"30 days"

Main cast : Park Chanyeol (24 tahun)

Byun Baekhyun (18 tahun)

Oh Sehun (20 tahun)

Rate : M

Genre : Romance, Violence

It's yaoi, Boy x Boy, Shounen-ai

Don't like don't read

Note:

Harap baca penjelasan di chapter pertama

Tuturan Sehun tak pernah meninggalkan ruang di dalam kepalanya sejak semalam. Ia bahkan tak mendapatkan tidur cukup akibat memikirkan segala persilihan yang terjadi pada dirinya. Chanyeol tak sempat meramal bahwa perubahan sikapnya akan menjadi sejauh ini. Ia sama sekali tak mengira jika eksistensi Baekhyun hanya memperparah segala hal pelik yang telah ia lalui.

Lelaki itu terduduk di sudut tempat tidur, kedua siku bertumpu pada lutut, dan wajah menyuruk di balik telapak tangan. Deru napas Chanyeol tak bisa dikatakan normal. Ia merasa begitu risau, seakan sedang berjalan dalam lorong-lorong labirin tak berujung. Sekarang apa? Pertanyaan tersebut masih menggantung berat dalam benaknya lantaran ia pula tak tahu pasti apa jawabannya.

Baekhyun terkurung di kamar sebelah. Ia melimpahkan seluruh hal yang seyogyanya adalah tugasnya kepada Sehun. Ia tak mampu menghadapi pria itu, tak mampu melihat wajahnya, dan tak siap merasakan remasan kuat di dalam rongga dadanya. Ia tak ingin perasaan bersalah menggelayut manja padanya. Ia tak ingin segala perasaan kemanusiaan menyambangi dirinya.

Geraman rendah meluncur dari bibirnya, dan kedua mata lelaki tersebut seolah diselimuti oleh cairan darah. Agaknya, tiga hari terlampau cukup untuk memberi jeda pada seluruh aktivitasnya. Kini Chanyeol harus kembali. Bukankah selama ini ia tak pernah gagal memasang tampang palsu itu? Bukankah Chanyeol adalah seorang profesional dalam mengelabui orang-orang di sekitarnya jika hal tersebut melibatkan perasaannya?

Ya, ini waktunya ia bangkit. Menghadapi Baekhyun dan menghadapi ketakutan serta kekuatirannya. Setelah menarik napas dalam—membiarkan paru-parunya yang sesak menyuplai udara sebanyak mungkin—ia pun berdiri dari duduknya. Mengangkat kepala tinggi sembari menyasap wajah letihnya. Seakan hal tersebut mampu menyeka ekspresi kacau yang terpasang di sana.

Ia tak mengganti pakaian, tak merapikan rambut serta mengikat tali sepatunya. Derap langkah kakinya terdengar mengentak dan tangannya menarik pintu kamar dengan kasar. Ia berjalan di sepanjang lorong hampa yang akan membawanya kepada Baekhyun. Lantas menggesek kartu aksesnya dan masuk ke dalam tanpa menimbulkan banyak suara.

Kamar itu kosong. Chanyeol mematung sejenak. Bola matanya bergerak liar menilik setiap penjuru ruangan. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Ia nyaris meledak. Jika saja tubuhnya terbuat dari bahan peledak, sudah pasti kini ruangan di sekitarnya sekonyong-konyong lebur.

Ini tak mungkin terjadi, Baekhyun tak mungkin berhasil kabur hanya karena ia mengabaikannya selama tiga hari. Sehun pasti mengawasinya dengan baik dan tak mungkin mengkhianatinya hanya karena argumen kecil mereka pada malam itu. Namun jika semua presumsinya ini benar-benar terjadi, maka Chanyeol bersumpah tak akan pernah memaafkan adik angkatnya tersebut. Ia belum siap melutut. Ia tak siap mengibarkan bendera putih kepada ayah si Pemuda Byun tersebut.

Tungkai Chanyeol hendak berbalik untuk menyambangi kamar Sehun ketika pintu kamar mandi terbuka, memunculkan sosok Baekhyun yang tengah menatapnya dengan mata terbeliak. Rahangnya tak terkatup rapat dan sekonyong-konyong tubuhnya menggigil tanpa sebab. Ia memang hanya mengenakan belitan handuk untuk melindungi tubuh bagian bawah. Surai gelapnya menitikkan air dan helai-helainya menempel di permukaan wajahnya. Ia sama sekali tak dapat menyembunyikan teror di wajahnya yang mana hal tersebut membuat Chanyeol kembali gentar.

