.

I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : T

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo.


.

.

.

"Bersulang!"

TRING~!

Yoongi menghabiskan sojunya dalam sekali teguk, begitu juga Namjoon dan Seokjin. Ketiga mahasiswa yang akan diluluskan besok itu memilih untuk merayakan hari terakhir mereka menjadi mahasiswa dengan minum soju dan makan gogi di kedai kesukaan mereka sejak tahun pertama di universitas.

Hari berganti minggu dan miggu berganti bulan dengan cepat. Kontrak magang yang dilakukan oleh Seokjin dan Yoongi juga sudah selesai dan keduanya mendapatan feedback yang baik dari sekolah mereka. Kini, hal terakhir yang harus mereka lewati hanyalah menghadiri acara kelulusan membosankan selama enam jam besok hari.

"Jadi," Yoongi membuka pembicaraan setelah menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya, "Kapan kau akan melamar Seokjin hyung?"

Tanpa menyebutkan namanya secara verbal, ketiga pria berusia duapuluhan itu mengerti dengan jelas siapa yang dimaksud oleh Yoongi. Namjoon hanya tersenyum sekilas dan menuangkan soju ke dalam gelasnya yang sudah kosong, "Kapanpun Seokjin hyung siap, tentu saja."

Jawaban yang membuat Yoongi memutar kedua matanya malas dan Seokjin yang memerah. Teman sumber tugas rumahnya semasa sekolah ini selalu saja penuh persiapan. Entah bagaimana caranya, Yoongi juga selalu bertanya-tanya, tapi Namjoon merupakan salah satu namja yang selalu 'siap tempur'. Mungkin salah satu alasannya adalah posisi ayah Namjoon sendiri. Sebagai salah satu putra dari komposer paling laris di Korea tentu memudahkan Namjoon untuk melakukan apa saja, termasuk melamar Seokjin. Sahabatnya satu ini memang tidak bisa dianggap remeh.

"Kau sendiri hyung, kapan melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan Jimin?"

Pertanyaan yang sukses membuat Yoongi mendaratkan sumpitnya ke kepala pintar Namjoon yang sukses membuat si korban meringis dan sang kekasih yang terkekeh pelan. "Jangan berharap terlalu banyak, bocah itu bahkan belum lulus sekolah."

"Ngomong-ngomong Yoong, dimana Jimin? Tidak biasanya dia tidak menempel padamu." Kali ini Seokjin yang bertanya sambil memanggang beberapa potong daging lagi.

"Dia bekerja, hyung. Katanya sih akan menyusul setelah pekerjaannya selesai. Mungkin sebentar lagi bocah itu muncul," dengan acuh, Yoongi kembali menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya.

Namjoon menjentikan jarinya mendengar jawaban Yoongi, "Mungkin dia menabung untuk mebelikanmu cincin dan melamarmu, hyung! -ADUH!" dan meringis kesakitan saat merasakan kakinya yang diinjak dengan sangat prikemanusiaan oleh Yoongi.

"Jangan asal bicara, bodoh!"

Namjoon tidak mengindahkan Yoongi, dirinya lebih memilih memancing atensi sang kekasih dengan memajukan bibirnya beberapa senti dan merengek kesakitan akibat serangan yang didapatkan di kakinya. Seokjin terkekeh pelan dan mengusap pipi Namjoon sambil menenangkan yang lebih muda. Seokjin selalu menganggap Namjoon begitu menggemaskan kalau sudah merengek padanya dalam mode seperti ini.

Yoongi berdecih kesal, siap melempar sumpitnya kearah pasangan yang sedang kasmaran didepannya kalau tidak juga berhenti mengumbar kemesraan mereka. Tidak, Yoongi tidak cemburu karena tidak ada Jimin di sampingnya saat ini yang siap memanjakannya, dia hanya kesal. Ya, hanya kesal. "YA! Hentikan-"

"Jangan marah-marah melulu, Yoongi hyung."

Yoongi menghentikan gerakannya saat merasakan pelukan dari belakang dan jemari yang menghentikan gerakan tangannya. Kecupan kecil Yoongi terima di pipinya, setelahnya seseorang mendudukan diri disampingnya, "Aku datang, hyung."

Itu Jimin.

Tentu saja, kalian pikir makhluk mana yang berani memluk Yoongi dari belakang secara tiba-tiba dan mencuri sebuah kecupan di pipinya? Hanya Jimin si bocah bantet, tentu saja.

