Chapter 8: Kimi no Sono Egao

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna

Apa kabarnya? Baik kan? Chapter kali ini sesuai judul, akan menceritakan hal-hal indah Yuuma dan Aria sebelum menjalankan Jormungand ^^

Enjoy!

Dreamy Cherry Blossom: Requiem~

Main pair : VY2 Yuuma & Aria, Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"Dalam akhir, dalam penderitaan. Dunia yang kacau, berisi konflik dan perpecahan, disinilah aku, mencari kebenaran, mencari keadilan, dalam sebuah idiom perkataan yang terasa membengkak dalam kehancuran."

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!

XOXOX

4 Maret 20XX

"Bagaimana ini?!"

Kaito berlarian di ruangannya, mengetahui banyak sekali keganjalan. Mulai dari Len yang tidak menghubunginya, Len yang tidak bisa dihubungi, sampai kenyataan dungeon tempat Len berada terisolasi dari dunia luar dan tidak bisa dimasuki, sangat membuat Kaito terpukul sebagai pengawas Len.

"Te-tenanglah Kaito, kita berharap yang terbaik saja. Aku yakin Len baik-baik saja." Ucap Miku sambil berusaha menenangkan Kaito, sayangnya kurang berhasil.

"Ini bukan masalah tenang atau tidak! Para tetua sudah gencar menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak bisa terus menyembunyikannya! Tapi, jika kukatakan yang sebenarnya, bukan hanya seisi koloni ini saja, bisa-bisa koloni lain bisa membuat ekspektasi yang aneh-aneh dan akhirnya menghilangkan semangat para penakluk dungeon untuk menaklukan dungeon!" Teriak Kaito, kelewat panik.

"A-aku juga tidak terlalu mengerti, tapi aku akan mengira, jika kau mengatakan yang sebenarnya, Lenka ba-san, Haku dan Yuki-chan lah yang akan paling khawatir." Timbrung Miku yang bukannya mencarikan jalan keluar, malah menambah beban pikiran Kaito. Kaito tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi, terlebih lagi, Lenka dan Yuki sudah seperti keluarga bagi dirinya dan Miku.

"Miku, aku ingin melepas stress ku sebentar… Bisa tidak nanti malam…" Ucap Kaito tidak jelas.

"Ma-maksudmu? Nanti malam?" Tanya Miku memastikan.

"Ya, nanti malam." Perjelas Kaito.

"Ma-maksudmu, melakukan 'itu'?" Ucap Miku.

"Memang apalagi?" Jawab Kaito dengan pertanyaan balik.

"Tapi, tapi, kita sudah lama tidak melakukan hal itu. Terlebih lagi, hatiku belum kusiapkan, ini sudah seperti yang pertama kalinya." Ucap Miku, makin ngawur.

"Heh? Kenapa kau butuh hati untuk menyiapkan onsen di rumah? Sudah lama kita tidak urus, aku ingin kau mengurusnya untuk ku, onsen di luar ruangan yang di belakang rumah pasti sudah banyak daunnya, sekarang kan sudah musim semi, banyak bunga sakura yang bermekaran dan beterbangan." Ucap Kaito.

Wajah Miku langsung memerah padam, dia tidak mengerti dengan maksud si Kaito, dan parahnya, Kaito langsung memutar balikan pikiran Miku dengan polosnya.

"Dasar bodoh!"

BRUK!

Miku keluar ruangan dengan kasar dan membanting pintu dengan sangat keras yang dijawab naiknya sebelah alis Kaito.

.

.

.

Yuuma terbangun dari tidurnya, sekarang sudah musim semi, Yuuma tidak memiliki kesukaan yang berlebihan kecuali dengan aroma sakura di musim semi. Biasanya dia akan langsung mengambil teh yang beraroma sama, sakura, dan meminumnya di balkon sambil menarik nafas lega.

