Chapter Eight!

First of all, aku benar-benar minta maaf atas keterlambatan yang amat sangat (lagi), tapi, yah... gitu.

Sekolah. Selalu sekolah.

Tugas-tugasku begitu banyak jadi aku baru bisa selesai sekarang.

Sekali lagi, aku minta maaf.

Anyway, Enjoy the story.

Something So Familiar

Sudah sangat lama sejak dirinya berada di pantai ini. kenangan ketika dia dan Sehun berciuman untuk pertama kalinya merasuki pikirannya, membuat Luhan tersenyum dalam damai. Semilir angin menutup matanya, merasakan hembusan sepoi itu memanjakan rambut keemasannya.

Seorang anak berlari ke arahnya, tersenyum, rambutnya berkibar dengan sangat indah, dengan bahagia menenteng sekeranjang kerang yang dia kumpulkan entah darimana. Luhan tersenyum kembali menatapnya, gadis mungil itu memeluknya, dan dia menyadari, ukuran tubuhnya tak seperti biasanya.

Entah bagaimana, Luhan merasa tubuhnya tumbuh dewasa.

Seperti wanita pada umumnya.

Gadis itu menawarkan satu kerang yang tampak sangat familiar padanya, namun sangat aneh dan dia tak mengingat dimana dia tahu darimana kerang itu berasal. Tapi Luhan mengambil kerang itu, gemerlap ungunya bersinar di bawah matahari.

"Ibu percaya akan kerang ungu?" Tanya gadis itu, dan Luhan hanya bisa menggelengkan kepala. Anak mungil itu tersenyum kembali, "Mereka mengatakan, ini dapat mengembalikan takdir yang terpisah."

"Luhan!" Panggil seseorang dan dua perempuan itu menatap ke arah sumbernya dengan ekspresi yang berbeda pula. Gadis mungil itu tertawa bahagia dan menghamburkan diri ke arah seorang pria, meneriakkan kata 'ayah' di sela-sela tawanya. Sementara yang lebih tua menatapnya tak percaya.

Sosok itu adalah pria yang amat sangat familiar baginya, matanya membulat sempurna. "Sehun?"

.

"Sehun?" Gumamnya, matanya mengernyit dalam tidur, membuat kakaknya terbangun dan memperhatikannya, mengelus surai keemasannya yang kini berantakan entah kemana. Gadis itu memeluknya lebih erat, kepalanya masih beristirahat di lengannya.

Remaja itu memperhatikan gadis yang masih tertidur itu, tergoda untuk mengecup pipinya yang masih memerah. Sangat manis, pikir Sehun, masih tersenyum. Dengan lembut, dia mendaratkan ciuman ke bahunya sebelum turun dari ranjang.

Ini sudah pagi, waktu berjalan sangat cepat, mengingat ini hari Sabtu, dan Sehun harus meneguhkan hati untuk tidak membuat Luhan terlalu lelah ataupun terlalu sedih karena ibu mereka. Jadi dia berencana membuat sarapan.

Tentu saja, seorang Oh Sehun tak terlalu pandai memasak.

Tapi tentu saja pula, seorang Oh Sehun yang rela mencari tutorial rambut Disney di internet bisa diandalkan untuk memasak untuk adiknya, terlebih lagi yang telah menjadi kekasihnya sekarang, di pagi hari buta ini.

Dia memilah-milah semuanya dan mencari bahan di kulkas, tersenyum sambil mengangkut mereka ke meja satu persatu. "Aku tak tahu apa yang dia suka." Gumamnya bingung, menggaruk kepalanya. Jujur saja, dia jarang memperhatikan selera makan sang adik.

Dengan teliti, remaja itu mencampur bahan-bahan dari resep yang dia dapatkan, tak menyadari gadis yang bersandar di ambang pintu dengan mata sedikit tertutup. Luhan tersenyum kecil melihatnya, entah kenapa, wajah Sehun sangat bersinar sekarang.

Laki-laki itu menyadari sesuatu, namun sebelum dia dapat berbalik, Luhan telah melingkarkan tangan mungilnya ke pinggangnya, memeluknya dengan nyaman. "Kau sudah bangun?" tanyanya, masih menenggelamkan kepalanya.

Sehun tersenyum, "Aku sedang membuatkanmu sarapan, kau seharusnya diam saja." Ujarnya, masih memotong beberapa wortel. "Kau pasti lelah." Dia merasakan kepala adiknya yang menggeleng menggelitik punggungnya. "Kau yakin?" Sehun kembali merasakan sebuah anggukan.

"Aku ingin membantumu, mana yang bisa kukerjakan?" Tanyanya lagi, menyembulkan kepala dari belakang.

Sehun tertawa, "Kau yakin takkan membakar pancinya lagi?" Luhan memukul pelan pundak Sehun, merasa malu. Ketika sedang membuatkan sup rumput laut di hari ulang tahunnya, Luhan tanpa sengaja membakar sedikit panci, entah bagaimana caranya, membuat dua kakak-beradik itu kewalahan di pagi hari.

"Aku bercanda." Ucap yang lebih tua, mengecup bibir mencebik Luhan.

.

Kepulan asap dari panci membuat Luhan menelan ludah lapar, dia dan Sehun telah berhasil memasak sebuah hidangan untuk diri mereka sendiri tanpa membakar dapur, dan hal itu membuatnya merasa sedikit bersyukur.

Setidaknya ada hal baru lagi hari ini.

