"Disini kalian rupanya~"

Kemunculan Jongin sungguh mengejutkan Sehun. Pria berkulit pucat itu sampai dibuat menahan napas. Ia berusaha untuk tetap bersikap tenang dari luar, meski sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkannya saat ini.

Kacau.

Satu hal yang berada di pikirannya adalah situasi yang tak begitu menguntungkan. Ia yang sedang menggendong tubuh Baekhyun yang tak sadarkan diri, saat mereka masih berada dalam wilayah markas interpol dengan para interpol yang berburu mencarinya agar tidak melarikan diri, kini diperburuk dengan kemunculan Jongin yang tidak terprediksi sama sekali.

Apa yang harus ia lakukan?

"Abaikan saja Jongin," Suara Kyungsoo terdengar dari earphone di telinga Sehun. "Dia tidak akan menyerangmu di wilayah markas interpol, akan sangat tidak menguntungkan posisinya jika dia mengambil keputusan itu. Kau cepatlah kesini, aku sudah siap dengan mobil di belakangmu."

Meski begitu, Sehun tetap tidak menurunkan kewaspadaannya dari sosok Jongin di hadapannya. Ia sudah cukup lama mengenal Jongin, jadi tak menutup kemungkinan jika pria berkulit tan itu mengambil keputusan riskan.

Jongin terkekeh ringan. "Ada apa dengan ekspresimu itu, hm? Kau tidak tahu aku baru saja menyelamatkanmu dengan mengecoh para interpol itu?"

"Apa yang kau lakukan disini?" Alih-alih, Sehun justru melemparkan sebuah pertanyaan.

"Hanya sedang memastikan." Jongin menatap Baekhyun, tersenyum miring. Lalu menusuk manik Sehun yang terlihat awas. "Kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau punya mainan baru? Kupikir kita cukup akrab untuk berbagi cerita mengenai hal semacam ini. Tapi ternyata tidak?" Ada sinar marah yang tersembunyi di balik tatapan pembunuh bayaran itu. "Kenapa kalian menyembunyikan hal ini dariku?"

Sehun tak langsung membalas. Suara-suara gaduh para interpol yang sedang berlarian terdengar dari dalam gedung di belakang Jongin. Tak banyak waktu tersisa sebelum mereka ditemukan. Sehun-pun segera membopong tubuh Baekhyun, berjalan melewati Jongin.

"Terima kasih atas bantuanmu, Jongin-ah. Tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk kita berbicara panjang lebar." Sehun tersenyum tipis pada Jongin. "Senang bertemu denganmu disini, omong-omong." Dan sedikit berbasa-basi sebelum akhirnya ia pergi dari sana, berlari cepat ke arah mobil Kyungsoo yang sudah menunggunya.

Jongin tak berniat mengejarnya. Persis seperti kata Kyungsoo, Jongin tak'kan melakukan aksinya di wilayah markas interpol. Sejak awal, pria tinggi itu hanya ingin memastikan sendiri tentang segala informasi yang ia dapatkan dari Junior. Apa benar Sehun ada hubungannya dengan Raven? Dan jawabannya sudah ia dapatkan.

Mata Jongin sempat bertemu pandang dengan Kyungsoo yang berada di dalam mobil. Tatapan tajam Jongin tak berubah, dan Kyungsoo cukup tahu apa yang ada dalam pikiran pria berkulit tan itu. Bahwa dia tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi, tak peduli bahkan jika dia nantinya akan melawan Sehun, dia tetap akan menyelesaikan misinya—membunuh Raven.

Karena itulah prinsip pembunuh bayaran seperti mereka.

.

.

.

###

Azova10 and Sayaka Dini

presents

RAVEN

Chapter 7 Difficult Position

Main Casts: Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Casts : Choi Seunghyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Gong Yoo, Kim Jongdae, Kim Minseok

Genre : Romance, Crime/Action

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

FF INI TIDAK BERMAKSUD MENYINGGUNG UNSUR SARA ATAU SIAPAPUN

###

.

.

.

Bentuk langit-langit kamar yang begitu asing menjadi pemandangan pertama yang dilihat Baekhyun setelah sadar. Ia menoleh ke samping kiri, semakin merasa asing dengan pintu lemari besar yang menempel di dinding. Setelahnya ia menoleh ke kanan. Baru menyadari ada beban yang menimpa lengannya—kepala seseorang yang sedang berbaring di sisi ranjang dalam posisi duduk dan memegang tangannya.

Baekhyun berkedip, mencoba mencerna apa yang mungkin saja terjadi selama ia tak sadarkan diri. Hal terakhir yang ia ingat adalah..ciuman Chanyeol, lalu sekumpulan asap yang entah datang dari mana.

Sekarang Baekhyun mulai bisa menebak apa yang sudah terjadi.

"Kau sudah bangun," Sehun mengangkat kepalanya. Dia sadar setelah merasakan pergerakan tangan Baekhyun yang ia genggam. Namun secepat itu pula Sehun melepaskannya, bertindak seolah-olah ia tidak sengaja menyentuhnya saat Baekhyun tidur. "Syukurlah kalau kau sudah bangun." Sehun berdiri. Gerakannya sedikit kikuk. Ia sendiri tak mengerti kenapa tingkahnya tiba-tiba jadi begitu. "Aku.." Sehun menggosokkan telapak tangannya yang basah ke sisi celananya. "Aku akan mengambilkan makan malam untukmu."

"Kenapa?" Suara Baekhyun menghentikan gerakan Sehun yang ingin berbalik. "Kukira urusan kita berdua sudah berakhir. Kenapa kau malah merepotkan dirimu untuk menyelamatkanku?'

Sehun tak bisa langsung menjawabnya. Tatapan amarah yang ditunjukkan Baekhyun, sama sekali tak membuat Sehun mengerti. Kenapa ia marah setelah dibebaskan?

"Kau.." Suara Baekhyun bergetar, menahan kepedihan dan amarahnya yang belum padam. "Kau sama saja dengan mereka."