Sayangnya hal itu tidak akan terjadi, dia mendapatkan mimpi yang cukup aneh saat dia tidur. Mimpi dimana dia sendiri sedang terbaring lemah di pinggir jalan, dia melihat sosok aneh dengan penglihatan kabur tengah terbang menjauhinya, atau paling tidak itu pikir Yuuma. Dia juga melihat Aria menangis tepat di depannya, di bawah hujan lebat, dia tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya melihat semuanya sendirian. Yuuma menutup matanya di mimpi itu, ketika dia membuka matanya, dia mengenali punggung orang yang membawanya dari untaian rambut pirang yang tergerai di tengkuknya, Kokone Len. Dia juga melihat Aria berjalan tertunduk di samping Len dengan tubuh yang basah kuyup karena hujan.

Yuuma awalnya terbangun dengan tenang, dia tidak ingin mengungkit mimpi itu lagi. Tapi, ada suatu perasaan yang mengganjal, kenapa hanya ada Aria dan Len yang ia kenali di sana?

Yuuma memiliki janji dengan Aria siang ini, mereka akan membeli perlengkapan di kota untuk misi 2 hari lagi. Merasa hari masih terlalu pagi, dia menyempatkan datang ke tempat Len untuk mengajak Len bicara.

"Len? Kau sudah bangun?" Tanya Yuuma dari balik pintu kamar Len.

Sang empunya kamar masih belum menjawab, sekitar 5 menit Yuuma terus-terusan mengetuk (mungkin saking tidak adanya kerjaan lain), Yuuma mendengar suara debuman yang keras dan derapan langkah kaki yang sangat cepat.

Itu dia Len, pikir Yuuma, membuka pintu dengan tidak sabaran dan mengintip Yuuma di balik pintu dengan penampilan berantakan.

"Ada, ada yang bisa kubantu? Tukang pos ya? Atau pengantar koran? Atau susu?" Ucap Len, ngawur.

'Anak ini, masih setengah sadar rupanya.' Pikir Yuuma, dari sanalah muncul niatan untuk menjahili Len.

"Ya, maaf, dengan tuan Kokone? Bisa tanda tangan di sini? Anda mendapat sebuah kiriman pagi ini." Ucap Yuuma dengan suara yang dibuat-buat formal.

Yuuma mengeluarkan pulpen dari saku bajunya, dan menarik bagian bawah baju piyama Len ke depan, dengan maksud, agar Len mengira piyamanya adalah kolom tanda tangan.

"Ini pulpennya, tolong tanda tangan di sini." Ucap Yuuma sambil menuju salah satu sudut di piyama Len.

Len, dengan polosnya, menandatangani bajunya sendiri tanpa ada rasa curiga. Setelah sesi tanda tangan palsu itu selesai, Yuuma mundur sedikit dan mengambil kantung sampah di depan pintu kamar di seberang kamar Len, mungkin itu kamar Lui. Dengan jahatnya, Yuuma memberikan sampah itu dan pura-pura melepas topi dan berterima kasih, padahal dia tidak memakai topi.

"Terima kasih sudah menggunakan jasa kami! Saya pamit undur dulu tuan, nikmati pagimu!" Ucap Yuuma sambil membuat langkah seakan dia pergi menjauh, padahal dia tidak pergi kemana-mana.

Len berbalik masuk ke kamarnya, tanpa menutup pintu kamarnya erat, dia langsung duduk di lantai dan membuka kantung sampah itu, tangan Len mengobok sampah di dalamnya, dia mengira dia sedang mencari paket sesungguhnya di tumpukan kertas potongan yang menyelimuti isi kiriman. Yuuma yang mengintip cekikikan sendiri, Len masih dengan polosnya tidak menyadari dia sedang melakukan apa.

Sekitar 2 menit berlalu, saat itulah bau dari sampah mulai merebak, membuat Len membuka matanya walau sedikit.

"Bau apa ini?" Melihat tangannya ada di dalam kantung sampah, Len langsung kaget dan melempar kantung itu ke udara, yang otomatis membuat kamar Len berserakan dengan sampah,

"GYAAA! Apa-apaan ini?! Siapa yang bisa sejahat ini melakukan hal ini padaku?!"