Gadis itu menyendok sedikit sup yang mereka buat bersama-sama, membulatkan mata ketika mencoba rasanya. Sehun menatapnya dengan aneh, "Ada apa?" Tanyanya dan menciduk sedikit, membuat Luhan menahan tangannya. "Ada apa? Kau kenapa?" Remaja itu menahan tawa dan menyesap kuahnya sedikit, terhenyak.

"Ini asin." Ujarnya, menatap Luhan yang juga mengernyit tak puas.

"Bagaimana bisa- Kita membuatnya berdua, bagaimana bisa ini asin, apa otak kita sekacau itu?" Tutur Luhan kesal, menatap tak selera sup yang gagal mereka buat. Dia benar-benar tak percaya, selalu ada kekacauan jika mereka berdua yang meaksanakan tugas di dapur. Apa-apaan.

"Tidak, bagaimana aku bisa fokus memasak jika ada kau, dengan pakaian itu lagi?" Balas Sehun.

"Karena siapa? Aku? Dan apa? Pakaianku? Apa yang salah dengan pakaianku?" Tanyanya, menatap kemeja kebesaran Sehun yang dia kenakan terburu-buru karena kebingungan mengapa remaja itu tak ada di sampingnya. Gadis itu menyadari kesalahannya. "Ah, ini-"

"Kau sengaja, ya?"

"Tidak, kok."

"Kau sengaja, aku yakin. Kau benar-benar sengaja ingin menggodaku."

"Siapa yang ingin menggodamu? Bukan aku menyentuhmu setiap malam."

"Bukan aku yang mengangkang setiap malam."

"Apa katamu? Mengangkang? Kau membicarakanku? Kapan aku melakukan itu?"

"Melingkarkan kaki di pinggang itu dihitung mengangkang."

"Apanya yang dihitung, kau benar-benar bodoh."

"Siapa yang kau panggil 'bodoh'?"

Luhan menutup mulutnya, merutuki kesalahannya ketika memanggil kakaknya dengan sebutan 'bodoh'. Dengan cekatan, gadis itu mendorong kursinya ke belakang dan berlari dengan malu dari ruang makan, membuat Sehun yang masih mencoba menelan makanannya menahan tawa.

"Hei, berhenti, kau." Panggilnya, meletakkan sumpitnya dan berjalan dengan perlahan, mengikuti kemanapun Luhan melarikan diri. "Tidak, aku hanya bertanya siapa yang kau panggil 'bodoh', kenapa kau lari?"

Gadis itu menjerit ketika kakaknya menemukannya, mengejar dirinya ke sepenjuru rumah dengan sangat cepat, andai saja Luhan adalah manusia, dia pasti sudah tertangkap sekarang ini, hanya kali ini, dia bersyukur atas kekuatan larinya yang luar biasa.

Sudah sangat lama mereka tak tertawa lepas seperti ini. semenjak hari ibu mereka meninggal, Luhan telah terlalu sering menangis, terkadang dengan Sehun yang juga memeluknya dengan air mata yang membasahi pipi remaja itu. Atau hari dimana mereka menenangkan satu sama lain dengan berbagai sentuhan.

Sudah sangat lama sejak mereka tertawa lepas, selayaknya kakak adik yang biasanya, tanpa ada cinta lebih yang terpendam di dalam hati mereka. Sehun menggendong Luhan dengan cekatan dari belakang, memerangkapnya, membuat gadis itu meronta dan tertawa.

Benar sekali, Xiumin memperhatikan dari jauh, tersenyum menatap mereka, seekor serigala di sampingnya. Dengan perlahan, kekasihnya menciut dan merubah diri menjadi wujud manusia, memeluk punggung gadis itu.

"Mereka akan baik-baik saja." Ucap Chen menenangkan, masih memeluknya, "Jangan khawatir."

"Bagaimana bisa kau tahu setiap keraguanku?" Jawabnya, sedikit mencebikkan bibir ke arah pria yang kini tertawa dengan suara nyaringnya. "Kenapa?"

"Karena aku kenal kau." Dia mengecup bibir Xiumin, mengambil alih belati kebiruan yang digenggam oleh gadis itu, tersenyum. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, aku selalu sejak dulu."

"Jadi kau sadar aku akan membunuhmu saat itu?"

"Aku sering melihatmu berjalan sendirian di hutan, sepertimu, aku juga sering mendatangi negeri orang mati." Dia tersenyum kembali, "Mereka takkan seperti itu, lihatlah."

Xiumin menyaksikan pasangan yang masih tertawa sekarang ini, berkejaran di sekeliling ruang tamu, ketika Luhan mencoba menyemprot Sehun dengan semprotan air kecil di tangannya, sementara yang lebih tua terus menerus mengelak. Tanpa sadar, Changeling tak sempurna itu tersenyum miris, menyaksikan wujud Luhan yang berdenyar berubah-ubah di matanya.

Sejenak gadis manusia, sejenak pucat dengan gigi yang makin menajam.

"Aku takut, Chen, aku benar-benar takut." Pria itu kembali merengkuh tubuh kekasihnya. "Dia takkan bertahan lama."

"Aku tahu, tapi mereka akan baik-baik saja, percayalah."

Percayalah, walaupun Chen sendiri tak memiliki keyakinan penuh akan apa yang baru saja dia katakan. Dia tahu semuanya tentang Luhan, apapun yang dikatakan Xiumin sangat cukup untuk membuatnya mengenal Changeling itu seutuhnya. Dan tentu saja, dia mengenal dengan jelas dua putra dewa air yang tengah mengawasi pasangan itu.

.

Sehun tak tahu apa yang merasuki pikiran dua sahabatnya itu.

