Unexceptionable
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.
A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf
.
.
Enjoy!
.
.
Neji menarik napas panjang dan mengurungkan niat untuk melepaskan sebelah tangan yang sudah menggenggam ujung pakaiannya dengan erat selama tiga jam belakangan. Ia tidak menyangka Naruto bisa tetap mempertahankan tenaganya disaat tidak sadarkan diri seperti sekarang.
Ia kembali menarik napas panjang saat mengingat seorang pemuda yang sudah melarikan diri beberapa saat setelah ia berhasil menarik Naruto kembali ke alam sadar. Rasa sakit mulai mendera kepalanya karena ia tahu banyak hal yang harus dilakukannya untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi.
Bagaimanapun juga ia tidak mungkin meninggalkan pemuda yang kini tertidur lelap di pelukannya. Ia sama sekali tidak mungkin dan tidak berniat untuk melepaskan diri dari pemuda pirang ini.
.
..
-0-0-0-
..
.
Suara 'brak' dan jeritan yang memenuhi ruang pertunjukkan berhasil menarik perhatian semua anggota klub drama yang hadir. Sai dan Lee bergerak cepat untuk menahan tubuh Sasuke yang sudah hilang kendali, sementara Sakura, gadis yang baru saja menjerit, berlari cepat mendekati salah satu seniornya yang terjatuh akibat hantaman kepalan tangan sang Uchiha.
Neji mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya dan memberikan tanda bahwa ia baik-baik saja sebelum menatap pemuda yang sudah menyerangnya tanpa aba-aba.
"Apa yang kau lakukan, Uchiha Sasuke?" Sakura sama sekali tidak bisa menahan kekesalannya.
Neji mengangkat sebelah tangan, memberi tanda agar Sakura tidak memperbesar keribuatan yang berhasil menghentikan proses latihan drama. Ia bangun dari posisi duduknya dan menatap pemuda yang masih dikawal dua orang juniornya dengan erat dengan tatapan tajam mengarah langsung padanya.
"Aku tidak menyangka kalau kau peduli. Benar-benar diluar perkiraan."
Sementara Hyuuga dan Uchiha muda itu saling berbalas tatapan, anggota klub drama yang lain terlihat saling melemparkan tatapan bingung satu sama lain. Mereka sama sekali tidak bisa memahami kejadian yang melibatkan kedua pemuda itu dan mereka juga tidak tahu apa yang sudah membuat Sasuke kehilangan kendali. Uchiha Sasuke bukan orang yang mudah naik pitam dan melemparkan bogem mentah seperti yang baru saja terjadi.
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan singkat dengan nada tenang itu membuat hampir semua orang yang ada di ruangan menolehkan pandangan ke arah pintu sumber suara berasal. Mereka menahan napas saat menyadari siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Neji menghela napas panjang dan meminta anggota yang lain untuk kembali ke posisi mereka masing-masing dan memberikan tatapan meyakinkan kepada dua pemuda yang tampaknya enggan meninggalkan sisi sang Uchiha.
"Neji? Apa yang terjadi dengan wajahmu?"
Pemuda Hyuuga itu mengulaskan senyum tipis dan menggelengkan kepala. Ia memilih untuk tidak melemparkan alasan konyol karena sosok yang melangkah mendekatinya bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi.
"Kau datang, senpai? Mana Naruto?" tanyanya tenang, sama sekali tidak terpengaruh dengan pandangan dan aura membunuh yang menguar dari sosok yang sudah memberinya 'hadiah manis'.
"Aku belum bertemu dengannya. Kau yakin baik-baik saja?"
Neji mengangguk pelan saat sang mata lawan bicara mengarah ke pipinya yang lebam. Ia meringis pelan rasa sakit mulai terasa dari sudut bibirnya yang sobek.
"Kurasa aku harus ke restroom. Sampai jumpa," pamit pemuda berambut coklat panjang itu sembari melangkah meninggalkan ruangan.
"Aku tidak tahu kau masih melancarkan serangan hingga melukai orang lain, Uchiha Sasuke."
Kali ini tatapan tajam Sasuke beralih dari sosok yang sudah menghilang dibalik pintu ke sosok yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Aku sudah memintamu untuk tidak mendekati pemuda itu, tapi kau tidak mendengarkan," ungkapnya dengan nada datar dan volume rendah. Ia tidak mau percakapannya didengar anggota klub yang masih ada di dalam ruangan, tapi ia juga tidak mungkin mengajak sosok yang sudah membalas tatapannya keluar dari tempat ini.
Sasuke sama sekali tidak melemahkan tatapan tajamnya walaupun sang lawan bicara menghela napas panjang.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak mencampuri urusanku?"
"Kalau kau ingin aku tidak ikut campur, dengarkan perkataanku."
"Dan menjauhinya, begitu? Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Sasuke?"
