.
.
.
"Uljima" pinta Kyuhyun saat mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis itu," Bukan kau yang harus meminta maaf tapi aku" ucapnya lagi.
Namun air mata Sungmin malah menetes semakin deras. Entah ia tidak tahu mengapa tiba-tiba ia menjadi cengeng seperti ini.
"Uljima, jebal" pinta Kyuhyun lagi, entah apa kata yang mampu menggambarkan rasa yang hadir dalam hatinya kini. Sungmin tidak tahu apa itu. Ia sungguh bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Selain meneteskan air matanya. Mengandung, nampaknya membuat gadis itu menjadi lebih sensitive.
Perlahan Kyuhyun mendekat, menghapus jejak-jejak air mata di pipi Sungmin. Menangkup pipi Sungmin, menatap intim gadis yang hanya berjarak lima centimeter di depannya itu. Sampai kedua bibir itu bertaut. Sungmin lantas memejamkan matanya, saat merasakan lidah Kyuhyun mendesak masuk melalui celah bibirnya.
Pikiran Sungmin ingin menolak, namun hati dan tubuhnya meminta lebih. Entah kenapa hormonnya serasa bergejolak, apalagi saat Kyuhyun lepas kendali dan mulai mengeksplorasi penuh bibirnya.
Perlahan, tangan Sungmin terangkat dan melingkar di leher milik pemuda jangkung itu, saat Kyuhyun mendorong tubuhnya lebih jatuh ke ranjang. Sungmin melenguh saat tangan Kyuhyun meremas dadanya dari balik gaun tidur yang tadi dipakaikan oleh Kyuhyun.
Kedua orang itu sempat terlena sesaat setelah Sungmin merasakan deru nafas Kyuhyun yang menggelitik daerah sensitifnya. Membuat manik rubahnya tersadar tentang apa yang barusan mereka lakukan. Sementara Kyuhyun masih menikmati pekerjaannya.
Kyuhyun mengendus daerah sekitar leher gadis itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sungmin yang menguar bagaikan bayi, puas dengan itu Kyuhyun pun kembali merasakan bibir lembut Sungmin yang terasa manis di lidahnya.
"Kyuhyun-ssi" desahnya meminta dilepaskan, menatap sendu manik onik Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa centimeter darinya. Deru nafas terdengar bersahutan selaras dengan degup jantung mereka yang memburu, kedua orang itu saling mengais rakus oksigen setelah tautan panjang yang terjadi.
"Mianhe" sesal Kyuhyun gugup,
Sungmin mengangguk lalu memperbaiki posisinya untuk kembali duduk. Menatap Kyuhyun yang tertunduk dan mengepalkan telapak tangannya.
"Aku, aku ke kamarku dulu. Sebaiknya kau istirahat" ucap Kyuhyun dengan cepat meninggalkan Sungmin begitu saja.
Sementara Sungmin masih diam terpaku, menetralkan degup jantungnya yang masih berdetak kencang.
.
.
Kyumin fanfiction
Autumn Wish
Written by Hyejinpark2015©
Disclaimers : the stories and characters are originally from my mind but the casts in the fanfiction belong to God, their family, and themselves.
Warning : GS |OOC|BAD DICTION | TYPO ALWAYS ON|hurt-Comfort_Romance |GAJE | DONT LIKE DON'T READ|
Rate : T
Happy reading
.
.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Dan baik Kyuhyun ataupun Sungmin belum juga berniat untuk memejamkan mata mereka. Keduanya masih terjaga dikamar masing-masing. Duduk di pinggiran ranjang dan menatap langit-langit kamar, larut dalam fikiran tentang peristiwa tadi sore. Keduanya pun tak berani keluar kamar, hingga pelayan yang harus datang untuk membawakan makan malam mereka ke kamar.
Bibi Hwang yang datang menengok Sungmin, terkejut saat melihat posisi tidur Sungmin yang kini meringkuk, "Apa agashi tidak enak badan?" tanyanya mendekat lalu memeriksa kening gadis itu. Ia memang ditugasi Leeteuk untuk memantau Sungmin selama ia ada di China.
"Agashi mau aku membuatkanmu teh hangat?" tanyanya lagi saat hanya mendapat gelengan dari Sungmin.
Tunggu dulu, barusan tadi bibi Hwang bilang tentang teh hangat?
Entah kenapa Sungmin malah teringat tentang Kyuhyun, ia juga ingat dengan apa yang diinginkannya tadi sore.
