5INS (baca: Five sins) fanfic by Widzilla

.

Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia

Fang 5 sins version, fanfiction idea story by Widzilla

WARNING! Fang x female!Boboiboy alert, OOC alert, AU alert, sins!Fang x elemental!Boboiboy

You've been warned. Don't like, don't read.


Sloth x Air

.

.

.

Wangi semerbak masakan dari dapur membuat keroncongan perut siapapun yang menghirup aromanya. Api membusungkan dada sembari berkacak pinggang membanggakan diri, begitu puas dengan hidangan yang telah ia siapkan di atas piring berjejer dengan rapi dan indahnya serta begitu lezat dilihat.

Api tertawa kecil membayangkan wajah salah satu pecahan Fang yang senantiasa kelaparan. Entah ekspresi bagaimana yang akan ia berikan ketika memakan masakannya. Wajah bahagia dan puas yang Api lihat menyadarkan sang gadis bahwa ia begitu senang menggunakan kekuatannya untuk melakukan sesuatu demi orang yang menghargai hasil karyanya.

Dan Gluttony memperlihatkan wajah yang begitu membuat diri sang gadis berbunga, tersenyum bahagia, dan perasaan yang begitu bergejolak.

Sambil membereskan alat-alat masak yang telah selesai dipakai, Api berpikir mengenai obrolan dirinya dengan para saudarinya mengenai sebuah perasaan. Perasaan yang disebut 'cinta'.

"…'Cinta'… Apa aku cinta pada Gluttony? Tapi' kan aku hanya merasa senang kalau ada yang memakan masakanku… Sebenarnya 'cinta' itu yang bagaimana?" gumam Api pada dirinya sendiri.

"MAKANAAAAAN!"

Api terperanjat mendengar seruan yang amat sangat ia kenal dari arah halaman belakang. Gluttony melongokkan kepala dari balik jendela, muncul dengan ceria melihat Api dengan celemek menutupi setengah tubuh moleknya. Senyuman lebar menyapa pemuda yang terperangah melihat pemandangan manis di dapur.

"Selamat pagi, Gluttony! Bisa tolong panggilkan yang lain untuk sarapan?" sapa Api riang dan dijawab dengan langsung menghilangnya sosok Gluttony dari jendela, berteriak-teriak ramai memanggil semua orang agar bisa cepat sarapan.

"MAKAN WOI! MAKAAAAAN!"

"Heh, satu kampung bisa dengar kamu tahu!" Lust tega melempar sandal hingga tepat mengenai kepala saudaranya yang tak peduli sambil menarik-narik Greed di mana ia terlalu menikmati dirinya menghitung uang daripada memikirkan sarapan. Pandangan Greed dan Gluttnony kini tertuju pada warna merah memar di pipi Lust yang lewat di samping mereka.

"Lust? Pipimu kok merah gitu?"

"Oh, ini sapaan pagi penuh cinta dari Halilintar~" Padahal Greed dan Gluttony bisa melihat jelas itu bekas tamparan.

Probe dan Adu Du juga ikut diseret paksa dari Markas Kotak oleh salah satu Fang dengan nafsu makan besar, membuat keduanya panik menyangka ada sesuatu yang gawat terjadi karena pemuda tersebut berteriak-teriak memanggil sambil menggedor dan akhirnya mendobrak paksa pintu markas.

"MAKAAAAAN WOOOOOI! YOK MAKAN YOOOOOK"

"Astaga, kukira ada sesuatu… ternyata hanya sarapan. Kepalaku masih pusing memikirkan perbaikan senjata untuk mengembalikan diri kalian, nih…!" Adu Du menggeleng kepalanya yang kotak begitu sampai di kedai. Gempa menanggapi sahabatnya dengan tawa kecil.

"Selamat pagi, Adu Du, Probe…"

"Selamat pagi, Gempa! Hmmm, masakan karya Api memang paling terbaik!"

"Oh, tentu saja! Api memang koki handal!"

