Chapter 8 : Tentang Natsume

Tanuma Kaname POV

Pertama kali aku bertemu dengan pria itu mungkin lima bulan lalu. Saat itu akhir musim semi. Masa dimana seluruh pelajar di jepang menikmati liburan kelulusan mereka. Ayahku seorang penjaga kuil, dan harus dipindahkan ke kota Higasaki untuk mengurus kuil didekat hutan Yatsuhara , hal itu membuatku harus melanjutkan sekolah ke sana.

Suatu hari bibi ku menelepon dan memintaku ikut bantu-bantu di penginapan miliknya yang tak jauh dari rumah baruku. Aku pun pergi ke penginapan bibi, dan saat itulah aku mengenal Natsume Takashi.

Dia disini sebagai pekerja paruh waktu. Dia seumuran denganku. Saat pertama kali bertemu dengannya, kesanku padanya dia cukup pendiam. Namun saat dia bekerja, dia giat dan ramah kepada para tamu penginapan, seakan sudah terbiasa melakukannya. Dia pandai dan terampil, kadang dia juga membantu koki penginapan. Kata bibi, masakannya pun cukup enak.

Saat aku mencoba berbicara dengannya, dia hanya tersenyum dan membalas sapaan dengan singkat. Matanya redup, terkadang kosong dan sulit diterka. Kulitnya putih sekali walau dia mengaku tidak melakukan perawatan kulit namun aku agak ragu dan badannya lebih kurus dan sedikit lebih pendek dariku.

Kuingat saat itu jam istirahat makan siang. Bibi membuatkan makanan untuk kami dan beberapa pekerja lain. Aku dan Natsume duduk di meja tepat disamping jendela yang menghadap ke taman belakang penginapan. Menu nya cukup sederhana, onigiri dan ikan goreng. Natsume memakannya dengan tenang, kemudian ia menoleh kearah jendela, lagi-lagi matanya kosong, iris cokelatnya seakan terpaku pada sesuatu dibalik jendela. Aku mengikuti arah pandangannya.

Disana terlihat seorang pasangan suami-istri berumur sekitar empat puluh tahunan, sang suami menggendong anak laki-laki. Pasangan suami istri itu tertawa saat anak laki-laki mereka yang tampak berumur lima tahunan membuat ekspresi lucu. Natsume menyimak momen bahagia itu. Aku tersenyum, mereka memang mencerminkan sebuah keluarga bahagia.

"Terlihat menyenangkan ya"

Natsume membuka mulutnya, mengeluarkan suara lembutnya. Terlihat seulas senyum tipis di bibir tipis itu , mata redupnya seakan memandang keluarga itu dengan tatapan iri. Ah, mungkin ia teringat masa lalu dengan orangtuanya. Yah, aku pun begitu.

Aku tertawa pelan "apa itu membuatmu teringat masa lalu? Kau juga pasti pernah merasakannya dengan orangtuamu dulu"

Raut wajah Natsume berubah. Ia menggeleng pelan. Jantungku berdetak lebih cepat, entah kenapa itu membuatku takut. Air mukanya terlihat sedih namun ia tutupi dengan senyumnya yang terlihat palsu.

"Ibuku meninggal saat melahirkanku dan ayahku meninggal saat aku berumur lima tahun. Aku tak punya keluarga sama sekali dan tak mengingat momen apapun saat bersama mereka, jadi kadang aku penasaran bagaimana rasanya.."

Nada suara Natsume lebih rendah dari biasanya. Ia tertawa pelan, terdengar sedikit dipaksakan. "Kekanakan sekali ya"

Ya Tuhan, apa yang sudah aku katakan? Kenapa aku mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang bahkan tak punya keluarga sama sekali. Saat ibuku meninggal, aku benar-benar merasa dunia seakan sudah kiamat. Aku bahkan mengurung diri beberapa hari dikamar memanggil 'ibu' berkali-kali berharap ia turun dari langit dan mendekapku lagi dalam pelukan hangatnya hingga ayah datang untuk membujukku, memelukku hangat dan menenangkanku. Aku masih memiliki ayah sebagai tempat bersandar.