"Agashi?" panggil bibi Hwang cemas, "Anda melamun?" Sungmin tersenyum kepada pelayan yang sudah lama bekerja untuk keluarga Kim itu, "Gwancanha, perlukah aku panggilkan dokter?" cemasnya lagi karena hanya mendapat gelengan saja dari Sungmin.
"Tidak usah, aku baik-baik ahjumma. Ahjumma istirahat saja. " jawab Sungmin pada akhirnya.
"Baiklah, tapi jika agashi menginginkan sesuatu jangan ragu untuk bilang padaku. Ini sudah larut sebaiknya agashi istirahat" lalu wanita yang seusia dengan Leeteuk itu membenarkan letak selimut Sungmin.
"Nde" Jawab Sungmin selepas kepergian pelayan wanita itu.
Sungmin menatap bosan langit-langit kamarnya. Menengok jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Ia jadi ingat, biasanya di jam segini ia masih bekerja di SPBU bersama yang lainnya. Bahkan ia pernah pulang pagi karena harus langsung menjaga kasir di mini market dua puluh empat jam. Tidur hanya satu atau dua jam, atau paling lama hanya empat jam kemudian paginya ia harus sekolah dan setelah itu ia harus bekerja paruh waktu lagi.
Tapi entah kenapa semenjak Sungmin tahu jika ia hamil, ia jadi lebih sering tidur belakangan ini. Ia juga jadi mudah lelah dan lemas, belum lagi rasa mual yang selalu datang. Dan sekarang, gadis itu masih mengusap perutnya, ia menelan salivanya kasar.
Sungguh ia sangat menginginkan ubi bakar itu. Tidak tahu kenapa setiap ia mencoba tidur, bayangan ubi bakar yang asapnya mengepul dengan hangat yang terlintas di benaknya.
"Aegi ingin ubi nde?" tanyanya mencoba berkomunikasi dengan sang janin.
Sementara itu di kamar milik Cho Kyuhyun, pemuda itu tampak resah. Sejak kejadian sore tadi, Kyuhyun masih belum juga bisa tenang, pemuda kelahiran Februari itu masih sibuk menendang-nendang bantal, guling, selimut atau apa saja yang ditemuinya di kamar itu.
"Akhhhhhh" Kyuhyun menjambak rambutnya sendiri merasa tidak tahan dengan perasaan yang hadir di hatinya kini.
"Aku butuh udara segar" ucapnya terengah,
Perhatian pemuda itu pun beralih pada jendela besar kamarnya yang terletak di lantai dua. Disibaknya gorden bersulam benang emas dan perak itu, langitnya gelap, Kyuhyun hanya dapat melihat lampu-lampu taman yang bersinar di taman mansionnya.
"Sungmin, akhhh andwee,andwee, kenapa aku jadi memikirkannya terus sih!" keluh Kyuhyun semakin menjambak rambutnya, "Aishhh, baboya! Bagaimana jika ia mengadu pada omma soal ciuman tadi" "Cho Kyuhyun, neomu baboya!" Kyuhyun berulang kali memukuli kepalanya sendiri, hingga menghela nafas lelah.
Sungguh jika sudah begini Kyuhyun benar-benar butuh air dingin untuk membasahi kepala dan tenggorokannya.
Kembali ke kamar gadis itu, Sungmin turun dari tempat tidurnya lalu menyibak sedikit gorden yang menutupi jendela itu. Hari sudah sangat gelap, dan mansion yang ia tempati jaraknya cukup jauh untuk sampai ke jalan raya. Belum lagi berjalan menuju gerbang depan yang lumayan menguras tenaga.
"Uhhhh" tapi Sungmin benar-benar menginginkan ubi itu, ratap gadis itu mengusap perutnya lalu menggigit bibirnya.
Sungmin pun keluar menuju kamar bibi Hwang, namun saat melihat pintu kamar itu tertutup rapat ia jadi mengurungkan niatnya. Ia merasa tidak enak saja, membangunkan wanita itu.
Akhirnya Sungmin memutuskan ke dapur untuk mengganjal rasa di perutnya. "Besok pagi saja ya makan ubinya, sekarang makan yang ada dulu bagaimana?" tawar Sungmin pada calon anaknya, Sungmin lantas membuka kulkas guna melihat apa saja yang ada didalam sana.
Manik rubah itu tiba-tiba saja berbinar saat melihat buah labu manis kalengan disana. Dan langsung saja gadis kelahiran Januari itu mengambilnya , dan cepat-cepat ia mencari sebuah pembuka kaleng.