"Halo, Jimin," Seokjin melambaikan tangannya saat melihat Jimin mendudukan dirinya didepan Namjoon. Karena umur mereka yang terpaut cukup jauh, Seokjin selalu memperlakukan Jimin layaknya adik kecilnya. Sungguh, tubuh bantetnya yang chubby selalu membuat Seokjin menganggap Jimin layaknya bocah TK.

"Halo, Seokjin hyung, Namjoon hyung," kalian melihat senyum kekanakan yang Jimin berikan? Jadi tidak ada salahnya Seokjin menganggap bocah bantet itu semacam adik kecilnya yang masih TK, kan?

"Ah, pekerjaanmu sudah selesai?"

Jimin mengangguk pelan sambil melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang Yoongi. "Ya, apakah aku membuatmu menunggu, hyung?"

Yoongi menggeleng singkat. Tentu saja bocah itu tidak membuat Yoongi menunggu. Mimpi apa dia sampai berharap Yoongi menunggu kehadirannya?

"Ayo minum, Jimin." Namjoon meyodorkan segelas soju untuk Jimin. Jangan heran, meskipun Jimin belum berusia dua puluh tahun, bergaul dengan Namjoon dan Seokjin membuatnya sudah mencoba beberapa minuman beralkohol sejak tiga namja teman mainnya ini legal untuk minum. Meskipun begitu, tetap saja Jimin lebih kuat minum dibandingkan Yoongi. Namja pucat itu sangat lemah terhadap alkohol, tapi kalau sudah meneguknya sekali Yoongi tidak berniat berhenti sampai kepalanya berputar dan pandangannya mengganda.

"Terima kasih, hyung." Jimin menerima gelas sojunya dan bersulang dengan tiga namja berusia dua puluhan itu, melanjutkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kelulusan tiga seniornya itu.

.

.

.

"Ugh, Jimin bodoh!"

"Jimin jelek!"

"Bocah bantet menyebalkan!"

Yoongi terus meracau diatas punggung Jimin. Lihat, sudah Jimin bilang kan seberapa lemah kekasih gulanya ini terhadap alkohol? Tapi memang dasar Yoongi yang keras kepala, dirinya tidak mau berhenti, bahkan setelah menghabiskan sebotol soju sendirian. Jimin sampai harus merampas botol kedua Yoongi dan meneguknya habis.

Seokjin dan Namjoon yang sudah hapal dengan kebiasaan minum Yoongi hanya geleng-geleng kepala maklum. Mereka sudah menawarkan atau boleh dibilang memaksa mengantarkan mereka pulang sebenarnya, mengingat Yoongi yang menumpang pada mereka saat datang tadi dan Jimin yang tidak menyetir. Tapi Jimin menolaknya dengan halus, dengan alasan tidak mau merepotkan dua sejoli yang harus istirahat untuk acara graduasi mereka besok. Ini sudah tengah malam, tentu saja Namjoon dan Seokjin harus mengistirahatkan tubuh mereka untuk persiapan hari penting besok.

Jadilah sekarang Jimin berjalan kaki pulang dengan Yoongi di punggungnya. Salahkan bus terakhir yang sudah melaju satu jam sebelum acara minum-minum mereka selesai. Yoongi benar-benar tidak bisa diam diatas punggung Jimin. Meracau tidak jelas, menarik-narik kaus yang Jimin pakai, meronta kesal, Jimin sampai takut Yoongi jatuh dari atas punggungnya.

"Hyungie sayang, kau baik-baik saja? Tidak kedinginan, kan?"

Samar, Jimin merasakan anggukan singkat di bahunya dan lengan Yoongi yang memeluk lehernya semakin erat. Jimin tersenyum gemas, mengusap kecil kaki Yoongi yang melingkar di pinggangnya dengan ibu jarinya, mencoba menyalurkan rasa hangat dan menyamankan kekasihnya.

"Jiminie.."

Yoongi memanggil pelan, mengendus belakang telinga Jimin. Sepertinya kesadaran Yoongi benar-benar sangat tipis saat ini. Lihat saja sikap manja itu, kapan lagi Yoongi akan dengan sukarela bermanja ria pada Jimin? Sampai memanggil namanya selembut itu lagi. Meskipun tadi Jimin habis dikatai habis-habisan.

