Autumn in Paris

Remake story by Ilana Tan

Ps: Author hanya mengganti nama tokoh dan beberapa detail lainnya untuk menunjang jalannya cerita

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Oh Sehun

(Genderswitch)

.

Seandainya masih ada harapan - sekecil apapun - untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu.

.

e)(o

.

Chapter 7

.

Untuk beberapa detik yang menegangkan, mereka berdua bertatapan. Hanya bertatapan.

Terlalu kaget dan bingung untuk bersuara. Tanpa sadar Chanyeol berbisik, "Monsieur..."

"Kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tersentak mendengar suara Baekhyun. Ia menoleh ke arah gadis itu yang memandang ayahnya dan Chanyeol bergantian. Gadis itu heran, tapi tidak merasa curiga sedikit pun.

Ayahnya baru akan membuka mulut, tapi Chanyeol buru-buru menyela, "Tidak, kami belum pernah bertemu."

Chanyeol memandang ayah Baekhyun, meminta pria itu mengikuti apa yang dikatakannya. Memohon dengan matanya supaya ayahnya itu tidak berkata apa-apa.

"Aku pernah mendengar ayahmu adalah... eh, Jean-Daniel Lemercier yang punya banyak restoran di Prancis," Chanyeol berbohong dengan susah payah. Lidahnya terasa berat, suaranya juga terdengar agak serak.

Baekhyun mengangkat alis dan mengerjapkan mata. "Jean-Daniel Lemercier? Aneh sekali." Lalu ia tersenyum kepada ayahnya. "Jean adalah nama ayahku sewaktu masih muda sekali," jelasnya sambil menggandeng lengan ayahnya. "Sejak mulai menjalankan bisnis kelab dan restoran. Daddy mengganti namanya menjadi Byun. Sejarahnya panjang. Lain kali akan kujelaskan."

Baekhyun sama sekali tidak merasakan ketegangan yang ada di antara kedua pria itu. Ia masih tetap ceria dan tersenyum lebar.

"Dad, Daddy sudah kenal Sehun dan Tiffany, bukan?" kata Baekhyun sambil menunjuk teman-temannya yang duduk mengelilingi meja bundar itu. "Dan ini Miranda, itu Nick, pacar Tiffany. Dan ini Park Chanyeol." Baekhyun melepaskan diri dari rangkulan ayahnya dan menggandeng lengan Chanyeol. "Dia arsitek dari Jepang yang akan bekerja sama dengan perusahaan ayah Sehun untuk proyek pembangunan hotel di sini. Dan perlu Daddy ketahui, bahasa Prancis-nya lancar sekali."

"Arsitek yang hebat, Monsieur," tambah Sehun dengan senyum lebar. "Tidak heran Baekhyun suka padanya."

Chanyeol melihat wajah ayah Baekhyun langsung memucat.

"Diamlah, Sehun," omel Baekhyun dengan wajah yang memerah. "Kau sudah mabuk." Ia berdeham dan melanjutkan perkenalannya, "Chanyeol, ini ayahku, Byun-Daniel Lemercier," Baekhyun melanjutkan.

Chanyeol menjulurkan tangannya yang tiba-tiba saja terasa amat sangat berat. Ketika Byun-Daniel Lemercier menjabat tangannya, tangan pria itu terasa dingin. Ataukah tangannya sendiri yang dingin?

"Apa kabar, Monsieur?" gumam Chanyeol.

Byun-Daniel Lemercier juga menggumamkan sesuatu, tapi Chanyeol tidak mendengar jelas.

"Kau teman Rebecca?" Terdengar pertanyaan yang lebih jelas dari pria itu.

Chanyeol tidak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa.

Melihat kedua laki-laki itu berpandangan dalam diam, Baekhyun juga ikut diam, lalu seakan menyadari sesuatu, ia menoleh ke arah Chanyeol dan berkata, "Kau pasti bingung kenapa ayahku memanggilku Rebecca. Nama lengkapku Rebecca Byun. Memang nama yang lebih mirip nama Inggris bukan Prancis, karena Mommyku yang memberiku nama. Namun karena sewaktu kecil aku tinggal di Korea aku mendapat nama Baekhyun dari nenekku karena Rebecca terlalu sulit. Baek-Becca begitulah. Hehe. Semua kini memanggilku Baekhyun, hanya Daddyku yang masih suka memanggilku Rebecca."

Chanyeol masih belum menemukan suaranya kembali.

"Monsieur, silakan bergabung dengan kami," Tiffany menawarkan.

Entah bagaimana caranya, Byun-Daniel Lemercier berhasil menyunggingkan senyum ramah yang agak kaku dan menggeleng. "Tidak usah. Kalian anak-anak muda saja yang bersenang-senang. Aku hanya mampir untuk melihat-lihat keadaan kelab. Silakan, silakan..."

"Oh ya, waktu itu Daddy bilang ada yang ingin Daddy bicarakan denganku," Baekhyun mengingatkan.

"Kata Daddy itu masalah penting."