Dituduh hal yang tidak jelas, lantas membuat alis Sehun berkerut. "Apa yang kau bicarakan?"

"Kau menyelamatkanku hanya karena ingin memanfaatkanku, iya'kan?"

Sehun terkejut. "Aku tidak–"

"Jangan mencoba membohongiku!" bentak Baekhyun. "Sejak awal kau juga hanya mempermainkanku—sama seperti mereka. Dengan manis mengatakan akan membantuku, tapi pada akhirnya hanya memanfaatkanku demi kepuasanmu sendiri!"

"Yak, aku tidak–"

"Kau bilang akan membantuku membunuh Kardinal Cheon! Tapi sampai sekarang, setelah aku membantu dalam dua misimu, kau tidak melakukan apapun!"

"Dengarkan aku dulu–"

"Kau menyelamatkanku karena menginginkan sesuatu dariku, iya'kan?!"

"Astaga. Aku tidak berpikiran seperti itu, Baekhyun!" sangkal Sehun.

"Kalau begitu, kenapa?! Kenapa kau membebaskanku?!" Baekhyun kukuh dengan tuduhannya. "Dengan alasan apalagi kau membebaskanku?!"

"KARENA AKU MENYUKAIMU!"

Baekhyun mematung. Ia pikir ia telah salah dengar, atau setidaknya Sehun hanya mempermainkannya. Tapi melihat wajah Sehun yang tiba-tiba memerah dengan bibir mengatup rapat, Baekhyun tiba-tiba jadi ikut canggung.

"Oh, sial," umpat Sehun kemudian. Ia baru menyadari kesalahan mulutnya. Kenapa pula ia harus meneriakkan hal itu? Tak ingin semakin malu dengan ungkapan perasaannya dalam situasi seperti ini, Sehun segera berbalik. Berjalan cepat meninggalkan kamar.

Sementara di belakang sana, Baekhyun terdiam. Pria mungil itu terlalu terkejut hingga tak tahu harus melakukan apa.

.

.

Lima belas menit kemudian, Kyungsoo memasuki kamar sambil membawa nampan berisi makan malam dan segelas air putih. Ia menaruhnya di atas nakas, lalu duduk di sebelah ranjang. "Apa kau baik-baik saja?"

Baekhyun mendengus. "Bukankah pertanyaan itu lebih pantas untuk kalian?" balasnya. "Kalian sudah menantang para interpol dengan membebaskanku dari sana. Itu akan menjadi lebih sulit untuk kalian."

Kyungsoo tersenyum, tapi secepat itu pula ia menghilangkannya. Ia berdehem pelan. "Itu bukan masalah, karena kami juga sudah memutuskan untuk berhenti. Setelah misi terakhir membantumu membunuh Kardinal Cheon, aku dan Sehun akan melarikan diri dari negara ini. Memulai hidup baru di Finlandia. Tabungan kami sudah cukup untuk hal itu."

Kening Baekhyun berkerut. "Kalian akan berhenti? Kau yakin dengan hal itu?"

"Mm-hm." Kyungsoo mengangguk mantap. "Kau sendiri bagaimana? Apa yang akan kau lakukan setelah berhasil membunuh Kardinal Cheon?"

Baekhyun termenung. "Aku..tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya," Suaranya mengecil. Sekelebat sosok Kardinal Cheon terlintas dalam benaknya, mengingatkannya pada dendamnya. "Aku..hanya ingin..membunuhnya. Itu saja." Tangan Baekhyun mengepal, meremas selimut di atas tubuhnya.

"Kau terlalu berharga untuk melakukan hal itu.."

Tapi suara Chanyeol yang tergiang di telinga, kemudian menyentakkan Baekhyun. Kepalan tangannya perlahan terbuka. Rasa bersalah telah menyembunyikan jati dirinya selama ini dari Chanyeol, lagi-lagi menyesakkan jantung pria mungil itu.

"Kalau begitu, kau ikut saja dengan kami ke Finlandia," usul Kyungsoo.

"Apa?" Ajakan itu sontak mengejutkan Baekhyun.

"Well, kau tidak punya siapa-siapa lagi disini, bukan? Jadi kenapa tidak ikut dengan kami saja nanti? Aku juga.." Kyungsoo malu mengakuinya, tapi ia berusaha mengatakannya. "Mulai merasa nyaman denganmu. Jadi, bagaimana? Kau mau ikut dengan kami atau tidak?"

Sedikit banyaknya Baekhyun tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, tapi ia tahu Kyungsoo tulus dengan ucapannya itu. Terenyuh, Baekhyun-pun tersenyum. "Aku ikut."

Kyungsoo tak bisa mencegah dirinya untuk membalas dengan sebuah senyuman.

.

.

"Apa?!" Sehun berdiri dari duduknya di sofa, menatap tak percaya pada Kyungsoo. "Kenapa kau mengajaknya?"

"Kenapa tidak?" Kyungsoo mengedikkan bahu. "Lagipula, aku tahu pasti kau sangat senang dengan ideku ini~" Ia tersenyum menggoda ke arah sepupunya.

"Aku tidak–" Ekor mata Sehun menangkap keberadaan Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar, berdiri di ambang pintu sambil balas menatap Sehun. Pria tampan itu merasa wajahnya tiba-tiba memanas, pun dengan Baekhyun yang memikirkan hal sama mengenai kejadian beberapa menit lalu di kamarnya.

"Um.." Baekhyun menggaruk lengannya yang tak gatal, maniknya menatap objek lain selain obsidian Sehun. "Bisa aku bicara denganmu sebentar?"

Mendadak, Sehun merasa tenggorokannya terasa sangat kering. Pria berkulit pucat itu cepat-cepat berdehem, lalu menjawab dengan intonasi datar, "Tentu."

Keduanya kemudian pergi menuju balkon, meninggalkan Kyungsoo dan kekehannya. Pria bermata besar itu pikir kali ini ia akan memberikan lebih banyak ruang untuk Sehun dan Baekhyun. Jadi, iapun mengambil jaket dan rokoknya, pergi ke pinggiran sungai Han.

