Law & Order

Chapter Seven; A Letter From The Dead

A Fanfiction Made by murakami-y

Main Pairing: Vkook/TaeKook; Top! Taehyung x Bottom! Jungkook

Rate: M for character dead and mention of murder/violence & suicide

.

Enjoy~

.

.

"Selama ini kalian berdua telah mengalami banyak hal, maka aku akan memberikan hadiah yaitu—dua tiket untuk lotte world. Aku mendapatkannya dari mahasiswa yang ingin pergi denganku tetapi tak mungkin sekali aku mempertaruhkan posisiku sebagai dosen untuk berkencan dengannya."

Kenapa?

Mengibaskan rambutnya mungkin dengan niat agar terlihat tampan namun kebalikannya rasa hormat si pemuda manis kepada dosen sekaligus dokter berlisensi itu menghilang sudah hanya dikarenakan melihat tingkah kelebihan gaya tersebut. Menatapi selembar kertas tiket pada tangannya. Tiket berwarna-warni dan ditujukan untuk terlihat menarik dan unik—mungkin untuk menghindari pemalsuan—bertuliskan sepuluh karakter membentuk nama tempat bermain itu.

Si pemuda manis menghela napas di dalam hatinya karena memikirkan akan betapa canggungnya mereka, berduaan dalam tempat asing. Keduanya memang terlalu profesional sampai saat waktu untuk berdiskusi mengenai tugas akhir mereka tidak ada yang tiba-tiba merasa tidak enak atau canggung namun berada di taman bermain itu sama saja dengan mereka berada di luar status membahas mengenai tugas akhir. Jelas sekali mereka akan saling diam bahkan canggung. Hei, bukan berarti Jungkook marah akan kenyataan yang menimpanya beberapa hari lalu tetapi Taehyung-lah yang seringkali membuatnya teringat kembali.

"Aku tak berpikir ini ide yang bagus, Hyung." Ucap Taehyung hendak menyerahkan kembali tiketnya.

Netra hitam Jungkook menangkap sejenak raut sedih pada wajah Seokjin dan memutuskan untuk menjadi pendorong—untuk pertama kalinya. Tangannya memegang tangan Taehyung yang memegang tiket dan seraya menatapnya langsung berkata, "Lakukan saja keinginan kakakmu. Aku pun manusia, harus bersenang-senang dan aku tidak ingin pergi sendirian disana."

Mungkin jika orang lain mendengarnya akan terlihat cukup mengesalkan karena Jungkook mengatakannya dengan nada datar dan dingin—tetapi bagi dua bersaudara bermarga Kim itu sangat menggemaskan. Bagaimana Jungkook mengatakannya dengan dingin namun kalimat itu bermakna bahwa dia tidak ingin ditinggalkan sendirian di tempat yang dipastikan terdapat banyak pasangan bermesraan ditambah sentuhan fisik juga tatapan matanya.

IT'S A DOUBLE KILL!—teriak dua bersaudara Kim di dalam hati mereka.

"O-okay-okay. A-Aku akan ikut!" ucap Taehyung terbata-bata sembari melihat ke arah lain, tak kuat untuk melihat wajah manis itu. Tangannya bergetar bukan main dan berkeringat dingin, sentuhan fisik dari Jungkook sama sekali tak baik untuk jantungnya.

Ekspresi wajah Seokjin langsung berubah menjadi berbunga-bunga dan dirinya memeluk kedua pemuda lebih muda darinya dengan erat. Ingin sekali ia mengangkat mereka satu per satu lalu berputar pada tempat saking bahagianya terutama Jungkook karena betapa menggemaskannya pemuda manis itu namun apa daya kekuatannya bukan ada di ototnya.

"Kalau begitu kutunggu besok pukul 11?" tanya Jungkook sesegera mungkin setelah dilepaskan oleh Seokjin.

Hanya dapat membalas dengan anggukan kemudian Jungkook pergi meninggalkan ruangan kerja milik Taehyung dan Seokjin. Beberapa detik terlewat setelah pintu tertutup barulah Taehyung membalikkan tubuhnya lalu berjongkok dengan wajah ditutupi oleh kedua tangannya. Telinganya memerah sempurna menandakan wajahnya pun tak akan jauh berbeda.

"Aku bangga sebagai kakakmu, Tae. Ini kencan pertamamu dengan seseorang yang benar-benar kau sukai." Ucap Seokjin menggoyang-goyangkan tubuh Taehyung sehingga empunya ikut bergerak—masih menutupi wajahnya, "Kau harus menyatakan yang sebenarnya."

"Aku tak yakin bisa melakukannya. Maksudku, sejak itu Jungkook benar-benar seperti melupakan semuanya. Berbincang seperti biasa, mengerjakan tugas seperti biasa seperti tak terjadi apapun. Manusia macam apa yang dapat setenang itu setelah mendengar bahwa penyebab salah satu keluarganya meninggal selama ini berada di dekatnya?" Taehyung menjauhkan tangannya dari wajahnya menunjukkan raut bingungnya.

"Manusia seperti Jeon Jungkook."

Bagaikan kaset yang terputar ulang setiap menemui akhirnya, perkataan Seokjin terputar ulang dalam pikiran Taehyung. Sejujurnya bahkan dirinya telah mengetahui bahwa mahasiswa hukum itu memang selalu berbeda dengan semua orang, ia bagaikan kelinci putih diantara kumpulan kelinci hitam—selalu berbeda. Namun ia berbeda bukan karena tak waras hanya karena jalan berpikirnya berbeda tetapi di saat yang bersamaan mirip dengan mayoritas manusia. Jungkook terlalu misterius untuk dipecahkan dalam satu hari.

