu," jawab Sai.

Sasuke memandang Sai takjub. "Oh iya?" hina Sasuke.

"Bukan hanya kamu saja yang mengetahui jika Naruto memiliki orang tua yang akan di penjara," kata Sai, dan sukses membuat Sasuke membelalakan mata untuk sesaat.

'Oh, dia ingin mengancamku?' pikir Sasuke. Jangan-jangan dia berpikir aku dan Naruto memiliki hubungan yang spesial, pikir Sasuke.

"Rupanya kau pun tidak kalah pintar dariku Sai," kata Sasuke yang mencoba bersikap setenang mungkin.

"Tetapi hal tersebut tidak akan pernah membuatku takut. Kau pikir dengan terjadinya sesuatu pada Naruto bisa membuatku takut? Kau salah Sai," kata Sasuke dengan suara yang tenang, tidak takut sama sekali.

Sai melihat wajah Sasuke yang tampak sangat santai. 'Sial malah aku yang takut jika idola ku yang akan terkena masalah oleh paparazzi gila ini!'

"Aku sudah merasa terhina dengan apa yang Boss mu katakan, sebaiknya aku buka saja seluruh pengetahuanku mengenai Uzumaki," kata Sasuke, dan berhasil memukul balik Sai.

"Coba saja jika kau berani," kata Sai.

Sasuke tersenyum sinis. "Tentu saja aku berani, kecuali... Kau rela benar-benar bekerja sama denganku," kata Sasuke.

Sai memandang Sasuke dengan kesal. "'Katakan, apa yang kau mau, Uchiha?" tanya Sai.

Sasuke tersenyum penuh kemenangan. "Aku memberi waktu 1X24 jam padamu untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan mengenai Danzo..," kata Sasuke.

Sai memandang Sasuke tanpa ekspresi. "Sesuatu? Data?"

Sasuke menganggukan kepalanya. "Tentunya aku tidak perlu menjelaskannya bukan?" kata Sasuke, dan Sasuke pun setelah itu memasang kaca mata hitamnya sambil berjalan pergi meninggalkan Sai.

'Dia benar-benar orang sangat berbahaya,'pikir Sai.

Author: Pete

Naruto terdiam di samping Hinata ketika Sakura menghampirinya dan menyentuh pundaknya. "Naruto...," kata Hinata.

Naruto memandang wajah Sakura. Bibirnya tersenyum lembut ketika melihat wajah Sakura. "Dia pasti akan baik-baik saja," kata Naruto.

Sakura menganggukan kepalanya. "Iya, Hinata pasti akan baik-baik saja...," kata Sakura dengan wajah sedih.

'Tetapi aku tidak yakin jika dirimu akan baik-baik saja,' pikir Sakura.

Naruto kembali memandang Hinata yang tertidur dengan lelap sambil mengelus tangan Hinata. "...dan satu hal lagi Sakura," suara Naruto tertahankan.

"Aku akan berhenti dari dunia hiburan," kata Naruto dan membuat Sakura membelalakan matanya.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura.

"Tidak ada maksud apapun," jawab Naruto.

'Benar.. Aku harus menghentikan semua kebodohan ini,' pikir Naruto.

Author: Pete

Sai memandang pria pemakai perban di kepalanya dengan senyuman khasnya. Perjanjian dengan Sasuke sangatlah membuat dirinya dilema. Danzo maupun Sasuke adalah dua orang yang sangat berbahaya.

"Kau harus berhati-hati untuk menyampaikan pesanku pada Orochimaru," kata Danzo.

Sai tersenyum tipis. "Tentu saja aku akan sangat berhati-hati," kata Sai.

Danzo mengangguk pelan. "Dan aku harap kau masih tetap menjaga kesetiaanmu."

Deg!

Sai nyaris membelalakan matanya karena terkejut dengan ucapan boss-nya, Danzo benar-benar memiliki insting yang sangat tajam. Baru saja dia mengikat perjanjian dengan seorang Uchiha, Danzo sudah bisa mengendus perjanjian tersebut.

"Tentu saja aku tahu, Danzo-sama," jawab Sai.

Danzo pun tersenyum bangga. "Ini mengenai bukti-bukti kejahatan pejabat Konoha, kau harus berhati-hati untuk menyimpan rahasia ini. Ini adalah harta karun. Dengan bukti ini, kau bisa memeras kejahatan para petinggi negara."

Sai memandang amplop cokelat yang berisikan bukti-bukti kejahatan para pejabat negara yang dibicaran oleh Danzo. Saat Sai akan mengambil amplop tersebut, Danzo menjauhkan amplop tersebut dari jangkauan Sai.

