Fight for love chapter 8
back to home

''Tuan besar'' Sambut Maito Gai kepada Kazuya yang baru tiba di kediamannya

''Ah… aku belum jadi tuan besar'' sahut Kazuya malas

''Tapi tuan kan sudah menikah''

''Ah itu, panggil aku seperti biasanya saja'' Sahut Kazuya datar

''Baiklah tuan muda''

Kazuya lalu melangkah kekamarnya untuk istirahat.

''Tuan muda sudah datang?'' tanya Noi

''Sudah nyonya besar'' sahut Maito Gai sopan

''Biarkan dulu dia istirahat''

''Baik nyonya''

.

.

Flash

.

.

.

.

''Shikamaru!''
''Cepat kau rapikan kamarmu, Istrimu sejam lagi akan tiba'' printah Ibunya crewet

''Baik baik Bu'' sahut Shikamaru malas
''Jangan malas cepat bekerja'' teriak Ibunya

''Kita kan punya pembantu Bu'' keluh Shikamaru
''Pembantu kita sedamg masak hidangan malam jadi tak bisa membantu untuk membereskan kamarmu''

''Tapi bu…''

''Tak ada tapi-tapian cepat bereskan'' printah Ibunya dengan keras

''Baiklah Bu'' sahut Shikamaru datar.

.

.

Flash
.
.
.
.
.
.

Tok tok

''Ya…. tunggu sebentar'' Kushina mendekati ke arah pintu dan membukanya.

Kushina yang memperhatikan menantunya lekan -ekan itu membuat muka Sakura memerah. ia tak mampu untuk menatap Ibu barunya itu.

''Kau cantik Sakura'' Suara Kushina pelan dan sukses membuat Sakura tersipu malu.

''Putriku cantik kan'' tanya Jiraya tiba-tiba

Kushina mengangguk dan langsung memeluk Sakura
Sakura tiba-tiba melongo saat melihat Naruto versi dewasa muncul "wah Ayahnya sangat keren''

Minato mempersilahkan Jiraya masuk ''Jiraya-san ayo cepat masuk''

''Naruto! cepat turun. Bantu istrimu membereskan barang barangnya'' panggil Kushina "ayo duduk jiraya-san''

Ketiga orang dewasa itu beranjak sambil tertawa santai menuju sofa sementara Naruto malah saling pandang dengan Sakura dengan mata tajam

''Hey hubungan kalian harmonis kan?'' tanya Kushina penuh curiga dengan mata melotot. tingkah Ibunya yang amat menyeramkan , membuat Naruto merinding

Chup
Naruto mencium kening Sakura dan langsung memeluknya dengan mesra ''Hubungan kami baik baik saja Bu'' Sakura yang membeku sesaat, karena tingkah suaminya yang mendadak bahkan di depan para orang tua "gila'' pikir Sakura

''oh iya Bu, kami harmonis'' jawab Sakura terpaksa
''Awas kau Naruto'' bisik Sakura
Merasakan hawa iblis yang di pancarkan istrinya dengan sigap Naruto langsung mencium bibur Sakura dengan lembut. Setidaknya itu membuat para orang tua tersenyum lega.

''Sialan bocah ini'' Gumam Sakura, mana mungkin Sakura mendorong suaminya dalam situasi ada orang tua mereka.

''Yosh! Ayah, Ibu, paman. aku akan mengantar istriku ke kamar dulu, permisi''

''Ayo!'' ajak Naruto
Sakura hanya bisa mengikuti Naruto menuju kamarnya.

Dengan langkah pelan Sakura masuk ke kamar Naruto ''Luas juga kamar ini'' gumamnya. Aroma jeruk di kamar itu membuat Sakura nyaman.