Seokjin telah menceritakan ketika ia tertidur sementara keduanya berbincang mengenai mengapa Jungkook terlihat sama sekali tak marah atau bahkan merasa sedih atas kenyataan pahit itu. Dipikirkan sejauh apapun, Taehyung tak dapat mengerti apa yang ada di pikiran Jungkook sampai dapat mengambil keputusan itu tetapi mereka besok akan berada dalam status tak mengerjakan tugas berarti ia dapat menanyakannya.

Besok ia dapat mendengarkan penjelasannya.

.

.

Taman bermain lotte world terutama dalam hari libur seperti ini, pengunjung akan berbondong kemari. Membawa keluarga, anak bahkan pasangan mereka dan semakin berdatangannya orang semakin ramai tempat itu—lalu semakin ramai maka semakin sesak keadaannya. Kedua pemuda menatap datar kerumunan orang-orang berlalu-lalang, sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Ramai." Ucap Jungkook singkat.

"Karena ini hari libur." Balas Taehyung singkat.

Jungkook masih menatap datar kemudian seorang gadis kecil menabraknya, mengatakan permintaan maaf lalu kembali berlari kepada orang tuanya. Melihat bagaimana pemuda manis itu dapat terdorong meskipun oleh anak kecil sekalipun membuat Taehyung khawatir setengah mati. Dengan sedikit ragu, ia mengulurkan tangan kirinya—dengan maksud agar mereka berpegangan tangan karena Jungkook dapat terbawa oleh arus kerumunan dan malah terpisah dari Taehyung.

Melihat uluran tangan tersebut pipi Jungkook memanas, membayangkan dirinya berpegangan tangan dengan lelaki lain di tempat umum dimana orang-orang dapat melihatnya itu sangat memalukan. Lagipula negara mereka bukanlah negara dimana mayoritas warganya tak akan memedulikan lingkungan sekitar, ketika ada sesuatu yang tak normal berada di lingkungannya mereka akan langsung mengatakan hal yang tidak-tidak. Dirinya tak peduli tetapi Taehyung pun akan terkena ambasnya.

Menyadari keengganan dalam wajah Jungkook, ia menarik kembali tangannya membuat si pemuda manis heran dan panik apa dirinya telah membuat keadaan semakin canggung.

"Jika kau terlalu malu untuk memegang tanganku setidaknya pegang lengan bajuku. Dengan begitu ketika kau terdorong jauh dariku aku dapat merasakan tarikan dari jarimu. Tidak selalu berpegangan itu tangan 'kan?" Ucap Taehyung dengan santai dan menggerakkan lengannya seolah menawarkannya.

Sekali lagi, perkataan itu hanya membuat Jungkook semakin memerah. Kata-katanya terlalu manis tetapi anehnya, bukannya merasa mual mendengarkannya ia malah nyaman. Dengan sangat ragu dan tangan kanannya gemetar, akhirnya jari telunjuk dan ibu jarinya memegang lengan baju Taehyung. Wajahnya tertunduk karena rasa malu—bukan karena pandangan orang-orang melainkan takut wajah memerahnya dilihat oleh Taehyung.

Taehyung melangkahkan kakinya dengan kecepatan sedang, cukup bagi Jungkook agar tidak tersandung karena harus mengikuti langkah terlalu cepatnya. Menyelusuri keramaian, setiap kali Jungkook terdorong rematan pada lengan bajunya akan mengerat. Rasanya aneh sekali karena untuk keduanya—rasanya sama seperti bergandengan tangan namun tak ada kontak fisik kulit antar kulit.

Berjalan menuju wahana untuk memulai rencana bermain mereka.

.

.

Entah mengapa mereka berakhir memasuki wahana khas semua taman bermain—rumah hantu. Karena mereka harus masuk berdua maka keduanya masuk sebagai pasangan. Jungkook sebagai tipe orang yang tak mempercayai hal mistis termasuk hantu sekalipun sehingga ia sama sekali tak merasa takut berbeda keadaan dengan Taehyung yang mempercayai keberadaan hantu terutama hantu tradisional khas setiap negara. Dirinya tinggal di Amerika Serikat sejak kecil dan dalam pikirannya hantu disana kalah menakutkan dengan hantu di Korea Selatan.

Tidak sekali dua kali terdengar suara teriakan Taehyung berusaha kabur dari penampakan hantu disana, terutama Jungkook pergi meninggalkannya karena menurut pemuda manis itu dirinya terlalu lamban. Merenungi nasibnya kemudian di sisi kanannya muncul seorang wanita dengan gaun putih, rambut panjang menutupi wajahnya dan dilihat baik-baik tetes demi tetes darah menetes mengotori gaunnya. Tangan wanita itu yang hampir mendekati tulang mendekati Taehyung.

"AAAAA!"

Percayalah itu bukanlah suara teriakan dari hantu wanita itu melainkan suara teriakan Taehyung yang sekarang berlari menjauh. Menempuh jalur yang telah diberitahukan oleh kertas penunjuk namun sama sekali belum menemukan Jungkook—mungkin saja pemuda manis itu telah berada di luar, menunggunya. Langkah yang diabilnya sangat lesu dan kelelahan setelah berlari dan berteriak, matanya terlihat sayu sampai telinganya menangkap suara dari pemuda yang sengaja meninggalkannya.

"Setuju. Dunia terlalu cepat berubah, bahkan aku tidak mengerti seperti baru saja beberapa tahun yang lalu internet tidak secepat ini lalu tiba-tiba saja internet menjadi terlalu cepat dan digunakan terlalu banyak oleh banyak orang."

Mengikuti darimana suara itu berasal, tungkainya bergerak dengan putus asa.

"Akhirnya aku menemukan teman satu pemikiran denganku dengan perkembangan teknologi ini."

