Aku kembali! :D

Maaf karena mendadak berhenti mengupdate cerita ini, namun percayalah, cerita ini masih hidup! Pasti selesai, cuma pengupdatetannya bakal jadi random dan kapan selesainya jadi gak tau deh. Tapi ini cerita tidak akan hiastus kok!


Chapter 7: The Lonely Day

Shikamaru memandang langit yang bergerak perlahan di atas kepalanya dengan mata sendu. Hari-hari jadi terasa begitu membosankan karena ia tidak memiliki banyak hal untuk dilakukan. Ia menghela napas dan melangkahkan kakinya mengarungi trotoar.

Ia harus pergi ke supermarket hari ini, untuk membeli keperluan sehari-hari. Juga beli beberapa makanan instant dan keperluan lainnya.

Selama berjalan ia hanya terus menatap ke depan meski sebenarnya ia tidak begitu memperdulikan hal-hal di sekitarnya. Ia sadar ia bertemu beberapa temannya yang langsung mengenalinya sebagai tukang bolos dan mencibirnya di belakang punggung Shikamaru.

Namun, ia sudah terbiasa.

Ia terus melangkahkan kaki sampai tiba di supermarket. Dengan wajah malas, ia pun segera berbaur dengan banyak orang dan masuk ke dalamnya. Meski sebenarnya ia cukup sebal dengan kegiatan merepotkan seperti ini, namun ia memutuskan untuk tidak terlalu mengambil pusing hal itu.

Lagipula, sebenarnya, dengan melakukan banyak hal bisa membantu pikirannya untuk berhenti memikirkan gadis itu.

Shikamaru mendesah. Sudah nyaris seminggu namun bayangan gadis itu masih tertera di kepalanya setiap hari. Ia mengerti, ia tidak bisa bohong kalau ia tidak merasa sedih dan kecewa akan perkataan Temari saat itu.

Ia bertanya-tanya apakah gadis aneh itu sudah melupakan dirinya sepenuhnya. Mungkin ya, pasti ia sudah lupa akan dirinya.

Shikamaru menggelengkan kepalanya dan segera mengambil kereta dorong. Namun ia terkejut ketika ada orang menyenggolnya dari belakang. Ia segera berbalik dan terkejut ketika melihat seseorang yang ia kenal.

Guru Asuma.

"Yo, Shikamaru, ternyata kau sehat-sehat saja," kata guru Asuma yang jelas-jelas sedikit menyindir Shikamaru. Shikamaru hanya mengangguk dan ingin segera berbalik pergi namun gerakannya dihentikan oleh Asuma.

"Wah...wah.....begitukah caramu menyapa gurumu?" tanya guru Asuma dengan nada rendah meski di wajahnya masih tersenyum sebuah senyuman.

Shikamaru menghela napas.

Ini akan jadi sangat merepotkan......


"Kembali sekolah?" tanya Shikamaru dengan nada rendah. Guru Asuma mengangguk. Dengan usaha keras ia berhasil membuat Shikamaru belanja bersamanya dan menyeretnya ke sebuah kafe dekat supermarket untuk membicarakan masalah anak jenius itu.

Ia sangat menyayangkan Shikamaru yang menyia-nyiakan potensi yang ada dalam dirinya. Dengan kejeniusannya, sekolah bukanlah hal yang sulit utuk Shikamaru.

Namun, Asuma tahu kalau anak didiknya yang ada di depannya ini sedang mengalami suatu masalah. Shikamaru tampak terlihat lebih lesu dari biasanya, dan juga sedikit emosian. Padahal biasanya anak ini selalu terlihat tenang.

"Aku masih sekolah, tapi masuk atau tidaknya kau tidak bisa mengatur," kata Shikamaru dingin. Toh, ayahnya sudah mengatur semuanya agar ia tidak dikeluarkan dari sekolah. Meskipun ia dikeluarkan dari sekolah, ia pun tak peduli. Karena itu, ia tidak perlu beramah-tamah dengan guru Asuma.

"Tampaknya kau sedang banyak masalah, dengan sekolah kau bisa mengganti suasana," kata guru Asuma berusaha membujuk Shikamaru. Shikamaru hanya meminum teh lemonadenya dalam diam.

"Yah, anak seumuranmu...... punya masalah itu wajar..... apa kau baru putus dengan pacarmu?" tanya guru Asuma meski sebenarnya ia menyangka Shikamaru tidak punya pacar.