Pujian dari Probe dan Gluttony membuat gadis berjaket merah tersebut merona bahagia. Api begitu bahagia melihat Gluttony bersemangat ingin menikmati maha karya buah tangannya.

"Ayo, sarapan…!"

Tok Aba tertawa-tawa melihat para Boboiboy dan para Fang saling berinteraksi. Terutama Api dan Gluttony yang terlihat paling akrab dengan keceriaan mereka.

Pride duduk di bangku kedai seperti biasa, tanpa ada keinginan duduk bersama di atas tikar menikmati hidangan. Gempa tak lagi menawarinya makan bersama, ia tahu hanya dengusan yang didapat.

Greed membaca-baca majalah yang membuatnya ingin membeli segala macam barang yang berada di gambar tersebut, membuat Taufan kesal karena ia sama sekali tak menyentuh makanan di piringnya, "Hei! Nanti mubazir! Cepat makan…!" Hanya gumaman cuek yang didapat Taufan sebagai jawaban singkat.

Halilintar duduk begitu jauh dari Lust yang tak menyerah terus menggoda gadis pujaannya meski duduk dengan jarak berjauhan.

Sementara Sloth menikmati dirinya memeluk Air. Gadis tersebut membujuk agar pemuda yang menyandarkan kepalanya terkantuk-kantuk untuk menikmati hidangan pagi terlebih dahulu sebelum kembali tidur.

Seperti biasa, begitu sarapan usai para Boboiboy membantu membereskan piring dan gelas. Air membiarkan Sloth mendengkur membaringkan kepalanya di atas meja dapur sementara gadis tersebut melakukan tugasnya.

"Air, bisa tolong siram tanaman setelah ini?" Gempa melongokkan kepalanya di bibir pintu dapur dengan suara lembut agar tak mengganggu Sloth. Air mengangguk sambil membasuh tangannya usai mencuci piring.

Perlahan, gadis bertopi biru muda tersebut keluar dari dapur menuju halaman. Dari kedua telapak tangannya muncul bola-bola air jernih yang semakin membesar di udara. Air melemparkan bola-bola tersebut ke angkasa, berubah menjadi hujan lokal yang membasahi halaman rumah Tok Aba. Tentu saja, gadis itu sudah menyiapkan payung. Begitu payung terbuka, hujan buatan dari kekuatan Air mulai turun membasahi seluruh halaman, kecuali diri Air yang berada di bawah lindungan payung biru manis.

"Aduh… lelah sekali. Setelah ini mungkin lebih enak beristirahat sebentar…"

Air mengintip dari jendela dapur melihat Sloth masih terlelap menyandarkan kepalanya di atas meja. Tak tega, gadis tersebut meninggalkan Sloth tanpa membangunkannya.

"Lebih baik aku tak mengganggunya. Ia pasti masih lelah karena bekerja keras membangun gudang menjadi kamar kemarin."

Tak lama setelah kepergian Air dari halaman, Sloth terbangun dari tidurnya dan menemukan Air tak ada di dekat bak cuci. Ia agak panik bangkit dan keluar dapur, menemukan Halilintar tengah membersihkan ruang tamu dengan cekatan. Gadis berwajah agak judes tersebut menyadari Sloth tengah mencari sesuatu. Pemuda yang celingukan tak tentu itu saling bertatapan dengan salah satu Boboiboy di ruang tamu. Halilintar sudah bisa menebak apa yang dicari Fang pemalas tersebut.

"Kalau kau mencari Air, dia sedang di halaman."

Tanpa suara Sloth menuju halaman mencari gadis idamannya. Ternyata Air sudah tak ada di situ, membuat sang pemilik kuasa Beruang Bayang semakin kebingungan seperti anak ayam hilang mencari induknya.

"A-Air…?"


