Sensei
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
.
(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan di dalamnya. Silahkan klik tombol "Back") DLDR! DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN!
Selamat Membaca!
-Sensei-
Keheningan menyelimuti mereka. Sakura dengan mata bulatnya terus menatap kearahnya dan membuat sesuatu dalam hatinya menjadi gugup. Bagaimana dirinya menjawabnya?
Dan ketukan pintu bagaikan dewa penyelamat baginya. Bangkit dari duduknya, Sasuke membukakan pintu.
"Layanan kamar."
Sasuke menganggukan kepalanya dan membiarkan pelayan hotel membawa masuk kereta makan. Pelayan berbaju putih itu meletakan berbagai makanan yang dipesannya untuk makan malam mereka hari ini.
"Apakah ada yang anda butuhkan?" tanya pelayan itu tersenyum genit. "Untuk pengantin baru, saya sarankan untuk mengenakan kondom."
Sakura bisa merasakan wajahnya merona merah. Dia mengalihkan pandangannya. Bagaimana bisa, gadis berusia tujuh belas tahun sepertinya mendengar kata yang lumayan vulgar seperti itu? Di tempatnya dulu, dia tidak pernah mendengar kata-kata yang berhubungan dengan 'seks' seperti itu, atau mungkin hanya dirinya yang terlalu polos?
Sasuke sendiri bisa merasakan pipinya memerah. Dia mendenguskan wajahnya.
"Hn, tidak perlu." Sasuke memberikan uang tips pada pelayan itu. "Kamu boleh keluar."
Pelayan itu mengedipkan satu matanya.
"Selamat bersenang-senang."
Sasuke menarik napas panjang dan memandang berbagai makanan yang ada diatas meja. Dia memandang Sakura yang wajahnya masih memerah.
"Ayo kita makan, Sakura."
"Tapi, pembicaraan kita-"
"Kita bisa bicarakan nanti, Sakura."
.
.
Malam sudah datang dan bulan sudah muncul menerangi malam. Jam sudah menunjukan pukul satu malam, tetapi Sasuke masih belum bisa memejamkan matanya. Onyx miliknya menatap Sakura yang tidur dengan posisi membelakanginya. Kakaknya sengaja memesankan ranjang yang terpisah, tentu saja kakaknya juga tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi.
Setelah makan malam, dia mengajak Sakura untuk melihat kembang api yang dimulai pukul sembilan malam. Setelah bercengkrama hingga pukul sebelas malam, Sakura akhirnya memutuskan untuk tidur. Gadis itu melupakan semua percakapan mereka tentang perasaannya.
Dia harus tidur, karena perjalanan mereka masih panjang.
-Sensei-
Pagi hari datang dengan cepat, Sasuke membuka matanya ketika matahari sudah meninggi. Dan ketika dia membuka matanya, dia menemukan Sakura sedang duduk dan memainkan ponselnya.
"Sasuke sensei sudah bangun?" gadis itu menghampirinya. "Aku ingin membangunkan sensei, tetapi sensei sepertinya terlalu lelah."
"Tidak apa." Sasuke mendudukan dirinya. Sakura bisa merasakan pipinya memerah. Rambut acak-acakan gurunya saat bangun tidur menambah kesan tampan dan seksi secara bersamaan.
"Aku akan mandi." Sasuke bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. "Jika kamu lapar, pesanlah sesuatu untuk dimakan, Sakura."
.
.
.
Sakura merasa kecewa karena hanya sehari liburan yang mereka jalani. Padahal, dia masih penasaran dengan alasan gurunya itu menciumnya, tetapi dia tidak mau terlalu percaya diri.
Dia masih ingat tentang pendapat gadis yang akan didapatkan oleh wali kelasnya. Dan tidak mungkin wali kelasnya itu menyukainya. Angan-angannya terlalu tinggi.
Seharian dia hanya menghabiskan waktunya di rumah. Ketika dirinya sampai di rumah, pelayan rumahnya mengatakan jika kakek dan neneknya pergi ke Korea untuk suatu urusan. Dan sekarang dia merasa bosan.
Dia ingin menghubungi Tenten, tetapi sahabat cepolnya itu sedang sibuk dengan Tokonya. Tenten mengatakan lewat pesan singkatnya, jika Tokonya seperti kebanjiran rezeki. Sangat ramai saat liburan seperti ini.