Tapi Natsume. Jika ia memang tak memiliki keluarga maka kepada siapa ia harus bersandar. Siapa yang melindunginya? Siapa yang menenangkannya saat ia sedih?

"Maaf" suaraku terdengar lirih, namun Natsume mendengarnya. Ia tersenyum, senyuman cerah.

"Aku sudah tak mengingat mereka, jadi tak apa" Ia menepuk pundakku. Aku menyorot wajahnya, "Tanuma, kehidupanku sekarang jauh lebih penting. Jadi, aku ingin melupakan semua yang berhubungan dengan masa lalu"
Lanjutnya. Walau aku tahu hatinya tengah merintih. Momen bahagia keluarga yang tadi kami lihat mungkin mengoyak lagi luka dihatinya.

Bagaimana caraku menolongnya?

Saat itulah aku mulai mengakrabkan diri dengannya. Hati kecilku meminta itu, aku ingin menolongnya sebagai seorang teman. Aku pernah pergi ke tempat tinggalnya, dia benar-benar hidup sendiri di apartemen kecil lantai dua. Saat itu aku entah kenapa akhirnya memahami betapa indahnya kehidupan yang selama ini kujalani. Aku tak bisa membayangkan jika suatu saat aku akan berakhir seperti Natsume. Kehilangan orangtua dan keluarga.

Kami masuk SMA yang sama, hanya saja berada dikelas yang berbeda. Terkadang aku beberapa kali melihatnya makan siang sendirian di bangku taman halaman belakang sekolah. Aku tidak tahu kenapa dia selalu sendirian, entah ia diperlakukan tidak baik atau dia sendiri yang menjauhi orang lain.

Namun, beberapa hari kemudian, ia terlihat makan siang bersama seorang gadis. Jujur, itu membuatku lega. Setidaknya ternyata ada yang memperlakukannya dengan baik.

Setiap akhir pekan, hari sabtu atau minggu. Aku selalu pergi ke penginapan bibi, Natsume masih bekerja disana. Bibi bilang Natsume bekerja hingga pukul sembilan malam. Aku mulai akrab dengan Natsume, setidaknya aku berpikir seperti itu. Ia pria yang baik. Ia pintar dalam belajar, terkadang ia membantuku mengerjakan PR. Ia pandai dalam segala hal dibanding diriku kecuali dalam Shogi. Aku sering terhibur melihat ekpresi kesal Natsume saat aku mengalahkannya dalam permainan catur jepang itu.

Kuharap suatu saat, ia bisa lebih terbuka padaku. Mengatakan berbagai masalah yang ia alami, dan meminta saranku sebagai seorang teman. Setidaknya, aku ingin pria itu mengandalkanku walau sekali.

Minggu pagi, pukul delapan.

Aku dan Natsume diminta membeli beberapa perlengkapan penginapan, seperti sprei dan beberapa sabun untuk pemandian air panas. Usai selesai berbelanja, kami singgah ditepi sungai, sambil menikmati es krim loli yang kami beli di toko terdekat.

"Panas sekali, padahal sudah mulai musim gugur" Aku menarik-narik pakaianku, berusaha mendinginkan badan ditengah matahari terik. Es krim ini sedikit membantuku karena sejak tadi tenggorokanku kering.

Natsume mengangguk, "Benar juga" Ia nampak tenang, tapi aku bisa melihat peluh dikeningnya.

"nah, Tanuma.. Teman sekelasku mengajakku bergabung dengan kelompok mereka dan kami akan belajar bersama malam ini. Apa menurutmu tak apa jika aku pergi?"

"Eh?" Aku terkejut, baru pertama kali ini Natsume meminta saran padaku. "Tentu saja, kenapa kau harus ragu?" sahutku. Aku tak tahu kenapa Natsume bertanya hal yang sudah pasti. Apa selama ini dia benar-benar tak pernah berbicara dengan teman-temannya hingga belajar bersama saja bisa membuatnya memang seberapa parah penyakit anti-sosialnya. "Natsume, maaf jika aku bertanya pertanyaan yang sulit. Apa kau kesulitan berteman? Apa mereka menjauhimu?"