"Karena kau adalah penghubung antara aku dan Orochimaru, kau adalah orang yang paling akan aku kejar jika terjadi sesuatu dengan perusahaan ini," kata Danzo.

Sai terdiam sejenak. "Tentu saja aku akan bertidak serapih mungkin," kata Sai sambil mengambil amplop tersebut dari tangan Danzo.

Author: Pete

Itachi memandang seorang wanita yang sedang tertidur lelap di atas sebuah kasur yang berukuran sangat besar. Mata Itachi tampak sangat sembab. Untuk kesekian kalinya ibunya terjatuh pingsan.

Itachi memanggil seorang pelayan, dan ketika pelayan tersebut berdiri di hadapannya, tanpa berpaling dari wajah ibunya Itachi berbicara. "Bawa Naruto Uzumaki kemari-" kata Itachi.

"—dan kau harus membawanya malam ini juga," kata Itachi, tidak peduli dengan perasaan pelayan tersebut yang kini begitu ketakutan.

Author: Pete

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil bersandar pada mobil kesayangannya. Ketika Sai muncul di hadapannya, dengan senyuman sinis, Sasuke menghampir Sai.

"Bagaimana?" tanya Sasuke.

"Aku telah mendapatkannya, dan sekarang kau janganlah mengusik Uzumaki," kata Sai.

Sasuke menganggukan kepalanya. Diambilnya amplop berwarna cokelat dari tangan Sai. "Asal kau tahu saja, aku tidak pernah berjanji untuk menepati ucapanku," kata Sasuke sambil berjalan membelakangi Sai.

Mendengar ucapan Sasuke, Sai hanya bisa terdiam di tempat. 'Aku telah tertipu oleh orang brengsek ini,' pikir Sai.

Author: Pete

Naruto berjalan menelusuri ruangan kediaman Uchiha. Seorang pelayan yang diperintahkan oleh Itachi untuk memanggilnya kini akan mengantarnya ke hadapan Itachi.

Naruto menghentikan langkahnya ketika sebuah pintu besar dengan hiasan lambang Uchiha yang berbentuk kipas berada di depannya. Pelayan tersebut pun membukakan pintu untuk Naruto.

"Silahkan masuk Tuan Muda Uzumaki," kata pelayan tersebut sambil memberi hormat pada Naruto.

Naruto memasuki ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku di sekelilingnya, dan terdapat sebuah meja, dan kursi di tengah-tengah ruangan tersebut. Naruto melihat Itachi sedang duduk dengan santai di atas kursi tersebut.

"Kau datang juga," kata Itachi.

Naruto memandang Itachi. "Untuk apa kau memanggilku?" tanya Naruto.

Itachi beranjak dari kursi dan mendekati Naruto. "Aku ingin kau segera melaksanakan apa yang sudah kita sepakati di waktu itu," kata Itachi.

Naruto menghela napas. "Aku tidak bisa," jawab Naruto dengan nada kecewa.

Itachi memandang Naruto dengan dingin. "Kenapa?" tanya Itachi.

Naruto memandang Itachi dengan pandangan sedih. "Aku tidak bisa menyakiti lebih banyak orang lagi," kata Naruto.

Mendengar perkataan Naruto, Itachi tertawa dengan keras. "Hahaha, siapa orang yang bisa merubah pikiranmu, hah?" tanya Itachi.

"Hyuuga," jawab Naruto dengan singkat tetapi cukup membuat Itachi geram.

'Hyuuga hah?' seru Itachi di dalam hatinya.

"Memangnya jika kau berhenti menjadi seorang artis, seluruh masalahmu akan selesai?" tanya Itachi.

Naruto terdiam. "Mungkin," jawab Naruto dengan singkat.

Itachi beranjak dari kursi dan menyentuh pundak Naruto. "Sasuke hanya membutuhkan seseorang yang bisa memahaminya, dan aku gagal akan hal itu. Jadi, sekarang aku hanya bisa mengandalkan orang sepertimu untuk menghentikan ambisinya menjadi seseorang paparazzi, dan mengembalikan dia pada kediaman Uchiha," kata Itachi.

Mendengar ucapan Itachi, Naruto pun membatin.

"Aku pun tidak bisa..," kata Naruto.

Author: Pete

Sasuke memandang foto-foto yang telah dia ambil dari Sai. Senyuman a la Uchiha terlukis di bibirnya. Kali ini, Sasuke benar-benar mendapatkan sebuah kemenangan mutlak. Danzo tidak akan pernah menang dari seorang Uchiha. Terutama Uchiha Sasuke.

