Hujan. Sore ini hujan lebat, Yoongi tengah berdiri di depan pintu kaca yang membatasinya dengan balkon kamar. Ia menikmati bagaimana suara hujan dan dinginnya angin yang berhembus. Tangannya tak henti-hentinya mengelus perutnya yang mulai membesar. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri, menikmati bagaimana hujan mengguyur Seoul dengan deras, ia sendiri, benar-benar sendiri di dalam rumah. Dan merasa begitu kesepian.

Jika itu Min Yoongi setahun yang lalu, pasti dalam cuaca seperti ini ia memilih tertidur. Tertidur tanpa memikirkan apapun selain bekerja dan bekerja. Namun untuk saat ini, memejamkan matanya pun begitu sulit. Ia tahu, tak seharusnya ia berpikir keras lagi seperti kemarin. Namun semuanya terlalu berat, terlalu mengumpul dan sulit untuk ia kikis.

Jika dulu Min Yoongi tak akan merasa begitu kesepian seperti ini, Min Yoongi yang sekarang begitu kesepian. Ia rindu, rindu Mamanya, Ayahnya, Chanyeol dan rindu Jimin. Yoongi rindu Jimin. Ia tersenyum miris. Menyedihkan, merindukan seseorang yang bukan miliknya. Menyedihkan merindukan seseorang yang memberikan kepeduliannya hanya karena kasihan, kasihan, bukan karena cinta.

Kakinya bergerak melangkah mendekat ke nakas, mengambil ponselnya. Ponsel yang dulu memiliki wajah ceria Park Jimin, kini tergantikan oleh gambar awan dan bunga. Yoongi tersenyum lalu mendudukan diri di tepi ranjang. Ia memasang earphone dan mulai mencari lagu. Jemarinya terhenti saat ia melihat satu hal yang menarik perhatiannya, seseorang menyanyikan lagu milik Park Suwon – All of My Life.

Yoongi mulai memainkan musiknya, suaranya terdengar amat merdu, lirik pertama langsung membuat air matanya mengalir. Hidupnya begitu sulit, namun suara manis dan seperti malaikat itu membuatnya benar-benar menitikkan air mata. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Ia teringat Jimin. Ia teringat hidupnya. Bahunya bergetar tak kausa menahan sakit di dadanya, namun ia merasa bebannya sedikit terangkat. Hanya karena sebuah lagu dan suara yang begitu manis, bebannya sedikit menghilang.

"Yoongi?" Wajahnya menengadah dan menemukan Jimin tengah menatapnya panik masih dengan jaket saint laurent dan snapback hitam kesukaan Jimin. Jimin segera meletakkan papper bagnya dan menghampiri Yoongi. Memeluk wanita itu dengan cepat. "Kenapa? Kenapa Yoon?"

Awalnya Yoongi sempat terdiam, namun kemudian tangisnya semakin kencang, ia balas memeluk Jimin, menyandarkan kepala pada bahu Jimin. Mencengkram kuat jaket Jimin. Lagu All of My Life masih terputar dengan merdu, ditambah pelukan Jimin untuk pertama kalinya. Min Yoongi benar-benar tak bisa menyembunyikan tangisnya.

.

.

.

"Ma-maafkan aku." Yoongi menunduk, mengamit kedua tangannya, sementara Jimin meletakkan segelas air putih dan duduk di samping Yoongi.

"Kenapa kau justru minta maaf? Seharusnya aku, maafkan aku meninggalkanmu sendirian."

"Tidak. Itu pekerjaanmu, dan kau bilang Seulgi ingin bertemu denganmu." Jimin tersenyum, matanya melirik tangan Yoongi yang saling terpaut, tanpa sadar ia ikut menggenggam tangan Yoongi membawa tangan kurus itu dekat padanya.

"Aku tidak jadi bertemu Seulgi. Ia sangat sibuk. Aku akan mengurangi lagi pekerjaanku." Jeda sebentar "Apa yang menganggumu Yoongi?"Yoongi menggeleng kembali menunduk, matanya memandang bagaimana kini tangannya terbungkus tangan Jimin. "Kau menangis seperti tadi. Aku begitu khawatir kau tahu? Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu menangis." Yoongi kembali menggeleng, mengangkat wajah dan tersenyum meyakinkan.

