Maaf haki baru up date lagi habisnya haki sering ketiduran. Tapi haki selalu berusaha agar tetap publis chapter ini dan terima kasih atas revirwnx para pembaca setia haki.


"YOU... SEQUER Rouge ni Naritai-狼牙 に なりたい- "

by

uzumakinamikazehaki

.

.

Disclaimer: Naruto cuma milik Mashashi Kishimoto.

Warning: aneh, Ge-Je, abal, dll.

Pairing: SasuNaru

Summary: Songfic SEQUER Rouge ni Naritai-狼牙 に なりたい- menceritakan pengalaman hidup sasuke selama Naruto Koma.

Lirik lagu dari ending -Aka-chan to boku- BUKAN LAGU ASLI. Gak bisa buat video ya jadi fic aja. Entah kenapa aku suka.

.

.

.

No like, Don't Read


Aku berlari meninggalkan mereka. Aku tak tahan dengan apa yang sudah aku lihat. Bahkan aku tak percaya Sasuke suamiku sendiri Membiarkan Menma memanggil Naruko dengan sebutan 'Kaa-san….' Ini rasanya sangat tidak adil. Aku yang melahirkannya kenapa saudara kembar perempuan ku yang mendapat sebutan itu. setelah sekian lama aku tak melihatnya atau lebih tepatnya menghindarinya kenapa dia kembali lagi.

Kenapa –kenapa selalu Naruko…. Dia lagi… dia lagi….

Sejak kecil hingga sekarang selalu dia….

Dia yang mendapat segalanya kasih sayang dan cinta dari semua keluarga Namikaze. Aku akui dia memang kakak ku dan lahir terlebih dahulu dariku hanya sepuluh menit. Tapi itu mengubah segalanya, kedudukan dan kasih sayang. Naruko mendapatkan keduanya karena dia anak pertama. Aku selalu memaklumi dan menghormatinya sebagai kakak ku. Aku bahkan rela diperlakukan layaknya seorang wanita padahal aku ini laki-laki. Karena ketika kami masih didalam kandunggan dokter yang menangani Kaa-san a.k.a Kushina mengatakan kalau bayi yang dikandungnya kembar dan berjenis kelamin perempuan. Kaa-san pastilah senang tapi ketika lahir ternyata anak keduanya berjenis kemalin laki-laki dan itu adalah aku.

Aku di perlakukan seperti saudara kembarku layaknya anak perempuan. Kaa-san selalu membeli sepasang baju kembar, bando, rok, sepatu dan aksesoris lainnya yang berhubungan dengan perempuan. Oh bakan aku tak lupa satuhal yaitu rambut ku, rambutku selalu dibiarkan Kaa-san panjang dan terurai. Katanya sih rambut ku lebih bagus dari Naruko dan Kaa-san sangat menyukainya. Aku pun senang saja diperlakukan seperti itu karena aku senang jika melihat Kaa-san senang.

Tapi lambat lalu aku mulai tahu siapa jati diriku. Aku seorang Laki-laki dan laki-laki tak memakai rok, bando atau semacamnya yang berhubungan dengan perempuan. Aku masih ingat waktu itu usiaku baru 5 tahun dan kami berdua aku dan Naruko memasuki taman Kanak-kanak. Aku selalu bermain bersama Naruko karena dia adalah kakak ku dan sudah sepantasnya seorang kakak melindungi adiknya. Tapi Naruko tidak dia dan teman temannya selalu membubuli ku dan mengatakan kalau aku pria banci dan Naruko juga bilang dia malu memiliki adik seperti perempuan. Ya alasannya sudah jelas Kaa-san sebenarnya sangat sayang aku tapi dia tak menunjukannya karena Naruko. Dia pernah bilang seandainya aku adalah anak pertama pasti dia akan memperlakukan ku layaknya seorang pria dan seandainya aku juga anak bungsu perempuan maka tak akan menanggung malu. Bagaimana lagi Naruko punya banyak baju perempuan bagus sayang kalau dibuang, jadi selalu aku yang memakainya.

.

.

.

