Remember

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Semua milik Tuhan, Cho hanya meminjam nama mereka

Cast : DBSK Family

Genre : Drama, romance, hurt/comfort, angst, family

Rate : T

Ini semua POV satu orang yaaaa... Dibaca dengan baik daaaannn flashback tidak ada tandanya HANYA SAJA tulisannya ITALIC. Happy reading

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku menatap jendela besar yang ada diruanganku itu dengan wajah datar, melihat pemandangan diluar dimana hujan tengah mengguyur kota. Mengingatkanku saat dulu aku bertemu denganmu hanya karena kau kehujanan, saat itu kau berlari dalam hujan dan menabrakku.

Tubuhmu gemetar dan wajahmu pucat bukan karena kau sudah lama mengguyur tubuhmu dalam hujan tapi karena kau kehilangan kekasihmu dulu... Kekasihmu yang mengkhianatimu, tidur dengan sahabat baikmu.

Aku yang melihat betapa menyedihkannya dirimu membawamu kedalam apartemenku, memberikan coklat panas dan memberikanmu pakaian hangat. Saat itu aku tahu ada yang berbeda darimu, sesuatu yang bisa menarikku, Jung Yunho dalam pesonamu.

Aku menolehkan kepalaku dan mendapati segelas coklat panas diatas meja, aku memang meminta asistenku untuk membuatkanku coklat panas sore ini untuk menamaniku sore ini dikantor.

Aku melihat sebuah figura kecil berdiri tegap diatas meja, mengambilnya dan mengelus foto itu. Seketika ingatanku tentangnya menguar begitu saja, memasuki pikiranku dan membuatku merasa bersalah.

.

.

.

.

.

.

.

" Joongie ah..." Panggilku pada namja cantik yang pagi ini sedang memasak di apartemenku

" Ya?"

Sudah empat bulan sejak dia meninggalkan kekasihnya dan dia tinggal di apartemen bersamaku karena dia tidak memiliki apapun. Bahkan pakaian saja hanya yang dia pakai saat pergi dari tempat tinggal kekasihnya yang brengsek itu.

" Kau masak apa?" Tanyaku dengan tangan memangku wajahku

" Nasi goreng, bukankah kau suka sekali makan nasi goreng sebagai sarapanmu"

" Ya..."

Rasa masakannya sungguh pas dilidahku dan aku menghujat siapapun mantan kekasihnya yang meninggalkan namja sesempurna dia. Sifatnya yang polos, baik hati, penuh dengan keceriaan apa lagi saat tertawa. Aku harus akui aku jatuh cinta padanya dengan cepat namun aku tidak pernah menyesali hal itu.

" Makanlah Yun"

Dia mendekat dengan membawa sebuah piring, meletakkannya didepanku dan aku tersenyum saat menicium bau harum masakannya. Aku mulai menyuapkan nasi goreng itu sedikit demi sedikit sembari memperhatikan dia yang ikut makan dihadapanku.

" Joongie ah..."

" Ne?"

" Kau... Tidakkah kau berpikir ingin mencari pengganti dari kekasihmu itu?"

Namja bernama Jaejoong yang biasa aku panggil Joongie itu menghentikan acara makannya dan terlihat sendu, oh... Betapa bodohnya diriku membuatnya seperti itu. Bagaimana bisa aku membuatnya sedih seperti itu?

" Apa kau sudah keberatan menampungku Yun?" Tanyanya dengan nada sedih

" Bukan seperti itu Joongie ah... Aku rasa sudah saatnya kau membuka hatimu untuk orang lain"

" Maksudmu?" Jaejoong menatapku tidak mengerti, aku mengambil salah satu tangannya dan menggenggamnya erat

" Sudah waktunya kau melupakan namja itu dan beralih padaku Joongie ah... Saranghae"

" Yu-yun..."

.

.

.

.

.

Aku ingat bagaimana matanya membulat kaget saat aku mengatakan hal itu, dia tidak memberikan jawaban dan memintaku untuk memberikannya waktu dan aku mengiyakannya saja karena aku rasa dia memang butuh waktu.

Jaejoong, namja itu yang membuatku gila hanya karena pernyataan cintaku yang mendadak. Aku gugup juga takut namja itu akan meninggalkanku karena aku dengan lancangnya menyatakan cintaku padanya pahadal kami beluk kenal lama.

