HunHan

Sehun — Luhan

BoysBeforeFlowers!AU

F4!AU

Yaoi!

.

Enjoy^^

.

.


Berpikir jika tidak mungkin membawa Luhan ke kamarnya sendiri dengan anak itu yang dalam keadaan teler seperti ini, Sehun memutuskan jika ia hanya akan membiarkan Luhan tidur di tempat tidurnya lagi seperti tadi siang.

Luhan terus menggumamkan omong kosong sepanjang perjalanan menuju tempat tidur ketika Sehun berhasil mengangkatnya dari sofa dan menggendongnya dengan gaya pengantin. Tubuh mungilnya meringkuk di dada Sehun sementara tangan kecilnya terkepal di depan hidungnya seperti bayi.

"Sekarang saatnya tidur untukmu anak kecil," kata Sehun setelah membaringkan Luhan di tempat tidur. Dia menarik selimut mentutup tubuhnya, kemudian menatap anak itu yang masih melindur dan menggumam tidak jelas. Luhan belum benar-benar tidur meski matanya tertutup.

Itu membuat Sehun tersenyum melihat betapa imutnya Luhan, dan seketika ingatan sore ini terlintas di kepalanya.

Luhan yang berteriak panik karena terbangun di tempat asing, sangat merepotkan dan berisik. Tapi tentu itu juga lucu dan rasanya sepadan dengan apa yang ia dapat hari ini karena dengan itu ia bisa melihat wajah tertidur si mungil yang menggemaskan dan damai seharian.

Kai benar. Otak terkadang bisa lebih membantu daripada otot. Sehun bersukur mendengarkan sahabatnya itu dan lebih memilih mencari tahu kebenarannya lebih dulu daripada segera menyakiti Luhan untuk balas dendam karena mengira anak itu memang sengaja mempermainkannya.

Jika ia tidak tahu Luhan terpaksa menolaknya lagi karena keadaan, entah apa yang mungkin ia lakukan pada si mungil ini. Sehun selalu tidak terkendali jika merasa benar-benar marah. Itulah apa yang terjadi padanya ketika Luhan untuk pertama kali menolaknya. Ia menyakiti Luhan, membuatnya menangis setiap hari, dan dianggap sampah oleh semua orang karena dirinya.

Sehun menyesali itu sekarang dan hari ini ia bersumpah jika ia tidak akan menyakiti Luhan lagi atau membiarkan seseorang menyakitinya dan membuatnya dianggap sebagai sampah.

Luhan berharga untuknya dan Sehun berjanji akan melindunginya dari kekejaman dunia.

Tangannya terulur kemudian mengusap pipi Luhan yang terasa begitu halus melawan jari-jarinya. Itu sekarang merah muda, efek dari Luhan yang kebanyakan minum alkohol.

Dia menghabiskan satu botol Chateau d'Yquem hanya seorang diri. Anggur mahal dengan kadar alkohol tinggi dan berumur puluhan tahun yang satu botolnya bahkan lebih dari harga satu buah mobil.

Semua pecinta anggur akan sangat hati-hati ketika meminumnya, membiarkan cairan berharga itu perlahan menyengat di tenggorokan guna menikmati setiap detik sensasi yang dihasilkan.

Yah, tapi Luhan bukan pecinta anggur lagian. Jadi Sehun merasa maklum ketika melihat anak itu meminum anggur mahal ini seperti meminum soju murahan di pinggir jalan.

"Sehun~"

Luhan tiba-tiba memanggil namanya dengan suara halus dan lembut, menyadarkan Sehun dari lamunan randomnya.

Entah sejak kapan anak itu sudah membuka mata dan berbaring miring dengan satu tangan menopang kepalanya. Ia menatap Sehun dengan mata mengantuknya yang...oh demi Tuhan, itu tampak benar-benar sensual dan menggoda.

Untuk beberapa saat Sehun berpikir jika Luhan tampak seperti salah satu model gay submisif pada majalah gay dewasa.

