A/N : Ini adalah gejala PMS (Pra-menstruasi Syndrome) yang saya alami-_- saya rasa gejala itu juga ada di kehamilan (Tidak. Saya tidak hamil-_- Hamil & PMS kadang beti-beti) Dan saat ini saya sedang (gejala) flu. Seperti Tetsucchi.

Disclaimer : The story belongs to me. Charas belongs to him. Him? XD

Warning : Kise Ryouta's PoV. KiKuro, TakaMidoTaka. Mpreg. Un-beta. Quick-typing. Genderbend? OOC? Typo? Fluff (Saya yakin multichap ini penuh dengan fluff)

.


.

Chapter 7 : Tetsuya's Sick

.

Bertepatan dengan akhir liburku, kandungan Tetsuyacchi akan berumur 5 bulan. Perutnya makin besar. Tetsuyacchi jadi makin lucu ("Apa maksudmu dengan lucu, Ryouta-kun?")

Yah, tapi, emosionalnya belum hilang. Tapi, tidak apa. Aku tetap mencintai Tetsuyacchi kok *chu*

Dan inilah hari pertama bekerja lagi.

"Tetsuyacchi... Sudah pagi lho... Sebentar lagi aku akan pergi bekerja-ssu." Aku mencium kening Tetsuyacchi.

"Ry-Ryouta-ku-kun..." Nada Tetsuyacchi terdengar bergetar. Aku segera menjauh untuk melihat wajahnya & hasilnya, aku terbelalak saat melihat wajahnya sangat memerah. Segera aku letakkan tanganku ke keningnya.

Panas.

"Tetsuyacchi sakit?!" Aku panik. Di saat hari aku bekerja & Tetsuyacchi demam?!

"Ah, tidak apa-apa, Ryo- uhuk. Ryouta-kun. Hanya flu biasa..." Jawabnya dengan nada bergetar.

"Midorimacchi! Aku butuh bantuanmu! Tetsuyacchi sakit! Midorimacchiiiii!" Aku segera menelepon dokter *coret*tsundere*coret* terpercaya. Siapa lagi kalau bukan~ Midorima Shintarou-nanodayo ("Kise! Berhenti mencopy orang!")

"Kise! Berhenti berteriak. Telingaku sakit-nanodayo!" Jawab Midorimacchi diseberang sana.

"Ada apa, Shin-chan?" Terdengar suara Takaocchi juga.

"Tetsuya sakit." Jawab si dokter.

"Tecchan sakit?! Ayo cepat kita kesana, Shin-chan!"

" Takaocchi langsung heboh & sambungan telepon langsung berakhir.

"A-ah... Ryouta-kun, aku tidak apa-apa..." Kupalingkan wajahku & menemukan Tetsuyacchi berdiri di sisi ranjang.

"Tetsuyacchiiiiiii! Kau harus tidur!" Aku langsung mendatanginya.

"Aku tidak a-" Entah apa yang terjadi, ekspresinya langsung seperti orang kesakitan & nyaris jatuh. Untunglah aku sudah berada di dekat sana.

"Tetsuyacchi... Sudah kukatakan... Kau harus tidur-ssu..." Aku menggendongnya. Badannya sudah tidak seberat yang dulu sih, tapi, tetap bisa dikatakan ringan.

"Tapi, aku mau ke kamar kecil, Ryouta-kun..." Nafasnya terengah-engah. Wajahnya memerah.

"Haah... Baiklah..." Aku memutar kakiku & menggendong Tetsuyacchi hingga ke kamar kecil.

.

"Kasamatsu-senpai... Aku benar-benar tidak bisa bekerja! Tetsuyacchi demam tinggi-ssu! Tidak mungkin aku meninggalkannya-ssu!"

"Ya, Kise, aku mengerti & berhenti berteriak. Aku akan menjelaskannya ke atasan. Titip salam untuk istrimu. Cepat sembuh."

Pip.

Aku baru saja menelepon Kasamatsu-senpai untuk membatalkan jadwal kerjaku. Tentu saja aku tidak mungkin meninggalkan Tetsuyacchi di saat temperaturnya...

PIIP. PIIP.

39,5 derajat celcius.

Aku menghela nafas saat melihat temperatur setinggi itu. Aku menatap wajahnya yang masih memerah itu. Keringatnya sangat deras. Aku mengambil kompresan & menggantinya dengan yang baru. Tak lupa, kuseka keringat-keringatnya.

"Haah... Haah... R-Ryouta-kun..." Panggil Tetsuyacchi.

"Hai-ssu?" Aku mendekatinya. Suaranya terdengar sangat lemah...

