Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei


Terima kasih untuk semua reviewnya, tapi author lagi ga' bisa banyak cincong *otak author lagi bermasalah - bisik Ichigo*

Habis diomelin Om Tite Kubo karena sudah membuat chara-nya jadi seperti ini *author meringkuk di pojokan, menyesali kebodohannya, plus kebuntuan otaknya*


Title : To Make You Feel My Love

By : Nakki Desinta

Pairing : Byaruki

Chapter 7 : The Last Defense


Dalam perjalanan pulang dari rumah Ichigo, Rukia duduk manis di samping Byakuya, wajahnya menghadap kaca mobil tengah memperhatikan huj an yang semakin deras disertai angin kencang. Byakuya memperhatikan Rukia lekat-lekat, hatinya gelisah melihat Rukia yang sepertinya semakin menjauh darinya.

"Apakah kau bahagia bersama Ichigo, Rukia?" tanya Byakuya tiba-tiba.

Rukia menoleh pada Byakuya dan tersenyum.

"Pertanyaan yang sama untukmu. Apakah kau bahagia saat pacaran bersama Isane?" ucap Rukia.

Byakuya mengendikkan bahu, dan tubuhnya merosot sedikit dari duduknya.

"Aku tidak pernah pacaran sebelumnya, Isane yang pertama, dan merupakan mimpi buruk untukku," jawab Byakuya terang-terangan.

"Jelaslah, Isane menyebalkan begitu!" sahut Rukia sambil cekikian.

"Bukan itu alasan utamanya."

Rukia terdiam seketika, dan memperhatikan Byakuya yang menatap lurus jalanan, tidak melihat genggaman tangan Byakuya yang semakin erat di setir.

Byakuya menghela napas berat, rasanya sulit sekali untuk menjelaskan bagaimana perasaannya sendiri.

"Aku mencintai orang lain."

Rukia menekap mulutnya, kaget, tapi disaat yang sama hatinya ikut gelisah mendengar pernyataan kenapa?

Kecewa menyelimuti dirinya dalam sekejap …

Tapi kenapa harus kecewa mendengar Byakuya mencintai orang lain, bukankah bagus karena ternyata Byakuya tidak benar-benar menyukai Isane? Rukia tertunduk dan menggenggam tangannya sendiri.

"Aku mencintainya sejak lama, tapi dia tidak pernah sekalipun memandangku. Karena aku tau cintaku salah, tidak seharusnya aku mencintainya."

Sorot mata Byakuya menerawang, kosong seperti jiwanya sedang terbang entah kemana.

"Aku mencoba menghapus perasaan itu, tapi semakin aku berusaha maka semakin besar rasa itu menguasai hatiku."

Debaran jantung Rukia semakin cepat, melihat bagaimana wajah Byakuya saat mengucapkan kalimat itu sungguh sangat menggambarkan duka yang Byakuya rasakan. Hatinya ikut sakit. Kenapa? Sesak hingga sulit bernapas. Padahal saat Byakuya memutuskan pacaran dengan Isane dia tidak sedikitpun merasa seperti ini, karena Rukia sadar Byakuya tidak pernah serius ingin dekat dengan Isane.

Lalu kenapa?

"A..apa kau pernah mengatakan padanya?" ucap Rukia gagap.

"Belum, aku ingin mengatakan padanya, tapi aku takut ia akan membenciku."

Rukia mendongakkan wajahnya, menatap Byakuya yang sedang melihat kearahnya. Rukia mendapati sorot mata Byakuya yang sendu. Entah mengapa Rukia merasa bahwa sorot mata itu ditujukan untuknya.

Rukia segera memalingkan wajahnya.

Ini salah.., ada apa denganku? Kenapa aku merasa seperti ini? Ini pasti simpati, ya.. simpati pada Byakuya, bukan perasaan lain, kata hati kecil Rukia coba untuk menyakinkan dirinya.

.

.

Berlangsungnya Festival olahraga Kota Karakura hanya tinggal menghitung menit.

Awalnya Rangiku yang tidak menaruh perhatian sedikitpun pada acara ini langsung mengubah penampilannya jadi super seksi. Dia melihat mahasiswa dari Universitas Soul Society ternyata keren-keren.

Rukia sendiri hampir pingsan saat mendapati teriakan seisi kelasnya saat beberapa orang anggota serikat mahasiswa Soul Society lewat di depan kelasnya, dan salah satu diantaranya adalah Ichigo. Ichigo melambaikan tangan padanya sambil tersenyum, Rukia membalasnya, namun perempuan lain dalam kelas ikut melambaikan tangan, mengira bahwa Ichigo sedang menyapa mereka.

"Keren!"

Rukia langsung terkubur diantara yang lainnya, mengingat dia tidak dapat bersaing sekalipun sudah berjinjit di atas ujung kakinya.

Rukia tidak pernah tau kalau Ichigo adalah Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Soul Society, dia baru tau kemarin, saat Ishida Uryuu mengumumkan susunan panitia pelaksana Festival Olahraga Kota Karakura. Ichigolah yang mengkoordinir seluruh kegiatan klub sehingga Universitas Soul Society bisa memenangkan bagitu banyak perlombaan. Tidak heran, Ichigo terlihat sangat memesona.

Seperti yang dikatakan oleh Pelatih Kenpachi, festival ini akan memperlombakan beberapa bidang olahraga, hampir semua klub ikut serta, dari baseball, rugby,lari marathon, senam lantai, voli, dan basket.

Wakil dari masing-masing cabang olahraga sudah ditentukan. Rukia mendapatkan kehormatan untuk mewakili cabang lari sejauh 3km, sedangkan Byakuya sudah dipastikan akan ikut serta dalam pertandingan basket, dan tidak dapat dielakkan lagi dia harus melawan Ichigo.