Tapi semua rasa itu sirna saat Jaejoong memberikan jawaban 'ya' dimalam harinya dan aku memeluknya sangat erat. Aku hanya mampu berdoa semoga saja hubungan kami lancar dan yah... Hubungan kami berjalan lancar...

Tapi satu tahun kemudian, disaat aku harus mulai meneruskan perusahaan appaku, intensitas pertemuanku dengan Jaejoong berkurang dan kami jadi sibuk sendiri, aku dengan pekerjaanku dan Jaejoong dengan... Entahlah apa yang dia perbuat.

Aku kira tidak akan ada celah dimana hubungan kami terbelah, tapi kenyataannya... Seseorang dari masa laluku datang dan dia menjadi rekan bisnisku, aku menghabiskan banyak waktuku bersamanya dan aku mulai berbohong padanya.

.

.

.

.

.

.

" Yun, kau pulang jam berapa eoh? Jangan telat"

" Ne Joongie ah. Aku akan pulang secepat yang aku bisa"

" Arasseo..."

PIK

Aku mematikan sambungan teleponnya dan kembali fokus pada pekerjaan sebelum seseorang mengirimkan pesan ingin makan malam bersamaku dan membicarakan hal penting. Entah bagaimana aku menyetujuinya dan berakhir pulang pukul sebelas malam tanpa mengabari Jaejoong sama sekali.

Aku memasuki apartemenku tapi lampu didalam apartemen mati, sepertinya Jaejoong sudah tertidur. Aku berjalan menuju kamar dan melihat Jaejoong sudah tidur hingga akhirnya aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Karena merasa haus akhirnya setelah mandi aku menuju ruang makan dan berhenti saat melihat meja makan yang biasa kami gunakan terlihat berbeda. Tentu berbeda karena ada beberapa makanan kesukaanku diatasnya. Dan yang membuatku terdiam adalah sebuah cake yang tidak besar dilapisi krim putih dengan banyak buah kesukaanku diatasnya, strawberry.

' Happy First Anniversary'

Itulah tulisan yang ada di atas kue itu, astaga... Bagaimana aku bisa melupakan hal penting itu? Pantas saja sejak pagi Joongie merengek agar aku pulang cepat, kenapa aku bisa seperti ini?

Aku melupakan rasa hausku dan kembali kedalam kamar, harusnya sebelum keluar kamar aku memperhatikan wajah Jaejoong, yah... Namja yang aku cintai itu tidur menyamping namun ada bekas airmata turun dari matanya.

Aku segera naik ke atas tempat tidur dan memeluknya erat dari belakang, mencium tengkuknya berulang kali dan menggumamkan kata maaf entah dia mendengarnya atau tidak. Yang aku tahu, aku ingin memeluknya sepanjang malam ini.

Paginya yang aku tahu tempat tidurku terasa luas, saat membuka mata Joongie sudah tidak ada disampingku. Aku segera bangkit untuk mencari keberadaannya dan aku segera tahu dia ada dimana, dapur.

Benar saja, dia ada disana tengah memasak. Aku menoleh dan melihat meja makan yang tadi malam tertata makanan sudah bersih. Apa dia membuangnya? Dengan segera aku mendekat dan memeluknya dari belakang.

" Joongie..."

" Mandilah"

Aku menggeleng dan mengecup tengkuknya.

" Maafkan aku"

" Hum"

Ucapannya terdengar datar ditelingaku dan aku tidak menyukai hal itu, dia pasti sangat marah sampai seperti ini.

" Bersiaplah bekerja"

" Aniya... Hari ini aku akan ada dirumah seharian"

" Kenapa?"

" Sebagai ucapan maafku padamu hari ini aku akan menuruti semua keinginanmu"

" Sudahlah Yun, tidak usah seperti itu"

" Tidak, ini adalah ucapan maafku. Aku benar – benar bersalah dan aku minta maaf dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi"

Joongie terdiam dan tidak membalas perkataanku, aku membalikkan tubuhnya dan melihatnya menundukkan kepalanya. Aku memegang dagunya dan membuatnya menatapku, oh... Sungguh, mata yang aku suka itu menjadi seperti ini membuatku ingin mengubur hidup – hidup diriku.

