HEAL
"Kita bisa memanfaatkannya" Namjoon menunjuk dengan dagunya tengah duduk di singgasananya, di depannya telah ada Jinhwan yang mengurut dahi tanda telah pening menghadapi atasannya.
"Apakah kau tau, jika kita terus menyimpannya sama saja ada jebakan bom di atas pintu rumah, itu hanya merugikan kita jika keluar dari kawasan"
"Bukankah itu bagus, kita hanya perlu memancing mereka keluar dan memisahkankan para partner dengan termin setan, kita tidak perlu berombong-rombong menyerang pertahanan mereka karena toh, mereka tidak berdaya, lalu setelah kita mencapai titik puncak semuanya akan berjalan mulus sesuai rencana. Percayalah Jinhwan, mereka hanyalah cacing yang tersiram air garam, menggeliat dan membutuhkan pertolongan"
.
Yunhyeong siuman setelah 2 minggu dirawat di British, cuaca disana yang diatas temperatur membuat pipi, telinga dan hidungnya terdapat bercak merah. "Kau sudah baikan?" tanya Hoseok yang memegang papan dan menulis sesuatu diatas kertas analisisnya sambil memeriksa selang infus. Yunhyeong mendudukan dirinya perlahan, rasa sakit didadanya tidak menyengat lagi, sungguh tubuhnya baik-baik saja sekarang.
"Sudah berapa lama aku disini? Bolehkah aku pulang sekarang? Junhoe membutuhkanku" kata Yunhyeong dengan nada ngoyo.
"2 Minggu dan ini hari weekend, tidak, Junhoe baik-baik saja karena disana ada Jimin, kawan-kawanku dan teman-temanmu. Seharusnya aku cuti selama 2 bulan tapi berhubung kau terluka aku harus lembur dan untuk membayar semua hutangmu yang telah mengambil waktuku, kau harus menemaniku ke pameran lukisan dan toko bunga" penjabaran yang diberikan Hoseok cukup detail, beberapa jeda yang dibuatnya menjawab semua pertanyaan Yunhyeong dan sedikit curhatan Hoseok menambah rumit pikiran Yunhyeong. "Tunggu sebentar disini! Aku akan ambilkan syal dan baju hangatmu."
Beberapa patung di jalan yang memukau membuat Yunhyeong terkesima, ukiran-ukiran kayu di pasar lelang pun tampak bergairah di abad pertengahan, ornamen penting menjadi kendala si penjual dan peruntukan bagi si pembeli yang unggul dalam tawar-menawar.
Hoseok mengamati lukisan Icarus karya Draper Herbert tahun 1863 dengan teropong-nya terlihat tiga orang wanita tak berbusana mengasihi kondisi Icarus yang memprihatinkan. "Sampai kapan kau akan terus memperhatikannya" tanya Yunhyeong melipat tangannya sambil terus melirik jam tangannya yang terus berdetik dan sepatu ketsnya yang seirama mengetuk lantai. Dengan kertas denah dan peta Yunhyeong mengipaskan-ngipas wajahnya yang memerah.
"Mau taruhan?" tantang Yunhyeong ketika di FunWORLD, sudah ada tongkat baseball disampingnya dan langsung ditangkap oleh Yunhyeong sambil memencet tombol merah agar bola-nya keluar dari mesin. Tuk...Lose...Lose...Tuk. Yunhyeong berhasil mengumpulkan 10 poin, bola yang lolos 10, total semua bola yang keluar dari mesin 20.
Hoseok yang berada di luar tengah membaca catatan kecil dengan kacamata bundar yang segera ia simpan dalam saku mantelnya "Aku ada ujian kuliah besok, bisa skip kegiatan membuang energi ini nanti"
"No, no, no" Yunhyeong menarik lengan Hoseok untuk masuk kedalam.
BEST SCORE tercetak di layar, Yunhyeong menjatuhkan rahangnya, 'OMG ternyata orang pintar ga bisa dipandang sebelah mata' gerutu Yunhyeong dalam hati, ia cemberut karena Hoseok mendapatkan hadiah es krim wafel lezat dengan topping buah beri.
.
"Silahkan dicoba, yang berhasil akan mendapatkan 10 burger dan 10 hotdog gratis" Yunhyeong melebarkan mata, junkfood kesukaannya disebut dalam sebuah kompetisi adu keserasian. Tanpa pikir panjang ia menarik lengan Hoseok dan mendaftarkan diri.