Natsume tampak terkejut, matanya mengerjap beberapa kali. Kemudian ia menunduk. "Tanuma, apa kau menganggap aku temanmu?"

Aku mengangguk. Natsume menghembuskan nafas panjang kemudian bersuara, "Kalau begitu, mungkin tak apa jika kuceritakan sedikit tentangku"

Hening. Aku mengangguk dan bersiap menyimak. Hampir setengah tahun kami saling mengenal, dan baru kali ini Natsume menceritakan tentang dirinya.

"Aku masih terlalu kecil saat itu, umurku lima tahun. Banyak hal yang tidak begitu kuingat disaat itu. Tapi aku masih ingat kata-kata menyakitkan yang diucapkan orang-orang tentang ayahku. Mereka bilang ayahku seorang pembunuh, seorang kriminal. Kerabatku bilang, ayah membunuh seorang perampok karena berusaha menyelamatkanku, namun membunuh tetaplah membunuh, keluarga perampok itu tak terima dan menjebloskannya ke penjara dan kemudian ayah meninggal karena sakit dipenjara"

Aku terkesiap. Hening, hanya terdengar suara angin bertiup disertai gemerisik rerumputan. Dia baru mengucap satu kalimat awal. Namun, aku ragu, apa tak apa jika aku mendengar lebih lanjut? Apa yang harus aku katakan padanya setelah ia selesai bercerita?

Laki-laki disampingku mendongak, matanya menyorot birunya langit. Mungkin membayangkan wajah ayahnya diantara gumpalan awan.

"Setelah itu, aku dibawa kerabat ayahku dan tinggal disana. Disekolah, seperti biasa, anak-anak lainnya mengejekku, mengatakan hal yang sama tentang ayahku. Pembunuh! Anak kriminal! Karena tak terima, tanpa sadar aku menyakiti mereka hingga membuatku dikeluarkan dari sekolah. Kerabat ayahku yang malu karena kelakuanku akhirnya mengirimku ke kerabat lainnya. Namun pada akhirnya mereka menganggap aku anak yang merepotkan dan bermasalah. Aku juga mudah sakit dan terluka dan kemudian salah satu diantara kerabatku mengirimku ke panti asuhan. Saat itulah keluarga kaya yang dulunya memiliki hutang budi pada ayahku membawaku ke Tokyo. Disana menyenangkan, semuanya memperlakukanku dengan baik, teman-teman disekolah pun tak tahu tentang ayahku tak mengatakan hal yang buruk tentangnya. Aku memiliki seseorang yang kuanggap sebagai orangtua dan kakakku"

"Lalu kenapa kau disini?" tanpa sadar aku bertanya.

Natsume tersenyum tipis. "Aku membuat kesalahan. lagi. Hingga membuatku dibenci. Aku merasa terus menjadi beban semua orang. jadi aku kemari, menjalani hidupku sendiri. Maka dari itu, aku menjadi kaku. Aku kesulitan berkomunikasi, aku selalu takut membuat kesalahan. Aku.."

Bibir tipis itu terlihat sedikit gemetar. Kalimatnya tertahan. Aku bisa melihat ia mengepalkan tangannya, raut wajahnya gusar. Aku menepuk pundaknya. Mencoba menenangkannya. "Kau tak perlu memaksakan menceritakan semuanya. Tapi Natsume. Kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri, kau tak harus selalu memikirkan perasaan orang lain. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Semua manusia memiliki karakter yang berbeda. Satu-satunya yang bisa kau lakukan hanya mencoba hingga suatu hari ada seseorang yang memahamimu. Maka dari itu, pergilah .. Temui teman sekelasmu itu. Kau bukan orang yang mudah dibenci. Aku tahu itu"

Entah, apa kata-kata ku bisa membantu mengurangi beban dihatinya. Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku. Aku hanya ingin Natsume terus maju. Menggapai matahari yang kelak membawa warna cerah dikehidupannya. Menambah cahaya riang dibalik mata redupnya, menambah dinding didalam jiwanya yang rapuh.

Bisakah ia melakukan itu?

Aku harap begitu.