"Ya, hyungie? Jiminie disini," dengan suara selembut mungkin Jimin membalas, lalu menyampingkan kepalanya untuk mencuri sebuah kecupan dari Yoongi yang mengandarkan kepalanya pada bahu Jimin.

"Jiminie lebih suka Yoongie atau menari?"

Jimin mengulum senyumnya, apakah pertanyaan itu masih harus Jimin jawab? Bukankah jawabannya sudah sangat jelas? Tapi, menggoda Yoongi disaat seperti ini terdengar menyenangkan.

"Bagaimana kalau Jiminie bilang Jiminie suka menari daripada Yoongie?"

Lihat bagaimana bibir yang baru saja Jimin kecup itu mengerucut maju dengan lucunya? Lihat bagaimana alis yang tertata rapi itu mengerut tidak suka? Lihat bagaimana Yoongi yang mengangkat kepalanya dari bahu Jimin yang menjadi sandarannya? Lihat bagaimana lengan Yoongi yang kini memukul-mukul kesal pada bahu Jimin? Oh, Jimin rasa dia akan mimisan secepatnya.

"Ugh, dasar bocah jelek menyebalkan! Turunin Yoongie~!" Kaki Yoongi menendang-nendangkan kakinya kesegala arah, membuat Jimin semakin kewalahan menjaga tubuh Yoongi agar tidak jatuh.

"Ya! Ya! Jangan banyak bergerak, hyung."

Jimin mengenggam erat kaki Yoongi, mencoba tetap menahan tubuh Yoongi pada punggungnya. Saat Yoongi merasakan tubuhnya tidak seimbang dan hampir jatuh, buru-buru Yoongi kembali mengalungkan tangannya ke sekeliling leher Jimin, lalu menggumamkan umpatan yang tidak jelas.

Jimin kembali mengulum senyumnya melihat kekasihnya yang sungguh menggemaskan saat ini. "Hey, Yoongie marah pada Jiminie? Jiminie hanya bercanda, hyungie sayang."

"Jiminie lebih memilih menari daripada Yoongie. Yoongie tidak suka!"

Jimin terkekeh pelan, "Tidak, Jiminie lebih suka Yoongie daripada menari. Yoongie adalah kesukaan Jiminie dibandingkan apapun di dunia ini."

Manik karamel Yoongi mengerjap lucu beberapa kali, "Benarkah? Jiminie tidak berbohong?"

Jimin kembali menolehkan kepalanya kearah Yoongi dan mengangguk sambil tersenyum lucu, "Tentu saja, sekarang Yoongie percaya dengan Jiminie? Tidak marah lagi pada Jiminie?"

Yoongi tersenyum senang, sampai barisan gigi kecilnya yang rapi dengan gusi yang lcu terlihat, "Tentu saja! Yoongie sangat cinta Jiminie."

Satu kecupan di pipi, "Jiminie juga cinta Yoongie."

.

.

.

Jimin membaringkan tubuh Yoongi yang sudah tertidur diatas kasurnya. Setelah berceloteh riang diselingi marah-marah Yoongi akibat mabuknya, Yoongi tertidur dengan damai diatas punggung Jimin. Tapi tetap saja, berbagai macam umpatan untuk Jimin tetap Yoongi gumamkan didalam tidurnya. Kadang Jimin harus berfikir dua kali, sebenarnya kekasih gulanya ini mencintainya atau membencinya sih? Masa di dalam tidurnya saja Jimin diumpati begitu.

Selesai mengganti pakaian Yoongi dan membersihkan dirinya, Jimin ikut masuk kedalam selimut Yoongi dan memeluk posesif pinggang sempit Yoongi. Dengan bertumpu pada sebelah sikunya, Jimin memandangi pahatan sempurna kekasih gulanya. Dilihat berapa kalipun, Jimin tetap saja jatuh cinta pada Yoongi. Debaran di dalam sana tetap ada, dan kupu-kupu yang berterbangan di perut Jimin juga tetap sama jumlahnya, malah bertambah banyak. Tidak peduli bagaimana kondisi Yoongi saat itu, tentu saja. Toh, Jimin sudah melihat Yoongi dalam keadaan terburuknya dan tetap bertahan kok.

