.

"Bagaimana perasaanmu setelah pindah kesini, Karin? Apakah kau merasa betah?"

Denting peralatan makan yang saling beradu terhenti. Semua orang memandang heran ke arah si penanya. Klan Uzumaki memang tidak sesaklek bangsawan Hyuuga yang tidak mengizinkan percakapan santai saat bersantap makan. Namun juga tidak semoderat Uchiha yang mengabaikan tetek bengek tata karma semacam itu. Bisa dibilang, Uzumaki adalah kulturasi sempurna antara budaya kuno dari timur yang penuh aturan dan budaya moderat yang terpengaruh barat.

Meskipun begitu, percakapan santai saat santap makan seperti ini sangat jarang terjadi. Kalaupun ada, percakapan itu sebagian besar hanya berkisar seputar dunia bisnis dan politik. Bukan topik kekeluargaan bertanya kabar seperti sekarang ini. Terlebih orang yang memulai percakapan 'santai' tersebut adalah Uzumaki Heiji itu sendiri. Kepala keluarga Uzumaki. Mantan Perdana Mentari Jepang termuda dalam sejarah. Bahkan dalam kalangan keluarga besar Uzumaki, Heiji sangat disegeni.

Orang lain mungkin merasa sebuah kehormatan diajak bicara oleh Heiji terlebih dahulu seperti ini saat bersantap makan. Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk subjek yang ditanya. Karin tetap terlihat tidak acuh dan melanjutkan makannya dengan tenang.

Heiji menghela napas. Sepertinya Karin masih belum memaafkan dirinya sepenuhnya. Memang apa yang kau harapkan? Heiji tertawa miris dalam hati. Dia tidak akan berharap banyak. Karin mau mengakuinya sebagai ayah dan tinggal di mansion Uzumaki sudah termasuk kemajuan. Dia tidak mungkin memaksakan keberuntungannya untuk meminta lebih dari ini. Dosanya kepada Karin dan Hikari sudah terlalu besar.

Heiji pertama kali bertemu ibu Karin saat dia masih menjabat menjadi aisten Menteri. Kejeniusan Heiji dan background keluarga Uzumaki yang kuat dalam perpolitikan Jepang mengambil andil yang besar bagi karirnya untuk melejit cepat. Maka tidak heran sejak umur 22 tahun Heiji sudah menjadi staf ahli kementrian. Dan tidak butuh waktu lama untuk Heiji terus menapaki tangga yang lebih tinggi. Hanya satu batu sandungan bagi karir cemerlang pria Uzumaki tersebut. Jatuh cinta dengan siswi SMA.

Siapa sangka Heiji yang terlampau serius bisa jatuh pada pesona seorang gadis SMA lugu seperti Izuki Hikari. Tentu saja tidak ada kesempatan untuk Hikari yang masih lugu untuk lepas dari jeratan pria dewasa matang penuh kharisma seperti Heiji. Namun cinta terlalu utopis bagi dunia orang dewasa seperti Heiji. Heiji sadar, cepat atau lambat dia harus memilih antara ambisi atau mimpinya. Dia harus melepas Hikari. Hikari yang belum matang dan berasal dari keluarga biasa tidak akan mampu menopangnya untuk meraih puncak tertinggi.

Ah, tapi mimpi bersama Hikari terlalu indah untuk dilepaskan begitu cepat. Bahkan ketika Heiji sadar tidak akan ada akhir bahagia untuk mereka berdua, Heiji tetap keras kepala membuat Hikari disisinya. Setidaknya sampai dia bosan. Heiji pikir jika dia sudah cukup bersenang – senang dia akan dengan mudah melepaskannya. Dan semua akan kembali seperti semula. Mereka berdua akan kembali ke tempat masing – masing. Kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling kenal.

Namun takdir mempunyai cara sendiri untuk memperlihatkan eksistensinya. Perhitungan Heiji meleset. Dia terlanjur menitipkan benih Uzumaki di perut Hikari sebelum mencampakkan gadis malang itu.

Lalu semua itu salah siapa? Salah dirinya? Salah Hikari yang tidak memberitahunya dari awal? Memilih menanggung semuanya sendiri. Sampai akhirnya Heiji mengetahui sendiri bertahun – tahun kemudian. Disaat semua sudah terlambat. Disaat dia tidak akan bisa mundur lagi.

