Ini berubah tempat terus, dipisah oleh '.' Ke bawah.

NOTE: Saya bersama salah satu author di FFN ini, Renka Sukina, bekerja sama dalam menentukan ide-ide untuk fiction kami. Jadinya, mohon dimaklumi kalau ada persamaan.

.

.


Perlahan, personifikasi zamrud khatulistiwa itu bangkit dari tempat tidurnya, sebuah senyuman terukir di wajahnya saat ia melihat kalendar dengan tanggal yang dibulati oleh spidol berwarna merah.

"Ah, tanggal itu lagi…" gumam gadis itu sambil menyematkan sekuntum bunga melati di rambutnya.

'17 Agustus.'


.

.

.

Axis – Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

SPECIAL CHAPTER : 17 Agustus

"OSL" Bahasa lain

.

.

.


Senin, 17 Agustus
Mansion Personifikasi Indonesia, 05.00 AM

Suara panci dipukulkan ke panci lain membangunkan seisi rumah, diikuti oleh beberapa suara deritan pintu dibuka.

Seorang gadis berkulit sawo matang, dengan rambut hitam lurus yang diikat ke ponytail dengan sebuah pita merah putih, tampaklah semangat di wajah gadis yang sedang berdiri di atas tangga tertinggi rumahnya itu.

Sebuah senyuman terukir di wajah ayunya itu, mengabaikan protes dari negara-negara Asia dan Europe itu. Suara beberapa orang berargumen di dalam dapur mansion tersebut tidak bisa diabaikan, diikuti oleh bau rempah-rempah yang enak.

"Bangun semuanya! Hari ini ialah hari yang penting!" Terdengar protes lagi datang dari sebuah kamar, terlihat dua Italian ditarik keluar oleh seseorang yang mirip gadis tadi, hanya saja berambut pendek dan merupakan seorang laki-laki. Negara yang mengetahui hari apa ini – Yaitu England dan Japan – hanya bisa terdiam, mata mereka melirik calendar yang dipasang di dinding terdekat.

"17 Agustus…"

"Benar sekali! 70 tahun yang lalu, merupakan hari kemerdekaan aku. Y-Yah, walaupun belum official sich…" Gadis itu – Nusantara Ariyanti – menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya, sebuah senyuman canggung di wajahnya, dan hanya beberapa gumaman yang didapati oleh Nusa.

Seorang pemuda keluar dari dapur, memiliki penampilan mirip pemuda sebelumnya – yaitu Raden – tetapi hanya saja ada sedikit memakai sebuah pakaian formal, a.k.a batik, dan di tangannya ialah sebuah spatula yang ada minyak bertetesan. "Makanan telah siap!"

Personifikasi-personifikasi negara itu memasuki dapur, yang atmosfernya dipenuhi oleh bau rempah-rempah yang pernah diincar oleh beberapa personifikasi di sini. Berbagai pasang warna mata menatap ke makanan yang telah disajikan di atas meja makan, yang memiliki khas dari daerah mereka masing-masing.

Terdapat pempek atau empek-empek, nasi goreng, kerak telor, soto Banjar, karuang, sate, bakso, dan berbagai macam lainnya. Tentu saja, tanpa berpikir dua kali, personifikasi-personifikasi negara itu langsung menerjang makanan di atas meja tersebut.


"Arthur, Kiku, nanti kami, aku, Raden, dan para state-tan lainnya tidak akan datang untuk upacara."

"Baiklah, habiskanlah waktumu untuk mengenang jasa pahlawan kamu…"

.

.

.

"Spice Island."

.

.

.

.


Senin, 17 Agustus
SMP Negara Anggrek Bulan 1, 07.00

Terlihatlah murid-murid dari kelas 7 sampai kelas 9 berbaris dengan rapinya, memakai pakaian rapi lengkap sekolah mereka, berwarna putih biru. Di depan lapangan, berdiri murid-murid yang telah berlatih untuk hari special Indonesia ini.