Ia melihat anak itu tertawa lepas kemudian, dan jika saja ia tidak tahu Luhan sedang mabuk, Sehun sudah tentu akan menganggapnya tidak waras karena merasa tidak ada apapun yang lucu disini yang patut ditertawakan.

"Sehun, kau itu sangat tampan, kau tahu?" kata Luhan dengan suara melindur.

"Oww, tentu saja aku tahu." Sehun tersenyum bangga, meski ia tahu Luhan tentu tidak sadar dengan apa yang dia katakan.

"Tapi sayangnya kau menyebalkan dan brengsek! Kau juga arogan dan seenaknya! Orang paling sombong yang pernah aku kenal!"

"Oh?" sahut Sehun sederhana.

"Dan aku tidak tahu kenapa aku harus menyukai orang seperti itu!" Luhan cemberut tidak suka dan itu membuat Sehun tersenyum akan kejujurannya. "Aku bahkan tidak bisa tidur beberapa hari ini karenamu, sialan!"

Luhan takut tidak bisa melihat Sehun lagi dan itu sangat mengganggu pikirannya hingga ia sulit untuk terlelap.

Ia menangkup wajahnya yang memerah dengan tangannya sendiri dan mulai mendesis aneh. "Oh, pokoknya ini salahmu kalau tumbuh jerawat di wajahku!"

Sehun tertawa melihat gestur lucu anak itu. "Itu normal," katanya. "Semua orang menyukaiku juga Luhan, dan kau harusnya bersukur menjadi satu satunya orang yang rasa sukanya terbalas olehku."

Luhan mendongak melihat Sehun dan berkedip. "Begitukah?"

"Ya," jawab Sehun tanpa keraguan sedikitpun. "Aku menyukaimu—oh bukan, aku mencintaimu dan posisimu sekarang adalah disini." Ia menunjuk dadanya, tempat dimana jantungnya berdetak. "Satu-satunya, tidak ada yang lain."

Luhan mendengus. "Gombal!" Dan tertawa lagi setelah itu.

"Aku serius,"

"Oh?"

"Apa?"

"Kenapa aku?" tanya Luhan.

Itu adalah apa yang selalu Luhan ingin tahu. Kenapa dirinya? Dari sekian banyak orang yang menginginkan Sehun yang tentu jauh lebih baik dari Luhan, kenapa Sehun memilih dia. Tidak ada sesuatu yang spesial dari Luhan yang bisa menjadi daya tariknya. Dia bodoh dan dia juga merasa jelek. Luhan juga tidak pintar dan kadang sangat ceroboh. Dia juga cengeng dan lemah.

"Kenapa kau?" Sehun mengulang, kemudian berpikir seraya berdecak. "Entahlah," katanya. "Terkadang tidak ada sesuatu yang benar-benar menjadi alasan kenapa kau mencintai seseorang."

Benar. Luhan juga tidak tahu kenapa dia mencintai Sehun sementara Sehun bukanlah sosok pangeran yang selama ini dia bayangkan untuk menjadi pasangannya. Sehun memang tampan seperti pangeran, tapi dia tidak baik hati seperti pangeran seharusnya.

"Oh Tuhan." Luhan menangkup wajahnya lagi yang tiba-tiba semakin terasa panas.

"Kenapa? Terlalu berlebihan untukmu?"

Luhan mengangguk. "Tidak ada yang benar-benar pernah mengatakan itu padaku,"

"Senang jadi yang pertama." Aku juga baru pertama kali mengatakan hal gombal seperti ini pada seseorang. Jujur Sehun dalam hati, dan ia terkekeh pada pemikirannya.

"Ough, jantungku melompat-lompat, dan rasanya seperti mereka akan melompat keluar sebentar lagi." Luhan menggigit bibir dan meringkuk menekan dadanya dengan kedua tangannya, untuk berjaga-jaga jika jantungnya melompat keluar sewaktu-waktu.

"Ayolah Luhan, tidak mungkin seperti itu." Sehun memutar mata.

