"The Lady of KIHS"
by: Lavenderviolletta
Naruto by : Masashi Kishimoto
[Hinata H. x Sasuke U. ]
Romance,Hurt,comfor,
.
.
.
WARNING
(OOC, Miss TYPO)
.
.
Happy Reading
.
Langkah kakinya yang panjang itu menelusuri setiap sudut koridor sekolah, dia bahkan berjalan tak memperdulikan orang sekitarnya, sesekali ia menubruk siapapun yang menghalangi jalan, sampai dimana kakinya berhenti melangkah, ketika dilihatnya wanita bersurai indigo itu kini terbaring di ruang UKS dengan posisi memunggungi jendela, dan tertidur menyamping menghadap tembok, rambutnya tergerai indah seperti biasa, balutan selimut sampai sepinggang, Sasuke terdiam, mengamati beberapa menit, sampai akhirnya ia memantapkan hatinya untuk masuk dan menemui Hinata.
Cklek.
Masih tak ada respon dari Hinata, mungkin dia telah tertidur, pikirnya, Sasuke kini berdiri di sebelah ranjang UKS, ingin sekali dia melihat seperti apa wajah Hinata sekarang, posisi tidur Hinata yang menyamping dan menghadap tembok membuatnya kesulitan untuk melihat wajahnya, ia menghela nafas panjang, dikeluarkannya sapu tangan berwarna biru gelap yang selalu dibawanya kemana-mana, ia letakan di samping bantal, dan menulis sebuah pesan singkat pada memo yang ia ambil di atas meja. "Gomene." Lirihnya pelan, sangat pelan dan nyaris tak terdengar, ia melangkahkan kakinya keluar, menutup pintu UKS rapat, dan kembali menuju kelas.
...
Hinata tau Sasuke menghampirinya, namun, ia pura-pura tidur karena tak ingin Sasuke melihat wajahnya yang rusak, ia bangun menjadi posisi duduk, diambilnya memo singkat yang diberikan Sasuke, dan membacanya cepat.
"Mengingat ujian sebentar lagi, sangat disayangkan jika kau tak mengikuti pelajaran, sapu tangannya bersih, kau bisa menggunakannya untuk menutupi wajahmu, pakailah."
Hinata mengambil sapu tangan berwarnakan biru gelap itu dan melipatnya menjadi segitiga, menggunakan sapu tangan itu sebagai cadar, ia tutup wajahnya sampai hanya irish nya saja yang kini terlihat, "Arigatou, Sasuke."
..
Seluruh pasang mata itu menatap Hinata yang kini tengah memasuki kelas, irishnya mengabsen semua orang yang tengah menatapnnya, ia alihkan pandangannya untuk menatap Sasuke, Onyx itu menatapnya datar, seperti biasanya, Hinata tersenyum dibalik cadarnya, ia berjalan ke arah bangkunya dan duduk disamping Shion, membuka satu persatu halaman buku tebal yang ada di dalam tasnya, ia terus menunduk, terdengar bisikan-bisikan yang membicarakannya, namun ia tak menggubris itu semua, "ganbatte Hinata." Ujarnya dalam hati, dan akhirnya ia bisa bernapas lega saat Kurenai sensei memasuki kelas, sehingga siswa dan siswi di kelas ini tak lagi menjadikannya sebagai pusat perhatian.
..
"Hinata, kau sakit?"
Hinata mendongak saat Kurenai berdiri di sebelah mejanya,
Hinata mengangguk, seraya menyipitkan matanya, menunjukan bahwa ia tersenyum.
"Kenapa tak istirahat di UKS saja?"
"Tidak apa Kurenai Sensei, ujian sebentar lagi dan saya harus mengikuti pelajaran."
"Baiklah, tapi apa kau benar baik-baik saja?"
Hinata kembali mengangguk,
Kurenai kembali pada mejanya, meneruskan mengajar, Shion hanya melirik Hinata, dia tak bicara apapun padanya hari ini, dan ini membuat Hinata mencurigai sikapnya, "apa mungkin dia-"
..