Yuuma yang mendengar teriakan pagi Len, cekikikan tanpa henti. Lui yang merasa terganggu, langsung membuka pintu kamarnya dan berkata "Berisik kau Ryuto! Pagi-pagi jangan buat masalah!" Sambil membanting pintunya lagi, sepertinya Lui juga masih setengah tidur.

[Di sisi lain, Ryuto yang tengah berkutat di depan laptopnya bersin tanpa jelas]

"Gwahahahahaha! Gwahahaha!"

Len langsung mendatangi pintunya ketika mendengar suara orang tertawa, dengan kepala tertutup kulit pisang, dia menghunuskan pedangnya ke arah batang hidung Yuuma.

"Aku sudah menyangka, kau biang keroknya!"

"Wow, wow, wow! Tu-tunggu! Kita bisa bereskan kesalahpahaman ini, aku datang untuk menanyakan sesuatu, lalu kau masih tertidur, dan aku secara tidak sengaja mengerjaimu, dan-"

SRING!

Len menghunuskan lagi pedangnya yang lain.

"Jangan bercanda!"

"Loh? Sejak kapan kau pegang dua pedang? Lagipula, kedua pedang ini tidak mirip dengan pedang yang sebelumnya." Ucap Yuuma.

Len yang menyadari perkataan Yuuma langsung melihat pedangnya, 'pedang apa ini?' Pikir Len, pedang tersebut kemudian menghilang tanpa bekas dari tangan Len.

"Y-ya sudahlah! Pokoknya bantu aku membersihkan semua ini, lalu cepat selesaikan urusanmu! Aku mau mandi dan ganti baju!" Ucap Len sambil berbalik.

"Siap bos!"

.

.

.

"Sekarang, apa maumu?" Tanya Len. Mereka berdua duduk di balkon kamar Len, merasakan harum musim semi.

"Tunggu, biar aku mengatakan satu hal, kapan kau ganti senjata?" Tanya Yuuma.

Len menggeleng tidak paham, dia mencoba mengeluarkan dua pedang yang tadi dia sempat pegang, tapi sekarang dia hanya bisa memegang Mastermune, membuat Yuuma mengalihkan topic pembicaraan.

"Baiklah, baiklah, kau ingat saat kita bertiga –bersama Aria, tersesat di sebuah mansion tua? Kau ingat kenapa kita bisa sampai di mansion itu? " Tanya Yuuma.

Len nampak berpikir, tapi dia akhirnya menggeleng, dia juga tidak begitu mengerti kenapa mereka bertiga bisa sampai di sana, karena ketika di mansion, yang menjaga Len dan juga Yuuma adalah Aria, pasti Aria yang tahu apa yang terjadi, pikir Len.

"Aku juga tidak mengerti, kenapa kau tidak tanya Aria saja? Dia yang merawat kita waktu itu bukan?" Tanya Len.

"Ah, benar juga." Ucap Yuuma.

Yuuma akhirnya pamit dan pergi, dia kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pertemuannya dengan Aria, dia tidak memakai baju yang terlalu 'wah', karena menurut dia ini hanya jalan-jalan biasa.

Beda dengan Aria, dia bersenandung seharian setelah terbangun, dia berdandan, memakai baju yang bagus, dan bergaya sesuai dengan image feminim karena sangat senang bisa pergi keluar dengan Yuuma. Tapi dia sendiri tidak yakin bisa menghadapi Yuuma nanti dengan normal dan feminim.

"Yosh! Ayo berangkat!"

Aria pergi ke stasiun, mereka janjian ketemu di depan stasiun jam 10 siang. Ketika Aria datang, masih jam 9 lewat 45 menit. Mungkin, dia terlalu cepat, pikir Aria.

"Baiklah, aku akan menunggu."

Aria menunggu hingga jam 10 lewat 10 menit, dan dia tidak melihat tanda-tanda Yuuma akan datang. Semenit kemudian, sifat judes Aria keluar, dia mulai menggerutu sendiri.

"Kemana sih anak itu?!"

"Hoy! Aria!" Secercah harapan muncul di wajah Aria, baru juga dibicarakan, pikirnya. Yuuma berlari ke arah Aria dengan perlahan, ketika sampai di depan Aria, dia langsung menunduk dan menarik nafas secara teratur.