Halilintar yang telah selesai mengerjakan pekerjaannya dengan segera membereskan segala peralatan bersih-bersih di gudang. Helaan napas mengiringi sang gadis membersihkan debu di kedua tangannya, "Hh, sekarang ke kedai…"

"Haaaliiiiliiintaaaar~ saaayaaaaang~"

Suara ganjen yang paling dibenci Halilintar justru mendekat membuat bulu kuduk sang gadis merinding. Pemilik suara tersebut datang dengan setangkai mawar merah yang ia gigit di mulut, sembari memasang wajah tampan dan merayu dengan gombalan luar biasa, "Wahai, Halilintarku yang cantik~ Bahkan mawar indah ini iri akan kecantikanmu yang absolut itu, sudikah engkau berkencan denganku?"

"…Ng, bagaimana kalau kau cari perempuan lain yang mau denganmu? Aku tak punya waktu." Halilintar ngeloyor pergi meninggalkan Lust. Sayang pemuda tersebut terlalu gigih dan keras kepala.

"Ow ow, sayang… Aku tak ingin bersama wanita lain kecuali dikau, Halilintar yang telah menyambar hatiku dengan cinta~ Baiklah, aku tak akan memaksa… Setidaknya ijinkan daku untuk bersamamu…"

"TIDAK." Bentakan dingin menghentikan rayuan Lust dan dilanjutkan dengan menghilangnya Halilintar dari pandangan karena ia telah menuju kedai Tok Aba secepat kilat. Lust terkekeh geli melihatnya.

"Eheheh, gadis yang pemalu~"


Di kedai Tok Aba, Gempa tengah membuat pesanan coklat spesial beberapa cangkir dibantu Ochobot. Tok Aba sendiri membuat pesanan lain agar kerja mereka lebih cepat.

"Ochobot, tolong bawakan ini ke meja nomor lima, yang ini ke meja nomor tujuh…"

"Oke!"

Dengan lincah robot bundar berwarna kuning melayang-layang membawa nampan dengan gelas-gelas pesanan pelanggan di atasnya.

Dalam sekejap Halilintar sampai di kedai membuat Gempa heran mendengar gerutuan saudarinya. Ada nama Lust terselip di antara omelan Halilintar, maka Gempa hanya menghela napas panjang memaklumi emosi Hali.

"Halilintar, bisa tolong antarkan kaleng-kaleng coklat ini ke alamat yang tertera di kertas ini? Aku sudah mencatat semua alamat… ada lima rumah yang memesan."

"Baiklah."

Ya. Para gadis dengan kekuatan elemental bekerja memenuhi kewajiban dan tanggung jawab mereka masing-masing, membantu dan mencari nafkah meringankan beban atok tersayang mereka.

Dari kejauhan, Yaya yang menyelempangkan tasnya hendak pergi ke sekolah melihat semua itu dari depan pagar. Ia terbiasa melihat Boboiboy seorang diri yang melakukan segala macam pekerjaan rumah membantu Tok Aba. Ochobot lebih banyak bekerja di kedai dan gadis bertopi terbalik tersebut tak ingin merepotkan para sahabatnya.

Yaya dan Ying serta Gopal terkadang selalu mencari-cari alasan agar setidaknya bisa membantu sahabat mereka meski nyaris setiap saat Boboiboy menolak pertolongan mereka karena khawatir akan merepotkan. Boboiboy begitu banyak membantu, seperti ketika Yaya kebingungan ia harus menjaga rumah atau ke pasar sementara kedua orang tuanya sedang pergi. Boboiboy menawarkan dirinya untuk sekalian berbelanja menerima titipan Yaya. Membantu Ying belajar masak. Bahkan membantu Gopal mencari buku catatannya yang hilang, dan ternyata tertinggal di dalam laci meja di kelas.

Kali ini, karena situasi dan kondisi yang tak memungkinkan Fang dan Boboiboy untuk sekolah, kedua… ah, maksudnya kesepuluh Fang dan Boboiboy terpaksa meninggalkan pelajaran dan tinggal di rumah membantu Tok Aba.