"Lumayan." Jawaban singkat Karin membawa Heiji kembali ke Bumi.

"Dasar tak tahu sopan santun! Didikan keluarga memang tidak bisa berbohong!" sindir Naruto.

"Naruto!" tegur Uzumaki Kushina, ibu Naruto sekaligus adik kandung Heiji.

Naruto mencibir tanpa suara. Tidak berani membalas sang ibu secara terang – terangan. Julukan Akai Chishio no Habanero yang melekat pada nama Kushina bukan tanpa Naruto sebagai putra tunggal bandel pasangan Kushina Minato tentunya sudah sangat kenyang mengalaminya.

"Aku telah membicarakannya dengan Fugaku tentang pertunangan kalian. Kami bersepakat bahwa dua bulan lagi adalah waktu yang tepat."

Denting peralatan makan Karin seketika terhenti. Dia membeku ditempat.

"Seperti permintaanmu. Aku akan menjadikan bocah Uchiha itu milikmu segera."

.


.

Illogically Loving

.

Disclaimer :

Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei ever after

Starring:Uzumaki Karin, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

.

Warning: AU, Typos, SasuKarin Slight SasuSaku

.

"Inget lho yaa, ini main pairing-nya SasukeKarin jadi yang berkeberatan... baca dulu aja gak apaapa. Hahaha :D Easy dude, this is jus fanfiction :D

.


.

"Aku telah membicarakannya dengan Fugaku. Tentang pertunangan kalian. Kami bersepakat bahwa dua bulan lagi adalah waktu yang tepat."

Pisau makan Karin berhenti mengiris hidangan di piringnya. Satu menit penuh Karin hanya terdiam membeku. Kalimat Heiji seakan menyerap semua kesadarannya.

"Seperti permintaanmu. Aku akan menjadikan bocah Uchiha itu milikmu segera," lanjut Heiji tak menyadari kebekuan putrinya.

Karin tahu harusnya dia bahagia mendengar kabar ini. Bukankah ini impiannya dari dulu? Tapi kenapa hatinya terasa kebas?

Apakah karena perlakuan Sasuke kepadanya kemarin malam? Tidak. Harusnya dia sudah mengetahui konsekuensinya. Dia tahu Sasuke membencinya. Penolakan dan perlakuan kasar tentu hal terbaik yang bisa dia dapatkan dari Sasuke.

Karin sudah mengetahuinya sedari awal, saat dia memulai kesepakatan ini dengan ayahnya—lidah Karin masih seringkali kaku untuk menyebut pria itusebagai ayahnya—dia hanya akan mendapatkan raga Sasuke. Tidak dengan hatinya. Tapi Karin bisa apa. Sebut dia jalang-obsesif-gila. Karin tidak peduli. Jika dengan menurunkan harga dirinya dia bisa mendapatkan Sasuke, Karin akan melakukannya.

"Aku tak keberatan. Kau lebih tahu kapan waktu yang tepat."

"Kau masih tidak bisa memanggilnya 'ayah'? Kheh, lalu untuk apa kau kemari?" sindir Naruto mencoba menyulut emosi Karin.

Namun Karin mengabaikannya. Oh, Naruto jadi semakin kesal sendiri. Tidak hanya Karin. Heiji dan ibunya pun mengabaikan dirinya. Dia semakin tidak menyukai sepupu tiba - tibanya itu. Kehadiran penyihir merah itu membuatnya tak dianggap di rumah ini.

"Ah, satu lagi. Aku memang sudah mempersiapkan semuanya. Hanya saja kupikir gaun dan cincin perlu kau sendiri yang menyiapkannya. Ini akan menjadi salah satu hari paling istimewa dalam hidupmu."

"Baiklah. Tapi aku perlu sopir. Kau tahu kan, aku belum mendapatkan SIM ku," ujar Karin.

"Ku pikir kau akan pergi dengan Sasuke. Tenang saja aku sudah berbicara dengan Fugaku. Jadi, kau tidak usah khawatir—"

"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku. Aku pasti juga akan menghubungi Sasuke tentu. Dia pasti bersedia menjemputku. Tapi, well,aku harus pergi ke beberapa tempat juga, kan? Kampus, caffe tempat ku part time, dan sebagainya. Ah, tapi kau tak perlu repot – repot menyediakan sopir pribadi untukku," potong Karin saat Heiji membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. "Aku mempunyai ide yang lebih baik."