.

.

Sehun bersandar pada pagar pembatas balkon begitu menutup pintunya. Ekor matanya melirik sekilas ke arah Baekhyun, memerhatikan gerak-gerik si mungil yang tampak canggung padanya. Ugh, ini bukan situasi yang menyenangkan. Lamat-lamat, Sehun berharap ini bukan tentang kekonyolan mulutnya tadi.

"Kau mau bicara apa?" tanya Sehun tanpa basa-basi.

"I–itu.." Baekhyun memainkan jemarinya. "Aku..minta maaf, telah menuduhmu yang tidak-tidak." Jeda sejenak. "Pikiranku kacau sekali setelah semua yang terjadi. Aku tak tahu lagi bagaimana cara mengontrol emosiku. Semuanya keluar begitu saja tanpa bisa kupikirkan matang-matang. Karenanya, maafkan aku.."

Daripada merasa puas telah mendapatkan permintaan maaf dari Baekhyun, Sehun justru lebih merasa iba. Bagaimana air muka pria mungil itu tampak lebih kacau dibandingkan sebelum-sebelumnya, juga tubuh yang semakin kurus semenjak pertama kali mereka bertemu. Sehun penasaran. Seburuk apakah masa lalu Baekhyun sampai membuatnya ingin membunuh empat pastor dan Kardinal Cheon?

"Kenapa kau membunuh mereka?" Tak bisa mengubur rasa penasarannya, Sehun akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Apa yang sebenarnya telah mereka perbuat padamu, sampai kau berbuat sejauh ini?"

Tubuh Baekhyun menegang mendengar pertanyaan itu. Ia tak pernah menyangka Sehun akan menanyakan hal itu, padahal selama ini sikapnya terkesan cuek.

"Aku tahu ini bukan urusanku. Tapi jujur saja, aku cukup penasaran." aku Sehun. "Aku sendiri yang lebih sering membunuh orang dibandingkan kau, tak pernah menyimpan dendam sampai ingin membunuh seseorang." Ia menatap lurus ke dalam hazel Baekhyun. "Kalau aku boleh tahu, kenapa?"

Baekhyun tak segera menjawab. Ia hanya balas menatap ke dalam manik kelam Sehun, seolah mencari sesuatu di dalamnya. Keduanyapun terdiam cukup lama. Baekhyun sebenarnya bisa saja tak menjawab pertanyaan Sehun, karena itu bukanlah paksaan. Namun entah kenapa, tatapan Sehun membuat dadanya sesak. Ia ragu.

Tak kunjung direspon, Sehun-pun tersenyum kecut. "Tidak apa jika aku tidak boleh tahu." Tangannya terulur ke puncak kepala Baekhyun, mengelus lembut surai dirty blonde itu. "Tapi setidaknya bersemangatlah sedikit. Kau jelek kalau sedang murung. Aku lebih suka kau yang cerewet."

"Eh?" Baekhyun berkedip terkejut. Pipinya merona tanpa dikomando.

"A–ah..itu..maksudku–" Sadar dengan ucapannya, Sehun segera menarik tangannya. Wajahnya lagi-lagi terasa panas. Atmosfer canggung itu kembali datang di antara mereka. Dan sialnya, sekeras apapun Sehun memikirkan alasan untuk berdalih, ia tak bisa memikirkan alasan yang bagus. Sementara pipi Baekhyun yang merona itu benar-benar tak membantu situasi Sehun, apalagi menenangkan detak jantungnya. Ia blank. "Aish, kenapa aku seperti orang tolol begini?" umpatnya sambil memukul-mukul mulutnya.

Melihat tingkah Sehun yang berbeda jauh dengan sifat menyebalkannya selama ini, entah kenapa Baekhyun jadi ingin tertawa. Baginya, ini adalah hal langka untuk melihat Sehun yang salah tingkah. "Hahaha~"

Merasa menjadi objek tawa Baekhyun, Sehun mengernyitkan dahinya bingung. "Apanya yang lucu?" tanyanya polos.

"Tidak seperti kau saja."

Dibuat semakin bingung, Sehun-pun menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"

Baekhyun hentikan tawanya. Ia hadapkan tubuhnya ke ruang hampa di depan balkon, menatap beberapa kilauan di langit malam. Senyumannya tampak miris. Ia sudah memutuskan. Ia akan menceritakan kisahnya pada Sehun.

"Aku..memiliki sejarah buruk dengan mereka."

"Sejarah buruk?" tanya Sehun. Ia mulai menerka-nerka. "Seburuk apa?"

"Aku.." Baekhyun menjeda, pandangannya masih menerawang ke depan. Tenggorokannya seketika terasa sakit saat menelan paksa ludahnya. "Sewaktu kecil, aku pernah dilecehkan oleh empat pastor itu." Lalu melirik Sehun di sampingnya. "Dan Kardinal Cheon adalah pengubur kebusukan mereka."

Hening.

Tak ada komentar dari mulut Sehun. Pria tinggi itu membeku, tampak sangat terkejut dengan pengakuan Baekhyun yang sebelumnya tak pernah ia ketahui. Sungguh, di antara semua tebakannya, tak sekalipun ia menyangka Baekhyun pernah menjadi korban pelecehan, dan tersangkanya adalah orang-orang yang berprofesi sebagai pastor.

"Sebegitu mengejutkannyakah?" Baekhyun membelah keheningan itu. Netranya bergulir ke arah lain, tak bisa menatap obsidian Sehun terlalu lama. Ia malu. "Kau merasa jijik padaku sekarang? Kenyataan bahwa aku pernah dilecehkan empat pria yang jauh lebih tua dariku?"

Sehun masih bungkam. Bukannya tak peduli, ia sungguh tak tahu harus merespon bagaimana. Pengakuan Baekhyun terlalu mengejutkan, dan Sehun terlalu marah sekarang. Kedua tangannya mengepal sempurna di sisi tubuhnya. Darahnya serasa mendidih, membuat jantungnya berdentum keras, dengan gigi-gigi bergemeletuk di dalam mulut.