Yaya tersenyum kecil menghampiri Gempa, Halilintar, Ochobot, dan Tok Aba di kedai sebelum berangkat.

"Selamat pagi…!"

"Ah, selamat pagi, Yaya. Mau berangkat sekolah?" Gempa menuang coklat panas pada cangkir dan menyajikannya untuk Yaya, "Ini dariku, gratis."

"Terima kasih, Gempa…! Coklat di kedai ini memang paling enak!" Yaya menyeruput cairan coklat manis nan lezat tersebut sembari duduk di bangku kedai. "Sepertinya kalian sudah sibuk sejak pagi…"

"Begitulah, banyak orang sarapan di sini. Kadang hanya untuk menanyakan keadaan kami. Senang sekali orang-orang memperhatikan kondisi kami saat ini…," ujar Gempa dengan senyum manisnya. Yaya merasa lebih tenang. Tak terjadi hal-hal yang aneh sejauh ini. Boboiboy juga tak terlihat hilang ingatan sama sekali. Dan Tok Aba terlihat begitu senang mendapat banyak bantuan.

Tiba-tiba salah seorang Fang menyandarkan dirinya di meja kedai dengan terengah-engah. Ia nampak panik mencari-cari sesuatu. Gempa dan Yaya menyadari Fang yang menghampiri kedai tersebut adalah si pemalas.

"Ada apa, Sloth? Kau kelihatan bingung…"

Hanya napas yang terengah-engah menjawab pertanyaan Yaya dan Gempa. Ia terlihat begitu lelah. Tak lama Api muncul dengan sebuah kotak makan di tangannya sambil menari riang menimang-nimang kotak berisi donat lobak merah, "Pagiii! Kalian lihat Gluttony!?"

"Eh, emm… Tidak, maaf…"

Api menunduk kecewa sambil mengerucutkan bibir mendengar jawaban Yaya dan Gempa. Ia menyadari Fang yang nampak kebingungan di sampingnya tengah mondar-mandir mencari-cari sesuatu.

"Hai, Sloth! Kau mencari apa?"

Sloth nampak terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan Api. Tapi gadis bertopi terangkat tersebut dapat menebak dengan cepat. "Ah, kau pasti mencari Air! Barusan aku lihat dia di dekat taman…!"

Telinga Sloth menegak dan bergegas menuju arah yang ditunjuk Api meninggalkan kedai.

"Kenapa dia tak menjawab pertanyaan kita sama sekali, sih?" Yaya menggerutu kecil sambil menyeruput secangkir coklatnya.

"Dia terlalu malas mengeluarkan suara kalau bukan pada orang yang ia kehendaki untuk berbicara."

Yaya dan Gempa menoleh menemukan Pride yang duduk di samping kedua gadis tersebut. ia hanya diam dengan sebuah buku di tangan dan matanya menatap lurus pada tulisan-tulisan dalam buku yang dipegangnya.

Yaya mendesah, "Hhh, semakin aneh saja kejadian yang harus kita alami ini… Ah! Aku harus berangkat sekarang…! Aku pergi dulu, Gempa!" Bergegas gadis berjilbab tersebut menghabiskan coklat dalam cangkirnya. Gempa membalas lambaian dan salam Yaya sembari menuang coklat panas pada cangkir lain.

Trik…

Suara denting keramik diletakkan membuat Pride melirik, mendapati secangkir coklat panas nikmat di sampingnya. Gempa tersenyum kecil meninggalkan Pride tanpa berkata apapun dan kembali menyibukkan diri mencuci gelas bekas minum Yaya tadi.

Pemuda dengan wajah terangkat itu hanya memandangi punggung gadis bertopi terbalik di kedai. Sedikit ragu ia menyentuh gagang cangkir dan mengangkatnya mendekati bibir. Suara seruput terdengar pelan di telinga Gempa. Gadis itu hanya diam sambil meneruskan pekerjaannya tanpa ingin mengganggu pemuda yang masih tenggelam pada bukunya sembari menikmati coklat panas buatan gadis pelayan kedai.