"Maaf, aku terlambat."

"Lelaki macam apa kau? Membuat wanita menunggu?" Ucap Aria.

"Maaf ya jika aku bukan lelaku idamanmu." Gerutu Yuuma.

Keduanya sempat terdiam, Aria menunggu Yuuma mengomentari bajunya atau penampilannya hari ini, sayangnya Yuuma hanya bersiul-siul tidak jelas. Aria naik pitam, dia tidak bisa lagi menunggu kelemotan Yuuma lebih lama lagi, tanpa mengajak Yuuma, Aria pergi sendiri.

"He-hei! Kau mau kemana?!" Tanya Yuuma, dia ditinggal.

"Ya mencari kebutuhan untuk misi, memang mau kemana lagi?!" Jawab Aria judes.

"Kenapa kau berjalan begitu cepat sih?!" Tanya Yuuma.

"Terserah aku mau berjalan seperti apa." Jawab Aria dingin.

Yuuma berpikir, aku salah apa? Perlahan, Yuuma mulai mencari kesalahannya, dan akhirnya dia mengatakan hal yang sedari tadi ditunggu Aria.

"Hari ini bajumu berbeda ya? Cantik, sangat cantik malah, kau terlihat makin cantik memakainya." Ucap Yuuma.

Aria yang berjalan cepat, menghentikan langkahnya, dia tidak berbalik ke arah Yuuma karena takut Yuuma bisa melihat rona merah di wajahnya.

"Te-terima kasih, matamu tajam juga ya." Ucap Aria.

'Jangan biarkan dia merayuku! Jangan biarkan! Ingat Aria, ingat, bagaimana aturan dari Pandora!' Pikir Aria, tapi kenyataannya dia sendiri yang minta diperhatikan oleh Yuuma.

"Tapi kita kan mau beli perlengkapan misi, apa bajumu tidak kebagusan tuh? Apa kau kira, jangan-jangan kita akan kencan?"

Kemudian, Yuuma sukse mendapat lemparan tas tepat di wajah dari Aria.

XOXOX

"A-Aria?"

"…"

"Ha-halo?"

"…"

"Bagaimana jika kita makan siang dulu? Sudah setengah jam kita berputar-putar, ini sudah hampir jam 11, kita bisa teruskan nanti."

Yuuma mencoba membujuk Aria, sayangnya, tidak ada respon.

'Dasar bodoh.' Pikir Aria.

"Bagaimana jika kita makan Parfait? Aku akan belikan rasa apapun yang kau suka!"

Mendengar kata parfait, Aria langsung terdiam, dia memang suka parfait, tapi Aria tidak ingin terperangkap perkataan manis Yuuma.

"Baiklah nona pintar menawar, aku akan belikan makanan apapun yang kau suka!"

Aria berhenti dari jalan cepatnya.

"Belikan aku parfait, dan traktir aku di restoran cepat saji."

Akhirnya, Yuuma hanya bisa menggeleng lemah dengan sikap Aria.

.

.

.

Mereka berdua tengah makan di sebuah restoran cepat saji, pusingnya, Aria memesan banyak hamburger, mungkin sekitar 5 buah.

"Kau mau makan sebanyak itu?"

"Iya, masalah?"

"Kau suka fast food?" Tanya Yuuma lagi.

"Sebenarnya, aku tidak pilih-pilih makanan, aku tidak memiliki makanan yang sangat ku suka, aku hanya makan apa adanya. Karena sifat brengsekmu barusan, aku merasa ingin banyak makan daging saja." Ucap Aria.

"Yakin bisa habis semua nih?"

Aria terdiam.

"Kalau kau tidak pilih makanan, aku bisa asumsikan kalau kau menjaga asupan gizimu, terlebih kau kelihatannya sering makan daging kalau badmood. Tapi, kenapa bagian itumu tidak terlalu besar ya?" Ucap Yuuma, menekan pada kata 'itu', dan menunjuk dada Aria.