Ronde 1 : mengaitkan satu kaki pada pasangan dan berlari menuju garis finish
Hoseok masih terlihat sibuk dengan acara pengawetan ingatan dengan buku sakunya sambil bermain, sedangkan Yunhyeong, ia diam-diam terenyum licik ketika sang lawan jatuh.
Ronde 2 : menggendong pasangan selama 30 menit.
Yunhyeong mulai gembira, ia santai tertidur di punggung Hoseok yang sama sekali tak merendah, Yunhyeong akui Hoseok benar-benar kuat, ia masih membaca buku sakunya dan menghafal setiap bait dengan pupil yang bergerak-gerik ke atas sambil melafal.
Ronde 3 : memakan pockey hingga 1 cm
'Dan Oh Ya Tuhan dia lebih mementingkan Oxford-nya yang agung' jengkel Yunhyeong dalam hati "Aku harap kau tidak botak di kemudian hari Hoseok-shi" Yunhyeong menancapkan pocky di tengah bibir Hoseok yang belah lalu mulai memegangi belakang kepala Hoseok agar pockey-nya tidak terjatuh, Hoseok yang baru menyadari posisi-nya langsung melotot.
"Batas waktunya hanya 10 detik, siap... mulai!" peluit wasit berbunyi, Yunhyeong berjengit dan mulai mempercepat mengunyah pockey-nya "Mari hitung mundur 5, 4, 3" oh jarak mereka mulai menipis, Hoseok berusaha menolak tapi Yunhyeong memaksa dengan mata terpejam yang mengerut "3, 2" CUPP "1" Pluk, Yunhyeong jadi kaget sampai-sampai Pockey yang tinggal 0,3 cm itu jatuh di trotoar, ia tidak sengaja menyentuh bibir Hoseok dengan cekatan dan itu membuat riuh warga sekitar.
"OUHHHH" mereka bertepuk tangan riang.
"Selamat!" kata pemilik toko langsung menjepitkan satu bungkus kantung kertas besar berisi hotdog di tangan Hoseok dan satu keranjang penuh burger di tangan Yunhyeong.
.
Suara deburan ombak masih membuat kedua anak adam yang duduk di taman kota canggung, Yunhyeong memainkan jari-jarinya, sementara Hoseok menggerogoti setiap kalimat di buku panduannya layaknya kutu. Dengan burger yang menyangkut dimulut, Yunhyeong melirik sebentar kearah Hoseok yang kehilangan selera membaca karena sengatan di bibirnya yang berbau ceri, bukan karena es krim yang tadi siang ia makan, tapi ini semua berkat Song yang menciumnya, bibir lembab itu meninggalkan jejak dan ada rasa berbeda di dalamnya. Lembut, memikat dan Hoseok ingin menyentuhnya berulangkali, menjilatnya, melumatnya, memasukan rongga Yuhyeong dengan lidah panjang-nya. Akal sehat memang tidak bisa diandalkan jika nafsu telah membuncah.
Kring... Kring, ponsel Hoseok berbunyi, jas yang di kenakan Hoseok telah terlampir di lengan dan hanya menyisakan kain satin hitam "Yeobseyo,mmm... ne... kamsahabnida" ekor mata Yunhyeong mengerling setelah ia mendengar suara lamat-lamat di ujung seberang. "Untukmu" Hoseok memberikan tiket pemberangkatan ke Seoul untuk 3 hari ke depan.
Yunhyeong menunduk, ia tidak selera mengunyah sisa burger, ia mengambil kertas kecil yang disodorkan Hoseok dengan jari lentiknya lalu membaca rinci yang terdapat disana.
Hoseok tersenyum kecil, Yunhyeong membulatkan matanya yang belo, ia melihat sebentar ke arah Hoseok dengan mulut terpukau tak percaya, lalu bangkit dari duduk tak sabaran dan menubruk tubuh Hoseok "Gomapda" kata Yunhyeong dengan senyum lebarnya, matanya mengeluarkan air mata bahagia. Dengan wajah imut nan cantiknya Yunhyeong melepaskan pelukannnya namun kedua lengannya masih merangkul bahu Hoseok.