Jimin menyibak poni Yoongi yang sudah memanjang menutupi keningnya, menyelipakan di belakang telinga Yoongi. Dengan jari telunjuk gemuknya, Jimin menjelajahi wajah Yoongi. Dimulai dari keningya, kedua alisnya yang tertata rapi, kedua kelopak matanya yang menyimpan iris karamel favorit Jimin, hidung bangirnya, dan bibir plump kesukaan Jimin. Di setiap objek yang Jimin lewati, ia memuja, mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena telah menciptakaan seseorang sesempurna Yoongi untuknya.

Ya, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi itu kata orang orang di luar sana yang bahkan Jimin sendiri bagaimana wujud dan rupanya. Kalian tidak pernah mendengar kata Park Jimin, bukan? Menurut Jimin, mahkluk di depannya ini adalah yang sempurna. Yang katanya tidak ada di dunia ini, tapi sekarang sedang berbaring tertidur di depan Jimin setelah mabuknya. Setelah bersikap manja yang menggemaskan sekaligus mengumpati Jimin di saat yang sama.

Katakan Jimin gila, katakan Jimin berlebihan karena sudah memuja seorang Min Yoongi sampai pada level yang tidak wajar. Jimin rela orang-orang di sekitarnya mengatakan hal-apapun-itu tentangnya. Oh, lebih tepatnya Jimin tidak peduli. Toh, Jimin sudah melewati empat belas tahun penuh perjuangan untuk seorang Min Yoongi, tidak ada salahnya Jimin memuja Yoongi sampai pada level seperti ini, kan?

Jimin mendaratkan sebuah kecupan di kening Yoongi. Lama, sambil memejamkan matanya, mencoba menyalurkan rasa cintanya pada sang kekasih. "Hey putri tidur Chimchim, selamat tidur. Chimchim mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan lupa memimpikan Chimchim malam ini, ya."

Lalu dengan selembut mungkin memposisikan sebelah lengannya dibawah kepala Yoongi, menjadikannya bantal untuk sang kesayangan. Menarik selimut tebal kesayangan Yoongi sebatas dada dan membekap Yoongi di dalam dekapan hangatnya. Menyusul putri tidurnya ke negeri kapuk untuk bertemu di alam mimpi.

.

.

.

"Hey, putri tidur Chimchim, tidak berencana terlambat untuk hari pentingmu, kan?" Seperti biasa, seperti menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, Jimin kembali membangunkan Yoongi setelah dirinya sendiri siap dengan segalanya keperluannya.

Gorden kamar Yoongi sudah tersibak lebar dengan jendela yang setengah terbuka, mengizinkan fajar pagi untuk menerangi ruang kamar Yoongi dan menganti sirkulasi udara didalam kamar Yoongi dengan udara baru yang lebih segar. Matahari pagi terlihat sangat semangat untuk menyambut tubuh mungil di balik selimut tebal yang nampaknya masih sangat nyaman dan tidak berniat membuka kelopak matanya untuk menyambut pagi yang indah.

Yoongi menggeliat kecil, lalu membuka kedua kelopak matanya, memunculkan kedua iris karamel kesukaan Jimin. "Jimin, air.." suara Yoongi serak, efek bangun tidur dan juga banyaknya alkohol yang diteguknya semalam. Dan sebagai pacar yang selalu siap dua puluh empat jam dalam tujuh hari, Jimin memberikan segelas air putih kepada Yoongi yang langsung diteguk habis oleh namja pucat itu.

"Selamat pagi, sayang."

Pipi Yoongi merona dengan kepala yang sedikit tertunduk, apa-apaan panggilan yang tertuju untuk menggodanya di pagi hari seperti ini?

"U-Ugh, selamat pagi, Jimin."

"Tidak mau mandi, hyungie?"

Yoongi mengangguk, "Tentu saja mau, kau turunlah dulu, nanti aku menyusul."

Jimin hanya mengiyakan kekasihnya. Setelah memberikan kecupan 'selamat pagi'nya, Jimin melangkah turun kebawah, lebih tepatnya ke arah dapur, dimana calon-ekhem-ibu-ekhem-mertuanya sedang memasak dan calon-ekhem-ayah-ekhem-mertuanya sedang membaca koran paginya dengan segelas kopi. Oh, Jimin berdoa agar dirinya dan Yoongi terlihat seperti ini di masa depan.