Guru-guru pindahan dari berbagai negara itu berdiri juga di depan lapangan, memakai seragam untuk guru yang telah disediakan oleh sekolah. Pasukan paskibra telah berbaris rapi dengan pakaian serba putih, bersarung tangan khusus juga. Murid yang membawa bendera merah putih itu membusungkan dadanya, surai hitamnya itu hampir mencapai bahunya.

Dengan itulah, upacara ini dimulai tanpa suara untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur.

.

Istana Negara, 07.00

Seorang gadis berkulit sawo matang beserta surai hitam yang telah ia sangguli dihiasi dengan melati putih memasuki istana tersebut, iris coklat tuanya menatapi orang-orang yang mondar-mandir. "Ah, bos." Dia mendekati orang yang tengah dicarinya, di belakangnya seorang pemuda yang mirip dia mengikutinya.

"Nesia, senang kamu ada di sini." Bos personifikasi Indonesia itu tersenyum ramah kepada kedua orang itu, yang telah memakai pakaian rapi untuk upacara khusus ini. Kedua personifikasi itu membalas senyuman sang presiden Indonesia itu, mempersilahkan dia untuk berjalan keluar berdahulu.

Pada saat tiba di luar, Nusa mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat ke langit biru, dengan burung-burung bertebangan ke mana-mana. Senyuman kecil terukir di wajah ayunya seraya dia mengikuti saudara dan bosnya.

Raden melirik ke belakang, sebuah senyuman juga terukir di wajahnya. Inilah waktu-waktu di mana ia bisa bahagia, walaupun masih ada masalah yang akan dihadapi olehnya di hari yang penting ini. Nusa menatap kakaknya seraya membenarkan selendangnya, tapak kakinya mengikuti milik dua orang lainnya.

Dengan itu, hari itu dimulai dengan seekor elang yang sangat besar terbang meninggali sarangnya.

.

Citra mengeluarkan helaan napas pelan, ditatapnya guru-gurunya yang tampak sangat bersemangat untuk memperingati HUT RI yang ke-70 ini. Mengapa? Karena personifikasi itu tampaknya tertarik dengan lomba-lombanya.

"Baiklah, ladies and gentleman! Bagi yang ingin mendaftar untuk lomba pertama, silahkan ke kaunter di sebelah saya ini!" Alfred menunjukkan kepada semua murid beberapa meja yang telah dibaris beserta beberapa nations lainnya, yaitu Arthur yang hanya bisa facepalm, Kiku yang tampaknya agak gugup karena murid-murid yang mengerebunginya bagaikan invading personal space-nya, beserta Antonio yang sedang tersenyum dengan riangnya.

Segera saja, kebanyakan murid yaitu cowok mengerebungi 'kaunter' tersebut, yang juga terdiri dari teman-teman gadis berkebangsaan Indonesia tadi. "Mereka sepertinya senang ya…" gumam seseorang dari sebelah Citra, yang hanya mengangguk terhadap Meina. Meina menatap teman-temannya yang lain, menyadari dua gadis dan empat laki-laki mendekati mereka.

"Sudah daftar belum~?" Tanya Rifa sampai menduduki tempat di sebelah Meina, sebuah pisau berada di tangannya yang tentu saja mendapat tatapan dari temannya yang lain.

"Psst, lain kali kita bawa Rifa ke psikologis yuk…" bisik Citra ke Meina dan Cahaya, mendapat jitakan dari Rifa setelah itu. Giro hanya bisa menggelengkan kepalanya terhadap tindak kekanak-kanakan dari temannya itu, sementara Putra tampat asyik memainkan gadget di tangannya.

Yang entah muncul dari mana.

Prawira mengambil tempat duduk dari bangku lain, tatapannya menuju ke pohon mangga yang menutupi taman yang tengah ditempatinya dan temannya yang lain. Bunga-bunga telah bermekaran, yang terdiri dari melati, mawar, anggrek, dan sebagainya. "Apakah ada dari kalian yang sadar bahwa Bu Nusa dan Pak Raden tidak ada?"

Keheningan segera saja memenuhi atmosfer seraya Prawira merasakan beberapa tatapan yang ditujukan kepadanya. "A-Ah, tidak apa-apa deh!"