Bandara Hokaido terlihat ramai sore ini, terlihat seorang pria mengenakan jaket kulit berwarna coklat, T-shirt berwarna hitam dan celana jins berwarna coklat membawa sebuah koper kecil, mungkin untuk persediaan pakaian selama beberapa hari di Korea, ia melirik jam dan kembali memainkan ponselnya. Pria itu tersenyum ketika melihat wanita bersurai indigo yang kini tengah berjalan menghampirinya, segera ia masukan kembali ponselnya, dan berjalan mendekati wanita itu.
"Baru saja aku akan menghubungimu, kenapa lama sekali?"
"Gomene, membuatmu lama menunggu."
Gaara tersenyum, ia menggenggam tangan Hinata, "kau siap?" Tanyanya lagi.
Hinata mengangguk, seraya menyipitkan matanya, tersenyum dibalik cadar yang ia pakai.
..
Stalker, mungkin itu julukan yang paling pas untuk Uchiha yang tengah mengintip Hinata dan Gaara di bandara tadi, pria onyx ini duduk tak jauh di belakang kursi penumpang pesawan yang Gaara dan Hinata tumpangi, ia memakai kaca mata hitam, membawa majalah dan memakai topi untuk melengkapi penyamarannya.
..
Prraankkkk !
"Ada apa? Hana-chan?"
"Nii-san, Hinata-nee."
"Hinata?" Neji menautkan alisnya heran,
"Hinata nee, dia ada di pesawat itu,"
"Eh?" Neji mengarahkan perhatiannya pada televisi yang di tonton Hanabi, ia melihat seorang reporter televisi swasta itu tengah membawakan sebuah berita.
"Pesawat SabakuAirlines penerbangan tujuan Jepang-Korea, mengalami kecelakaan ketika terbang di ketinggian 1000 kaki, kecelakaan tersebut dikarenakan kondisi angin kencang dan cuaca buruk sore ini, berikut adalah daftar orang-orang yang menaiki pesawat."
"Hinata, Gaara," Neji membulatkan matanya.
"Sasuke, Uchiha Sasuke adalah teman Hinata-nee,"
Neji menatap tak percaya, "Hanabi, kenapa kau tak mengatakan bahwa Hinata pergi eh?"
"Gomene, Neechan menyuruhku,-"
Aaargghhhhh .!
Neji bergegas meninggalkan ruang televisi itu, ia menyambar kunci mobil dan segera berlalu untuk menuju bandara Hokaido.
"Neji-nii, Aku ikut."
Neji menatap Hanabi sendu, ia tau adik sepupunya itu tak bersalah, ini kecelakaan, ia tersenyum, dan menganggukan kepala, dengan cepat, mobil Neji meninggalkan Manshion Hyuuga,
..
Hujan deras membasahi awak pesawat yang sudah tak bernyawa itu, Hinata merintih, darah segar keluar di dahinya, "Ga,- Gaara kun." Rintihnya di sela-sela sakit,
Hinata mencari sosok Gaara di pelosok pesawat yang kini menyisakan dirinya bersama bangkai awak pesawat yang tengah hancur, seluruh penumpang disana tak sadarkan diri, Hinata tak tau apakah mereka masih hidup atau telah meninggal, "Gaaraaa…. !" kembali ia berteriak, namun hanya suara burung gagak hutan yang menjawab panggilannya, ia menangis, terdampar di tengah hutan menyeramkan, hari mulai surut, gelap tak bercahaya, ia melangkahkan kakinya, entah kemana, ia terus berjalan teringsut, sampai pada ia harus menghentikan langakahnya ketika suara kaki seseorang terdengar mendekat ke arahnya,
Tap..
Suara langkah menyeramkan itu membuatnya semakin cepat berlari, akan tetapi langkah itu juga terdengar semakin mepercepat jalannya, Hinata bersembunyi di balik pohon, nafasnya memburu naik turun, dan sebuah tangan berlumuran darah menyentuh bahunya, "Kyaaaaa…, hmp.."
"Hi,- Hinata."
"Sasuke?"
