Judul : My imagination is my Love
Chapter : 8
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Genre : hurt, romance and fantasy
Pairing : Naruhina
Normal POV.
Seorang pemuda berambut coklat panjang tengah duduk di ruang kerjanya sambil mengamati beberapa data di dalam komputernya. Seorang pemuda berambut model nenas datang menghampirinya sambil meyerahkan sebuah amplop coklat.
"Sepertinya kamu sangat sibuk, Neji?" Tanya pemuda itu.
"Aku hanya sedang mempelajari beberapa kasus, Shika" jawab Neji tanpa mengalihkan matanya dari computer. "Apa sudah ada kabar dari Sasuke tentang 'dia'?" Tanya Neji balik.
"Masih seperti biasa. Aku akui 'dia' memang selalu membuat ku repot" Shikamaru mendengus pelan kemudian tersenyum tipis.
"Itulah 'dia' yang kita kenal, serasa sunyi tanpa 'dia'" tambah Neji.
Mereka berdua saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Hingga suara pintu dibuka dengan paksa mengagetkan kedua kapten itu.
"Neji!"seorang gadis bercepol dua pembuat onar di ruang Neji membuat Neji serasa ingin membentak kekasihnya yang tak bisa bersikap seperti wanita normal lainnya.
"Ini di kantor Tenten, aku ini atasanmu bisa tidak kau panggil aku kapten?" kata Neji membuat Shikamaru ingin tertawa.
"Ini bukan saatnya bercanda Neji-kun. Ini mengenai Hinata" mendengar nama Hinata di ucapkan diantara perkataan Tenten membuat Neji menegang.
"Hinata? Ada apa dengannya?" Tanya Neji mencoba tenang.
"Dia~ Hinata ~ dia keracunan" tambah Tenten dengan hati-hati Mata amethyst Neji membelak. Ekspresi cemas diwajahnya semakin jelas begitu dia sadar kondisi sepupunya yang baru sembuh dari kesedihannya akan kematian Gaara, hal ini tentu saja bisa terjadi. Kenapa dia tak berpikir sampai ke arah itu. Padahal dia yakin Hinata tidak mungkin melakukannya.
"Dimana Hinata sekarang?" Tanya Neji mendekati Tenten dan menariknya keluar ruang kerjanya. Shikamaru pun ikut keluar.
Di Rumah Sakit.
Sakura dan Ino berjalan dalam diam menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang terlihat sunyi. Hanya ada beberpa perawat yang mondar-mandir dan bebarapa pengunjung berdiri di beberapa ruang rawat. Suara langkah kaki yang lemah terdengar mendekati mereka berdua. Sebuah tepukan lembut mendarat di pundak Ino membuat gadis itu berteriak terkejut.
"Kyaaaaa! Jangan makan aku!" teriak Ino. Serentak membuat Sakura yang tengah melamun di sampingnya ikut terkejut dan melihat Ino yang menegang.
Suara tawa akhirnya menyadarkan mereka kalau mereka sedang dikerjai oleh seseorang.
"Tak ada orang yang mau makan tubuh yang isinya tulang doang" suara orang yang menepuk pundak Ino.
"Sai!" suara Ino tak kalah kencang dengan suara teriakannya.
"SSssstttt! Ino, pelan-pelan ini di rumah sakit" bisik Sakura menenangkan Ino. Yang masih diburu oleh emosi.
"Eh, Sai senpai. Mau menjenguk 'dia' lagi?" Tanya Sakura mencoba ramah yang sebenarnya juga ingin melabrak Sai yang sedari tadi hanya tersnyum tanpa meminta maaf atas kekurang ajarannya tadi.
"Tidak, aku kesini mau bertemu Neji" jawab Sai tanpa berhenti tersenyum. Hal itu membuat Ino serasa ingin meledak karena ingin menjambak Sai. Karena telah membuat hatinya berdetak tak karuan.
"Neji senpai kenapa?" Tanya Sakura lagi.
"Bukan Neji yang sakit. Tapi Hinata" jawab Sai yang tiba-tiba berhenti tersenyum dan menatap serius ke arah belakang Sakura dan Ino.
"Katanya teman baik, kenapa teman sendiri keracunan kalian tidak tahu" suara lain terdengar dari punggung Sakura dan Ino membuat mereka berdua berpaling ke belakang mereka.