Entah apa yang terjadi, Chanyeol dan Jongin sama-sama sepakat untuk membawa orang termuda di grup mereka untuk jalan-jalan melepas penat. Dan disinilah Sehun, dengan Luhan yang tertidur di bahunya, masih di mobil remaja bermarga Park tersebut.

Dia mengelus poni Luhan dengan lembut sebelum memutar mata, "Apa kami sedang diculik? Kenapa kalian tak mengatakan kemana kita sebenarnya?" Desaknya, merengek pada dua orang di depannya yang masih menyanyikan Forever dengan penuh semangat, apalagi Dengan Chanyeol yang tiba-tiba saja melakukan bagian rap-nya.

"Yo, nice skirt-"

Sehun kembali memutar matanya, mengerang kesal, "Bisa gila aku." Gumamnya, menatap keluar, menemukan dirinya tengah bertatapan dengan seekor serigala raksasa.

Aneh sekali.

Sudah sangat lama sejak dia melihat kaum mereka, terakhir kali dia melihat mereka adalah ketika dia berjalan-jalan dengan sang ayah, dan jujur saja, di umurnya yang saat itu masih delapan tahun, Sehun sangat trauma melihat taring baja mereka.

Apa yang dia lakukan, sendirian, disana?

"Hyung," Panggilnya dengan sedikit rasa takut, "Tak bisakah kita lewat jalan lain saja?"

Chanyeol meliriknya dengan santai, "Ada apa memangnya? Jalan kita sudah benar, kok."

Sehun menelan ludahnya, dia berani bersumpah serigala itu mengikuti mereka, tapi tentu saja, takkan ada yang percaya jika dia mengatakan itu. Dia menghela nafas panjang, "Terserah kalau begitu." Ujarnya sebelum menyandarkan kepalanya di atas Luhan.

Tepat setelah remaja itu menutup matanya, dua sahabat tersebut saling berpandangan, menatap pasangan itu dengan penuh arti.

.

Sehun membantu mereka mengangkut semua yang mereka bawa di van tadi sementara Luhan menggendong tasnya di punggung dan menatap pondok tempat tujuan mereka dengan sedikit takjub. Pohon-pohon rindang di sekelilingnya memberikan banyak sekali kesan asri.

"Kau suka?" Tanya Jongin dari kejauhan dan gadis itu mengangguk, tersenyum kecil sebelum membuka pintunya dengan sangat mudah. Gadis itu mengernyitkan dahinya.

"Ini tak dikunci?"

Sang pemilik tersenyum kembali, "Pasti Kyungsoo lupa menguncinya, dia sering berkunjung."

"Kyungsoo?"

Jongin mengibaskan tangannya, "Kau akan mengenalnya nanti."

Sehun tersenyum, menggandeng tangan sang adik dan menariknya masuk lebih dalam, menuju ruang tengah dimana sofa-sofa dengan bantal-bantal empuk terletak, beserta buku-buku novel dan manga yang berjejer rapi di rak. Remaja itu menatap sekitar dan menghela nafas.

"Hyung!" Tegurnya, membuat yang lebih tua berjengit, "Tak ada televisi, sebenarnya apa yang kau lakukan disini?"

"Yang ada disini hanya aku, dan terkadang Kyungsoo dan neneknya. Kami tak butuh televisi." Jawabnya praktis, membuat Sehun mendengus kesal.

"Kau tak serius, kan?"

"Aku serius."

Luhan meraih satu novel, dengan latar hitam dan lukisan mengerikan berupa tiruan boneka matryoshka yang keluar dari kepala manusia, arahnya terus menuju berbagai bentuk. Serigala, tangan, belenggu, dan lainnya. Bound, Okky Madasari. Gadis itu membalik bukunya, sinopsis itu berbahasa inggris.

"Oppa bisa berbahasa inggris?" Tanyanya polos.

Jongin menggelengkan kepala, "Aku mencoba, dan Kyungsoo mengajariku sedikit." Jawabnya dan sebelum Luhan dapat membuka halaman pertama, remaja itu telah meraih buku tersebut. "Ini tak cocok untuk anak kecil."

"Kenapa?"

"Kalau kau ingin membaca bagaimana pemeran utama disini diperkosa, silahkan."

"Hyung!" Tegur Sehun kembali, memelototi yang lebih tua, kini mengendikkan bahu dan duduk di sofa. Memperhatikan Luhan yang masih membaca-baca judul novel yang ada. "Dia masih kecil." Bisik kakaknya, "Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?"

Jongin kembali mengendikkan bahunya, menatap gadis itu kembali, "Kau bisa baca sisanya, aku rekomendasikan, nih, coba kau baca Ratu Salju, yang itu, Hans Christian Andersen."

Luhan menarik buku itu dari lemari, warna biru terang mendominasi dengan seorang wanita mengenakan mahkota bertahtakan berlian dan es, gaunnya bercorak butiran es dan tampak sedingin itu, rambut kecoklatan terangnya tampak halus, kontras dengan wajah dinginnya.

"Ini?" Tanyanya dan Jongin mengagguk, membuat gadis itu duduk di sofa dan membaca dengan penuh antusias, menelaah setiap kata yang dia temukan.

Sehun menatapnya dari kejauhan sebelum akhirnya bangkit dan duduk di sampingnya, melirik novel yang asik dia baca dari bahu Luhan. Dia benar-benar tak mengerti, apakah memang ada peri-peri yang menciptakan serpihan kaca itu, jika memang ada, apakah masih ada sampai sekarang?

"Kau menyukainya?" Tanya remaja itu, berbisik di telinganya. Gadis itu mengangguk, masih serius membaca sedari tadi. "Kau mengabaikanku sedari tadi." Gumamnya.