Sedangkan Hinata? Jangan ditanya, berkeliling eropa adalah hal yang paling di dambakan siapapun.
Mungkin, hal terbaik yang harus dia lakukan adalah mengistirahatkan tubuhnya. Dan berjalan-jalan keliling Tokyo keesokan harinya.
-Sensei-
"Terima kasih banyak."
Itachi mengusap peluhnya ketika pelanggannya pergi. Pagi-pagi begini, sudah banyak pelanggan yang datang ke Gallerynya.
Gallery miliknya tidak hanya menyediakan jasa melukis, tetapi juga menyediakan berbagai macam peralatan melukis. Dan akhir-akhir ini, minat penduduk Tokyo untuk meluksi menanjak pesat dan membuat Gallerynya laku keras.
"Itachi-nii?"
"Oh, Sakura." Itachi melepas apronnya. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya berjalan-jalan dan kebetulan lewat saja." Sakura tersenyum. "Kakek dan nenek berada di Korea dan aku kesepian. Apa aku bisa membantumu?"
Itachi tersenyum.
"Jika kamu tidak keberatan."
.
.
Sasuke membuka matanya ketika cahaya masuk ke dalam kamarnya. Setelah pulang dari Capypa Land, dia langsung merebahkan dirinya di ranjang dan tidur. Untuk seorang anak rumahan, dia bahkan lupa kapan terakhir kali pergi jauh seperti itu.
Memakai sendal rumahan miliknya, Sasuke melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Perutnya lapar dan minta diisi, mungkin dia bisa meminta kakak laki-lakinya membuatkan sesuatu untuknya.
"Sasuke sensei sewaktu kecil lucu sekali."
"Hahaha.. ya begitulah Sasuke."
Menyipitkan matanya, Sasuke mempertajam pendengarannya. Dia seperti mengenali suara yang sedang berbincang dengan kakaknya. Tetapi, dia tidak yakin apakah memang benar jika gadis yang selalu ada di pikirannya itu sedang berbincang dengan kakaknya.
Dan ketika dirinya sampai di Gallery, apa yang menjadi dugaannya benar.
"Sakura?"
Sakura yang sedang duduk bersama Itachi menolehkan kepalanya. Gadis berambut pink itu tersenyum ketika wali kelasnya muncul.
"Selamat pagi, sensei," sapa Sakura.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Sasuke benar-benar merasa surprise ketika melihat Sakura ada disini.
"Dia hanya kesepian karena Tsunade-san dan Dan-san pergi ke Korea. Jadi dia kesini dan membantuku."
Karena jiwanya masih belum berkumpul sepenuhnya, Sasuke masih merasa dirinya di alam lain. Otaknya yang biasanya jenius menjadi buntu.
"Sebaiknya kamu mandi, Sasuke." Itachi tersenyum.
"Hn."
.
.
Sakura tersenyum ketika pelanggan terakhirnya pergi. Selagi dirinya melayani pembeli, Itachi sibuk menyelesaikan lukisannya dan wali kelasnya sibuk meneliti ujian mereka. Melepas apronnya, Sakura berjalan mendekati wali kelasnya.
"Sensei, berapa nilaiku?"
Mengangkat kepalanya, mata hitam yang bersembunyi di balik kacamata itu membelalak. Jarak antara dirinya dan Sakura sangat dekat dan itu membuat sesuatu dalam dadanya berdetak dengan kencang. Mengalihkan pandangannya, Sasuke menjauhkan kertas ujian yang sedang dia teliti.
"Tidak boleh."
"Sensei pelit sekali!" Sakura menggembungkan pipinya kesal.
Itachi tersenyum tipis dan kembali menggerakan pensilnya. Melihat adiknya yang terlihat malu-malu itu membuat sesuatu dalam dirinya geli.
"Tunggulah sampai pembagian raport nanti." Sasuke bangkit dari duduknya. "Sebaiknya kamu menutup tokonya, Sakura."
Sakura merengut kesal dan bangkit dari posisi duduknya. Sasuke tersenyum tipis memperhatikan tingkah Sakura.
"Sasuke, setelah ini antarkan Sakura pulang."
.
.
"Terima kasih, sensei."
Sakura tersenyum ketika wali kelasnya itu mengantarkannya hinga depan rumahnya. Sasuke memasukan tangannya ke dalam saku celananya. Sebentar lagi akan memasuki musim dingin dan ternyata cuaca di luar sangat dingin.