''Hey cepat masukan pakaianmu ke lemari'' seru Naruto
Sakura yang agak kesal karena tingkah Naruto tadi, langsung menghampiri Naruto yang sedang berbaring di kasur kemudian Sakura menarik kasar tangannya.
''Hey bocah sialan kenapa kau main cium saja tadi?'' tanya Sakura kesal

''Ah, kau itu istriku jadi tak apa kalau aku menciummu, lagi pula aku tak ingat apa yang kau lakukan pas di hotel seluruh punggungku terasa perih'' Naruto sambil membuka bajunya dan memperlihatkan punggungnya

''Aapa yang ingin kau laku…'' ucapan Sakura terputus setelah melihat luka di punggung Naruto

''Seberapa hebat kau di ranjang hingga punggungku seperti ini'' ucapan Naruto berasil membuat wajah Sakura memerah dan tersipu malu

Naruto yang melihat Sakura yang gugup langsung melangkah mendekatinya
Tubuh Naruto yang telanjang dada itu tiba-tiba memeluk Sakura dengan hangat. "setidaknya kita impas"

.

.

Flash

.

.

.

''huh… akhirnya beres'' keluh lega Shikamaru yang akhirnya beres merapikan kamarnya

''Shikamaru!" panggil Ayahnya "istrimu sudah datang cepat hampiri

''Baiklah Ayah''

Ino yang terpesona melihat kemewahan kediaman Nara, tak henti hentinya memandangi sekeliling sampai kesudut sudut ruangan. ternyata rumah suaminya jauh lebih mewah dari rumahnya.

''Masuklah menantuku!'' seru lembut dari Yoshino

''Oh iya iya Ibu''

''Sana cari suamimu'' suruh Yoshino lagi

Dengan langkah pelan Ino mendekati suaminya dan terdiam.
''Ayo kita kekamar kau harus merapikan pakaianmu'' Shikamaru lalu mengabil dua tas yang di bawa Ino dan melangkah langsung ke kamarnya

''Dia perhatian juga'' gumam Ino di pikirannya Ino mengikuti langkah pelan suaminya hingga sampai di kamarnya

''Menantu kita cantik kan mereka sangat serasi'' ucap Yoshino pada suaminya

''walau ada kesalahan, tapi kita mendapat menantu yang cantik" ujar Shikaku

''Ini kamarku, Bukan ini sekarang menjadi kamar kita'' Ino tak menghiraukan ucapan suaminya, dia malah asik menikmati kemewahan kamar barunya.

''Ehems!'' Shikamaru memecah lamunan istrinya ''Kau pakai lemari ini''
Shikamaru membuka lemari dan memasukan satu persatu pakaian istrinya
Dia cukup perhatian terhadap istrinya. y Ino sadar akan perhatian dari suaminya itu.

Seketika muka malas Shikamaru berubah menjadi tatapan serius setelah melihat barang yang membuat dia tertarik. Lalu Shikamaru melangkah mendekati Ino. dia agak membungkuk di depan Ino, dengan perlahan telunjuk Shikamaru mengarah untuk menekan sesuatu "cukup besar juga, pantas ukuran bramu lunayan."

''Kyaaaaaa!'' Plak Ino sadar dari lamunannya dan langsung memukul suaminya hingga tersungkur di lantai ''A…a..apa yang kau lakukan''

''Kau membuat hidungku berdarah'' sahut Shikamaru kesal
Mendengar teriakan Ino, kedua orang tua Shikamaru berlari ke asal teriakan itu.

''Ada apa ini?'' tanya Yoshino
''di…dia menyentuh….!'' sahut Ino sambil menutup dadanya dengan kedua tangan.

serentak kedua orang tuanya tertawa membuat Ino merasa canggung. ''tidak ada suami yang memperkosa istrinya menantuku'' ucap Shikaku, kata kata itu membuat muka Ino memerah kemudian kedua orang tuanya meninggalkan mereka berdua.

''Ah… Keras sekali pukulanmu Ino'' Shikamaru lalu berdiri mendekati Ino
"Kali ini apa yang dia ingin lakukan" pikir Ino, tiba-tiba saja Shikamaru mencium bibir Ino sambil memeluk pinggang rampingnya. ini berasil membuat ruangan makin panas dan membuat pipi Ino merona ''I' m your husband now'' bisik Shikamaru di telinga Ino

''and I'm your wife'' Desah Ino pelan

.