"Benarkah?" Luhan membalikkan kepalanya, mengecup singkat pipi Sehun, "Apa aku mengabaikanmu?" Dia mengecup kedua mata kakaknya, "Apa aku sudah mengabaikanmu?" Gadis itu menyentuh hidungnya dengan bibirnya, "Apa aku tak sadar kau ada disini?" Hingga akhirnya Luhan meraih bibir Sehun, "Aku tidak, kok."

Sehun menelan ludahnya, ini gila, bagaimana bisa adiknya menggodanya seperti ini? Remaja itu berdeham keras-keras, tak menatap Luhan yang masih memperhatikannya dengan polos.

"Dasar penggoda."

Gadis itu tertawa, meletakkan buku yang tadinya dia baca ke atas meja setelah menancapkan pembatas yang mencuat di halamannya sebelum memeluk kakaknya penuh sayang. Remaja itu tersenyum dan mengelus rambut Luhan, mengecupnya sedikit.

"Hei, kalian, berhenti bermesraan." Seru Chanyeol dari kamarnya yang masih tertutup. Sehun memutar mata, bagaimana bisa temannya mengerti bahwa dia dan adiknya tengah menikmati waktu berdua di ruang tengah Jongin?

"Aku akan ke belakang sebentar." Ucap Luhan sebelum mengecup bibir Sehun dan berjalan ke dapur, mengambil air untuk meredakan rasa dahaganya.

Gadis itu berjalan dengan santai ke dispenser, tak menyadari tatapan Chanyeol di belakangnya, menatapnya intens seolah matanya mampu menembakkan laser ke punggungnya. Tapi tentu saja, dalam hal Chanyeol, ini akan menjadi air.

Luhan terperanjat, bertemu mata dengan remaja yang merupakan teman kakaknya. "Ada apa?"

"Kau," Mulai Chanyeol, masih menatapnya tajam, "Tidak jadi."

Changeling itu menatapnya dengan aneh, ketika dia melewatinya begitu saja, Luhan hanya bisa memperhatikan punggungnya yang berjalan menjauh, meneguk airnya lalu berjalan keluar, tak memperhatikan Sehun yang ternyata tertidur di sofa tempat mereka duduk tadi.

Gadis itu berjalan, memperhatikan barisan pohon yang melingkari rumah Jongin. Sangat aneh, memang, tapi atmosfer tempat ini terasa sangat familiar, terasa seperti... seperti... rumah. Iya, ini rumah, negeri orang mati.

Ini sangat aneh.

Kenapa dia merasa seperti ini?

Seekor serigala mencuat keluar dari balik pepohonan, menggeram dalam dari sela-sela taring bajanya sebelum mundur kembali ke bayang-bayang. Nafas Luhan serasa terjepit, ketakutan atas apa yang dia lihat. Serigala? Serigala macam apa yang berkeliaran disini?

Cahaya meredup, dan ketika gadis itu berbalik, sesosok Seer tengah memperhatikannya. Apa yang seer itu lakukan disini? Bukankah mereka tak bisa keluar dari negeri orang mati? Bukankah mereka terkunci disana? Sosok biru mungil itu berlari ke arah rumah Jongin, membuatnya berlari masuk ke dalam, mengikutinya ke sepenjuru ruangan.

Sehun masih tertidur di sofa dengan tenangnya, dan Luhan mencoba untuk tidak membangunkan manusia itu, dia tahu jelas bahwa kekasihnya bisa melihat mereka, dan juga anak kecil yang dia kejar sekarang ini.

"Kembali kau!" Luhan berdesis, memlototi mata besar makhluk itu dan mengejarnya ke ruangan yang lebih dalam. Jongin dan Chanyeol tak terlihat dimana-mana, membuatnya sedikit bersyukur, bagaimanapun, mereka tak bisa melihat anak itu.

"Kemana kau sebenarnya?" Tanya gadis itu, masih terengah karena mengejar makhluk yang membuatnya frustasi sedari ini. "Kenapa kau berlarian seperti ini."

"Aku memintamu untuk berhenti, kenapa kau tidak melakukannya?" Ujar roh itu tenang, membuat Luhan terkejut karena dia bisa berbicara dengan bahasa yang dia mengerti. Tentu saja, itu tak terdengar seperti Bahasa Korea, namun tetap saja, Luhan merasa fasih dalam bahasa itu.

"Apa maksudmu?" Tanya Luhan dalam bahasa yang sama. Entah kenapa, dia merasa dirinya lebih fasih dalam bahasa itu, seolah dia terlahir di antara mereka, yang memang benar, walaupun bahasa pertama yang mereka gunakan adalah bahasa Korea.

"Kau seharusnya tak datang kemari."

"Bukankah kau yang datang kemari?" Benar sekali, dia tengah bersama kakak dan dua temannya tadi, bukankah dia tak bisa datang ke negeri orang mati ketika dia dalam keadaan terjaga? Atau mungkinkah dia benar-benar menjadi bagian dari mereka sekarang?

"Apa kau tak tahu siapa mereka?" Tanyanya balik. Sebeum Luhan dapat menjawab, seekor serigala besar menyergap makhluk itu, dalam waktu singkat menghancurkannya menjadi abu kebiruan dan darahnya merembes ke tanah. Tentu saja, gadis itu melakukan apa yang dia bisa, dia menjerit.

Tepat saat itu, cahaya seolah kembali, menariknya keluar dari pandangan monster itu, jauh dan kembali masuk ke dalam rumah, masih menutup matanya dengan kedua tangan. Seseorang menyentuh pundaknya dari belakang, membuatnya menjerit ketakutan.