Kalau boleh sedikit diberi rombakan, Jimin akan memilih dirinya berdiri di belakang Yoongi yang sedang menyiapkan sarapan pagi keluarga kecil mereka dengan lengannya yang melingkar pada pinggang ramping Yoongi dan mengecupi gemas bahu sempit itu. Setelahnya terdengar derap langkah kecil-kecil dan muncullah makhluk menggemaskan yang tingginya tidak sampai pinggang Jimin dengan nama depan 'Park' yang memanggilnya 'Papa' dan memanggil Yoongi 'Mama' yang menyambutnya dengan kecupan di pipi. Terdengar seperti pagi terbaik untuk memulai harimu, bukan?

Lamunan Jimin yang sangat indah buyar saat suara Nyonya Min menginterupsinya, "Selamat pagi, Jiminie." Jimin tersenyum, sampai matanya hilang seolah dilahap oleh pipi chubbynya. "Selamat pagi, eommonim," dan menghampiri sang calon ibu mertua untuk mengecup pipinya. Kebiasaan Jimin sejak kecil kalau sarapan di rumah Yoongi, yang terbawa bahkan setelah dirinya hampir menginjak dua puluh tahun.

"Selamat pagi, abeonim," kalau yang satu ini Jimin tetap saja segan. Meskipun sudah empat belas tahun Jimin berhadapan lansung dengan ayah Yoongi, tapi tetap saja rasa segan dan hormat itu tetap ada, bahkan terkadang Jimin merasa rasa itu melebihi rasa segannya terhadap ayahnya sendiri.

"Ah, Jimin, duduklah."

Jimin hanya mengangguk dan mendudukkan dirinya didepan sang calon ayah mertua. "Jadi, apa yang kalian lakukan semalam?"

Oh, Jimin sudah mengira pertanyaan seperti ini pasti akan ditanyakan oleh Tuan Min. Tentu saja, anakmu satu-satunya yang begitu amnis pulang diatas tengah malam dalam keadaan mabuk, ayah mana yang tidak akan bertanya pada namja yang membawanya pulang dalam keadaan tertidur diatas punggungnya? Meskipun Yoogi sudah beberapa kali pulang dalam keadaan mabuk dan di papah Jimin diatas punggungnya, tetap saja Jimin akan selalu ditanyai pertanyaan yang sama setiap paginya.

"Yoongi hyung minum-minum dengan Seokjin hyung dan Namjoon hyung lagi semalam," Jimin mencoba menjelaskan sambil meremas kedua tangannya dibawah meja makan.

Tuan Min tidak berkata apa-apa. Hanya mengangkat sebelah alisnya, mengisyaratkan Jimin untuk melanjutkan penjelasannya kembali.

Jimin mendesah pelan, menjilat bibir bawahnya yang tiba-tiba terasa kering. Ayolah, Jimin tidak melakukan hal yang tidak-tidak disini, kenapa dirinya harus merasa setakut itu? Ah, bukan dirinya, tapi aura yang dikeluarkan Tuan Min seperti biasa selalu membuatnya terdiam. Mungkin Yoongi mendapatkan aura dingin mematikan miliknya dari Tuan Min.

"Yoongi hyung meneguk sebotol soju sendirian, padahal dia sendiri tahu dia tidak kuat minum," Jimin menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu melanjutkan, "Maaf karena aku gagal melarang Yoongi hyung untuk tidak minum terlalu banyak, abeonim."

Tuan Min hanya mengangguk-angguk singkat. Dirinya memang tidak berniat melakukan apa-apa pada Jimin. Hanya ingin mengetahui keadaan putra kesayanganmu yang pulang dalam keadaan mabuk tidak ada salahnya, bukan? Yah, meskipun keingintahuannya sedikit membuat Jimin takut, tapi biar saja, agar bocah itu tidak berani macam-macam pada anak kesayangannya.

"Appa, eomma, selamat pagi."

Itu Yoongi, sudah selesai dengan kemejanya. Menghampiri ayah dan ibunya lalu mengecup pipi mereka bergantian.

"Selamat pagi, Yoongi-ah. Apakah tidurmu nyenyak?"

Lihat?! Tuan Min akan berubah menjadi sangat lembut dihadapan Yoongi, tapi seperti tentara paling setia pada negara yang siap menyerang Jimin kapan saja seolah-olah Jimin adalah musuh yang sangat berbahaya. Jimin hanya bisa menghela nafas pasrah saat Yoongi mengangguk dengan riangnya menjawab pertanyaan sang ayah.