Jimin melihat bagaimana pipi itu masih basah dan kelopak mata Yoongi yang sedikit bengkak "Yoongi, kumohon, untuk saat ini. Anggap aku suamimu. Biarkan aku mendengar keluh kesahmu. Biarkan aku mengerti bebanmu. Jadikan aku pria yang berguna untukmu kali ini saja. Jadikan aku suami yang pantas untukmu kali ini saja. Aku ingin mengenalmu Yoongi. Aku ingin lebih mengerti tentangmu. Bukan, bukan sebagai orang yang merusakmu, tapi seseorang yang memiliki tanggung jawab terhadapmu. Selama kau dirumah ini, kuharap kau mau membagi apa yang kau rasa padaku. Mari menjadi sahabat satu sama lain. Mungkin memang akan berpisah, tapi untuk saat ini, biarkan aku menjadi seseorang yang penting bagimu..

..selain Chanyeol."

Yoongi bungkam.

Sejujurnya hal itu sama sekali tak pernah Jimin pikirkan, ia sama sekali tak mengerti kenapa ia mengatakan hal semacam itu. Namun saat netranya melihat bagaimana air mata Yoongi mengalir pada pipi putih dan bibirnya yang tipis bergetar, Jimin ingin merengkuhnya. Jimin ingin melindungi Yoongi. Ia ingin menghajar siapapun yang membuat Yoongi menangis, ia ingin melemparkan dirinya pada tembok, karena Jimin tahu, semua air mata Yoongi karena ulahnya.

"A-aku hanya ingin kita tidak secanggung biasanya. Bukankah sudah pernah kubilang untuk membagi bebanmu padaku?" Jemarinya mengelus tangan Yoongi. "Kau tahu? Aku memikirkan hal ini terus menerus. Aku adalah pria yang amat jahat. Aku menghamilimu, menghancurkanmu, menikahimu, namun aku memiliki kekasih. Aku menjadikanmu isteri, namun kau tak kuanggap seorang isteri. Kau mengandung anakku tanpa persetujuanmu, namun aku sama sekali tak merawatmu. Aku menikahimu namun akhirnya aku akan tetap meninggalkanmu. Karena- karena aku lebih mencintai Seulgi. Bukankah itu begitu jahat? Jadi kumohon. Untuk waktu yang tersisa ini, biarkan aku menjalankan kewajibanku. Aku akan bersikap biasa saja di depan Chanyeol maupun Seulgi. Namun aku ingin kau menganggapku suami untuk saat ini."

"Tidak perlu berusaha sekeras itu Jimin." Yoongi melepas tangannya dari genggaman Jimin "Jangan paksakan dirimu. Aku baik-baik saja. Aku menangis karena mendengar seseorang menyanyi. Lalu aku teringat hidupku yang berantakan. Dan kau memelukku, mungkin aku memang sedang butuh seseorang untuk memelukku, jadi aku menangis begitu kencang." Kini tangan Min Yoongi yang menggenggam Jimin.

"Aku tak memaksakan diriku." Jimin meninggikan suaranya.

"Jimin aku tahu aku sangat mengganggu hidupmu." Yoongi menarik dalam-dalam udara di sekitarnya "Apa yang akan kau lakukan jika Seulgi tahu aku menginap di tempatmu?" Jimin terdiam, itu jawaban bagi Yoongi "Aku tak ingin membebanimu terus menerus. Jika kau mau, kita bisa berpisah secepatnya. Anakku akan tetap memiliki marga Park. Kau akan bebas Jimin. Aku akan pergi bersama Chanyeol. Dia sedang mengurus pekerjaannya, entah selesai kapan, tapi mungkin sebelum anak ini lahir. Jika pekerjaannya selesai, aku ingin pergi jauh ke tempat yang tenang Jimin. Aku ingin merawat anakku dengan baik. Dan melihat karirmu terus berada di puncak. Jangan pikirkan kami." Yoongi mengangguk meyakinkan lalu melepas genggamannya, melepas nafas dengan lega. Seperti bebannya kembali terangkat " Beruntung hujan tak di barengi petir." Ujarnya.