Semuanya terasa masuk akal kini. Ketika Baekhyun sangat marah pada Sehun karena telah merobek lengan bajunya, ketika tadi Baekhyun menuduh Sehun 'memanfaatkannya', juga tatapan penuh dendam yang Sehun lihat dalam manik hazel Baekhyun. Semua itu..karena rasa sakit yang pernah dialami si mungil dulu.

Trauma yang lekat membekas.

"S–Sehun?" Baekhyun tergagap saat Sehun tiba-tiba memeluknya. Bola matanya bergerak gelisah. "A–apa yang kau laku–"

"Aku akan membantumu membunuhnya." Sehun mendesis. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang memukul telak dadanya. "Kardinal Cheon..akan kupastikan pria tua itu membayar semuanya padamu."

Baekhyun termangu. Ia tak menyangka seorang Oh Sehun yang mengucapkan kalimat barusan padanya. "Kau..bersungguh-sungguh?" tanyanya ragu-ragu.

"Ya." tandas Sehun. Tatapannya nyalang penuh emosi. "Itu adalah janjiku."

Baekhyun tak bisa berkata-kata lagi. Ia tahu ia tak seharusnya memercayai ucapan penjahat macam Oh Sehun begitu saja—terlebih sebuah janji, tetapi sesuatu meluluhlantakkan pemikiran itu. Tak tahu bagaimana menjabarkannya, tapi yang pasti ucapan Sehun meringankan sedikit beban di dada Baekhyun. Ini pertama kalinya seseorang mendukung penuh rencananya. Menenangkannya tak hanya dengan pelukan dan ucapan, tapi juga menemaninya dalam jalan yang ia pilih.

"Kau..tak'kan mengecewakanku'kan?" Tangan Baekhyun meremas kuat baju Sehun. Airmatanya menumpuk di pelupuk matanya. "Janji itu..bukanlah bualan semata'kan? Kau benar-benar akan membantuku membunuh Kardinal Cheon, iya'kan?"

Sehun tersenyum kecil. "Kau lupa membunuh adalah pekerjaanku, hm?" Tangannya mengelus punggung si mungil—menenangkannya. "Kau bisa pegang janjiku, Baek."

Runtuh sudah pertahanan Baekhyun. Tangannya balas memeluk Sehun. Airmatanya jatuh satu persatu tanpa bisa ditahan lagi. Ia terisak di pelukan pria tinggi itu.

.

.

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi saat mobil yang dikendarai Kyungsoo berhenti di pinggiran sungai Han. Pria mungil itu keluar mobilnya, dengan santai mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus rokoknya setelah memastikan keadaan di sekitarnya aman. Tak terlihat keberadaan siapapun disana, terutama Jongin.

Setelah kejadian beberapa jam yang lalu di markas interpol, Kyungsoo tak bisa berhenti mencemaskan kemunculan Jongin. Ingatan tentang tatapan tajam pria berkulit tan yang tertuju pada Baekhyun dan Sehun itu kembali mengganggunya. Kyungsoo sangat tahu bagaimana sifat Jongin. Ia adalah pembunuh yang tak ambil pusing dengan siapapun lawannya. Ia akan muncul di saat-saat tak terduga, lalu membunuh targetnya dengan cara tak menyenangkan.

Kejadian di markas interpol tadi malam hanyalah sebuah keberuntungan. Sehun dan Baekhyun tak bisa dipastikan selamat jika saja mereka tak berada dalam wilayah musuh, apalagi situasi Sehun yang tak begitu menguntungkan waktu itu. Karenanya, Kyungsoo harus menyusun siasat cerdas untuk mencegah hal-hal yang akan ia sesali nantinya.

Tapi, bagaimana?

TUK.

Baru saja Kyungsoo mulai berpikir, sebuah benda aluminium tiba-tiba menempel di belakang kepalanya.

"Antar aku ke tempat Raven berada."

Itu Jongin, menodongkan pistol Walther P99 kepadanya.

.

.

Sehun melirik Baekhyun setelah beberapa saat diisi dengan keheningan. Pria mungil itu sudah berhenti menangis, dan kini tengah memandang langit malam.

"Kau tidak mengantuk?" Sehun bertanya.

Baekhyun menggeleng. "Daripada mengantuk, lebih tepatnya aku lapar."

Alis Sehun terangkat sebelah, menatap Baekhyun dengan pandangan aneh. "Bukankah kau baru makan satu jam yang lalu?"

Baekhyun mengedikkan bahunya cuek. "Aku selalu lapar setelah menangis." Sehun mendengus geli mendengar alasan konyol itu. "Omong-omong, kalian benar-benar akan pergi ke Finlandia setelah membantu misiku?"

"Begitulah. Kami pikir, memulai semuanya dari awal lagi di tempat yang tak seorangpun mengenal kami, bukanlah pilihan yang buruk."

"Begitu." Baekhyun mengangguk paham. "Tapi, kenapa Finlandia?"

Sehun nyengir bocah. "Karena tak'kan ada yang mencari kami sampai kesana. Dan lagi, Finlandia adalah salah satu negara teraman di dunia. Kami menyukainya."

Baekhyun terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya kala teringat dengan ajakan Kyungsoo. "Kau..keberatan jika aku ikut?"

Kali ini, Sehun yang terdiam. Jujur saja, ia tak sedikitpun merasa keberatan dengan kehadiran Baekhyun, terlebih semenjak si mungil menempati sudut hatinya. Yang menjadi pokok permasalahan justru keinginan Baekhyun sendiri.

"Pertanyaan itu sepertinya lebih cocok jika kau ajukan pada dirimu sendiri." ucap Sehun. Obsidiannya menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tahu sendiri saat kau memutuskan untuk pergi bersama kami, maka kau tak'kan pernah kembali kesini. Itu artinya kau tak'kan pernah bertemu dengan Park Chanyeol lagi, kau..tak keberatan dengan hal itu?"