"Sebaiknya kamu segera masuk." Sasuke menepuk kepala muridnya. "Tidak baik terlalu lama di luar."
"Hai'! Terima kasih sensei."
Sasuke membalikan badannya dan berjalan meninggalkan Sakura. Gadis berambut pink itu memegang dadanya yang berdebar. Entah mengapa, dia menyukai segala sentuhan dan perhatian kecil yang diberikan oleh gurunya.
-Sensei-
"Selamat pagi, Itachi-nii!"
Itachi baru saja membuka Gallerynya ketika Sakura datang. Gadis itu memakai pakaian musim dinginnya, udara di luar memang cukup dingin.
"Masuklah, Sakura. Udara dingin sekali." Itachi mengajak gadis itu masuk. "Sudah sarapan?"
"Sudah, Itachi-nii."
"Kalau begitu, mau membantuku?"
.
.
Sasuke membuka matanya ketika hidungnya mencium bau sesuatu yang lezat. Hidungnya bisa mencium aroma Pai tomat.
Tetapi, kemudian alisnya menyatu. Kalau begitu, siapa yang memasaknya? Kakaknya tidak bisa memasak Pai tomat dan ibunya tidak tahu jika dirinya tinggal disini bersama kakaknya untuk sementara.
Lagi pula, tidak ada yang mengetahui jika Pai Tomat adalah makanan kesukaannya.
Dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk, Sasuke melangkahkan kakinya menuju dapur. Dan seketika langkahnya terhenti.
Disana, terlihat seorang gadis berambut pink sedang memasak Pai Tomat. Dengan apron hitam milik kakaknya, Sakura terlihat sangat serius membuat sarapan. Di matanya, gadis berusia tujuh belas tahun itu terlihat sangat dewasa.
"Hn."
Sakura menolehkan kepalanya.
"Oh, selamat pagi, Sasuke sensei." Sakura tersenyum. "Aku membuatkanmu pai tomat."
Sasuke tidak buka suara, dia mendudukan diri di salah satu kursi. Tanpa bertanya, dirinya sudah tahu, jika kakaknyalah yang mengatakan tentang makanan kesukaannya.
"Mau Kopi?" Sakura menuangkan kopi ke cangkirnya. "Itachi-nii bilang, dulu Ibu kalian selalu membuatkan sarapan seperti ini. Lalu, Itachi-nii memintaku untuk membuatkan sarapan."
Pemuda berambut emo itu mengambil cangkir kopinya dan menghirupnya. Baunya harum dan ketika dia meminumnya, rasanya sungguh lezat. Tangan gadis berambut pink itu memang selalu bisa membuat makanan yang lezat.
"Oh, kalian sudah mulai sarapan." Itachi muncul sembari menyeka keringatnya. "Aku baru saja selesai membenahi genteng kita yang bocor."
Sasuke memandang kakaknya yang duduk di hadapannya.
"Whoah, Onigiri." Itachi mengambil satu onigiri yang ada di piring dan memakannya. "Enak sekali, masakanmu mengingatkanku pada masakan ibu kami. Benarkan, Sasuke?"
"Hn."
Sakura yang sedang menghidangkan sup Miso memandang keduanya.
"Memangnya, kemana ibu sensei dan Itachi-nii?"
Itachi merasa dirinya salah bicara. Sedangkan Sasuke menatap kakaknya dengan pandangan tidak suka.
"Ceritanya panjang." Itachi tertawa. "Ayo kita makan."
.
.
Cuaca kota Tokyo sangat dingin dengan banyaknya angin yang berhembus. Sakura mengusap hidungnya dan mengerjakan beberapa tugas rumah yang diberikan oleh gurunya. Dia sengaja membawa tugasnya di sela-sela kesibukannya menjaga Gallery milik Itachi.
Itachi sendiri menyelesaikan lukisannya. Karena cuaca yang sejuk, membuat banyak orang lebih suka menghabiskan waktunya di rumah dari pada diluar rumah.
Menggaruk belakang kepalanya. Sakura tidak mengerti dengan soal fisika dihadapannya.
"Mau aku bantu?"
Sakura bisa merasakan seseorang berada di belakangnya. Bau harum shampoo tercium begitu jelas. Sedangkan Sakura hanya terdiam di tempatnya, dia tidak bisa berkutik karena degub jantungnya yang berpacu dengan cepat.
"I-iya."
Sasuke menjelaskan beberapa hal yang tidak Sakura mengerti, tetapi dirinya sama sekali tidak memperhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh wali kelasnya itu. Dirinya sibuk mengatur detak jantungnya yang berdegub tidak karuan.
"Oi, kamu mendengarku atau tidak?"
Sakura tersentak dan menganggukan kepalanya. Sedangkan Itachi tersenyum kecil melihat tingkah Sakura. Gadis berambut merah muda itu tampak menggemaskan ketika gugup seperti itu.
Sasuke mengangkat bahunya acuh tak acuh dan berlalu dari situ. Dia akan mengganti pakaiannya. Sedangkan Sakura memandang soalnya dan mencoba mengerjakannya sebisanya.
Entah sejak kapan, dia menjadi gugup ketika berada di sisi gurunya.
.
.
Suasana kediman Senju terlihat sepi ketika Sasuke mengantarkan Sakura pulang. Setelah makan malam sederhana buatan Sakura, lalu dia harus mengantarkan muridnya pulang. Sakura membalikan badannya dan memandang wali kelasnya.
"Sensei mau mampir?"
Sasuke akan menjawab ketika terdengar suara petir disertai hujan yang tiba-tiba turun. Sakura menggenggam tangan wali kelasnya dan menariknya masuk.
"Ayo masuk, sensei!"
Musim dingin yang hampir tiba biasanya disertai dengan hujan yang tiba-tiba turun seperti sekarang ini. Seharusnya dirinya melihat acara ramalan cuaca terlebih dahulu tadi, sekarang dirinya terjebak badai yang mungkin akan berhenti cukup lama.
"Sepertinya hujannya akan reda cukup lama." Sakura tersenyum. "Akan aku buatkan teh hangat, sensei tunggu disini dulu."
Sasuke mendudukan dirinya di salah satu sofa dan merogoh ponselnya. Dia akan mengirimi kakaknya pesan dan mengatakan jika dirinya terjebak hujan dan pulang cukup lama.
Sembari menunggu Sakura datang, Sasuke mengotak-atik ponselnya. Dia tidak menyadari jika Sakura muncul dengan piyama pink yang menggemaskan.
"Ini teh hangatnya, sensei."
Sasuke mengangkat kepalanya dan lagi-lagi pipinya merona merah. Mungkin, bagi orang lain, Sakura dengan piyama pink miliknya terlihat cantik dan lucu. Tetapi di matanya, Sakura terlihat menggemaskan dan menggoda sesuatu dalam dirinya.
Sakura mengedip-ngedipkan matanya ketika melihat gurunya hanya terdiam memandanginya.
"Sensei?"
"Hn." Sasuke kembali ke dunia nyata. Dia mengambil cangkir yang disodorkan Sakura. "Terima kasih."
Mendudukan dirinya di samping gurunya, keheningan menyelimuti mereka. Sakura benar-benar tidak suka dengan suasana hening seperti ini. Dia ingin membuka percakapan, tetapi tidak ada topik yang ingin dia bicarakan.
"A-Ano.." Sakura memandang Sasuke. "Sensei belum menjawab pertanyaanku waktu itu."
Sasuke tidak terkejut mendengar perkataan muridnya. Dia tahu, cepat atau lambat Sakura pasti akan menanyakan hal ini lagi. Dan sekarang, dia sudah memiliki jawabannya.
"Hn, Aku mencintaimu."
Emerald yang indah itu terbelalak menatap dirinya.
"Sa-Sasuke sensei mencintaiku? Sejak kapan?" tanya Sakura.
"Sejak Tsunade-san memberikan fotomu padaku." Sasuke mengangkat dagu Sakura. "Aku tidak bisa menahannya lagi."
Bibir merah muda itu kemudian di pagutnya. Di lumatnya bibir Sakura yang terasa manis itu. Melumatnya kemudian memasukan lidahnya ke dalam mulut milik Sakura.
"Sensei.." pagutan mereka terlepas dan membentuk benang saliva yang menghubungkan mereka.
Wajah keduanya memerah dan suasana yang tadinya dingin terasa panas. Sasuke mengalihkan pandangannya kearah leher Sakura sebelum mengecupinya.
"Sensei.. oh.."
"Sialan, aku tidak bisa menahannya lagi." Sasuke bersiap membuka pakaiannya ketika Sakura menghentikannya.
"Sensei, jangan.."