.

.

.

Flash

.

.

.

.

Tok tok tok

''Tuan muda, ditunggu nyonya besar di ruang utama''

''Baiklah tunggu sebentar'' jawab Kazuya "aku akan segera turun''
Kazuya yang baru selesai mandi bergegas untuk mengenakan pakian lalu turun menghadap Ibunya

.

''Kau jemputlah Hinata, tadi keluarga Hyuga menghubungi Ibu. katanya putri mereka sudah siap''

''Baik Bu'' lalu Kazuya langsung bergegas berangkat
''Tuan muda ini kunci mobil tuan'' ucap salah satu pelayan sambil memberikan kunci mobilnya.

Kazuya langsung menuju carera 911 turbo S mobil miliknya lalu segera menuju ke kediaman Hyuga yang lumayan jauh

.

.

Flash

.

.

Bruumm
Mendengar suara mobil sport di depan kediamannya, Heashi langsung menuju pintu dan membukanya. dia tau kalau Kazuya sudah datang.

'''Paman Heashi''' Kazuya membungkuk hormat melihat mertuanya membukakan pintu
''Ayo masuk anak muda'' ajak Heashi ''duduk dulu akan ku panggilkan istrimu''

Heashi lalu pergi memanggil Hinata sementara Kazuya duduk menunggu di ruang tamu 'Istrimu sudah siap Kazuya''
tanpa pikir panjang Kazuya langsung bangun kemudian menghampiri istrinya.

Tanpa aba-aba Kazuya langsung mengecup tangan kanan Hinata dan membuat pipi Hinata merona merah. Heashi yang melihat itu hanya tersenyum tersipu

''Mari'' ajak Kazuya lembut. Kazuya mengangkat tas Hinata dan membawanya ke mobil

''Silahkan masuk tuan putri'' Kazuya membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya masuk. setelah Hinata masuk Kazuya metup pintu mobil lalu Kazuya memasukan tas yang di bawa oleh Hinata. Dan Tak lupa untuk membungkuk hormat kepada paman Heashi sebelum dia berangkat

Kazuya masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil sportnya lalu berangkat meninggalkan kediaman Hyuga

lets to road

''kenapa wajahmu?'' tanya Kazuya
''Te..te..terimakasih sudah membuatku... seperti tuan putri tuk malam ini'' sahut Hinata terbata

''kau memang tuan putri Hinata-chan'' Sahut Kazuya lalu tersenyum
Sepontan kata-kata itu membuat wajah Hinata seperti kepiting rebus.

.

.

.

''Kita sudah sampai Hinata –chan'' Kazuya tersenyum
Hinata yang hendak membuka pintu mobil mendadak di hentikan oleh Kazuya "jangan. Diamlah''

Lalu Kazuya turun dari mobil kemudian menuju bagian kanan mobil dan membuka pintunya

''Silahkan turun tuan putri'' Lagi-lagi Kazuya membuat pipi Hinata merona

''Paman Gai, tolong bawakan tas nyonya muda ke kamarku'' seru Kazuya
Baik tuan muda sahut Maito Gai dengan hormat

''Mari tuan putri ikut denganku'' Kazuya memegang lembut tangan Hinata dan mengajak dia untuk segera menuju kediamannya bertemu dengan orang tua Kazuya

''Selamat datang tuan putri'' seru serempak para pelanyan
''Silahkan tuan muda menuju ruang makan, orang tua anda telah menunggu''

Mendadak mendapat sambutan dan pernghormatan hangat dari seisi kediaman Kazuya Hinata hanya bisa terdiam dan tersipu malu, sepertinya ini sudah direncanakan secara matang oleh suaminya.