"Yo, Kiba, Shino., Sasuke" sapa Sai pada ketiga pemuda itu.
"Hn" tahu kan siapa pemuda ini ^_^
"…."
"Maaf yah, kami mengagetkan kalian" lagi Kiba mengusik mereka dengan suaranya.
"Hinata keracunan?" Ino terlihat Syok, dia hampir kehilangan keseimbangannya namun segera di tahan Sai.
"Dengar-dengar sih, dia kercunana ramen" jawab Sai kembali tersenyum pada Ino.
"HAH! Keracunan ramen? Sejak kapan Hinata suka makan ramen?" Sakura bingung sendiri mendengar jawaban Sai.
"Hahaha~ kenapa Hinata membuatku teringat akan 'dia', yah?" kata Kiba.
"Hinata, tapi kenapa harus dengan ramen?" kembali Ino merutuki tingkah bodoh Hinata dan tak habis mengerti mengapa temannya ingin mengakhiri hidupnya dengan ramen?!
"Dimana Hinata sekarang?" Tanya Sakura menatap tak percaya pada Kiba dan menatap sinis pada Sasuke yang tak perduli pada tatapannya.
Normal end.
Hinata POV
Samar-samar aku bisa mendengar suara percakapan antara peremuan dan laki-laki. Suara mereka sangat ku kenal, yah mereka adalah Sakura Ino dan Tenten-nee chan sementara laki-laki yang aku tahu hanya Neji nii san. Mereka sepertinya membicarakan 'dia'.
"Dia? Siapa dia?" tanyaku membuat seisi ruang tempat aku istirahat tersentak melihat ke arah ku.
"Hinata~ kamu sudah siuman~" suara Ino yang terharu seraya berlari dan memelukku tanpa memperdulikan pertanyaanku tadi.
"Hinata, kenapa kamu sekonyol itu! Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup mu seperti itu!" aku bingung mendengar amarah Sakura.
"Siapa yang ingin mengakhiri hidup? Aku hanya ingin makan ramen" jawabku dengan tampang watados. Sakura, Ino dan Tenten kaget mendengar jawabanku.
"Lalu, kenapa kamu makan ramen sampai keracunan seperti ini?" Tanya Tenten.
"Aku melakukannya untuk Kyuubi" jelasku.
"Tapi kenapa Ramen? Sejak kapan kamu suka makan ramen?" Tanya Ino yang tak habis pikir.
"Sejak aku bertemu dengan Kyuubi" aku kembali teringat akan Kyuubi, kemana dia, kenapa dia taka da disini?
"Kyuubi? Siapa dia" Tanya Neji mendekati kami.
"Em, dia~ dia teman baruku" tidak mungkin kan aku bilang dia teman imajinasiku.
"Kenapa dia tega meninggalkanmu sendirian di kedai ichiraku?" Tanya Neji penuh seledik.
"Saat itu dia tidak sedang bersamaku" elakku seraya menjamahi seluruh ruangan yang aku tempati mencari sosok yang aku harapkan.
"Lain kali kamu harus kenal kan dia pada kami" tambah Tenten.
"Hei, Neji. Kenapa tak bilang padaku kalau kamu punya sepupu yang begitu semanis ini" aku menoreh ke asal suara tadi. Seorang pemuda bertatto taring di kedua pipinya tersenyum nakal padaku, seketika aku bergidik.
"Bukannya kau sudah melihatnya saat itu, Kiba(saat Gaara kecelakaan)" balas Neji dengan memberika deatglare pada Kiba.
"Huh, merepotkan saja. Lain kali kalau mau mati jangan makan ramen" dan lagi aku melihat seorang pemuda bertampang pemalas.
"Kapten, jangan bicara seperti itu, bagaimana jika dia benar-benar melakukannya?" hei! Ada mayat hidup yang tersenyum paksa padaku? "Bagaimana menurutmu, Sasuke?"
"Hn" aku melihat pemuda berambut raven dengan tatapannya yang sulit diartikan hanya menjawab seadanya. Hanya seorang pemuda berkaca mata dan berjaket yang menutupi sebagian wajahnya sendiri tak berkata apa-apa.
"Hm, maafkan aku telah merepotkan kalian" kataku seraya setengah menunduk.
