BE MINE
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member
Previous
"Kau..," balas Taehyung kemudian tertawa pelan. "Sudahlah."
"Kim Taehyung." Nada suara Jungkook terdengar serius, Taehyung menghentikan tawanya. "Aku serius. Jawabanmu apa?"
"Entahlah Jungkook, aku masih nyaman dengan jalinan pertemanan."
"Ah begitu rupanya—baiklah." Balas Jungkook dengan nada sarat akan kekecewaan. "Tapi Taehyung aku bukan tipe orang yang sabar."
"Aku akan berusaha memberikan jawaban secepatnya. Aku yakin kau tidak puas dengan jawabanku."
"Ya." Balas Jungkook tegas. "Jawabanmu seperti menyuruhku untuk mencari artinya sendiri. Kau tidak jelas mengatakan iya atau tidak."
"Jangan marah."
Jungkook menghembuskan napas kasar, ia kesal dan tanpa sadar nada suaranya meninggi. Dan jika Taehyung membeli penilaian buruk lagi tentang dirinya. Jungkook akan menyerah untuk mendapatkan cinta Taehyung.
"Aku harus pergi sekarang Taehyung, sampai jumpa."
Taehyung membuka bibirnya namun belum sempat mengatakan apa-apa, Jungkook pergi begitu saja dalam langkah cepat panjang-panjang. "Dia benar-benar kesal padaku," gumam Taehyung pelan.
"Park Jimin." Menghubungi Jimin adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiran Jungkook.
"Jungkook." Suara Jimin terdengar dalam nada malas.
"Kau ada waktu hari ini? Pukul delapan malam, aku butuh teman."
"Jungkook aku ada…,"
"Tidak ada bantahan."
"Aku yakin Taehyung membuatmu kesal."
"Datang saja sesuai jam yang aku tentukan." Putus Jungkook.
"Tentu Tuan Menyebalkan Jeon Jungkook."
BAB DELAPAN
"Aku sudah merendahkan harga diriku dan menyatakan cinta. Dan kau tahu apa yang dia katakan?!" teriak Jungkook berapi-api sementara Jimin yang duduk di hadapannya hanya diam dan menjadi pendengar yang baik. "Aku akan berusaha memberikan jawaban secepatnya. Aku yakin kau tidak puas dengan jawabanku."
Jimin nyaris tertawa melihat Jungkook menirukan nada bicara Taehyung, namun ia urung untuk tertawa karena nyawanya masih penting dan dia ingin menikahi Suga suatu hari nanti. "Kurasa itu wajar…," Jimin menggantung kalimatnya melihat tatapan kejam Jungkook. "Ahh maksudku setelah apa yang terjadi di masa lalu. Sebut saja trauma cinta." Jimin tersenyum canggung di akhir kalimat.
"Aku harus apa Jimin?!" Jungkook kembali berteriak, sangat nyaring tepat di telinga kanan Jimin. Dan jangan salahkan Jimin jika terkadang dia memiliki pemikiran untuk membuang sahabatnya ke laut.
"Bersabarlah Jungkook."
"Harus bersabar seperti apa lagi?!" kali ini suara Jungkook terdengar seperti rengekan.
Menggaruk tengkuknya, Jimin mencoba berpikir. "Sedikit lagi aku yakin Taehyung akan luluh." Ucap Jimin berusaha meyakinkan Jungkook.
"Ahhh….," Jungkook mendesah putus asa, ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa dan menaikkan kedua kakinya ke atas paha Jimin tanpa permisi. "Kurasa aku akan menyerah soal Taehyung."
"Benarkah?" Jimin menatap Jungkook malas. "Kau bukan tipe orang yang menyerah dengan keinginan. Sekarang kau bisa mengatakan menyerah, tapi dalam hitungan detik kau pasti berubah pikiran. Aku yakin itu."
"Carikan aku kekasih."
"Sudahlah." Jimin membalas malas kemudian memilih untuk menikmati sodanya. "Jungkook aku harus pulang."
"Tidak menginap?"
"Tidak, aku tidak mau meninggalkan ibuku sendirian di rumah."
"Ayahmu?"
"Malam ini ayahku lembur."
"Hmm pergilah."
Jimin mengangguk pelan, Jungkook mengangkat kakinya dari atas paha Jimin membiarkan sahabatnya berdiri dan bersiap pergi. "Jim."