Seringai Karin entah kenapa membuat perasaan Naruto tidak enak.

"Aku kira, Naruto tidak akan keberatan mengantar-jemput aku selagi aku berusaha mendapatkan SIM-ku."

"Apa?!"

Itu adalah teriakan Naruto.

"Wah, itu ide yang bagus!" seru Kushina kegirangan. "Ini bisa jadi kesempatan yang bagus agar Karin bisa akrab dengan sepupunya. Aku yakin Naruto tidak akan keberatan. Iya kan, boy?" Kushina mengatakannya dengan tersenyum. Namun Naruto bisa melihat aura intimidasi menekannya begitu kuat.

"Kau tidak keberatan kan, boy?" ulang Kushina dengan senyum semakin lebar.

"I,iya.. Te-tentu saja, dengan senang hati, Kachan-ku sayang.. A-ahaha," jawab Naruto tertawa gugup.

Chikuso! Penyihir-Merah-sialan! Naruto melirik Karin ganas.

Itu, adalah peringatan kecil karena kau sudah berani melawanku kemarin malam, Naruto! Balas Karin tersenyum sinis.

Tentu saja percakapan itu hanya terjadi dalam benak Naruto dan Karin saja.

.


.

"Aku ingin cincin yang ini!"

"Boleh melihat cincin yang ini?"

Timing aneh macam apa ini? Hinata meringis dalam hati. Sedangkan Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Antara ingin menertawai atau mengumpati keadaan ini.

"Are, apa ini? Kebetulan yang terlalu manis. Kau tidak sengaja mengikuti mantan tunanganmu kesini kan, Sakura-san?

"Izuki Karin…" kesiap Sakura terkejut.

Karin dan Sakura saling melemparkan tatapan penuh makna. Takdir sepertinya senang sekali memainkan peranannya dengan cara yang tak terduga. Jika bukan atas tangan sang takdir, sebut saja ini super kebetulan atau serendipity yang membuat Karin dan Sakura di detik yang bersamaan sama – sama menunjuk cincin yang sama. Belum lagi Sasuke yang berada di samping Karin dan Itachi di sisi Sakura membuat suasana semakin awkward. Sampai – sampai Hinata dan Naruto yang berdiri tak jauh dari mereka ikut salah tingkah.

"Sasuke…" ujar Sakura mengernyitkan dahinya. "Apa yang kau lakukan disini bersama Karin?"

"Apa – apaan ini? Jadi, Sakura belum mengetahuinya, Itachi-niisan? Sasuke?" Karin memasang ekspresi terkejut saat tidak ada jawaban dari Sasuke dan Itachi. "Mari kita mengulang perkenalan kita lagi, Sakura-san. Hubungan kita tidak begitu baik di masa lalu. Itu tidak benar, bukan? Karena sebentar lagi kita akan sama – sama menjadi menantu Uchiha."

Menantu? Sakura menatap Karin tak mengerti.

"Hajimemashite, Uzumaki Karin. Tunangan Uchiha Sasuke." Karin mengulurkan salam perkenalan dengan amat manis. Pura – pura tak menyadari ekspresi terperangah yang ditampilkan Sakura.

"Kau—bertunangan dengan Karin, Sasuke-kun? Dan—Uzumaki?" tanya Sakura menatap mata Sasuke dalam.

"…"

"Nee, nee, karena kita semua berkumpul disini bagaimana jika kita makan siang bersama? Dan kau bisa mengambil cincin tadi, Sakura-san!" uajr Karin masih dengan nada manis meski uluran tangannya tak bersambut. Sebaliknya Karin malah terkekeh geli. "Kau boleh mengambil semuanya, Sakura. Hanya satu yang tidak akan kubiarkan kau mengambilnya dariku."

.


.

"Apa – apaan itu tadi? Apakah kau sengaja melakukannya?" tuntut Sasuke marah.

Mereka berempat: Sasuke, Karin, Naruto dan Hinata sedang dalam perjalanan pulang setelah makan siang bersama Sakura dan Itachi.