"Suigetsu," kata Sasuke sambil memperlihatkan amplop yang berada di tangannya pada anak buah kepercayaannya.

"Berikan ini pada para wartawan dan paparazzi lainnya, bilang lah, Danzo yang telah mendapatkan berita ini," kata Sasuke.

Suigetsu menganggukan kepalanya. "Baik Boss," kata Suigetsu dan setelah itu Suigetsu pun beranjak pergi dari ruangan kerja Uchiha.

'Apa yang akan dilakukan Boss untuk kali ini?' Pikir Suigetsu.

Author: Pete

Mata berwarna biru memandang tubuh lemah yang sedang tertidur pulas di atas sebuah kasur yang sangat besar. Ini adalah hal yang sangat hebat jika kau memikirkan tubuh yang lemah tersebut telah melahirkan kedua anak yang sangat penuh kekuatan dan egois seperti Itachi dan Sasuke.

"Ibu selalu sakit-sakitan semenjak Sasuke meninggalkan kediaman Uchiha," kata Itachi sambil mengelus kening ibunya.

Naruto memandang wanita yang memiliki paras cantik, dan kulit yang bersih di depannya. 'Tidak heran jika Itachi dan Sasuke tumbuh menjadi anak-anak yang tampan,' pikir Naruto.

"Kau saja tidak bisa membuat adikmu kembali ke kediaman Uchiha, bagaimana denganku?" Tanya Naruto.

Itachi tersenyum tipis, dan membalikan badannya untuk memandang Naruto. "Kau pasti bisa jika kau mau bekerja sama denganku," kata Itachi.

Naruto menghela napas, dan pandangannya kini beralih pada jam tangan yang berada tangannya. "Masalah ini akan aku pikirkan, maaf aku harus kembali ke rumah sakit," kata Naruto.

Itachi mengangkat sebelah alisnya. "Rumah sakit?" Tanya Itachi.

Naruto menganggukan kepalanya. "Hinata Hyuuga telah masuk ke dalam rumah sakit," kata Naruto.

"Kenapa?" Tanya Itachi yang sedikit penasaran dengan keadaan penerus dari keluarga Hyuuga.

"Dia mencoba untuk bunuh diri," kata Naruto dan membuat Itachi sedikit terkejut dengan kabar yang diterimanya.

'Apa dia bunuh diri karena masalah yang diakibatkan oleh adik ku?' Pikir Itachi.

'Jika benar kau yang melakukannya, aku tidak tahu harus takjub atau marah padamu Sasuke,' pikir Itachi.

"Memang, kenapa Hyuuga bisa mencoba untuk bunuh diri?" Tanya Itachi.

Naruto menghela napas, matanya menatap lantai, seolah-olah lantai yang di bawahnya sungguh menarik. "Berita mengenai diriku yang telah kabur bersama adikmu di saat keluarga Hyuuga mencoba menjadikan diriku sebagai tunangan penerusnya sunggulah memalukan bagi Hinata. Terlebih, Hinata sangatlah tertekan dengan gosip-gosip yang beredar di kalangan masyarakat awam," kata Naruto.

Itachi tidak merasa iba sedikit pun akan tersiksanya batin Hinata. Ibunya saja sedang terbaring tidak berdaya seperti ini, apa perlu Itachi masih merasa iba pada seseorang yang sedikitpun tidak pernah berbicara dengan dirinya? Jawabannya tentu saja tidak, apa boleh kata, demi ibunya Itachi bisa melakukan apapun juga.

"Jika memang kau memilih Hinata dibandingkan membantuku, aku harap kau mengetahui resikonya Uzumaki," kata Itachi.

Naruto memandang Itachi dengan heran.

"Asal kau tahu saja, membiarkan Sasuke terus berbuat seenaknya sama dengan memunculkan bibit-bibit penerus Hinata untuk di masa nanti, dengan kata lain, akan semakin banyak korban dari seorang paparazzi seperti Sasuke," kata Itachi yang berniat mengancam Naruto dibandingkan menasehatinya.

Naruto pun membelalakan mata. 'Rupanya dia mencoba menekanku?' pikir Naruto.

Melihat ekspresi Naruto, tanpa diketahui Naruto, Itachi tersenyum penuh kemenangan. 'Kau telah memakan umpanku, Uzumaki,' pikir Itachi.

BERSAMBUNG...


Hallo semua, maaf apdet fic begitu lama. Maklum ceritanya ngebingungin diri sendiri hahaha. Jika pingin terus dilanjutkan xp mohon di review. Ongkos nulis-lah hitung-hitung. Makasih semua.

Salam hangat,

Princess Teme.