.

LeChi's project proudly presents

.

.

.

CAFEIN for CAFEE: Everyday

.

.

.

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materiil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.

Eighth Ever Drabble:

.

.

late night-conversation? (c) Anne Garbo

.

.

Mereka duduk bersebelahan di sofa. Menonton film yang bercerita tentang sebuah kutukan di sekolah. Dan Seijuuro dapat merasakannya. Merasakan Kouki yang semakin lama semakin bergeser merapat pada sisian tubuhnya.

Seijuuro melirik. Melihat Kouki yang membuka dan menutup mata sambil terus menggigiti bibir. Ia melirik ke bawah. Melihat kedua tangan Kouki yang menggenggam erat kain celananya.

Seijuuro tersenyum. Dalam hati sebenarnya ingin menertawakan pemuda ini sekaligus memberikan apresiasi karena telah berusaha untuk menahan seluruh rasa takutnya.

Ia kembali melihat pada layar televisi. Menampilkan sebuah ruang tamu dengan penerangan gelap dan tak ada satu orang pun di sana. Seijuuro merasakan Kouki makin merapat. Kepalanya sedikit bersandar pada pundak Seijuuro. Ia juga dapat mendengar suara Kouki yang bergumam, "Pasti keluar.. sebentar lagi keluar.. pasti di sana.. pasti setannya akan keluar.. tidak.."

"Kouki," panggil Seijuuro. Kouki pun menengok.

Sesaat setelah Kouki menengok, tiba-tiba terdengar suara wanita berteriak histeris. Layar menampilkan wajah tak berbentuk penuh darah dan daging terkoyak. Untung saja Kouki tak melihat itu. Namun mendengar suara keras yang tiba-tiba membuatnya sedikit terlonjak dan reflek menutup mata.

Seijuuro mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi kekasihnya. Hal itu membuat Kouki membuka mata. Namun wajah ketakutannya berubah menjadi bibir mengerucut yang melengkung ke bawah. Karena ia melihat senyum miring Seijuuro seolah menertawakan ketakutannya.

"Aku tidak takut!" Kouki membela diri. "Aku hanya tidak suka dengan yang kaget-kaget," lanjutnya dengan suara yang lebih kecil.

Alis Seijuuro terangkat naik ketika Kouki membuang muka untuk kembali menatap layar. Tapi kepala Kouki masih bersandar di bahunya. Membuatnya mengarahkan tangannya yang masih menggantung di udara tadi untuk dipindahkan ke surai coklat milik Kouki. Mengelusnya pelan-pelan tanpa ada maksud lain dan terlebih Kouki membiarkannya begitu saja.

Seijuuro menyukai saat menyentuh rambut Kouki. Bukan berarti ia memiliki fetish pada rambut, tapi justru ia memiliki kesukaa aneh yang khusus pada Furihata Kouki. Karena semua hal yang berbau Furihata Kouki, ia pasti suka. Termasuk rambutnya.

Ia memajukan wajahnya. Mendekatkan hidungnya pada puncak kepala Kouki untuk menghirup aroma sampo dari sana. Menenggelamkan hidung dan bibirnya pada surai-surai cokelat yang memberikan sensasi lembut dan menggelitik.

"Wangimu beda, Kouki.."

"Hm?"

"Padahal kita memakai sampo yang sama, tapi wangimu beda."

Kouki bergerak. Tangannya beranjak dari atas tumpuan pahanya menjadi memeluk lengan Seijuuro yang ia pakai untuk bersandar.

"Mungkin perasaanmu saja."

"Hm? Benarkah?"

Kouki tak menjawab. Matanya kembali terpejam karena dalam film menampilkan ruangan gelap di mana si tokoh utama sedang berdiri sendiri di sana.

Seijuuro melirik sedikit ke layar lalu bergumam. Kembali menyibukkan diri dengan kesukaanya, ia melanjutkan membelai, mencium dan memainkan helaian rambut cokelat itu.