"Apa maksudmu, Sasuke-kun?" tanya Karin tak mengerti. Dia yang sebelumnya sedang bersenandung menikmati pemandangan dari balik jendela mobil menoleh menatap Sasuke.

"Hentikan senyum bodohmu. Itu hanya membuatku semakin muak."

Karin menghentikan senyumnya seketika.

"Kau sengaja memamerkan kemesraan kita—tidak, tepatnya—kemesraan yang kau paksakan—di depan Sakura untuk membuatnya sakit hatikan? Kau ingin membuatnya tak nyaman kan? Kau memang berhati busuk, Karin."

Sasuke tidak tahan lagi memendam sumpah serapahnya. Dia sudah cukup diam dan bersabar semenjak acara makan siang dadakan mereka berenam yang super canggung. Hanya Karin yang terlihat menikmati acara makan siang tersebut. Dia malah sengaja bermanja – manja dengan Sasuke. Karin tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Sasuke. Namun Sasuke cukup kooperatif dengan menerima suapan dan sharing makanan dari dirinya. Walaupun Karin mendapati sesekali mata Sasuke melirik ke arah Sakura.

"Apakah salah aku bermanja dengan tunanganku sendiri?"

"Omong kosong. Aku tahu kau melakukan semua itu tadi hanya untuk membuat Sakura menderita."

"Apa? Apakah aku tak salah dengar? Kau sedang mengkhawatirkan mantan tunangan yang telah mencampakkanmu itu?" Suara Karin mulai meninggi. "Disini aku yang jadi tunanganmu sekarang, Sasuke! Aku! Kita yang akan bertunangan dua bulan lagi! Kau harusnya lebih mengkhawatirkan aku! Kau harusnya bertanya bagaimana persiapan pertunangan kita? Apakah aku sudah mendapatkan gaunku? Apakah semua sudah beres? Apakah aku baik – baik saja? Kau harusnya bertanya tentang aku, Sasuke!"

Sasuke membanting setir ke kanan menepikan mobilnya kasar.

"Turun," ujar Sasuke dingin.

Karin menatap Sasuke tak percaya.

"Kau—kau benar – benar akan menurunkanku disini?"

"Kenapa? Kau tidak berpikir aku takut untuk menurunkanmu di pinggir jalan kan?"

Karin memejamkan matanya erat – erat. Kentara sekali sedang menahan amarah. Tangannya tidak berhenti bergetar bahkan setelah dia keluar sambil membanting pintu mobil kuat – kuat. Kenyataan bahwa Sasuke tidak repot – repot menunggu satu kedipan mata untuk segera melajukan mobilnyanya setelah Karin keluar. Karin benar – benar merasa seperti pecundang sekarang.

Tiba – tiba Karin tertawa. Benar – benar tertawa terpingkal – pingkal. Dia tidak mempedulikan pandangan orang – orang yang lewat sedang menatapnya aneh. Karin tak peduli dia tetap saja tertawa dengan keras. Ia harus tertawa dengan keras supaya dia tidak bisa membedakan apakah airmata yang mengalir ini karena rasa sakit atau karena dia terlalu keras tertawa.

.


.

"Kau benar – benar menurunkannya begitu saja, Sasuke?"

Kali ini pertanyaan itu keluar dari Naruto yang duduk di kursi belakang. Dia dan Hinata sedari tadi tidak berani membuka suara saat perdebatan Sasuke dan Karin terjadi. Hanya melihat semua terjadi. Gamang mau melakukan apa untuk menenangkan mereka berdua.

"Kau baru saja melihat apa yang kulakukan, bukan?" jawab Sasuke.

"Yang benar saja, Sasuke? Aku baru tahu ternyata kau se-gentlement ini. Kalau begitu turunkan aku juga!"

Sasuke tidak menunjukkan tanda – tanda bahwa dia mendengarkan ucapan Hinata.

"Mati." Mata Naruto tiba – tiba berubah horor. "Aku benar – benar akan mati ditangan ibuku sendiri kali ini! Dia akan mencincangku karena membiarkan Karin diturunkan di pinggir jalan!" erang Naruto frustasi.

