THE SWEETEST TROUBLEMAKER

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance (little bit humor)

.

DONT LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

.

Chanyeol masih duduk dengan tenang di kursi keluarga, menyilangkan kedua kaki, sebelah tangannya memegang cangkir kopi sementara yang lainnya bersembunyi di saku celana. Seolah tidak peduli dengan dua pasang mata yang kini tengah menyorot penuh ceriga di hadapannya, malah lelaki itu kembali menyeruput kopi nikmatnya dengan seksama.

"Oppa!" Seru Haru dengan kesal sementara nyonya Park ikut mengangguk seolah menyeruakan protes yang sama karena Chanyeol mengabaikan mereka.

"Park Haru, ini masih pagi. Jangan teriak-teriak!" Tegur Chanyeol yang lalu meletakkan cangkirnya di atas meja sebelum kemudian membalas tatapan memicing penuh berjuta tanda tanya ala detefktif dari ibu dan adiknya.

Nyonya Park beranjak dari kursinya lalu memutari meja dan duduk di samping Chanyeol. "Katakan pada Omma, nak. Gadis yang kau bawa pulang semalam—Ahh si anak ayam itu sebenarnya siapa dia?" Tanyanya dengan suara pelan meski begitu ia tetap berharap bahwa putranya memberi jawaban yang sanggup mematahkan dugaannya.

Sebenarnya bukan sejenis dugaan tentang Byun Baekhyun yang berpicu pada beberapa pikiran negatif, nyonya Park hanya terlalu terkejut ketika mendapati sebuah mpbil mewah terparkir di halaman rumahnya yang mana setelah Haru selidiki bahwa mobil tersebut adalah kualitas impor yang hanya di produksi lima buah di dunia. Dan nyonya Park sangat yakin, beliau tidak pernah memuja iblis mana pun untuk memperoleh kekayaan untuk mampu membelikan putranya mobil semewah itu.

Maka sudah pasti bahwa mobil itu milik gadis yang dibawa pulang oleh Chanyeol semalam. Dan jika benar, dari mana putranya bisa mengenal gadis sekaya itu?

"Dia hanya anak ayam." Jawab Chanyeol acuh sebelum kemudian bangkit dan melangkah ke dapur, memastikan masakannya sudah matang sempurna. "Haru-a.. bangunkan Baekhyun Eonni dan ajak dia turun untuk sarapan." Lalu berseru setelahnya.

"Baekhyun Eonni?" Beo Haru. "Ahh jadi namanya Baekhyun.. Eonni?" Lanjutnya dengan kernyitan sempurna di dahi, merasa tidak asing dengan nama itu. Meski begitu ia tetap menurut dan mulai beranjak menuju lantai dua, meninggalkan nyonya Park di ruang keluarga yang masih diliputi rasa penasaran tentang asal-usul si anak ayam.

Haru bergerak dengan menjinjitkan kaki sesaat setelah ia mendekati pintu kamar Chanyeol, lalu dengan hati-hati ia mulai meraih kenop pintu dan memutarnya. Ia kembali berjinjit dengan langkah pelan dan mulai berjalan kearah ranjang, gadis itu diam selama sejenak lalu berlutut di samping tempat tidur tersebut.

Lagi-lagi kernyitan heran terpampang di dahinya saat melihat wajah tertidur yang tersaji di depan matanya. "Di mana aku pernah melihat—" Kalimatnya terpotong oleh geraknya yang spontan merogoh saku celana, meraih ponsel. Kedua matanya mulai melebar sesaat setelah ia membuka akun sosial media miliknya. "Astaga!" Serunya dengan mencicit pelan sementara satu tanganya yang lain menyusul menutup mulut yang menganga. Ia mulai membandingkan wajah Baekhyun dengan foto yang terpampang di postingan salah satu pemilik akun yang begitu terkenal dan mempunyai banyak penggemar. Haru nyaris terpekik ketika menyadari bahwa seorang wanita yang kini tertidur pulas di atas ranjang kakaknya adalah orang yang sama dengan orang yang selama ini ia kagumi. "Apa aku bermimpi?" Haru menampar wajahnya, memastikan bahwa mungkin saja ia tengah berada di dunia lain. "Byun B-Baekhyun.. Eonni?!" Gadis itu berseru untuk ke sekian kalinya, sementara binar senang telah berpendar di kedua matanya.

Oh, Park Haru adalah salah satu penggemar berat Byun Baekhyun. Gadis itu bahkan telah menjadi anggota VIP di salah situs penggemar Byun Baekhyun, bersama Sehun.