"Ya?"
"Kurasa ayahmu punya kekasih."
Jimin tertawa pelan kemudian selang beberapa detik dia mengangguk. "Semua orang sudah tahu masalah itu sejak lama."
"Kenapa ibumu tetap bertahan?"
"Tidak ada tradisi bercerai dalam keluarga kami."
Jungkook tersenyum miring. "Tidak bercerai bukan berarti penuh cinta."
"Sudah jangan dibahas lagi, tradisi tua terkadang menyebalkan. Ibu sudah lama berhenti mengharapkan ayahku"
"Pulanglah jangan mulai bercerita sedih di hadapanku. Hidupku sudah cukup berat."
Jimin memutar kedua bola matanya malas, memukul lengan kanan Jungkook cukup keras membiarkan Jungkook mengumpatinya sebelum dia berlari pergi. Setelah Jimin pergi, Jungkook benar-benar kesepian sekarang. Tidak ada suara lain di dalam rumah kecuali suara tarikan dan hembusan napas milik Jungkook sendiri.
Posisi Jungkook tidak berubah, masih berbaring di atas sofa. Dia sedikit mengangkat kepalanya saat melihat sesuatu yang aneh dari luar kaca jendela rumahnya. "Hujan." Gumam Jungkook tidak antusias kemudian iapun kembali berbaring dengan malas di atas sofa.
.
.
.
Jungkook menggeram malas ketika telepon di dalam rumahnya berdering nyaring, diiringi keluhan, Jungkook mengangkat tubuhnya. Berjalan dengan sedikit menyeret kedua kakinya menghampiri pesawat telepon. "Halo."
"Tuan Jeon Jungkook, saya Hayul, satpam di kompleks tempat tinggal Anda."
"Hmm?" Jungkook bergumam, ia tahu itu tidak sopan tapi saat ini ia sangat malas untuk sekedar menjawab dengan jawaban yang pantas.
"Ada teman Anda di pos satpam, bisakah Anda menjemputnya? Dia kelihatan sangat kedinginan. Mobilnya bermasalah dan hujan terlalu lebat sekarang, orang dari bengkel tidak bisa datang cepat."
"Teman?" kening Jungkook berkerut dalam sembari mengingat-ingat siapa temannya. "Park Jimin?!" panik Jungkook.
"Bukan Tuan, Kim Taehyung."
Tanpa membalas apapun Jungkook langsung menutup panggilannya, ia berlari tergesa menuju pintu. Mengambil payung dari keranjang rotan, dan jaket dari gantungan. Perasaan Jungkook campur aduk antara senang bisa bertemu dengan Taehyung juga cemas memikirkan keadaan Taehyung sekarang.
Jungkook ingin berlari lebih cepat ketika melihat Taehyung berdiri di depan pos satpam berjalan mondar-mandir sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya.
"Taehyung?!"
"Jungkook, maaf aku datang tiba-tiba. Aku tahu tempat tinggalmu dari internet lalu mencarinya lewat GPS, mobilku protes, SeokJin hyung dan Namjoon hyung tidak bisa dihubungi kurasa mereka sangat sibuk dengan comeback Suga hyung." Racau Taehyung menjelaskan setiap detik bagaimana dirinya bisa berakhir dengan berkeliaran di sekitar kompleks tempat tinggal seorang Jeon Jungkook.
Jungkook menurunkan payung di tangannya kemudian menyelimuti tubuh Taehyung dengan jaket yang tadi dia bawa. "Ayo, di sini semakin dingin."
"Te—terimakasih." Balas Taehyung terbata, dia terkejut dengan sikap Jungkook.
"Paman terimakasih!" pekik Jungkook pada si satpam penjaga sebelum mengajak Taehyung pergi bersamanya, berlindung dari guyuran hujan dengan satu payung.
"Maaf aku merepotkanmu."
"Bukankah setiap manusia harus saling menolong."
Taehyung tersenyum tipis. "Aku pernah mendengar kalimat itu sebelumnya."
Jawaban Taehyung membuat Jungkook tertawa dan tanpa sadar tangan kiri Jungkook melingkari tubuh Taehyung membawanya untuk mendekat. Taehyung menundukan wajah, ia harusnya menolak perlakuan Jungkook. Tapi, sekarang dia cukup kedinginan. Baiklah, itu hanya alasan. Taehyung merasa sangat nyaman sekarang berdekatan dengan Jungkook.