"Jangan membohongi hatimu sendiri Sasuke," ujar Hinata penuh makna, sepenuhnya mengabaikan ratapan Naruto disebelahnya. "Kau sendiri yang paling tahu arti Karin di hatimu sudah tidak lagi sama seperti dulu. Apakah kau benar – benar tak masalah menurunkan Karin begitu saja seperti tadi?"

Sasuke tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Hinata sebenarnya. Karin tetaplah Karin. Memangnya apa yang bisa berubah dari itu? Sasuke akui sepertinya dia sudah keterlaluan. Tidak biasanya Sasuke berlaku kasar terhadap wanita. Salahkan saja Karin yang menyulut emosinya terlebih dahulu. Sasuke tidak akan kaget bila setelah ini ayahnya akan memarahinya habis – habisan karena telah berani besikap kurang ajar terhadap putri mantan perdana menteri Jepang. Ia yakin Karin akan melaporkan perbuatannya barusan kepada ayahnya kan? Sepertinya tidak hanya Naruto yang akan mati ditangan orang tua sendiri.

Perkiraan Sasuke tersebut anehnya tidak terjadi. Tidak ada amuk murka dari Fugaku sesampainya dia di rumah. Bahkan setelah selang beberapa hari pun hidup Sasuke damai tanpa mendapat teguran apapun. Hari ini saat Ayahnya memanggilnya ke ruang kerjanya, Sasuke sudah hampir yakin amukan itu akan segera dimulai.

"Otousan memanggilku?"

"Undang Karin untuk menghadiri jamuan makan malam keluarga kita besok malam. Pastikan dia hadir. Kalau perlu jemput dia," ujar Fugaku tanpa basa – basi seperti biasa. "Dia akan menjadi bagian keluarga kita dua bulan lagi. Sudah sewajarnya dia mulai membaur dengan kerabat – kerabat kita yang lain."

"Baiklah," jawab Sasuke singkat langsung meng-iya-kan.

Sesuatu yang sangat langka bungsu Uchiha yang paling pemberontak itu langsung mengamini perintah sang kepala keluarga tanpa bantahan seperti biasanya. Fugaku sepertinya juga berpendapat demikian karena kemudian dia memandang putranya itu lama tanpa berkata apapun. Ada ekpresi menunggu dan menyelidik diwajahnya. Mungkin menunggu kalimat pemberontakan dari sang putra?

"Kenapa Tousan memandangku dengan tatapan seperti itu?" Dahi Sasuke mengkernyit menyadari tatapan tidak biasa ayahnya.

"Tidak." Fugaku menghela napas panjang. "Kau boleh pergi. Jangan lupa perlakukan Karin dengan baik."

Sasuke mendengus mendengar petuah Fugaku yang selalu dikumandangkan kepadanya setiap hari. Sasuke heran apa ayahnya itu tidak bosan menyampaikan petuah yang sama kepadanya terus menerus. Ini tidak berarti dia akan berubah memperlakukan Karin dengan baik sebagaimana seorang tunangan seharusnya jika diingatkan terus menerus kan?. Ingat bahwa Sasuke adalah tipe pemberontak? Mungkin malah dia akan berakhir sengaja melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan ayahnya jika terus didesak.

Memperlakukan Karin dengan baik? Sejujurnya dia sudah sangat berusaha untuk itu. Dan tidak mencekik leher Karin adalah usaha terbaik yang dapat dia tawarkan. Percayalah, hal itu membutuhkan usaha maksimal dari Sasuke. Terlebih beberapa hari terakhir ini. Mood Sasuke semakin buruk saat mengingat wanita merah itu. Ada perasaan frustasi yang tidak bisa Sasuke jelaskan datangnya dari mana.

Keadaan damai setelah dia menurunkan Karin begitu saja di pinggir jalan tidak juga membuatnya perasaan Sasuke semakin baik. Sasuke malah merasa ini seperti keadaan tenang sebelum badai. Terlebih tidak hanya pembalasan Karin yang tidak juga datang, wanita sialan itu justru tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

Wanita sialan itu tidak lagi muncul tiba – tiba dihadapannya untuk merecokinya tentang persiapan pesta pertunangan seperti sebelumnya. Bahkan Sasuke juga tidak bertemu dengan wanita itu dikampus dan di caffe tempat wanita itu part time. Bukan berarti Sasuke sedang mencari wanita itu. Dia hanya tak sengaja melewati caffe itu dan memutuskan untuk mampir sebentar demi kebutuhan asupan caffeine yang mendesak. Jadi, perintah ayahnya untuk mengundang Karin ke jamuan makan keluarga besar Uchiha adalah kesempatan baginya untuk menuntut penjelasan dari Karin. Itulah alasannya dia mengiyakan begitu saja perintah sang ayah tanpa bantahan seperti biasa.