"Sehun Oppa harus melihat ini." Haru mulai menyalakan camera mode dan memotret berbagai pose bersama Baekhyun yang masih memejamkan mata. "Memangnya dia saja yang bisa memamerkan fotonya bersama B Eonni." Lanjutnya dengan kekehan jahil, mengingat betapa kesalnya ia karena beberapa hari yang lalu Sehun memposting sebuah foto bersama Baekhyun. "Oh astaga! B Eonni berkali-kali lipat lebih cantik jika dilihat secara langsung." Puji Haru, gadis itu menumpukan kedua lengan pada pinggiran ranjang lalu memperhatikan Baekhyun dengan seksama. "Dia benar-benar terlhat seperti boneka. Ahh aku ingin menyentuh pipinya." Geram Haru menahan rasa gemasnya karena wajah Baekhyun dirasanya terlihat mulus seperti bayi.

Baekhyun mengernyit dalam tidurnya, perlahan kelopak mata itu terbuka. Ia mengerjap keheranan mendapati seorang gadis yang terlihat tengah menatapnya dengan senyuman lebar. Sejenak pikirannya terbagi, membayangkan betapa manisnya jika Park Chanyeol tersenyum lebar seperti itu, mengingat gadis yang kini masih terseyum kepadanya sangatlah mirip dengan si tampan-tak-masuk-akal itu.

"Park Haru. Namaku, Park Haru." Gadis itu mengenalkan dirinya tanpa dipersilahka, meraih tangan Baekyun dan menjabatnya. "Whoa, tangan Eonni benar-benar halus." Dielusnya tangan Baekhyun dengan hati-hati.

Baekhyun menggaruk tengkuk lalu sepersekian detik setelah itu atensinya beralih pada ponsel yang berada dalam genggaman Haru, mata sipitnya memicing curiga sementara kedua tangannya telah lebih dulu terpangku di dada. Sebelah tangannya terulur bermaksud meminta Haru untuk menyerahkan ponselnya.

"Eonni.." Haru menggeleng, binar di kedua matanya redup sementara tangannya semakin erat menggenggam ponsel, seperti tahu apa maksud Baekhyun.

Baekhyun ikut menggeleng penuh wibawa, tangannya masih setia terulur sementara ekspresi wajahnya begitu serupa dengan seorang ibu yang tengah melarang anaknya berbuat nakal.

Haru merengut, lalu menyerahkan ponselnya kepada Baekhyun.

"Kau tahu ini adalah sebuah kejahatan?" Tanya Baekhyun sembari menunjukan beberapa foto yang Haru ambil ketika ia sedang tidur.

"Ma-maafkan aku, Eonni. Itu karena aku sangat mengidolakanmu." Sahut Haru seraya menunduk dalam.

"Itu dia maksudku!" Seru Baekhyun dengan suara cukup keras hingga membuat Haru terlonjak. "Kau pikir aku akan memberikan foto-foto ini kepadamu? Oh lihatlah aku sangat tidak anggun di foto ini." Ratap Baekhyun. "Aku orang yang selalu memperlakukan penggemarku dengan sangat baik, maka kau tidak perlu mencuri-curi fotoku saat aku sedang tidur. Kau tidak ingin image ku menjadi jelek bukan?" Hardik Baekhyun.

"Astaga! Eonni benar! Harusnya aku berpikir panjang. Maafkan aku Eonni, tolong hapus saja foto-fotonya." Sesal Haru kemudian.

Baekhyun mengangguk wibawa, sementara tangannya dengan lihai menghapus fotonya di dalam galeri ponsel Haru. "Nah sebagai gantinya, aku akan memberimu yang lebih bagus." Gadis itu menyalakan camera mode lalu merangkul Haru dan berpose bersama. "Senyum, kau harus senyum.. Tidak.. tidak, jangan kaku seperti itu.. ahh lucu sekali.. foto terakhir, say kimchi!"

"Eonni.." Binar di mata Haru kembali berpendar tatkala meneliti satu persatu fotonya bersama Baekhyun.

Baekhyun terkekeh lalu mengusak rambut Haru dengan gemas. "Tapi, apa yang sebenarnya kau lakukan di sini, hum?"

"Oh ya, Oppa memintaku membangunkanmu untuk sarapan." Sahut Haru masih mempertahankan senyum manisnya.

Baekhyun tidak pernah menyangka bahwa Park Chanyeol mempunyai adik selucu dan semenggemaskan Haru, atau bahkan ibu sebaik dan selembut nyonya Park. Maksudnya selama ini Baekhyun selalu menganggap Park Chanyeol tidaklah lebih dari seorang lelaki yang diyakininya berasal dari peradaban eskimo dan tidak pernah menduga bahwa lelaki itu mempunyai anggota keluarga yang begitu menyenangkan, terbukti saat ia berhasil ditarik turun dari lantai dua menuju dapur oleh Haru, senyum hangat nyonya Park menyambutnya lalu tutur sopannya mempersilahkan Baekhyun untuk duduk di salah satu kursi meja makan.

"Di mana Oppa?" Haru bertanya sesaat setelah mendaratkan bokongnya di atas kursi sementara perhatian Baekhyun telah lebih dulu teralih pada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan.