"Hei, tenang, ini hanya aku." Ucap Chanyeol, mengangkat tangannya, menandakan dia tak bermaksud apa-apa. Gadis itu menghela nafas, kenapa dia begitu ketakutan?

Dia melihat sekeliling rumah hingga ke luar, tempat rimbunan pohon tumbuh dengan subur. Tak ada Lycan, tak ada Seer, tak ada redupan di tempat-tempat tertentu kecuai bayang-bayang pohon besar. Dia pasti sudah berhalusinasi. Mungkin saja dunia manusia menyeret pergi kewarasannya.

"Kau kenapa? Hani, kau berkeringat." Ucap remaja di depannya, membuatnya menyeka sedikit lehernya yang basah dan dingin karena keringat yang bercucuran. "Apa panas? Aku yakin temperaturnya tak begitu ekstrim."

Luhan hanya mengangguk, "Aku tak apa-apa, Oppa. Sehun masih tidur?" Diam-diam, dia merutuki dirinya karena tak memanggil kakaknya dengan sebutan pantas di depan teman-temannya. Tapi, tentu saja, dua sahabat itu mengerti tentang kisah cinta aneh mereka, di luar fakta bahwa Luhan bukan berasal dari dunia manusia.

"Anak itu sedang tidur? Bukannya dia sedang bermain game sedari tadi?"

"Dia tak tidur?"

Lalu apa yang dia lihat tadi? Kenapa dia melihat kakaknya tengah tertidur sementara dirinya berkejaran dengan Seer itu? Dia pasti benar-benar berhalusinasi. Tapi kenapa itu terasa begitu nyata?

Chanyeol mengintip ke arah ruang tengah, tempat Sehun dan Jongin masih berseteru soal game yang mereka mainkan sedari tadi di ponsel mereka. "Lihat?"

.

Luhan mengernyitkan dahinya. Gadis itu berpikir sangat lama di dalam kamarnya, lama hingga akhirnya Sehun masuk, menyeka rambutnya yang masih basah sehabis mandi, duduk di samping adiknya.

"Ada apa?"

Gadis itu berjengit kaget, menggelengkan kepala sambil tersenyum. Tentu saja, dia tak bisa mengatakan pada Sehun jika dia tengah berpikir mengapa dia seolah berhalusinasi soal berjalan-jalan di rumah mereka, tanpa penerangan, dengan Sehun yang tertidur pulas, dan berkejaran dengan Seer yang akhrinya dimangsa oleh seekor Lycan.

Tentu saja, itu mungkin saja merupakan tipuan dirinya untuk pulang.

Tentu saja, itu mungkin bukan masalah besar.

Tapi Luhan mengerti, tak ada satu hal pun yang terjadi di hidupnya tanpa menimbulkan perasaan tengah berada di antara hidup dan mati. Ikan koi itu contohnya, makhluk lain akan berpikir tak masalah bertemu dengan sosok koi raksasa yang meracau tentang takdir mereka, tapi bagi Luhan, semuanya penting.

Sangat penting.

Dia menghela nafas, tak ada gunanya sama sekali memikirkannya sekarang. Chanyeol dan Jongkin mengajak mereka kemari untuk berlibur setelah kematian ibu mereka, bukan untuk memikirkan hal-hal negatif seperti sekarang ini.

Tapi tetap saja, sementara Sehun tertidur di sampingnya, Luhan tak kuasa menutup matanya sedetik pun tanpa memikirkan kejadian tadi. dia masih tak habis pikir tentang apa yang dikatakan Seer itu.

"Apa kau tak tahu siapa mereka?"

Luhan menatap wajah damai kakaknya yang tertidur. Siapa yang siapa? Dan kenapa Seer tiba-tiba berbicara dengan bahasa jelas untuk pertama kalinya di depannya, hanya untuk bicara omong kosong tak masuk akal.

Tapi benarkah itu memang omong kosong?

Siapa Park Chanyeol dan Kim Jongin sebenarnya? Apakah mereka memang teman dan senior dari Sehun? Atau, sama seperti Luhan, mereka adalah makhluk astral dalam persembunyian? Atau mereka benar-benar manusia? Tapi kenapa, jika Sehun sedari tadi disana, Jongin dan Chanyeol tak terlihat sama sekali?

Setiap pertanyaan berputar di kepalanya seperti kapas-kapas yang berhamburan, kacau.

.

Luhan menemukan dirinya kembali di tengah hutan lebat, tempat dia pertama kali muncul di negeri orang mati setelah kedatangannya dia rumah keluarga Oh. Sudah sangat lama sejak dia berada di sini, dia tak mengerti kenapa dia kembali lagi.

"Luhan?" Gadis itu berbalik, bertemu mata dengan sahabatnya yang sudah lama tak berkunjung.

"Xiumin." Panggilnya balik, "Apa yang kau-"

"Aku yang membawamu kemari. Jangan tanya kenapa, akan lebih berbahaya jika kau muncul di tempat lain. Orangtuamu sudah tahu tentang keadaanmu, mereka benar-benar mencarimu sekarang."

"Orangtua?" Ulangnya, mengernyitkan dahinya, "Oh, yang membawaku dari jelaga itu."

Xiumin mengangguk, menatap ke sekeliling, kebingungan. "Chen, kau kemana?" Panggilnya, merangkak mencari sosok yang sedari tadi bersamanya. Luhan mendengarnya berbicara dengan amat sangat samar. "Tak apa, aku janji dia takkan takut, kumohon, Chen."