Detik saat Min Yoongi tersenyum. Jimin menitikkan air matanya.

Ia bangkit meninggalkan Yoongi dengan diam. Membuat Yoongi membeku, melihat air mata Jimin untuk pertama kalinya dan raut Jimin yang begitu menyanyat hatinya.

.

.

.

Jimin tak keluar dari kamarnya. Bahkan saat jam menunjukkan waktu makan malam. Papper bag berisi seluruh belanja yang Yoongi inginkan. Yoongi ingin kembali memasak untuk mengisi waktunya yang kosong. Makanan sudah siap namun Yoongi masih duduk diam.

Apakah ia salah bicara? Apakah ia membuat Jimin marah?

Memang kalimat mana yang membuat Jimin marah? Apakah karena Yoongi menolak perlakuan Jimin?

Jika kau menjadi Min Yoongi pasti kau tahu alasannya.

Jika Jimin melakukan semua yang Jimin katakan, bukankah mereka akan menjadi pasangan yang manis? bukankah mereka akan memiliki kenangan yang menyenangkan? Dan itu membuat Yoongi akan semakin sulit melupakan Jimin bukan? Ia mencintai Jimin. Itulah salah satu kebodohannya yang membuatnya terus menangis. Jika saja Min Yoongi menjalani ini semua tanpa rasa cinta, mungkin tak akan serumit ini.

Ia, ia hanya tak mau sulit lepas dari Park Jimin.

Jadi tanpa sadar ia mengucapkan hal yang sama sekali tak ia pikirkan. Bahkan ia belum mengiyakan pada Chanyeol. Yoongi, Yoongi hanya mencoba membentengi diri.

Yoongi menatap sendu makanannya yang mulai mendingin. Ia bahkan sudah memotong mangga yang di baluri selai kacang. Namun Jimin sama sekali tak keluar, dan Yoongi belum berani untuk mengetuk pintu kamar Jimin.

Yoongi terus memandangi mangganya, ingin tapi nafsunya hilang. Ia bahkan belum makan. Yoongi mengelus perutnya dengan bibirnya yang bergerak maju. Ia lapar tapi tak ingin makan.

"Yoongi?" Yoongi dengan cepat menoleh dan berdiri dari duduknya.

"Jimin?" Yoongi menelan ludahnya gugup "Jimin marah padaku?"

"Marah?" Yoongi mengangguk, masih dengan mengelus perut dan memajukan bibir .

"Kau marah dan tidak mau keluar untuk makan?"Dan kenapa Jimin menangis? Yoongi ingin menanyakan itu.

Jimin terkekeh, berjalan lalu menarik kursi "Aku tidak marah. Aku baru saja menelpon manajer dan Hoseok Hyung untuk kembali mengurangi jadwalku." Jimin mencoba tersenyum, tangannya terkepal erat di bawah meja "Kau memasak banyak. Ayo makan. Seharusnya kau tak perlu menungguku. Kau harus meminum vitaminmu Yoongi-ah. Ayo duduk." Yoongi tersenyum mengangguk.

"Eits." Jimin mencekal tangan Yoongi di udara. Tepat di atas piring berisi mangga "Makan nasimu dulu Yoongi. Baru makan mangga ini. Dan selai kacang." Jimin mengernyit melihat bagiamana selai kacang lebih banyak dari buah mangganya.

Yoongi mengerucutkan bibir namun tetap mengikuti perintah Jimin "Makanlah. Lalu minum vitaminmu. Aku yang akan mencuci piring. Terimakasih makanannya Min Yoongi." Jimin tersenyum mengusak rambut Yoongi.

.

Jimin memandang kosong langit kamarnya. Suara Yoongi masih terngingang di telinganya. Sebuah tawaran manis yang Yoongi berikan. Sebuah tawaran yang dapat menyelamatkan hidupnya, karirnya dan hubungannya dengan Seulgi. Namun satu hal, ia tak tahu kenapa ia merasa marah dan menangis.

Rasanya ia begitu marah saat Yoongi menolak perhatiannya. Ia begitu marah saat justru Yoongi mengatakan perpisahan. Ia tahu, semua memang akan terjadi. Itulah perjanjian awal mereka. Namun mendengarnya setelah melihat Yoongi menangis dan setelah kalimat panjang Jimin rasanya begitu aneh. Lamunannya terhenti saat ponselnya berdering. Foto Seulgi terpampang sebagai penelepon.