Sasuke menunduk, poni rambutnya menutupi matanya sampai tak terlihat, ia terkulai jatuh tepat di kaki Hinata, Hinata terbelalak kaget, mengapa Sasuke ada disini pikirnya.
"Sasuke?" Hinata meraih tubuh Sasuke yang tergeletak di tanah, segera ia raih pergelangan tangan Sasuke untuk memeriksa denyut nadinya, "Masih hidup." Ujarnya kembali, Hinata benar-benar bingung saat ini, apa yang harus ia lakukan sekarang, Sasuke dan dirinya berada di tengah hutan yang menyeramkan dengan keadaan Sasuke yang pingsan di hadapanya, darah yang keluar dari dahi Sasuke juga tak berhenti mengalir, terus keluar, berbeda dengan darah yang keluar dari dahinya yang kini yang telah mengering, tangan Hinata bergetar, ia benar-benar kebingungan dengan apa yang harus di lakukannya saat ini,
..
Hiashi menunduk lemas saat melihat Hinata tak ada diantara daftar orang yang telah selamat dan di temukan, Hinata menghilang, dan Gaara tengah di temukan oleh tim penyelamat, dia berada di rumah sakit dalam masa perawatan, lima belas orang menghilang, empat puluh enam orang meninggal dan dua puluh sembilan orang selamat berikut luka-luka, Hiashi menyesal, ia telah mencuekan Hinata dan bahkan tak perhatian lagi terhadapnya, Hanabi kini juga membencinya, ia menganggap Hiashi yang menyebabkan semua ini terjadi, Neji hanya bisa diam, tak dapat yang banyak yang ia lakukan selain berdoa, dan Shion, jangan ditanya, dia tertawa dibalik tangis palsunya, dia sangat menganggap bahwa keberuntungan berada di pihaknya.
…
"Sasuke"Hinataberjalan mendekat ke arah Sasuke ketika pria onyx itu mulai siuman, perlahan ia bangun menjadi posisi duduk dan Hinata membantunya, Sasuke menatap Hinata, satu tangannya memegangi pipinya, "Hinata, Gomene" lirihnya. Sadar ketika Sasuke melihat wajahnya yang tengah rusak, ia menepis tangan Sasuke dan berbalik, menyembunyikan wajahnya, Sasuke diam, ia menatap punggung Hinata sendu.
…
"Tidak mungkin, seharusnya disini." Gumamnya pada diri sendiri ketika menyadari benda miliknya yang selalu ia simpan rapih di laci meja kamarnya itu hilang, ia melempari semua isi yang ada di dalamnya, "Tch." Neji membuka lemari, ia terus mencari notebook nya yang hilang, "kemana." Pikirnya, memijit keningnya, dan menjatuhkan tubuhnya pada ranjang, "apa mungkin, ini pertanda bahwa Hinata,- aarrgghhhh…"
…
"Jangan mendekat." Sasuke menghentikan langkahnya, "aku, tak pantas untuk dilihat." Lirih Hinata kembali. Sasuke terdiam, "Bukan saatnya untuk membahas itu, seperti apapun keadaanmu sekarang, kita harus bisa selamat dari sini." Sasuke membalikan tubuh Hinata, wajah manis di hadapannya itu menunduk, dengan poni yang menutupi matanya, Sasuke menyentuh dagu Hinata, menginginkan irish lavender itu menatapnya.
"Ada aku disini, kita akan mencari jalan keluar bersama."
"Sasuke."lirihnya kembali, Sasuke memegang kedua pipi Hinata, mendekatkan wajah keduanya, "all is well, ok?" Hinata tersenyum, dan itu membuat Sasuke cukup lega, ia menggenggam tangan Hinata, keduanya kembali menelusuri hutan yang gelap, mencari sebuah petunjuk untuk kembali.
..
.
..
.
TBC
Gomene, jika chap ini pendek dan tidak memuaskan, file nya sudah ada sebenarnya, tapi hilang, untuk itu saya ngetik lagi dan hanya segini yang saya ingat, semoga chap depan bisa lebih panjang, gomene lama publish, arigatou mina review nya,