Tubuh Chanyeol menegang. Ia bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Byun-Daniel Lemercier dengan putrinya. Pasti tentang putra yang baru ditemuinya. Tentang dirinya. Ia menahan napas menunggu jawaban Byun-Daniel Lemercier.

"Tidak apa-apa, ma chérie," sahut ayahnya. Matanya bertemu dengan mata Chanyeol. "Tidak terlalu penting. Lain kali saja kita bicarakan."

Baekhyun mengangkat alisnya. "Lho?"

Tepat pada saat itu Tiffany berkata ia ingin menambah minuman. Chanyeol mengambil kesempatan itu dan menawarkan diri untuk mengambilkan minuman untuknya. Ia perlu menyingkir dari sana untuk sementara. Supaya ia bisa bernapas kembali. Ketika ia berjalan pergi, ia sempat mendengar ucapan Byun-Daniel Lemercier kepada putrinya.

"Bisa ikut Daddy sebentar, Rebecca?" tanya ayahnya dengan nada mendesak.

.

e)(o

.

Apa yang ingin dibicarakan ayahnya? Kenapa kesannya serius begitu?

Baekhyun mengikuti ayahnya keluar kelab. Angin bertiup lumayan kencang dan Baekhyun harus merapatkan jaket yang dikenakannya.

"Ada apa, Dad?" tanya Baekhyun penasaran. Mendadak saja ayahnya terlihat lelah. "Daddy tidak enak badan?"

Ayahnya menggeleng, lalu bertanya, "Ma chérie, sudah berapa lama kau mengenalnya?" tanya ayahnya.

"Siapa? Chanyeol?" tanya Baekhyun.

Ayahnya mengangguk tidak sabar. "Ya, Chanyeol."

Wah... kenapa ayahnya tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu? Sepertinya ayahnya ingin tahu lebih banyak tentang Chanyeol. Apakah jelas terlihat kalau Baekhyun tertarik pada Chanyeol? Ia heran karena pertanyaan ayahnya tadi adalah pertanyaan yang umumnya ditanyakan para orangtua begitu mengetahui anak mereka tertarik pada seseorang. Namun Baekhyun memang tidak berniat menyembunyikan apa pun dari ayahnya.

"Oh, belum lama. Dia teman Sehun dan Sehun mengenalkannya padaku." Baekhyun menatap ayahnya dengan mata berbinar-binar. "Menurut Daddy bagaimana?"

Ayahnya mengangkat alis. "Apanya?"

"Park Chanyeol," sahut Baekhyun. "Menurut Daddy bagaimana?"

Ayahnya terlihat agak gugup. "Entahlah... Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

Baekhyun hanya tersenyum. Sebenarnya ia berharap dalam hati ayahnya sependapat dengannya. Chanyeol laki-laki yang baik dan sopan. Ia yakin ayahnya tidak akan keberatan kalau ia mengakui perasaannya terhadap Chanyeol.

"Ma chérie," panggil ayahnya dengan nada was-was. "Kau menyukai pemuda itu?"

Baekhyun memandang ayahnya dan menimbang-nimbang. Apakah ayahnya bisa membaca pikirannya? Apakah ia bisa memberitahu ayahnya? Sekarang?

"Ya," jawab Baekhyun akhirnya. Ia tidak pernah berbohong kepada ayahnya dan ia memutuskan sebaiknya ia mengakui sekarang.

Baekhyun sudah bersiap-siap menghadapi serbuan pertanyaan ayahnya, tapi aneh sekali, ayahnya hanya tertegun mendengar jawabannya. Air mukanya berubah cemas dan gelisah.

"Daddy, ada apa?" tanya Baekhyun ketika ayahnya masih tetap diam. Kenapa ayahnya tidak bertanya apa-apa? Ia baru saja mengakui ia menyukai seorang laki-laki dan bukankah sebagai orangtua sudah sewajarnya ayahnya bertanya macam-macam?

"Tidak apa-apa," gumam ayahnya.

Baekhyun berusaha menebak-nebak apa yang menjadi beban pikiran ayahnya, tapi tidak menemukan alasan apa pun. "Aku dan Chanyeol memang baru saling mengenal," katanya berusaha menjelaskan lebih jauh, "tapi aku merasa dia orang yang baik dan menyenangkan. Dia tipe laki-laki yang diincar kebanyakan wanita untuk dijadikan suami."

Baekhyun bermaksud bergurau, tetapi begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, ayahnya terkesiap kaget.

"Kau mau menikah dengannya?" tanya ayahnya dengan nada panik yang tidak dipahami Baekhyun.

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan mata dan menggeleng. "Tidak," jawabnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang memicu reaksi ayahnya. "Aku memang menyukainya, tapi aku tidak sedang merencanakan pernikahan sekarang. Kenapa Daddy tiba-tiba punya pikiran begitu?"

"Tidak, Daddy tidak berpikir seperti itu," gumam ayahnya cepat-cepat.

Baekhyun menangkap kilatan lega di mata ayahnya dan ia semakin heran.