Sasuke menganggap perkataan Sakura sebagai 'dia tidak boleh melakukannya disini.' Jadi, yang dilakukannya adalah menggendong Sakura dan merebahkan Sakura.
Wajah muridnya itu terlihat sangat menggemaskan ketika dirinya memandangnya. Wajah memerah dengan air liur di sudut bibir dan lehernya, kembali dirinya mengecupi leher itu. Menyesapi rasa harum tubuh Sakura.
Sakura menggeliat di bawahnya. Dan desahan pertamanya dikeluarkan ketika sebuah tangan meremas payudaranya dari luar. Sasuke dengan semangat meremas payudara kencang itu, dia benar-benar gemas dengan payudara sekal yang selalu menggodanya itu.
Dia diam-diam memperhatikan tubuh muridnya itu. Ketika pelajaran olah raga dan dia kebetulan lewat, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk memandang payudara kencang milik muridnya itu.
Setiap malamnya, dirinya selalu melakukan fantasi terliarnya dengan membayangkan Sakura. Dan ketika dia melihat Sakura dihadapannya, entah mengapa dia tidak bisa menahan lagi keinginannya untuk menjadikan Sakura miliknya seutuhnya.
Pipinya memerah ketika Sakura memandang wali kelasnya. Entah mengapa, di matanya gurunya terlihat sangat seksi sekarang. Wajahnya menyiratkan jika wali kelasnya itu sudah memendam apa yang menjadi gairah terpendamnya sejak lama.
"Sensei, jangan..."
Sasuke menghiraukan perkataan Sakura dan membuka piyama milik muridnya itu. Bra hitam yang membungkus payudara bulat nan kencang yang selama ini menjadi fantasinya. Sasuke sangat menyukai warna hitam dan Sakura telah memberikan daging lezat pada serigala yang lapar.
Sayang sekali, bra hitam itu harus terongok di lantai dan menampakan apa yang menjadi isinya. Sasuke bisa merasakan bagian bawahnya semakin menegang, dia semakin tidak sabar untuk menggempur gadis di hadapannya.
Mulutnya melumat puting kanan milik Sakura dan tangannya mulai berjalan menuju bagian bawah milik gadisnya. Sebentar lagi, gadis itu akan menjadi wanitanya. Dia sangat menyukai payudara itu, tak henti-hentinya dirinya mengemut dan menghisap payudara itu.
Suara desahan menggema di dalam kamar milik Sakura. Gadis berambut merah muda itu sudah tidak peduli dengan kerasnya suaranya. Dia hanya mempedulikan kenikmatan yang di dapatnya.
Dia bahkan tidak menyadari jika celana piyamanya sudah entah berada dimana. Tubuhnya sudah tak memakai sehelai benang pun lagi dan membuat nafsu Sasuke benar-benar berada di ubun-ubun.
Sasuke perlahan membuka pakaiannya. Sakura bisa merasakan pipinya terasa panas ketika melihat dada bidang nan berotot milik wali kelasnya. Dia baru menyadari mengapa para siswi di sekolahnya mengejar-ngejar wali kelasnya. Karena wali kelasnya itu sangat tampan dan seksi.
"Apa ini pertama kali bagimu?"
Sembari bertanya, Sasuke melepas celananya. Sakura malu ketika melihat kejantanan besar dan panjang milik wali kelasnya. Jadi rumor yang beredar tentang kejantanan besar milik wali kelasnya itu sungguhan. Kejantanan itu pasti akan memberikannya kenikmatan tiada terkira.
"Sensei, jangan.." Sakura memegang tangan Sasuke.
"Maaf, Sakura. Aku sudah tidak tahan."
Sakura berteriak ketika sebuah benda besar menerobos masuk ke dalam miliknya yang kecil. Sasuke melumat bibir Sakura dan menggenggam tangan mungil itu, mencoba memberikan kepercayaan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ketika Sakura mulai terbiasa, wanita itu balas mencium bibir gurunya. Dan itu adalah tanda bahwa wanita di bawahnya adalah miliknya. Perlahan, Sasuke menggerakan pinggulnya untuk mereguk kenikmatan duniawi.
.
.
.
"Oh.. sensei.."
Sakura sudah berubah posisi menjadi menungging. Gurunya itu masih saja menyodok miliknya hingga membuatnya bergerak tak tentu arah. Rasanya sungguh sangat nikmat, pantas saja banyak orang yang ketagihan melakukan seks. Sakura tidak tahu jika rasanya senikmat ini.