Suara cicit burung dan semilir angin terdengar di antara ramainyanya pagi di kedai. Ochobot sibuk melayani pelanggan terbang hilir mudik membawakan pesanan mereka. Sementara Tok Aba baru kembali dari rumah mengambil persediaan gula dan susu. Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut masing-masing remaja yang berada di kedai tersebut.

Gempa dan Pride saling menghargai keberadaan masing-masing. Tak ada keinginan untuk mengganggu satu sama lain. Tak ada yang bisa mendorong mereka untuk berkomunikasi satu sama lain. Keduanya merasa bahwa mereka tak akan cocok satu sama lain. Maka keduanya berusaha menjaga jarak dan tak membuat komunikasi sama sekali.


Kembali pada Sloth yang sudah nyaris kehilangan tenaga. Ia berjalan gontai, nyaris menyerah mencari gadis pujaannya. Kini ia bersandar pada pohon di dekat taman, menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ada suara lain yang mengiringi helaan napas panjang pemuda berkacamata tersebut. Sloth berusaha memasang telinganya untuk mendengar lebih jelas dan mengikuti arah sumber suara tersebut… yang ternyata adalah Air yang tertidur di atas bola air raksasa yang melayang-layang di bawah pohon.

Sloth kembali menghela napas panjang dengan penuh kelegaan. Ia berjalan mendekati putri tidur yang nampak lelah setelah bekerja tadi.

Begitu damai dan tenang terbaring di atas gumpalan air sembari memeluk bantal yang begitu empuk. Kini giliran Sloth yang tak tega membangunkan gadis tersebut. Ia hanya diam memperhatikan sambil duduk di bawah pohon dekat situ. Dalam hitungan menit mata Sloth mulai memberat tak sanggup dilawan. Suasana damai taman begitu mendukung dirinya melayang menuju alam mimpi.

Dengkuran kecil akhirnya terdengar dari seorang pangeran yang kelelahan mencari-cari sang putri tidur.

Tak lama sang putri terbangun perlahan dari pembaringannya, menemukan pangeran pujaan tertidur di bawah pohon. "Sloth…? Kenapa ia di sini? Apa jangan-jangan ia mencariku…?"

Gumpalan bola air berubah menjadi butir-butir embun membasahi dedaunan di sekitarnya. Air berjalan perlahan tanpa melepas bantal dalam pelukannya mendekati Sloth. Begitu nyaman dan tenang dirasakannya ketika ia duduk di samping pemuda pemalas yang tengah mendengkur damai tersebut.

Tanpa terbangun dan tanpa sadar, lengan Sloth melingkar di leher dan pinggang gadis yang kini di sampingnya. Namun belaian lembut di pipi sang pemuda membuatnya membuka mata perlahan dan menemukan bola mata biru jernih bagai warna samudra. Lembut memandangnya.

"Ah, maaf… Apa aku membangunkanmu?"

Sloth tersenyum kecil, "Aku tak keberatan kau bangunkan… Selama senyummu adalah yang kulihat pertama kali ketika membuka mata."

Air merona kecil sambil tersenyum mendengar kata-kata Sloth yang bernada begitu tenang bagai air mengalir damai. Dada bidang dengan pelukan hangat Sloth kini menjadi pembaringan kesukaan Air.

"Sloth, aku senang sekali… Aku mungkin egois, tapi… Jujur saja aku memang takut ketika tahu Fang berpecah lima. Tapi dengan bisa bertemu denganmu seperti ini aku begitu bahagia…"

Sang pemuda tersenyum lebih lebar dan mengeratkan pelukannya, "Aku juga… Aku senang sekali bisa memeluk dirimu seorang seperti ini. Berbaring dan saling memandang… Seandainya bisa, aku ingin bisa berbaring selamanya bersamamu seperti ini."