"Ma chérie," panggil ayahnya lagi. "Coba jelaskan tentang hubungan kalian berdua kepada Daddy"

Aneh sekali, kenapa ayahnya panik begitu? Apakah ayahnya takut ia tiba-tiba akan menikah dengan Chanyeol?

.

e)(o

.

Chanyeol sama sekali tidak bisa tidur sepanjang malam. Ia hanya duduk diam di pinggir jendela apartemennya dan memandangi Sungai Seine. Jam sudah menunjukkan pukul 02.24 dini hari dan ia tidak mengantuk sedikit pun. Begitu pulang dari La Vue dua jam yang lalu, ia berusaha tidur karena kepalanya berat sekali. Tetapi setelah setengah jam berjuang untuk terlelap dan sia-sia, ia menyerah lalu bangkit dari tempat tidur.

Ia tahu ia harus berpikir, tapi ia tidak ingin berpikir. Kepalanya sakit, pusing, dan berat. Terlalu banyak yang berlalu-lalang di benaknya sampai ia tidak tahu lagi harus berpikir apa.

Semakin dipikir, ia semakin tertekan.

Pasti ada kesalahan. Tidak mungkin ia dan Baekhyun punya ayah yang sama. Pasti ada kesalahan... Chanyeol menarik napas berat, lalu mengembuskannya dengan pelan. Dadanya terasa sakit.

Bernapas ternyata bisa juga menyakitkan.

Kenapa harus Byun-Daniel Lemercier...? Kenapa harus ayah Baekhyun...? Mungkin ia bukan anak Byun-Daniel Lemercier... Mungkin ibunya salah... Ayah kandungnya bukan Byun-Daniel Lemercier... Bukan... Demi Tuhan! Ia sungguh-sungguh berharap Byun-Daniel Lemercier bukan ayah kandungnya.

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Ia tetap duduk diam di pinggir jendela, sepanjang malam, tanpa bergerak, dan nyaris tanpa bernapas, sampai langit berubah warna dari hitam menjadi biru, lalu biru muda. Saat itulah Chanyeol baru menyadari hari sudah terang dan ia tidak tidur semalaman.

Tidak mudah memaksa dirinya bergerak, tapi ia sadar ia harus pergi ke kantor. Chanyeol bergerak dengan perlahan dan kaku, seperti robot yang sudah usang. Ia mencuci muka dan berganti pakaian dengan lesu. Ia sebenarnya bermaksud sarapan, tetapi merasa tidak bernafsu. Ia baru akan keluar dari apartemennya ketika ponselnya berdering.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan melirik layar ponsel. Orang itu.

"Halo," kata Chanyeol ketika ponsel sudah ditempelkan ke telinga. Ia hampir tidak mengenali suaranya sendiri. Suaranya terdengar aneh dan jauh.

"Chanyeol." Terdengar suara rendah Byun-Daniel Lemercier di seberang sana.

"Ya, Monsieur," sahut Chanyeol datar.

"Kurasa kita harus bicara," kata Byun-Daniel Lemercier. "Tentang apa yang terjadi kemarin malam."

Chanyeol menghela napas berat. Bernapas masih tetap menyakitkan. "Ya. Baiklah, Monsieur."

"Kita bisa bertemu siang ini?"

Chanyeol terdiam. Cepat atau lambat hal ini harus dihadapi. Chanyeol harus menyelesaikan masalah ini.

"Tidak masalah," kata Chanyeol akhirnya. "Katakan di mana dan jam berapa. Saya akan datang."

.

e)(o

.

"Teman, tampangmu berantakan sekali," komentar Sehun ketika masuk ke kantor Chanyeol siang itu. Tadinya ia berencana mengajak Chanyeol makan bersama mengingat mereka jarang sekali bertemu sejak terlibat langsung dalam proyek hotel itu. Tapi begitu masuk ke ruangan Chanyeol, ia melihat temannya duduk bersandar dengan tampang tertekan.

Chanyeol menoleh dan tersenyum tipis.

"Sakit kepala karena mabuk kemarin?" goda Sehun.

Chanyeol menggeleng. "Kau yang mabuk berat kemarin malam," sahutnya pelan. Namun keadaan Sehun terlihat jauh lebih baik daripada dirinya saat ini.

Sehun tertawa. "Ya, sepertinya begitu. Pagi tadi kepalaku masih sakit seperti dihantam palu. Tapi kenapa tampangmu kusut begitu?"

"Kurang tidur," jawab Chanyeol pendek. Ia memalingkan wajah dan memandang ke luar jendela.

Sehun merasa aneh karena temannya berubah pendiam. "Mau makan siang denganku?" ia menawarkan.

Chanyeol menoleh dan melirik jam tangannya. Ia bangkit dan meraih jaketnya. Ia tersenyum meminta maaf pada Sehun. "Maaf, Sehun. Aku ada janji dengan orang lain. Lain kali saja kita makan bersama."

"Janji dengan Baekhyun?" goda Sehun, berusaha menyembunyikan kebingungannya atas sikap Chanyeol.

Sehun heran melihat gerakan Chanyeol tiba-tiba terhenti. "Bukan, bukan dengannya," sahut Chanyeol datar. Ia menoleh ke arah Sehun. "Sampai nanti."