Jujur saja, itu cukup canggung untuknya.


.

.

.

70 tahun telah berlalu sejak proklamasi itu.

Nusa berjalan memasuki makam tersebut, senyuman sedih terukir di wajahnya sementara sekeranjang bunga berada di genggamannya. Raden hanya bisa mengikuti adiknya, iris coklat tuanya menginspeksi keadaan makam-makam pahlawan tersebut.

Kita telah merdeka.

Raden teringat kembali dengan kejadian masa lalu, saat-saat yang sangat berharga baginya. Terlepas dari belunggu kejahatan, dari berabad-abad dijajah oleh bangsa Eropa dan Asia, dia sangat senang hanya karena melihat senyuman di wajah warganya, senyuman yang selalu ia impikan untuk melihatnya.

Tidak hanya dari beberapa bangsanya, tetapi semua bangsa Indonesia.

Tetapi, apakah arti dari merdeka yang sebenarnya?

Mereka berdua selalu mendambakan kemerdekaan, kemerdekaan yang asli, di mana mereka tidak akan merasakan sakit yang berasal dari warganya sendiri.

Sampai sekarang, mereka belum mendapatinya.

Kami hanya bisa menunggu.

"Indo, Nesia." Terdengar tapak kaki mendekati mereka saat mereka berdua keluar dari makam tersebut, perhatian mereka teralihkan ke arah seorang Warga Negara Asing yang sedang berjalan menuju mereka.

Senyuman kecil perlahan muncul di wajah Nusa seraya dia melambai kepada orang tersebut. Gupta Muhammad Hassan berhenti tepat di depan mereka berdua, senyuman super kecil ditunjukkannya kepada mereka.

Raden mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pemuda berkebangsaan Mesir itu, yang dibalas dengannya. "Lama sudah tidak bertemu ya." Bagi yang jarang melihat Gupta berbicara, atau tidak pernah sama sekali, pasti akan shok berat, tetapi bagi dua personifikasi ini, skenario yang langka ini sebenarnya sering terjadi bagi mereka.

"Bagaimana negaramu?" Tanya Nusa sambil berjalan menuju mobil sedan hitam miliknya, diikuti oleh Raden dan Gupta di belakangnya. "Konflik negara perlahan bisa ditangani, tapi setidaknya aku bisa datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dua temanku, ya 'kan?" Mendapati Gupta mengatakan kalimat yang panjang juga cukup langka, tetapi Nusa hanya tertawa pelan akan hal ini. "Yah, begitulah… kamu ke sini pakai apa?"

Krik… Krik… Krik…

"Aku pakai kendaraan nama Honda itu."

Krik… Krik… Krik…

"Maksud kamu, kamu ikut Kiku?"

Krik… Krik… Krik…

"Ya."

Dua personifikasi negara zamrud khatulistiwa itu hanya bisa mengangguk pelan terhadap temannya, sebelum menawarkan sebuah tumpangan untuk ke rumah mereka sementara.

.

.

Permainan tarik-tambang dimulai sementara beberapa murid tetap di aula untuk menonton tarian murid lainnya. Terlihat semangat di wajah murid-murid kelas VII-B dan VII-C tersebut, di barisan paling depan murid B ialah Prawira dan di belakangnya Putra, sementara di barisan paling depan dari kelas C merupakan Giro dan di belakangnya Rangga.

"Game on!"

.

Ketika sampai di mansion milik dua personifikasi tersebut yang sangat sepi, Nusa menyuguhkan teh kepada Gupta, sementara Raden mengajak bicara personifikasi dari negara yang pertama kali menerima kedaulatan negara Indonesia.

"Oh iya, ini, aku berpapasan dengan Angga tadi," Gupta menyodorkan sesuatu berbentuk kotak yang ditutupi oleh kertas kado berwarna merah putih, yang membuat Raden menatap ke arah kotak tersebut untuk sementara sebelum menerimanya, "Katanya, berikan ini ke kalian berdua."