Hari pertama adalah giliran cabang lari marathon, baseball, dan senam lantai. Hari kedua adalah rugby, voli dan basket. Sedangkan hari terakhir adalah penyerahan hadiah dan penghargaan, disertai penutupan dan pengumuman putri festival olahraga.

Pertandingan berlangsung sengit, saat pertandingan baseball semua harus menahan napas karena poin yang terus kejar-kejaran, tapi akhirnya baseball sudah dimenangkan oleh Universtitas Soul Society. Sedangkan untuk senam lantai tidak perlu usaha besar besaran karena senam lantai dimenangkan oleh Universitas Karakura, wakilnya adalah Nemu, siapa lagi yang punya badan gesit selain Nemu di kampus ini.

Kedudukan hingga sore hari masih satu sama, persaingan makin sengit saat Rukia diturunkan ke medan pertandingan. Saat hendak turun ke lapangan dia berpapasan dengan seorang perempuan yang warna rambutnya hampir sewarna dengan rambut Rangiku, tubuhnya juga sama berisinya, namun bedanya perempuan itu memiliki senyum paling innocent yang pernah Rukia lihat.

"Rukia ya?" tanyanya.

"Iya, aku Rukia. Kamu?"

" Inoue, aku yang akan mewakili Universitas Soul Society."

Mereka bersalaman. Namun entah mengapa Rukia meliaht ada yang tidak beres dari Inoue, senyumnya memang manis, tapi wajahnya seperti memendam kesal.

"Kamu pacar Ichigo ya?"

Seketika Rukia menyadari penyebab kekesalan di wajah Inoue, perempuan ini suka dengan Ichigo. Semua jelas hanya dalam waktu beberapa detik. Rukia tidak sedikitpun merasa heran karena Ichigo memang laki-laki keren dengan sejuta pesona yang akan membuat siapapun mudah jatuh hati. Rukia merasa beruntung bisa mendapatkan kehormatan itu.

"Rukia!"

Mereka berdua sama-sama menoleh kearah datangnya suara. Ichigo melambaikan tangan dan di belakangnya, Byakuya, mengekor Ichigo. Mereka berdua sama-sama mendekat pada Rukia dan Inoue.

"Hallo, Kurosaki!" sapa Inoue dengan senyum cerah.

"Hallo, Inoue. Sudah siap?" tanya Ichigo seraya menepuk bahu Inoue.

Rukia melihat kedekatan Ichigo dan Inoue, mereka saling mendukung, sudah sewajarnya, begitulah pikir Rukia, hingga ia tidak melihat sedikitpun sikap aneh Inoue yang mencondongkan badan ke Ichigo, mencari perhatian Ichigo. Rukia tidak sedikitpun merasa cemburu meliaht hal itu, tersenyum malah.

Byakuya menghampiri Rukia yang masih melihat Ichigo sibuk bicara dengan Inoue.

"Bagaimana kesiapanmu?" tanya Byakuya, membuat Rukia menoleh padanya.

"Sudah ok, tinggal menyerahkan semuanya pada kakiku!" kata Rukia seraya menepuk lututnya yang terbalut bandage . Byakuya memperhatikan ikatan tali sepatu Rukia yang renggang, seketika ia berlutut dihadapan Rukia dan meraih tumit Rukia perlahan.

"Kau seharusnya ikat dengan baik," ujar Byakuya.

Rukia terdiam melihat Byakuya yang berlutut dihadapannya, mengikat tali sepatu dengan perlahan, seolah dirinya adalah Cinderella yang sedang dipakaikan sepatu oleh pangeran tampan. Beberapa orang di sisi lapangan melihat Byakuya dan Rukia, beberapa berdecak kagum dengan perhatian kakak sebaik Byakuya pada Rukia, ada yang iri, bahkan tidak terima pangeran mereka melakukan hal seperti itu pada seorang Rukia.

"Mereka sangat serasi," bisik Rangiku yang duduk di kursi penonton.

"Sayangnya mereka adik kakak," sahut Hitsugaya.

"Aku suka dengan cinta terlarang," kata Rangiku dengan senyum jahil. Hitsugaya memberikan tatapan penuh tanyanya pada Rangiku.

Byakuya sengaja memperlambat gerakan tangannya, ia ingin selamanya berada dihadapan Rukia, ia ingin selamanya Rukia hanya melihat kearahnya seperti saat ini.

"Aku bisa ikat sendiri," protes Rukia saat Byakuya meraih tali sepatu yang satu lagi.

"Biar aku yang lakukan," jawab Byakuya tegas.

Ichigo melihat apa yang Byakuya lakukan. Cemburu membakar hatinya. Dia merasa sudah lengah dan tidak memperhatikan Rukia, sehingga kecolongan satu langkah dari Byakuya.

"Byakuya sangat perhatian pada Rukia," kata Inoue.

"Ya, sangat!" sahut Ichigo penuh penekanan, Inoue terkejut mendengar nada suara Ichigo, penuh kemarahan.

Byakuya selesai mengikat tali sepatu Rukia, dia mendongakkan kepala dan menatap mata Rukia langsung. Sekeliling mereka seolah menghilang, yang ada hanya ia dan Rukia.

"Aku ingin selamanya kau melihatku, Rukia," bisik Byakuya tidak sadar.

Rukia terkesiap, wajahnya memerah seketika. Ia mendengar ucapan Byakuya sekalipun hanya seperti hembusan angin, namun terdengar jelas dan lembut di telinganya. Membawa debaran hebat dalam jantungnya, seketika Byakuya terlihat sangat tampan dimatanya. Rambutnya yang tertiup angin, matanya yang sendu dan lembut, garis wajahnya yang tegas…

"Kenapa denganku?" gumam Rukia pada dirinya sendiri.