Sasuke sendiri memejamkan matanya dan fokus pada gerakan pinggulnya. Sakura menjepit miliknya dengan erat dan ini membuatnya merasa berada di surga.
Ini adalah yang pertama kali bagi keduanya. Entah itu Sasuke atau Sakura, ini merupakan pengalaman pertama mereka.
Tangan Sasuke terjulur untuk meremas payudara bulat nan kencang milik Sakura. Meremasnya dengan gemas dan kemudian memilin putingnya.
"Ah.. tidak sensei.. oh!"
"Jangan menjepitku terlalu erat, Sakura."
Sakura sudah tidak bisa berfikir lagi. Wanita itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika kenikmatan duniawi itu dia dapatkan lagi dan lagi.
Dan ketika Sasuke merasakan miliknya makin membesar dan menegang. Rasanya milik Sakura seperti semakin sempit.
Dan sedetik kemudian, Sasuke mengeluarkan spermanya.
-Sensei-
Sakura membuka matanya ketika sinar matahari masuk ke dalam celah kamarnya. Mengerjap-ngerjapkan matanya, Sakura merasakan seseorang memeluknya. Dan ketika dirinya menyadarinya, Sakura hanya bisa mematung di tempatnya.
Semalam, wali kelasnya itu selesai menuntaskan hasratnya hingga pukul empat pagi. Dia tidak tahu berapa kali dirinya mengeluarkan cairan cintanya dan wali kelasnya mengeluarkan spermanya. Dia terlalu berkonsentrasi pada kejantanan besar milik walli kelasnya yang menyodoknya.
Memejamkan matanya, tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.
Berapa banyak gadis yang telah ditiduri wali kelasnya?
Sasuke merasa tidurnya terganggu ketika Sakura menggerakan tubuhnya perlahan. Tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh muridnya dan menyembunyikan wajahnya diantara perpotongan leher Sakura.
"Hn, ada apa, Sakura?" tanya Sasuke dengan suara yang serak. Khas orang yang bangun tidur.
"Tidak ada apa-apa, sensei." Sakura membalikan badannya. Selimutnya dia gunakan untuk menutupi tubuhnya. "Aku hanya ingin tahu, berapa banyak gadis yang pernah sensei tiduri."
Sasuke memejamkan matanya.
"Satu."
Sakura tidak bisa menahan raut wajah kecewanya. Jadi dirinya adalah yang kedua bagi gurunya. Ada rasa kecewa karena merasa dirinya adalah seseorang yang spesial bagi gurunya.
Seharusnya dia tidak merasa percaya diri dan menganggap dirinya istimewa. Lalu memberikan tubuhnya pada gurunya. Apa bedanya dirinya dengan geng sexy girl itu?
"Dan itu dirimu."
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang wali kelasnya dengan pandangan tidak percaya.
"Sensei pasti berbohong."
"Untuk apa aku berbohong?" Sasuke membuka matanya. "Tanyakan pada Itachi, berapa banyak mantanku? Aku tidak memiliki mantan sema sekali, Sakura. Dan entah mengapa, pertama kali melihatmu membuatku langsung jatuh cinta."
Sakura terdiam.
"Lagi pula, aku bukanlah Naruto yang suka main perempuan."
Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk mencubit pinggang Sasuke. Wali kelasnya itu sedikit mengaduh sebelum memandang wajah Sakura yang menggemaskan.
"Sialan, Sakura! Melihat wajahmu membuatku ingin menyodokmu lagi!"
Posisi Sakura berubah telentang dibawah kungkungan Sasuke yang menatapnya dengan pandangan bernafsu.
Dan detik berikutnya, suara desahan Sakura memenuhi kamar disertai dengan suara decitan ranjang. Morning seks di pagi hari tidak akan ada salahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yuhuuuu~ adakah yang kangen dengan fict ini? entah kenapa pengen banget ngelanjutin fict ini, jadi di sela-sela kesibukan disempetin nulis sepatah dua patah kata wkkwkwkk..
Aneh ya? Konfliknya masih dirahasiakan.. di tunggu aja.. apakah yang akan Shion lakukan.. :3
Dan terima kasih untuk yang sudah mereview cerita ini.. jangan berhenti meski terkadang upnya kelamaan :3
Sekian cuapcuap gak penting dari Saku. See you in next chap!
-Aomine Sakura-