Sebuah kecupan aku layangkan pada kening Joongie, kemudian turun pada kedua pipinya dan terakhir pada bibirnya.

" Maaf ne? Aku janji tidak akan seperti itu lagi"

Joongie menganggukkan kepalanya dengan lesu, aku memeluknya dan memberikan kecupan berkali – kali pada puncak kepalanya.

" Happy First anniversary Joongie ah... Dan aku berjanji akan selalu bersamamu apapun yang terjadi" lirihku dan saat itu aku merasa dia membalas pelukanku

Hari itu aku habiskan waktuku bersama Joongie, menuruti semua keinginannya apapun itu. Aku tidak mau melihatnya bersedih lagi seperti kemarin. Hatiku sakit. Dan malam ini dia memelukku erat sembari memainkan kancing piyamaku, membuatku menginginkan lebih karena dia memang sengaja menggodaku hingga akhirnya kami 'bermain' sampai lelah.

.

.

.

.

.

.

.

Janji hanyalah sebuah janji, aku mencintainya sungguh tapi apa yang terjadi selanjutnya adalah diluar kehendakku. Aku bahkan tidak mengetahui bagaimana bisa ini terjadi.

Setelah tiga tahun aku menjalin hubungan dengan Joongie, aku mengenalkannya pada kedua orangtuaku dan mereka menolaknya, menentang hubungan kami. Beralasan bahwa asal usul keluarga Jaejoong tidak jelas, memang harus akui...

Jaejoong tidaklah memiliki keluarga karena dia berasal dari sebuah panti asuhan di Chungnam. Setelah beranjak dewasa dia keluar dari panti untuk mencari pekerjaan dan malah bertemu si brengsek yang mematahkan hatinya.

Dan sejak penolakan itu Jaejoong sering melamun dan akhirnya kami bertengkar, aku mencoba mengalah dan berdamai dengannya, ya... Kami memang berdamai tapi hanya karena masalah kecil kami kembali bertengkar.

Apalagi eomma dan appa mengenalkan seorang yeoja, mereka menjodohkanku dengannya. Dan dia adalah mantan kekasihku, Ahra. Tentu aku menolak karena aku mencintai Jaejoong walaupun sewaktu itu kami bertengkar hebat.

Tapi...

Entah bagaimana akhirnya aku kembali menghabiskan waktu bersama Ahra dan melupakan sejenak Joongie karena kami terlalu sering bertengkar, aku merasa jenuh.

Puncaknya, saat Jaejoong berkunjung ke panti dan aku pergi ke klub bersama Ahra. Aku tidak sadar apa yang terjadi tapi saat aku sadar, aku mendengar seseorang membuka pintu. Saat itu aku sadar aku berada di kamar apartemen dan Joongie membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.

Dia menatapku penuh luka dan aku tahu itu semua karena aku. Bagaimana kau tidak terluka jika kekasihmu kedapatan bercinta dengan mantan kekasihmu di atas tempat tidur yang biasa kau singgahi?

Aku bangkit, aku mengejarnya yang sudah berlari terlebih dahulu dan sialnya hari itu hujan. Aku membuatnya terluka dengan membuatnya mengingat kenangan pahit saat mantan kekasihnya dulu menorehkan luka padanya. Tepat dihari hujan.

.

.

.

.

.

Aku berhasil mengejarnya dan memegang erat pergelangan tangannya, meminta maaf sampai aku berlutut. Tidak seharusnya aku melakukan hal keji ini, aku dalam keadaan tidak sadar saat melakukannya dan yang aku tahu Joongie ku diam saat aku memeluknya.

Aku membawanya pulang ke apartemen dan Ahra meminta maaf karena perbuatannya, Joongie tidak bereaksi. Dia hanya diam dan mengambil langkah menuju kamar tamu kemudian menguncinya. Aku tahu luka yang aku torehkan akan lama membekas dalam dirinya.

Setelahnya aku meminta Ahra untuk pulang dan aku akan memikirkan cara agar Joongie tidak marah lagi padaku. Tapi sampai dua hari dia tidak menemuiku, tidak membukakan pintu untukku dan dia hanya diam saat aku panggil. Membuatku sakit karena perlakuannya, aku ingin dia kembali menjadi Joongie ku...