"Hn."

Bukan nyonya Park yang menyahut melainkan Chanyeol yang terlihat turun dari lantai dua.

Haru menggerutu saat tangan jahil sang kakak mengacak-acak rambutnya sebelum kemudian lelaki itu duduk di samping Baekhyun.

Baekhyun menoleh kesamping ketika aroma seorang Park Chanyeol mulai berulah pada indera penciumannya. Setelahnya ia menggerutu dalam hati karena untuk ke sekian kalinya dosanya bertambah akibat makian yang terlintas di benak setiap kali ketampanan lelaki itu tertangkap atensinya.

Sial.

Belum lagi iris kelam itu berbalik menatap dirinya saat ini.

Baekhyun kembali mengalihkan atensinya pada hidangan yang tersaji di atas meja, ada satu menu yang begitu asing. Bukan karena ia tidak tahu jenis masakan itu, Baekhyun sering melihatnya meski hanya lewat televisi.

"Eonni, selamat ulang tahun!" Seru haru disertai tepuk tangan meriah.

Senyum nyonya Park yang duduk di kursi utama ikut merekah, lalu dengan sigap ia menyodorkan semangkuk sup rumput laut kepada Baekhyun. "Nah, selamat ulang tahun, nak. Bertambahnya usia tidak lengkap tanpa sup rumput laut, bukan? Chanyeol yang membuatkannya untukmu. Jadi, semoga kau suka."

Chanyeol berdeham canggung, apa perlu ibunya mengatakan itu? Mengapa tidak sekalian saja bilang bahwa semua hidangan yang tersaji di atas meja adalah masakannya?

Baekhyun menatap nyonya Park tanpa berkedip, ada denyut hangat yang mengalir di dalam dadanya. Dan perlahan matanya terasa panas sebelum kemudian berkaca-kaca.

"Eonni?" Haru menyadari raut muka Baekhyun yang berubah menjadi sendu.

"Asataga! Ada apa denganmu, nak? Apa aku salah mengucapkan sesuatu?" Tanya nyonya Park dengan panik.

Park Chanyeol pun ikut bereaksi dan menegakkan posisi duduknya.

Baekhyun menggeleng pelan, lalu meraih sendok dan menyuap sup rumput lautnya dengan cekatan. Setelah tertelan, air matanya menetes. "Enak." Lirihnya. Lalu suapan kedua dan seterusnya. "Ini enak."

Ya. Baekhyun baru tahu bahwa sup rumput laut seenak itu, karena seumur hidupnya ia baru pertama kali mencicipinya. Karena hari ulang tahunnya tidak pernah ia lalui dengan mencicipi semangkuk sup rumput laut yang tersaji hangat di atas meja makan.

"Makan yang banyak, nak. Oh lihatlah betapa kurusnya dirimu." Nyonya Park meletakan potongan ikan di atas nasi yang tersaji di depan Baekhyun.

Baekhyun melirik pada nyonya Park.

"Kenapa? Apa makanan ini tidak sesuai dengan seleramu?" Tanya nyonya Park. Lalu pikirannya kembali teringat pada mobil mewah milik Baekhyun yang terparkir di halaman rumahnya. Membenarkan persepsinya bahwa Baekhyun mungkin benar-benar anak orang kaya dan mempunyai selera makan yang berbeda dengan kalangan mengengah ke bawah.

Baekhyun kembali menggeleng. "Sa..saya tidak ingat kapan terakhir kali makan makanan rumah seperti ini." Tukasnya lalu melahap beberapa menu lain dengan semangat. "Ini enak." Katanya dengan mulut setengah penuh. Sesaat kemudian ia berhenti, air matanya kembali menetes. "Enak sekali." Lanjutnya, lalu menunduk.

"Masakan Oppa memang tidak ada duanya." Celetuk Haru dengan tersenyum senang karena ia masih tidak percaya bahwa idolanya duduk di meja makan yang sama dengan dirinya.

Baekhyun tersedak.

Refleks, Chanyeol menyodorkan segelas air dan menepuk punggungnya berkali-kali. "Pelan-pelan saja."

Bahkan nyonya Park pun ikut panik.

Setelah makanannya tercerna sempurna, Baekhyun kembali menoleh pada Chanyeol dan menatapnya dengan sorot tidak percaya.

Apa benar, semua makanan yang sedari tadi Baekhyun lahap dengan semangat adalah masakan Park Chanyeol?

Bagaimana bisa?

Dan kenapa bisa seenak itu?

Sial!

Lagi-lagi Park Chanyeol membuatnya terkejut.

.

Setelah sarapan, Baekhyun yang kini membuat Park Chanyeol terkejut.

Bagaimana tidak?

Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa Baekhyun bisa mencuci piring dan bahkan merapikan dapurnya dengan telaten.