Gadis itu mengernyitkan dahinya, apa yang membuat sahabatnya memohon seperti itu? Sosok apa yang ada di balik bayang-bayang? Namun dia menyesal memikirkannya, tepat ketika dia keluar, seekor serigala raksasa menyambutnya, menggeram dalam.

Jika itu bukan karena Xiumin yang membungkam mulutnya, Luhan pasti sudah menjerit dan membangunkan sepenjuru bagian barat negeri mereka. "Itu tak apa, ini Chen, dia..." Yang lebih muda menunggu jawaban sementara yang lainnya menelan ludah, "Ini Jongdae, yang kuceritakan."

"Jongdae?" Ulang Luhan, merasa tak asing. "Kim Jongdae?!"

Xiumin kembali mendesis, "Ya, dan pelankan suaramu. Apa kau mau Spartoi menangkapmu?"

Gadis itu segera mengatupkan mulutnya rapat-rapat, sedikit takut dengan perkataan temannya. Dia menatap Lycan itu denagn penuh tanda tanya. Bagaimana bisa pangeran itu ada disini, terperangkap dalam tubuh seekor serigala raksasa?

"Ceritakan."

.

Luhan hanya bisa menelusuri tanah lembab hutan itu sementara Xiumin menceritakan semua yang dialaminya, dengan Chen meringkuk di samping pahanya. Gadis itu menatap mereka dengan mata tak percaya. Bagaimana bisa, setelah selama Xiumin berjuang membunuh keluarga Minseok, Jongdae adalah seekor Lycan? Takdir benar-benar aneh.

Mereka juga pasangan yang aneh, sosok Changeling tak sempurna dan seekor Lycan bangsawan.

Tapi keseganan mengitari Luhan ketika ingin mengutarakan pendapatnya, bagaimanapun, dia dan Sehun benar-benar memiliki takdir yang lebih rumit dari mereka. Setidaknya Xiumin dan Chen bisa bersama tanpa saling menyakiti.

"Jadi, kalian," Luhan menggaruk tengkuknya, ini sedikit canggung, apa yang harus dia katakan ketika merujuk Chen yang masih setengah terlelap? Orang itu? Makhluk itu? Dia harus memanggil Chen apa?

Dia dapat mendengar sedikit geraman dari monster itu, dan perlahan, Chen kembali menyusut menjadi tubuh Jongdae, nyaris terlelap di paha Xiumin. "Apa ini membuatmu lebih nyaman, Luhan?" Tanyanya praktis dan gadis itu terdiam.

"Aku biasa saja sedari tadi."

"Benarkah?"

"Chen." Tegur Xiumin, sukses membuatnya kembali menutup mata. Yang lebih tua menggenggam tangan Luhan dengan sangat erat. "Dengarkan aku, Lu, apa kau sadar kau berada dimana?"

"Aku di hutan." Jawabnya bodoh, menerima kekehan dari Chen yang masih setia menutup matanya.

"Yang kumaksud adalah ragamu, Lu, dimana kau berada sekarang?"

Luhan berpikir sejenak, mengingat-ingat dimana letak spesifik tempat liburan Jongin. "Aku ada di kamar, pondok dekat pantai milik Jongin Oppa." Mata Chen seketika terbuka, membuat Xiumin beralih untuk menggenggam tangan kekasihnya. "Ada apa memangnya?" Tanya Luhan yang melihat hal ini.

Xiumin menggelengkan kepala tepat ketika sayup-sayup suara terdengar, dan Luhan berani bersumpah dia mendengar helaan nafas penuh rasa syukur keluar dari mulut Xiumin. "Dia mencarimu, Lu, kau harus bangun sekarang." Luhan mengangguk, membiarkan rasa perih akibat tamparan sahabatnya menginvasi pipi kanannya, membawanya kembali ke raganya.

Xiumin menghela nafas lega, sangat bodoh untuk menyembunyikan sesuatu dari Luhan, tapi ini untuk keselamatannya. Tak ada baiknya jika yang lebih muda mengetahui keberadaan mereka. Tak pernah ada baiknya. Chen beringsut dari paha tempat dia tertidur, mengerjapkan mata.

"Jongin? Kim Jongin?" Sebutnya, bingung. "Kukira aku salah melihatnya, itu memang dia."

"Entahlah." Gadis itu menghela nafas, "Aku khawatir, Chen."

"Hei, kemarilah." Chen memeluk kekasihnya dengan lembut, membiarkannya menumpahkan semua rasa sedih, khawatir, dan bingung di pundaknya. Dia mengerti, mereka berdua mengerti siapa itu Kim Jongin, tentu saja mereka akan khawatir.

Siapa yang tidak ketakutan akan sosok itu?

Tapi apa gunanya mundur sekarang? Mereka telah berjanji satu sama lain untuk menghindarkan takdir pilu seorang Luhan bersama Oh Sehun, dan itu takkan ada gunanya bila mereka melarikan diri sekarang. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah berusaha sebisa mereka, dan apapun yang terjadi, mereka yakin, semua akan baik-baik saja.

Lagipula, tak ada gunanya berpikir pesimis sekarang. Apalagi kepribadian negatif seorang Changeling akan muncul di saat-saat mereka yang paling rapuh. Seperti sekarang ini. dan Chen hanya bisa mendiamkan Xiumin dengan tepukan di punggungnya, dengan perlahan, menyanyikan lagu yang sering mereka mainkan bersama.

"Hari ini memelukmu, berikan seluruh hatiku, selamanya, sepanjang hidup..."

"Kau masih mengingat lagu itu?" Tanya Xiumin, mendongakkan kepalanya.