"Aku akan berlari secepat mungkin!" kata Rukia yang membuyarkan pikiran Byakuya, dan menepis debaran di hatinya sendiri.

Byakuya berdiri tegak, sekarang Rukia yang mendongakkan wajah untuk menatapnya.

"Lakukan yang terbaik, tapi jangan sampai kau terluka."

Rukia mengangguk.

Byakuya meraih sesuatu dalam saku celana olahraganya, ia meraih poni Rukia, lalu menyisir rambur Rukia dan memakaikan jepit rambut berwarna violet, hingga poni yang biasanya menutupi sisi wajah Rukia sekarang terjepit rapi ke belakang.

"Jangan sampai kau jatuh gara-gara tidak bisa melihat," kata Byakuya seraya mundur dan melihat wajah Rukia yang semakin merah. Rukia merasakan sentuhan tangan Byakuya di kepalanya, usapan yang sangat lembut.

"A.. aku tidak akan jatuh!" sembur Rukia seraya berlari menuju lintasan lari yang sudah dipersiapkan. Dia ingin pergi dan tidak melihat wajah Byakuya, semakin melihat wajah Byakuya maka semakin debaran jantungnya tidak bisa dikendalikan.

"Betapapun Rukia menghindari pada akhirnya dia akan luluh, lihat saja," kata Rangiku percaya diri. Matanya tidak sekalipun lepas dari Rukia dan Byakuya, kemudian dia melihat Ichigo yang sudah memerah menahan marah.

"Tapi Rangiku…" Hinamori tampak tidak mampu mempercayai kata-kata Rangiku.

"Sepertinya Rukia tidak menyadari…" bisik Hitsugaya mau tidak mau ikut membaca perhatian Byakuya yang berlebihan.

Pertandingan lari kali ini hanya mengikut-sertakan empat belas orang, tujuh orang peserta dari Universitas Karakura dan sisanya dari Universitas Soul Society. Pelatih Zaraki berdiri di garis start, tangannya sudah memegang peluit dengan mantap, memperhatian ke empat belas peserta mengisi lintasan yang telah disediakan.

Rukia berdiri di sebelah Inoue. Rukia masih memperhatikan aspal yang ia jejak, mengalihkan debaran jantungnya. Berkali-kali Rukia menggeleng, berusaha membuang bayangan wajah Byakuya dalam benaknya, dan berusaha menggantinya dengan Ichigo.

Ichigo melihat Rukia yang tidak tenang dan berjalan mendekatinya. "Jangan gugup," bisik Ichigo tepat di telinga Rukia.

Rukia mendongakkan kepala, tersenyum lebar kearah Ichigo. Sekali lagi kehangatan dari Ichigo menyelimuti hatinya, memberikan ketenangan yang luar biasa.

"Kau bisa melakukannya."

Ichigo mendekat dan mengecup pipi Rukia cepat.

"Kau.." Rukia kehilangan kata-katanya, karena sekali lagi panas menjalari wajahnya, membuat jantungnya kembali menghentak tak karuan.

"Doping, tidak dilarang kok," ucap Ichigo yang lalu menjulurkan lidah, menunjukkan kejahilannya.

Mereka tidak sadar bahwa mereka menjadi tontonan semuanya.

"Kurosaki Ichigo, kau membuat mahasiswaku tidak konsentrasi," protes Pelatih Zaraki.

"Aku hanya memberinya semangat," sahut Ichigo santai.

Inoue semakin geram melihat kemesraan Ichigo dan Rukia, hatinya panas dan bertekad akan mengalahkan Rukia, dengan telak kalau perlu.

Rukia memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Ichigo, tidak ada apa-apa, hanya saja wajahnya tidak mau sedikit meredam, terus saja terasa panas. Sensasi karena kecupan Ichigo sepertinya tidak akan hilang hingga pertandingan lari ini berakhir.

Byakuya memalingkan wajahnya, seperti mendapat satu pukulan keras di perutnya, membuatnya mual dan ingin muntah melihat Ichigo yang sudah menyentuh adiknya, miliknya satu-satunya.

"Makin panas saja," kata Rangiku.

"Pertandingannya?" tanya Honamori

Rangiku dan Hitsugaya geleng-geleng kepala, Hinamori sepertinya belum peka dengan sekitarnya.

Pelatih Zaraki bersiap meniup peluit saat semua sudah siap di lintasan. Perhatiannya berpusat pada Rukia yang masih belum mengembalikan konsentrasi seluruhnya pada lapangan, matanya masih kosong sambil memegangi pipi yang masih merah merona.

Pelatih Zaraki menghela napas berat, padahal Rukia adalah andalannya dalam pertandingan ini. Setidaknya kampus mereka bisa memimpin untuk hari ini, sungguh tidak lucu bila tuan rumah kalah.

Peluit berbunyi nyaring, semua peserta berlari melesat melewati garis start, tapi Rukia malah masih terdiam sampai detik ketiga.

"Ini akan buruk," keluh Pelatih Zaraki yang melihat Rukia berada di urutan paling belakang.

Byakuya dan Ichigo sama-sama berdiri dekat garis finish, melihat jalannya pertandingan, sekaligus menjadi saksi pertandingan. Ichigo sengaja berdiri dekat dengan Byakuya, meliriknya sinis, Byakuya membaca sorot mata Ichigo namun dia berusaha tetap senang.

"Kelihatannya Rukia kalah start," kata Ichigo.

"Dia akan menyusul," jawab Byakuya singkat.

"Aku tau, Rukia tidak akan kalah. Aku yakin dia akan menang."