Okay, itu memang berlebihan, namun jika menilik gaya hidup seorang Byun Baekhyun siapapun akan mengira bahwa Baekhyun adalah tipikal gadis yang akan terbangun dengan meja sarapan di atas ranjang disertai beberapa pelayan yang akan berjajar di dalam kamar sembari menungguinya terjaga.

Tidak terbesit dalam benak Chanyeol bahwa Baekhyun mempunyai keahlian membersihkan lemari es serta menata isinya dengan cara yang terorganisir.

Chanyeol menggeleng keras mengingat ibunya memberi reaksi berlebihan seolah Byun Baekhyun adalah seorang menantu idaman.

Apa yang kau pikirkan, Park Chanyeol?

Lelaki itu berdiri cukup lama di depan pintu kamarnya sebelum kemudian mengetuk beberapa kali dan masuk setelah mendapatka izin. Sebelah alisnya terangkat melihat Baekhyun sudah dalam keadaan rapi dan memakai kembali pakaian miliknya. "Kau mau pergi?" Tanya si lelaki masih dengan wajah keheranan.

Baekhyun tersenyum. "Ya, aku akan pulang."

Chanyeol mengangguk paham meski ia semakin heran melihat ekspresi wajah si gadis yang tampak begitu senang. Bukan karena tidak suka, ia hanya bertanya-tanya hal baik apa yang tengah dialami Baekhyun?

"Okay, aku akan mengantarmu pulang." Tukas Chanyeol seraya berjalan berniat menyambar mantel yang menggantung pada coat racks meski beberapa langkah setelahnya ia berhenti karena Baekhyun telah lebih dulu menyambar lengannya.

"Tidak perlu."

"Tidak perlu?"

Baekhyun mengangguk. "Seseorang menjemputku dan—" Gadis itu menjeda kalimatnya lalu mengangkat sebelah tangan, memberi interupsi kepada Chanyeol untuk tidak mengeluarkan suara karena ada seseorang yang meneleponnya.

Chanyeol mengangkat sebelah alis, bukan karena ia tidak mengerti setiap kalimat berbahasa inggris yang terucap dari mulut Baekhyun saat berbicara dengan seseorang yang saat ini meneleponnya, hanya saja ekspresi riang Baekhyun terlihat tidak seperti biasanya.

"Dia sudah di depan." Baekhyun menukas sesaat setelah memutus sambungan telepon.

"Dia?"

"Seseorang yang menjemputku. Ahh ya, apa aku bisa meminta bantuanmu? Bisakah kau mengantarkan mobilku nanti ke rumahku?" Tanya Baekhyun seraya menyerahkan kunci mobilnya.

Ya, Chanyeol pasti tidak keberatan mengantarkan mobil gadis itu, hanya saja bisakah Baekhyun memintanya tidak kedua mata berbinar serupa anak anjing seperti itu?

Chanyeol memandang datar pada setiap adegan penuh haru yang terjadi di depannya saat ini. Bagaimana tidak?

Ibunya terlihat sangat keberatan melepas Baekhyun untuk pergi dan bahkan memeluk gadis itu berkali-kali.

"Omma, Baekhyun harus segera pergi."

"Pokoknya sering-seringlah mampir dan main kesini, setiap hari pun tidak masalah." Nyonya Park menangkup wajah Baekhyun lalu menjeda kalimat. "Umm apa aku harus menambah satu kamar baru?" Lanjutnya bergumam tanpa mengindahkan ucapan putranya.

"Baik Ahjumma, saya—"

"Omma!" Seru nyonya Park.

Kedua alis Baekhyun terangkat, tidak mengerti.

"Panggil aku Omma. Dan jangan kaku seperti itu berbicara dengan Omma-mu sendiri." Hardik nyonya Park.

"Ya?" Beo Baekhyun.

Nyonya Park tersenyum seraya mengelus rambut Baekhyun.

"Y..ya, Omma." Tukas Baekhyun lalu setelahnya tersenyum jumawa kepada Chanyeol.

Apa dia sedang pamer?

"Kemana Haru?" Tanya Baekhyun sesaat setelah berhasil keluar dari rumah Chanyeol, disusul oleh lelaki itu.

"Dia pergi ke perpustakaan." Sahut Chanyeol seadanya, berjalan mengekori Baekhyun menuju gerbang depan rumah.

Baekhyun mengangguk, lalu berbalik menghadap Chanyeol. "Jangan lupa antarkan mobilku."

Chanyeol mengusak rambut Baekhyun tanda ia mengerti dan tidak akan membawa kabur mobil impor semahal itu, sesaat setelahnya lelaki itu membukakan gerbang untuk Baekhyun.