"Maaf, tapi itu tak bisa…"

Fang dengan sifat pemalas tersebut kaget mendengar pernyataan Air yang tiba-tiba. Namun Boboiboy dengan sifat santai dalam pelukannya hanya tersenyum kecil sambil mencolek hidung pemuda yang memeluknya.

"Aku harus membantu saudari-saudariku mengurus rumah… Karena hanya aku yang bisa mengendalikan air untuk mencuci agar lebih cepat."

Sloth menghela napas sambil memutar matanya mendengar candaan kecil sang gadis. Air terkekeh kecil dan kembali membaringkan kepalanya pada dada Sloth, menghirup aroma sabun cuci dan parfum maskulin yang samar-samar dari jaket yang dikenakan Sloth.

Dari balik gelas kacamata, tatapan sayu memandangi gadis yang kini menutup matanya dalam pelukan sang pemuda.

Sloth tak ingin mengganggu Air yang terkantuk-kantuk.

Perlahan sebuah ingatan dalam benak Sloth muncul, membuatnya berusaha mengingat-ingat kenangan yang nampak bagai tertutupi kabut.

Kenangan yang membuatnya merasa dejavu saat bersama dengan Air yang ia peluk.

Kenangan yang nampaknya terasa manis, hangat, damai, dan indah di benaknya.

"Fang…"

Suara Air memanggil…

Tidak… Itu bukan 'Air' yang ada di dalam pelukannya. Dan yang dipanggil bukan diri 'Sloth'

"Boboiboy…"

Ya. Sekarang Sloth ingat.

Kenangan dirinya sebagai Fang dan diri Air sebagai Boboiboy.

Keduanya selalu berjalan bersama, bergandengan menuju halaman belakang sekolah yang rimbun dikelilingi pepohonan lebat. Sebuah pohon paling rindang menjadi tempat keduanya saling berpelukan dan menikmati damai semilir angin beserta gemerisik dedaunan yang diiringi cicit burung. Mengistirahatkan diri mereka dari lelahnya kegiatan sebagai pelajar dan pahlawan yang melindungi bumi.

Fang yang selalu memeluk gadis kesayangannya, membiarkan Boboiboy membaringkan kepala hingga tertidur pulas pada dada bidang kekasihnya.

Jemari Fang menyentuh wajah sang putri tidur. Menyisir lembut rambut-rambut yang menutupi wajah agar tak mengganggu tidur Boboiboy. Terkadang bibirnya mencuri-curi sentuhan pada pipi maupun bibir lembut sang kekasih yang menikmati damainya mimpi.

Wajah Boboiboy yang terbangun perlahan hingga matanya menatap hangat pemuda yang tak akan melepas pelukannya, sungguh pemandangan yang luar biasa indah. Membuat sang pemuda bersyukur luar biasa pada Tuhan, bahwa saat itu ia tengah memeluk makhluk terindah di dunia yang dikaruniai untuknya seorang.

"Boboiboy… Aku mencintaimu…"

Sebuah senyuman bagai cahaya yang mencerahkan jiwa tergelap sekalipun terlukis indah menjawab kata-kata Fang.

"Aku juga mencintaimu, Fang…"

Bagai sebuah mantra, doa, syair, atau apapun yang diucapkan dengan penuh perasaan dan harapan, membuat Fang bersumpah berkali-kali dalam hatinya bahwa ia akan melindungi Boboiboy meski ia harus kehilangan nyawanya.

"Aku ingat…," bisik Sloth tanpa membangunkan Air yang telah lelap dalam pelukannya.

"Aku ingat perasaan kita yang bersambut…"

Sloth mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir Air yang telah pulas.

"Aku tak akan melepaskanmu, Air… Aku… Aku terlalu mencintaimu."

Perlahan mata sang pemuda memberat, membawa kenangan indah menuju alam mimpi.

Kini keduanya bersama-sama berdampingan melayang menuju alam mimpi bersama dengan senyuman di wajah mereka, menikmati suasana damai yang diiringi angin semilir meniup dedaunan dan kicauan burung-burung kecil.