"Ka-kau tidak pergi bekerja?" Tanyanya berusaha membuka mata bulatnya itu. "Ah, tidur saja, Tetsuyacchi... Aku tidak bekerja... Aku akan disini menjaga Tetsuyacchi..." Jawabku lalu menutupi kedua matanya dengan tanganku.

Bahkan kelopak matanya pun hangat.

DING DONG

DING DONG

"Ya, sebentar..." Aku beranjak dari tempatku & berjalan menuju pintu depan. "Midorimacchi... Takaocchi..."

"Ryou-chan! Bagaimana keadaan Tecchan?!" Takaocchi terlihat sangat cemas. Aku memberi isyarat bahwa Tetsuyacchi beristirahat di kamar. Takaocchi langsung melepas sepatunya & pergi menuju kamarku.

"Berapa temperaturnya?" Tanya Midorimacchi selagi melepas sepatu.

"39,5 derajat celcius-ssu..." Aku menutup pintu depan & berjalan menuju tempat Tetsuyacchi tertidur.

"... Apa kemarin dia baik-baik saja-nodayo?"

"Um. Kemarin, memang badannya hangat-ssu... Tapi... Dia tidak apa-apa." Jawabku.

"Sepertinya, dia tidak ingin menyusahkanmu-nanodayo." Komentar Midorimacchi. Aku menghela napas.

.

"Syukurlah hanya gejala flu biasa..." Kata Midorimacchi setelah memeriksa keadaan Tetsuyacchi.

"Adakah obat yang harus kubeli-ssu?" Midorimacchi menjawab dengan gelengan.

"Obat flu biasa dapat mengatasinya-nodayo."

"Ah, Shintarou, bagaimana kalau kita makan siang disini saja. Aku akan membantu memasak." Takaocchi berada di sisi ranjang yang lain. Lalu dia menggulung lengan bajunya. "Takaocchi, arigatou-ssu." Aku pun pergi ke belakang, ingin membantu.

TUG.

Aku merasa ada yang menahanku untuk pergi. Kulihat tangan Tetsuyacchi menggenggam ujung kemejaku.

"Ja-ngan... Per-gi..." Suaranya serak & seperti berbisik. Tapi, tetap saja pegangannya pada bajuku kuat.

"Tidak apa, Ryou-chan. Aku lumayan bisa memasak resep yang simple." Ucap Takaocchi sambil tersenyum kepadaku. Midorima diam. Lalu, memberikan sebuah bantal bebentuk anjing & bantal es.

"Untunglah aku mempunyai lucky item untuk Aquarius hari ini-nanodayo." Midorimacchi menaikkan kacamatanya yang sebenarnya tidak merosot satu mili pun.

"Kenapa kau membawa barang seperti itu, Midorimacchi...?"

"Kau tahu, sebenarnya dia yang paling mencemaskan Tecchan!" Sahut Takaocchi dari dapur. Kulihat wajah Midorimacchi yang agak memerah & berusaha menaikkan kacamatanya.

"Aku hanya kebetulan membawanya-nanodayo!" Malah mengalihkan topik.

"Hahaha." Tetsuyacchi berhasil mengeluarkan sedikit tawanya. Terima kasih, Tsunderecchi.

.


.

Hari ketiga Tetsuyacchi sakit. Aku meminta tambahan waktu untuk cuti dari jadwal penerbangan. Syukurlah mereka mau mengerti.

"Ry-Ryouta-kun... Kamar kecil..." Gumam Tetsuyacchi.

"Eh? Kau ingin kugendong?" Dia mengangguk. Wajahnya masih memerah, sakitnya belum hilang namun sudah lebih baik dari yang sebelumnya.

"Hup." Kuangkat tubuh Tetsuyacchi dari ranjang.

"Pegangan yang kuat Tetsuyacchi~!" Aku segera berlari dari kamar menuju toilet.

"Wah! Ryouta-kun! Jangan cepat-cepat!" Tetsuyacchi langsung mengalungkan tangannya di leherku.

"Tapi, aku sudah lama tidak menggendong Tetsucchi~" Jawabku. Tetsuyacchi makin mengeratkan pelukannya.

Untuk berlama-lama, aku mengajaknya berputar-putar. Dan alhasil aku mendapatkan ignitenya ("Aku benar-benar butuh kamar kecil & Ryouta-kun malah main-main")

.

Karena Tetsuyacchi sudah lebih baik, kami pun bisa bersantai di sofa. Tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk bersama.