Raden mengangguk pelan kepada temannya tersebut, mengucapkan terima kasih sebelum personifikasi Mesir itu berpamitan dan pergi dari rumah tersebut, berencana untuk kembali ke negaranya ketika mobil jemputannya datang.

Nusa datang mendekati kembarannya tersebut, menduduki sofa yang berada di seberang Raden. Alis matanya terangkat ketika melihat kotak berbungkus tersebut. "Apa itu, Den?"

"Sebuah album punya kita di masa dulu…" Gumam Raden setelah merobek bungkusan tersebut, menunjukkan sebuah album dengan cover berwarna biru yang kelihatan seperti sangat tua. "Pasti ketemu di gudang, ya?"

Sebelum Raden bisa menjawab, dia mendengar ketokan dari pintu mahagoni dengan ukiran yang unik tersebut. Perhatian mereka berdua teralihkan ke arah suara berasal, sebelum akhirnya Raden beranjak dari tempat duduknya ke pintu tersebut dan membukanya.

"Lama tidak bertemu, Nusa, Tara."

"Dunia ini merupakan tempat yang jahat, kamu tahu?"

"Ya, bahkan untuk personifikasi seperti kita."

.

.

.

"Saudara-saudara sekalian! Saya telah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita!"

.

.

Murid-murid itu tertawa bersama, menikmati hari kemerdekaan yang hanya terjadi sekali setahun ini. Beberapa dari mereka hanya menikmati ini karena lomba-lombanya, dan hanya sedikit dari mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi 70 tahun lalu.

.

.

"Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad, dengarkanlah proklamasi kami…"

.

.

Satu per satu tarian disembahkan di panggung tersebut, dengan gerakan yang lemah gemulai. Acara tersebut disambut dengan meriah, bendera merah putih dikibarkan di tiang bendera sekolah tersebut, sementara replikanya yang berbentuk kecil terlihat menghiasi sekolah negeri tersebut.

Tidak takut untuk ditembak oleh para penjajah lagi.

.

.

Pemuda itu menaiki bendera berwarna merah putih tersebut, tampak bagaikan tidak takut akan ancaman yang akan dihadapinya nanti. Beberapa dari pasukan Belanda terlihat di sekitar pria tersebut, sementara istrinya hanya bisa menonton kejadian tersebut dengan wajah takutan dari teras rumahnya.

"Tenang, semuanya akan baik-baik saja…"

DOR!

.

.

Idham sibuk bermain laptopnya, sementara Rangga juga tampak sibuk bermain dengan gadget-nya, sementara lomba-lomba untuk memperingati HUT RI terus berlangsung. Hebun beserta Jugoku agak kewalahan menghadapi adik-adik kelas mereka, menjadi anggota OSIS sebenarnya cukup susah juga.

Tetapi, tidak sesusah menghadapi para penjajah.


.

Apakah kalian pernah berpikir bagaimana perang itu?

Banyak rakyat tidak bersalah menderita dan meninggal akibat siksaan dari penjajah-penjajah. Tanam paksa, rodi, romusha, dan sebagainya rakyat Indonesia dapati. Ada yang sakit, kelaparan, dan sebagainya.

Pahlawan tanpa nama pun berguguran di medan perang hanya untuk membela negara ini, walaupun mereka harus meninggalkan keluarga mereka.

Cinta rakyat Indonesia kepada negaranya dulu sangatlah kuat, tetapi, bagaimana sekarang?

Banyak rakyat yang berfoya-foya akan harta kekayaannya, banyak murid sekolah yang malas datang upacara pada tanggal 17 Agustus, banyak rakyat yang mulai korupsi dan mengonsumsi obat-obat terlarang.

Mereka sia-siakan hasil dari perjuangan pahlawan-pahlawan mereka.

Apakah mereka masih mengenang orang-orang yang berjasa tersebut, walaupun diketahui namanya atau tidak?

Ada rakyat Indonesia yang malu akan negaranya sendiri karena korupsinya, narkobanya, kemiskinannya, dan berbagai macam lagi. Tetapi, apakah yang sebenarnya memulai itu semua? Rakyat Indonesia sendiri.