"Sebenarnya kau mendukung yang mana?"

"Aku mendukung semuanya. Tapi aku akan memastikan Rukia melihat bahwa aku mendukungnya dan tidak membiarkan dia hanya melihat mu," kata Ichigo.

Ada makna ambigu dalam kalimatnya, membuat Byakuya mengerutkan alis. Mereka saling bertukar pandang selama beberapa saat, melihat kebencian yang jelas satu sama lain. Byakuya merasa bahwa Ichigo sudah membaca perasaannya yang sesungguhnya pada Rukia, sedangkan Ichigo sungguh-sungguh dengan kata-katanya, dia akan berusaha untuk memiliki Rukia.

"Rukia melesat dan memimpin seketika," kata moderator dari speaker.

Sekali lagi Ichigo dan Byakuya melihat kelintasan lari dan keempat belas orang sedang berusaha menyusul satu sama lain. Rukia yang kalah start akhirnya bisa memimpin, namun di sampingnya Inoue tidak mau mengurangi kecepatannya sedikitpun, setiap kali Rukia memimpin maka Inoue akan menyusul dengan sangat cepat, begitu juga sebaliknya.

"Tim mu boleh juga," komentar Byakuya.

"Inoue tidak bisa dianggap remeh," kata Ichigo bangga dengan perwakilan yang merupakan jagoan yang selalu mereka elu-elukan.

Rukia berusaha untuk selalu memimpin, namun tenaganya seperti terkuras sedikit demi sedikit. Teriakan dan sorakan penonton seperti mendengung dalam telinganya, sementara peserta lain ikut berteriak kearahnya, memecah konsentrasi yang sudah susah payah ia bangun.

Inoue memacu kakinya agar selalu berada di samping Rukia, menyaingi kecepatan lari Rukia sekalipun napasnya sudah megap-megap, dia bertekad untuk mengalahkan Rukia.

"Aku tidak berhasil memenangkan Ichigo, maka aku harus memenangkan pertandingan kali ini untuk membalasnya," tekad hati kecil Inoue.

Rangiku, Hinamori dan Hitsugaya kedatangan tamu. Grimmjow bergabung dalam kerumunan di tepi lapangan. Grimmjow melihat sengitnya persaingan antara Rukia dan Inoue, 11 - 12 karena mereka selalu saling menyusul.

"Tinggal satu putaran lagi," kata Grimmjow saat Rukia sudah menjejak garis start untuk yang ketiga kalinya.

"Kau bertaruh untuk siapa?" tanya Hitsugaya tanpa tujuan.

"Rukia!" jawab Grimmjow cepat.

"Byakuya!" sahut Rangiku. Grimmjow kontan membungkukkan badan untuk melihat wajah Rangiku langsung, dia bingung dengan taruhan Rangiku. Bukankah mereka sedang bertaruh mengenai pemenang pertandingan lari? Lalu kenapa jadi Byakuya? Memangnya Byakuya ikut serta dalam pertandingan ini?

"Baiklah, aku bertaruh untuk Ichigo," timpal Hitsugaya sambil menjulurkan tangan, lalu Rangiku menyambut tangannya, mengguncang tangan dua kali sebagai tanda sahnya pertaruhan mereka.

"Kenapa jadi Byakuya dan Ichigo? Kalian sedang taruhan apa?" Grimmjow masih belum mengerti.

Baik Rangiku maupun Hitsugaya sama-sama tidak menjawab, mereka nyengir melihat Grimmjow yang masih bingung. Sedangkan Hinamori yang akhirnya mengerti topic mereka hanya diam, dia tidak ingin membuka isi otak Rangiku yang menurutnya error. Karena untuk akal sehatnya, tidak mungkin Byakuya menyukai Rukia, dan dari pada jadi permasalahan jadi dia memilih diam. Diam adalah emas.

Rukia dan Inoue hanya tinggal beberapa puluh meter lagi sebelum mencapai pita garis finish yang dibentangkan oleh Ishida Uryuu di kanan dan Nell disisi satu lagi. Rukia memimpin satu langkah di depan Inoue, kelelahan karena sudah hampir sampai pada batas kekuatan napasnya. Inoue seperti tidak mau menyerah, dia terus memaksakan diri untuk menejar Rukia.

Rukia melihat garis finish yang hanya tersisa beberapa meter, matanya tertuju pada dua orang yang berdiri dua langkah dibelakang pita garis finish. Ichigo berdiri di sebelah kiri, dan Byakuya di sisi kanan.

"Kenapa mereka berdua berdiri disana?" tanya Rukia heran.

Kedua orang itu menjulurkan tangan kearahnya. Ichigo membentangkan tangannya kedepan, seperti hendak menangkapnya dalam pelukan, sementara Byakuya hanya berdiri santai namun tegas, tangannya hanya terjulur satu, tapi uluran tangan Byakuya hanya serupa dengan tawaran seseorang untuk membantunya berdiri.

Rukia tiba-tiba merasa bingung kemana ia akan berlari, keduanya sama-sama untuk mencapai garis finish, tapi uluran tangan itu bermakna lain, hatinya resah.

Ichigo tersenyum padanya, namun Byakuya terlihat jauh lebih menyilaukan matanya.

"Kedua peserta sudah mendekati garis finish, siapakah yang akan menjadi pemenangnya?" seru moderator yang ikut deg-degan melihat peserta yang bersaing ketat, sedangkan dua belas peserta yang lain tertinggal jauh dibelakang.

Rukia memacu kakinya yang semakin dekat dengan garis finish, tidak ingin disusul oleh Inoue, dia meyakinkan diri harus menang, namun disaat yang sama dirinya bimbang, kemana ia akan berlari.

Kepada Ichigo ataukah Byakuya?