"Malam Jimin"

Jimin tersenyum "Malam Seulgi." Jimin tahu Seulgi juga tengah tersenyum "Kau menelpon malam-malam. Tidak istirahat?"

"Sudah tadi. Aku terbangun dan mengingatmu. Aku merindukanmu Jimin"

"Aku juga. Aku juga ingin memelukmu." Jimin kembali memandang langit kamar.

"Apa yang kau lakukan seharian ini? Maafkan aku kita tidak bisa bertemu"

"Tak banyak yang kulakukan, tidak apa-apa sayang… Seulgi," Nada suara Jimin berubah serius, di sana Seulgi hanya menjawab dengan gumaman "Kapan kiranya mau mengkonfirmasi dan memberitahu seluruh dunia? Aku ingin dunia tahu kau milikku. Aku ingin pria-pria itu berhenti menghubungimu. Aku ingin mereka tahu kau itu memiliki kekasih. Aku sudah memikirkan karirku. Kurasa semua orang akan mengerti."

Seulgi terdiam agak lama, pun Jimin menanti jawaban Seulgi dengan sabar "Jimin," lirihnya "Maafkan aku. Kau tahu kan aku mencintaimu? Seharusnya kau tahu. Cinta tak perlu di pamerkan, kau bintangnya sekarang. Aku tak ingin karirmu hancur. Apalagi aku tengah mencoba menaikkan karirku. Akupun tak ingin merusak pekerjaanmu Jimin. Ini terlalu riskan untuk kita. Kuharap kau mengerti."

"Kalau begitu katakan pada pria yang menelponmu untuk berhentu mengubungimu, katakan kau memiliki kekasih."

"Jimin dengarkan aku. Aku tak menanggapi mereka dengan baik, tapi aku tak bisa melarang mereka, karena mereka juga dapat membantu karirku. Jimin-ah, kurasa kita tidak perlu membicarakan ini lagi. Kau tahu kita saling mencintai. Ini hanyalah masalah waktu."

"Kau tahu bagaimana marahnya aku saat semua orang berbicara tentang bagaimana Joshua berperilaku manis di acara denganmu, memasangkan kalian berdua? Apa kau tahu bagaiamana mereka berbicara tentang Hanbin berciuman denganmu dalam kolaborasi kalian berdua? Tanpa mereka tahu aku adalah kekasihmu. Mereka menanyakan pendapatku tentangmu Seulgi. Mereka menanyakan apakah kau pantas dengan Hanbin. Apa kau tau bagaimana aku ingin menghajar mereka?! Kau tahu bagaiamana aku selalu menolak memiliki adegan intim dengan wanita lain?! Karena aku memikirkanmu!" Jimin benar-benar emosi. Suaranya meninggi, bahkan wajahnya memerah.

"Jimin kita sudah membicarakannya. Ada apa denganmu hari ini? Aku lelah kau justru membuat moodku hancur. Akan kutelepon lagi besok jika kau membaik. Aku mencintaimu Jimin. Jangan lupakan itu."

Seulgi mematikan teleponnya sepihak.

Jimin melempar ponselnya ke bawah bantal. Ia memilih pergi ke dapur dan meminum air dingin, kepalanya terasa begitu panas. Ia marah, pada dirinya sendiri. Merasa begitu egois. Jika mereka tak bisa mengatakannya kepada para fans, setidaknya katakan pada orang-orang sekitar mereka, itu saja yang Jimin harapkan.

Ia menutup kulkas, namun dahinya mengernyit saat melihat pintu kamar Yoongi belum tertutup dan lampunya masih menyala terang. Ia melirik ke jendela, hujan masih mengguyur deras bahkan suara petir menggelegar. Ia tak menyadarinya. Sedikit bersyukur, jika hujan, mungkin suara kerasnya tak akan terdengar oleh Yoongi.