Namun tak lama Kouki menghentakkan pundaknya. Ia menegakkan badan, tak lagi bersandar. "Berat, Sei!" keluh Kouki.

Tapi Seijuuro tak ambil peduli. Kini gilian dia yang mencondongkan tubuhnya ke arah Kouki. Merentangkan tangannya yang kemudian dipakai untuk memeluk Kouki dari arah samping. Kouki terkukung, susah untuk bergerak.

"Sei," panggil Kouki dengan nada mengeluh.

Seijuuro tidak menjawab dan kembali menempelkan wajahnya pada surai kecokelatan milik Kouki, tepat di belakang telinganya. Membuat hembusan napasnya mengenai telinga Kouki. Membuat Kouki merinding.

"Isshh.. sedang apa sih?"

"Membauimu.," jawab Seijuuro enteng.

Lalu Seijuuro bergerak semakin ke bawah. Menuju tengkuk Kouki dan kembali menghirup aroma disana.

Kouki semakin merinding. Meski ia bergidik, wajah Seijuuro tak mau menjauh.

Seijuuro semakin jadi. Ia kini bergerak ke arah depan. Menuju pangkal leher Kouki sebelah kanan. Dan tangannya yang tadi diam kini turun dan mulai meraba perut Kouki.

Kouki mengerang. Tapi entah karena kesal, geli, atau mulai tidak sabar.

Karena Seijuuro hanya di sana. Membenamkan wajah di leher Kouki. Menempelkan hidung dan bibirnya dan hanya itu. Mengganggu tapi hanya setengah-setengah.

Kekesalan Kouki memuncak. Ia melempar tangan Seijuuro yang ada di perutnya kemudian dengan kedua tangan, ia mendorong Seijuuro mundur.

Dengan alis bertaut dan wajah memerah, Kouki bertanya dengan nada frustasi, "Kamu mau melakukannya atau tidak?!"

Seijuuro mengedipkan matanya dua kali. (Pura-pura) tidak menegrti.

"Mau melakukannya atau tidak?" tanyanya lagi. Wajahnya lebih merah sekarang.

"Melakukan apa?"

Kouki mengerang untuk ke sekian kalinya. "Kamu tau apa yang aku maksud!"

Kedua bahu Seijuuro berguncang dan Kouki sudah tau kalau kekasihnya ini sedang tertawa.

"Kenapa malah ketawa? Kamu dari tadi mengganggu acara menontonku tau!"

"Menonton apanya? Dari tadi matamu terpejam terus."

Kouki tidak menjawab dan wajahnya memerah lebih parah. Seijuuro tersenyum iblis kemudian berkata, "Jadi, mau melakukannya?"

Dengan itu Seijuuro dihadiakan sebuah pukulan bantal dan Kouki. "Aku tidak mau melakukan apa-apa!" ucapnya kemudian kabur menuju kamar dan menguncinya.

Tingkahnya membuat Seijuuro tertawa lepas sampai sakit perut.


end?


but their story is never end...


Kotak bacotan panitia:

BWAHAHAHA! Saya dipercayakan untuk mem-post dan untuk masalah publish-an, lumayan ribet, yah... biarkan saya culik Kouki yg manis dr chapter ini tanpa todongan gunting, oke? #avaan /laludisepakAkashi

dan tolong ya, Kouki sayang, kalo takut tuh bilang aja... ga perlu sok berani nanti kamu tambah manis, kalau tambah manis nanti diserang Akashi, meski lebih baik begitu sih... #HEH

Buat yang mau ngeramein CAFEE kita, AYO GABUNG! Caranya gampang, kok! Submit aja drabble everyday di menu grup CAFEIN. Atau hubungi aja author berpenname "Hi Aidi" via FFN, PM, review-an, fb, dan telepati! #woi

Atau silakan buka profil akun ini

Special thanks to: Anne Garbo

Para pembaca yang budiman dan baik hati, berniat me-review?