Teringat akan hal yang pernah dilakukannya, Chanyeol berusaha mengenyahkan setiap bayangan yang kini berkelebat di dalam kepalanya. Senyuman timpang terpatri untuk menutupi rasa bersalah yang tiba-tiba merayap di setiap inci hatinya. Maniknya memperhatikan tubuh Baekhyun dengan aura gelap yang melingkupi dirinya. Berhasil membuat lelaki di hadapannya tersebut mengkaret ketakutan dan menyandarkan punggung pada permukaan pintu kamar mandi untuk menciptakan jarak selebar mungkin darinya.

Chanyeol tak peduli. Oh sungguh, ia tak ingin peduli lagi pada apa yang dirasakannya saat ini. Ia benci pada setiap perasaan yang selalu sukses menyelinap masuk ke dalam hatinya melalui retakan-retakan yang memberikan akses mudah bagi mereka. Chanyeol kembali mendirikan pertahanan kuat, dinding kokoh nan tinggi yang tak akan luluh sekalipun itu oleh pria yang kini tengah mengaeret ketakutan di hadapannya.

Tangannya bersedekap di atas dada, dagunya terangkat tinggi dan matanya memicing. Seringaian angkuh itu tak juga lesap dari wajahnya kala ia berjalan menjelanginya. Ia berusaha menjadikan kengerian Baekhyun sebagai sebuah hiburan. Bak menonton pertunjukkan sirkus yang begitu menarik.

Tatkala jarak mereka hanya kurang dari satu meter, Chanyeol menjulurkan tangan. Ia menyentuh bahu basah Baekhyun dan menyeret jemarinya mengikuti lekuk lengannya. Kembali naik ke atas dan kini telapak tangan tersebut tengah mengusap tengkuknya.

Napas Baekhyun memburu dan sesuatu seakan meletup di dalam dadanya kala tangan Chanyeol menjelajahi tulang selangkanya. Ia ketakutan setengah mati hingga tungkainya tak dapat menahan beban tubuh. Namun sebelum bokongnya membentur permukaan lantai, Chanyeol pun meraih lengannya dan menariknya ke arah tempat tidur.

Ia terempas di sana sembari memegang kuat simpul handuk di pinggangnya. Sementara tangan kanannya berusaha menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh yang lain. Chanyeol tak lantas menerjang, ia hanya berpijak di sana, memperhatikan perjuangan Baekhyun yang tengah melindungi tubuhnya sendiri.

Kendati pemuda itu dengan tak sengaja tampak begitu memprovokasi, namun agaknya Chanyeol sedang tak ingin merasakan apa yang ada di balik handuk tersebut. Ia hanya ingin bermain-main. Sekadar untuk mengusir jemu serta kerisauan dalam hatinya. Dan seketika, sebuah gagasan terbesit. Ia melebarkan senyum memuakkan yang selalu berhasil membuat perut Baekhyun mual.

Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan mencari aplikasi perekam suara. Setelahnya, ia meletakkan benda berlayar lebar tersebut di atas nakas. Wajahnya meneleng, mendapati lelaki itu sudah tersudut di kepala tempat tidur.

"Merindukanku, Tuan Muda?" tanya Chanyeol, beringsut naik dan menarik pergelangan kaki Baekhyun hingga ia terbaring di bawah tubuhnya.

"Bedebah!" umpatnya lantang.

Pancaran mata Chanyeol bersalin kelam, kedua bibir merahnya menipis dan membentuk garis lurus. Lalu tamparan keras mendarat di sisi wajah Baekhyun, membuat kepalanya tersentak ke samping serta meninggalkan jejak kemerahan di sana. Sungguh, memar di sudut bibirnya nyaris saja pulih sebelum Chanyeol kembali memberikan luka baru.

"Kau tentu ingat apa yang kukatakan waktu itu, bukan? Atau kau lebih suka jika tak memiliki mulut agar tak dapat mengumpat lagi?" intonasinya terdengar begitu berbahaya, dan Baekhyun tahu jika ia tak ingin Chanyeol memberikannya lebih banyak pukulan, maka ia harus menurut.

Air muka Chanyeol berubah rileks dalam sekejap. Ia mengelus jejak merah di pipi Baekhyun sembari mengecup dagunya. Tak menghiraukan cairan bening yang melinang melalui ekor matanya dan menyentuh ujung jemarinya. Kecupan Chanyeol beranjak naik ke atas hingga tiba pada kedua kelopak mata Baekhyun yang terpejam. Ia mendaratkan kecupan ringan di sana, seolah-olah dengan begitu dapat menghentikan tangisannya. Tentu saja tidak, karena tak ayal isakan yang dikeluarkannya semakin menjadi.

Kini ia mempertemukan hidung serta kening mereka. Menghantarkan hangat tubuhnya ke tubuh Baekhyun yang menggigil. Namun hal itu sama sekali tak berhasil. Ia hanya ingin agar Chanyeol menjauhkan diri darinya agar ketenangan dapat kembali memeluk tubuhnya. Ia tak butuh dekapan Chanyeol ataupun kata-kata sampahnya. Ia hanya ingin sendiri dengan pikirannya.

"Apa kau menikmati apa yang kulakukan padamu tiga hari yang lalu?" tanya Chanyeol rendah dengan suara parau. Kini tangan lelaki itu telah berhasil melepaskan simpul handuk dan tengah mengeksplorasi setiap lekuk tubuhnya.

Baekhyun tak lagi bisa menyembunyikan isakan. Melesat keluar begitu saja dari celah kecil kedua bibirnya yang membuat Chanyeol geram. Ia meraih bibir Baekhyun dengan miliknya. Berusaha menghalau isakan yang teredam oleh bibir yang saling tertaut. Tangan Chanyeol menarik kaki kiri Baekhyun hingga membuka lebar dan menempatkan dirinya di antara lutut yang tertekuk.

Puas dengan bibir ranumnya, kini Chanyeol beralih pada dada Baekhyun. Menyesapnya dengan kuat hingga pria itu meringkik lirih akibat nyeri yang disebabkan. Giginya tertanam pada kulit putihnya, menciptakan sayatan kecil dan jejak samar darah pun tak terhindarkan.

"Kau tahu apa yang kusukai darimu?" tanya Chanyeol retoris tanpa menghentikan aktivitasnya. "Kau—" lanjutnya sembari mengecup lingkar dadanya dengan sentuhan seringan kupu-kupu, "—memiliki tubuh yang sangat indah."

Baekhyun nyaris mengeluarkan isi perutnya ketika Chanyeol mengutarakan kalimat tersebut. Ia hendak mendorong tubuh lelaki itu tatkala tangannya tertahan di udara. Chanyeol tak akan membiarkannya melakukan tindakan yang hanya akan memancing amarah. Ia mengunci kedua tangan Baekhyun di atas kepala dengan satu tangan sementara tangan yang lain bergerak di sekitar area sensitif pria tersebut.

"Hentikan…" pinta Baekhyun dengan suara bergetar.

Chanyeol mendongak dan salah satu sudut bibirnya berjingkat mendapati segala kompleksitas yang telah ia sebabkan pada lelaki di bawah tubuhnya ini. Alih-alih berhenti, permohonan Baekhyun hanya membuat Chanyeol semakin puas. Ia harus membuat pria ini terdengar begitu putus asa dan hancur untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa putra satu-satunya sedang terperangkap dengan orang yang seharusnya ia takuti. Orang yang akan merenggut kebahagiaan mereka hanya dalam jentikan jari.

"Katakan apa yang kulakukan padamu beberapa hari lalu di kamar ini."

Ucapan Chanyeol membuat tenggorokan Baekhyun tercekat. Untuk pertama kalinya, ia mempertemukan manik mereka. Ia mencari makna dari kalimatnya dan berusaha menyelaminya sedalam mungkin. Namun hal itu terasa seakan ia sedang menyelam ke dalam lautan luas keruh tak berdasar.

"Katakan padaku apa yang sudah kulakukan pada tubuhmu." Ujarnya lagi.

Sesuatu dalam diri Baekhyun membuncah. Ia marah. Sangat marah hingga kedua tangannya terkepal kuat dan berusaha menguraikan cengkraman Chanyeol dari pergelangannya. Apakah lelaki ini sedang mencoba untuk meleburkan kepingan hatinya menjadi jutaan debu? Apakah tidak cukup baginya dengan apa yang telah ia lakukan selama ini?

"Bajingan sinting!" umpat Baekhyun lagi sembari menggeliat liar untuk membebaskan diri.

"Katakan!" bentaknya.

Baekhyun membisu. Ia mengunci mata mereka selama beberapa sekon. Menunjukkan kebencian mendalam dari pancaran yang nampak di kedua manik gelapnya. Well, sudah kubilang bahwa Chanyeol tak peduli lagi, bukan?

"Kau…" Baekhyun mulai membuka suara. Ia menelan saliva beberapa kali dan kembali melanjutkan, "kau memerkosaku."

Senyuman timpang tergambar jelas pada wajah Chanyeol. Ia melepaskan kedua tangan Baekhyun ketika dirasanya pria itu takkan melawan lagi. Pengalaman traumatis tersebut sangat memengaruhi emosinya, dan hanya dengan mengatakan dua kata itu dari mulutnya sendiri telah menguras seluruh tenaga yang tersisa.

"Lanjutkan," perintah Chanyeol sembari mengecup perut Baekhyun. Ia menahan bibirnya lama pada pusar lelaki tersebut dan membiarkan napasnya merangsang kulitnya.