Tungkainya terhenti ketika berada di depan pemuda yang dicarinya—tengah duduk di atas bangku yang merupakan properti dari rumah hantu tersebut. Saat pertama melihatnya, Jungkook seolah tengah berbincang dengan seseorang namun dari penglihatan Taehyung—hanya terdapat udara hampa disana.

"Jungkook—kau berbincang dengan siapa?" tanya Taehyung, mata kirinya berkedut.

"Apa maksudmu dengan siapa? Gadis kecil manis ini, mana mungkin kau tak melihatnya." Balas Jungkook dengan gerakan tangan kanannya seolah mengelus sesuatu, "Meskipun entah mengapa pakaiannya terlihat sedikit lusuh."

Wajah Taehyung memucat sempurna, dengan gerakan secepat cahaya ia menarik Jungkook untuk segera keluar dari rumah hantu itu. Sebelum terjauhkan pemuda manis itu mengatakan kata perpisahan kepada gadis kecil itu sambil melambaikan tangannya. Keduanya menyelusuri sisa dari lorong itu sampai akhirnya keluar dari tempat gelap dan menakutkan itu. Taehyung kelelahan bukan main, rasanya seperti melakukan maraton ratusan kilometer sampai sekarang dia harus mengambil napas sebanyak-banyaknya untuk menghindari rasa pening di kepalanya.

Catat. Jeon Jungkook bisa berbincang dengan hantu asli.

.

.

Tak teduga ternyata hari telah menjelang malam, mereka terlalu bersenang-senang sampai melupakan waktu karena rencana awal mereka adalah hanya berada disana sampai sore. Namun taman bermain ini secara khusus terbuka sampai malam dan yang paling diinginkan kebanyakan orang adalah kincir ria disini. Dapat melihat keseluruhan kota ini dalam ketinggian yang cukup tinggi.

Tak ingin melepaskan kesempatan berharga, mereka memutuskan untuk menaikinya sekali dengan perintah Taehyung tidak diperbolehkan melakukan hal mesum di dalam. Tentunya hanya dengan syarat sesingkat itu siapa yang akan menolaknya? Bukan Taehyung, tentunya.

Mereka mendudukkan diri masing-masing di bangku yang berbeda namun saling berhadapan. Setelah mesin mulai menggerakkan kincir ria tersebut untuk naik ke atas, keduanya hanya terdiam dan menunggu untuk melihat pemandangan indah selanjutnya. Namun Taehyung memiliki tujuan lain membawa Jungkook ke tempat pribadi ini.

"You know, sejujurnya aku tidak mengerti mengapa kau dapat menganggap hari itu sebagai sesuatu yang tak perlu dipikirkan." Ucap Taehyung mengundang tatapan dari obsidian hitam di depannya.

Jungkook hanya menatap beberapa saat sebelum menurunkan lengan yang digunakan sebelumnya untuk menopang dagunya. Dia telah tahu bahwa Taehyung pasti akan membawa kembali topik tersebut oleh karena itu ia sama sekali tak terkejut. Dan jika memang dipikir dengan baik, siapapun akan merasa heran dengan jawabannya—jika mereka tidak mengetahui kenyataan sebenarnya.

"Alasan mengapa aku tidak marah? Satu-satunya jawaban dari itu selain bahwa hidupku sama sekali tak menderita setelah kematian ibuku adalah—bagaimanapun ibuku akan meninggal."

Sepasang mata hazel itu melebar sempurna, mulutnya terbuka sedikit sebagai refleks dari rasa terkejutnya. Namun berbeda dengannya, lawan bicaranya hanya menutup matanya lalu tersenyum kecil.

"Karena ibuku sakit dan penyakitnya tidak membuatnya lumpuh atau lainnya tetapi perlahan-lahan memakan semua antibodinya membuat tubuhnya bahkan tidak akan aman menghirup udara disini. Dia berpura-pura tidak sakit tapi hanya manusia bodoh yang tidak dapat melihat sesuatu sejelas itu." Ucap Jungkook dengan nada menyindir lalu membuka matanya.

"K-Kau mengetahuinya?!" tanya Taehyung, nada keterkejutannya masih tak hilang.

"Tentu saja aku mengetahuinya. Ibuku pikir dia sangat pintar dalam menyembunyikannya, betapa bodohnya dia." Jungkook masih menggunakan nada menyindir bahkan menghina ditambahi bumbu senyuman meremehkan namun hanya dalam beberapa detik berubah menjadi senyuman hangat, "Bodoh sekalipun tetaplah dia ibuku yang telah berjuang sampai tetes darahnya terakhir."

Tentunya bagi Jungkook itu merupakan lelucon kecil karena ibunya meninggal karena kehabisan darah dan dirinya pun tertawa sejenak akibat leluconnya sendiri. Mendongak ke kanannya menyadari bahwa mereka telah berada cukup tinggi dari permukaan tanah. Pemandangan kilauan cahaya membuatnya terpesona sampai Jungkook hanya menatapnya, Taehyung pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

Pemandangan dimana mayoritasnya merupakan cahaya kuning dari gedung tinggi yang telah mewarnai ibukota negara ini sejak lama entah mengapa malah membuat si mahasiswa kedokteran merindukan pemandangan kota New York jika dilihat dari atap gedung paling tinggi di kota tersebut. Merupakan tempat landas helikopter pribadi tidak sekali dua kali ia menatap dasar jalanan—memikirkan apakah lebih baik untuk melompat dan mengakhiri semuanya. Setidaknya sebelum otaknya hancur akibat benturan ia dapat merasakan rasanya terjatuh, mengenai awan dan angin dingin menusuk kulitnya.

"Aku akan memberikan dua kebahagiaan untukmu sekarang."

