This Chapter Dedicated to: yxnghua yang suka sama yang panjang panjang. Maaf ku tak bisa jadi apa yang kamu inginkan :(
.
.
.
2 minggu terakhir, Taehyung dan Jungkook benar-benar tak terpisahkan. Mereka akan bergiliran menginap di rumah masing-masing, sekamar, lalu tidur dengan saling memeluk hingga pagi, menolak melepaskan. Keluarga mereka tidak ada yang berani melayangkan protes karena kalau dipisahkan mereka akan melamun seperti orang patah hati.
Sore ini adalah sore terakhir mereka menatap senja bersama, senja kesukaan Jungkook. Dan sama seperti sore-sore sebelumnya, Taehyung lebih sibuk memandangi wajah Jungkook yang selalu terlihat lebih menawan dari senja manapun.
Jungkook berbaring di tanah berbantalkan lengan Taehyung yang liat. Ia tidak menangis, malah tersenyum begitu manis. "Tae-hyung..."
"Ya, cintaku?" Taehyung merunduk, membuat wajahnya hanya beberapa senti dari wajah tersenyum Jungkook. Deru nafas hangat yang membelai pipi Jungkook membuatnya memejamkan mata otomatis.
Mendekat…
lebih dekat…
dan–
"Jungkook-hyung!"
–gagal.
Dua anak kecil yang tiba-tiba berlari ke arah mereka membuat Jungkook buru-buru beringsut menjauh dari Taehyung, berusaha mengamankan mata polos mereka dari adegan barusan.
Jungkook mengernyit bingung ketika duo upin-ipin adik Taehyung menghambur ke pelukannya sambil merengek. "Ada apa?"
"Hyung benar-benar mau ke Amerika? Amerika itu jauh, nanti hyung capek."
"Iya, kukira Taetae-hyung hanya berbohong."
"Iya, Taetae-hyung kan tukang bohong!"
"Atau jangan-jangan hyung mau pergi karena kesana karena Taetae-hyung tukang bohong?"
"Jangan, hyung! Nanti Taetae-hyung menangis…"
"Iya, waktu Jungkook-hyung wisata dengan satu sekolah ke Busan saja Taetae-hyung menangis. Katanya kangen. Taetae-hyung alay kayak appa!"
Jungkook terbahak mendengar adik-adik Taehyung yang sibuk bersahutan, bertanya ini itu tapi dijawab sendiri. Ia memang tidak suka anak kecil, tapi pengecualian untuk dua adik kecil Taehyung karena mereka super imut dan setampan kakaknya.
"Iya, hyung pergi besok. Kalian temani Taetae-hyung main ya selama hyung tidak ada?"
Dua pasang mata itu membulat, memasang wajah memelas lengkap dengan bibir tertekuk ke bawah. Menggemaskan kuadrat. "Tidak mau! Nanti yang membantu kami mengusili Taetae-hyung siapa?"
"Um, appa?"
"Tidak mau, appa lebih asyik diusili."
Jungkook memutar otak, sudah nyaris kehabisan ide untuk membujuk mereka. "Nanti kalau ke Amerika hyung bisa bawa pulang mainan Iron Man untuk kalian, seperti punya Taetae-hyung. Kalian memangnya tidak mau?"
"Tidak mau!"
Jebal, Jungkook sudah tidak punya ide.
"Maunya Hulk!"
Lah, anak ini.
"Iya, hyung belikan dua Hulk untuk kalian? Bagaimana?"
Dua anak itu berpandangan, melempar isyarat dari tatapan masing-masing, lalu mengangguk kecil. "Kalau begitu sih oke."
"Aku juga oke."
Jungkook tertawa ketika mereka menghambur memeluk lehernya dengan begitu bersemangat. Mereka lalu berlarian masuk sambil melambaikan tangan-tangan kecil mereka yang montok.
"Hati-hati ya, hyung!"
"Jangan lupa Hulk-nya!"
"Kami sayang Jungkook hyung!"
"Tapi Taetae-hyung lebih sayang!"
Super imut.
"Kalian akrab sekali." Taehyung menginterupsi Jungkook yang masih memandang dua adiknya dengan senyuman kecil. "Aku terlupakan."
Jungkook menatapnya datar, "Tidak suka?"
"Suka sekali." Taehyung terkekeh, "Tiga anak kecil favoritku begitu akrab, memangnya ada yang lebih baik daripada itu?"
Jungkook tersenyum, menyamankan diri di lengan Taehyung yang masih berbaring. "Nanti aku juga mau punya yang seperti mereka. Wajahnya harus duplikatmu."
"Tapi satu saja ya, sayang?" Taehyung menghela nafas lelah, seolah seluruh beban nasional ditumpuk di pundaknya yang kurus. "Aku tidak bisa membayangkan harus mengurus manusia yang seperti mereka. Lagi."
"Mau dua!"
Taehyung tersenyum geli. "Iya, iya. Nanti kita bicarakan lagi saat kau pulang."
Mendengar kata-kata sensitif itu membuat Jungkook buru-buru mendongak menatap Taehyung yang berbaring lebih tinggi. "Kau akan menungguku pulang kan?"
"Tentu saja. Appa bahkan sudah berjanji akan membelikanmu tiket pesawat kalau kau tidak pulang di musim liburan. Katanya, ia mau mau saja menukar 3 setan kecil hasil kekhilafannya dan istri tercinta, dengan Jeon Jungkook yang super imut."
Taehyung merunduk, menghujani Jungkook dengan ciuman-ciuman memabukkan yang membuatnya melayang. "Lagipula, 6 bulan itu cepat sekali kok. Dan aku akan menghubungimu lewat video call jutaan kali dalam sehari. Tidak akan ada yang berbeda."
"Janji ya?"
"Iya, sayang. Semuanya akan baik-baik saja…"
It's such a wonderful lie
I know that nothing's
gonna be alright
Nothing at all
TBC
Ku lama lama kok jadi cinta sama bapaknya Taehyung ya :( Masa khilaf mpe tiga kali, om?
Btw, ku tercengang pas baca ulang chap kemarin. Itu berantakannya bikin nangis :') Sumpah narasinya amburadul. Kemaren emang aku males edit, tapi nggak lagi lagi deh males edit kalo hasilnya kek begitu :') Maafin yaaa
Btw lagi, ku mulai kehabisan orang buat ditaruh di part dedicated to nihh, tunjukkan dirimu nak...
Makasih buat yang udah baca ya! Kalian masih warbyasah!
.
.
XOXO, Kim Ara