Sehun mengerutkan kening setelah Chanyeol menghilang di balik pintu. Ada apa dengan Chanyeol hari ini? Apa yang membuatnya bad mood tadi? Baekhyun? Bukankah mereka baik-baik saja kemarin? Mungkinkah mereka bertengkar?

Ah, bingung. Sehun menggeleng-geleng dan memutuskan untuk bertanya pada Baekhyun saja karena gadis itu pasti ingin memuntahkan isi hatinya kalau sedang kesal.

.

e)(o

.

"Anda sudah memberitahu Baekhyun?" tanya Chanyeol tanpa memandang pria yang duduk di hadapannya.

"Tidak... Belum," sahut Byun-Daniel Lemercier.

Mereka kembali bertemu di restoran tempat pertama kali mereka bertemu. Mereka berdua sama-sama hanya memesan minuman karena tidak lapar. Chanyeol sendiri merasa nafsu makannya tiba-tiba hilang entah ke mana. Ia tidak bisa makan dan tidak bisa tidur. Sebenarnya ia malah tidak ingin melakukan apa-apa.

Byun-Daniel Lemercier yang ada di hadapannya kali ini sepertinya bertambah tua beberapa tahun sejak terakhir kali Chanyeol melihatnya. Wajahnya juga terlihat lelah dan pucat. Ia pasti juga mencemaskan keadaan ini.

"Monsieur," panggil Chanyeol pelan, masih memandangi taplak meja di hadapannya. "Kenapa mengubah nama Anda?"

Byun-Daniel Lemercier terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Jean itu nama ayah kandungku," ia memulai. "Beliau meninggal ketika aku berumur delapan tahun. Kemudian ibuku menikah lagi dengan pria bernama Byun yang membuka usaha restoran. Ayah tiriku tidak pernah memaksaku mengubah nama jadi selama masa remajaku aku tetap menggunakan nama Jean."

Chanyeol diam dan mendengarkan.

"Lalu ayah tiriku yang baik ini mulai sakit-sakitan. Beliau dan ibuku tidak punya anak dan aku tahu Beliau berharap aku bisa melanjutkan usahanya. Aku juga tahu, walaupun tidak pernah meminta, Beliau sangat berharap aku menjadi anaknya yang sah di mata hukum." Byun-Daniel Lemercier menghela napas lagi. "Singkat kata, aku memenuhi harapannya. Aku mengganti namaku dan melanjutkan usahanya."

"Anda mengganti nama Anda setelah kembali dari Jepang?" tanya Chanyeol walaupun ia sudah tahu jawabannya.

Byun-Daniel Lemercier mengangguk. "Aku sedang berlibur di Tokyo ketika mendapat kabar ayahku sakit. Karena itu liburanku harus dipersingkat. Aku harus meninggalkan Jepang dan kembali ke Prancis."

Chanyeol mengangguk pelan. "Jadi Anda bertemu dengan ibuku ketika sedang berlibur di Jepang?"

"Ya."

"Kalian saling menyukai? Maksudku, waktu itu."

"Ya."

Chanyeol mengangkat wajahnya dan menatap Byun-Daniel Lemercier. "Lalu kenapa...?"

"Aku tidak akan mencari-cari alasan," Byun-Daniel Lemercier menjelaskan. "Saat mendengar kabar ayahku sakit, aku langsung kembali ke Prancis. Aku dan ibumu kehilangan kontak. Berakhir begitu saja."

Mereka berdua terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

"Aku sudah bertanya pada Rebecca," Byun-Daniel Lemercier memecah keheningan. "Dia bilang Sehun yang mengenalkan kalian berdua. Sepertinya hubungan kalian cukup baik... dan dekat."

Chanyeol tidak menjawab.

"Kau...," Byun-Daniel Lemercier melanjutkan. Nada suaranya ragu. "Bagaimana perasaanmu terhadap Rebecca?"

Chanyeol tetap diam. Bagaimana perasaannya terhadap Byun Baekhyun? Bagaimana perasaannya terhadap... adik perempuannya? Tolong jangan memintanya menjawab...

"Kau... menyukainya?"

Mendengar pertanyaan Byun-Daniel Lemercier, pundak Chanyeol terasa berat. Ia membenamkan tangan ke saku jaketnya dan mengembuskan napas.

"Chanyeol."

"Monsieur," kata Chanyeol pelan, tapi pasti. Ia menatap kosong ke cangkir kopi di atas meja.

"Apakah Baekhyun putri kandung Anda?"

Byun-Daniel Lemercier tidak langsung menjawab. Ia kaget karena tidak menyangka Chanyeol akan bertanya seperti itu. Chanyeol hanya bisa berharap pria itu memahami bahwa pertanyaannya tidak bertujuan menghina siapa pun.

"Benar," sahut Byun-Daniel Lemercier. "Dia memang putri kandungku. Tidak ada keraguan tentang itu."

Chanyeol memejamkan mata. Satu kemungkinan gagal...