Baekhyun tersentak dibuatnya. Ia menunduk, lamat-lamat menahan gejolak tak mengenakkan di dadanya.

"Bahkan jika sejak awal rasa cintamu padaku hanyalah bentukkepura-puraan demi mewujudkan dendammu itu. Aku tetap mencintaimu, Baek.."

Baekhyun masih mencintai Chanyeol.

"Aku tak punya pilihan lain, bukan?" Baekhyun balik bertanya. "Sejak awal, jalan kami sudah berbeda. Tidak seperti Chanyeol, aku tak pernah benar-benar ingin menjadi seorang interpol. Fokusku hanyalah menyelesaikan misiku. Mengesampingkan perasaanku padanya, aku tak ingin ia terlibat terlalu jauh ke dalam masalahku. Jadi, mau tak mau.." Baekhyun tersenyum miris. "Aku harus meninggalkannya.."

Sehun termangu. Ia tak tahu harus bagaimana meresponnya. Ia senang dengan keputusan Baekhyun yang ingin ikut dengannya ke Finlandia, tapi juga kesal melihat betapa besarnya cinta si mungil untuk Chanyeol. Sehun cemburu.

"Aku tak tanggung jawab kalau kau menyesal dengan keputusanmu itu." ucap Sehun dengan raut kelewat datar.

Baekhyun memutar bola matanya bosan. "Khawatirkan saja bahasa Finlandia-mu, Tuan Oh."

Sehun balas dengan mencibir. "Seperti kau bagus berbahasa Finlandia saja."

"Omong-omong, Kyungsoo pergi kemana?" Baekhyun mengalihkan topik pembicaraan seraya melirik jam dinding melalui kaca balkon. Pukul tiga lewat tiga puluh dua menit. "Bagaimana dengan sarapan lebih awal? Kau punya strawberry di lemari es-mu? Aku berpikir untuk masak strawberry pancake."

Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Kau bisa memasak?"

"Tentu saja bisa, kau pikir siapa yang memberiku makan setelah aku kabur dari Gwangju?"

Sehun menganga, antara takjub dan terkejut. "Wow, itu adalah kejutan."

Baekhyun berkacak pinggang kesal. "Yak, apa maksud ucapanmu itu? Kau menyindirku?"

"Oh, tidak, tidak." Sehun menyeringai jahil. Ia jadi ingin menggoda si mungil bersurai dirty blonde itu. "Hanya saja itu agak mengejutkanku saat kau bilang kau bisa memasak, sementara image-mu tak terlalu mendukung."

"Apa katamu?!"

Sehun tertawa nista setelahnya. Ia tinggalkan balkon, sama sekali tak mengindahkan kekesalan Baekhyun di belakang sana. Pikirnya, biar saja. Hitung-hitung pelampiasan kecemburuannya. Heh.

Bersamaan dengan Sehun yang memasuki ruang tengah, pintu apartemen dibuka dari luar. Sepertinya itu Kyungsoo.

"Hey, kau baru pu–" Ucapan Sehun terhenti lantaran pemandangan di hadapannya. Ia membeku di tempat melihat dua pria yang baru saja memasuki apartemennya. Itu Jongin yang menempelkan pistol di leher Kyungsoo.

"Kita bertemu lagi, Sehun~" Jongin menyapa dengan seringaian.

"Apa yang kau lakukan disini?" desis Sehun. "Cepat lepaskan Kyungsoo."

"Jangan kasar begitu, Sehun-ah. Itu bukan tindakan yang tepat ketika aku menyandera sepupumu."

Sehun mengepalkan tangannya, menahan amarah. "Apa maumu, hah?"

Senyuman penuh kemenangan menghiasi bibir tebal Jongin. Ia suka sekali dengan Sehun yang cepat tanggap akan maksud kedatangannya. "Aku kemari untuk menawarkan sesuatu padamu."

Dahi Sehun berkerut bingung. Firasatnya mulai tak enak. "Menawarkan apa?"

"Kita lakukan pertukaran." ucap Jongin. "Aku akan melepaskan Kyungsoo, dan kau akan memberikanku Raven."

Tak ada raut terkejut sama sekali di wajah Sehun. Sedikitnya ia sudah menebak niatan Jongin ketika tadi pria berkulit tan itu mengatakan 'pertukaran'. Sial. Ia benar-benar dimanfaatkan.

"Jangan dengarkan dia, Sehun." Kyungsoo mendesis dengan suara bergetar. "Jangan melakukan tindakan bodoh tanpa persetujuanku."

"Kau diam saja, Kyungie~" Jongin semakin menempelkan moncong pistolnya ke leher Kyungsoo, membuat wajah si mungil kian pucat. Jongin lalu kembali menatap Sehun. "Jadi, apa keputusanmu? Kau tahu penawaranku tak memakan waktu lama, Sehun-ah."

Sehun mendesis kesal. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah menahan amarah yang hampir pecah. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi tak tahu tindakan mana yang lebih tepat untuk dilakukan. Haruskah ia menukarkan Baekhyun demi Kyungsoo? Tapi bagaimana jika tindakan itu melayangkan nyawa Baekhyun? Tapi jika tidak begitu, Kyungsoo yang akan mati di tangan Jongin.

Apa yang harus ia lakukan?

"Kenapa begitu lama, hm? Apa yang membuatmu ragu? Raven bukanlah siapa-siapa, tapi Kyungsoo adalah sepupumu. Apa kau–" Ucapan Jongin terhenti saat ia baru menyadari sesuatu yang aneh. Senyuman jahil kemudian tercetak di sudut bibirnya. "Ah~ kau menyukai si Raven itu rupanya." Ia terkekeh. "Aigoo~ apa yang membuatmu sampai jatuh cinta padanya, hm? Apa dia menggodamu di ranjang?"

Sehun menatap nyalang Jongin. "Tutup mulutmu, breng–"

SYUT!—Sebuah pisau lipat tiba-tiba melayang ke arah Jongin, dan menancap tepat di tangannya yang memegang pistol.