Sementara itu dari arah tangga, Cho Kyuhyun dengan berjalan gontai menuju dapur karena rasa haus yang tiba-tiba menyerangnya. Pemuda itu mengusak rambutnya kasar, masih terbawa suasana sore tadi tampaknya.
'Duk'
Kyuhyun mengerang saat kakinya tidak sengaja tersandung kaki meja. "Ceroboh sekali kau Cho?"
Manik oniknya memincing saat mendengar suara berisik yang berasal dari dapur, ia lantas menengok melihat jam besar yang berdiri kokoh di salah sudut ruangan. Pukul dua belas lewat, sudah sangat larut mana mungkin ada pelayan yang masih bekerja di dapur. Pikir pemuda itu.
'Klontang'
Terdengar suara peralatan yang jatuh membuat Kyuhyun waspada lalu memberanikan diri masuk kesana, Kyuhyun bahkan sudah bersiap dengan sebuah tongkat pemukul yang entah ia dapat dari mana.
"SUNGMIN"
Kyuhyun kaget saat melihat gadis itu tengah berjongkok ketakutan melihat Kyuhyun yang melayangkan tongkat pemukul itu kearahanya. Kyuhyun yang sadar lantas langsung membuang tongkat itu asal dan berjongkok di depan Sungmin.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini" tanyanya mencoba lembut. Dan mencoba bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hatinya, jantung pemuda itu kini tengah berdegup sangat kencang.
"Santai Kyuhyun, santai, santai saja" ratapnya dalam hati.
"Apa aku membangunkanmu? Maaf aku tidak sengaja menjatuhkannya" sesal Sungmin menunjuk sebuah panci yang tergeletak dilantai, " Sejak tadi aku mencari pembuka kaleng namun tidak kunjung ketemu" jelasnya lagi.
Kyuhyun mengerinyit heran, lalu membantu Sungmin meletakkan kembali tempat asal panci-panci itu.
"Untuk apa?" tanya Kyuhyun selesai dengan pekerjaanya, "Itu"tunjuk Sungmin sedikit gemetar pada sebuah kaleng berisikan buah labu manis di meja dapur.
Onik Kyuhyun memincing saat melihat sekaleng buah labu manis kelengan di meja dapur, "Kau mengidam ?" tanya Kyuhyun ragu-ragu.
Entah kenapa hanya kata itu yang terlintas di benaknya saat ini. Sementara yang ditanya masih diam, takut untuk mengutarakan keinginannya pada Kyuhyun. Ia takut mengganggu Kyuhyun, apalagi ini sudah cukup larut.
Jeda sejenak.
Baik mereka tidak ada yang membuka suara sampai Sungmin tidak menyadari jika Kyuhyun sudah menyodorkan semangkuk buah labu manis kalengan yang telah ia buka dan ia taruh dalam wadah.
"Duduklah" Kyuhyun menuntun tangan Sungmin lalu mendudukkanya di kursi. Menusuk daging buah labu yang berwarna kuning itu dengan garpu dan memberikannya kepada Sungmin.
Gadis itu mendengak menatap Kyuhyun yang mencoba tersenyum kearahnya. " Makanlah" Kyuhyun menyuapkan potongan labu manis itu ke mulut Sungmin, mau tak mau gadis itu langsung menerimanya dengan kikuk.
Kyuhyun sedikit tersenyum saat melihat gadis itu menerima suapannya. Lalu ia beranjak membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral dan kemudian meneguknya sampai habis.
"Jangan tidur terlalu malam, jika ada apa-apa panggil saja Hwang ahjumma atau aku" ucap Kyuhyun lalu pergi setelah meletakkan segelas air hangat di meja itu untuk Sungmin.
Kyuhyun masih canggung rupanya untuk berdekatan dengan Sungmin. Ia hanya malu saja pada gadis itu jika rona wajahnya terlihat . Jujur saja, Kyuhyun mengakui jika gadis itu cantik dan cenderung manis, bahkan sangat manis. Tapi ia masih dihinggapi rasa bersalah dan tidak enak hati padanya.
"KYUHYUN" panggil Sungmin setengah berteriak sebelum pemuda itu benar-benar pergi meninggalkan dapur. Yang dipanggil kembali menengok kebelakang menatap manik rubah Sungmin yang berkaca-kaca.
Sungmin juga tidak tahu mengapa ia jadi ingin menangis begini hanya gara-gara sebuah ubi bakar. Keinginannya akan jenis umbi-umbian itu sudah sangat menyesakkan hatinya. Sungguh ia ingin sekali makan itu.