Hal ini membuat Chen tersenyum lembut, "Tentu saja, apa kau tidak?"

"Aku mengingat setiap lirik dengan jelas." Bisik gadis itu, masih bersandar di pundaknya, menghela nafas. "Bagaimana aku bisa melupakannya ketika kau menyanyikan itu setiap harinya?"

"Kau bilang kau menyukainya."

"Iya." Jawabnya, masih tersenyum, "Aku sangat menyukainya, terutama dengan suara merdumu."

"Bernyanyilah." Pinta Chen, membuat Xiumin sedikit mengernyit mendengar permintaan konyol itu. "Jangan bersembunyi, Xiumin, kita sering bernyanyi dulu, ayolah. Aku rindu suaramu."

"Apa yang harus kunyanyikan?"

"Terserahmu."

Apa yang harus dia nyanyikan? Ada begitu banyak nada di kepalanya, berputar-putar, mendesak untuk dikeluarkan. Namun tak ada satupun nada yang terselip keluar dari bibirnya, gadis itu menutup matanya lagi.

Apa yang harus dia nyanyikan? Ada begitu banyak kata yang ingin dia utarakan pada kekasihnya, yang kini dia jadikan sandaran bahkan ketika mereka berada di negeri orang mati. Yang diam-diam mengetahui identitasnya di dunia manusia dan melindunginya sebagai seekor Lycan.

Apa yang harus dia nyanyikan? Ada begitu banyak hal yang ingin dia ceritakan padanya. Ada begitu banyak rasa sakit yang dia pendam selama ratusan tahun tanpanya, tidak mengetahui bahwa pria itu selalu ada bersamanya dimanapun dia berada.

Apa yang harus dia nyanyikan? Ada begitu banyak perasaan yang ingin dia curahkan padanya. Betapa dia sangat mencintai pria itu, betapa dia sangat menyesal telah membantu membunuh dan menggantikan tunangannya ketika mereka pertama kali bertemu. Betapa dia sangat merasa bersalah ketika Jongdae terus menyebut Minseok, Minseok, dan Minseok setiap harinya. Tak pernah Xiumin. Betapa dia ingin mengatakan bahwa dia mencintai Chen.

"Bawa aku kemanapun kau hendak terbang pergi. Bawa aku walaupun itu hingga ujung dunia. Jangan pernah pergi dari hadapanku, jangan pernah menghilang dan menjauh. Oh, mimpi indah ini, kaulah kupu-kupu dalam hidupku."

.

Luhan menatap pantai tempat dia berada bersama kakak dan teman-temannya sekarang. Entah kenapa, sementara mereka bertiga bermain air, dia sangat tak bersemangat. Ada sesuatu yang membuatnya ketakutan akan tempat ini, sesuatu yang misterius.

Dia menjerit ketika Sehun mencipratkan sedikit air laut ke arahnya. "Sehun!" Teriaknya keras, membuat yang lebih tua tertawa dan berlari pergi, diikitu gadis itu yang mengejarnya.

Awalnya pasti sangat menyenangkan, berlarian di atas pasir sambil sesekali mencipratkan air asin ke wajah kelewat putih kakaknya. Dan Sehun berhasil menghapus pemikiran negatif dari dirinya.

Namun itu tak berlangsung lama, karena tepat ketika Luhan terduduk karena lelah, cahaya meredup lagi, meninggalkannya di area bayang-bayang. Gadis itu menahan nafasnya ketakutan. Bagaimana bisa dia kembali lagi? Dia tak pernah seperti ini sebelumnya, ini sudah dua kali, bagaimana ini?

Jeritan pilu terdengar dari pantai, dan gadis itu menyadari, dia benar-benar berada dalam bahaya, matanya bergetar saking takutnya, menatap laut yang hening dan biru. Tak ada yang berani memasuki zona selatan selain rakyatnya. Bahkan para Lycan beringsut mundur ketika mencapai perbatasan.

Luhan sudah mendengar tentang laut ini. tentang bagaimana ratunya yang amat berkuasa berada di dasar laut, mencegah siapapun menginvasi lautan orang mati. Luhan sudah mendengar bahwa rakyatnya adalah para monster laut yang kejam dan para bajak laut yang mati dalam peperangan, bangkit dalam tulang-belulang.

Dia benar-benar bisa mati disini.

Sesosok wanita dengan rambut keemasan sebahu muncul dari permukaan laut, membuat Luhan semakin ketakutan, dan ketika dia mengulurkan tangan, gadis itu justru lari ketakutan. Dia tak tahu kemana arah tujuannya, astaga, dia bahkan tak tahu rute-rute yang ada disini. Yang dia pikirkan adalah jauh-jauh dari pantai itu.

Dia berlari semakin dalam di hutan belantara, sulur-sulur bebungaan liar bersinar menerangi jalannya, peri-peri berjengit dan membiarkannya lewat. Ini perbatasan. Ini daerah netral. Gadis itu berbalik tepat ketika dia sudah mencapai sebuah jurang, ini pasti arah yang salah. Dia yakin sekali.

Gemerisik terdengar dari belakang, membuat jantungnya berdegup kencang dan tangannya gemetaran. Jika ini adalah sesuatu yang jahat, dia takkan punya apapun untuk melawan, dia akan segera jatuh ke dalam jurang di tempat ini.

Tidak! dia tak bisa terjun. Dia tak ingin mati. Dia masih harus menyelamatkan Hani dan menukar jiwanya untuk Sehun. Masih banyak yang harus dia kerjakan. Dia tak bisa mati sekarang. Tolong, jangan.