"Apakah Anda yakin aku putra kandung Anda?" tanya Chanyeol lagi.

Byun-Daniel Lemercier tidak menjawab.

"Apakah Anda pernah berpikir mungkin ibuku salah?" Chanyeol melanjutkan. "Mungkin Anda bukan ayah kandungku. Mungkin ayah kandungku orang lain yang..."

Ia segera menghentikan kata-katanya begitu menyadari apa yang baru dikatakannya. Astaga! Apakah ia baru menuduh ibunya terlibat hubungan dengan pria lain? Memangnya ia pikir ibunya itu wanita seperti apa? Chanyeol memarahi dirinya dalam hati. Ia tidak percaya apa yang sudah dipikirkannya.

"Chanyeol," panggil Byun-Daniel Lemercier.

Chanyeol menghela napas dan mengembuskannya dengan keras. "Maafkan aku," katanya lirih. "Aku tidak bermaksud meragukan ibuku. Hanya saja..." Suaranya mulai serak. Kepalanya berputar-putar. Demi Tuhan! Apa yang sedang terjadi pada dirinya?

Ia berdeham dan berkata, "Mungkin yang dimaksud ibuku bukan Anda."

"Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini," gumam Byun-Daniel Lemercier.

Semua kemungkinan harus ditelusuri. Chanyeol tidak bisa hidup dalam kebimbangan seperti ini. Terlalu menyakitkan. Ia harus tahu pasti.

"Monsieur," katanya. "Bagaimana kalau kita menjalani tes DNA?"

Chanyeol tidak pernah berpikir dirinyalah yang akan mengajukan permintaan itu ketika ia mulai mencari ayah kandungnya. Saat itu ia tidak memerlukan pengakuan ayah kandungnya, jadi ia tidak peduli apakah ayah kandungnya akan mengakuinya atau menolaknya. Tapi sekarang keadaannya lain. Ia tidak bisa terjerat dalam lingkaran menyesakkan ini. Ia harus tahu. Harus...

Chanyeol merasa pria yang duduk di hadapannya itu tidak terlalu terkejut dengan permintaannya. Mungkin Byun-Daniel Lemercier juga sudah memperkirakan hal itu.

"Tes DNA?" ulang pria itu. "Kau ingin memastikan..."

"Apakah Anda adalah ayah kandungku," Chanyeol melanjutkan kata-kata Byun-Daniel Lemercier.

Byun-Daniel Lemercier terdiam cukup lama, seakan mempertimbangkan usul Chanyeol. Apakah ia akan menganggap usulnya keterlaluan atau masuk akal?

"Baiklah," akhirnya pria itu menyetujui dan Chanyeol mendesah lega. "Kapan?"

"Lebih cepat lebih baik."

Ini satu-satunya harapannya... Harapan terakhirnya.

.

e)(o

.

"Syukurlah Nick sudah boleh pulang sore ini," kata Tiffany sambil memegang dadanya dan menghela napas lega.

Baekhyun yang berjalan di sampingnya hanya tertawa. "Tidak perlu berlebihan begitu, Tiff. Pacarmu hanya menjalani operasi usus buntu biasa."

Ia baru saja menemani Tiffany mengurus administrasi Nick sebelum keluar dari rumah sakit.

Sekarang mereka sedang berjalan kembali ke kamar tempat pacar Tiffany dirawat.

"Tapi tetap saja aku khawatir selama dia dioperasi," kata Tiffany tidak peduli. "Kau pasti juga akan begitu kalau Chanyeol yang menjalani operasi usus buntu."

Baekhyun tersenyum kecil dan mengangkat bahu. Mungkin saja.

Tiffany memandangnya dengan tatapan menyelidik. "Kenapa? Ada apa dengan Chanyeol?"

Baekhyun menghela napas dan menggeleng. "Tidak apa-apa," sahutnya. "Hanya saja dua-tiga hari terakhir ini dia sepertinya agak pendiam."

"Hm?"

"Dia tidak banyak bicara," Baekhyun berusaha menjelaskan. "Dia sedang sibuk dan banyak pekerjaan sehingga kami tidak sempat bertemu, hanya bisa bicara sekali di telepon, tapi itu juga cuma sebentar. Mungkin ini perasaanku saja."

"Mungkin saja," sahut Tiffany. "Kau sudah bertanya padanya? Mungkin dia sedang ada masalah atau apa."

"Tidak, dia tidak pernah berkata apa-apa. Aku juga belum bertanya," kata Baekhyun dan memutuskan dalam hati ia akan bertanya nanti.

"Ngomong-ngomong, terima kasih kau mau datang menjenguk Nick," kata Tiffany ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamar Nick.

"Tidak masalah," kata Baekhyun ringan. "Aku sudah lama mengenal Nick dan baru kali ini aku melihatnya terbaring tidak berdaya di tempat tidur. Biasanya dia selalu bergerak, tidak bisa diam. Perubahan kecil seperti ini pasti bagus baginya."

"Apanya yang bagus?" Tiffany mendengus. "Sepanjang hari kerjanya hanya menggerutu karena belum diizinkan berkeliaran."