Rumah Jungkook. Tidak ada yang istimewa dari tempat tinggal Jeon Jungkook, standar tempat tinggal para kelas atas. Taehyung nyaris mengernyitkan dahinya melihat betapa luasnya tempat tinggal Jungkook dan di dalam benar-benar sepi. "Sebaiknya kau mengganti pakaian basahmu."
"Pakaianku tidak basah, aku akan baik-baik saja dengan pakaian ini." Balas Taehyung.
"Hmmm…, aku akan membuat minuman panas untukmu."
"Terimakasih." Balas Taehyung sementara dirinya terlihat sibuk mengamati setiap detail ruangan dimana dirinya berada sekarang.
"Sangat sepi kan?"
"Ah!" Taehyung tersentak. "Ya." Sambungnya.
"Kita ke dapur." Ajakan Jungkook dibalas anggukan pelan oleh Taehyung.
Taehyung menarik salah satu kursi makan kemudian mendudukinya. "Kau suka Spanyol?"
"Apa?" Jungkook sedang menyeduh air dia menoleh ke belakang untuk menatap Taehyung.
"Spanyol, kau menyukai Spanyol? Dapurmu bergaya Spanyol." Ulang Taehyung.
"Tidak juga, aku datang sudah seperti ini."
"Kau tidak ikut merancang rumah tempat tinggalmu?"
Jungkook menggeleng pelan lantas kembali dengan kesibukannya. "Mungkin hanya Seokjin hyung yang terlalu berlebihan soal dapur," gumam Taehyung.
"Apa?"
"Tidak ada." Jawab Taehyung membalas pertanyaan Jungkook.
Tangan kanan Taehyung terangkat memainkan kelopak Krisan putih di dalam vas bening. Hanya ada satu batang Krisan berukuran sedang di dalam vas. Tidak lama Jungkook duduk di hadapannya, menyodorkan cangkir bening berisi teh. Warna keemasan teh terlihat menyegarkan ditambah aroma wangi jahe. Cukup menggoda Taehyung untuk mencicipinya.
"Hati-hati masih panas." Peringat Jungkook. "Dan aku belum menambahkan gula." Ucapan Jungkook yang terakhir membuat Taehyung urung menikmati tehnya. Jungkook tertawa pelan. "Kau suka manis?" Taenyung mengangguk pelan. Jungkook menyodorkan keramik berbentuk tabung tempat gula disimpan.
"Setelah ini apa kau bisa mengantarku ke depan? Aku akan pulang dengan taksi. Aku titip mobilku di kompleks tempat tinggalmu. Kurasa setelah hujan cukup reda orang bengkel akan segera tiba."
"Aku bisa mengantarmu pulang." Wajah Taehyung terlihat sedang berpikir keras. "Jangan memasukkan banyak gula." Ucap Jungkook sambil menahan tangan kanan Taehyung yang sedang menyendok gula. "Kau tidak merepotkan aku. Aku menawarkan bantuan, dan kau—tidak perlu memikirkan balasannya padaku."
"Kau sangat baik Jungkook, terimakasih."
"Sama-sama." Jungkook tersenyum untuk beberapa detik kemudian keduanya tak bersuara lagi. Tenang menikmati teh masing-masing, sesekali Jungkook akan mencuri pandang kepada Taehyung ketika laki-laki manis di hadapannya itu sedang lengah, begitupun sebaliknya. "Kebetulan kau di sini, aku butuh sedikit bantuanmu."
"Bantuan?"
Jungkook mengangguk pelan. "Aku menulis lagu dan rencananya ingin aku berikan pada Jimin."
"Jimin ingin menjadi penyanyi?"
"Tidak." Balas Jungkook kemudian tertawa pelan. "Jimin—dia ingin menjadi komposer."
"Ah!" Taehyung terkejut dengan kalimat Jungkook.
"Mengejutkan?"
"Ya."
"Kau akan lebih terkejut jika mengetahui Jimin sudah menulis cukup banyak lagu dan memberikannya pada para idol, lagu-lagu itu terkenal."
"Benarkah?! Apa judulnya? Siapa yang menyanyikannya?"
"Maaf aku tidak bisa memberitahumu. Jimin tidak ingin dikenal, dia menggunakan nama samaran."