"Luhan." Panggil suara itu, dan sebelum dia melihat siapa sosok tinggi bertelinga lebar itu, dia telah terjatuh, jeritannya menggema di daerah itu.

Dia benar-benar bodoh.

Kenapa dia sangat sok cekatan, dia berniat hendak berputarbalik dan menyambut siapapun itu, tapi dia justru terjatuh dengan konyol, dan kini, sepertinya dia akan segera bertemu dengan Sena, itupun, jika dia bisa memasuki negeri apapun itu, yang dia benar-benar tak yakin.

Dia seharusnya bangga mengatakan dia sangat pasrah akan takdir, berdiam, tersenyum sementara dia terbawa turun ke bawah. Tapi tidak, jeritannya justru semakin menjadi bahkan sebelum dirinya menyentuh dinginnya air selatan. Ini benar-benar konyol.

Dan ketika dirinya tercebur, membentuk gelembung-gelembung udara di sekitarnya, barulah dia bisa tersenyum, setidaknya dia tak hancur lebur. Andai saja dia bertindak lebih cepat, dia mungkin tak harus merasa tak tenang karena tak menepati janjinya sendiri.

Baru kali ini, Luhan merasa dirinya berdamai dengan kematian.

Tapi tidak, seseorang yang terjun, memantulkan suara berdebum lainnya, segera berenang dan meraih tangannya. Memberikan dirinya oksigen sebanyak yang dia butuhkan di atas pasir. Dan sebelum Luhan dapat melihat siapapun itu, cahaya berdenyar kembali.

Dia kembali ke dunia manusia.

Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia tak bisa mencerna apapun saat ini? Kenapa dia merasa bodoh dan lamban hanya untuk mengetahui situasinya? Kenapa dia merasa bahwa ini benar-benar terjadi, bukan mimpi ataupun halusinasi?

Dia benar-benar memasuki negeri orang mati dalam keadaan sadar, dengan mata terbuka dan tubuh bergerak. Entah apa yang dia lakukan agar bisa melakukan hal itu, yang dia ketahui adalah dia hanya terjatuh di atas pasir, hal berikutnya adalah cahaya yang meredup dan keadaan menggelap.

Dia benar-benar tak mengerti apa yang harus dia lakukan.

Luhan merasa sangat kalut dan kebingungan.

Tapi entah kenapa, walaupun tadinya otaknya memintanya untuk lari, tanpa sadar dia mengabaikan hatinya yang mengatakan bahwa laut itu tak berbahaya, bahwa dia mencoba untuk membantu. Tapi apa gunanya, dia telah terjatuh dari atas jurang menuju laut yang sama, dia tetap berada di laut, kan?

Katakan lagi kenapa dia seperti ini?

Dan juga, siapa tadi yang memanggilnya di jurang itu?

Dia harus mencari tahu siapa dia, mungkin saja siapapun itu mengerti alasan kenapa dia berada disana, atau bagaimana dia kembali ke sana tanpa tertidur seperti makhluk yang menyamar lainnya. Mungkin saja orang itu bsa membantunya, Luhan hanya bisa beharap.

Dia benar-benar harus tahu kenapa dan apa yang tengah terjadi.

Ini benar-benar aneh dan Luhan tak bisa menahan untuk tidak bersikap penasaran. Dia benar-benar harus tahu alasannya, dan tak ada yang bisa menghentikannya untuk itu.

Dan ada satu hal aneh lainnya selain dirinya yang bisa berpindah dimensi ketika terjaga.

Setiap kali dia datang kembali, dia akan berada di kondisi yang sama, detakan jantung cepat, perasaan ketakutan yang sama, namun nafas tersengal karena menahan lama di air tak dapat dipungkiri. Tak peduli akan pakaiannya yang kering. Hal itu tak penting sebenarnya.

Seharusnya tak ada yang aneh akan hal itu, tapi yang tak dia sadari saat itu adalah bagaimana pantai itu sangat mirip dengan teritori ratu selatan, dan bagaimana Kim Jongin menatapnya dengan nafas tersengal, seolah baru beberapa menit keluar dari dalam air.

Kenapa dia tak menyadari hal itu sebelumnya? Kenapa dia terlalu fokus pda bernafas dan mencari-cari jawaban kenapa dia kembali terus menerus daripada bertemu mata dengan teman kakaknya yang sedari tadi mengkhawatirkannya itu? Kenapa dia tak pernah bisa menyadari keadaan di setiap saat?

Kenapa, lagi-lagi, dia merasa bodoh?

Dia benar-benar harus meningkatkan fungsi otaknya, dia bisa gila jika seperti ini terus menerus. Dia harus mencari tahu sesuatu. Tapi dia benar-benar tak tahu dimana dia harus mulai. Luhan hanya bisa menurut pada Jongin yang membawanya pergi dari tengah pantai, menuju tempat duduk tak jauh dari situ.

Luhan juga tak menyadari Park Chanyeol yang diam-diam berdiri di jurang tak jauh dari tempat mereka berada. Matanya dengan tajam memeriksa lautan, bertatapan dengan wanita berambut keemasan sebahu dari balik karang.

Who is Park Chanyeol?

Who is Kim Jongin?

Hehehehe.

Jadi gimana? Aku harap ini cukup untuk update siang ini, aku masih di sekolah pas pelajaran kosong dan merasa bahwa aku harus segera menyelesaikan chapter ini. Jadi aku disini- Hey! Temanku pasang MV Kokobop di proyektor, LOL.

Anyway, apapun kritik dan saran kalian bisa mengatakannya di review.

Gomawoyo.

Yoon Soo Ji, out!