"Kriiiss!" Baekhyun berseru sesaat setelah atensinya menangkap sosok lelaki berkacamata hitam tengah menyandarkan tubuhnya pada badan mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Park Chanyeol. Gadis itu berlari lalu berhambur ke dalam pelukan si lelaki yang tersenyum seraya merentangkan kedua tangan.

"Hei, sweetheart." Tukas Kris lalu menghujani pipi Baekhyun dengan kecupan mesra.

Baekhyun tertawa riang dan mengeratkan pelukannya pada Kris.

"Missed me, huh?!" Tanya Kris seraya membelai wajah Baekhyun.

Baekhyun mengangguk kentara. "I missed you! Why didn't you tell me that you'll comeback?!"

"Surprise?" Sahut Kris diselingi kekehan karena Baekhyun memukul dadanya berulang kali.

Seharusnya Baekhyun sadar bahwa Kris akan selalu pulang di hari ulang tahunnya. "Tapi kau terlambat." Rengut Baekhyun.

"Oh, maafkan aku karena jadwalku benar-benar padat. Jadi, aku baru bisa pulang hari ini."

"Baik, aku mengampunimu asalkan kau bersedia menjadi pelayanku hari ini."

"With my pleasure, princess."

Baekhyun berjingkrak riang, lalu ia berbalik ketika menyadari bahwa Park Chanyeol masih berdiri di depan gerbang, mengantongi kedua tangan dengan ekspresi datar andalannya.

"Who is he?" Tanya Kris lalu menundukkan kepalanya kearah Chanyeol, bersopan santun.

Chanyeol balas menunduk.

"Ahh, dia.. kenalkan dia Park Chanyeol." Baekhyun menuntun Kris mendekat kearah Chanyeol. "Dan, Chanyeol.. kenalkan ini Kris."

Chanyeol menyambut jabatan tangan Kris dengan sopan.

Baekhyun kembali melirik Chanyeol. "Aku pulang sekarang, terimakasih Park Chanyeol." Lanjutnya melambai sebelum kemudian masuk ke dalam mobil Kris.

Chanyeol kembali masuk ke dalam rumah sesaat setelah kendaraan yang ditumpangi Baekhyun lolos dari atensinya.

.

.


The Sweetest Troublemaker


.

.

Johnny menatap datar pada pintu kafe yang menampilkan seorang wanita yang kini berjalan kearahnya.

"Maaf, aku terjebak macet." Tukas Irene sesaat setelah duduk di seberang Johnny.

"Langsung saja, untuk apa kau mengajakku bertemu?" Tukas Johnny terdengar malas.

Irene menyeruput minuman yang telah dipesan oleh Johhny sebelumnya, kemudian berbicara. "Tentang Park Chanyeol.."

Sebelah alis Johnny terangkat.

Irene menghela nafas pelan. "Aku merasa ada yang salah dengannya akhir-akhir ini."

"Apa yang salah?"

"Dia.. jarang sekali menghubungiku dan bahkan tidak pernah mengajakku bertemu sejak seminggu terakhir."

"Lantas?"

Irene mendengus kasar. "Jelas ini salah."

"Bagian mana yang kau maksud salah?"

Irene membeo. "Apakah dia mengacuhkanku sekarang? Jika ya, ini tidak bisa. Dia tidak boleh seperti itu. Akhir-akhir ini dia terlau dekat dengan gadis bernama Byun Baekhyun itu, aku tidak menyukainya."

"Kenapa dia tidak boleh seperti itu?"

"Johnny, selama ini dia selalu memperlakukanku seolah aku ini adalah seorang puteri. Dia selalu memanjakanku, bersikap baik kepadaku dan selalu menuruti semua keinginanku. Hanya aneh saja jika dia berubah seperti ini hanya karena gadis itu!" Sungut Irene.

Johnny terkekeh remeh. "Kau benar-benar memuakkan, Irene. Bagaimana bisa kau setidak tahu malu ini?"

"Apa maksudmu?" Geram Irene.

"Memangnya Park Chanyeol siapamu sehingga kau merasa keberatan dengan sikapnya kepadamu? Perlu kau tahu, dia memperlakukan setiap wanita dengan baik dan—"

"Aku tahu, dia sangat menghormati dan bersikap baik terhadap wanita tapi kepadaku berbeda!"

"Ya, aku tahu. Dia memperlakukanmu berbeda, jangan konyol dengan mengatakan kau tidak tahu alasannya, kau tahu betul dia menyukaimu sejak lama namun kau bersikap acuh dan menganggapnya tidak lebih dari adikmu sendiri."

"Aku memang menganggapnya sebagai adikku dan—"

"Berhenti membual! Jika memang seperti itu kau tidak akan keberatan dia dekat dengan Baekhyun. Apa Chanyeol pernah menyerukan keberatannya padamu ketika kau bersama lelakimu?"

Irene mengerjap pelan, perkataan Johnny memukulnya dengan telak.