"AARGH!" Jongin berteriak. Tangannya refleks melepaskan pistol itu.

Di saat bersamaan, Kyungsoo memanfaatkan keadaan tersebut dengan menginjak kaki Jongin, lalu menendang pistol Walther P99 itu pada Sehun. Sementara Sehun memungut pistol itu, Kyungsoo berlari untuk melindungi dirinya. Namun sayangnya–

DOR!

Mata Kyungsoo membulat utuh—kaget—saat sebuah peluru mengenai punggungnya. Langkah pria bermata besar itu berhenti tak jauh dari tempat Sehun berdiri, sempat melirik Jongin di belakangnya—yang ternyata memiliki pistol cadangan di balik jaketnya—dengan raut kecewa, sebelum akhirnya jatuh terjerembab ke lantai.

"KYUNGSOO-YA!" seru Sehun dengan bola mata membeliak. Ia berlari menghampiri Kyungsoo. Dipeluknya tubuh mungil itu tanpa menghiraukan darah sepupunya yang mengotori kemejanya, lalu membalas Jongin dengan tembakan beruntun.

DOR! DOR! DOR!

Sialnya, Jongin bergerak cepat. Ia hindari tembakan itu dengan berguling ke balik pilar, sehingga peluru-peluru tersebut mengenai beberapa barang di sekitarnya.

"Sialan." umpat Jongin. Sambil menahan rasa sakit, ia hentikan pendarahan di tangannya dengan saputangan. Ia tatap sekelilingnya dengan awas, terutama orang yang tadi menancapkan pisau lipat ke tangannya. Pikirnya, itu pasti Raven. Sosok itu ada di dalam ruangan yang sama dengannya. Tapi, dimana?

SYUT!

Siluet seseorang yang berjarak beberapa meter dari Jongin, lantas menjawab pertanyaan si jangkung berkulit tan. Itu Baekhyun, tengah berlari menuju pintu keluar. Dengan cepat, Jongin membidiknya. Namun belum sempat ia meluncurkan tembakan, peluru lain datang mengincarnya.

DOR! DOR!

Peluru Sehun menembak pilar yang melindungi Jongin, menahan pria berkulit tan itu agar tak mengejar Baekhyun yang kabur ke atap gedung apartemen. Jongin tak bodoh dengan membiarkannya begitu saja. Ia balas tembakan Sehun sambil bergerak menuju pintu keluar.

DOR! DOR!

"Akh!" Sehun tertembak di bahu kanan, namun ia berusaha bertahan di tempatnya. Tangan kirinya melindungi Kyungsoo yang tak sadarkan diri, sementara tangan kanannya menembakkan peluru ke arah Jongin. Tapi seperti halnya semua senjata api, mereka memiliki pasokan peluru yang terbatas. Dan itu yang terjadi pada Sehun—ia kehabisan peluru. Pria berkulit pucat itu hanya bisa mengumpat dalam hati. Menatap tajam saat Jongin menghampirinya.

"Jangan memaksaku untuk membunuhmu, Oh Sehun." ancam Jongin. Tatapannya yang dingin menusuk ke dalam manik Sehun. "Ini adalah misiku. Jadi, jangan menghalangiku." Ia melirik Kyungsoo sesaat, lalu berlari mengejar Baekhyun.

Ruang tengah di dalam apartemen itu seketika dipenuhi keheningan. Sehun masih bergeming memeluk Kyungsoo, dengan kepala menunduk dan tangan mengepal kuat. Ia ingin sekali menolong Baekhyun, tapi di saat yang sama, ia tak bisa begitu saja meninggalkan Kyungsoo yang sedang sekarat.

"Sial." Sehun mengertakkan gigi-giginya.

.

.

Baekhyun terperanjat di tempatnya ketika pintu atap dibuka dengan kasar. Pegangannya pada pisau LHR Combat milik Sehun yang ia temukan di laci, mengerat. Pikirnya, musuhnya telah datang. Jantungnya berpacu cepat ketika gendang telinganya menangkap ketukan sepatu yang berjalan beberapa langkah. Semakin jelas suara itu, semakin tinggi kewaspadaan Baekhyun.

"Keluarlah, Raven. Aku sedang tidak mood bermain petak umpet." Itu suara Jongin. Disusul dengan suara langkah sepatu yang perlahan samar.

Baekhyun mengintip dari balik tembok yang menutupi tubuhnya. Dapat ia lihat Jongin berjalan ke arah berlawanan dari tempatnya bersembunyi. Ini merupakan waktu yang tepat baginya untuk menyerang. Dengan sebilah pisau dan kemampuan bertarung jarak dekat yang tak begitu bagus, menyerang Jongin dari belakang adalah kesempatan terbaik yang dimiliki Baekhyun. Meski ia tak terlalu yakin bisa melumpuhkan Jongin dengan sekali serang, terlebih saat ini pria tinggi itu memegang sebuah pistol, tapi cara ini patut dicoba.

Jadi, Baekhyun-pun berjalan sepelan mungkin ke sebuah pilar, bersembunyi disana untuk sesaat. Ia mengunci fokusnya pada pistol di tangan Jongin. Apapun yang terjadi, ia harus menyingkirkan pistol itu terlebih dahulu. Jongin tadi sudah kehilangan pistol, jadi yang berada di tangannya saat ini pastilah pistol terakhirnya. Kemungkinan besar pria berkulit tan itu menyimpan sebuah pisau di balik jaketnya, tapi setidaknya itu tak seburuk pistol.

Ketika melihat waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya, Baekhyun berjalan mendekati sosok pembunuh bayaran itu, lalu menyayat tangannya yang memegang pistol. Senjata api itupun terpental ke sisi atap. Jongin mendesis nyeri saat lagi-lagi tangan kanannya terluka oleh pisau. Namun itu segera bergantikan dengan seringaian saat netranya bertemu manik hazel Baekhyun.