"Yoongi?" Jiming terus mengernyit menemukan Yoongi tengah meringkuk memeluk bantal, wajahnya tenggelam bahkan tak mendengar panggilannya. Dengan langkah lirih dan sedikit melirik pada kaca jendela. "Yoongi, kenapa?" Jimin berusaha menggapai lalu menggoyangkan bahu sempit Yoongi.

"Jimin?" Yoongi bukanlah wanita cengeng, tapi ini kedua kalinya Jimin melihat Yoongi berliangan air mata di hari ini.

"Kenapa hm? Maafkan aku." Jimin mendudukan diri di tepi ranjang.

"Ke-kenapa minta maaf?" Yoongi menaruh bantal yang semula ia dekap, lalu menghapus pelan air matanya.

"Membuatmu menangis?" Jimin tak yakin.

"Ti-tidak tidak." Yoongi kembali mengelap pipinya. Bergerak gugup "Bukan karena siapa-siapa sungguh."

"Lalu?"

"Lalu?" Yoongi menggaruk kepalanya, lalu menunduk. Ia melirik Jimin yang tengah menaikkan kedua alis menanti jawaban Yoongi. "Petir." Cicit Yoongi terus menunduk bibirnya sedikit bergetar.

"Petir?"

"Aku takut petir Jimin " Kepalanya terangkat dan bibirnya melengkung dramatis. Yoongi kembali memejamkan mata saat mendengar suara petir menggelegar. Refleks mencari bantal untuk ia peluk.

Jimin mengulum senyum geli. Tangannya masih menggenggam lengan Yoongi "Kenapa tidak bilang?" Jimin sedikit menggeser badannya "Akan kubuatkan susu hangat yah, setelah itu kau tidur." Jimin beranjak namun dengan cepat Yoongi mencekal tangannya.

"Susu?" Jimin mengangguk "A-aku ingin pasta pedas."

Detik selanjutnya Jimin tertawa "Pasta? Di tengah malam seperti ini?" Yoongi mengangguk, mengerucutkan bibir.

"Dan kau yang memasak." Jimin langsung bungkam.

Sedikit menghela nafas "Baiklah. Mari turun dari ranjangmu dan tunggu aku memasak." Tanpa sadar Jimin menggenggam tangan Yoongi, berjalan beriringan menuju dapur.

.

.

Yoongi terus tersenyum saat melihat punggung Jimin. Jimin terlihat sibuk dengan peralatan dapur. Sedikit terdengar keributan, tapi Yoongi sama sekali tak ingin berdiri membantu Jimin. Dia seratus persen ingin memakan hasil buatan Jimin dengan sesekali menyesap susu cokelatnya.

"Makanlah dengan lahap, kuharap kau tak memikirkan rasanya." Jimin menyerahkan sepiring pasta lalu kembali pergi demi mengambil segelas air putih untuk Yoongi.

"Tak akan." Jawab Yoongi riang.

"Jika takut seperti tadi, bilang saja padaku."

"Kenapa kau belum tidur?" Yoongi mengabaikan kalimat Jimin.

"Belum mengantuk. Makan yang pelan saja Yoongi, aku tak akan meminta." Jimin berusaha tidak tertawa, melihat Yoongi makan seperti itu terlihat begitu menggemaskan. Ia menyadari, berat badan Yoongi pasti naik, lengannya lebih besar dari biasanya.

"Selesai. Terimakasih Jimin." Jimin mengangguk bangga.

"Eh tidak perlu. Besok saja. Aku yang akan mencuci besok." Jimin menghentikan Yoongi saat wanita itu berdiri membawa piring. "Tidurlah. Besok saja." Jimin berusaha meyakinkan. Ia melihat ke jendela, dan hujan masih mengguyur dengan deras "Ti-tidur, dan kutemani." Jimin tak berani memandang mata Yoongi.

"Huh?"

Mereka diam beberapa saat. Dan suasana benar-benar terasa begitu canggung. Yoongi yang menunduk dan menyampirkan rambut pada telingannya dan Jimin yang juga menunduk mencoba menelan ludahnya.

"Kau takut petir kan? Akan kutemani tidur. Aku tak akan macam-macam."

.

Tak ada yang memejamkan mata, bahkan Jimin masih berdiri setelah mengganti baju. Mereka tepat berada di kamar Jimin. "Sudah mau tidur?" Yoongi mengangguk, menjilat bibir lalu menarik selimut hingga dada.