"Berhenti memperlakukan temanku seperti sampah! Berhenti merasa bahwa kau yang paling berharga untuk Chanyeol, karena kurasa sekarang sudah tidak lagi. Belajar menerima itu." Final Johnny seraya memundurkan kursi kemudian berdiri dan berlalu tanpa berkeinginan untuk pamit.

.

.


The Sweetest Troublemaker


.

.

Tiga hari berlalu, setelah terlibat beberapa perdebatan kecil yang memang sudah biasa terjadi dengan Baekhyun di media sosial, Chanyeol memutuskan untuk menemui gadis itu sekaligus mengantarkan mobil miliknya.

Oh ya, Chanyeol baru sempat mengantarkan mobil itu karena beberapa hari terakhir ia terjebak kesibukan akibat tugas akhir yang memang tidak bisa disepelekan.

Sebenarnya menemui gadis itu saat ini sama dengan bunuh diri, bagaimana tidak?

Gadis itu akan menjadikan Chanyeol sebagai boneka percobaan untuk mengaplikasikan make up yang katanya dibelinya di gerai cabang kosmetik yang baru resmi dibuka.

Demi Tuhan.

Mengapa Byun Baekhyun setidak masuk akal itu?

Dan bagaimana nasib Chanyeol selanjutnya?

Setelah menghentikan mobil, Chanyeol menelisik kearah luar, memperhatikan dinding pembatas rumah Baekhyun yang menjulang begitu tingginya. Lelaki itu baru akan meraih knop pintu mobil jika saja gerbang rumah Baekhyun tidak lebih dulu terbuka, menampilkan si gadis yang mengekori seorang kakek tua yang terlihat memasuki sebuah mobil lain.

Chanyeol masih memperhatikan Baekhyun yang masih berdiri di depan gerbang, namun yang paling menarik perhatiannya ialah wajah merengut gadis itu yang bahkan bisa ia lihat dari kejauhan.

Kenapa lagi dengan gadis itu?

Chanyeol menekan klakson, lalu ketika melihat Baekhyun bereaksi lelaki itu turun dari mobil dan mengampirinya.

"Mau apa kau kesini?" Tanya Baekhyun dengan garang, sedang wajah merengut itu semakin kentara terlihat.

Chanyeol menunjuk mobil Baekhyun. "Kau menyuruhku mengantarkannya jika kau lupa." Sahut Chanyeol seraya menyerahkan kunci mobil lalu memperhatikan si gadis dengan seksama. "Kau baik?" Tanyanya tanpa repot-repot menyembunyikan kecemasannya.

Baekhyun tidak menyahut.

"Baik, kalau begitu aku pulang." Chanyeol mengangkat bahu sebelum kemudian berbalik.

Baekhyun menepuk bahu Chanyeol. "Kau akan mati ditanganku jika meninggalkanku sekarang."

Chanyeol berbalik, dahinya mengkerut sempurna.

"Kris sibuk dan pergi lebih awal, dan kakek tua itu pun lebih mementingkan bisnisnya. Apa kau akan meninggalkanku juga saat ini?" Geram Baekhyun.

Chanyeol tidak bertanya apa pedulinya? Dia bahkan tidak bertanya siapa Baekhyun sampai harus menahannya seperti itu?

Yang dilakukannya justru menyambar kembali kunci mobil dan menuntun Baekhyun masuk ke dalam mobil tersebut. "Dan aku akan membuangmu di tengah jalan jika kau berani menangis." Ancam Chanyeol sebelum kemudian menginjak pedal gas.

"Ini mobilku jika kau lupa."

"Aku yang mengemudi."

"Aku bisa mengemudi sendiri."

"Ahh jadi itu maumu?"

Baekhyun tidak menyahut, ia justru semakin merengut sebelum kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. "Aku membencimu."

"Kau bisa mengatakannya ratusan kali ketika kau merasa sedang kesal terhadap apapun, aku tidak keberatan."

"Aku membencimu."

Chanyeol tidak menyahut lagi, ia lebih memilih fokus terhadap jalanan.

"Kita mau kemana?" Baekhyun menumpukan dagunya pada bahu Chanyeol, dan menatap lelaki itu dalam jarak yang begitu dekatnya. "Aku lapar." Lanjutnya dengan suara manja yang sudah sangat Chanyeol hafal.

"Mau makan apa?"

"Masakanmu." Sahutnya diakhiri kekehan jahil.

Chanyeol melirik sekilas, dahinya mengkerut ketika mendengar nada jahil yang keluar dari mulut Baekhyun.

"Aku tidak menyangka kau pintar sekali memasak." Baekhyun menegakkan posisi duduk. "Preman sepertimu?"

Dahi Chanyeol semakin mengkerut. "Siapa yang kau sebut preman?" Geramnya.

Baekhyun terkekeh untuk ke sekian kali.

"Berhenti tertawa atau aku tidak akan memberimu makan."