Baekhyun tertawa. "Tiff, kau masuk saja dulu. Aku mau ke toilet."

Tiffany melambai dan masuk ke kamar rawat, sedangkan Baekhyun terus berjalan menyusuri koridor ke toilet.

Baru saja ia akan membelok memasuki toilet wanita, langkah kakinya terhenti. Matanya terpaku pada punggung seorang pria yang sedang berjalan menjauhi meja perawat tidak jauh dari sana. Ia mengerjapkan mata.

"Daddy?" gumamnya pada diri sendiri.

Ia bergegas berbalik dan berlari-lari kecil menyusul ayahnya yang akan berjalan menjauhinya.

"Daddy!" serunya ketika ia merasa jaraknya sudah cukup dekat sehingga ayahnya bisa mendengarnya.

Ayahnya menoleh dan... Apakah hanya perasaannya ataukah ayahnya terperanjat melihatnya?

"Ma chérie?" gumam ayahnya setelah Baekhyun berdiri di hadapannya. "Sedang apa kau di sini?"

Baekhyun tersenyum lebar walaupun dalam hati agak heran melihat ayahnya memandang ke sekeliling dengan gelisah.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya bukan Chanyeol saja yang terlihat aneh belakangan ini. Baekhyunjuga merasa ayahnya berubah. Selalu gelisah. Ia sudah berusaha mencari tahu, tapi ayahnya selalu meyakinkan segalanya baik-baik saja.

"Pacar Tiffany sedang dirawat di sini. Operasi usus buntu. Aku datang menjenguknya," jawab Baekhyun, "Daddy sendiri sedang apa di sini?"

Ayahnya tidak langsung menjawab dan Baekhyun langsung merasa waswas.

"Dad sakit?" tanyanya cemas.

Ayahnya menggeleng. "Tidak, Daddy tidak sakit. Daddy juga... datang menjenguk teman."

Baekhyun mengangkat alisnya. "Oh, begitu. Siapa?"

"Eh... Kau tidak kenal," ayahnya mengelak, lalu mengalihkan pembicaraan, "Bagaimana keadaan Nick? Baik-baik saja?"

Baekhyun mengangguk. "Ya, besok sudah boleh pulang ke rumah."

Ayahnya mengangguk-angguk tanpa perhatian. "Baiklah, kalau begitu," kata ayahnya cepat.

"Daddy harus kembali ke kantor. Kau masih akan tinggal di sini?"

"Mm," sahut Baekhyun. Ia heran melihat sikap ayahnya yang terburu-buru, sangat bertolak belakang dengan sikap tenang ayahnya yang biasa. Apakah penyakit temannya membuatnya cemas? "Daddy pulang saja dulu."

Setelah memerhatikan ayahnya yang berjalan keluar dari rumah sakit, Baekhyun kembali berjalan ke toilet sambil terus memikirkan ayahnya. Jangan-jangan penyakin teman ayahnya itu tidak bisa disembuhkan. Makanya ayahnya khawatir. Baiklah, ia akan bertanya pada ayahnya nanti. Siapa tahu ayahnya butuh teman mengobrol.

Baekhyun keluar dari toilet dan berjalan kembali ke kamar rawat Nick. Ketika ia melewati jendela kaca besar yang menghadap ke halaman samping rumah sakit, sekali lagi langkah kakinya terhenti. Ia membalikkan tubuh, menempelkan kedua telapak tangan di kaca dan memandang ke luar. Pandangannya terarah pada seorang laki-laki yang duduk sendirian di bangku kayu panjang di taman kecil rumah sakit itu.

Oh... Chanyeol? Langsung saja wajah Baekhyun berseri-seri dan senyum senang tersungging di bibirnya.

Hari ini penuh kejutan. Ia bertemu ayahnya dan Chanyeol di rumah sakit yang sama. Ia cepat-cepat berbalik arah dan berlari-lari kecil ke arah pintu keluar.

Ketika ia sampai di pekarangan samping rumah sakit, ia mendapati laki-laki itu masih duduk merenung di bangku yang sama. Hari ini angin bertiup kencang dan Baekhyun menggigil. Ia baru ingat ia meninggalkan jaket dan syalnya di kamar rawat Nick sebelum menemani Tiffany mengurus administrasi tadi.

Tiba-tiba Chanyeol bangkit dan mulai berjalan. Baekhyun cepat-cepat berlari menyusul sambil berseru memanggilnya.

Chanyeol berhenti dan menoleh. Ia juga menampilkan wajah terkejut setelah melihat siapa yang memanggilnya.

"Baekhyun-chan," katanya kaget. "Sedang apa kau di sini?"

Baekhyunmerasa lucu karena Chanyeol menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan ayahnya tadi.

"Aku datang menjenguk Nick yang baru menjalani operasi usus buntu," sahutnya. "Kau sendiri? Kau tidak sakit, bukan?"

Chanyeol menggeleng. "Aku juga datang menjenguk teman."

Baekhyun tersenyum dan alisnya berkerut. "Hari ini banyak sekali teman kita yang sakit, ya?"