"Kau mencekikku, kau memaksakan diri padaku dan menghancurkan harga diriku. Kau menyakitiku, melukaiku. Lalu kau memelukku dan mena— " kalimat Baekhyun tertahan ketika Chanyeol menenggelamkan gigi-giginya di sisi pinggulnya. Ia meringis dan berusaha menyingkirkan kepala Chanyeol namun menghentikan niat kala menyadari hal apa yang akan terjadi padanya jika ia berani melakukan hal tersebut.

"Cukup." Ujarnya Chanyeol dingin. Ia menarik diri dan beranjak turun dari tempat tidur, meninggalkan tubuh polos Baekhyun terbaring tak berdaya. Ia meraih ponsel yang mulanya ditelakkan di atas nakas, lalu menekan layar bersimbol persegi merah untuk menghentikan rekaman.

Setelah memasukan ponselnya ke dalam saku celana, Chanyeol mencondongkan tubuh. Tangannya menggenggam rambut di ubun-ubun kepala Baekhyun, lantas mengecup keningnya. Bibirnya bergerak di atas permukaan kulit pria tersebut ketika mengatakan, "jangan pernah menyinggung apa yang kulakukan setelahnya. Aku tak akan menyukai itu." Lalu sosoknya pun lenyap di balik pintu kamar yang kembali terkunci.

)***(

"Perintahkan seseorang untuk mengirim rekaman ini ke alamat pesan elektronik Byun Dongseok." Ujar Chanyeol sembari meletakkan sebuah USB di atas meja tempat Sehun meletakkan kaleng minuman sodanya.

Kepala lelaki itu mencongak untuk mempertemukan mata mereka. Kedua alis Sehun mencuat, meminta penjelasan lebih lanjut. Chanyeol mendesah keras. Ia menggosok kedua telapak tangannya sembari berjalan ke arah sofa rendah di seberang Sehun. Tubuhnya terempas malas dan tungkainya beristirahat di atas meja kopi.

"Itu—" ujar Chanyeol setelah ia puas memperhatikan wajah bingung Sehun. "—untuk mengingatkannya bahwa waktu yang ia miliki kini makin terbatas. Aku mau kau menyuruh orang dari Seoul untuk mengirimnya melalui sebuah internet café. Mengingat ia sudah bergabung kembali dengan teman lamanya, aku yakin mereka tidak bodoh."

Sehun mengulurkan tangan dan meraih USB hitam tersebut. Menatapnya selama beberapa jenak lalu menganggukkan kepala mengerti. "Akan kulakukan."

Percakapan mereka terhenti sampai di sana. Tak satu pun dari Chanyeol maupun Sehun yang mengeluarkan suara setelahnya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga lupa akan presensi satu sama lain. Sehun yang tengah menerka-nerka rekaman apa yang sudah Chanyeol siapkan di dalam sana, serta Chanyeol yang sedang membuat perhitungan kapan ia harus menyinggung mengenai argumen mereka sehari sebelumnya.

Pada akhirnya, intonasi rendah Chanyeollah yang memecah kesenyapan. Sehun menengok cepat ketika indera pendengarannya menangkap topik yang dipilih Chanyeol

"Aku tak bermaksud bersikap kasar padamu, kemarin." Tampang yang kini terpasang di wajahnya nampak putus asa. Tentu ia tahu bahwa kakak angkatnya merasa bersalah karena telah menutup diri darinya.

"Sekadar informasi, sebenarnya aku merasa sangat luar biasa dengan sikapmu." Balas Sehun sarkastik sembari mengedikkan bahu.

Chanyeol mengangguk samar. "Aku bisa mengerti."

Kembali hening semenit lamanya. Sehun tak mengalihkan pandangan dari wajah Chanyeol sementara lelaki yang lebih tua empat tahun darinya itu tengah menatap kosong ke arah sepatu Nike Sehun.

Ia berdecak dan melanjutkan, "kau tahu aku sedang banyak pikiran. Skema yang sudah kususun sejak dua tahun lalu ternyata tak semudah presumsiku. Semua butuh banyak perhitungan."

"Well, kupikir pasti ada asas di balik segala perhitungan yang tak sempat kaupikirkan."

Chanyeol tahu bahwa Sehun adalah lelaki cerdas. Ia selalu mendapat pujian di sekolah dan menjadi kebanggaan orangtua. Hanya saja, mereka menyalah gunakan kecerdasannya. Sama halnya seperti Chanyeol saat ini. Ia hanya memanfaatkan kesetiaan serta kecerdasan Sehun untuk menjalankan rencananya. Bukan berarti ia tak menyayangi adik angkatnya tersebut. Namun menyia-nyiakan kelebihan yang dimiliki Sehun adalah keputusan bodoh.

"Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu, tapi kupikir ini belum waktunya." Balas Chanyeol acuh tak acuh. Ia kembali menaikkan pandangan matanya dan menguncinya dengan manik cokelat Sehun.

"Kalau begitu, kapan waktu yang tepat menurutmu?"

Ia menggigit bibir bawah sembari menarik napas dalam untuk menyuplai paru-parunya dengan oksigen yang terasa menipis. Kening lelaki itu mengerut seolah-olah ia tengah mempertimbangkan pertanyaan Sehun. Tak sepenuhnya salah, karena Chanyeol memang sedang memikirkan kapan ia akan memberitahukan rahasia yang telah lama terbungkus rapi itu. Ia memang tak pernah menyembunyikan sesuatu dari adik angkatnya. Namun setelah dipikir ulang, ia pula berhak memiliki rahasia yang tak patut diketahui oleh siapapun dan tersimpan hanya untuk dirinya sendiri.

"Sampai aku membuat keputusan bulat apakah aku akan membunuh anak itu atau membiarkannya bebas, mungkin?" ia sengaja menggunakan kalimat tanya lantaran ia sendiri tak yakin. Apakah ia sanggup menumpahkan segalanya setelah semua ini berakhir?

"Kenapa aku merasa jika kau tak akan pernah mau mengatakannya padaku?"

Chanyeol terkekeh dan menegakkan tubuh. Ia meraih satu dari tiga kaleng bir yang diletakkan Sehun di atas meja rendah tersebut. Lihat, ia bukan lelaki bodoh. Ia menjawabnya persis seperti yang telah Chanyeol asumsikan.

Suara tegukkan yang dihasilkan tenggorokan Chanyeol tak juga mengalihkan perhatian Sehun. Ia masih menunggu balasan yang akan dilontarkan lelaki di hadapannya ini dengan sabar. Well, Sehun tak akan menyerah begitu saja.

"Sehun," panggilnya ketika seperdua dari isi kaleng itu telah berpindah tempat ke dalam lambungnya. "Aku tak bisa berjanji padamu apakah aku akan memberitahukan ini. Setidaknya aku ingin menangani masalah yang satu ini sendirian."

"Apakah aku harus senang dengan fakta ini? Kau yang mulai menutup diri dariku?"

Kejengkelan dalam dirinya tak dapat ditutupi lagi. Chanyeol meletakkan kaleng birnya ke atas meja dengan benturan keras dan menatap tajam ke arah Sehun. Ia sudah berusaha keras mengendalikan diri, tapi nampaknya Sehun tak juga bisa mengerti. Ia hanya butuh privasi. Ia ingin menyimpan rahasia ini sendiri agar jika semuanya berubah menjadi semakin tak terkendali, maka Chanyeol bisa mengatasinya dengan mudah tanpa ada campur tangan orang lain. Ini perihal dirinya dan ia tahu perkara ini sama sekali tak membutuhkan bantuan Sehun atau siapapun itu.

"Oh Sehun, jika kau tetap bersikap seperti ini aku tak tahu lagi harus menghadapimu seperti apa. Aku hanya meminta pengertianmu, oke?" Chanyeol mengusap alis kirinya frustasi, lalu kembali melanjutkan dengan intonasi lirih. "Aku harus kembali. Lakukan apa yang kuperintahkan tadi sesegera mungkin."

Setelahnya, Chanyeol bangkit dan beranjak keluar dari kamar tanpa memberikan satu lirikan pun kepada Sehun. Ia kembali gagal meluruskan perselisihan mereka.

)***(

Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat delapan belas menit ketika Tuan Byun tengah mengecek pesan elektroniknya. Kendati tubuhnya begitu lelah, ia tentu tak dapat berbaring di atas tempat tidur nyamannya dan menutup mata dengan tenang. Kalaupun hal itu terjadi, maka dua atau tiga jam kemudian ia akan segera terjaga oleh mimpi buruk yang akhir-akhir ini selalu menghantui tidurnya.

Ada sekitar tujuh belas pesan yang masuk, namun hanya satu yang menarik perhatiannya dengan subjek; Kejutan dari Putramu. Ia sama sekali tak mengenal alamat e-mail orang tersebut.

Dengan tangan gemetar, Tuan Byun menggerakkan mouse dan membuka pesan mencurigakan itu. Tak ada tulisan apapun, namun sebuah suntingan berformat MP3 terpampang jelas pada layar komputer jinjingnya. Tanpa ia sadari bahwa peluh sebesar biji jagung mulai membasahi pelipis serta lehernya. Jantung berpacu kencang dan membuat darahnya berdesir cepat di setiap pembuluhnya. Ia sempat berdebat dengan dirinya sendiri. Sisi lain mengatakan bahwa ia tak perlu membukanya, ia tak perlu mengetahui apa bunyi dari MP3 tersebut. Namun sisi lain dirinya memaksa untuk memutarnya.