"Hmm…, lalu lagumu kenapa diberikan pada Jimin?"
"Hanya ingin tahu pendapatnya. Kurasa jika kau berpendapat cukup baik, Jimin tidak akan menghinaku dengan kejam."
Sekarang giliran Taehyung yang tertawa mendengar kalimat Jungkook. "Aku tidak percaya Jimin sekejam itu, maksudku wajahnya tidak cocok untuk bersikap kejam."
"Jangan tertipu dengan wajahnya kurasa dia sangat cocok dengan Suga."
"Suga hyung tidak kejam!" protes Taehyung.
"Ah, maaf. Suga kakak kesayanganmu."
"Apa salahnya?" gerutu Taehyung dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Kami memang dekat."
"Sudahlah, sekarang dengarkan laguku." Taehyung mengangguk pelan, Jungkook mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja makan. "Kau siap?"
"Mulai saja."
Jungkook menyentuh layar ponsel. Lagu yang ingin dia tunjukkan pada Taehyungpun mulai terdengar.
My blood sweat and tears, my last dance take it all
My blood sweat and tears, my cold breath take it all
My blood sweat and tears
My blood sweet and tears and my blood my mind and soul
Know well that I am yours this is a spell that will punish me
Peaches and cream sweeter than sweet
Chocolate cheeks and chocolate wings But your wings are the devil's Before your sweetness there is bitter bitter
Kiss me it doesn't matter if it hurts, make it tighter
Lagu yang Jungkook perdengarkan pada Taehyung, benar-benar indah. Jenis lagu yang menarik perhatian seseorang dalam sekali dengar, bukankah musik yang bagus seperti itu? membuatmu jatuh cinta pada perkenalan pertama. Taehyung tidak ingin berpikir banyak, namun mengapa Jungkook tak sekalipun mengalihkan pandangan dari dirinya sejak awal lagu.
Kiss me on the lips, this is a secret between the two of us
I am addicted to prison that is you
I cannot worship anyone else beside you
I knowingly drank from the poisoned chalice
Jungkook tiba-tiba berdiri dan menghampiri Taehyung yang masih duduk, Taehyung mengangkat kepalanya menatap Jungkook, bingung. "Kill me softly close my eyes with your caress I can't reject it anyway I can't even escape anymore. You are too sweet because you are to sweet." Jungkook menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga kanan Taehyung. "My blood sweet and tears, my blood sweet and tears."
Taehyung membeku untuk beberapa detik sebelum kesadaran menghantamnya, dan dia mendorong dada Jungkook cukup keras. "I—itu lagu yang bagus kurasa Jimin tidak akan berkata kejam mengenai lagu itu sekarang aku harus pergi selamat malam terimakasih teh panasnya." Ucap Taehyung terbata dan nyaris tanpa jeda. Taehyung lantas berdiri dan kakinya tak sengaja mendorong kursi yang dia duduki cukup keras.
BRAK!
Suara kursi kayu yang terjungkal ke belakang dan menghantam lantai marmer nyaring terdengar.
"Ah!" Jungkook tersentak, mengambil dua langkah mundur menjauhi Taehyung. "Ba—baiklah, aku akan mengantarmu pulang."
"Bukakan saja pintu pagarmu, aku naik taksi."
Jungkook hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab Taehyung, ia masih bingung dengan tindakannya sendiri beberapa detik yang lalu.
Jungkook berjalan di depan sementara Taehyung beberapa langkah di belakangnya, keduanya terlalu canggung untuk sekedar memulai percakapan sederhana. Bahkan ucapan terimakasih sekarang terasa sangat sulit untuk diucapkan.
Hujan masih turun dengan lebat, Jungkook membuka pagar rumahnya dan Taehyung langsung berlari melewatinya tanpa mengatakan apa-apa, dan Jungkook hanya diam mematung dengan payung di tangan kanannya. Taehyung berlari menuju mobilnya yang mogok, membuka pintu kemudi dengan tergesa, mendorong tubuhnya masuk. Mencoba peruntungan dengan menghubungi Seokjin.
"Tae?! Kau dimana?! Kenapa belum kembali?!"
"Mobilku mogok, bisakah Seokjin hyung menjemputku. Aku berada di dekat rumah Jeon Jungkook, sangat dekat."