Kata-kata terangkai menjadi kalimat bermakna itu memecahkan lamunannya, menghadapkan kembali kepalanya ke depan untuk melihat Jungkook menggunakan jari telunjuk dan tengahnya untuk menunjukkan angka dua. Salahkan pikiran Taehyung malah terfokus akan betapa lembutnya jari Jungkook terlihat.

"Satu."

Jari tengahnya diturunkan sehingga hanya jari telunjuknya yang masih berdiri tegak.

"Aku memaafkanmu atas hal apapun yang kau lakukan. Meskipun sekarang kau mengerti bahwa sejak awal aku tak pernah merasa dendam karena kematian ibuku telah dipastikan—hanya datang lebih cepat."

Kemudian jari tengahnya kembali dinaikkan membuat angka dua, "Dua…"

Mungkin hanya mata Taehyung tapi ia bersumpah dengan koleksi lagunya, sekilas pipi Jungkook terlihatlah rona merah muda padanya. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdetak berapa puluh kali lebih cepat dan tubuhnya merasa gatal karena rasa keingintahuannya memuncak.

"Kau mungkin tidak mengatakannya tapi aku mengetahuinya." Ucap Jungkook.

Entah mengapa tubuh Taehyung memanas, tak kuat menahan perasaan asing dari dalam hatinya. Jakunnya bergerak seiring dengan dirinya menelan ludahnya sendiri. Dan—demi semua uang gelapnya dahulu—mengapa pencahayaan dari bulan tiba-tiba datang dan menerangi makhluk penyebab diabetes ini?

"Kim Taehyung." Napas Taehyung tertahan pada ujung hidungnya, "Aku menerima rasa sukamu—tidak, lebih tepatnya rasa cintamu."

Sebelum sempat berpikir aneh, pemuda manis itu telah mengambil permulaan lebih duluan dengan bangkit dari tempat duduknya lalu mendudukkan bokongnya di atas paha Taehyung. Dalam jarak sedekat ini ditambah dengan cahaya rembulan di malam seperti ini, tak mungkin ada orang tak terpesona dengan wajah cantik nan manis seorang Jeon Jungkook.

"Mari mengambil perkataanmu sebelumnya." Telunjuk Jungkook menyentuh bibir Taehyung seolah mengatakan untuk tak memotong perkataannya, "Tidak selalu saat kedua manusia saling menyukai harus dalam sebuah status dan kita tahu bahwa kita berdua tak menyukai konsep untuk 'memiliki status'."

Keduanya terdiam. Tidak ada satu dari mereka yang tak merasakan rasa malu, bahkan Taehyung merasa dirinya sendiri bagaikan seorang remaja manis yang beru mendapatkan balasan dari rasa sukanya setelah bertahun-tahun hanya dapat menyimpannya. Rasanya entah mengapa membahagiakan—ah, mungkin itulah mengapa Jungkook mengatakan dirinya akan memberikan dua kebahagiaan.

"Tanpa perlu mengatakan bahwa kau kekasihku atau sebaliknya, berjanjilah. Meskipun mustahil untuk diselamatkan atau ditemukan, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan satu sama lain."

Tanpa membuang waktu, si pemuda manis langsung menempelkan bibirnya ke bibir lawan bicaranya—atau mungkin sekarang dapat dikatakan kekasih tanpa status. Kedua lengan mereka saling melingkarkan pada dua bagian tubuh yang berbeda—Jungkook pada tengkuk Taehyung sedangkan Taehyung pada pinggang Jungkook.

Dapat terlihat uap di sekeliling kedua insan—sekarang memainkan lidah satu sama lain. Tak ada kata dominan maupun submisif diantaranya, hanya ingin saling merasakan satu sama lain tanpa perlu salah satu dari mereka merasa tersiksa akan kekurangan oksigen. Saling meneguk saliva yang telah bercampur tanpa merasa jijik sampai akhirnya Jungkook melepaskan lantunan suara basah itu. Mengambil napas sebanyak-banyaknya, menghasilkan pemandangan—cukup—erotis dengan wajah memerahnya, bibir setengah terbuka dan dada bergerak naik turun.

"Mungkin pada akhirnya akan tercerna tapi setidaknya dengan ini—walaupun sudah melakukan seks lebih dulu—cairan kita telah bercampur jadi penuhi janji sebelumnya. Apapun yang terjadi."

Betapa beruntungnya Taehyung dapat melihat senyuman tulus tersebut. Ia bahkan lebih terpesona dibandingkan ketika melihat lukisan terindah dalam sejarah karena tak ada yang dapat mengalahkan kecantikan pemuda di hadapannya. Obsidian hitamnya lebih berkilauan daripada emas sekalipun. Bibir plumnya lebih manis dibandingkan jutaan ton gula. Tidak ada yang salah dari Jungkook. Tak ada.

Pemuda manis itu mendekatkan kembali wajahnya, tersenyum kecil sebelum berbisik dengan suara hanya dikhususkan untuk pemuda di hadapannya, "Give me more kisses?"

Keduanya menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk berciuman sampai kincir ria tersebut mendekati permukaan tanah. Untuk pertama kalinya, tak ada kata nafsu dalam kontak fisik keduanya dan juga pertama kalinya rasa suka keduanya terbalaskan dengan baik.

.

.

Suara jelas pintu yang tertutup diikuti dengan helaan napas panjang. Mengacak-acak rambutnya sebelum berjalan untuk melemparkan dirinya sendiri ke atas sofa. Menatap cahaya putih dari lampu tepat di atasnya, tanpa disadari pipinya kembali memanas dan begitu pula dengan tubuhnya. Menutup wajahnya dengan lengan kirinya sembari menggigit bibirnya sendiri karena takut mengeluarkan teriakan akan pencapaiannya.