Aku terus berlari menjahui mereka, tempat tujuan ku sekarang adalah rumah Sakit tempat ku dirawat. Disana tenang dan tak akan melihat hal yang menyakitkan hati ku. aku memfokuskan pikiranku dan segeralah tiba dikamarku. Tapi setibanya disana aku melihat Itachi yang sedang memeriksaku. Aku berdiridisebelahnya melihat bagaimana Itachi memeriksaku. Dia mengecek detak jantung dan tekanan darah, setelahnya dia menyuruh seorang suster mengganti infuse ku karena sudah hampir habis, terkadang dia juga memberikan obat yang aku tak tahu manfaatnya. Hanya itu saja yang dia lakukan pada ku, setelahnhya dia akan meninggal kan ku sendirian seorang diri tanpa suster penjaga.

Benerapa menit berada diruang rawat ku hanya ada keheningan dan itu membuat ku bosan. Aku mencoba berjalan siapa tahu bisa menghilangkan kebosanan ku. Aku berjalan sepanjang lorong rumah sakit. Ditengah jalan aku melihat ruang kerja Itachi, aku mendengar ada bisik-bisik yang membuat telinganya ingin mendengarnya.

"Bagaaimana rencanaku."

'Rencana?' aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka sedang bicarakan.

"Tentu saja sangat berlian sayang."

Hal itu membuat ku penasaran jadi aku mencoba melihat siapa yang sedang berbicara.

"Ha…. Anak itu memang susah diatur, aku perlu 30kali bicara baru ia mau menurut"

Aku melihat kedua orang tua Sasuke sedang berhadapan. Aku yakin mereka sedang membicarakan Sasuke. Kali ini apa lagi yang ingin mereka rencanakan.

"Tapi kau harus berhati-hati dengan Namikaze. Fugaku…."

'Namikaze….' Bukankah itu adalah marga kelu…. Eh maksud ku salah satu marga dari perusahaan Rasengan. Dan orang itu adalah Namikaze Minato ayah ku dulu bukan sekarang ketika Kaa-san meninggal. Sebenarnya Apa yang mereka rencanakan dengan mereka? Um aku harus mendengar semuanya meskipun aku bukan bagian dari Namikaze.

"Ya, aku tahu Mikoto…. Mereka tak dapat diremehkan."

"Jangan sampai rencana kita terbongkar, sebelum aku mendapatkan perusahaan itu."

Jadi ibu Sasuke ingin mendapatkan perusahaan milik Tou-san.

"Aku ingin membuat mereka jatuh miskin, seperti apa yang pernah pendahulu mereka lakukan pada klan kita."

Aku kaget mendengar hal itu jadi itu rencana mereka merebut perusahaan tapi dengan cara apa hingga ingin membuat perusahaan Tou-san sampai bangkrut dan jatuh miskin.

Aku lihat mereka tak membicarakan hal itu lagi. Paman Fugaku dan bibi Mikoto pergi bersama meninggal kan ruangan Itachi. mereka berjalan menembus tubuh ku, aku memang sejak tadi melihat pembicaraan dari depan pintu. Aku mencoba mengikuti mereka tapi ketika dicabang lorong mereka berpisa. Aku melihat bibi Mikoto berjalan menuju pintu keluar sedangkan Paman Fugaku berjalan berlawanan. Pasti dia masih ingin bertemu dengan Itachi. Aku memutus kan untuk berlari mengikuti bibi Mikoto. Namun ditengah jalan aku berhenti.

Aku terdiam ditempat memikirkan apa yang akan aku lakukan. Bibi Mikoto ingin sekali melawan Tou-san. Apa aku harus mencegahnya tapi apa yang bisa aku lakukan. Seharusnya aku senang bisa melihat kehancuran Tou-san disela-sela akhir hidup ku. tapi setelah mendengar percakapan singkat mereka aku jadi memikirkan Nasib keluargaku. Jika mereka jatuh miskin, aku tak bisa membayangkan hal itu. Naruko-nii dan Tou-san akan bernasip sama sepertiku, mereka akan melakukan pekerjaan kasar demi mencukupi kebutuhan hidup. Lalu apa yang aku lakukan, aku hanya bayangan dan tak bisa melakukannya.

'Kami-sama berikan mukjizat mu, tolonglah Tou-san ku aku tak ingin keluargaku celaka.'