Kepalanya pening melihat sosok Ichigo dan Byakuya yang semakin jelas.

"Kenapa aku jadi begini?" bisik hati kecil Rukia.

Dia memutuskan untuk memejamkan mata tepat saat hampir mencapai pita garis finish, lalu wajah Byakuya muncul dalam benaknya. Ia mengingat kembali bagaimana Byakuya mengikat sepatunya tadi bahkan mengingat bagaimana Byakuya memakaikannya jepit rambut.

Pelatih Zaraki melihat tingkah Rukia, dia mengerutkan dahi.

"Kenapa lagi dia? Apa mau jatuh lagi?" desis Pelatih Zaraki.

Rukia membuka mata, dan seketika dalam jarak pandangnya hanya ada Byakuya, tidak ada pita garis finish, bahkan tidak ada siapapun, hanya ada Byakuya dihadapannya. Rukia berlari kearah Byakuya, tangannya terulur seolah ingin menggapai Byakuya.

"Aku tidak akan jatuh," seru Rukia keras. Seluruh penonton menahan napas saat Rukia dan Inoue hampir bersamaan menyentuh pita garis finish, namun Rukia lebih cepat sepersekian detik menyentuh pita, dan tubuhnya condong kearah Byakuya.

Byakuya terkejut melihat Rukia yang berlari kearahnya, dan dia menangkap tubuh Rukia disaat Rukia yang sudah melewati garis finish, hampir limbung.

"Aku menang," bisik Rukia senang. Dia mendongakkan wajah, melihat wajah Byakuya yang kaku karena kaget, namun detik kemudian Byakuya tersenyum padanya, menegakkan tubuh Rukia dan memeluknya erat.

Byakuya merasa terbang setinggi-tingginya bila ia memiliki sayap. Rukia telah berlari kearahnya, Rukia melihatnya, Rukianya.. Rukia miliknya, Rukia yang ia cintai.

Rukia tidak mempersoalkan Byakuya memeluknya erat, menopang beban tubuhnya yang sudah tidak mampu ditopang kakinya sendiri. Ia hanya merasa bahagia karena sudah memenangkan pertandingan kali ini, membuat Universitas Karakura memimpin skor dua satu.

"Kau hebat," bisik Byakuya yang merangkul bahu Rukia erat. Ia mengucapkan kalimat itu dengan segenap hatinya, karena sesaat Byakuya merasa telah memenangkan sedikit dari sekian banyak perhatian Rukia yang selama ini hanya tertuju pada Ichigo. Hatinya mengembang hingga terasa sangat luas, terlalu bahagia hingga ia tersenyum tanpa ia sadari.

Momen ini tidak luput dari perhatian Rangiku, dan Hitsugaya. Rangiku tersenyum penuh kemenangan melihat Rukia yang berlari kearah Byakuya, sedangkan Hitsugaya tidak mempercayai kekalahan yang tergambar jelas dihadapannya.

"Aku seharusnya tidak hanya meminta traktiran makan satu minggu," gumam Rangiku senang.

"Ini belum berakhir Matsumoto," sahut Hitsugaya.

Ichigo melihat kedua orang itu berpelukan. Marah hingga rasanya ingin meninju wajah mulus Byakuya, ingin meninggalkan bekas keunguan yang akan membuat Byakuya sadar dan berhenti berkeliaran didekat Rukia. Hatinya kecewa, kecewa karena Rukia lebih memilih Byakuya, bukan dirinya.

"Selamat, Rukia."

Byakuya kontan melepaskan pelukannya, dan melihat siapa yang bicara, dia tau itu adalah suara Ichigo, hanya saja ia merasa perlu memastikan raut wajah Ichigo saat ini. Benar saja, tidak ada senyum mengembang yang akan membuat para perempuan terpesona, hanya ada wajah kukuh sarat dengan kemarahan karena cemburu yang sudah mendarah daging.

"Aku menang," seru Rukia polos.

"Tidak salah aku mengandalkanmu, Rukia." Pelatih Zaraki ikut nimbrung dalam kerumunan, Rukia tersenyum lebar, kemenangan ini akan ia ingat baik-baik.

Inoue melirik Rukia dan Ichigo, ini benar-benar mimpi buruk dalam hidupnya, dikalahkan telah dua kali oleh perempuan yang kelihatannya biasa saja.

Ichigo merangkul pinggang Rukia hingga Rukia menempel padanya, merebut Rukia dari tangan Byakuya. Byakuya yang sungguh berat melepas Rukia mau tidak mau melepas Rukia, karena Rukia yang melepas bahunya lebih dulu dan langsung mendekat pada Ichigo, membiarkan Rukia menjauh darinya.

Bagi Byakuya kebahagiaan itu memang tidak terasa lama namun akan membekas untuk selamanya.

.

.

Hari kedua festival olahraga pun tiba, seperti biasa semua berbondong-bondong menghadiri pertandingan yang dilangsungkan, warga dari kedua universitas sampai membludak di auditorium saat mereka melangsungkan pertandingan voli pada pagi hari, dan kali ini universitas Karakura harus gigit jari karena kalah, dan kedudukan poin menjadi dua sama untuk kedua universitas.

Pelatih Zaraki makin spot jantung, padahal sampai kemarin harapannya sudah besar karena sudah memimpin setelah Rukia memenangkan pertandingan lari. Ishida Uryuu, mati-matian memotivasi peserta yang akan mengikuti pertandingan rugby, ia tidak ingin kali ini mereka kalah lagi.