Maka sekarang ia dapat membaca sisa surat misterius saat itu.

Tangannya mengambil amplop yang diletakkan pada laci, setelah menemukannya ia kembali ke atas sofa. Sebelum mengeluarkan sisa kertas di dalamnya, Taehyung mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya dalam upaya menenangkan diri. Setelah mengeluarkan kertas yang lebih besar dari sebelumnya dan membuka lipatannya barulah matanya mulai membaca.

.

.

"Dengan kau membaca surat ini aku akan menganggap Jungkook menyatakan perasaannya, selamat. Mengapa aku memberikanmu selamat? Mendapatkan Jungkook, merupakan orang yang susah didapatkan merupakan pencapaian yang besar dan tubuh seksinya pun menjadi nilai plusnya. Baiklah, mari lupakan mengenai Jungkook dan mulai menceritakan seperti apa yang telah kutuliskan sebelumnya.

Mari kita memulai acara mengungkap misterimu dengan kronologi singkat. Aku bertemu dengan Jungkook pada musim semi tiga tahun lalu. Jungkook mengetahui ibunya meninggal secara kasar bulan Desember tiga tahun lalu. Kau tak sengaja melakukan malpraktik sekitar musim dingin tiga tahun lalu. Kau datang ke Korea Selatan berdasarkan data dari bandara dan lainnya sekitar musim semi setahun lalu namun baru memasuki universitas ini pada bulan Januari di tahun ini. Ingat semua kronologis singkat diantara kita bertiga.

Aku akan menjelaskan semua ini sesingkat dan sejelas mungkin.

Aku tidak berhubungan langsung dengan siapapun dari dunia gelapmu. Aku adalah orang ketiga dari dua orang yang memberitahukan nama samaranmu—BamBam dan Jackson. BamBam merupakan pemuda tunanetra yang kau kenal sebagai seseorang yang memberikan obat rahasia tersebut dan juga si penulis sebenarnya surat yang berakhir kepadaku. Namun bahkan sebelum ibu Jungkook meninggal sebenarnya dia telah melakukan bunuh diri. Jackson berperan sebagai mediator apakah dia harus memberikan surat BamBam kepadaku atau tidak.

Hanya ada dua kemungkinan:

Jika kau benar kabur ke Korea Selatan maka suratnya akan sampai di tanganku.

Jika kau tidak kabur ke Korea Selatan maka suratnya tak akan sampai di tanganku.

Tentunya sekarang kemungkinan pertamalah yang terjadi maka inilah yang terjadi. Aku menerima surat tersebut beberapa hari setelah Jungkook mendapatkan berika dukanya jadi aku bertemu dengannya saat mendapatkan berita tersebut tak ada hubungannya dengan siapapun atau apapun.

Selanjutnya, isi misi tersebut berisi untuk membuat hidupmu menderita jika aku benar bertemu denganmu atau setidaknya berada di negara yang sama. Sejak musim semi setahun lalu aku telah membuat banyak rencana untuk memberitahukan kepada dunia mengenai nama lainmu dan lainnya—namun tak kulakukan. Aku menunggu sampai kau benar-benar berada di dalam lingkungan yang sama denganku tetapi ketika aku melihat pertengkaranmu dengan Jungkook untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk menghiraukan misi itu.

Bagaimanapun keberadaanmu tak pernah aman sejak mengetahui terlalu banyak dari dunia gelap itu. Oleh karena itu, Jungkook yang termasuk mahasiswa hukum terbaik dalam satu negara ini mungkin dapat menyelamatkanmu andaikan kau mendapatkan masalah. Entah bagaimana caranya tapi aku percaya Jungkook dapat melakukannya. Melakukan semua cara, memprediksikan semua kemungkinan untuk membuat kalian berdua bersama. Tetapi tak kusangka Jungkook benar jatuh hati denganmu. Seakurat apapun perhitunganku, tetap saja hati manusia tak dapat kuprediksi…"

Menemui akhir dari kertas putih tersebut, Taehyung merasa matanya sangat kering seolah tak berkedip ketika membaca isi keseluruhan teks itu. Sedikit mengagumi kemampuan Yugyeom menjelaskan dengan singkat namun jelas—sangat jelas. Mungkin karena media yang digunakannya merupakan kata-kata tak bersuara sehingga ia tak dapat bertele-tele dalam menjelaskannya. Merogoh isi amplop dimana hanya terdapat satu kertas berarti itulah surat terakhir dari Kim Yugyeom.

"Materi selanjutnya—haha—adalah bagaimana kepergianmu mempengaruhi sekitar. Seperti yang telah kau ketahui, dunia gelap di Amerika Serikat terutama di dalam bidang pengobatan menjadi sedikit bermasalah meskipun pemerintah disana masih belum menyadari apapun. Banyak dari kalian semua kabur menuju negara kalian masing-masing. Mungkin mayoritas kalian tidak begitu dalam bahaya—hanya kau. Karena kau mengetahui informasi rahasia bahkan lebih banyak daripada orang yang bertugas menghapus infomasi.

Jika pemerintah Korea Selatan mengetahui keberadaanmu, mari berharap Jungkook akan menyelamatkanmu. Secara internal hanya itu pengaruh yang disebabkan olehmu, sisanya dapat kau perhatikan sendiri.

Ya! Dengan ini misteri bagaimana aku mengetahui namamu telah selesai. Aku—sudah mati 'kan? Jujur, aku terkadang tidak mengerti bagaimana dirimu sebenarnya Taehyung. Apa yang akan kau lakukan setelah itu? Setelah menyatakan kenyataan sebenarnya. Apapun, itu merupakan pilihanmu dan aku tak perlu mengatakan apapun.

Kim Yugyeom"

.

.