"Yunhyeong-shi kurasa kau harus mengontrol emosimu" kata Hoseok dengan kedua telapak tangan yang masih menempel di pinggang ramping Yunhyeong. Yunhyeong jadi geragas melihat sekitar, ia baru menyadari bahwa kekuatannya muncul begitu saja tanpa disadari, mereka terbang diangkasa yang bertabur bintang. "Aku tidak terbiasa" kata Hoseok mencoba mengikuti arah pandang Yunhyeong "Kita ada di tengah laut sekarang. Aku tak ingin tenggelam seperti Icarus dan di kelilingi wanita bugil" Yunhyeong terkekeh geli mendengar pernyataan blak-blakan Hoseok.
.
"Taehyung menghilang" Seokjin dengan bintik keringat yang berkumpul di kening dan menetesi pelipisnya membuat semua penghuni rumah gempar, Jimin masih merunduk layu, punggungnya menyandar di tiang tangga. Donghyuk, Hanbin dan Yoongi merelaksasikan otot-otot yang menegang sambil menghembuskan nafas kasar.
Junhoe hanya bisa menggertakan gigi lalu berlalu, namun lengannya di tangkap oleh Jimin "Kita perlu bicara"
.
Angin menerpa setiap helai rambut Jimin, sore menjelang dan sebuah cerminan garis laut yang menampakan matahari terbenam menjadi nuansa indah di balkon kamar Junhoe.
Jimin mengingat kenangan terpuruknya pada saat kehilangan kucing kesayangannya yang telah ia rawat dari bayi. Kucing itu mati mengenaskan tertabrak motor selengean yang dikendarai manusia berandal musuh bebuyutan Jimin di sekolah. Jimin ingat ketika ia terus memohon agar kucingnya dihidupkan kembali, tapi sia-sia saja suara serak-nya tidak akan pernah di dengar lagi, bahkan air matanya yang terus menetes pada tubuh dingin kucing itu yang membiru tidak dirasakan sampai-sampai Jimin putus asa.
Jimin mengulas senyum miris "Kurasa aku akan menjadi pendampingmu, keunde... melihat situasimu yang sekarang ini telah memiliki seorang yang di cintai aku terpaksa harus perlahan mengerti, bahwa kehilangan sesuatu yang dikasihi bukanlah alasan untukku menghentikan waktu ataupun ingin meninggalkan dunia ini. Kehilangan sesuatu adalah cara Tuhan untuk menampakkan bukti kasih sayang yang kita pendam dan persoalan itu terjawab sudah" Jimin menghebuskan nafas kasar, ia memutar tubuhnya untuk langsung menghadap ke ruangan.
Setelah matahari tidak nampak di ufuk lagi dan langit semakin lama menggelap, hanya terlihat cipratan sinar orange marmalade di sekitar tempat matahari menenggelamkan dirinya. Junhoe masih berada di balkon dengan pagar besi yang membatasi, dengan semu ia melihat pergerakkan Jimin tanpa mengalihkan pandang ke langit malam indah yang terhiasi bintang yang bersinar terang.
"Aku akan kembali ke kamar sekarang" yang Jimin utarakan ini cukup untuk penutup ucapan terakhirnya dengan Junhoe kali ini. Tapi Junhoe sepertinya enggan untuk melepas Jimin begitu saja, ia menarik siku Jimin dengan tangannya yang menggenggam erat lalu membalikkan tubuhnya sehingga ia berhadapan dengan sang pujaan hatinya. Sekarang, tidak ada kata 'nanti' lagi di kamus Junhoe, sepertinya Jimin sudah salah kaprah tentang perilaku yang ditunjukannya dulu sebelum dirinya mengenal Jimin lebih dalam dan hal itu sangat disesalkannya.
000
"Hyung! Aku punya kejutan untukmu" Jungkook membuka pintu kamar Jimin, nafasnya tersendat-sendat karena sebelumya ia berlari, tapi keberadaan Jimin nihil, ia tidak tau lagi harus mencari dimana Hyungdeulnya itu yang hari-hari ini jarang sekali terlihat di dalam ruangan-nya. "Hyung padahal aku ingin memberi tau mu sebuah berita bahagia" Jungkook menutup kembali kamar Jimin yang begitu sepi, ia berjalan lunglai. Seketika saja ketika ia menegakkan kepalanya terlihat sosok Hanbin berada tak jauh darinya, Hanbin sedang membuka pintu kamar yang entah siapa penghuninya, Jungkook tidak tau itu. Jungkook sebenarnya merasa aneh melihat Hanbin yang sudah beberapa detik tidak juga masuk ke dalam ruangan yang gagang pintunya sudah ia pegang. Maka mau tak mau Jungkook segera menghampirinya dan hendak menanyainya tentang perihal tersebut.