Sampai seminggu kemudian appa meneleponku saat dikantor untuk menikahi Ahra karena dia tahu aku sudah melakukan 'sesuatu' dengan Ahra. Saat itu aku tahu Ahra telah berbohong pada appaku dan mengatakan kami sudah menjalin cinta bahkan bercinta.

Aku pulang dalam keadaan lunglai, aku menyalakan lampu apartemen yang mati dan berjalan menuju sofa diruang tengah. Aku tidak mendapati apapun karena aku tahu Joongie tidak keluar kamar. Aku beranjak menuju ruang makan dan mendapati sebuah hidangan kesukaanku, bulgogi serta tteokkboki.

Aku tersenyum senang dan berharap bahwa Joongie sudah memaafkanku jadi aku segera makan dengan lahap dan segera mengetuk pintu kamar tamu.

" Joongie... Terima kasih atas makan malam terlezat hari ini, aku sungguh senang"

Tapi tidak ada jawaban dari dalam dan itu membuatku mendesah kecewa, aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku melihat semua peralatan mandi tertata rapi, Joongie pasti merapikannya karena seminggu ini kamar mandiku sungguh berantakan.

Keluar dari kamar mandi aku menuju lemari dan membukanya, aku terdiam. Kosong. Bagian Joongie kosong. Pakaiannya tidak ada.

DEGH

Aku memakai piyamaku asal dan berlari keluar menuju kamar tamu. Dan saat menyentuh knop pintu dan mendorongnya pintu itu tidak terkunci. Aku masuk namun kosong. Ruangan itu kosong. Tidak ada Joongie didalam sana, aku berteriak memanggil namanya tapi tidak ada sahutan.

Akhirnya aku berlari kencang keluar apartemen, tidak mengindahkan kakinya yang masih bertelanjang. Berlarian ditengah hujan mencari Joongie kemanapun asal aku menemukannya tapi nihil. Aku terduduk lesu dipinggir jalan, menyesali perbuatanku hingga Joongie pergi meninggalkanku sampai aku merasakan air hujan tidak mengenai tubuhku, aku mendongakkan kepalaku, eomma...

.

.

.

.

.

.

Bodoh saja jika aku berhenti disana tidak mencari Joongie kemanapun, aku mencarinya... Kemanapun seperti orang gila bersama eomma yang akhirnya menyetujui hubunganku dengan Joongie walaupun terlambat. Tapi aku tidak menemukannya dimanapun bahkan dipanti tempatnya tinggal dulu.

Aku menyesal, benar – benar menyesal dengan semua yang aku perbuat dan menyesali semua... Hingga yang aku tahu saat itu adalah makanan terenak yang pernah aku makan sepanjang dua puluh empat tahun hidupku. Aku tidak pernah bertemu dengan Joongie saat itu...

Dan waktu berjalan dengan cepat tanpa aku sadari ini sudah enam tahun sejak kejadian itu dan usiaku sudah tiga puluh tahun saat ini.

Aku merindukanmu Joongie...

Aku mengambil figura dari atas mejaku dan mengelus foto itu, dua orang tengah tersenyum bahagia...

" Bogoshippo..."

TOK TOK TOK

" Masuk"

Aku meletakkan figura itu dan menatap pintu ruang kerjaku yang terbuka, menampilkan asistenku yang masuk dengan senyuman.

" Hyung, sudah waktunya pulang. Aku harus pulang cepat hari ini"

Yoochun, asistenku. Istrinya tengah hamil dan aku memakluminya jika dia ingin cepat pulang untuk menjaga sang istri.

" Ne, pulang saja. Sampaikan salamku untuk Junsu"

" Tentu. Aku pulang dulu hyung"

" Ne, hati – hati"

Yoochun mengangguk dan keluar dari ruanganku, aku menyandarkan tubuhku dan meminum sisa coklat yang sekarang hangat itu. Waktunya pulang tapi... Siapa juga yang menungguku dirumah, lebih baik aku di kantor sembari menunggu hujan reda dan memandangi foto yang ada diatas mejaku?