"Memangnya kau ibuku?!" Kesal Baekhyun.

Kekesalan Baekhyun tak cukup sampai di situ, ia memicingkan matanya sempurna pada Chanyeol ketika lelaki itu mengajaknya masuk ke sebuah kedai. Baekhyun tidak mempermasalahkan tempatnya meski ia meminta Chanyeol untuk mengambil beberapa tisu yang digunakannya untuk membersihkan kursi di dalam kedai sebelum ia duduki, masalah utamanya saat ini di meja makan tersaji beberapa hidangan yang ia ketahui mengandung begitu banyak kalori.

"Kenapa tidak makan?"

"Kau gila? Apa kau ingin membuatku gendut? Lihat semua makanan ini? Mereka semua berkalori tinggi. Dan kau menyuruhku memakannya, terlebih malam-malam seperti ini?" Geram Baekhyun.

"Lantas?" Chanyeol menaikkan bahu lalu dengan santai menyantap mie saus hitam miliknya.

Melihat Chanyeol makan dengan lahapnya mau tak mau membuat Baekhyun menelan salivanya dengan susah payah.

"Ahh, ini enak sekali." Gumam Chanyeol, bermaksud menggoda Baekhyun.

Baekhyun menyerah. "Baik, aku akan memakannya hanya karena satu alasan. Aku menghargaimu."

Sudut bibir Chanyeol terangkat.

Baekhyun mulai menyantap makanan yang tersaji di hadapannya, awalnya hanya ada Byun Baekhyun si puteri bangsawan dengan segala keanggunannya dalam bersantap, lalu di suapan ketiga ia tidak bisa berdusta bahwa apa yang masuk ke dalam mulutnya benar-benar lezat dan menyantapa semua makanan itu dan menanggalkan keanggunannya. "Whoa." Serunya, lalu dengan semangat menyantap mie saus hitamnya. "Ini memang enak." Gumamnya dengan mulut penuh.

Chanyeol yang lebih dulu menyelesaikan makannya, memperhatikan Baekhyun yang sibuk menyantap setiap makanan yang berbeda dengan ekspresi geli.

"Enak?"

"Enak sekali."

"Habiskan."

Baekhyun mengangguk semangat, membuat Chanyeol tertawa tanpa henti hingga pada suapan terakhir Baekhyun pun lelaki itu masih tidak bisa meredakan tawanya.

"Ahh perutku penuh, kurasa akan meledak." Tukas Baekhyun sedikit terengah setelah berhasil menyantap semua hidangan yang Chanyeol pesan.

Chanyeol mengerjap berkali-kali, ia tidak menduga bahwa Baekhyun benar-benar mampu menghabiskan semuanya.

"Apa kau kelaparan?"

Baekhyun memicing pada Chanyeol.

"Maksudku.. whoa, kau benar-benar menghabiskan semuanya." Beo Chanyeol.

"Aku tidak pernah memakannya sebelumnya."

"Hum?"

"Makanan ini, semuanya belum pernah kucicipi sebelumnya. Tidak ada satu orang pun yang berani mengajakku ke tempat kumuh seperti ini. Kebanyakan laki-laki yang mengajakku berkencan setidaknya menawarkan restoran berkelas dan terkenal yang sudah direservasi." Celetuk Baekhyun.

Chanyeol tersenyum pahit. "Aku tidak sekaya itu." Gumamnya. "Lagipula.." Lelaki itu menjeda kalimatnya hanya untuk tertawa. "Kita tidak sedang berkencan." Lanjutnya masih dengan tertawa.

Baekhyun membeo, disaat laki-laki lain selalu merasa bangga meski hanya berjabat tangan dengannya saja, Park Chanyeol malah mengatakan hal menyebalkan seperti itu?

Baekhyun geram bukan main, ia berdiri lalu berjalan keluar kedai dengan kesal.

Setelah membayar, Chanyeol menyusul Baekhyun keluar kedai.

"Apa kau masih bisa berjalan?" Tanya Chanyeol.

"Tentu saja, bodoh." Sahut Baekhyun masih kesal.

"Apa kau marah?"

"Untuk apa aku marah?!"

"Mau ku gendong?"

Baekhyun menghentikan langkah, lalu menghentakkan kakinya dengan kesal sebelum kemudian berbalik dan menatap sengit pada Chanyeol. "Aku masih punya kaki, lagipula untuk apa bersikap manis seperti itu? Kita tidak sedang berkencan!" Sungutnya marah.

Chanyeol tertawa untuk ke sekian kali, ia melirik jam tangan sebelum kemudian mendekat pada Baekhyun dan meraih pergelangan tangan gadis itu.

"Mau kemana, bodoh?!" Baekhyun menggerutu meski ia tidak menolak dan mengikuti langkah Chanyeol.