"Nee, Tetsuyacchi." Aku duduk si samping Tetsuyacchi. Membantunya menempatkan bantal untuk punggungnya. Perutnya yang semakin membesar berefek pada sakit pinggang.

"Hm-m?" Sepertinya dia sudah merasa nyaman.

"Apa Ryouta-kecil masih sering menendangmu?" Aku meletakkan tanganku & telingaku di perut Tetsuyacchi.

"Ryouta-kecil...?" Tetsuyacchi menatapku aneh.

THUD.

"Sepertinya jawabannya ya-ssu! Kau bersemangat sekali ya-ssu! Aku tak sabar untuk menemuimu!" Lalu aku merasakan adanya tetesan air dari atasku. Aku langsung memutar kepalaku & melihat Tetsuyacchi menangis.

"Ah... Ryouta-kun..."

"Tetsuyacchi ada sakit dimana?!" Aku langsung kembali duduk tegak. Memegang wajah pucat Tetsuyacchi & menghapus airmatanya.

"Ti-tidak. Aku hanya merasa sangat bahagia menghabiskan waktu dengan Ryouta-kun & Aka-kun. Tapi... Aku tidak mengerti kenapa air mata ini keluar...". Jawab Tetsuyacchi.

"Aih... Aku juga senang hanya dengan bersama Tetsuyacchi & Akacchi!" Aku langsung memeluk Tetsuyacchi. Tetsuyacchi membalas pelukanku.

Andaikan tiap hari seperti ini...

.


.

"..." Aku menatap Tetsuyacchi yang duduk di sisi ranjang. Kutengok jam.

Masih jam 2 pagi.

"Tetsuyacchi...? Kenapa terbangun? Mau ke toilet-ssu?" Tanyaku sambil mengucek mataku.

Tetsuyacchi hanya berbalik menatapku, lalu, mendekat & memelukku erat. Dia mengigau... Aaaaaaaaaaaaaaaaah! Dia imut sekali demi apapun aku relaaaaaaaaa!

Ah, sial. Aku tidak bisa berhenti.

Aku menyentuh kening Tetsuyacchi, sudah normal. Tentu saja, sudah seminggu terlewati. Aku sukses menjadi suami yang menjaga istrinya saat sakit. Tapi, itu artinya aku harus mulai bekerja ya...

"Hh... Andaikan aku bisa cuti 9 bulan untuk menemanimu. Tapi, itu terkesan seperti aku yang hamil ya-ssu." Gumamku sambil mengelus helai rambutnya itu.

Aku menatap wajahnya. Damai. Tetsuyacchi yang kucintai. Rasanya tenang saat melihatnya seperti ini. Kuambil ponselku & menekan tombol kamera.

Event seperti ini tidak bisa dilewatkan bukan?

Tetsuyacchi tidak tahu betapa banyaknya foto dari awal kehamilan hingga sekarang. Tapi, itu adalah gambar-gambar favoritku.

Memiliki foto orang yang dicintai itu normal kan?

.


.

"Tetsuyacchi tidak usah mengantarku sampai bandara-ssu." Aku menghentikan Tetsuyacchi dari menggunakan wig baby bluenya (Yah, aneh bila seorang pemuda dengan perut sebesar itu, pergi keluar. Untunglah Tetsuyacchi bisa menyamar.)

"Kenapa?" Tanyanya dengan agak cemberut. Agak.

"Karena kaki Tetsuyacchi akan tidak kuat berdiri-ssu." Balasku sambil menggendongnya kembali ke ranjang.

"Aku masih kuat, Ryouta-kun..."

"Tidak, Tetsuya. Ayo duduk yang benar." Perintahku. Kadang aku harus menjadi tegas untuk mengalahkan keras kepala Tetsuyacchi. Dia menurut.

"Bagaimana Tetsuyacchi? Enak?" Aku memijat bagian tempurung lututnya. Karena perut itu juga berefek pada kaki yang notabene penopang tubuhnya.

"Hmm... Sentuhan Ryouta-kun memang enak..." Gumamnya.

Aku melanjutkannya dengan memijat bagian betis & kakinya. Setelah selesai, aku memberikan kecupan singkat di punggung tangan Tetsuyacchi, "Tunggu aku, ya. Aku akan kembali dengan cepat kok-ssu. Aku mencintaimu, Tetsuya..."

.


.

A/N : Maaf seribu maaf~ saya tidak bisa membuat konflik-_- saya senang sekali memikirkan fluff di multichap ini. Maafkan sayaaaaaaaaa! Dan kenapa saya telat update?! Maaf. Saya bingung menuliskan ide saya-_-"

Review-ssu?