Tidak lama kemudain, Nyonya Min meletakan empat piring kimchi bogeumbab diatas meja. "Sarapan sudah siap!"

.

.

.

Yoongi duduk di kursinya, memisahkan Seokjin dan Namjoon dengan alasan dirinya tidak mau duduk disamping orang asing yang nantinya akan sok kenal dan sok akrab dengannya. Padahal jauh didalam lubuh hati terkecil dan terdalam Yoongi, dia hanya tidak mau menjadi obat nyamuk kalau mendudukan kedua sejoli kelewat romantis dan gemar skinship itu berbarengan. Tapi, MIn Yoongi tetaplah MIn Yoongi. Mana mau namja pucat itu mengakui alasannya yang terdengar begitu kekanakan?

Jimin sendiri duduk dibagian belakang dengan Jungkook dan Taehyung. Orang tua Yoongi duduk dengan orang tuanya tepat satu baris di belakang Jimin. Bagian depan hanya diisi oleh para staff dan juga para calon mahasiswa yang akan melakukan graduasi mereka pagi ini. Makanya Jimin dan Yoongi duduk terpisah begitu. Oh, rasanya Jimin ingin menyamar menjadi salah satu mahasiswa yang akan di-sarjana-kan hari ini agar bisa duduk di samping Yoongi.

Graduasi pagi itu berlangsung dengan beberapa rangkaian acara yang Jimin sama sekali tidak mengerti apa tujuannya, yang pasti, saat Yoongi maju keatas podium dengan jubah dan toganya, Jimin adalah yang paling pertama berdiri dan bertepuk tangan heboh. Bahkan Nyonya dan Tuan Min ketinggalan satu langkah untuk memberikan tepukan heboh untuk putra kesayangan mereka.

Taehyung sendiri ikut berdiri dan menyoraki Yoongi. Tidak heran sih kalau yang menyoraki makhluk abstrud satu ini. Jungkook hanya geleng-geleng kepala, kembali berfikir bagaimana dirinya bisa berakhir dengan dua bocah gila yang lebih tua darinya tapi tidak sadar umur itu.

Sama halnya dengan orangtua Jimin, kedua pasangan berusia setengah abad itu hanya geleng-geleng kepala maklum dengan sikap Jimin yang sudah mereka prediksi diluar kepala. Tentu saja bocah itu menjadi yang paling heboh di hari kelulusan Yoongi.

Acara selesai setelah beberapa jam berlalu. Setelah melakukan perayaan kecil-kecilan dan mengambil beberapa foto dengan teman-temannya, Yoongi menghampiri orang tuanya. Senyumnya merekah saat menemukan Jungkook dan Taehyung juga orang tua Jimin disana.

"SELAMAT SEONSANGNIM!"

Taehyung melempar tubuhnya kearah Yoongi, memeluk tubuh kurus itu dengan erat sampai Yoongi harus meronta demi melepaskan diri. Begitu juga Jungkook, bocah kelinci satu itu sepertinya tidak menyadari nafas Yoongi yang hampir putus karena pelukan kelewat erat kekasihnya dan ikut memeluk tubuh Yoongi. Setelah beberapa pekikan dan umpatan juga dorongan kasar, Yoongi berhasil melepaskan diri dari dua mantan muridnya dan bernafas dengan lega.

"Selamat atas kelulusanmu, sayang," sang eomma datang menghampiri Yoongi dan memberikan sebuket bunga violet kepada Yoongi, lalu mengecup keningnya sayang. "Terima kasih eomma, appa."

"Selamat atas kelulusanmu, sayang," kali ini Nyonya Park yang menghamiri Yoongi dan memberikan kecupan pada kedua pipinya. Daripada kening, Nyonya Park lebih suka pipi pucat Yoongi yang menurutnya gempil, meskipun pipi Jimin jauh lebih gempil daripada pipi Yoongi. "Terima kasih, eommonim."

Yoongi mengedarkan pandangannya, dan saat menyadari sesuatu yang aneh, alisnya berkerut tidak suka. Yoongi melempar pandangan penuh tanda tanya pada orang-orang disekitarnya. Tidak ada Jimin disini, tidak ada kekasih bocahnya. Yoongi merasa ada yang kurang. Sangat kurang malah.