Hingga akhirnya Tuan Byun mengambil keputusan untuk mendengarkannya, ia pun mengunduh suntingan itu. Membesarkan volume dan mendekatkan wajah ke arah speaker. Selama tiga detik pertama, ia tak mendengar apapun di sana. Sampai ketika sebuah suara berat seorang lelaki membuat seluruh otot tubuhnya kaku. Seakan sendinya berkarat serta membeku di saat yang bersamaan. Kakinya nyaris saja kram jika ia tak bergegas meluruskannya sebelum terlambat.

'Merindukanku, Tuan Muda?'

'Bedebah!'

Daun telinga Tuan Byun bergerak kala suara Baekhyun menusuk indera pendengarannya. Kedua mata pria tersebut memerah dan sesuatu seolah sedang meremas jantungnya. Suara laki-laki itu bergetar dan terdengar lemah, kendati kedengkian dalam intonasinya tak dapat disembunyikan.

'Kau tentu ingat apa yang kukatakan waktu itu, bukan? Atau kau lebih suka jika tak memiliki mulut agar tak dapat mengumpat lagi?'

Jeda sejenak sebelum orang yang sama kembali bersuara.

'Apa kau menikmati apa yang kulakukan padamu tiga hari yang lalu?'

Kini Tuan Byun mendengar isakan lirih. Ia yakin isakan tersebut dihasilkan oleh bibir Baekhyun. Lalu suaranya teredam dan tergantikan dengan suara-suara kecupan yang membuat wajahnya meringis. Pekikan Baekhyun pun tak luput dari telinganya, membuat kedua tangannya terkepal dan darah melesak naik ke ubun-ubun kepala.

'Kau tahu apa yang kusukai darimu? Kau—memiliki tubuh yang sangat indah.'

'Hentikan…'

Permintaan putus asa putranya seketika melemaskan setiap otot yang menegang. Karena ia tahu benar bahwa si Penculik tak akan mengabulkan permintaan pria itu begitu saja. Dan hal tersebut membuat jantungnya seakan ditikam oleh ribuan belati.

'Katakan apa yang kulakukan padamu beberapa hari lalu di kamar ini. Katakan padaku apa yang sudah kulakukan pada tubuhmu.'

'Bajingan sinting!'

'Katakan!'

'Kau… kau memerkosaku.'

Dan pada saat itu juga, Tuan Byun merasakan letusan dahsyat di kepalanya. Air mata tak lagi dapat dibendung oleh pelupuknya. Sungguh mati pria paruh baya tersebut ingin segera menemukan si Penculik dan mengoyak perutnya. Ia ingin mematahkan rahang serta lehernya, membanting kepalanya ke tanah dan melempar tubuhnya ke dalam kandang singa. Dengan usaha keras Tuan Byun mengendalikan emosinya sendiri agar ia dapat mendengarkan rekaman ini hingga tuntas.

'Lanjutkan,'

'Kau mencekikku, kau memaksakan diri padaku dan menghancurkan harga diriku. Kau menyakitiku, melukaiku. Lalu kau memelukku dan mena—'

'Cukup.'

Setelahnya, ia tak mendengar suara apapun lagi. Rekaman selesai, meninggalkan Tuan Byun yang tengah berjuang untuk tak segera mencampak benda elektronik di hadapannya. Kedua maniknya masih terfokus pada layar komputer jinjing sementara kedua telapak kakinya tak dapat berhenti bergerak. Otaknya terus berputar mencari segala solusi agar ia dapat segera menemukan Baekhyun—menariknya kembali ke dalam pelukannya dan membunuh laki-laki bajingan tersebut.

Hingga kemudian ia memutuskan untuk mendatangi mansion Moon Jinguk malam itu juga. Tak peduli jika malam sudah terlampau larut karena satu-satunya hal yang ia tahu saat ini adalah, Baekhyun tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Ia tak akan selamat jika Tuan Byun tak segera menemukannya setelah menyadari seberapa bengis si Penculik memperlakukan putranya.

Jinguk menyambutnya dengan segelas alkohol—seperti biasa. Namun yang membuatnya tercengang adalah, Tuan Byun menenggak cairan memabukkan tersebut hingga tandas. Dan ia segera tahu bahwa sesuatu sudah terjadi padanya.