Sementara itu Ichigo dan Byakuya tidak pernah melepaskan mata mereka dari Rukia, padahal Rukia sendiri tidak menyadarinya, dia lebih suka berkumpul dengan Rangiku dan Hinamori. Menonton semua pertandingan, karena Ichigo sebagai panitia pasti memiliki kesibukan sendiri, dan dia tidak ingin merepotkan Ichigo dengan terus-terusan menempel padanya.

Rukia sudah memberi dua acungan jempolnya untuk mendukung Byakuya, dia berpesan agar Byakuya menang, tapi disaat yang sama ia juga menyemangati Ichigo, Rangiku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Rukia yang super netral. Rukia hanya ingin menyemangati keduanya mengingat pertandingan basket adalah pertandingan terakhir dan penentu pemenang festival olahraga kali ini.

Mereka menyaksikan pertandingan rugby, pertandingan ini juga berlangsung sengit, kedua tim tidak ada yang mau mengendurkan pertahanan sedikitpun. Penonton serta para pendukung akan berteriak histeris setiap kali tim dukungan mereka harus terpental karena diterjang oleh tim lawan.

Untungnya Universitas Karakura memiliki pemain dengan badan tinggi tegap yang gesit, seperti Madarame Ikkaku, dan Sado Yasutora sehingga mereka bisa menang sekalipun hanya menang tipis.

Seusai pertandingan rugby, Ichigo menjemput Rukia di kursi penonton, membuat mata beberapa perempuan harus merundung karena sedih orang yang mereka kagumi sudah direbut oleh Rukia.

Rukia menyambut uluran tangan Ichigo yang membantunya menuruni anak tangga satu persatu, membuat perhatian banyak mata semakin mengarah pada mereka. Rangiku malah jelas-jelas bersiul saat Rukia berjalan meninggalkan mereka.

"Persaingan poin semakin ketat saja," kata Ichigo saat mereka berjalan ke taman belakang.

"Iya, dan aku akan menjadi penonton yang baik untuk pertandingan terakhir," sahut Rukia sambil tersenyum.

Ichigo mengelus puncak kepala Rukia, menikmati kedekatan mereka yang sangat membahagiakan.

Byakuya melihat Ichigo yang menggiring Rukia ke taman belakang, perhatian Byakuya tertuju pada kantong yang dibawa Ichigo.

"Mereka makan siang bersama," kata Byakuya sambil melirik kantong yang ia bawa, percuma saja ia membelikan makan siang untuk Rukia, kesempatannya sudah direbut oleh Ichigo.

"Kau tidak makan siang?" Grimmjow menepuk bahu Byakuya. Byakuya melihat sekitarnya yang sudah kosong, lapangan sudah kosong, semua berjalan kearah kantin untuk makan siang.

"Aku akan menyusul, kau duluan saja," jawab Byakuya yang justru berjalan menjauhinya.

Grimmjow mengendikkan bahu pada Nell yang berdiri disebelahnya. Byakuya memang terbiasa menyendiri.

.

Ichigo dan Rukia duduk bersebelahan di kursi taman belakang, kursi yang ditempatkan tepat dibawah pohon rindang, menaungi mereka dari sinar matahari dan sekaligus memberikan kesejukan. Ichigo membuka kantong yang ia bawa, ada dua botol air mineral dan dua buah kotak makan.

"Yuzu yang membuatnya. Dia kangen padamu dan berharap kau bisa datang lagi kerumah," kata Ichigo saat menyodorkan kotak makan berwarna cokelat tua pada Rukia.

"Wah.., aku akan sering-sering datang, masakan buatan Yuzu sangat enak, memangnya aku, hanya bisa goreng telur dan membuat mie instan," ucap Rukia sambil membuka kotak makan.

Dua potong sandwich tersaji disana, lengkap dengan dua potong sosis, sama dengan milik Ichigo. Mereka menyantap makan siang mereka sambil menatap langit yang perlahan gelap, awan hitam berarak mulai menyatu menutupi cahaya matahari, hujan akan turun.

Mereka menyantap makan siang mereka sambil menatap langit yang perlahan gelap, awan hitam berarak mulai menyatu menutupi cahaya matahari. Udara sekitar yang sangat sejuk membuat mereka menghabiskan makan siang mereka dalam diam, ketenangan yang menggambarkan hati mereka saat ini.

Ichigo merapikan kotak makannya dan meletakkannya kembali dalam kantong kertas, dan meraih air mineral, dia membukakan tutup botol dan diberikan pada Rukia. Ia melihat Rukia tersenyum sambil menyambut botol minum dari Ichigo dan menukarnya dengan kotak makan yang sudah kosong.

Rukia tidak pernah menyangka akan menjalin hubungan dengan seorang Kurosaki Ichigo, karena Ichigo seperti cahaya terang yang hadir saat kegelapan menaungi bumi. Senyumnya, perhatiannya bahkan sikap lembutnya, semua seperti tidak akan berakhir.

Ichigo kembali menatap langit karena semakin gelap, hatinya seketika ikut menggelap melihat hujan akan turun.

"Yuzu sangat pintar masak ya, aku ingin memakan semua masakannya hingga badanku gendut," celetuk Rukia yang duduk bersandar santai, menikmati perutnya yang terasa penuh.

"Dia mengambil tanggungjawab ibu sejak ibu meninggal, dia yang mengurus rumah. Memastikan aku dan Karin serta ayah terurus dengan baik."

Ichigo menutup matanya, melihat sosok Yuzu yang perlahan tergantikandengan sosk Ibunya yang tersenyum namun dengan cepat terganti dengan ingatan mayat ibunya yang bersimbah darah, tergeletak diaspal basah. Ichigo menggelengkan kepala untuk menghilangkan ingatan itu dari kepalanya, tapi tidak bisa dan rasa bersalah itu sekali lagi menusuk dadanya.

"Kenapa, Ichigo?"