Luhan tiba-tiba bangun dan duduk bersila di tempat tidur. Tubuhnya condong ke depan dengan wajah hanya satu inci dari wajah Sehun, membuat Sehun bisa dengan jelas melihat betapa panjangnya bulu mata Luhan yang bergerak ketika anak itu berkedip. Juga bulu halus kulitnya yang mistahil terlihat dari jauh.

Sehun juga bisa merasakan deru napas halus Luhan. Itu kini berbau alkohol, namun untuk beberapa alasan masih terasa begitu manis.

"Oh Sehun?"

"Ya?"

"Kau seperti Prince Charming,"

"Oww." Sehun mengangkat alis. "Apa?" Ia tidak mengerti. Apa Luhan baru saja menyamakannya dengan tokoh pangeran di dongeng cengeng anak-anak perempuan?

"Ya, kau sangat tampan seperti Prince Charming," kata Luhan menjelaskan.

Sehun menatapnya tidak percaya. Bagaimana mungkin Yang Mulia Oh Sehun disamakan dengan gambar kartun. Ia tidak terima tapi Sehun tetap tertawa. "Kau juga sangat cantik," balasnya. "Dan omong-omong kau baru mengatakan aku tampan beberapa menit lalu Luhan." Ia mengingatkan.

"Aku mau mengatakannya lagi memang tidak boleh?" Luhan cemberut.

"Oh, terserah."

Sepertinya Luhan adalah tipe pemabuk yang akan berkata jujur tentang bagaimana perasaannya, dan akan mengatakan atau melakukan hal-hal yang tidak berani dikatakannya atau dilakukannya jika sadar.

Sehun mengambil kesimpulan seperti itu karena kemudian ia melihat Luhan melakukan hal yang rasanya mustahil dilakukannya jika sadar.

Anak itu mengikis jarak yang tersisa diantara mereka dengan menyatukan bibirnya dengan Sehun. Hanya kecupan kecil yang tidak lebih dari lima detik, namun hal itu sudah mampu membuat mata Sehun melebar dan terkejut di tempatnya.

Sehun tahu, ini hanya karena Luhan mabuk sehingga anak itu berani melakukan hal impulsif seperti ini. Tapi meski begitu, ia tetap bertanya ketika Luhan telah menjauhkan wajahnya tanpa sedikitpun merasa canggung—seperti seharusnya seseorang yang tiba-tiba mencium orang lain rasakan.

"Apa ini?" Sehun menempatkan kedua tangannya di sepasang bahu sempit Luhan.

Dan anak itu menjawab dengan sederhana. "Aku butuh ciuman untuk memastikan jika ini bukan mimpi."

Sehun mendenguskan. "Kau hanya mencari-cari alasan, bilang saja kau ingin menciumku,"

"Memang iya," jawab Luhan jujur. "Dan juga memastikan kalau ini bukan mimpi."

Sehun tertawa akan kepolosan Luhan. Itu seperti ia tengah berhadapan dengan seorang yang berbeda—bukan Luhan yang pembangkang, sok kuat dan keras kepala seperti yang dia kenal. Luhan benar-benar tipe pemabuk yang mengkhawatirkan. Dia berubah dari seorang yang sok jual mahal menjadi seorang yang terlalu agresif dan murahan ketika mabuk.

Dan Sehun hanya akan menjadi orang paling bodoh jika menyia-nyiakannya.

"Baiklah. Kalau begitu biarkan aku membantumu percaya jika ini bukan mimpi."

Kemudian setelahnya, tangan Sehun berpindah menangkup wajah Luhan dan menghujaninya dengan ciuman, mengahasilkan tawa renyah anak itu yang terdengar begitu manis. Luhan menghentikan tawanya hanya ketika ciuman Sehun sampai di bibirnya dan berhenti disana. Sehun tidak pernah bosan dari merasakan tekstur lembut bibir Luhan.