Tunggu?

Menuntut penjelasan?

Penjelasan untuk apa? Untuk Karin yang seperti menghilang beberapa hari ini? Tapi kan dia tidak peduli. Atau untuk perasaannya yang kacau beberapa hari terakhir? Tapi itu tidak ada hubungannya dengan Karin, bukan? Sudahlah. Itu tidak penting. Dia harus menyeret Karin ke hadapannya bagaimanapun caranya. Itulah yang terpenting sekarang.

.


.

Itachi baru saja selesai menyematkan bross di dada kanannya sebagai penunjang penampilannya malam ini ketika sebuah ketukan dan suara yang familier terdengar.

"Masuk saja, Kaasan. Pintunya tidak dikunci."

Mikoto membuka pintu kamar Itachi dan tersenyum menatap bayangan anaknya dari pantulan cermin. Itachi membalas senyum ibunya dan berbalik.

"Ah, anakku memang sangat tampan. Kau benar – benar sangat mirip ayahmu ketika masih muda dulu. Membuat ibu jadi tersipu malu!" ujar Mikoto sambil memperbaiki simpul dasi kupu – kupu yang sudah rapi.

Itachi bersedekap berpura – pura kesal.

"Mana mungkin, Kaasan! Tentu saja aku lebih tampan daripada Tousan!"

Mikoto tertawa mendengar penuturan putranya. Tangannya masih sibuk merapikan dasi sang putra yang sebenarnya tak perlu dirapikan lagi. Itachi menghentikan kegiatan ibunya itu dengan meraih telapak tangan sang ibu untuk digenggam.

"Maafkan Itachi, Okaasan. Maaf," lirih Itachi kemudian mencium tangan ibundanya takzim penuh bakti.

Mikoto menghela napas panjang.

"Ibu tak akan berbohong dengan mengatakan Ibu tidak kecewa dengan perbuatanmu Itachi."

Itachi menatap ibunya sendu. Sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan sang ibu.

"Aku tahu, Kaasan. Aku sadar telah melakukan dosa tak termaafkan. Terlebih kepada Sasuke. Adik yang paling kusayangi."

"Mengapa kau dan Sakura tidak mengatakannya sedari awal? Mengapa kalian menyembunyikannya? Jangan mengatakan kalau kau melakukan itu demi Sasuke," potong Mikoto saat Itachi hendak membuka mulut. "Yang kalian lakukan malah semakin menyakiti Sasuke. Jika saja kalian memilih jujur tentu kekacauan ini tidak akan terjadi. Kau tidak perlu pergi dari sisi Kaasan lagi. Dan Sasuke—Sasuke tidak perlu terpaksa menerima perjodohan yang tidak dia sukai itu!"

Itachi tersenyum mendengar nada menggerutu di akhir kalimat ibunya.

"Apakah Kaasan tidak menyukai gadis itu? Dia gadis yang tidak baik untuk Sasuke?"

"Tidak, tidak. Kaasan bukannya tidak menyukai gadis itu. Karin gadis yang baik. Dia juga berasal dari keluarga yang terpandang. Hanya saja Sasuke terlihat sangat tertekan menerima perjodohan ini. Kaasan tidak mau anak Kaasan menderita." Ujar Mikoto sedih.

"Apakah Kaasan sudah mencoba berbicara dengan Tousan mengenai hal ini?"

Mikoto mendengus kesal.

"Pria tua kaku itu lebih mementingkan reputasi keluarga Uchiha daripada kebahagiaan putranya!" cibir Mikoto.

Itachi terkekeh. Bukannya barusan ibunya memuji betapa tampannya sang ayah? Cepat sekali pujian itu berubah jadi 'pria-tua-kaku'.