Wajah Aria langsung memerah, dia mengeluarkan pistolnya dan menembak sisi kosong di samping kepala Yuuma, dua kali, kanan kiri.

"Bicara lagi, dan aku bisa pastikan kepalamu meledak." Ucap Aria dengan nada datar, dia langsung menyembunyikan senjatanya.

Orang-orang di sekitar mereka sempat menoleh, tapi lantaran tidak melihat hal mencurigakan (ingat? Aria menyimpan senjatanya dengan cepat), orang-orang langsung kembali meneruskan aktivitasnya. Sedangkan Yuuma, dia masih merinding setengah mati dengan keringat dingin karena perlakuan Aria tadi.

.

.

.

Mereka masuk ke toko senjata api.

Si pemilik toko heran melihat ada wanita cantik berbaju indah dengan segala macam renda dan motif, masuk ke dalam sebuah toko senjata api yang berbahaya.

"A-ada yang bisa kubantu?" Ucap si pemilik toko.

Aria menunjukan kartu pelajarnya, si pemilik toko langsung menghela nafas lega, kecurigaannya sudah mengendur sedikit.

"Aku pesan 200 peluru kaliber .22 long rifle, 2000 peluru kaliber 9 x 19 mm Parabellum / Luger, 150 peluru kaliber .40 smith & Wesson, 500 peluru kaliber .223 remington, dan 500 peluru kaliber 7.62 x 39 mm." Ucap Aria, memesan lengkap.

"Tu-tunggu sebentar ya, saya akan mengecek persediaan." Ucap si pemilik toko.

'Gila! Dia mau menjalankan misi rahasia, apa mau ngajak perang satu batalion pasukan militer?!' Pikir Yuuma.

"Saya akan langsung kirim ke alamat akademi."

"Berapa biayanya?" Tanya Aria.

Si pemilik toko menunjukan nota pembayaran, Aria mengeluarkan sebuah kartu kredit dan membayarnya langsung.

Mereka pergi, si pemilik toko menundukan kepala sebagai ucapan terima kasih. Ketika mereka sudah agak jauh, Aria mengeluarkan kembali kartu kredit itu.

"Ini, aku kembalikan." Ucap Aria kepada Yuuma.

"Heh?"

"Ini punyamu. Kau berkata akan mentraktirku kan?"

Yuuma buru-buru mengambil dompetnya, dan dia tidak menemukan kartu kreditnya di sana.

"Ka-kapan kau mengambilnya?!"

"Saat kita makan."

"Aku memang bilang menraktirmu makan, tapi aku tidak bilang akan membayar semua belanjaanmu!" Teriak Yuuma geram.

Aria langsung mengeluarkan sebuah musket shotgun dan menodongnya ke arah Yuuma.

"Apa ada masalah? Setelah semua ejekan yang kau lakukan padaku?"

Yuuma buru-buru menggeleng, kalau senjatanya seperti ini, Yuuma bukan lagi akan bolong kepalanya, dia benar-benar akan meledak!

.

.

.

Sekarang, mereka berdua sedang duduk di sebuah kursi di taman, mereka memakan parfait bersama.

Setelah semua yang Aria lakukan kepada Yuuma, kini, Yuuma bisa melihat Aria tersenyum sambil memakan parfaitnya.

"Tunggu Aria, ada bekas eskrim di pipimu." Ucap Yuuma, dia mengeluarkan sapu tangan dan mengelap bekas es krim di pipi Aria.

Wajah Aria memerah, dia berpaling dari Yuuma dan mengatakan terima kasih. Tiba-tiba Yuuma memegang kepalanya, sebuah kejadian yang dia yakin tidak pernah ia ingat, berputar bagai kaset rusak di otaknya.

Aria langsung kaget dan berusaha memegang Yuuma, tapi sebelum Aria sempat memegang Yuuma, Yuuma mengucapkan sebuah nama.

"Pan... Do... Ra?"

Seketika, parfait Aria jatuh dari tangannya.

XOXOX

Chapter 8 selesai~~

Gila, absurd banget endingnya #PLAK

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian