Disclaimer: Lahir Kembali hanya milik Amano Akira-sensei. Btw, Lahir Kembali lahir kembali udah dijual di toko buku belom sih? /duesh/
Notes: AU, OOC, kata baku dan kata-kata sehari-hari saya dijadikan satu (?).
Ibu guru Oregano menatap Dino dengan tatapan pasrah. Tangan kanannya memberikan Dino selembar kertas, yang tentunya ada tulisannya. "Hfft, Dino, ibu bingung mau bagaimana lagi," gumam Bu Oregano seraya menghela napas. "Lagi-lagi nilaimu tidak sesuai sama wajahmu (?)." Dino menghela napas berat, dia juga udah tau kalau Bu Oregano bakal bilang begitu. "Beritau Alaude-san, menjelang sore nanti aku akan ke rumahmu. Membicarakan tentang nilaimu, mengerti?" Dino mengangguk lalu dia kembali ke tempat duduknya.
'...aku bakal dibunuh Alaude-san...' batin Dino sambil membayangkan hal keji apa yang akan Alaude lakukan padanya dan kertas ulangannya yang ada cap angka bertinta merah, 30—eh tidak, bukan itu! Dia membayangkan hal keji apa yang akan Alaude lakukan pada Enzo, karena ada cap angka 30 bertinta merah di kertas ulangannya.
Dino duduk di kursinya lalu bertanya pada Basil yang duduk di sampingnya, "Basil kau dapat nilai berapa?" Basil mengangkat kertas ulangannya dengan bangga. "Sembilan lima, kenapa? Kau sendiri?"
"Eh? Kenapa harus ditanya? Nilaiku kan selalu di bawah enam puluh."
"Iyakah? Bukannya minggu kemarin kau dapat nilai ulangan sejarah enam lima ya?"
"Oh iya ya! Ah, tapi kan masih ada angka enamnya juga."
"Sudahlah yang penting kau sudah berusaha."
Dino mengacak-acak rambutnya, frustasi. Anak – anak perempuan di kelas malah pada fangirling. "Che, coba alasan 'yang penting aku sudah berusaha' itu mempan sama Alaude-san." Basil hanya bisa tersenyum dan sweatdrop.
Entah lagi ada setan apa, hari itu Daemon milih buat ambil cuti selama satu minggu. Dia ambil cuti cuma buat ngajak Ellena pergi ke satu tempat yang romantis tentunya~ Chrome juga diajaknya, terus Fran juga. Mukuro? Awalnya Mukuro nggak diajak, dia disuruh ngungsi ke rumahnya Verde, berhubung Daemon dan keluarga lumayan deket dengannya. Tapi berkat Ellena yang meminta—memaksa—dengan—keji—perasaan keibuannya, akhirnya Daemon mengajak Mukuro pergi jalan-jalan ke tempat romantis itu~
Iemitsu juga, dia juga ambil cuti dan pergi berlibur sama Nana. Meninggalkan Giotto. Jadinya dia hanya berduaan sama adiknya yang unyu itu, Tsuna. Giotto sih nggak masalah kalau cuma ngurusin Tsuna doang, lagipula Iemitsu sama Nana perginya nggak lama kok, sama kayak Daemon, seminggu doang. Yang jadi masalah itu, rumah yang bakalan acak-acakan terus gara-gara segerombolan anak – anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK itu yang entah sejak kapan pindah base camp (?), jadi di rumahnya.
Satu-satunya pasangan suami istri yang suaminya nggak ambil cuti selama satu minggu dan mengajak istrinya pergi adalah, Collonelo dan Lal.
Err, mungkin cukup dengan pembahasan tentang suami istrinya, mari tengok keadaan anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK saja.
-line break-
"YES! Aku ada di paling depan!" seru Gokudera girang sambil terus menggoes sepedanya sekencang mungkin, lalu ia melambankan kecepatan sepedanya dan melihat kebelakangnya sebentar. Tak jauh dari tempatnya sekarang, Byakuran sedang mengejarnya. Diikuti Yamamoto, Enma dan yang paling belakang... Tsuna. Melihat bosnya ada di posisi paling belakang, Gokudera langsung balik lagi ke belakang.
Byakuran bingung kenapa Gokudera malah muter arah begitu. "Gokudera-kun~ Kenapa kamu malah ke belakang?"
"Gokudera nggak mau jadi pemenang mungkin, hahaha." Yamamoto tertawa kecil.
"Bukan bodoh!" teriak Gokudera yang sekarang sudah ada di belakang Tsuna. "Aku nggak mau menang kalau bos kalah (?)," tambahnya. Alasan macam apa itu.
"Oi!" Byakuran teriak. "Garis finishnya dimana?" lanjutnya.
"Di depan rumahnya om Collonelo, marsmallow-bodoh!" balas Gokudera.
Byakuran terus melaju dengan kecepatan cahaya (?). Terlihat di belakangnya, Yamamoto yang terus berusaha untuk membalapnya dan merebut posisi ke satu (?). Enma, dia terus berusaha untuk menggoes sepedanya lebih cepat lagi, tapi kakinya mulai pegal. Tsuna, yang dari awal balapan (?) dimulai sampai mendekati garis finish…dia tidak ada kemajuan…masih tetap di posisi terakhir…sekalinya ada kemajuan, itu adalah kemajuan jumlah banyaknya dia jatoh dari sepeda! Gokudera sedang berusaha untuk memperlamban kecepatan sepedanya (?), supaya dia nggak berada di depan Tsuna.
"YES. Bentar lagi sampai di depan rumahnya om Collonelo!" seru Yamamoto sambil mengangkat kedua tangannya, hebatnya dia nggak jatuh padahal dia pakai sepeda yang roda dua…dan plusnya, dia udah berhasil ngerebut posisi ke satu, YEAY!
Yamamoto terus menggoes sepedanya. Tiga rumah lagi…dua rumah lagi…satu rumah la—
"UAAAAH!"
"VOOOIIII!"
BRUK.
Yamamoto jatuh dari sepeda. Diikuti rombongan yang lainnya.
"Oi, Yamamoto! Kenapa kamu jatuh hah! Kita jadi ikutan jatuh! LIHAT BOS JADI JATUH JU—eh nggak deng, sepedanya bos kan roda empat. Susah jatuhnya kalau roda empat mah," kata Gokudera, nggak jelas.
Yamamoto mengelus-elus lututnya yang luka. "Kok aku? Salahin om Squalo lah." Lalu ia menunjuk Squalo yang sedang berdiri tak jauh dari pager rumahnya Collonelo. "VOOIII! KOK AKU? KALIAN YANG SALA—"
"SQUALO! INI BAYARANNYA!"
Sebuah dompet yang cukup tebal, berbahan kulit, berwarna hitam, tiba-tiba terbang ke arah Squalo. Karena Squalo nggak menyadarinya, dan nggak sempat menangkapnya. Dompet itu lepas landas di mukanya.
"MAKASIH UDAH NGANTERIN DAGINGNYA! KEMBALIANNYA AMBIL AJA!"
BAM!
"LAL! DOMPETKU KAMU LEMPAR KEMANA?!"
"KE TUKANG DAGING YANG LEBIH CANTIK DARI AKU!"
Ya pemirsa, percakapan capslock di atas adalah percakapan antara sepasang suami-istri terheboh di RT yang dipimpin Pak Reborn…Collonelo dan Lal. Karena saking kencangnya suara mereka, walau pun pintu sudah ditutup, anak-anak VK dan Squalo yang ada di luar pagar rumah mereka sampai bisa mendengarnya. Parahnya, perkataan terakhir Lal itu, membuat Squalo langsung diam hampir mati di tempat…
"Wow, om Collonelo sama tante Lal berantem. Jangan-jangan mereka main jedot-jedotan lagi." Enma memberikan hipotesa. Teman-temannya diam dan memikirkan hal yang sama, 'Mungkin. Ayo kita tonton!'…dasar bocah psikopat.