"Ibu sendiri yang paling tahu bahwa itu tidak benar."

Menghela napas lelah, mau tidak mau Mikoto mengakui hal itu.

"Benar. Meski dari luar ayahmu itu tampak kejam dan terkesan menjual Sasuke demi kepentingan bisnis tapi sebenarnya dia yang paling khawatir dengan masalah kalian. Dia bahkan mencemaskan perasaan Sasuke dalam menghadapi perjamuan nanti. Kau tahu kan? Perjamuan ini sebenarnya dihelat sebagai acara pertunanganmu dengan Sakura. Ayahmu khawatir Sasuke masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Well, walaupun aku juga curiga Fugaku hanya khawatir jika Sasuke mulai bikin onar di acara nanti!"

"Haha, tidak tidak. Aku yakin Ayah lebih mencemaskan perasaan Sasuke. Ayah hanya—ibu tahu kan—tsundere akut," kekeh Itachi yang segera menular ke Mikoto.

"Oh ya, bagaimana? Ada kemajuan? Kau sudah berbaikan dengan Sasuke?"

"Dia masih mengabaikanku." Ringis Itachi. "Tapi setidaknya dia sudah tidak lagi bernafsu ingin menonjokku setiap kami bertemu. "

Beberapa saat kemudian Itachi dan Mikoto turun untuk menyapa para tamu undangan. Tidak banyak yang diundang. Hanya kerabat dan teman dekat keluarga Uchiha. Seperti dikatakan ibunya tadi, sebenarnya ini adalah acara yang dibuat untuk mengumumkan pertunangannya dengan Sakura. Bukan pesta yang mewah dengan yang dihujani media seperti biasa. Mereka memilih mengadakan perjamuan makan malam private yang hanya dihadiri oleh kerabat, kolega, dan teman terdekat Uchiha.

"Bukankah itu putri Uzumaki-sama yang lama hilang itu? Yang kabarnya baru saja ditemukan?"

"Iya, iya! Aku juga melihatnya di berita! Tak salah lagi! Wah, jadi benar Uchiha Sasuke sekarang bertunangan dengan putri Uzumaki? Jadi, rumor itu tidak benar? Rumor yang katanya Sakura berselingkuh dengan Itachi dan memutuskan pertunangannya dengan Sasuke?"

"Hemm, sepertinya tidak benar. Lihat! Mereka sangat romantis!"

"Atau jangan – jangan Sasuke yang telah berselingkuh dengan Putri Uzumaki?"

"Haish! Benarkah? Wah, jadi..."

Itachi sedang menyalami rekan – rekan kuliahnya ketika keributan menyeruak mengalihkan perhatian semua orang. Suara denging mengisi bisik – bisik segera meledak mengisi ruangan. Obrolan semua orang menggosipkan scene tidak biasa di hadapan mereka.

Uchiha Sasuke dengan langkah mantap mengindahkan semua tatapan mata membelah hall utama mansion Uchiha. Bukan karena penampilan Sasuke yang menawan yang membuat semua orang terperangah. Sesuatu ditangan Sasuke yang membuat bisik – bisik itu mengeras.

Oh, bukan sesuatu. Seseorang lebih tepatnya.

Uzumaki Karin.

Uchiha Sasuke sedang menggendong Uzumaki Karin dengan kedua tangannya ala bridal style.

Itachi menggaruk sebelah alisnya yang tidak gatal.

Bukannya Sasuke membenci Uzumaki Karin? Sebenarnya apa yang terjadi disini?

.


bersambung...


.

A/N:

Errr... sudah lama tidak bertemu? #ditabokpembaca

saya sampai tidak berani mintamaaf sama kalian karena terlalu lama update :( maaf

terimakasih yang kemarin sudah me-review dan menyemangati untuk segera up kelanjutannya...

sampai direview LF-san 2 kali... hehehe...

saya harap masih ada yang menunggu, ini udah lebih banyak dari biasanya lhoo wordnya... hihi...

semoga yang selanjutnya bisa lebih cepat lagi update-nya...

semoga, soalnya chap depan ada sedikit action-nya (SPOILER), dan saya gak bisa nulis action sebenarnya... hahaha...

See you next chap :D

.

.

.

hikarishe

22.10.17

.