Namun, reaksi Shikamaru yang menatapnya dengan tatapan tajam membuatnya tahu kalau tebakannya hampir benar.

"Tidak ada urusannya denganmu," kata Shikamaru getir. Guru Asuma menatapnya dalam. Meski tidak begitu kelihatan, guru Asuma bisa mengatakan kalau keadaan Shikamaru memang tidak bisa dibilang baik. Mata Shikamaru sedikit bergantung dengan kilatan warna merah di pojok matanya menunjukkan kalau anak itu kurang tidur atau kebanyakan menangis. Ia juga tampak pucat seakan kulitnya tidak terkena sinar matahari selama berhari-hari. Pupil matanya selalu menatap ke bawah, atau meskipun menatap ke depan, ia tampak melihat tembus semua hal yang ada di depannya. Rambutnya sedikit acak-acakkan dan juga bajunya yang sedikit kusut.

Jelas bukan keadaan yang baik.

"Jika kau diputuskan pacarmu, sekolah bisa menjadi pengalih perhatian yang bagus kan? Selain untuk mengganti suasana, sekolah bisa membantumu melupakan pacarmu itu," jelas Asuma. Shikamaru mendengus.

Shikamaru tahu apa yang dikatakan guru Asuma ada benarnya. Jika ia tidak memiliki sebuah pekerjaan untuk dilakukan, kepalanya selalu memikirkan gadis itu. Lagipula, sekolah sebenarnya tidak seburuk itu, bahkan mungkin dengan sindiran dan cibiran teman-temannya di sekolah bisa membantu membuat pikirannya teralihkan.


Temari memandang bunga-bunga yang ada di kebunnya dengan senyum pilu.

Ia merasa sangat kosong. Meski ia percaya kalau merasa "kosong" adalah hal yang normal baginya namun.....

Ia membuka buku yang ada dipangkuannya dan membacanya sedikit.

Tanggal X bulan O

Dari diriku yang kemarin
Untuk diriku esok hari

Hari ini aku telah mengatakan semuanya pada Shikamaru-kun. Semua hal yang telah kusembunyikan. Aku telah membohonginya sepanjang waktu dan akhirnya aku lega telah memberitahuan hal yang sebenarnya padanya. Aku memang sangat jahat, aku sadar itu ketika melihat mata Shikamaru-kun yang berkaca-kaca. Biasanya wajahnya selalu terlihat tanpa emosi namun aku merasa sedih ketika melihatnya bersedih.....

Semuanya karena aku.....

Padahal aku tahu, bila aku dekat dengannya maka aku akan menyakitinya.

Namun, aku tetap melakukannya. Kau tahu kenapa?

Karena, aku ingin memiliki teman.

Meski aku tak bisa ingat, namun dari semua catatan dan video tentangku dan Shikamaru-kun, aku merasa hari-hariku terasa lebih berwarna. Aku selalu sedih dengan isi diary dan video yang memperlihatkan kegiatan sehari-hariku yang membosankan namun.,,, setelah bertemu Shikamaru, semuanya berubah.....

Namun, aku tahu itu salah.

Aku sangat egois, hanya karena ingin membuat kenangan yang menyenangkan aku harus mengorbankan perasaannya. Padahal, meski tidak begitu terlihat, aku tahu Shikamaru-kun mempunyai banyak masalah. Dan aku hanya membuatnya lebih menderita.

Aku sangat jahat......

Apakah mata Shikamaru-kun menjadi lebih kosong karena diriku? Ah, aku sudah tidak bisa membayangkannya lagi.

Karena itu, diriku yang esok hari. Aku pikir kau mengerti apa yang kumaksud dalam catatan ini.

Tolong jangan temui orang yang bernama Nara Shikamaru lagi.

Aku tak ingin diriku yang esok hari menyakitinya lagi. Semuanya akan lebih bahagia bila kau tidak bertemu dengannya. Lupakanlah dia, karena aku yakin, dia pasti akan segera melupakan aku.

Temari menyentuh lembut halaman itu yang tampak jelas di sana dihiasi dengan bekas butiran air mata. Meski sedih, ia tidak membayangkan betapa sedih dirinya saat menulis catatan ini.

Karena ia sudah lupa.

Dan ia mengerti apa yang dimaksud pada catatan ini.

Ia tidak boleh menemui orang bernama Nara Shikamaru.

Tidak boleh......