Terdengar suara bantingan pintu yang tentunya berasal dari rumahnya Collonelo. Collonelo keluar, langsung teriak ke Squalo. "SQUALO! DOMPETKU MANA? C'MON NOW!"
"BERISIK BODOH! SINI SAMPERIN SENDIRI LAH!"
"Om Squalo juga berisik ih," kata Yamamoto. Squalo langsung mendeath glare Yamamoto yang sedang tersenyum dengan begitu polos dan unyunya.
Begitu Collonelo mengambil dompetnya, dia langsung ngeluarin beberapa lembar uang buat ngebayar daging yang dia dan Lal beli. Karena kebingungan sama tingkah Lal barusan, Squalo langsung nanya, "Voi. Istrimu kenapa?"
"Istriku kenapa?" Collonelo mengulangi pertanyaan Squalo. "Emang kenapa? Dia kan udah biasa marah-marah kayak gitu."
"Tapi kali ini marah-marahnya beda, ada aura mau ngebunuhnya gitu. Ngapain juga dia bilang aku cantik? Mentang-mentang rambutku panjang..." anak-anak VK langsung nahan ketawa. Squalo mendeath glare mereka.
Collonelo memasukan dompetnya ke dalam kantung di celananya, lalu ia menggaruk tengkuk lehernya. "Iya juga sih. Aku juga bingung kenapa dia bilang begitu."
Setelah itu suasana jadi hening. Sampai Lal yang sedang ada di ambang pintu masuk rumahnya memecahkan keheningan tersebut. Dia sedang berdiri di sana sambil memegang ransel travel yang warnanya sama seperti warna mata suaminya.
"Lal kamu mau kemana?" tanya Collonelo dengan suara yang lumayan lembut. Bukannya menjawab Lal malah melempar ransel itu dengan amarah. Ransel itu mendarat, tepat di Collonelo, karena ransel itu cukup berat—entah itu Lal ngisiin apa aja—, ia jadi terjatuh dalam posisi duduk. "La-Lal?"
"KAU KU LARANG MASUK KE SINI! TIDUR DI POS SANA!"
"LHO EMANG KENA—"
BAM!
Semuanya diam. Anak-ank VK saling memeluk satu sama lain (?), mereka benar-benar ketakutan sehabis melihat muka Lal yang terlihat begitu…se-seram… untuk pertama kalinya setelah lima tahun mereka hidup di dunia ini, mereka melihat wajah Lal yang seseram itu.
Collonelo langsung lemas. Saking lemasnya mungkin dia bisa pingsan jika ada salah satu dari anak VK yang tak sengaja menginjak tangannya (?).
Hening lagi.
"Cih, aku pergi dulu kalau begitu," gumam Squalo lalu berjalan mendekati motornya. Omong-omong motor yang dipakai Squalo motor sejenis scoopy lho! Warnanya pink pula, ngejreng pula! Oke kembali ke masalah Collonelo.
"Eh, mau kemana kau?" tanya Collonelo.
"KEMBALI KE TOKO LAH, BODOH!"
"Ohh…" Collonelo ber-oh ria dan Squalo langsung meninggalkan tkp (?).
Collonelo langsung menyampirkan tasnya di bahunya lalu berdiri. "Om Collonelo mau ke pos ya?" tanya Tsuna.
"Bukan."
"Ke tokonya om Xanxus?" tanya Gokudera.
"Bukan. Ngapain ke sana?"
"Ke rumahnya Alaude-san?" tanya Enma.
"Bukan. Astaga mau ngapain aku ke sana? Bisa-bisa aku diborgol sama Alaude, kalau dia tau kalau aku dan Lal ribut."
"Ke rumahku?" tanya Byakuran.
"Bukan. Mau ngapain di sana, ha?"
"Terus kemana?" tanya Yamamoto.
"Nggak tau. Kalian kepo ah!"
"Terus nanti malam om Collonelo tidur dimana?" Tsuna kembali bertanya.
"Di pos— eh nggak nggak, kalau aku tidur di sana aku pasti diusir sama Reborn. Terus nanti ujung-ujungnya ketemu Alaude terus aku diborgol."
Anak-anak VK langsung menghela napas berat. Jujur mereka kasihan sama Collonelo, padahal Collonelo nggak pernah merasa kasihan sama mereka. Tsuna—untuk pertama kalinya—langsung berpikir. "Tidur di rumahku aja!" serunya dengan mantap, merasa idenya ini adalah ide yang hebat.
Gokudera lompat, lalu menepuk punggung bosnya. "Ide yang hebat bos! Kan di rumah bos hanya ada bos dan Giotto-san!" yang lainnya takjub (?) dengan idenya Tsuna.
Collonelo berpikir.
Rumahnya Alaude dan keluarga (?)
"Aku pulang!" seru Dino lalu langsung melepas sepatunya dan lari ke kamarnya, tapi sayang Fon langsung mencegatnya ketika ia ingin menaiki tangga. "Tadi ada ibu-ibu yang menelpon lho, terus diangkat sama Romario."
Dino mengangkat sebelah alisnya. "Terus kenapa, Fon-san?"
"Terus ibu-ibunya mencari Alaude. Karena Alaude pergi dari kau berangkat sekolah tadi, jadi akulah yang bicara dengan ibu-ibu itu."
"Aku jadi bingung."
"Terus ibu-ibu itu bilang kalau dia mau ke sini, menjelang sore nanti. Dan kau tau siapa ibu-ibu itu?" Dino menggeleng. "Dia itu gurumu."
Jleb.
"Terus abis itu aku langsung menggeledah kamarmu," Fon menambahkan. "dan aku nemuin ini." Fon mengangkat beberapa lembar kertas ulangan. "Apa ini? Matematika 30? Ipa 30 juga?"
Dino gemetaran. "I-itu...eh tunggu. Fon-san dapet itu semua darimana?"
"Dari kamarmu, kan tadi sudah ku bilang."
"Kok bisa?"
"Kan kamarmu kugeledah."
"Nggak maksudku, kok Fon-san bisa nemuin itu semua? Kan itu udah aku umpetin di dalam komik! Aku lipet-lipet, terus aku selipin di komik. Nggak mungkin kan, Fon-san kepikiran buat nyari kertas ulanganku di dalam komik? Kecuali—bah, Fon-san dibantu Kyoya ya?" Fon mengangguk. Dino langsung nyesek. Ternyata, si Kyoya, adik sepupu jauhnya (?), mengkhianati dirinya (?). Hm, sebenernya Dino udah sering sih dikhianatin sama Hibari. Seperti pas dia beadang abis belajar sama Alaude.
Waktu itu pas hampir tengah malam, Dino lagi asik baca komik. Eh, Hibari bangun, dia bilang kalau dia mau ke toilet, pas balik ke kamar dia malah bawa Alaude. Akhirnya Dino dihukum sama Alaude. Hukumannya biasa aja sih, Cuma disuruh ngerjain latihan matematika, sekaligus buat pelajaran tambahan. Tapi sadisnya itu, jawabannya Dino harus bener semua. Bah, udah tau Dino kayak begitu, ngerjain lima soal cuma bener satu aja udah sujud syukur... kembali ke topik utama.
"Fon-san... jangan kasih tau Alaude-san kalau guruku mau datang ya... ya!" Dino memohon-mohon.
"Aku udah kasih tau tadi," balas Fon dengan ekspresi suram. Sebenarnya dia nggak tega ngeliat Dino kayak begini. Seingatnya Alaude pernah mengancam Dino, kalau dia dapat nilai jelek terus Enzo akan dibuang atau dijual di pasar hewan (?), terus abis itu dia nggak boleh melihara binatang lagi.
Hening.
Dino frustasi setinggi-tingginya jumlah tingkat menara petronas di negeri jiran. "Che, sial! Eh, tapi kan Alaude-san lagi pergi! YEHEI!" Kebahagiaan langsung mengusir kegalauan di hatinya.
"Alaude bilang jam dua siang dia pulang," kata Fon, memberitau. Kegalauan langsung balas dendam, dan mengusir kebahagiaan di hati Dino dengan kejamnya.
Hening lagi.
"Omong-omong sekarang jam berapa ya?" tanya Dino.
Fon ngeluarin ponselnya, yang kebetulan ada di kantongnya. "Satu lewat lima belas menit."
"Mati aku."
"Mending sekarang kau ikut aku yoga saja. Lumayan lho untuk menenangkan diri."
"Fon-san…" Dino nangis.
Rumahnya Sepira dan keluarga.
Sepira, Luce dan Aria sedang berkumpul di teras rumah bersama Lal. Sembari menyesap teh diet (?) mereka membicarakan masalah Lal dan Collonelo. Sebenarnya sih, Lal nggak akan datang ke rumah Sepira dan keluarga kalau Aria nggak nelpon. Dan Aria nggak bakal nelpon Lal kalau Byakuran nggak ngasih tau tragedi pengusiran Collonelo.
Awalnya pas Aria nelpon, Lal mau cerita langsung. Tapi, Aria malah bilang, "Lal, mending kau ke sini deh! Pulsaku mau abis. Telpon rumah baru dibayar besok. Aku sekalian mau nawarin produk buat diet. Ya, aku tau bodymu itu udah slim, tapi siapa tau kamu mau coba-coba (?), biar keslimannya (?) tetep terjaga." Alasan yang masuk akal dan agak sinting memang.
Lal menyesap teh diet yang baru saja dipromosikan Aria padanya, lalu Luce menyeletuk, "Kok kau tega sih, ngusir suamimu dari rumah? Collonelo itu ganteng lho! Sayang tau disia-siain (?) begitu!" Lal tersedak. Sepira sweatdrop. Aria facepalm.
"Ma, ampun deh," kata Aria.
"Kau juga sama saja Luce. Reborn keren begitu kau sia-siain (?)." Sepira jbjb.
"Nggak kok, siapa bilang. Kenapa kita jadi ngomongin beginian? Kan kita mau bahas Lal sama Collonelo." Luce menoleh ke Lal. "Iya kan Lal? Iya kan ya?"
Lal menghela napas. "Sebenarnya aku juga agak nggak tega ngusir dia."
"Terus kenapa kau usir?" tanya Aria.
"Habis, aku sebal tau!"
"Lho, kau sebal sama Collonelo tapi kenapa Squalo juga kecipratan semburanmu (?)?" tanya Sepira.
"Iya, padahal kalo diliat-liat Squalo lumayan ganteng lho! Cantik darimananya sih?" tanya Luce yang lagi-lagi melenceng dari topik utama.
"Oh, kalau itu tadi aku kelepasan (?), abis aku emosi tau!" Sepira, Luce dan Aria menyimak, dan memasang tampang ingin bertanya, "Kenapa?"
"Aku emosi tau! Masa pas kemarin mau pulang dari tugas ngelatih tentara-tentara yang junior. Collonelo sempet diskusiin tentang jalan-jalan sama perempuan gitu! Tapi anehnya, Collonelo nggak nyebut-nyebut namaku! Aku malah denger temennya nyebut-nyebut nama perempuan lain, terus sambil ngecie-ciein gitu! Terus aku juga agak iri sama si Elena sama Nana. Aduh mereka berdua tuh, punya suami yang sama errornya sama kayak suamiku, tapi NGGAK SEROMANTIS SUAMIKU!"
Sepira tersenyum nakal. "Oh, jadi kau juga mau Collonelo cuti terus mengajakmu pergi berlibur ke tempat romantis, eh?"
"Bukan itu juga sih masalahnya. Aku juga sering denger dia mengigau pas tidur, nyebut-nyebut angka lima. Nah angka lima itu maksudnya apa? Itu bukan tanggal ulang tahunku, atau ulang tahunnya atau tanggal anniversary kita."
"Tanggal lima kan jatah belanja bulanan marshmallow ku," kata Byakuran yang entah dari kapan ada dikerumunan ibu-ibu ini.
"Heh, Byakuran kamu ngapain? Tadi kan tante suruh kamu beliin tante saus tiram (?)," kata Aria.
"Ini udah aku beli. Kok aku doang yang diomelin? Kok Uni-chan nggak?"
"Kamu kan yang nakal duluan, Byakuran," kata Uni.
"Kalian berdua main PS sana!" perintah Luce.
"Bosen, aku mau nontonin film aja~ Yuk, Uni-chan~"
"Jangan ambil tumpukan kaset yang ditempat warna merah ya!" Sepira mengingatkan.
"Iya! Ngapain aku ambil tumpukan yang di tempat itu…isinya cinta-cintaan semua…" balas Byakuran.
"Kok kamu tau?" tanya Aria.
"Kan semalem, tante sama nenek Luce yang ngajakin aku nonton~"
"Byakuran! Cepet, filmnya udah dimulai!" seru Uni. Walah, cepet banget ini anak, udah sampe di ruang keluarga duluan. Byakuran pun langsung berlari kecil nyamperin Uni.
Oke, kembali lagi ke Lal.
"Nah, Lal, terus si Collonelo nanti malam tidur dimana?" tanya Luce.
"Aku suruh tidur di pos," jawab Lal dengan muka datar.
"Oh ya ampun, seingatku malam ini kan jatahnya Alaude ngeronda! Nanti kalau Alaude tau kalau kalian lagi berantem gimana? Nanti pasti Collonelo dikenain pasal 18 (?): Keributan dalam rumah tangga itu akibat kebodohan suami, dan suami harus dihukum karena telah berbuat bodoh (?)."
"Aku yakin Collonelo juga nggak mau tidur di pos. Pos RT kita kan adanya di depan rumahnya Reborn. Jangankan tidur, baru duduk bentaran aja, pasti langsung diusir sama Reborn," Aria berhipotesa.
"Mungkin dia numpang di kosannya Skull. Skull kan takut sama dia, pasti Skull ngebolehin dia nginep di kosannya," Sepira ikut berhipotesa.
"Skull udah aku teror. Biar dia nggak ngebolehin Collonelo nginep di kosannya," kata Lal masih dengan muka datar. Entah kenapa moodnya langsung berubah gitu, dari yang tadinya kayak cewek labil yang baru pubertas mendadak menjadi Lal yang seperti biasanya.
Sepira, Luce dan Aria sweatdrop.
Malam
Rumahnya Tsuna
Collonelo sekarang berada di ruang keluarganya Iemitsu. Dia lagi menonton tv, mengabaikan suara bocah-bocah yang ada di sekelilingnya. Ya bocah-bocah! Bocah-bocah imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK itu lho! Pilihan yang salah memang, andai manusia bisa memundurkan waktu, mungkin Collonelo sudah melakukannya sedari tadi. Mungkin seharusnya dia memilih buat tidur dalam keadaan diborgol sama Alaude atau tidur sebentar di pos terus diusir sama Reborn dan akhirnya tidur di jalan biar mirip gelandangan, tapi sayangnya dia terlalu kece-keren-ganteng-tampan, jadi gengsilah tidur di pinggir jalan gitu. Oke saya jadi memuja-muja Collonelo gini kan.
FYI, anak-anak VK yang ngumpul di rumah Tsuna Cuma ada Gokudera, Yamamoto sama Ryohei.
"YEIY NGINEP! INI PASTI BAKAL SERU TO THE EXTREME!" Ryohei teriak dengan volume suara di atas 100% (?), suaranya menggema di seluruh pelosok rumahnya Tsuna (?).
"BERISIK BODOH! KALAU GENDANG TELINGAKU PECAH GIMANA? KAMU MAU KASIH PUNYAMU KE AKU, HA?" Gokudera balas berteriak.
"HAH KAMU PUNYA GENDANG TELINGA?! GENDANG TELINGAMU BISA DIGEBUK-GEBUK GITU NGGAK?"
"BUKAN GENDANG BEGITUAN, IDIOT!"
"Eto, Gokudera-kun, Nii-san...aku ada di tengah-tengah kalian..." Tsuna menginterupsi peperangan capsbold—capslock bold— yang membudekan telinga tersebut. "telingaku sakit nih..."
Gokudera tersentak, lalu dia langsung sujud di depan Tsuna. "Ma-maaf, bos! Huaaa, maaf sejuta maaf, bos!"
"Eh?"
Giotto masuk ke ruang keluarga. Ia hanya bisa menghela napas pasrah melihat ruang keluarga yang baru saja ia bereskan udah acak-acakan lagi gara-gara anak-anak VK. Giotto langsung duduk di deket Collonelo.
"Galau, om?" tanyanya iseng sambil makanin chitato.
Collonelo meliriknya. "Berisik ah." Giotto tertawa renyah. "Gimana nggak galau coba? Diusir sama istri sendiri tanpa alasan yang jelas...terus aku harus nginep di rumahmu plus dikelilingi bocah-bocah itu. C'mon now(?)."
"Pfft—kenapa om masih di sini?"
"Itu karena...LHO TADI KAN KAU YANG MENCEGATKU SUPAYA AKU NGGAK BISA KELUAR! C'mon now!"
Giotto ngakak. "GAHAHAHA, oh iya ya!"
"Lagian anak-anak itu ngapain sih di sini?"
"Mereka mau nemenin om katanya, oh ya katanya itu digaris bawahin ya om!(?)" Collonelo mendengus kesal. "Omong-omong om Collonelo kenapa ribut sama tante Lal?"
"Nggak tau. C'mon now."
"Dasar nggak peka."
"Diam kau bocah, c'mon now. Paling-paling juga dia marahnya sebentar, nanti pas aku telpon terus minta maaf, terus ngajak dia jalan-jalan ke tempat roma— eh itu dia. Kayaknya aku sekarang ngerti kenapa dia marah-marah."
"Tante Lal cemburu sama Papa sama Mamaku, terus cemburu sama Keluarga om Melon?"
"Kayaknya sih gitu. Soalnya pas ulang tahunnya kemarin, aku janji sama Lal bakal ngajak dia pergi kemana ya waktu itu, tau lupa. Terus aku malah nggak bisa ngajak dia pergi."
"Kenapa?"
"Waktu itu aku sama dia dapet tugas, terus kita ditugasin di tempat yang beda-beda gitu."
"Lah, kan perginya bisa pas tugasnya selesai."
"Pas aku sama Lal selesai dari tugas, uang-uangku yang ada di brangkas aku pindahin ke bank, terus buat beli senapan baru…" Giotto sweatdrop. "yah, iya senapan baru… Jangan-jangan senapan baruku di patahin sama Lal. Yah gimana nih. Kalau begini sih aku bakal pisah ranjang sampai satu bulan lebih…" Collonelo pundung. Giotto memberi free puk puk. Anak-anak VK sibuk main perang bantal, yang bantalnya Tsuna ambil dari kamarnya, kamarnya Giotto dan kamar emak sama bapaknya.
Oh andaikan Lal tau kalau suaminya sekarang juga lagi galau karena dia udah tau apa salahnya. Apa yang akan Lal lakukan ya? Mungkinkah dia akan teriak, "SQUALO KAU UDAH NGGAK CANTIK LAGI!" Entahlah. Andaikan iya, saya pasti akan dilempar ke kolam ikan hiunya itu.
"Ciee yang nggak jadi diomelin," kata Fon nakal.
Dino cengar-cengir sambil terus ngabisin makan malamnya. "Hehe. Untung Bu guru Oregano ada urusan ya!"
"Tapi dia bakal datang besok." Fon menyunggingkan senyuman yang agak menakutkan.
"Kalian berdua daritadi membicarakan apa sih?" Alaude mendadak kepo.