Aku hanya bisa meminta hal itu pada Kami-sama, semoga dia mengabulkannya.

.

.

.

Seharian aku berada di rumah sakit. Kalian tahu aku sudah bosan pergi kesana sini. Aku sekarang duduk di kursi yang ada didalam ruang rawat ku namun tiba-tiba pintu masuk itu terbuka. Sasuke datang mengunjungiku lagi sore ini. aku senang dia tak lupa kewajibannya itu. namun ada satuhal yang sangat mengganjal di pikiranku. Sasuke terlihat senang ketika mendatangiku, dia tak seperti biasanya yang akan berwajah sedih melihat kondisiku. Aku sempat marah melihat tingkahnya itu, apa dia tak tahu kalau aku diambang kematian.

"Naruto aku sudah menemukannya."

Eh…. Menemukan apa? pikir ku. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba Sasuke berkata seperti itu. sebenarnya apa yang membuatnya seperti ini.

"Wanita yang sudah menyelamatkan hidup ku."

Menyelamatkan hidupnya dari apa? aku tetap tak mengerti dengan yang dikatakan Sasuke.

"Apa kau senang? Yak au pasti sangat senang karena kau yang sudah memberi dukungan pada ku untuk menemukan wanita itu."

Wanita… siapa dia? seingat ku aku tak pernah melihat Sasuke bersama wanita. Kecuali wanita itu yang selalu ingin bersamanya. Setelah dia menemuiku dan memegang tangan ku – tak bersama Menma. Aku sebenarnya senang-senang saja tapi Sasuke hanya sesaat saja menemaniku lalu pergi. Betul-betul sangat aneh dan membinggungkan suami ku ini. aku masih penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta.

'Jatuh Cinta.'

Kenapa kata itu terlintas di pikiran ku. Jika memang seperti itu kenapa semuanya terulang lagi. Aku mohon jangan wanita atau cinta lagi sudah cukup aku melihat dan mendengar semua itu.

"Tenang saja meskipun dia adalah cinta pertamaku tapi dirimu tetaplah berharga dan jadi no satu dihatiku."

Dada ku terasa sesak mendengar hal itu. apa yang aku pikirkan terjadi juga. Sasuke jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Jadi aku pun tak cukup baginya. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang keluar dari mataku.

.

.

.

Hari demi hari berlaru, kalian tahu apa yang aku sedang lakukan sekarang membuntuti suamiku. Sedah hampir seminggu dia tak datang menemuiku disore hari. Pada awalnya aku memaklumi mungkin pekerjaannya sedang padat dan dia tak punya waktu karena lembur. Atau mungkin sebaliknya, dia bersama wanita barunya. Apa katanya 'cinta pertama' aku harus tahu siapa yang di cintainya.

Aku sekarang berada dikantor miliknya, aku melihat jam yang ada di ruangan itu ternyata masih jam tiga kurang dua jam lagi waktunya untuk pulang tapi Sasuke sudah bersiap-siap untuk pulang.

Aneh sekali kan?

Aku mengikutinya keluar dari ruangannya, posisi ku tepat di belakangnya. Tak perlu mengendap-endap aku kan tak terlihat siapa pun. Aku melihat Sasuke berjalan kearah gedung parker dia mencari mobil miliknya dan segera menaikinya. Aku sudah berada di bangku belakang. Sasuke melaju keluar dari parkiran dengan kecepatan sedang menuju pintu keluar perusahaannya. Selama perjalanan Sasuke selalu konsen dengan lalu lintas jalan, terbukti dia tak pernah berhenti atau memainkan hp seperti kebanyakan orang.

Hampir tiga puluh menit mobil Sasuke sudah berhenti didepan kediaman Uchiha –maksudnya milik orang tuanya. Gerbang rumah itu terbuka dan Sasuke langsung memarkirkan mobil miliknya dihalaman. Kelihatannya Sasuke ingin keluar lagi, karena mobilnya tak dimasukan garasi.

Sasuke keluar dari dalam mobil aku pun mengikutinya. Dia membuka pintu masuk dan disana Menma anak ku sudah berlari mendekat kearah Sasuke disusul Mikoto baa-san.

"Tou-can…. Menma ciap."