Chanyeol memandangnya tidak mengerti tapi Baekhyun hanya tertawa kecil dan mengibaskan tangan.

"Kau sepertinya sedang tidak sehat," kata Baekhyun sambil mengamati wajah Chanyeol yang pucat.

Chanyeol mengusap wajah dengan sebelah tangan. "Hanya kurang tidur."

Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil lagi.

"Di mana jaketmu?" tanya Chanyeol dengan kening berkerut. "Kenapa keluar memakai baju setipis ini?"

Baekhyun tertawa kecil. "Jaketku tertinggal di kamar Nick."

"Nick?"

"Pacar Tiffany. Kau kan pernah bertemu dengannya ketika pesta ulang tahun Tiffany waktu itu,"

Baekhyun mengingatkan. "Dia baru menjalani operasi usus buntu dan dirawat di sini."

"Oh," gumam Chanyeol linglung.

Baekhyun tidak yakin laki-laki itu memahami kata-katanya karena sepertinya Chanyeol memikirkan hal lain.

Chanyeol kembali mengamati Baekhyun dari kepala sampai ke kaki. "Kau kedinginan," ia mengeluarkan tangannya dari saku mantel, menggenggam kedua tangan Baekhyun dan menariknya mendekat.

Baekhyun mengerjapkan mata dan tercengang. Tapi ia menurut saja ketika Chanyeol menariknya ke dalam pelukannya sehingga mantel cokelat panjang yang dikenakan laki-laki itu bisa membungkus tubuh mereka berdua. Baekhyun menyadari kedua lengan Chanyeol merangkul seluruh tubuhnya dengan mudah. Ia tidak pernah mengganggap dirinya bertubuh mungil, tapi ternyata ia begitu kecil dalam pelukan Chanyeol. Ia senang dengan kenyataan itu.

"Bagaimana? Agak mendingan?"

Baekhyun mendengar suara Chanyeol di samping kepalanya. Ia tidak sanggup bersuara, hanya bisa mengangguk. Memeluk Chanyeol seperti ini membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan napasnya tercekat. Mereka begitu dekat sehingga ia bisa merasakan debar jantung laki-laki itu. Rasanya hangat dan sangat nyaman, seakan ia sedang melayang di awan.

"Aaah... Musim gugur ini dingin sekali," desah Chanyeol.

Baekhyun mengangguk lagi di bahu Chanyeol. Ia bisa merasakan Chanyeol tersenyum. Untuk beberapa saat mereka berdiri berpelukan seperti itu, di bawah pohon-pohon dengan daun berwarna kecokelatan di taman rumah sakit. Baekhyun berdoa dalam hati ia bisa selamanya merasakan perasaan bahagia ini.

Namun sikap Chanyeol masih tetap membuatnya bingung. Beberapa hari terakhir Baekhyun merasa Chanyeol berubah pendiam dan sepertinya agak menjaga jarak darinya, dan sekarang laki-laki itu tiba-tiba memeluknya seolah itu hal yang paling wajar di dunia. Apa yang sedang dipikirkan Chanyeol?

"Chanyeol?" panggil Baekhyun di bahu Chanyeol.

"Hm?"

"Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Chanyeol menghela napas. "Tidak ada."

"Pekerjaanmu di kantor baik-baik saja?"

"Mm." Chanyeol mengangguk.

"Proyekmu lancar?"

"Mm." Chanyeol mengangguk lagi.

Kalau bukan masalah pekerjaan, pasti ada hubungannya dengan masalah keluarga. Mungkin tentang ayah kandungnya yang baru ditemuinya waktu itu?

"Bagaimana dengan ayah kandungmu?" tanya Baekhyun hati-hati. "Kau bertemu dengannya lagi?"

Baekhyun merasa pelukan Chanyeol agak menegang.

"Tidak ada masalah," gumam laki-laki itu cepat, lalu balas bertanya, "Kenapa kau bertanya hal yang aneh-aneh?"

"Karena kau berubah pendiam belakangan ini," gumam Baekhyun tidak yakin. "Dan sekarang kau tiba-tiba saja... memelukku." Suaranya semakin pelan ketika mengucapkan kata-kata terakhir.

"Kau tidak suka?" tanya Chanyeol dengan nada bercanda.

Baekhyun cepat-cepat menggeleng. Pipinya terasa panas. "Bukan... Maksudku...," ia berusaha menjelaskan dengan tergagap-gagap, "aduh, kau pasti tahu maksudku."

Chanyeol tertawa pelan dan mempererat pelukannya. "Aku hanya sedang pusing karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Tidak ada masalah serius."

Aku sedang meyakinkan diri sendiri, batin Chanyeol sadar sekali akan hal itu.

"Sungguh?" tanya Baekhyun. Ia ingin merasa benar-benar yakin.

"Gara-gara mengejar waktu aku cuma bisa tidur tujuh jam dalam tiga hari terakhir ini," Chanyeol menjelaskan. "Karena itu sekarang aku capek sekali."