Tanda nama lengkap tersebut mengatakan bahwa surat itu berakhir. Tangannya menyimpan surat tersebut di atas meja, tangannya terasa tak bertenaga bukan karena mengalami shock akan informasi yang didapatkannya melainkan karena pertanyaan di akhirnya. Televisi di depannya memantulkan bayangannya—wajah lesunya, poni menutupi wajahnya dan bibir setengah terbuka. Punggungnya melengkung akibat posisinya yang disengaja dibungkukkan dan kedua lengannya beristirahat pada pahanya.

Apa yang akan dilakukannya setelah ini?

Meskipun tak ingin mengakuinya tetapi Yugyeom benar—apa yang akan dilakukannya? Dia tak pernah menginginkan untuk hidup lama dengan seseorang bahkan jika sempat ia akan berterimakasih jika seseorang membunuhnya. Entah mengapa tak ada beban terasa pada pundaknya, sungguh ringan rasanya. Seolah seluruh pencapaian yang diinginkannya telah tersampaikan.

"Bukankah kau akan berkorban untuk mencapai apa yang Jungkook inginkan?"

Sepertinya Taehyung telah kehilangan akal sehatnya saat mendengar suara tersebut, meskipun ia tahu ketika mendongakkan kepalanya ke arah suara tersebut berasal tak akan ada apapun disana.

Itu hanya suara hatinya.

"Korbankanlah semuanya, Kim Taehyung. Korbankan Kim Taehyung dan—V."

Bagaikan disiram oleh air dingin ketika tengah tertidur, perkataan sesat itu membuat tubuhnya menegang. Perlahan ia mengangkat kepalanya sedikit sampai setidaknya netra hazel-nya dapat melihat pantulan dirinya pada layar televisi. Secara hukum fisika, cermin hanya akan memantulkan benda nyata dan membiarkan benda tak nyata tak terbawa ke dalam hukum tersebut. Namun sekali ini, Taehyung melihat sesuatu yang selama ini tak dipercayainya.

Pantulan televisi memperlihatkan dirinya dipeluk erat oleh seseorang dari belakang, meskipun hanya dapat memeluk tengkuknya karena terhalangi oleh sofa. Anehnya—seseorang itu persis seperti dirinya, tanpa ada satu pun titik yang berbeda.

Kim Taehyung dan V.

.

.

Hanya membutuhkan beberapa minggu bagi keduanya berhubung keduanya memang diberkati dengan kepintaran yang berbeda ditambah dengan sifat rajin Jungkook yang selalu mengingatkan Taehyung untuk mengerjakan tugas akhirnya. Hari ini adalah hari setelah mereka dinyatakan lulus dan hanya perlu menunggu upacara kelulusan. Sidang mereka tidak akan berjalan dengan sulit, ingat, mereka menyandang nama mahasiswa terbaik dalam universitasnya.

Saat hari pemberitahuan kelulusan mereka tidak terjadi sesuatu yang spesial—sungguh. Mungkin hanya merayakannya bersama Seokjin dengan meminum minuman berkarbonasi karena keduanya menghindari alkohol meskipun sang kakak mengizinkan mereka. Mungkin terjadi sedikit kekacauan karena dua bersaudara Kim antara mabuk atau mengalami sugar rush malah berusaha untuk menciumi Jungkook. Tentunya terkadang kala Taehyung—dengan kalimat yang bahkan tak selesai atau terlalu cepat dikatakan sampai Jungkook pun tak dapat menangkap apa maksudnya—tak terima ketika si pemuda manis diciumi dan dipeluk oleh kakaknya sendiri.

Pada akhirnya malam itu Jungkook hanya menjadi boneka yang diperebutkan oleh dua pemuda dan hampir setiap menitnya kehilangan banyak oksigen.

Mengingat kejadian itu hanya membuat sakit kepalanya muncul kembali, ketika tangannya mengambil smartphone-nya—anehnya tak ada pesan yang masuk dari Taehyung. Ia mengerti bahwa urusan resmi mereka untuk bekerjasama telah selesai namun aneh sekali karena sejak lama Taehyung mengiriminya pesan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tugas akhir mereka seperti menanyakan mimpi yang dialami oleh Jungkook dan lain sebagainya. Berinisiatif untuk meneleponnya tetapi tak ada jawaban sama sekali.

Mencoba menelepon hampir puluhan kali pun tak ada jawaban, namun Jungkook tahu bahwa smartphone Taehyung setidaknya dalam keadaan menyala. Berpikir adanya kemungkinan dia berada di kampus maka Jungkook dengan kecepatan kilat bersiap-siap lalu pergi.

Berpikir untuk langsung menuju ruangan milik Seokjin karena adanya kemungkinan orang yang dicarinya berada disana tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar dua mahasiswi tengah berbincang.

"Kudengar tiba-tiba direktur menarik kelulusan Taehyung-oppa."

"Ehh? Bagaimana itu mungkin? Darimana kau mengetahuinya?"

"Saat aku berada di ruang dosen aku mendengar semua dosen membicarakannya."

"Tae-oppa kasihan sekali…"

Hanya ada satu perasaan di dalam dadanya sekarang—amarah.

Menghentakkan kakinya dengan keras menuju ruang direktur untuk meminta penjelasan meskipun itu hanya sedikit. Dia tidak percaya direktur brengsek itu menarik kelulusan Taehyung dengan seenaknya, padahal mereka baru dinyatakan lulus kemarin dan dia telah menariknya kembali? Jika itu candaan, Jungkook bukan akan tertawa malah akan memukul pria paling berpengaruh di universitas ini tanpa segan.

Tak memedulikan rasa sopan santun, ia langsung saja memasuki ruangan itu tanpa mengetuk. Si pemilik ruangan tengah terduduk di kursi dilapisi kain mahal tersebut dengan kepalanya tertunduk—menyembunyikan wajahnya.