Jikalau dilihat lebih lanjut, Indonesia ini menyimpan banyak harta kekayaan. Papua yang kelihatan tertinggal dan terpencil, sebenarnya menyimpan banyak emas yang di dalam buminya, tetapi diberikan kepada negara lain. Tanah yang subur malah tidak dimanfaatkan dan dibangun bangunan tinggi di sana.

.

.

.

Apakah sebenarnya arti merdeka?

.

.


Raden menatap pemuda berkebangsaan Belanda di hadapannya tersebut dengan tatapan nanar, kelihatan sekali bahwa ia tidak terlalu senang melihat mantan motherland-nya yang merupakan penjajah yang menjajah Indonesia paling lama.

"Apa maumu?"

Nada suara Raden sangatlah dingin, ingin sekali dia untuk menampar laki-laki di depannya ini.

Menyadari keanehan ini, Nusa bangkit dari sofa yang ditempatinya dan mendekati kakaknya yang tengah menghalangi 'pemangangan' di luar rumah. "Apa pula ini, Raden?" Tanya Nusa setelah berhenti di dekat Raden. "Selamat pagi, Nesia."

Ah, orang itu toh.

"Selamat pagi untuk kamu juga, Neth." Ucap Nusa tanpa peduli untuk mengatakannya dalam bahasa yang tengah dibicarakan oleh 'Neth'. "Jadi, apa maumu, kepala tulip?"

Yah, bisa dikatakan Raden ada trust issue sedikit dengan orang 'Neth' ini.

"Emangnya aku tidak menyadari bahwa hari ini ialah 17 Agustus?" Tanya 'Neth', atau sering disebut dengan Tim. Raden dan Nusa melirik ke satu sama lain, tidak ada dari mereka yang ingin berkata-kata. "Terserah kalian lah, aku datang ke sini hanya untuk mengatakan maaf akan kejadian bertahun-tahun lalu." Ujar Tim sambil menyodorkan buket berisi bunga anggrek bulan dan melati.

Melainkan Nusa yang mengambilnya, Raden lah yang mengambilnya sambil memberikan tatapan tajam ke Tim. Nusa hanya bisa menggeleng kepalanya pelan dengan sebuah senyuman seraya ia menyenggol Raden dengan sikunya.

"Tidak ingin tinggal untuk sementara? Personifikasi yang lain ada loh." Walaupun Nusa tidak terlalu menyukai mantan penjajahnya ini, ia tentu saja masih mengingat tata kramanya terhadap tamunya. Tim menggeleng kepalanya untuk jawaban, membuka mulutnya untuk menjawab dan memberikan alasan. "Tidak usah. Raden nanti bisa risih dengan keberadaanku dan lagipula, Laura beserta Lux terkadang membutuhkanku."

Nusa mengangguk kepada Tim, menandakan dia paham akan maksud dari personifikasi Nederland itu. "Baiklah, hati-hati di jalan."

Pintu mahagoni tersebut ditutup oleh Raden seraya mereka berdua kembali ke tempat duduknya, jari-jemari lentik milik Nusa mengangkat album yang didapati dari Gupta tadi. "Mari kita lihat albumnya, yuk."

Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu ku coba 'ntuk menghangatkanmu

Dua pasang iris itu menatap ke arah pemuda yang lebih tinggi dari mereka yang sedang memegang sehelai daun pisang yang besar, tangan mungil mereka memegang erat celana figur ayah mereka.

"S-Sriwijaya..?"

"Asalkan kalian berdua tidak basah, aku tidak apa-apa! Ayo kita kembali ke istana, daripada di hutan terus."

Nusa membuka-buka kembali album tersebut, yang tidak semuanya dipenuhi oleh foto tetapi juga hasil karya sastra. Foto-foto dan kertas-kertas tersebut telah berubah warna, menandakan bahwa umur mereka telah tua.

"Ah, itu…" Raden mengeluarkan sebuah tawaan kecil saat melihat hasil sastra milik salah satu warganya dulu, yaitu ialah Sriwijaya yang basah kuyup sementara dua anak di sebelahnya hanya bisa tersenyum.

Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi slalu ku coba 'ntuk melindungimu

"Majapahit! Mau ke mana kamu?"

Dua anak kecil mendekati pemuda yang tengah memegang keris tersebut, iris coklat milik pemuda tersebut menatap kedua anak tadi, senyuman perlahan muncul di wajahnya. Pasukan perang yang tengah mengelilinginya beserta Gajah Mada menatap dia untuk sementara, berpikir apa yang akan dikatakannya kepada dua anak itu.

"Aku hanya akan pergi sebentar untuk beberapa hari, nanti aku akan kembali."

Alfred tersenyum dengan lebar saat menonton muridnya bermain sepakbola dengan ganasnya, tidak menunjukkan belas kasih sedikit pun. Teman sekelas murid-murid itu bersorak-sorai untuk kelas mereka, memanaskan keadaan.

Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi slalu ku coba 'ntuk mengharumkanmu

Wanita itu menyematkan sekuntum bunga anggrek bulan di rambut dua anak berbeda jenis kelamin itu, sebuah tawaan pelan keluar dari mulutnya seraya dia mengacak-acak rambut Raden kecil. "Kutai!" Anak laki-laki itu memprotes, mencoba untuk memindahkan tangan 'Kutai'.

"Kalian akan harum dengan begitu, atau harus aku hiasi dengan bunga-bunga lain?"

"Oke!" "KUTAI!"

Nusa mengeluarkan sebuah tawaan ketika melihat sebuah karya sastra lagi, sementara Raden hanya bisa melihat ke arah lain dengan tatapan 'serius?'.

Seorang wanita di sana membuat mahkota bunga beserta anak perempuan yang lain, sementara seorang anak laki-laki seperti ngambek ketika anak perempuan yang mirip dengannya menaruh mahkota itu di atas surai hitamnya, kelihatan beberapa orang berpakaian khas suku Dayak mengelilingi mereka dengan senyuman kecil.

Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu ku coba 'ntuk mengindahkanmu

"Ayolah Nusa! Tara saja ingin memakai pakaian seperti ini, kenapa kamu tidak?"

"Kediri, tidak usah memaksa dia…"

Nusa tampak sedang melarikan diri dari seorang pemuda yang memakai pakaian formal khas bangsawan zaman dulu, sementara Tara a.k.a Raden hanya bisa cengar-cengir ketika dipakaian pakaian tersebut oleh Mataram.

"Kalau tidak akan dilaporkan kepada Raja Jayabaya loh!"

"Dua Nusantara ini bisa beda ya…"

"Nah, sekarang siapa yang tertawa~?" Raden menggoda adiknya yang hanya bisa memutar bola matanya ketika melihat karya sastra tersebut. "Diam saja sudah!"

Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa

Pangeran tersebut maju ke medan perang, sebuah keris di tangannya sementara semangat membara terpancar di matanya. Pasukannya telah bersedia di belakangnya untuk membantunya membantu bangsa Belanda, bersedia untuk mempertahankan Nusantara ini.

Merdeka atau mati. Itulah pilihannya.

Dua pasang iris berwarna sama milik personifikasi Indonesia itu terkunci ke karya sastra itu lagi, yang menunjukkan Pangeran Diponegoro beserta Nusa dan Tara yang berdiri di sebelahnya, menggenggam tangan milik pangeran tersebut.

Sebelum beliau pergi ke medan perang.

Kupertahankan kau demi tumpah darah

Darah menutupi bumi Ibu Pertiwi, pahlawan tanpa nama telah berguguran hanya demi untuk mendapatkan kemerdekaan, sementara seorang pemuda berkebangsaan Belanda berdiri di antara mayat-mayat yang bergelimpangan tersebut, sebuah pistol di genggamannya.

"Kamu pergi bersamaku, Indie."

"Woi, git." Arthur berdiri di depan mantan jajahannya, tatapan dari manik hijaunya menusuk Alfred tetapi tidak digubrisnya. "Ya, Artie~?" Tanya Alfred sambil mengalihkan perhatiannya dari murid-muridnya, senyumannya masih berada di mukanya.