"Akhirnya kita bertemu juga, Tuan Raven~" sapa Jongin seraya menyelinapkan tangannya ke balik punggung, mengambil sebilah pisau Eickhorn. "Terakhir kali kita bertemu, kau sedang tak sadarkan diri. Ah waktu itu, aku minta maaf ya, telah mengganggu momen romantis kalian."

Baekhyun mengerutkan dahinya bingung. Tapi ia tak hiraukan ucapan Jongin, dan berusaha fokus pada pergerakan pria berkulit tan itu. "Siapa yang menyuruhmu membunuhku?" tanyanya langsung.

Jongin terkekeh renyah. "Kau tahu, kami—para pembunuh bayaran—memiliki kode etik untuk tak menyebutkan–"

"Apa itu Kardinal Cheon Hojin?" sela Baekhyun. Spekulasinya menguat saat Jongin tersenyum tipis padanya. "Ternyata benar pak tua itu."

"Ada hubungan apa kau dengannya, hm? Apakah sebegitu buruknya sampai dia membayarku untuk membunuhmu?"

"Itu bukan urusanmu." tandas Baekhyun. Ia posisikan pisau LHR Combat di tangannya, tak ambil banyak waktu untuk langsung menyerang Jongin dari berbagai arah. Tapi memang pada dasarnya Baekhyun tak hebat dalam pertarungan jarak dekat, pria mungil itu sedikit banyaknya tak diuntungkan dalam duel ini. Ia bahkan dibuat kewalahan oleh gerakan pria tinggi itu.

Beberapa kali Baekhyun menghindari serangan Jongin, tapi—sialnya—ia tak jarang terkena sayatan pisaunya. Sayatannya memang tak seberapa, tapi cukup menguras tenaga Baekhyun. Yang lebih menyebalkannya lagi, Jongin melakukannya dengan mudah—seperti mengambil permen dari bayi. Dan melihat fakta bahwa Baekhyun masih memegang pisaunya, adalah karena Jongin sedang mengerjainya saat ini.

"Inikah sosok Raven yang tersohor itu?" cibir Jongin. "Padahal aku sudah sedikit ini untuk mengakui kehebatanmu saat kau melemparkan pisau ke tanganku, tapi aku tak menyangka kau sangat buruk dalam pertarungan jarak dekat. Benar-benar tak bisa dipercaya."

"Diam kau, brengsek." desis Baekhyun seraya mengatur napasnya yang berantakan.

"Aku penasaran~" Jongin mendekati Baekhyun sambil menyeringai. Ia arahkan pisaunya ke perut Baekhyun, namun berhasil dihindari si mungil. Baekhyun balas menyerang Jongin secara beruntun, berusaha menyudutkannya. Tapi pria tinggi itu dengan gesit berjalan mundur guna menghindari serangan tersebut. Jongin kemudian bergerak cepat ke samping, lalu menorehkan sayatan panjang di pinggang si mungil.

"Akh!"

Belum cukup sampai disitu, Jongin memanfaatkan kelengahan Baekhyun—yang sedang mengerang—dengan menusukkan pisaunya ke paha si mungil. Baekhyun-pun kembali mengerang kesakitan. Pria mungil itu bersimpuh di tempatnya sambil memegang pinggang serta pahanya yang berdarah. Lukanya cukup dalam. Sial—umpat Baekhyun. Jongin sudah jelas sedang menyudutkannya.

"Aku bosan. Bagaimana kalau kita akhiri saja sekarang?" ucap Jongin enteng.

Baekhyun tak membalasnya. Entah kenapa, firasatnya jadi tidak enak. Berbeda dengan sebelumnya, gerakan Jongin kali ini terlihat tidak main-main. Baekhyun bahkan bisa melihat aura membunuh yang kental di sekujur tubuh Jongin hanya dengan sekali lihat. Meski begitu, Baekhyun tak mau jika harus menyerah begitu saja. Misinya belum selesai, jadi ia tak boleh mati.

Tidak sekarang.

Baekhyun-pun bangkit dari posisi bersimpuhnya. Ia cengkeram pisaunya, memusatkan netranya ke leher Jongin. "Tentu." Seringaian muncul di sudut bibir tipisnya. "Kita akhiri sekarang."

.

.

Sehun merebahkan tubuh Kyungsoo dalam posisi tengkurap di atas kasur. Bola matanya bergerak gelisah melihat darah terus berceceran keluar dari punggung Kyungsoo. Sehun-pun merobek pinggiran seprai yang memanjang untuk membalut sekeliling tubuh Kyungsoo, dan mengikatnya agar dapat menahan pendaharan dari punggungnya. Kyungsoo merintih. Tangan Sehun yang basah oleh darah sepupunya gemetaran. Pria tinggi itu sebenarnya tak masalah dengan dirinya yang tertembak, karena sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi melihat sepupu mungilnya yang terluka berlumuran darah, ada rasa panik dan ketakutan yang melandanya.

"Tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja.." Sehun bergumam untuk sepupunya, juga untuk dirinya sendiri.

"Baekhyun.." Suara Kyungsoo berbisik lirih. Matanya perlahan terbuka, menatap Sehun dengan pandangan lemah. "Cepat..bantu Baekhyun.." mohonnya. Tak peduli dengan rasa sakit yang melanda seluruh tubuhnya. Kyungsoo masih bisa berpikir untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu meninggalkan Baekhyun dalam bahaya di belakang mereka hanya demi menyelamatkan dirinya sendiri. Kyungsoo sama sekali tidak menyukai perasaan bersalah itu.

Sehun bimbang. Namun ia tak bisa mengabaikan keadaan Kyungsoo yang sekarat di depan matanya. "Dia seorang Raven. Dia bisa mengatasinya," Sehun mengabaikan keinginannya yang ingin segera berlari mengejar Baekhyun dan Jongin. Ia harus mengobati luka Kyungsoo terlebih dahulu. "Aku akan membawamu ke dokter terlebih dahulu."