" Aku benar – benar merindukanmu, saranghae,.. Jeongmal..."

.

.

.

Pukul setengah delapan akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena hujan pun sudah reda, makan ramen cup sepertinya enak untuk malam ini? Benarkan?

Aku mengemudikan dengan santai mobilku, kenangan – kenangan indahku bersama Joongie kembali masuk kedalam pikiranku apalagi kami banyak menghabiskan waktu didalam mobil dulu. Suara riang dan tawanya yang menyejukkan hatiku selalu terkenang hingga saat ini.

Suara itu selalu menemani hari – hariku bahkan sampai detik ini walaupun dia tidak ada disampingku. Ah~~ Betapa aku merindukannya... Joongie ah... Cepatlah kembali...

Rintik hujan menamaniku diperjalanan, aku menikmati malam sepi didalam mobil sembari melihat pemandangan diluar dimana mereka memakai payung berwarna – warni yang indah. Satu hal yang Joongie sukai adalah mengoleksi payung dengan berbagai warna dan menyusunnya dengan rapi diapartemenku dulu.

Aku kembali tersenyum dengan kenangan manis itu, bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana kabarnya? Apa yang sedang dia lakukan? Aku sungguh ingin bertemu dengannya saat ini...

Selang dua puluh menit aku tiba ditempat parkir, aku keluar dan berjalan menuju sebuah rumah minimalis yang aku beli lima tahun yang lalu. Aku menyukai rumah ini, sangat. Didalamnya penuh kehangatan walaupun saat ini sedang sepi.

CEKLEK

" Aku pulang"

Aku mengucapkannya walaupun aku tahu tidak ada siapapun di rumah, aku masuk kedalam setelah melepaskan sepatu dan berjalan ke ruang tamu untuk menyalakan televisi sampai...

" Kau sudah pulang Yun?"

Eoh?

Aku langsung menoleh, mendapati seorang namja cantik tengah menatapku dengan senyuman indah terpantri pada wajahnya.

" Joongie?"

" Ne... Kenapa melamun eoh?"

" Kau pulang?"

" Tentu saja pulang kau kira aku kemana?"

" Lho? Bukannya liburanmu sampai minggu depan?"

" Aku meminta eomonim untuk pulang lebih awal karena takut kau menghancurkan rumah"

" Mwo? Benarkah?"

" Tentu saja beruang buncit! Aku tidak mungkin meninggalkanmu lama"

" Tapi bukrinya kau pergi dengan eomma selama seminggu ini ke Jepang"

" Aigo..."

Namja cantikku itu mendekat dan mengecup bibirku, ugh... Aku gemas sendiri jadinya.

" Kami pulang karena kami merindukanmu Yun"

" Mana dia?"

" Sebentar lagi juga keluar..."

CEKLEK

TAP

TAP

TAP

TAP

" APPPPAAAA!"

Teriakan riang itu segera terdengar setelah aku mendengar langkah kaki yang cepat, aku membalikkan tubuhku dan seorang namja cilik langsung melompat kedalam pelukanku.

" Aigo... Minnie, appa merindukanmu" Ucapku kemudian mengecupi pipi namja cilik itu

" Hahahahaha... Minnie juga kangen banget cama appa!"

" Ck, kalian ini kalau sudah bertemu melupakan eomma eoh?"

" Aish mana mungkin begitu! Kemarilah, biarkan aku memelukmu juga"

Joongie mendekat dan memelukku dengan erat, aku balas memeluknya dan satu tanganku yang bebas menggendong Changmin, anakku yang kini berusia lima tahun.

Apa?

Apa aku lupa bilang kalau Joongie berlibur selama seminggu di Jepang bersama eommaku? Ah~ Sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya dan aku sungguh merindukannya, dihari yang hujan ini tiba – tiba saja aku mengingat pertemuanku dengan Jaejoong dan mengingat bagaimana dia menghilang tapi aku tidak menyerah dan mencarinya kembali.

Seminggu setelah Jaejoong tidak berhasil aku temukan, aku kembali ke panti. Aku memohon pada penjaga panti yang sudah merawat Jaejoong sejak kecil untuk memberitahukan keberadaan Jaejoong karena aku yakin dia tahu dimana Jaejoong berada.