Arthur hanya menunjuk kepada para state-tan yang mengintai 12 murid yang sibuk mengobrol di taman, ada yang sibuk dengan gadget mereka atau apapun yang ada di depan mereka. "Ada apa dengan mereka?" Tanya Alfred lagi dengan polosnya, membuat pemuda bersurai pirang di depannya mengeluarkan helaan napas panjang.

"Bodoh, tampaknya state-tan itu akan berbuat sesuatu, mana Nusa dan Raden?"

"Mana aku—"

"POCONG..!"

"… Telepon mereka cepat."

"Baiklah Iggy…"

Semua pahlawan-pahlawanku..!

Terlihatlah Nusa berdiri di ambang pintu, menatapi penerus bangsanya yang sedang giat belajar sambil mendengarkan penjelasan Raden dengan seksama. Ujung bibirnya perlahan tertarik ke atas membuat sebuah senyuman sedih, semoga saja, mereka tidak akan jatuh ke dalam dunia yang penuh kejahatan.

… Semoga.

Jujur saja, hampir berdua belas sohib itu kena serangan jantung saat melihat penampakan itu tadi, sampai mereka mendengarkan bisikan dari balik semak-semak yang mengitari taman itu. "Itu bukannya suara… Pak Angga?" Luthfi mencoba menebak, yang kemudian mendengar suara tapak kaki menjauh.

"Lari..!"

Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Tiga 'anak' Nusa dan Raden yang bersarung tangan putih itu perlahan menaikkan bendera Sang Saka diikuti oleh lagu Indonesia Raya. Semua peserta upacara itu memberikan hormat kepada bendera buatan Fatmawati.

Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Lagu Indonesia Raya diteruskan sampai bendera merah putih tersebut sampai ke ujung tiang, angin membuat bendera tersebut berkibar dan menunjukkan warna yang dibanggakan oleh bangsa Indonesia itu.

Sebuah sedan hitam berhenti di parkiran sekolah tersebut, diikuti oleh dua personifikasi yang tengah dicari oleh Arthur dan Alfred tadi keluar dari mobil tersebut. Manik milik Nusa memandangi warna-warna merah putih yang mengelilingi sekolah tersebut, senyuman kecil perlahan muncul di wajahnya.

"Nusa, adik-adik kamu itu lagi… main-main." Ucap Arthur yang baru saja keluar dari aula sekolah tersebut, menarik perhatian Nusa dan Raden. "Ah, itu biar aku saja yang tangani." Raden menjawab dengan senyuman manis seraya dia berjalan menjauh dari mereka berdua, entah menuju ke mana.

Merah putih teruslah kau berkibar
Ku akan slalu menjagamu

Pandangan Raden berhenti ke ujung tiang berdera, menatap bendera merah putih yang tengah berkibar sambil ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Walaupun itu bukanlah bendera pusaka, Raden memberikan sebuah hormat kepada bendera merah putih tersebut.

"Bapak! Ada setan di sekolah ini!"

"Cit, kita pakai cara lama aja! Ritual~!"

"Gila, kita nanti masuk neraka."

"Emang gue peduli?"

Raden hanya bisa mengeluarkan sebuah tawaan kecil terhadap murid-murid yang mengerebunginya, betapa senangnya ia melihat wajah mereka.

'Dirgahayu Tanah Airku…'

.

.

.

.

'INDONESIA.'


.

.

.

End of Chapter #1

.

.

.


Citra Indah Kusuma, Batari Cahaya Wijayakusuma, dan Buana Putra Adhiarja © Yuki Hiiro

Prawiranegara Indonesia © Luciano Fyro

Rifa Husin © Rifka

Hebun dan Jugoku Hikari © Hanny

Giro Catlite, Idman Rahman, dan Muhammad Luthfi © girl-chan2

Meina Bunardiman © Renka Sukina

Rangga Afsyahni Rohsyad © Emilia Kartika


Akhir kata…

Review Please?