"Tentu, tunggu sebentar."
"Haaah…," hembusan napas kasar terdengar dari mulut Taehyung. Meletakkan ponselnya di atas dashboard, membuka sedikit kaca jendela mobil, kemudian menyandarkan kepalanya. Ia masih ingat setiap kata yang Jungkook bisikan padanya dengan jelas. Dia bisa mengingat setiap kata di dalam lagu itu dengan jelas. "I want you a lot a lot…," Taehyung menggumam pelan.
.
.
.
BRAKK!
"Taehyung!"
Taehyung tersentak mendengar teriakkan panik Seokjin, Taehyung yang terlelap nyaris melompat turun dari tempat tidurnya. "Ada apa Hyung?!" Taehyung ikut panik bersama sang kakak. "Apa yang terjadi? Ada masalah apa?" tanya Taehyung terbata, ia kini berdiri di hadapan Seokjin melupakan semua rasa lelah. Dia baru terlelap pukul tiga pagi dan sekarang Seokjin membanting pintu kamarnya pukul enam pagi.
"Lihat!" Seokjin menyodorkan ponselnya pada Taehyung. Kedua bola mata Taehyung membulat sempurna, melihat isi berita di dalam ponsel SeokJin.
MIXTAPE J-Hope dirilis dua jam setelah Suga resmi meluncurkan album kedua miliknya. Salah satu single dari Suga memiliki nada yang nyaris sama dengan mixtape J-Hope, netizen menduga Suga melakukan plagiasi. Menurut keterangan J-Hope dia menulis lirik dan membuat komposisi nadanya, enam bulan sebelum Suga menulis lagu miliknya.
"Hyung ini aku tidak mengerti, Suga hyung tidak mungkin melakukan plagiasi."
"Aku sudah bertanya pada Yoongi dan dia…," Seokjin sedikit ragu mengatakan kebenarannya pada Taehyung. "Hoseok merilis mixtape yang dia buat bersama Yoongi saat mereka masih menjadi pasangan kekasih."
"Ah." Balas Taehyung singkat.
"Tae…," Seokjin berniat memeluk Taehyung karena beranggapan adiknya sedang terpukul sekarang.
"Bagaimana keadaan Yoongi hyung sekarang?" pertanyaan yang menurut Seokjin tak terduga mengingat Taehyung beberapa waktu yang lalu masih meratap tentang Hoseok.
"Yoongi, dia mengurung diri di kamar. Jimin mengirimiku pesan, aku meminta Jimin tetap menemani Yoongi."
"Pasti ini sangat berat bagi Yoongi hyung."
"Kau benar, aku berharap keadaan tidak berubah semakin buruk." Seokjin bergumam lemah, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati seorang Yoongi sekarang. Lagu bagi seorang musisi sangatlah berharga.
"Aku akan membantu semampuku."
"Baiklah Tae, maaf mengganggu tidurmu."
"Tidak masalah Hyung, apa orang bengkel sudah memberi kabar?"
"Sudah, nanti siang biar Namjoon yang mengambil mobilmu. Aku pergi ke kantor sekarang, sarapan ada di atas meja. Jika tidak ingin sarapan masukkan makanannya ke dalam lemari pendingin."
"Ya, Hyung."
Seokjin tersenyum kemudian memeluk Taehyung singkat sebelum melangkah keluar meninggalkan kamar sang adik. "Jeon Jungkook kenapa kau tidak bisa berhenti membuat masalah denganku." Gerutu Taehyung ia berniat mengambil ponselnya untuk menghubungi Jungkook. Ketika ponselnya menyala dan layarnya menunjukkan panggilan masuk dari Jungkook.
"Tae maafkan aku, aku sudah membaca beritanya. Aku sudah bertanya pada Hoseok tentang apa yang terjadi, Hoseok mengeluarkan mixtape tanpa persetujuan agensi maafkan aku Taehyung. Seharusnya aku bisa mencegah hal buruk ini terjadi mengingat Hoseok berada di bawah tanggungjawabku."
Jungkook langsung menerangkan setiap detail, bahkan sebelum Taehyung sempat mengucapkan "halo".
"Sepertinya Hoseok membawa urusan pribadi dalam masalah ini."
"Entahlah."