"Tidak," Napas Kyungsoo memutus, tapi ia mencoba menutupinya. "Aku tak apa.." Ia menelan ludah sebentar. Rasanya begitu asin. Kyungsoo sadar yang ia telan barusan adalah darahnya sendiri. "Kau tahu bagaimana Jongin. Jadi..pergilah, hm?" pintanya dengan raut khawatir.

Sehun mengepalkan tangannya.

.

.

Baekhyun melihat ada sebuah kesempatan disitu. Tepian atap tanpa pagar pembatas yang berada di belakang Jongin. Hanya itu satu-satunya cara yang membuat posisi Baekhyun lebih unggul. Meski beresiko, ia tak memiliki pilihan lain yang lebih baik saat ini, terlebih luka tusuk di pahanya yang tak terlalu membantu.

Baekhyun-pun berlari maju. Jongin bersiap. Ia menangkis tikaman Baekhyun dengan pisaunya, lalu menahan kaki Baekhyun yang berusaha menendangnya. Bukannya menarik kembali kakinya, Baekhyun semakin menekannya, mendorong Jongin sampai ke tepian pembatas atap. Jongin membelalak saat mengetahui niatan Baekhyun, namun ia terlambat menahannya ketika Baekhyun memutar tubuhnya sendiri, dan menggunakan kakinya yang bebas untuk menendang leher Jongin.

Tak bisa dicegah, tubuh Jongin oleng ke belakang. Pria berkulit tan itu sempat menarik ujung kaki Baekhyun sebelum ia benar-benar terhempas dari atas atap gedung apartemen berlantai lima tersebut, sehingga Baekhyun ikut tertarik jatuh. Namun dengan sigap, tangan pria mungil itu menjangkau pinggiran atap, berpegangan sambil bergelantungan di atas sana.

Dalam kegelapan dini hari, tak akan ada yang menyadari keadaan Baekhyun yang bergelantungan di tempat tinggi. Baekhyun tak tahu bagaimana keadaan Jongin yang telah terjatuh di bawah sana, yang jelas ia tak ingin mengalami hal yang sama. Baekhyun berusaha naik sendiri, tapi tenaganya telah habis, dan pegangannya di pinggiran atap terasa semakin licin. Ia perlu bantuan seseorang untuk menariknya dalam hitungan detik jika tidak mau terjatuh begitu saja. Tangannya gemetaran, tak ada lagi tenaga. Dan satu-satunya yang berada dalam pikirannya hanyalah–

"OH SEHUUUN!"

GREP!

Tangan itu datang tepat waktu menangkap telapak tangan Baekhyun yang terlepas dari pinggiran atap. Baekhyun menengadah, beradu pandang dengan Sehun yang menatapnya khawatir.

"Sehun.."

"Hm."

.

.

Baekhyun sambil dibantu Sehun, setengah berlari menuju apartemen Sehun. Tak satupun dari mereka memedulikan luka masing-masing, karena yang lebih mereka khawatirkan saat ini adalah keadaan Kyungsoo yang tak bisa bertahan dengan luka tembaknya sendiri. Terlihat Kyungsoo masih berbaring saat Baekhyun dan Sehun sampai. Bau darah yang menyeruak di seluruh penjuru kamar kentara tercium.

Sehun mendekat, merengkuh tubuh sepupunya. "Kyungsoo-ya, kau masih sadar'kan? Hm?" Ia menepuk pelan pipi Kyungsoo dengan tangannya yang juga berlumuran darah. "Tak apa, semua baik-baik saja sekarang. Kita akan segera membawamu ke dokter. Bertahanlah sedikit lagi, oke?"

Tak ada respon dari Kyungsoo.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia menepuk bahu Sehun dengan pelan. Suaranya tercekat, tapi ia memaksanya untuk keluar. "Sehun-ah, maaf.." Ia melirik ke arah lain. Matanya cukup jeli untuk menyadari bahwa dada Kyungsoo tak lagi bergerak naik-turun. Tak ada lagi napas yang berhembus dari hidung pria mungil itu.

Kyungsoo telah tiada.

"Tidak.." Tangan Sehun gemetar. Ia peluk tubuh mungil Kyungsoo yang mendingin dalam dekapannya. Menangis penuh penyesalan.

TBC

A/N (Azova10):Chanyeol gak muncul ya di chapter ini? Haha~ mian, chapter depan muncul kok. Tentang Kyungsoo yang mati, itu adalah ide Aya (dia akan tertawa nista di AN bawah). Dan tentang ending FF ini, akan kami tamatkan di chapter 9, which means..chapter depan adalah klimaksnya. Oh ya, chapter depan juga akan memberitahu kalian siapa main pair-nya, jadi persiapkan hati kalian /smirk/

A/N (Sayaka Dini):Pada akhirnya kita membunuh Kyungsoo di sini~~ (tertawa nista/plaak)

SPECIAL THANKS:

Michelle Jaqueline, kirafuchi, yellowfishh14, inspirit7starlight, Yuichanzu, Guest, zhangminseokkie, Kenzoumukii, SexYeol, xiaobao, akakuroseiya415, mi210691, MiraKimLu, Hyurien92, rekmooi, altogirl382, kickykeklikler, ay, PitterBeechan, xocaramellox, wiwitcbcb, chanbaekssi, riririi, ade park, shantisolekah9, baekken, LUDLUD, babybaekhyunee7, , exobbabe, Kiki2231, ygca, guest, azure, yoyoyo man, Ellaqomah, aminion, themaknae1929yuna, chanbaekmama, Incandescence7, Guest(2), Innocent Vee, shenshey27, AlexandraLexa, inibaek, hyunsi, Andhani, Smrfbbhxx, heliophilia, Eka915, shellapcys18, chanbaeksarang, tysoct, laxytao, Channia Park, rekmooi, ByunB04, bbkhyn, ByunRahayu, Debby Sagita YN, SHINeexo, kichansarang, myliveyou, DarkKnightSong, syeleexo, kesayangan baek, rachel suliss, itsathenazi, sa, Anggi Febrianti, fujokuu, Park Byunaa, EternalKim, indi1004, NyawNyaw09, xoo'49, Merta703