Chanyeol menuntun Baekhyun duduk di salah satu kursi yang berada di sebuah taman yang mana tengah ramai dikunjungi oleh banyak orang.

"Ramai sekali di sini." Tukas Baekhyun sembari melirik ke setiap arah.

"Setiap tahun, di tempat ini selalu diadakan festival kembang api dan tepatnya pada hari ini." Kata Chanyeol sembari memandang gusar kearah langit.

"Whoa, aku suka kembang api!" Seru Baekhyun dengan riang.

"Tiga.. Dua.. Satu!"

Sepersekian detik setelah Chanyeol mengucapkannya, bunyi menggempita diiringi cahaya berwarna-warni bergerak dan menghiasi langit malam.

Baekhyun terpana, matanya tak lepas dari letupan-letupan kembang api yang indah nan gemerlap di atas langit.

"Hadiahmu, sekali lagi selamat ulang tahun." Bisik Chanyeol tepat di depan telinga Baekhyun, setelahnya ia kembali mendongak dan menatap gemerlapnya langit.

Baekhyun terpaku, ia melirik hati-hati kearah Chanyeol dan memperhatikan lelaki itu dengan seksama.

Chanyeol menoleh sekilas dan tersenyum

Baekhyun mengerjap berkali-kali, lalu tangannya beralih ke dada dan merasakan detak jantungnya yang menggila, bahkan gempitanya mengalahkan suara letupan kembang api di atas langit sana.

Tanpa sadar kedua tangannya terulur menangkup wajah Chanyeol, menatapnya sejenak lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir lelaki itu. Setelahnya Baekhyun sadar bahwa ia telah berbuat gila, wajahnya memerah sempurna, ia bahkan mengalihkan atensinya ke sembarang arah sementara batinnya tidak berhenti mengumpat ketika disadarinya Chanyeol diam mematung dengan mata yang mengerjap berkali-kali.

Kesal, karena Chanyeol tidak bereaksi apapun, emosi gadis itu akhirnya tersulut. "Ke.. kenapa kau diam saja?!" Tanyanya setengah menggeram. "Apa kau berpikir itu menjijikan? Apa kau berpikir aku melaukannya karena aku wanita gampangan?"

Chanyeol masih tidak menyahut, karena ia masih terkejut.

Baekhyun semakin kesal. "Baik, kalau kau tidak suka lupakan saja, anggap saja apa yang aku lakukan barusan adalah kesalahan!" Tukasnya dengan marah lalu berdiri, gadis itu hendak melangkah namun pergelangan tangannya ditarik oleh Chanyeol hingga membuatnya kembali duduk, bahkan lebih merapat kearah Chanyeol.

"Kesalahan kau bilang, huh?" Geram Chanyeol seraya menatap Baekhyun dengan sengit. "Baik, aku akan memperbaiki kesalahan itu." Tukas si lelaki lalu mengulurkan tangan, membelai sisi wajah Baekhyun hingga mencapai tengkuk si gadis dan menariknya perlahan.

Setelahnya hanya ada dua bibir yang menyatu, gempita kembang api yang semakin meriah menuntun keduanya pada lumatan-lumatan kecil hingga akhirnya mereka termakan candu lalu saling memagut satu sama lain.

.

.

TBC

.

.

AN:
Hallo.. Hallo

Ada yang kangen? #Gak

Oh okay -_-

Pertama-tama aku mau ngucapin mohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru memunculkan batang hidungku setelah sekian lama. Huhu T,T maapkeun.

Mau cerita sedikit, jadi sebelum awal-awal puasa kondisi kesehatanku sudah mulai kurang baik dan itu terus berlanjut sampai kondisiku drop banget di pertengahan puasa, itu alasannya kenapa aku menghilang dari peradaban selama ini(?)
Tapi sudah seminggu ini kesehatanku sudah mulai pulih dan alhamdulillah kemarin-kemarin aku sudah dibolehin buat pegang hp dan buka-buka IG. Maaf banget buat yang dm, gak bisa aku bls satu persatu, tapi aku seneng kalian mencemaskan aku sebegitunya, juga buat yang pm dan menuhin kotak review sama kata-kata 'Kak kapan? Kapan kak? Update dong kak?' makasih buat kalian karena aku tau itu sebentuk animo kalian yang luar biasa terhadap tulisanku.

Maka dari itu aku sempatin nulis chapter 8 ini untuk membayar kesabaran kalian yang sudah setia menunggu. Aku harap kalian memaklumi setiap kekurangan di chapter ini, lebih lagi semoga ini tidak mengecewakan.

Oh ya, tidak ada kata terlambat buat ucapin Happy ChanBaek day #ChanBaek614 :* doaku selalu sama, mami papi langgeng hingga akhir hayat. Amin

At last..

Raisa mau mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin ya sayang-sayangku.

Saranghamnidaaa yeorobun.

See you next chapter!

BIG CHU :*