"Aku tak menyangka wanita kuat sepertimu takut petir." Sekuat tenaga Jimin mencoba mencairkan suasana. Menaiki ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut.

Sebenarnya bisa saja. Jimin hanya menemani Yoongi tidur lalu dirinya berpindah kamar. Tapi ia prediksi hujan akan mengguyur hingga pagi, dan tidak menjamin Yoongi tak akan terbangun lagi. Jadi ia memutuskan untuk terus menemani Yoongi.

"Jimin." Matanya meredup sebal. Dan Jimin tertawa. "Apa hujan akan terus turun sampai besok?" Jimin mengangguk tak yakin.

"Mungkin. Lebih baik tidur sekarang, tak baik jika tidur terlalu malam."

"Baik- awh."

"Kenapa!?" Jimin bergerak panik. Ia segera menduduk diri, matanya melotot saat Yoongi memegang perut. Kilas ingatan saat Yoongi pendaharan kembali melintas, dan Jimin mulai merasa ia ketakutan. Ia takut Yoongi kembali mengalami hal yang sulit.

"Jim-"

"Yoongi kenapa?" Jimin merasa tidak sabar, di depannya Min Yoongi tengah membolakan mata dan bibirnya terbuka.

"Perutku, perutku, dia menendang perutku."

"Hah?"

"Jimin, bayiku bergerak." Binar mata yang semula tampak khawatir kini justru begitu bersinar, Yoongi tak dapat menyembunyikan raut bahagianya.

"Bergerak bagaimana?" Nada Jimin masih terasa begitu khawatir.

Tangan Yoongi membawa tangan Jimin untuk menyentuh perutnya. Dia diam tak menjawab pertanyaan Jimin. Dan di detik selanjutnya, Jimin kembali membolakan mata, bersitatap dengan manik Yoongi. "Dia bergerak. Kakinya menendang, aku merasakannya Yoongi." Yoongi mengangguk antusias dengan Jimin yang mulai tersenyum.

"Dia bergerak. Dia benar-benar hidup. Jimin kenapa rasanya aku begitu bahagia?"

Jimin tersenyum. "Akupun. Astaga dia bergerak lagi." Jimin menggeser duduknya, mendekat ke arah Yoongi "Hai Jagoan kecilku di dalam sana. Apakah kau tengah menyapa kami?" Jimin mendekatkan wajah pada perut buncit Yoongi. Dan Yoongi masih begitu antusias menyaksikan Jimin – dan perutnya.

"Dia menendang lagi. Apakah artinya iya?" Mereka saling pandang dengan wajah terlihat bahagia. Dan Jiminpun mengangguk semangat.

"Tidurlah sayang, sudah malam. Biarkan Mamamu juga tertidur oke. Selamat malam jagoanku." Dan kalimat itu tanpa sadar mengalir. Membuat Yoongi yang mendengarnya begitu jelas, membeku. "Kau juga Yoongi. Ayo tidur. Kurasa aku akan memimpikan bayiku." Jimin terasa lepas mengatakannya tanpa memerhatikan raut Yoongi.

Pria bermarga Park itu membawa Yoongi kembali berbaring, menyelimutinya lalu mengelus rambut Yoongi dengan pelan "Tidurlah. Selamat malam."

Dan Min Yoongi harus menahan nafas saat Jimin menggenggam tangannya. Mengisyaratkan bahwa Jimin ada untuknya, dan Yoongi tak perlu takut pada apapun. Ada Jimin di sampingnya.

Tanpa Yoongi tahu, bahwa dada Jimin juga berdebar sama halnya dengannya.

.

.

.

Oke aku bikin beginian. Nyambung tak :v

makasih yang sudah mau ripiuw yaaww :

sopaa Yeaayyy

MinPark Yoongi udah mulai bahagia belum nih?

yunitailfa nyambung ga nih?

electrickissnow - sugarisme - galaxynine masih mau chanyoon ga nih?

Anik0405 aaammmiiinnnn ya Tuhan

alvia jangan marahin Jimin :( kan ga sengaja :( huuwwee maafin Jimin- Park Jimin

misslah - rillakumamon yuhuu