"Ada apa kau merasa sakit?" panik Kyuhyun dan langsung berlari memeriksa kondisi Sungmin.
"Aku panggilkan…"
"Ubi…"
"Ye,?" mata Kyuhyun membeo saat melihat Sungmin sudah menangis sekarang, "Kau bilang apa tadi?" tanyanya bertambah cemas.
"Sebenarnya sejak tadi aku ingin sekali makan ubi" cicit Sungmin tak berani menatap Kyuhyun. Badan gadis itu gemetar menahan tangis, Sungmin bahkan menggigit bibirnya karena merasa takut jika Kyuhyun akan marah padanya. Dan entah naluri dari mana, tangan Kyuhyun beralih mengusap perutnya.
Semua terjadi begitu saja…
"Hei" sapa Kyuhyun mencoba berkomunikasi pada calon anaknya di perut Sungmin, "Kau ingin ubi eoh?" kali ini Kyuhyun tak sekedar mengusap perut Sungmin tapi juga menempelkan telinganya kesana. Seolah-olah calon anaknya itu menjawab pertanyaannya barusan.
'Tes'
Sungmin tertegun saat melihat sikap lembut Kyuhyun barusan. Tanpa sadar air matanya menetes dan jatuh tepat di pelipis Kyuhyun. Entahlah, akhir-akhir ini Sungmin jadi sering sekali mengeluarkan air matanya untuk hal yang sepele…
.
.
.
"Apakah begitu enak?" Tanya Kyuhyun pada Sungmin yang sedang menikmati ubi bakarnya.
Yah, setelah tangisan Sungmin berhenti. Pemuda itu mengajak Sungmin berkeliling kota Seoul untuk mencari penjual ubi bakar yang masih buka diwaktu selarut ini. Bahkan mereka berdua hampir saja pergi keluar kota Seoul demi mencari penjual ubi bakar.
Untung saja Sungmin mengidam si waktu yang tepat, saat musim gugur seperti ini banyak sekali buah-buah musiman yang panen seperti buah persik, buah jujube, apel dan termasuk panen ubi tentunya. Jadi mereka tidak harus bersusah payah mendapatkannya meskipun harus mencarinya ke pinggiran kota Seoul.
"Kau tidak mau?" Kyuhyun menggeleng lalu menyeka bibir Sungmin yang blepotan, "Untuk kau saja" katanya lalu Kyuhyun menguap dan menyandarkan kepalanya di bangku kemudi, "Sungmin" panggil Kyuhyun dengan mata tertutup.
"Nde?"
"Mengapa tiba-tiba menginginkan ubi?" Sungguh pertanyaan yang konyol dari Kyuhyun untuknya. Dan tentu saja jawabannya adalah karena anaknya yang meminta ubi.
Sungmin menggeleng menanggapi pertanyaan Kyuhyun barusan. Ia lalu menatap lekat potongan ubi yang hanya tinggal separuh ditangannya itu. Ingatannya kembali berputar ke waktu ia kecil dahulu. Saat itu sama yaitu pada malam di musim gugur.
Ayahnya yang tidak sedang pergi ke tambak saat musim seperti memilih untuk ikut bercocok tanam padi yang diselingi dengan tanaman ubi ,bergabung dengan warga sekitar di sawah. Dan dari situlah saat Donghae pulang ia selalu membawakan ubi itu untuk dibawa pulang. Sungmin juga ingat, saat ia diusir Kyuhyun dari rumah hampir tiga bulan yang lalu, saat gadis itu kedinginan dan kelaparan dan ada seorang nenek yang memberikannya sebungkus ubi rebus yang asapnya mengepul hangat.
"Sungmin?"
"Sungmin?"
Sungmin tersadar dari lamunannya saat mendengar panggilan kedua dari Kyuhyun, "Kau melamun?" tanya Kyuhyun lagi, menatap lekat manik rubah gadis itu.
Manik rubahnya kaget saat menyadari jaraknya dengan pemuda itu hanya berkisar lima centimeter saja. Kyuhyun meneguk salivanya gusar saat melihat bibir bershape-M Sungmin yang ada di depannya sekarang.
Malam semakin larut, dan udara semakin mendingin. Baik Kyuhyun atau pun Sungmin masih betah saling menatap. Hingga ciuman sore tadi berlanjut kembali. Namun kali ini terkesan amat lembut. Keduanya tampak saling memejamkan mata dan menikmati keintiman mereka.
Saling berbagi kehangatan di tengah dinginnya kota Seoul…
.
.
.
Sign
-hyejinpark-
.
.
.
080415