"Kau punya ide untuk membereskan masalah ini? Aku tidak ingin hal semakin buruk, aku tidak mau melihat Yoongi hyung sedih dan terpuruk."
"Aku sedang membahas tentang konferensi pers dengan Kakek, aku harap Kakek akan setuju dan aku usahakan kurang dari satu minggu konferensi pers akan dilaksanakan."
"Seharusnya Hoseok mencantumkan nama Yoongi hyung jika mixtape itu dibuat bersama-sama."
"Itu juga kesalahanku, maafkan aku Taehyung."
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Sekarang kita pikirkan saja jalan keluar terbaik untuk masalah ini."
"Aku akan berusaha yang terbaik, Yoongi hyung kekasih sahabatku tentu saja aku akan melindunginya juga."
"Terimakasih aku mengandalkanmu, karena pembelaan dari agensi kami tidak akan berarti."
"Baiklah aku pergi dulu, rapat untuk membahas masalah ini akan dimulai."
Taehyung tersentak mendengar kalimat Jungkook. "Sekarang masih pukul enam pagi dan kau sudah berada di kantor untuk rapat?!" pekik Taehyung.
"Ini darurat, aku akan menghubungimu lagi nanti—ah maksudku—jika kau tidak keberatan."
"Tidak masalah, tapi jika aku tidak menjawab berarti aku sedang bekerja."
"Aku tahu. Sampai nanti."
"Ya." Taehyung menatap layar ponselnya cukup lama, sambil berharap keadaan tidak semakin buruk. "Hoseok." Gumam Taehyung, dan sekarang dia ingin sekali memukuli Hoseok sama seperti yang Yoongi lakukan dulu di hadapannya.
.
.
.
Tiga hari kemudian. Semua tidak berjalan dengan baik meski agensi keluarga Kim sudah mencoba memberi penjelasan sementara Jungkook belum juga memutuskan kapan konferensi pers akan dilakukan, agensinya tak menyutui usulnya untuk membantu Min Yoongi.
Serangan haters pada Yoongi semakin tak terbendung dan puncaknya Yoongi pingsan pada salah konferensi pers yang digelar agensi. Tapi, bukannya simpati yang didapat justru cibiran semakin gencar.
"Jungkook kenapa kau tega melakukan ini?"
Dada Jungkook seolah diremas kuat, tatapan kekecewaan dari sahabat satu-satunya, sahabat baiknya, membuat Jungkook ingin bersembunyi dan tak muncul lagi. "Jimin sudah aku katakan semuanya."
"Itu tidak membantu Jungkook. Aku takut sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Yoongi hyung."
Menelan ludah kasar, menatap kedua mata merah Jimin yang sembab dan bengkak, kulit Jimin pucat, dan dia tampak sangat lelah. Jimin menghabiskan waktunya untuk bersama Yoongi, menenangkan kekasihnya. Dan Jungkook tahu Jimin butuh istirahat secepatnya, atau dia akan tumbang juga.
"Aku sudah melakukan yang terbaik."
"Jungkook—Yoongi sangat berharga untukku, aku tidak memiliki siapapun kecuali kau dan Yoongi. Kalian berdua sangat berharga untukku, bisakah kau membantuku Jungkook?"
Jungkook menjilat bibir bawahnya yang tiba-tiba terasa kering. "Kakek tidak setuju menggelar konferensi pers karena semua yang dilakukan tidak akan memperbaiki keadaan. Semuanya sudah di luar kendali, dan Kakek tidak ingin agensi kami terseret."
Jungkook tidak memiliki kekuatan untuk melawan agensi, dia harus mempertimbangkan banyak hal. Namun, ketika Jimin menangis di hadapannya Jungkook langsung memeluk sahabatnya itu dan mengatakan sesuatu. "Aku akan memikirkan cara lain, secepatnya. Malam ini, aku janji. Jalan keluarnya sudah aku temukan." Bisik Jungkook, Jimin tidak membalas dia hanya diam dan pasrah pada rencana Jungkook.
.
.
.
Taehyung membenahi selimut yang membungkus Yoongi. Setelah meminum obatnya, Yoongi tertidur. Taehyung lega melihat Yoongi akhirnya bisa tertidur. Selama tiga hari Yoongi nyaris tidak tidur sama sekali, semua kerja kerasnya dibayar dengan tamparan.