"Jelaskan. Apa maksudmu menarik kelulusan Taehyung?" tanya Jungkook sedingin es.

Tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, ia melangkahkan kakinya untuk semakin dekat dengan meja khusus milik direktur tersebut.

"S-Saya—"

Kebingungan bukan main dengan bahasa formal dari sang direktur, kedua alis tebal Jungkook membentuk sudut miring dengan dahinya mengernyit heran. Kedua tungkainya berhenti tak jauh dari meja terbuat dari kayu mahal tersebut, menunggu untuk sang direktur membuka kembali bibirnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Namun yang didapatkannya adalah—

Tangan sang direktur mencari sesuatu di laci mejanya. Gerakannya kasar menghasilkan suara berisik dari kedua kayu yang bertemu dengan keras. Dan hasil dari kegiatan tersebut merupakan—sebuah pistol pada tangan kanan sang direktur. Jari telunjuknya telah siap untuk menarik pelatuk. Sebelum Jungkook sempat menghentikan kejadian selanjutnya, seolah dibius oleh obat tubuhnya berhenti bergerak ketika suara teriakan parau dari sang direktur terdengar.

Dilanjuti dengan suara tembakan.

Peluru telak melubangi otaknya, tak akan ada manusia yang dapat hidup setelah itu. Rintikan cairan merah terlepas bebas sampai mengenai dinding membuat wallpaper mahal tersebut menjadi sia-sia. Obsidian hitam Jungkook hanya terfokus melihat tubuh tak bernyawa milik sang direktur terjatuh pada tepi meja lalu terjatuh ke lantai dengan gerakan seperti boneka yang dijatuhkan—sama sekali tak ada penolakan atau apapun.

Napasnya tercekat pada ujung tenggorokannya begitu melihat wajah dengan ekspresi mengerikan terpasang pada direktur yang berwibawa dan tegas selama memimpin universitas ini. Matanya membulat sempurna seperti melihat hantu mengerikan sesaat sebelum menekan pelatuk dan mulutnya terbuka dilengkapi beberapa cipratan darah pada sudut bibirnya. Entah mengapa rasa takut muncul dalam dadanya, kepalanya berteriak untuk pergi dari tempat itu namun kedua tungkainya hanya terdiam dan bergetar seperti akan kehilangan keseimbangannya dalam sekejap.

Entah apakah itu hal buruk atau bukan, Jungkook berhasil menenangkan dirinya sedikit dengan adanya suara keluar dari speaker untuk memberitahukan mahasiswa yang dipanggil untuk segera menghadap ruang korseling. Meskipun tenang kembali akal sehatnya masih belum kembali sepenuhnya sehingga ia memilih melarikan diri dari ruangan tersebut, meninggalkan mayat dan dirinya adalah orang yang terakhir melihat sang direktur.

Sebuah keberuntungan besar tak ada darah yang terciprat kepadanya, tidak ada faktor lain yang membuat banyak orang kebingungan melihat wajah panik dari seorang Jeon Jungkook. Berjalan cepat menuju apartemennya, melupakan alasan mengapa ia pergi ke kampus karena otaknya lebih didominasi oleh rasa takut dan mual. Untuk sekian lamanya akhirnya Jungkook menggunakan lift, ia berpikir tak mungkin akan sampai pada apartemennya dengan kedua kaki lemasnya. Di dalam lift ia hanya bersandar pada dinding, berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya. Dengungan khas sebuah lift ditemani oleh napas berat—hanya itulah yang bersuara saat itu.

Berjalan lemas menuju apartemennya, kepalanya yang melihat ke bawah otomatis melihat sesuatu terselip pada kotak surat pintunya. Memasuki apartemennya, mengambil benda terselip tersebut—amplop putih. Sejujurnya Jungkook ingin menghiraukan amplop tersebut, dirinya tak ingin membaca apapun sekarang tetapi ketika membalikkannya lalu menemukan nama sahabatnya ia berpikir,

"…Harus membacanya…"

Mendudukkan bokongnya pada ranjang berantakannya lalu membuka isi amplop tersebut. Tak menyadari bahwa kenyataan yang ia ketahui selama ini bagaikan anak kecil mengetahui bahwa dibalik kostum pahlawan tersebut hanyalah manusia biasa.

"Jungkook. Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja setelah aku meninggalkanmu? Singkat cerita, Taehyung pun mendapatkan surat sama sepertimu namun sekarang aku tidak akan menceritakan mengenai kehidupan yang selama ini kau pikir. Apapun pilihan yang Taehyung buat, itu bukanlah masalah untukku. Namun, membiarkanmu tidak mengetahui apapun itu salah. Maka dengan itu aku akan menceritakan apa sebenarnya Taehyung."

Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, tangannya menurunkan kertas tersebut sedikit demi sedikit dengan berakhirnya setiap ujung kalimat. Obsidian hitam itu terlihat semakin memucat, menyadari dirinya selama ini ia sama sekali tak mengetahui apapun mengenai Taehyung—bahkan sama sekali tak mencoba untuk mengetahuinya. Tidak berpikir bahwa masa lalu Taehyung akan selalu menghantui keadaannya. Bulir-bulir cairan asin muncul di dahinya mengalir turun hanya untuk dihentikan oleh alis tebalnya. Setiap kalimat selesai semakin cepat detak jantungnya—juga perasaan buruk.