"Dimana Jimin?"

Bukannya menjawab, Jungkook malah menyerahkan sebuket Calla Lily yang dibungkus apik pada Yoongi dan tersenyum penuh makna. Alis Yoongi kembali mengerut tidak suka. "Aku tidak mau bunga, Kookie. Aku mau Jimin. Dimana Jimin?"

"Jimin ada di buket itu, hyung." Tidak seperti Taehyung, Jungkook lebih memilih memanggil Yoongi dengan panggilan hyung daripada seonsaengnim kalau sudah berada diluar sekolah.

Manik Yoongi mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna maksud Jungkook. Lalu, selembar kertas berwarna putih menggantung diujung buket bunganya. Yoongi meraihnya dan menangkap deretan kata hangeul yang tertulis dengan berantakan. Khas tulisan seorang Park Jimin. Dengan rasa ingin tahu yang kuat, Yoongi mulai membaca deretan kata didalamnya.

Hai, Yoongi-ah~

Selamat atas kelulusanmu, sayang. Maaf kalau aku tidak ada disana untuk mengucapkannya langsung padamu dan memeluk tubuhmu untuk kemudian diangkat berputar diudara. Aku tahu kau mengharapkannya karena aku mendapatimu menyimpan beberapa foto semacam itu di galeri ponselmu. Kkkk~

Oh, Yoongi merasa wajahnya menghangat menyadari rahasia memalukannya terungkap. Dengan beberapa gelengan kepala dan tepukan pelan di pipi, Yoongi melanjutkan bacaannya.

Ah, apakah kau penasaran dimana aku sekarang? Tidak, aku tidak lagi berada disekitar kampusmu, Yoongi-ah. Aku sedang menyiapkan sesuatu untukmu. Sesuatu yang sangat spesial tentu saja. Kkkkk~ Apa kau menantikannya, sayang? Kalau begitu, temui aku.

CLUE 1 : Ruang dimana kita menghabiskan pagi kita bersama beberapa bulan terakhir.

Dengan segera, Yoongi berpamitan dengan orang tuanya dan orang tua Jimin, juga pada kedua anak muridnya yang sudah bersedia datang ke graduasinya. Yoongi harus menemui Jimin dengan segera. Ah, sepertinya Yoongi harus memutar otaknya beberapa kali demi bertemu Jimin.

.

.

.

TBC

.

.

.

INFIRES!

Annyeonghaseyo teman-teman semuanya. Syubsyubchim kembali dengan updatean fanfic ini setelah mendapatkan ide dan melewati minggu ujian. Maaf banget kalau updateannya lama dan pendek. Syubsyub sudah mengusahakan yang terbaik untuk readernim sekalian. Jadi, selamat membaca dan menikmati, hohoho.

Banyak yang ngira fanfic ini udah END ya? Hehe. Engga kok, chapter lalu itu cuma special chapter, jadi hanya semacam cerita lepas, jadi yang END hanay cerita itu saja, bukan this entire fanfic. Mungkin syubsyub akan banyak buat cerita lepas untuk fanfic ini, kalau fanfic ini jadinya panjang, kalo engga, yaudah, heheheee.

Untuk yang kesekian kalinya, maafkan typo yang bertebaran. Syubsyub emang rajanya typo nih, gimana dongggg. Ada yang bersedia menjadi editor-nim syubsyub dan mengecek typonya demi syubsyub? Kalo ada hubungi Min Suga! (ga ada yang mau) (ehe)

Dan, ada berita baik, kemungkinan syubsyub bakal fast update karena sedang menganggur dan ide sudah muncul, tapi mending ekspektasinya jangan tinggi-tinggi deh, syubysyub takut mengecewakan. Jadi ekspektasinya yang sewajarnya saja eheheheeee (nyempil di pojokan).

Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.