Shikamaru menatap soal yang diberikan guru padanya. Hanya butuh hitungan detik sampai jawabannya tertera di kepalanya. Dengan cepat ia menjawab soal hitungan rumit matematika itu tanpa perlu mengkotret jawabanya terlebih dahulu. Ia bisa melihat tatapan kesal guru matematika padanya. Jelas, ia jarang masuk namun ia selalu bisa mengerjakan semua soal dari gurunya itu.

Shikamaru duduk kembali di bangkunya. Telinganya bisa mendengar beberapa orang mencibirnya namun ia tidak memperdulikannya. Ia mengambil buku dari dalam tasnya dan mulai membaca.

Kali ini ia tidak membaca novel, tapi soal hitungan Kimia.

Hal yang bagus untuk mengalihkan perhatian kan?

Ia segera meraih pensil yang tergeletak di mejanya dan segera menjawab soal-soal yang ada di buku itu. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara guru matematika menjelaskan teori pada bab baru namun ia tidak memperdulikannya.

Tanpa terasa, jam istirahat pun tiba, Shikamaru sudah berhasil mengerjakan setengah dari semua soal-soal kimia yang ada di buku itu. Ini akibat ia jarang membuka buku pelajaran kimia sampai ia harus mencari rumus dan cara pengerjaannya sendiri sehingga memakan waktu lebih lama. Namun ia mengakui, hal ini benar-benar bagus untuk mengalihkan pikirannya.

Ia sadar kelas perlahan-lahan menjadi kosong namun ia tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya duduk. Keadaan sekarang lebih tenang, makin mudah baginya untuk mengerjakan soal-soal rumit Kimia tentang laju persamaan reaksi.

"Eh~ jadi kau putus dengannya?"

Shikamaru berhenti dari kegiatannya menulis dan melirik ke arah dimana gadis-gadis temannya sekelas sedang berkerumun. Mungkin seperti biasa, asik membicarakan masalah pacar.

Shikamaru segera mengalihkan perhatiannya ke buku kembali.

"Tapi aku masih suka padanya, bagimana ya?"

"Hm, memang kalian putus karena apa?"

"Ia akan pindah keluar kota, katanya akan sulit menjalin kontak jadi kamu putus."

"Wah sayang sekali."

"Kenapa kau tidak memperjuangkan hubungan kalian?"

"Aku..... tidak bisa bicara apapun saat mendengar ia akan pindah...."

"Dasar bodoh! Jika kau lepaskan dia sekarang, mungkin saja hubungannya kalian akan putus selamanya!"

"La...lalu, aku harus bagaimana?" Shikamaru mendengar suara isakkan namun berusaha untuk tetap focus meski kini telinganya mengkhianatinya dan terus menguping pembicaraan teman-temannya itu.

"Kau harus bagaimana? Kejar dia! Bilang kalau kau masih ingin bersamanya, kau cinta kan padanya?"

"Iya....."

Shikamaru menggigit bibirnya dan berusaha keras untuk tidak memperdulikan pembicaraan teman-temannya lagi.

Ia tidak putus! Untuk apa ia mendengar hal seperti itu? Ia dan Temari cuma teman biasa, kehilangan satu teman bukan masalah untuknya.....

"Aku tidak suka pada orang yang niatnya setengah-setengah."

Shikamaru teringat pada perkataan adik Temari. Akhirnya ia mengerti apa maksudnya sekarang.

Setengah-setengah, ia sadar ia bahkan tidak mengatakan apapun ketika Temari membeberkan tentang semuanya. Setengah-setengah, ia menerima semuanya tanpa berusaha melawan sedikit pun. Setengah-setengah, ia tidak mencoba untuk menerima keadaan Temari. Setengah-setengah, apakah ia memikirkan perasaan Temari meski hanya sedikit?

'Aku memang orang yang setengah-setengah,' batin Shikamaru.

"Jujur deh sama dirimu sendiri, kira-kira kau bisa bertahan dengan dia dengan hubungan jarak jauh?" Shikamaru kembali mendengar percakapan temannya.

"Aku....aku rasa aku bisa...."

'Jujur pada diri sendiri?' pikir Shikamaru. Jujur.... kalau boleh jujur sebenarnya ia.....

'Aku masih ingin bersama Temari, aku masih ingin bertemu dirinya lagi, aku masih ingin melihat betapa aneh namun cantik dirinya, aku masih ingin.....'

'Aku masih ingin membuat banyak kenangan indah yang lainnya dengan Temari.....'


Satu kata, review!