"Aku tidak perlu menjelaskan apa maksud semua surat itu, aku tahu kau akan mengerti hanya dengan aku mengatakan ini. Jika rencanaku berjalan dengan baik dan kau menerima surat ini menandakan bahwa—aku telah mati. Aku tidak memasuki universitas lain atau apapun, aku hanya meninggalkan dunia ini. Dan tak akan kembali lagi selamanya. Meskipun kau menangis sekalipun, Jung—"

Berkebalikan dengan apa yang dikatakan oleh pemuda itu dalam suratnya, pemuda yang kau maksudkan tidak menangis—pandangannya menggelap. Bagaikan robot mainan yang baterainya habis, seluruh sarafnya serasa mati, kepalanya terasa pening tak main bahkan hanya untuk menggerakkan bola mata seperti sesuatu yang sungguh sulit. Tubuhnya terjatuh ke sisi kanannya—menemui ranjangnya. Obsidian hitam—sekarang terlihat tak hidup menatap tangan kanannya di depannya, berusaha menggerakkan hanya satu jarinya namun gagal.

Entah apa yang terjadi, Jungkook bahkan tak ingat menutup matanya namun semuanya menjadi gelap. Gelap namun ia masih dapat merasakan kertas pada tangan kirinya terlepas lalu terjatuh ke lantai. Setelah itu—ia tak merasakan apapun. Hanya sesuatu seolah berbisik dengan sangat pelan kepadanya.

"Akulah yang akan mengorbankan segalanya."

.

.

To Be Continued

Teaser:

"Kau tak berguna lagi dan aku pun tak membutuhkanmu lagi."

"Russian roulette?"

"Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang."

"Menemukan dan menyelamatkan…."

"Aku tahu kamu tidak menyandang nama mahasiswa terbaik hanya karena nilaimu. Kau tak perlu merasa bahwa kau lemah karena tidak dapat mencegah Taehyung pergi, itulah pilihannya. Yang kau bisa adalah menyelamatkannya."

"Ingin melihatnya? Mayat temanmu itu?"

"Seperti apa yang diucapkan para perempuan, cermin adalah hati perempuan. Selalu perhatikan belakangmu."

Author's Note:

Yap! *tepuk tangan* Dengan chapter ini maka part satu Law & Order selesai~ End? Bukan~ maksudku part satu itu karena mayoritas dalam chapter sampai saat ini hanya difokuskan dengan Taehyung melihat Jungkook walau ada beberapa saat aku ngebuat dengan Jungkook melihat Taehyung tapi itu minoritas. Jadi part dua itu lebih fokus terhadap Jungkook melihat Taehyung. Kita sudah cukup melihat jenius dan hal lainnya dari Tae, sekarang giliran Jungkook~

Bagaimana semuanya? Confession scenenya? Jujur, ku sedikit kurang percaya diri karena kalo terus dibaca ulang rasanya kurang ngena (?) dengan ff lain tapi karena… Jungkook disini itu ga jujur dengan menyatakan rasa sukanya makanya ngegunain itu/?

Tak apa apa kan paragraf khusus isi surat dibuat dalam paragraf bentuk center?

Mungkin aku akan sedikit curhat disini mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan dunia nyata.

Mungkin aku ngebuat sang direktur bunuh diri waktunya kurang tepat ya berhubung banyak sekali orang bunuh diri sekarang. Dan bukan sok bijak dan kawan kawannya cuman—kalian jangan melakukan itu ya? Seberat apapun hidup, janganlah kalian menyerah. Kalau susah menemukan pegangan maka temukanlah pegangan, ingatlah masih banyak lagu bangtan (atau grup lain yang kalian suka) yang belum di rilis. Masih banyak momen, meskipun rasanya tak mungkin untuk bertemu dengan bias dan kecil kemungkinannya itu bukanlah 0, pertemuan antar manusia itu bukanlah sesuatu yang mudah dikatakan kemungkinannya 0 atau lainnya. Kalian yang sekolah SMP atau SMA semangat menjalaninya, meskipun sekarang sistemnya cukup aneh. Para senpai yang sedang kuliah atau menjalani masa skripsinya juga semangat~ meskipun aku mengatakannya tanpa mengerti masa skripsi tapi semangatlah~ hwaiting~ kalian semua mau itu readers, author lain tolong bersemangatlah menjalani hidup aku selalu menyemangati kalian~

Bukan sok bijak tapi—dengan mungkin dikatakan sok bijak sekalipun jika kata-kataku setidaknya teringat di otak kalian itu udah cukup kok. Kalo bisa mah aku kasih pelukan satu-satu biar ngerasain kalo ga semua hal di dunia itu buruk/kaya ada yang mau aja

Lalu—

TERIMAKASIH BANYAK ATAS SEMUA REVIEW, FAVORITE BAHKAN FOLLOWNYA KALIAN SEMUA. TIDAK ADA YANG BISA MENGGANTIKAN RASA BAHAGIAKU MELIHAT ADA ORANG YANG MENYUKAI CERITAKU *bow* *nangis bahagia*

Aku benar-benar menghargai semua review kalian dan kalo perlu penyemangat selalu ku membaca semua review kalian lagi~ sumpah ku sangat bahagia setiap kali ada pemberitahuan gmail dari fanfiction. net. Aku akan lebih berkembang lagi! Membuat banyak cerita dengan styleku dan ini permintaanku kepada reader dan juga author lain, jika aku meninggalkan satu ff dengan alasan karena ga mood atau ga tau ceritanya bagaimana tolong kirim virtual tabok ke saya :")

SUATU SAAT AKAN KU SEBUT KALIAN SATU SATU TAPI DI AKHIR FF INI AJA YA :")

Baiklah, chapter selanjutnya memulai sesuatu yang baru~ terimakasih telah membaca author's note penuh bacotku. Oh dan maafkan jika ada kesalahan terutama tentang lotte world ku ga terlalu banyak melakukan research….

Mari kita bertemu lagi di chapter selanjutnya~

M.Y