"Well, apa lagi sekarang?" tanya pria ceking itu, sembari berjalan menghampiri sahabatnya yang tengah terduduk di sofa panjang bergaya klasik miliknya.

"Dia mengirimiku e-mail." Jawabnya datar. "Penculiknya, maksudku."

Kening Moon Jinguk mengerut sembari memerintahkan anak buahnya untuk membawa ke luar komputer jinjing miliknya dari ruang kerja. Dan setelah benda tersebut berada di pangkuannya, ia segera menyuruh Tuan Byun membuka kembali pesan elektroniknya dan dengan tatapan bingung pria paruh baya itu pun menuruti ucapan sang Teman tanpa banyak bicara.

"Kita bisa melacak nomor IP-nya untuk mengetahui keberadaan mereka."

Mendengar itu, Jinguk mendapati cahaya di mata Tuan Byun. Ia tersenyum, cukup lega melihat wajah sumringah temannya sejak ia datang kepadanya dua minggu yang lalu untuk meminta bantuan.

Mereka berkutat di depan komputer jinjing sekian menit lamanya hingga akhirnya menemukan lokasi yang dicari. Tak berpikir panjang, Moon Jinguk memerintahkan dua orang anak buah untuk pergi memeriksanya.

Mereka menanti dan menanti. Lima belas menit, tiga puluh menit, hingga satu jam kemudian, ponsel Jinguk berdering. Ia segera menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel. Benar dugaannya, kini suara salah seorang anak buah yang ia tugaskan untuk memeriksa lokasi terdengar dari seberang sana.

"Mereka mengirimnya dari sebuah internet café menggunakan tanda pengenal palsu."

Tuan Byun tahu bahwa apa yang akan didengarnya bukanlah kabar baik. Bahwa usaha mereka kembali berakhir sia-sia. Amarah kembali membuncah dan ia pun melempar gelas minuman di atas meja hingga menghantam sebuah buffet antik.

Moon Jinguk memutuskan sambung. Tangannya terangkat untuk menyentuh bahu Tuan Byun sembari berkata, "agaknya mereka tak sebodoh dugaanku."

)***(

"Jadi Chanyeol melakukan sesuatu lagi, huh?" ujar Sehun sembari menatap Baekhyun yang tengah mengaduk Bibimbap tanpa berniat menyendokinya ke dalam mulut. Tak seperti yang sudah-sudah, dua hari belakangan Sehun kerap menemani pria itu menghabiskan sarapan serta makan malamnya. Tak ada dalil kuat untuk membuatnya tetap diam, oleh sebabnya ia masih menggunakan 'perintah Chanyeol' sebagai alasan. Mengingat tabiatnya yang pantang menyerah, Sehun akan melakukan segala cara untuk mencari tahu penyebab perubahan sikap Chanyeol yang drastis. Dan ia pula yakin bahwa Baekhyun memegang andil besar akan hal itu.

"Kau tak mau menceritakannya padaku?" tanyanya lagi.

Baekhyun menghentikan gerakan tangannya. Ia mendelik ke arah Sehun dengan kedutan samar di sudut bibirnya. Sejak ultimatumnya beberapa hari lalu, lelaki di hadapannya ini sama sekali tak pernah bersikap agresif padanya. Ia akan memperhatikan Baekhyun menyantap makanannya sembari menanyakan pertanyaan-pertanyaan aneh mengenai Chanyeol. Well, pria itu tahu bahwa hubungan mereka sedang tidak baik saat ini jika ditilik dari polah Sehun. Dan untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, maka Baekhyun akan menjawab sebisanya. Tidak jika pertanyaan Sehun mulai menyinggung perasaannya.

"Kau tentu sudah tahu, untuk apa kuceritakan lagi?" jawab Baekhyun datar.

Ia mengedikkan bahu sebelum kembali bersuara, "setidaknya aku ingin mendengar dari sudut pandangmu."

"Tak perlu."

"Bagaimana jika aku perlu?"

Baekhyun mengabaikan ucapannya. Kali ini ia memilih untuk menyuapi mulutnya dengan bersendok-sendok Bibimbap untuk berkelit dari pertanyaan-pertanyaan Sehun. Sejatinya hal itu tak begitu berpengaruh lantaran Sehun memiliki beribu cara agar Baekhyun mau menjawabnya.

"Well, bagaimana kalau kita berteman?"

Kalimat tersebut berhasil mengalihkan perhatian Baekhyun dari makanannya. Ia mengangkat wajah dan menatap Sehun dengan mata membelalang. Rahang tak dapat terkatup rapat sehingga ia nyaris tersedak jika tak segera meneguk jus tomat di sisi piringnya.