"Ah, tidak apa-apa kok. Hinata, kebetulan kami juga ingin membesuk teman kami" kata Kiba seraya tersenyum lebar membuat aku teringat akan Kyuubi. Dimana dia sekarang, kenapa dia belum-belum muncul juga. Bukannya dia bilang setiap aku memikirkannya dia akan datang, tapi kenapa di saat ini dia masih belumdatang juga?
"Hinata, tak apa kalau Neji nii dan kawan-kawan meninggalkanmu sendiri?" kak Neji memyadarkan aku akan satu hal, mungkin dia tidak akan muncul jika aku sedang bersama banyak orang seperti ini.
"Iya, tidak apa-apa Neji nii" aku berharap mereka segera keluar agar aku bisa memanggil Kyuubi keluar dengan begitu aku bisa berduaan dengannya.
"Sakura-chan, Ino-chan. Pulanglah, aku tidak apa-apa sendirian disini. Toh aku hanya kecapean aja" kataku mencoba mengusir mereka dengan halus.
"Benar, tidak apa-apa?" Tanya Ino kurang yakin. Setelah mencoba meyakinkan mereka akhirnya aku bisa kembali sendiri di kamar ini.
"Kyuu, kamu dimana? Kamu ada disni kan?" aku sedikit kecewa saat tak ada jawaban sama sekali dari Kyuubi. Kenapa dia tak datang, apa aku telah menyakitinya? Atau aku telah mengecewakannya karena tak bisa memuaskan rasa inginnya akan ramen?
"Kyuu, apa kamu marah padaku?" dan lagi, aku hanya bertanya pada udara kamar yang dingin.
"Hinata~" samar-samar aku mendengar ada yang memanggilku dari luar ruangan yang aku tepati. Aku memang bukanlah tipe orang yang pemberani dan penakut, aku bisa jadi kedua-duanya tergantung situasi yang aku alami saat itu.
Dengan penuh keberanian aku melangkah menuju pintu dan membukanya, yang terlihat hanya lorong-lorong rumah sakit yang telah sunyi. Detingan jam rumah sakit menunjukkan pukul 2 malam. Ada rasa penasaran yang membimbingku untuk menyusuri lorong yang ada di depanku, aku tak bisa menahan rasa itu, perasaan itu seolah memintaku untuk mengikutinya membawaku kemana.
Langkah kakiku melemah saat kudengar suara perempuan menangis dari ruang VIP, entah setan apa yang membawa kakiku melangkah menuju ruangan itu. Tabuhku tiba-tiba tertahan saat mataku menangkap seseorang berdiri didepan pintu ruangan VIP asal suara tangis itu. Orang itu hanya berdiri di depan pintu dan tak melakukan apa-apa selain berdiri.
"Apa yang kamu lakukan di luar" suara berat seseorang dari belakangku mengagetkanku, saat itu yang aku pikirkan hanya orang yang di depan pintu itu. mataku terbelak saat dia menorah ke arahku tapi aku tak bisa melihat wajahnya yang tertutup bayangan tiang.
"Hinata" suara itu kembali terdengar, aku segera menoreh padanya. Seorang pemuda berambut raven dengan tatapan misteriusnya menatap tajam padaku. Ludahku terasa berat dan sakit saat melewai tenggorokkanku. Tapi rasa sakit di tenggorokkanku tak sebanding dengan rasa penasaran di hatiku tentang orang tadi, saat aku kembali melihat ke ruang VIP itu orang tadi sudah tidak ada. Dengan sedikit kecewa aku menatap kembali pemuda yang tadi menegurku.
"Sasuke?" kataku sedikit yakin kalau dia adalah Sasuke.
"Seharusnya kamu kembali ke kamarmu" suara Sasuke terdengar dingin.
"Sasuke ingin menjenguk 'dia'?" tebakku yakin karena yang aku tahu 'dia' yang mereka maksud adalah teman mereka. 'Dia' yang sedari tadi kak Neji dan teman-temannya membicarakannya, 'dia' yang juga di rawat di rumah sakit ini.
"Kamu ingin menemui 'dia'?" pertanyaan Sasuke seakan mematahkan opiniku tentang 'dia' yang sengaja mereka tutupi. "Em,_"
TBC….