Akhirnya setelah tiga minggu berturut – turut aku kesana penjaga panti itu memberitahukan bahwa Joongie sebenarnya ada dipanti, dia ada disalah satu kamar yang ada di panti, dengan segera aku pergi ke kamar itu. Berlutut didepan kamar itu dan meminta maaf.

Akhirnya pintu itu terbuka menampilkan namja cantikku yang tengah memegangi perutnya, aku langsung berdiri untuk memeluknya. Menyalurkan rasa rindu serta rasa bersalah. Aku sungguh merindukannya, setelah melepaskan pelukan aku segera memberikan sebuah cincin untuknya, cincin yang dia pakai sampai saat ini, cincin pernikahan kami.

Aku melamarnya saat itu juga, aku sudah tidak mau dia pergi dari hidupku untuk kedua kalinya karena aku sangat mencintainya, dia menganggukkan kepalanya sembari menangis. Aku bahagia dia bisa memaafkan sifatku dan aku diberikan sebuah kejutan saat Joongie membawa tanganku pada perutnya kemudian berucap :

" Sudah hampir tiga bulan"

.

.

.

.

.

.

Aku bangkit dari tidurku, memperhatikan tubuh polos yang ada disampingku dan memakaikan selimut untuknya. Malam ini kami menyalurkan rasa rindu kami setelah Changmin tidur tentunya, aku mengecup bahunya kemudian beranjak pada keningnya.

" Saranghae..."

Aku bergumam lirih kemudian melirik meja nakas kami, dimana sebuah figura dengan foto yang sama dengan yang aku taruh di kantor berada disana. Foto Joongie dengan Changmin saat berlibur di taman hiburan. Keluarga bahagia, keluarga kami...

Nah...
Saatnya aku kembali tidur agar tidak kelelahan menemani kedua orang yang paling penting dalam hidupku berlibur di taman hiburan besok.

Selamat malam...

.

.

.

.

~ END ~

.

.

.

Annyeong~~ yuhhhuuuuu~~

Hayooo... Siapa yang ngira kalo akhirnya ff ini angst?

Kkkkk... Ga kok... Cho lagi senrng bimin mereka bersatu ga dipisahin... Hahahahahaha

.

.

.

Special Thanks :

.

debbynadia30 (sabat ya... Cho emang gitu orangnya...), Bestin84 (makasih ya udah baca ff gaje cho ^^), bearboo (cup cup cup jangan nangis ya... mereka emang seneng share yang kayak gini kok kkk), kazmah (makasih ya udah baca), RereYunjae Pegaxue (yoyoyo... Intinya mah yunpa metong disini hehehehe), Ge (nononono...), zhoeuniquee (sabar ya... Cho emang jahat kkkk), Flowerinyou (silahkan cubit perut buncit yunpa hahahaha), Princess BlueBird (makasih ya udah baca ff gaje cho kkkkk... Hwaiting!), Guest (iya, cho jg nyesek kok...), Guest (jiaahh.. Bang mimin cuma punya cho jadi cuma cho yg blh peluk :p), Guest (iya, cho seneng angus angus an hahahahaha angst maksudnya), GaemGyu92 (bilang apa aja boleh kok...),

akiramia44 (maklum, yunpa kan sayang beud sama jaemma hahahahaha), miss leeanna (samaaa~~), winwin (makasih udah baca ff gaje cho ya! Cho pasti nulis ff angst laen na kok hahahaha), kimRyan2124 (iya, cho jg nyesek yunpa sampe segitunya hehehe), Princess Jae (cho jg sedih T,T), cyaaz (beuuhh... YunJae tenggelem dimana? Kkkkk), birin. Rin (Cho jg nyari cowo kyk yunpa, ga ktm" ada an yg kyk bang mimin, rakus #upsss),

.

Yang udh follow, fav dan para sider

.

.

Ga nyangka ya udah satu tahun cho ga update yang ini? Hehehehehe... Pokonya cho udah update tapi gak angst kan? Hehehehehe. Next, cho kasih cerita angst lagi ya? Tetep kasih semangat cho yaaaa~~!

See u next chap?

Chuuuuu~~~~

.

.

.

.

.

Rabu, 14 September 2016