Hanbin tengah memperhatikan dua sejoli yang baru saja mencapai klimaks kedewasaannya, ia tersenyum senang. Setelah puas melihat pemandangan indah yang baru saja ia saksikan, ia menutup pintunya perlahan agar suaranya teredam dan tidak menganggu sepasang kekasih yang baru saja menunjukkan kemesraannya setelah sekian lama.
"Sun... bae" Jungkook melirik Hanbin yang terkesiap kaget akibat wajah dirinya yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Hanbin. "Apa yang kau lakukan disini? Dan apakah kau melihat Jimin Hyung-ku, aku mencari ke segala tempat yang sering di kunjunginya tapi tidak ada."
Sebelum menjawab Hanbin harus menenangkan jantungnya yang terus berdetak kencang terlebih dahulu sebelum pertahanannya jebol karena takut anak polos yang berada di hadapannya ini mengetahui apa yang terjadi di balik pintu. "Jungkook, bukankah kau seharusnya belajar sekarang?"
"Sunbae jangan mengganti topik yang telah aku susun beberapa detik yang lalu, jawab saja dulu pertanyaanku" Jungkook memajukan bibirnya, ia tak mau kalah dengan Hanbin yang mengalihkan pembicaraan.
"Aku sedang mengecek apakah lampu di ruangan ini sudah menyala atau belum. Tentang Jimin-mu aku melihatnya keluar beberapa menit lalu" bohong Hanbin untuk segera mengurungkan niat Jungkook mencari Hyungdeul-nya, jika saja anak polos ini mengetahui keadaan sebenarnya, ia pasti hanya bisa menganga lebar melihat Hyungdeulnya yang sudah dewasa.
"Ah mengapa ia tidak mengajakku, aku butuh refreshing otak dan cuci mata" Jungkook menghentakkan kakinya gemas, ia berjalan menjauh meninggalkan Hanbin yang mulai tersenyum geli melihat kelakuan anak SMA kelas 1 yang maunya bolos terus.
000
Tangan kanan Junhoe telah berada di pipi Jimin yang mendingin karena udara diluar semakin minus, tangan kirinya ia taruh di pinggang Jimin yang sebelumnya di gunakan untuk menarik tubuh Jimin. Dengan keadaan mengadah karena tinggi Jimin yang tidak setara dengan Junhoe, bibir mereka saling menyentuh lembut hingga beberapa detik ke depan. Awalnya Jimin kaget tetapi ia pasrah begitu saja, mungkin karena hal ini sudah di tunggunya sejak lama, bisa jadi kejadian hari ini adalah untuk yang pertama dan terakhir kalinya ia menyentuh seseorang yang amat dicintainya.
Jimin menunggu kehadiran Junhoe cukup lama, tapi tidak bisa menemuinya hingga usianya sekarang yang menginjak 95 tahun, Jimin keliaran di bumi yang sedikit demi sedikit mengalami revolusi. Waktu dulu Ia menggunakan hanbook tebal indah yang membalut tubuhnya dan sekarang hanya kaos tipis yang terpakai, ga sinkron juga sih kalo di jaman yang modern ini Jimin tidak masih bergaya ala kerajaan-kerajaan yang sudah punah.
Masa pertumbuhan para pengendali bisa dibilang berlangsung lama, misal untuk mencapai umur 1 tahun hidupnya, ia butuh 5 tahun mengembangkan jaringan di tubuhnya. Ngomong-ngomong tentang 95 tahun usia Junhoe dan Jimin, berapa usia mereka berdua yang sebenarnya jika di golongkan dalam siklus manusia, jika dihitung umur mereka sekarang sudah 19 tahun, usia dimana kegalau-an terus saja mengguncang hidup mereka, dan mereka sering kehilangan arah. Tapi tersesat adalah cara mereka untuk menemukan jalan.
END
.
.
.
YEAY REFLECTION dinyatakan SELESAI, ^^
Tapi tenang reader masih ada FIRST LOVE yang membuat Ue (-_-) pasang mimik lelah.