"Sehun pernah bilang kau bekerja sepanjang hari seperti mesin. Tolong ingat kau bukan mesin. Kau tentu tahu kalau tidak istirahat kau bisa sakit nantinya. Mesin juga bisa meledak kalau dipakai terus-menerus tanpa henti. Kau dengar?"

Chanyeol tertawa lagi mendengar ocehan Baekhyun. Suara gadis itu membuatnya merasa hangat.

"Karena itulah sekarang aku memelukmu," sahutnya. "Aku bisa mengisi ulang tenagaku."

"Chanyeol, jangan bercanda," kata Baekhyun sambil berusaha melepaskan pelukannya, tapi Chanyeol tidak membiarkannya.

"Aku tidak bercanda, Baekhyun-chan," kata laki-laki itu sambil menatap mata Baekhyun. Mata kelabu yang hangat dan dalam. Lalu laki-laki itu tersenyum. "Kau membuatku merasa lebih baik. Menyenangkan sekali memelukmu seperti ini, sampai-sampai aku takut tidak akan sanggup melepaskan diri lagi."

ketika mengucapkan kalimat terakhir itu, tatapan Chanyeol agak menerawang, seakan sedang bicara pada diri sendiri.

Lalu Baekhyun mengejutkan dirinya sendiri dengan bertanya "Memangnya kau berniat melepaskan diri?"

Tatapan Chanyeol kembali terpusat padanya. Laki-laki itu tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. "Tidak. Kalau memang boleh, aku tidak berniat melepaskan diri."

Baekhyun mengerjapkan mata lagi. Kalau boleh? Apakah Chanyeol sedang meminta izinnya? Tapi Baekhyun tidak mau bertanya lagi karena tadi ia sudah melontarkan pertanyaan konyol yang membuatnya malu sendiri. Dan jawaban Chanyeol sudah membuat wajahnya panas. Aneh sekali laki-laki ini bisa membuatnya merasakan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Tapi Baekhyun tidak mau memikirkannya sekarang. Untuk saat ini ia akan membiarkan dirinya sendiri menikmati kebersamaannya dengan Park Chanyeol.

"Chanyeol," panggilnya lagi.

"Hm?"

"Kau tahu, kalau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku. Mungkin aku tidak bisa membantu, tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik."

Beberapa saat Chanyeol tidak menjawab, lalu ia bergumam, "Jangan khawatirkan aku, Baekhyun-chan. Aku tidak apa-apa. Tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja."

.

e)(o

.

Seharusnya aku tidak melakukannya.

Chanyeol menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil dan memejamkan mata.

Tadi ia baru saja menjalani tes DNA bersama Byun-Daniel Lemercier di rumah sakit. Semuanya berjalan seperti mimpi. Setelah selesai menjalani tes, ia langsung pergi tanpa berbicara dengan pria itu. Ia sedang tidak ingin bicara. Ia terlalu tegang untuk bicara. Karena ingin menjernihkan pikiran, ia memutuskan duduk sebentar di bangku taman rumah sedang memikirkan tentang hasil tes yang akan diterimanya tiga hari lagi. Apa hasilnya?

Bagaimana selanjutnya? Apa yang harus dilakukannya? Banyak sekali pertanyaan yang berkelebat dalam beaknya, tapi sayangnya tidak ada jawaban yang memuaskan. Ia sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri sampai gadis itu tiba-tiba muncul di hadapannya.

Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Baru saja ia memikirkan tentang Baekhyun dan sekarang gadis itu langsung ada di hadapannya dengan wajah berseri-seri dan senyum ceria tersungging di bibirnya. Begitu melihat Baekhyun, entah bagaimana Chanyeol merasa beban pikirannya berkurang dan hatinya terasa hangat.

Aneh sekali... Kenapa hanya melihat gadis itu saja ia bisa merasa gembira?

Seharusnya aku tidak melakukannya, pikir Chanyeol lagi. Seharusnya aku tidak memeluknya.

Tetapi pada kenyataannya ia memang ingin memeluk Baekhyun. Saat itu ia tidak berpikir sama sekali. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya hal yang wajar. Rasanya wajar sekali memeluk Byun Baekhyun. Rasanya menyenangkan. Untuk sesaat sepertinya ia bisa melupakan masalahnya, melepaskan ketegangan di pundaknya dan bernapas dengan lega. Hanya saja, memeluk Byun Baekhyun juga menimbulkan kesadaran baru.

Dan masalah baru.

Chanyeol membuka matanya kembali dan menatap kosong ke langit-langit mobil.

Entah sejak kapan perasaan ini timbul dalam dirinya, tapi setelah apa yang dilakukannya tadi, ia sadar ia tidak sanggup menjauhi Byun Baekhyun. Ia sudah jatuh terlalu dalam dan tidak bisa keluar lagi.

Tidak bisa keluar... atau tidak mau keluar?

Entahlah. Yang pasti ini artinya masalah.

.

TBC

.

Huaaaaaaaaah panjang yah dan rasanya nyesek banget, btw siapa yang penasaran sama hasil tes DNA nya?

Salam ChanBaek is real:*

Terima kasih atas reveiwnya^^