Taehyung memiliki banyak rencana di dalam kepalanya untuk membalas dendam pada Hoseok. Namun, ia masih cukup waras untuk tidak melakukan apa-apa atau nama baik keluarganya menjadi taruhan. Berikutnya, Taehyung memilih untuk duduk di atas sofa sambil menunggu kedatangan Jimin. Pukul sebelas malam, seharusnya Jimin sudah datang sejak dua jam yang lalu.
"Kemana dia?" gumam Taehyung sambil menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. "Apa dia sakit? Kenapa firasatku tidak baik. Ah!" Taehyung tersentak ketika ponselnya bergetar di tengah kesunyian kamar Yoongi. "Jimin?"
"Aku ada di depan pintu."
"Kupikir kau tidak datang malam ini."
"Aku pasti datang."
"Hmm, kau bisa langsung masuk kau tahu kode pintunya kenapa menelponku?"
"Aku datang dengan seseorang."
"Wartawan?!" teriak Taehyung kemudian melirik Yoongi setelah menyadari kesalahannya. Yoongi masih terlelap, Taehyung merasa lega. "Wartawan?" tanya Taehyung dengn nada yang lebih tenang.
"Tentu saja tidak, aku tidak segila itu. Aku masuk sekarang, keluarlah ke ruang keluarga."
"Tentu."
Taehyung berdiri dari sofa melangkah menuju pintu, ia meninggalkan pintu kamar Yoongi terbuka agar dirinya bisa mengawasi Yoongi dari ruang keluarga. Taehyung nyaris berteriak melihat siapa yang datang bersama Jimin, namun, dia masih ingat dengan Yoongi yang belum satu jam terlelap, serta wajah lelah Jimin di hadapannya. Maka ia coba menekan semua amarah yang menyesaki dadanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa?" Taehyung menatap Jungkook sinis. "Konferensi pers, kau berjanji untuk membantu, kebohongan apalagi yang akan kau buat. Agensi kami mencoba meluruskan keadaan tanpa bantuanmu."
"Tae…,"
"Bisakah kau panggil Hoseok ke sini, aku ingin menghajarnya."
"Kakek menentang konferensi pers, itu tidak akan berpengaruh apa-apa, percayalah." Jungkook mencoba bersikap tenang di hadapan Taehyung.
"Katakan saja agensimu tidak ingin terlibat dalam urusan ini, kalian tidak ingin reputasi Hoseok buruk. Kau benar-benar buruk."
"Aku sudah memikirkan jalan keluar lain, hanya sepuluh menit aku menemukan jalan keluar lain ini."
"Lalu? Apa aku harus tersenyum sekarang dan berterimakasih padamu?" kalimat Taehyung penuh dengan amarah tertahan.
"Taehyung, percayalah aku tidak ingin semua ini terjadi. Sungguh, Jimin sahabatku dan Yoongi kekasih sahabatku, aku menyayangi mereka." Taehyung mendengus, mulai jengah dengan kalimat Jungkook yang menurutnya sama sekali tidak penting.
"Baiklah katakan, apa rencanamu. Mungkin tidak terlalu buruk."
Jungkook mengangguk pelan. "Konsep yang nyaris sama jika itu terjadi pada idol satu agensi tidak akan membawa masalah besar." Jungkook mulai menerangkan.
"Tapi Suga hyung dan Hoseok berbeda agensi."
"Akan berbeda jika kita bekerjasama."
Taehyung nyaris tertawa. "Itu ide paling konyol Jungkook, semua orang sudah tahu jika kerjasama perusahaan kita batal."
"Ada cara lain untuk meyakinkan masyarakat jika perusahaan kita bekerjasama."
"Apa?!" pekik Taehyung tidak sabar. "Aku akan melakukan apapun demi Suga hyung, dia sahabat terbaikku, kakakku, aku tidak ingin melihatnya terpuruk."
Jungkook menelan ludah kasar, menggigit pelan bibir bawahnya. Ia bisa merasakan punggungnya basah oleh keringat. Dia tidak pernah segugup ini dalam hidupnya. "Kita menikah." Ucap Jungkook dengan jelas.
TBC
Halo semua terimakasih sudah membaca cerita ini terimakasih review kalian Hastin99, Keikochan, funf, Linkz account, GaemGyu92, AprilKimVTae, vivikim406, bangtaninmylove, Kyunie, yoongiena. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