Ichigo menggeleng cepat, tangannya meraih tangan tangan Rukia dan membimbing Rukia agar duduk dipangkuannya. Rukia membeku saat Ichigo memeluk dirinya yang terduduk diatas pangkuan, merasakan kehangatan tubuh Ichigo yang perlahan berubah dingin, detak jantung Ichigo terdengar melemah, napasnya yang hangat terdengar sangat berat. Ichigo sedang bersedih.

"Aku hanya mengingat ibuku," jawab Ichigo yang tidak ingin memperpanjang penjelasannya. Rukia melihat dengan jelas duka menyelimuti wajah Ichigo, membuat wajah cerah itu gelap dan tidak memancarkan semangat yang akan menulari siapapun.

"Aku ingin mengenal sosok ibumu, sepertinya beliau adalah ibu yang sangat baik."

Mata hazel milik Ichigo menerawang menatap langit, dia tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

"Ibuku adalah seorang dengan hati bersih, penuh kelembutan dan senyum di wajahnya seperti penyemangat bagi kami semua. Dia tidak pernah mengeluh karena kenakalan aku, Karin dan Yuzu. Dia juga akan dengan sabar menuntun kami, mengajari kami banyak hal. Kebahagiaan karena kehadiran ibu tidak akan berakhir jika saja aku tidak membunuhnya."

Rukia tersentak, menahan napasnya saat mendengar kalimat Ichigo. Matanya mencoba mencari kenyataan dari raut wajah Ichigo, dan sesal menyelimuti Ichigo, derita yang mendalam, mata Ichigo juga meredup seiring dengan sorot matanya yang melemah.

"Aku membunuh Ibuku, Rukia," kata Ichigo lagi. Dia menatap mata Rukia langsung, dia ingin Rukia menyalahkan dirinya atas kematian ibunya. Lengkungan tangan Ichigo semakin erat, seolah tidak ingin Rukia menghilang seperti sosok ibunya.

"Tapi tidak ada satu orangpun yang menyalahkanku, aku semakin tersiksa karena rasa bersalahku."

Ichigo tertunduk, mengingat bagaimana orang-orang malah menepuk bahunya agar dia bersabar atas kematian ibunya, bukannya malah menyalahkannya. Rasa bersalah adalah hukuman yang paling menyiksa, membuatnya seumur hidup tidak pernah bisa melangkah karena selalu tertahan oleh rasa bersalah itu.

"Bagaimana bisa…" Rukia tidak mampu melanjutkan kalimatnya, melihat mata Ichigo yang perlahan berkaca-kaca.

"Saat itu aku masih berumur 7 tahun," kata Ichigo yang kembali menunduk, hatinya sakit mengingat kembali kejadian itu, "ibu menjemputku di sekolah, aku sengaja berjalan sambil berlari-lari kecil, tidak mendengarkan ibuku yang berusaha mengejarku, memintaku agar tetap berjalan ditrotoar."

Ichigo membasuh wajahnya dengan kedua tangannya.

"Aku berjalan ke tengah jalan, tidak menyadari mobil yang melintas kearahku, aku malah tertawa-tawa sambil melambaikan tangan kearahnya. Saat itu mimpi buruk itu datang kepadaku." Ichigo menarik napas dalam berusaha melegakan hatinya sendiri.

"Ibu berlari kearahku, memeluk tubuhku erat, agar menjauh dari jalan, ibu berhasil mendorongku hingga ke trotoar, namun ia sendiri tertabrak mobil hingga terlempar beberapa meter, kepalanya terhantam bahu jalan, dia berkubang dalam genangan darahnya, tapi dia masih tersenyum kepadaku, memintaku untuk tidak menangis. Kenapa? Kenapa dia tidak meneriakiku, menyalahkanku, atau apapun, asal jangan tersenyum kepadaku yang telah menyebabkannya terluka."

Rukia seketika mengalungkan tangannya di leher Ichigo, melihat air mata mengalir di pipi Ichigo membuatnya ikut sakit. Ichigo seperti potret dirinya sendiri saat kehilangan ayah sepuluh tahun lalu, rasa kehilangan itu seperti akan membunuh.

"Kau tidak salah Ichigo, itu kecelakaan," bisik Rukia yang menggesekkan wajahnya dibahu Ichigo, berusaha untuk menguatkannya.

Dia tidak ingin melihat matahari yang bersinar terang meredup karena duka yang seharusnya tidak ada. Ichigo tidak boleh menangis, Ichigo tidah bersalah, semuanya kecelakaan, ya.. hanya kecelakaan.

"Aku yang membuat ibu mengalami hal itu, jadi akulah penyebab kematiannya," kata Ichigo masih menyalahkan dirinya, mencari pembenaran atas rasa bersalahnya.

Rukia melepaskan lengkungan tangannya dari leher Ichigo, tangannya terjulur dan menghapus air mata yang membasahi pipi Ichigo.

"Jangan menangis," bisik Rukia, air matanya ikut menetes. Duka yang Ichigo rasakan berimbas padanya, membuatnya mengingat kesedihan yang mendera karena kehilangan ayah, kehilangan orang terkasih, merasa sendirian, dan tidak mampu menahan beban itu.

"Rukia…" Ichigo menatap sorot mata Rukia yang teduh, mendapati dirinya berada dalam pupil indah mata Rukia, hanya menatapnya seorang. Ichigo seperti tenggelam dalam tatapan Rukia, tenang dan sangat nyaman, membuatnya tidak sadar mendekatkan wajahnya pada Rukia, membelai pipi Rukia yang basah oleh air mata.

"Terima kasih, Rukia," bisik Ichigo.