SPECIAL THANKS :

hanvc : Yoongi emang ngebocah ya kalo udah ketemu Kumamon. | 07 : Apakah nama kamu yang muncul masih 07 aja? Maaf banget ya yang keluar selalu 07 aja. Aku udah berusaha edit berkali-kali, tetap aja yang keluar cuma 07 (nangis di pojokan). Eh, Jimin gaboleh dibawa pulang, itu property of Min Yoongi. Entar disantet Kumamon loh (eh). Kkkkk~ | glow-rie : Iya syubysub emang hobinya ngalong, eheee, mungkin dulunya vampire (eh). Naenanya mungin chapter depan, who knows? (digaplok) | santikamillen | tryss : Ini udah dterusin. Selamat membacaa! | Myug93 | HyunShine : Entar kalo Jimin mati kepanasan kalo pake kostum kumamon pas ngedate giimana? (eh) | Viyomi : Iya kan butelan lemak bentet satu itu imut banget kalo jadi bocah tukang nangis ngelap ingus. Kkkkkk~ Eh, itu pipi punya Yoongi, entar dibasmi syubsyub ga tanggung jawab lohh eheeee. | MinJiSu : Idenya akan disimpan untuk jadi cerita lepas, atau mungkin fanfic oneshot lainnya. Terima kasihhhh~ | Dessy574 : Aduh maaf banget kalo syubsyub salah ngeti nama kamuu. Maaf banget syubysub ga sadar soalnya. Ini masih salah kah? | exoinmylove | cupid | CandytoPuppy | BornSinger : Ini belum END kok, yang END cuma special chapter aja, hehe. Selamat membaca kelanjuttannya. | minyoonlovers : Ini belum END kok, yang END cuma special chapter aja, hehe. Selamat membaca kelanjuttannya. | anunyajimin : Ini belum END kok, yang END cuma special chapter aja, hehe. Selamat membaca kelanjuttannya. Btw, penname kamu emejing banget, syubsyub gakuat . | BabyByunie : Naenanya ditunggu yaaaa, lagi otewe(?) | XiayuweLiu : Ini belum END kok, yang END cuma special chapter aja, hehe. Selamat membaca kelanjuttannya. | Park Rinhyun-Uchiha : Cute bighit. Kreatif bighit masa kata-katanya. | indriwin175 : Makasih banget udah jadi pembaca aktif dari chapter satu, syubsyub jadi terharu nih (nyeka air mata lebay). Maaf juga karena kamu ga tercantum jadi reviewer, tapi gapap kok, ini nama kamu udah ada. Heheee~ | Nackata614 : Syubsyub gapunya wattpad, ga tau juga cara makenya gimana. Hehe. | Hanami96 : I feel u fella. Syubsyub juga gemes sendiri ngetik versi anak-anaknnyaaaa. Ughh~ | Guest : Ini belum END kok, yang END cuma special chapter aja, hehe. Selamat membaca kelanjuttannya. | Hozi Kwon : Kamu lagiii ! Eheyy, mood syubysub juga naik banget loh baca review kamu. Makasih ya udah mau review dan baca fanfic syubsyub (kecup basah). Semoga yang kali ini emailnya ga kelelep yaa, kasiin pelampung kalo kelelep lagi, heheee. | Dyah Cho : ADUH! syubsyub terharu banget kamu ela reviewin dari chapter pertama masaaa. Padahal kalo kamu cuma review chapter terakhir juga syubsyub udah seneng minta ampun, ini malah di review dari chapter satu. Makasih bangett {kecup basah). Btw, ini belum END kok, yang END cuma special chapter aja, hehe. Selamat membaca kelanjuttannya. Dan makasih untuk dukungannya, syubsyub akan mencoba menghiraukan hate comment mulai sekarang :3 | vtan368 | Phylindan : EH DINOTIS SENPAI ! Syubsyub seneng banget masa (kayang sambil selebrasi) ! Kumamon emang punya tempat spesial ya di hati yungiii. Aminin Jimin dah, Amin. | yourhope : Ayo beli kostum Kumamon bareng! Biar bisa nyulik yoongi dan mengalihkan dunianya dari Jimin. Kkkkkkk~ | Fujimoto Yumi : Cant express my feels properly rn. Ternotis sama writter idol itu feelingnya gabisa diungkapin dengan kata-kata aja. Its okay even if you just reviewing the last chapter. Im alrd fckng happy rn. Senyum-senyum sepanjang baca reviewnya yang sepanjang kereta api. Setuju! Jimin emang maso untuk Yoongi. Ayo kita bentuk #TeamJiminMaso bersama, kedengaran keren, kan? Kkkkkk~ Thankyou for the review my inspirator since i was bocah ingusan. Semoga tidak mengecewakan ya. | YoonMin Shippers

(P/S : Maaf kalau ada yang namanya salah ketik atau kelupaan.)

.

Terima Kasih.

Salam, INFIRES!