TBC…


Bumbu romance kali ini nampaknya kental sekali xD Membuat cerita mengenai pasangan yang kita sukai memang menyenangkan kalau menemukan moment yang pas untuk mereka ^^

Ternyata benar, bahwasannya saya tak bisa update secara berkala seminggu sekali seperti dulu. Pekerjaan kini menjadi prioritas dan terpaksa harus meninggalkan apa yang menjadi kegiatan tersier sebagai penulis fanfiction.

Saya mungkin sekarang hanya bisa mengunjungi fanfiction dua atau tiga minggu sekali.

Namun ini bukan berarti saya tak menyukai pekerjaan saya ^^ Jujur, ini pekerjaan yang paling menyenangkan saat ini. Saya bisa menikmati diri saya di lingkungan dan pekerjaan yang saya sukai ^^ Justru karena saya menyukai pekerjaan saya, dedikasi yang harus saya berikan tentu lebih tinggi.

Fanfiction kini menjadi sebuah hobi di kala saya merasa penat dan ingin mengeluarkan ide-ide yang menari di benak.

Terima kasih pada teman-teman yang telah membaca dan mengikuti fanfiction saya ini.

Salam kenal untuk pembaca baru, dan salam sayang bagi yang sudah setia membaca ^^


Saya menerima beberapa pertanyaan, baik itu melalui private message maupun di Facebook, saya akan jawab di sini saja ^^

.

1. Apa itu OC, OOC, dan AU?

OC : Original Character. Berarti karakter orisinil buatan kita yang kita masukkan ke dalam cerita dan berinteraksi dengan para tokoh orisinil dari fandom yang kita jadikan cerita.

Misal: Para tokoh 5INS (Pride, Lust, Greed, Gluttony, dan Sloth), pecahan Fang di fanfiction ini adalah OC buatan saya, meski memang didasari oleh Fang sang karakter asli dari cerita aslinya.

OOC : Out Of Character. Berarti karakter asli yang kita gunakan dalam cerita memiliki sifat yang berbeda dengan cerita aslinya. Nyaris semua fanfiction saya para karakter bersifat OOC, atau tidak sesuai dengan cerita yang asli.

AU : Alternate Universe. Berarti ff yang kita tulis memiliki dunia atau jalan cerita yang jauh berbeda dengan cerita aslinya.

Misal: Fang seorang pencuri dan Boboiboy seorang polisi yang berusaha menangkap Fang yang telah mencuri hatinya/eh xDDD

.

2. Apa boleh saya menggunakan OC milik Anda untuk membuat ff? Baik itu mengikuti alur cerita maupun AU?

Amat sangat boleh ^^ Dengan syarat, cantumkan kredit untuk saya.

Apa sih 'kredit' itu? Saya bukan mau bahas kartu kredit yah xD Mungkin ada temen2 yg belum tau...

Misal:

"Eh boleh nggak aku pakai OCmu buat fanfic/fanart ku?"

"Boleh. Tapi jangan lupa kredit (credit) aku yah."

Ini berarti kita meminjam karakter / karya orang lain dan mencantumkan nama author aslinya.

Atau bisa saja kita nulis fanfiction yg merupakan lanjutan ato terinspirasi dari fanfiction lain. Bisa dicantumkan, semisalnya:

- Fanfiction terinspirasi dari fanfiction 'Alasan Terbesar' karya Widzilla.

- Fanfiction merupakan lanjutan versi saya sendiri dari fanfiction 'Alasan Terbesar' karya Widzilla.

- OC Boi dan Fani by / milik Widzilla.

Dan bagi saya hukumnya WAJIB mencantumkan kredit. Tapi yang pertama kalian harus minta ijin dahulu pada authornya (kecuali kalau mau bikin surprise xD) Kalian nggak suka' kan kalau karyanya dipakai tanpa ijin? So, mari bertanggung jawab pada karya sendiri dan orang lain ^^7