"Aduh anak Tou-san tampan sekali."

"Sasuke masuk dan mandi dulu."

"Aku tak punya waktu aku bisa terlambat."

"Ya… Sudah kalau begitu dia pasti sedang menunggumu."

Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi Sasuke sedang ditunggu seseorang. Apa dia rekan bisnis atau mungkin pacar barunya. Aduh… aku tak seharusnya punya pikiran seperti itu. aku harus berfikir positif Sasuke tak akan menghiyanatiku apa lagi melupakan ku.

Tapi Cinta pertamanya itu….

Aku masih penasaran.

.

.

.

Kami melakukan perjlanan, kelihatannya kami akan pergi ketaman Menma sejak tadi selalu berkata ingin main ayunan, sepak bola, layang-layang atau bermain di bak pasir. Aku melihat mereka Menma dan Sasuke sangatlah dekat membuat ku iri. Hanya butuh dua puluh menit kami tiba di taman Menma duduk disebeah Sasuke bergerak kesana kemari meminta Sasuke melepas sabuk pengaman. Kelihatannya anak ku sudah tidak sabar bermain. Sasuke melepas ikatan Menma lalu dirinya mereka bersamaan keluar mobil. Aku pun dersiap-siap keluar aku kan juga ingin melihat keceriaan Menma ketika bermain.

Namun ketika aku ingin menembus pintu mobil sesak itu datang lagi. Sesak yang sudah lama atu jarang aku rasakan beberapa hari ini terasa lagi. Perlahan-lahan kesadaranku menghilang, keringat dingin berkucur dari seluruh badan ku. aku terasa diambang hidup mati. Aku berteriak memanggil seseorang untuk menolong ku, tapi tak ada yang mendengar. Lama kelamaan kesadaran ku mulai hilang, semua gelap aku berdoa semoga bisa melihat hari esok.

.

.

.

Aku terbangun dan masih berada didalam mobil milik Sasuke. tanpa pikir panjang aku langsung keluar mencari anak dan suamiku. Aku berlari mengelilingi taman untuk bertemu mereka. Betapa kagetnya aku ketika melihat anakku menarik tangan kakak dan suamiku bersama-sama. Aku mencoba menahan perasaanku. Hatiku sedang kacau sekarang melihat hal itu, air mata ku tak bisa dibendung lagi.

'Sasuke….' hanya gumanan itu yang berhasil keluar dari mulut ku melihat hal itu.

Kenapa… -kenapa hal itu terjadi padaku. Apa salah ku hingga menerima cobaan ini.

Anak ku menganggap kakak ku ibunya sedangkan Sasuke suami ku yang sudah aku anggap orang bijak malah mengizinkan Menma memanggil Naruko nii-san dengan sedutan Kaa-san.

Oh… Sasuke kau sudah menghancurkan hatiku.

Apa selama ini kau bersama mereka selama aku tak mengunjungimu. Betapa bodohnya aku hanya diam dan tak bisa apa-apa melihat hal ini. Seandainya kau tahu selama beberapa hari ini aku berjuang agar bisa kembali kedalam tubuh ku supaya bisa bersama kalian lagi tapi apa yang terjadi malah sebaliknya. Aku berlari meninggal kan mereka.

Aku terus berlari tak henti, rasanya aku ingin keluar dari hal ini atau lebih tepatnya terbebas dari perasaan ini. aku melihat dari kejauhan ada sebuah tebing yang cukup dalam. Ya…. didekat taman bunga sakura ini ada seduah jurang yang konon katanya jika ada yang melompat dari sana tidak dapat hidup kembali bahkan berenkarnasi kembali di dunia. Aku sudah berada di ujung jurang itu, aku mencoba memantapkan hatiku. Tanpa aba-aba aku langsung menjatuhkan tubuhku. Aku taperduli rasa sakit atau apalah yang menyakiti tubuh ku, karena semua itu tak ada bandingannya dengan rasa sakit didalam hatiku.

Buk…..

.

.

.

.

-tbc-

.

MAAF kalau bahasa dan penempatan kata sedikit tak tepat karena publisx lewat hp. Laptop lagi rusak.

Terimakasih atas reviewnya...

.

22 SEPTEMBER 2015