"Fon-san, tolong jangan kasih tau Alaude-san," bisik Dino dengan nada memohon.
"Sip. Tapi inget janjimu tadi siang ya," Fon balas berbisik. Dino mengedipkan sebelah matanya.
Janjinya Dino ke Fon itu janji soal nilai kok. Dino janji besok-besok setiap ulangan bakal dapet nilai di atas enam puluh atau enam puluh lima.
Melihat Alaude yang masih menunggu jawaban, Fon menjawab pertanyaannya, "Hm? Apa? Kita lagi membicarakan Dino yang nggak jadi dimarahin temannya gara-gara lupa balikin pulpen kesayangannya kok."
Alaude melirik Dino. Dino memamerkan cengiran yang meyakinkan Alaude bahwa apa yang Fon omongin itu benar.
"Alaude-ojisan, Dino-san tadi dapet nilai ulangan 30 lho," kata Hibari. Tunggu dulu, ini anak kenapa tumben-tumbenan manggil Alaude pakai namanya, terus manggil Dino make namanya juga plus embel-embel 'ojisan' sama 'san' pula.
'What... danger sekali ini (?),' batin Dino.
"Serius?" Alaude kurang percaya sama Hibari. Gimana nggak coba? Orang ini anak gaya ngomongnya mendadak berubah begini.
"Serius."
"Fon, Dino, jelasin. Romario, aku yakin kau ikutan kompromi. Kalian bertiga jelasin sekarang juga." Alaude mengeluarkan borgolnya. Dino dan Romario bergidik. Keringat dingin mengalir di pipi Fon.
Oh Tuhan, lindungilah mereka bertiga, amin...
A/N: YA AMPUN! SAYA SAMBIL NYESEK-NYESEK TAU NGGAK BIKIN CHAPTER INI! GIMANA NGGAK COBA? DI CHAPTER INI SQUALO-NYA SEHAT-SEHAT AJA! PADAHAL ASLINYA MAH ;;A;;
Lagi-lagi, saya memunculkan masa lalunya Reborn dan Luce /sigh/, niatnya saya mau nyeritain masa lalu mereka berdua. Tentang kenapa mereka bisa pisah tapi tinggal di satu RT...tapi jujur, alasannya itu random, sumpah! Terus-terus, dua konflik di atas masih belom selesai lho!
Mind to REVIEW? :3
Males lewat PM, bales review di sini aja ya /o/
feressaloveyaoi: Aih makasih pujiannya =) Ini udah update, kelamaan nggak?
k0ush4fukuj1: Huahaha, aku nggak kepikiran buat bikin suara BOOM-nya lho 8D Eh? Apaan? Kambing etawa? Nggak tau tanya Yamamotonya aja! /duesh/
Keren dong, yang punya aja keren... /dijitak/
Lanjutan bonus chapternya atau apanya? Kalau bonus chapternya tentu ada lanjutannya, tapi judul sama ceritanya beda-beda~
Demon D. Dino: Wah betul banget itu. Apalagi Giotto itu kakaknya tsuna, pasti dia selalu disalahin. /entah itu apa hubungannya/ /ditendang/ Itulah kehebatannya Uni di fanfic ini! /oi/ Saya juga kalo main kalah mulu, lho! /abaikan/
Ini dia update-annya. Kelamaan nggak?
Lala Chastela: Aih...seriusan? 8'D Kamu kalo abis ngeliat ulangan matematika terus baca fic ini yang ada level stress kamu naik level jadi mendekati 'sakit jiwa' lho! /woi/
Ya ampun nggak apa-apa kok :D Makasih udah mau repot-repot ngereview. Yosh! Saya bakal terus ngelanjutin fic ini. Entah itu sampe kapan u_u;;
Dee Kyou: Iklan apaan ya? Kayaknya juga pernah liat gitu ._.
...kamu bilang apa? Giotto punya siapa?... :' Giotto kan punya saya /dibekuin/
Waduh, kalo masalah itu saya juga penasaran /diinjek/, masih agak bingung ngegambarin Giotto pas marah ._.a