"Dengar baik-baik," Sehun membenarkan letak duduk sembari mencondongkan tubuh ke arah Baekhyun. "Sejujurnya aku tak memiliki dendam apapun denganmu. Aku di sini hanya ingin membantu Chanyeol. Tapi seperti yang kaulihat, hubungan kami saat ini sedang merenggang. Kau tahu penyebabnya?"

Baekhyun menggeleng pelan.

"Berawal dari empat hari yang lalu, sejak dia memerkosamu—" wajah pemuda mungil itu meringis oleh pilihan kata Sehun. "—aku tidak setuju dengan tindakannya. Kami memiliki pendapat yang berbeda dan aku tahu bahwa ia tengah menyembunyikan sesuatu. Tapi Chanyeol menolak untuk mengatakannya padaku. Kupikir kau pasti tahu karena sejak kejadian itu pula perubahan sikapnya menjadi lebih terlihat."

Baekhyun masih tak menjawab. Ia terlampau kaget dengan penawaran Sehun. Benar-benar jauh dari ekspektasinya. Sama sekali tak pernah terbesit dalam benaknya. Berteman dengan Sehun? Apakah ia sedang delusional?

"Jadi?" salah satu alis lelaki itu berjingkat.

"Ta-tapi aku bahkan tak tahu namamu." Gumamnya lirih.

Sehun menelengkan kepala sembari menipiskan bibir. Keningnya mengernyit dan ia baru sadar bahwa Baekhyun sama sekali tak mengetahui namanya. Lantas Sehun mengulurkan tangan acuh tak acuh, menanti jabatan dari lawan bicaranya.

"Oh Sehun."

Baekhyun tak yakin apakah ia harus membalas jabatan Sehun atau mengabaikannya. Ia bahkan tak tahu apakah lelaki ini benar-benar ingin berteman dengannya atau ini hanyalah kepura-puraan. Jika saja Baekhyun tahu bahwa yang Sehun inginkan darinya adalah kemudahan informasi mengenai Chanyeol

Perlahan, tangannya terulur, menyentuh ujung jemari dingin Sehun dan mengirim sengatan dahsyat ke sekujur tubuhnya. Tak aneh jika ia merasa takut lantaran kelebatan bayangan tengah berlarian di benaknya saat ini. Bagaimana kalau Sehun tiba-tiba menarik dan mematahkan tangannya? Bagaimana jika ia hanya ingin membuatnya lengah lalu mengempaskan secercah harapan yang mengintip di hatinya dengan begitu keras ke atas lapisan tanah?

Namun seluruh prasangka tersebut lesap tak berbekas kala Sehun menggenggam erat jemarinya penuh ketegasan. Ia menemukan kepuasan di matanya serta senyuman lebar terpatri sempurna. Napas Baekhyun tercekat di tenggorokan. Benarkah ia baru saja melihat senyum Sehun? Benarkah laki-laki di hadapannya ini bisa tersenyum?

"Jadi, Byun Baekhyun, kita teman?" tanya Sehun sekadar memastikan.

Ia mendapatkan persetujuan dengan aggukan kecil dari kepala Baekhyun—masih dengan wajah linglung.

"Kau tahu teman akan selalu saling berbagi, bukan?"

Pria itu kembali mengangguk.

"Kau pun pasti butuh seseorang untuk berbagi. Kau tak mungkin bisa menanggung semua ini sendirian. Aku bersedia menjadi pendengarmu. Bicaralah padaku dan aku akan berusaha membantu sebisa mungkin."

"Kalau begitu keluarkan aku dari sini." Ujar Baekhyun cepat dengan tatapan memohon. Alih-alih menarik tangan dari jabatan Sehun, pemuda itu malah mengulurkan tangan yang lainnya untuk menggenggam erat jemari dingin lelaki tersebut.

"Maaf, untuk yang itu aku tak bisa mengabulkannya. Tapi aku bisa menjadi sandaranmu jika kau sedang butuh seseorang." Jawabnya dengan wajah yang dibuat sekecewa mungkin. Oh, tentu ia harus tampak meyakinkan untuk mendapatkan kepercayaan Baekhyun.

Namun jauh di dasar lubuk hatinya, Baekhyun mempertanyakan ketulusan Sehun. Apakah ia tak akan menyesal nantinya dengan membiarkan laki-laki ini melihat kehancuran dirinya yang sebenarnya?

TBC

Cr. By : Keycolight

Original Story : story/view/937333/30-days-abuse-indonesian-romance-exo-luhan-semi-bahasa

PS

Maaf, sebenarnya mau update langsung 2 chapter tapi karena ada sesuatu hal terpaksa cuma update 1 chapter. aku mohon maaf atas keterlambatan updatenya. ku harap masih ada yang mau membaca fanfic ini. terima kasih dan jangan lupa review ya.