Uchiha muda itu menahan jawaban yang sudah di ujung bibir. Walaupun ia menjawab 'Sampai kau menyadari kesalahanmu', ia tahu lawan bicaranya tidak akan mendengarkan.
"Tidakkah kau pikir kalau kau sudah keterlaluan? Kau mendekatinya dan kalian menjadi sahabat dekat. Kau bahkan berhasil membuatnya jatuh cinta padamu. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Mengabaikannya?"
"Apapun yang kulakukan padanya tidak ada hubungannya denganmu," pandangan Sasuke makin menajam saat melihat kilat menentang di sepasang iris gelap lelaki di hadapannya.
"Lalu apa hubungannya perasaanku denganmu? Aku tidak pernah memulai semua pertengkaran ini dan aku selalu mengalah untukmu, tapi kali ini aku tidak akan mengalah."
Sasuke mendengus geli dan menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya demi membuat lelaki ini mengerti semua maksud ucapannya.
Sesulit itukah menjauhkan diri dari seorang Namikaze Naruto? Sesulit itukah menuruti permintaannya? Sesulit itukah mendengar perkataannya?
"You are so unbelievable."
.
-0-
.
Naruto membuka matanya dan berusaha untuk menenangkan degub jantungnya yang menggila. Ia menarik napas panjang dan menutup kedua matanya dengan sebelah tangan.
"Kau sudah bangun?"
Pemuda berambut pirang itu tersentak dan segera melemparkan tatapan liar ke seisi ruangan sebelum akhirnya ia mendapati sosok pemuda yang berdiri di ambang pintu kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Naruto sembari mengusap sisi wajahnya dan berusaha mengingat hal terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran.
Neji menggelengkan kepala dan melangkah mendekati tempat tidur yang ditempati sang sahabat. Ia meletakkan kantong berisi obat yang baru saja ia tebus di apotek dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kurasa kau harus menemui Tsunade-sama dan bicara dengannya."
Naruto mengangkat pandangan dan Neji bisa melihat bagaimana kedua mata beriris biru itu melebar sempurna. Ia sudah memperkirakan hal ini dan ia tidak mau mengulangi kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Kau harus mengendalikan dirimu sendiri, Naruto. Tidak seharusnya kau mendengar apapun yang dia katakan."
Gelengan kepala dan napas yang menderu membuat Neji mengulurkan tangan, berusaha meraik kedua tangan berkulit kecoklatan yang tengah berusaha menutup kedua indera pendengaran pemiliknya.
"Naruto," Neji menggenggam pergelangan tangan sang Namikaze dengan erat, masih berusaha melepaskan pemuda itu dari usaha 'melindungi diri'. "Naruto, dengarkan aku."
Kini tanpa ragu pemuda bermarga Hyuuga itu benar-benar naik ke atas tempat tidur, memindahkan kedua tangannya ke bahu pemuda yang duduk tepat di hadapannya.
"NAMIKAZE NARUTO!"
Neji menarik napas lega saat akhirnya sepasang mata beriris biru itu terarah lurus padanya. Ia mengeratkan genggamannya di bahu sang lawan bicara.
"Jangan dengarkan perkataannya," Neji menatap sepasang mata beriris biru milik pemuda yang berhadapan dengannya dengan sorot setenang mungkin. "Jangan sekali pun kau dengarkan perkataannya. Kau harus mendengarku. Kali ini kau harus mendengarkanku dengan baik. Mengerti?"
Anggukkan ragu yang diberikan sang pemilik rambut pirang cukup untuk membuat sang Hyuuga muda mengulaskan senyum tipis. Ia melepaskan genggaman tangannya dan beralih meraih tubuh berkulit kecoklatan pemuda yang beberapa bulan lebih muda darinya itu kedalam pelukannya.
"Aku akan melakukan apapun untuk melindungimu. Kau tahu kalau aku tidak keberatan walaupun harus mati demi dirimu kan?"
"Aho ga?*"
Senyum tipis akhirnya terulas di wajah pemuda berkulit putih itu sebelum digantikan oleh raut datar dan tatapan kosong. Neji mengeratkan pelukannya dan menumpukan dagunya ke salah satu sisi bahu sang Uzumaki.
"Daijoubu da yo, Naru. Daijoubu.*"
.
.
TBC
.
.
Note:
*Aho ga? : Are you an idiot?
*Daijoubu da yo, Naru. Daijoubu : It's okay, Naru. It's okay.
.
.
Review Reply:
.
.
rura: yep, itu karakternya Neji ^^ Aaahh, padahal nebak juga ga apa-apa kok, biar punya perkiraan sekaligus buat antisipasi chapter selanjutnya kan, kkk
Kicchan: suka? Baguslah~ Jalan ceritanya memang sengaja dibuat berlubang-lubang(?) kok, hehehehe... Hai, ganbarimasu! ^^