Hinata melihat sesosok seperti Raja dan Ratu di kursi utama meja makan (otak Hinata menghayal ) dan mendadak Raja dan Ratu berdiri dan menyambut Hintata dengan hangat "selamat datang di kediaman kami tuan putri'' wajah Hinata pun makin memerah

''Silahkan duduk tuan putri Hinata'' suaminya menggeser kursi dan mempersilahkannya duduk

Entah mimpi apa Hinata semalam hingga sekarang dia diperlakukan seperti tuan putri sungguhan

Setelah acara makan selesai, pastinya pengantin baru itu kelelahan setelah mengalami perjalanan jauh pulang dari California sudah saatnya untuk mereka istirahat.

''Baiklah Ibu kelihatannya tuan putri sudah lelah dan sudah waktunya untuk istirahat''

''Ya sana lebih baik kalian istirahat "seru Ayahnya yang sedari tadi selalu tersenyum melihat tingkah anaknya

''Mari tuan putri'' dengan lembut Kazuya mengajak istrinya menuju kamarnya

Hinata takjub melihat kamar suaminya, ia tak mengedipkan mata sedikitpun melihat sekelilingnya "benar-benar kamar seorang pangeran'' suara pelan Hinata terdengar di telinga Kazuya tentu saja Kepala Hinata itu masih menghayal dari tadi.

Mendengar gumam Hinata malah membuat Kazuya meringis ketawa "kamar seperti ini kau sebut kamar seorang pangeran kamar yang penuh alat-alat multimedia, di sudut kiri terdapat sound system, di sebelahnya ada mesin game playstation 3 trus di sudut kanan terdapat computer hmmmmm... Haha kau bercanda Hinata-chan''

''Tapi ini memang kamar pangeran kan?'' sahut Hinata
''Bukan.. ini kamar suamimu'' jawab Kazuya santai

''iiiiihh... kau mempermainkanku'' Hinata memukul bahu Kazuya karena sedikit kesal

''Aww.. awww.. sakit Hinata-chan'' keluh Kazuya santai

''Apanya sakit kan tidak keras aku memukulnya'' sahut Hinata tenang, kemudian keduanya saling berpelukan

''Sssstttt'' Kazuya tanpa aba-aba langsung mencium bibur Hinata dengan hangat, Hinata sempat meresponnya kemudian Hinata cepat-cepat untuk melepaskan diri dari ciuman Kazuya. Hinata lari menuju ranjang menyembunyikan wajahnya yang kini memerah sempurna. Kazuya yang melihat tingkah istrinya, ia hanya tersenyum manis
"aku lelah suamiku aku mau istirahat'' Ucap lembut Hinata terdengar

''Aww'' Lalu rintih Kazuya terdengar
Hinata yang mendengar rintihan itu langsung menoleh ke arahnya

''Dadaku perih'' Kazuya langsung membuka kaosnya dan mendapati luka cakaran didadanya berdarah lagi "ini pasti karena malam pas di hotel California'' Kazuya langsung memandangi Hinata "apa kau yang mencakarku?'' tanya Kazuya

''A.. aku tidak ingat suamiku'' sahut Hinata sambil melirik kuku-kuku tangannya

''besok potong kukumu'' seru Kazuya tegas dan tenang

''Baiklah Baiklah'' sahut Hinata datar dan menatap ke arah lain

Sepintas bayangan aneh muncul di otak Kazuya "wanita itu...'' sambil sedikit melirik Hinata ''..wanita itu Buas sekali di ranjang'' otak Kazuya sambil membayangkan keganasan winata jika melakukan itu "waaaa! Bisa-bisa tubuhku penuh dengan luka cakar "

''Huaaaaa'' Kazuya langsung berlari ke atas ranjang dan bersembunyi di bawah selimut

''Kau kenapa?'' tanya Hinata
Namun Kazuya tak menjawab
''Hey kau kenapa?'' tanya Hinata lagi
Tetap tidak di jawab
''Sudahlah aku capek, aku mau tidur'' grutu Hinata sewot

to be continued