Rukia merasakan napas hangat Ichigo di pipinya, dan dia perlahan terpejam saat wajah Ichigo semakin dekat, sesaat kemudian dia merasakan tekanan lembut diatas bibirnya, membakar hingga ke hatinya, memberikan kehangatan yang menjalar hingga keseluruh tubuhnya.

Ichigo menekan bibirnya perlahan, meluapkan rasa cinta dan sayangnya pada Rukia, meluapkan kesedihannya yang terbasuh dengan kelembutan Rukia. Waktu seperti bergerak lambat untuk mereka, sama-sama terbuai dalam keheningan dan ciuman yang lembut.

Rukia membuka matanya saat Ichigo menarik diri, matanya menangkap sorot mata Ichigo yang tenang, tidak ada kesedihan lagi disana, yang ada hanya buncah binar kebahagiaan yang ia rasakan.

Ichigo tidak mampu menahan dirinya sendiri yang merasa butuh akan kelembutan Rukia, dia kembali mendekat pada Rukia, mengapit bibir bawah Rukia dengan bibirnya, merasakan manisnya bibir Rukia, sekali lagi mengecap kebahagiaan karena keberadaan Rukia di sisinya.

Mereka berdua terhanyut dalam intensitas kedekatan mereka, tidak sadar dengan kehadiran Byakuya berdiri di dekat pepohonan, melihat Rukia dan Ichigo berciuman. Hancur sudah pertahanan dirinya, tangannya mengepal kuat melihat Ichigo yang masih mencium Rukia. Marah, kesal,dendam, bahkan perih menderanya dalam satu waktu.

"Kenapa harus sesakit ini, Rukia? Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ini?" bisik Byakuya.

Kepalan tangannya sudah memutih. Byakuya memilih untuk pergi dari tempat yang membuatnya semakin terluka, langkahnya penuh kemarahan, dia merasa harus melampiaskan kemarahannya atau dia akan meledak seketika.

.

Rukia merasakan tangan Ichigo yang menyusup ke lehernya, mendongakkan wajahnya, memberi ruang yang lebih pada Ichigo.

Lembut, hangat.., pikir Rukia.

"Rukia.." seketika Rukia tersentak, menarik dirinya menjauh dari Ichigo. Karena tiba-tiba ia mendengar suara Byakuya, melihat wajahnya dalam benakknya, suara yang penuh luka, wajahnya yang kesakitan, sorot matanya yang memohon.

"Maaf, Rukia. Aku.." Ichigo langsung merasa bersalah, seperti merasa mendapat penolakan dari Rukia, karena Rukia tiba-tiba menarik diri.

"Tidak apa-apa, aku hanya teringat pertandinganmu," kata Rukia berusaha tersenyum, menyembunyikan kebohongannya. Di benaknya wajah Byakuya masih terliaht jelas, membuatnya gelisah dan bertanya-tanya apa yang membuat Byakuya terlihat begitu sedih.

.

"Bya.."

"Jangan bicara denganku!" potong Byakuya.

Grimmjow berusaha menyapanya saat Byakuya melewati koridor menuju ruang loker, melihat wajah Byakuya yang sangat menyeramkan, diselimuti kemarahan membuatnya yakin sesuatu telah membuat Byakuya mengamuk. Tidak pernah ia melihat Byakuya semarah ini sejak enam bulan lalu ia mengenalnya.

Byakuya masuk ke ruang loker yang kosong, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang sempurna tampan sekarang memucat, dan seketika potret Ichigo yang mencium Rukia bekelebat dibenaknya.

"ARGGH..!"

Byakuya berteriak dan tanpa sadar kepalan tangannya melayang meninju cermin dihadapannya, sekuat tenaga ia mendaratkan tangannya, perlahan rasa sakit di hatinya tergantikan dengan sakit di tangannya yang mengalirkan darah, sakit yang berbeda namun memberi sedikit kelegaan dihatinya.

"Byakuya!"

Grimmjow masuk ke ruang loker, panic mendengar suara gaduh yang berasal dari ruangan yang setaunya kosong. Matanya langsung tertuju pada Byakuya yang berdiri mematung, di kakinya pecahan cermin berserakan, darah segar menetes dari tangannya yang terluka.

"Kau kenapa?" Grimmjow mendekat, memperhatikan wajah Byakuya yang tertunduk lesu. Seketika iba menggumpal dalam hati Grimmjow, dia tidak pernah melihat Byakuya yang dingin semerana ini.

"Apa yang sebenarnya sedang aku kejar?" ucap Byakuya dengan mata kosong.

Hatinya gamang, pikirannya kacau, dia tidak tau kemana ia akan melangkah. Apa yang sesungguhnya sedang ia lihat? Kenapa hatinya terus saja berkeyakinan untuk menatap pada satu sosok hingga sebegini menyesakkan dadanya?

Semua berwarna abu-abu dalam dirinya, perasaannya, benaknya, semua samar. Lukanya sudah terlalu dalam, menggores hingga tak tertahankan.

Beginikah rasanya mencintai seseorang?


To Be Continue...


A/N :

Mina-san… *teriak pakai toa*

Gomen, sepertinya kata-kataku di chap ini garing abis, ga' mutu *lempar aja Nakki pake bakiak*

Gomen karena telah mengecewakan semuanya... *bankai aja Nakki rame-rame*

Tapi arigatou, terima kasih sekali telah memasukkan fict gaje ku ini dalam list fave. Lagi-lagi aku buntu, kata-kataku jadi hambar, tak berisi… Tolong… *Nakki tenggelam di sumur tetangga*

Semoga chap depan tidak separah ini, gomen.. gomen.. gomen.. *nyembah-nyembah*

Bersediakah anda untuk review?... *Nakki sudah hopeless - rasanya pengen gantung diri di pohon toge*