Kemudian entah bagaimana kini si mungil telah berpindah ke pangkuan Sehun. Berusaha keras mengimbangi ciuman si pria dominan dengan sedikit terlalu bersemangat, meski akhirnya tetap tidak berhasil. Sehun adalah si pendominasi, dan itu adalah mutlak.

Luhan memeluk leher Sehun sementara Sehun semakin menarik pinggang Luhan. Membuat tubuh mereka semakin menempel dan kelamin mereka yang setengah mengeras saling menekan. Luhan mengerang dan ciumanpun terlepas setelah itu.

Keduanya terengah-engah, berlomba-lomba meraih udara. Wajah Luhan yang memerah semakin memerah, dan itu tampak lucu untuknya. Kemudian anak itu tertawa lagi, entah menertawakan apa.

Penasaran, Sehun bertanya. "Kenapa kau tertawa?"

"Karena aku senang," jawabnya.

Sejak melihat Sehun lagi hari ini, tidak ada yang ia ingingkan selain mencium laki-laki itu. Dan itu terjadi sekarang. Jadi Luhan sangat senang. Dan efek alkohol yang tengah menguasainya kini membuat Luhan tidak bisa menyembunyikan emosinya sebagaimana yang selalu ia lakukan ketika sadar. Jadi, dia tidak menahannya dan mengekspresikan kegembiraannya itu dengan tawa.

"Ahh!" Luhan memekik terkejut ketika tiba-tiba tangan Sehun masuk ke celananya dan meremas miliknya yang kecil dan setengah mengeras. Itu sepenuhnya mengeras sekarang setelah Sehun memompanya berkali-kali dengan Luhan yang terus merengek karena rangsangan.

"Kau selalu responsif, apa kau senang aku melakukannya?" Sehun bertanya, dan mendapat anggukan Luhan sebagai jawaban.

Jika sadar Luhan mungkin akan menolak mengakui itu dan berusaha menghajar wajah Sehun karena melakukan hal tidak sopan seperti ini padanya.

Itu sangat sering Luhan lakukan dulu meski jarang sekali berhasil melawan kekuatan Sehun dan hanya berakhir dengan ia yang menyerah sambil berusaha menahan desahannya ketika Sehun dengan kurang ajar memberinya handjob di satu sudut sekolah.

Dulu Sehun melakukan itu untuk menggoda Luhan. Memberi ia pelajaran karena sudah menolaknya dan membuat anak itu tersiksa dengan ia yang selalu sengaja tidak pernah menyelesaikan sampai akhir apa yang dia mulai.

Namun yang menyedihkan saat itu, meski Sehun telah berhasil membuat Luhan tersiksa karena klimaksnya yang tertahan, pada akhirnya dia juga ikut tersiksa karena terangsang akan desahan tertahan Luhan, dan wajah horny anak itu yang begitu sensual.

Sehun selalu berakhir di kamar mandi dan bermain sendiri seraya membayangkan Luhan setelahnya.

Kepala Luhan terkulai di bahu Sehun dan ia terengah-engah sementara memeluk leher pria itu sambil memohon. "Kumohon, kali ini lakukan sampai selesai Sehun."

.

Sehun tahu pasti, Luhan akan sangat terkejut ketika mendapati semua tanda di tubuhnya. Atau bagaimana seluruh persendiannya terasa sakit ketika terbangun esok di pagi hari tanpa ingatan apapun tentang malam ini (Karena begitulah cara kebanyakan alkohol bekerja).

Sehun tahu persis hal itu seratus persen akan terjadi.

Tapi sekali lagi, siapa yang peduli?

Luhan menginginkannya dan Sehun juga. Bahkan untuk Sehun itu sudah sejak lama. Jauh sebelum hari ini tiba. Sehun menginginkan Luhan dalam jumlah banyak dan tidak masuk akal. Ia seringkali berfantasi liar tentang anak itu dimana ia membayangkan Luhan dengan suka rela telanjang di bawahnya dengan kaki melingari tubuhnya sambil memohon dan mendesahkan nama Sehun—menginginkannya berada di dalam dirinya segera.

Sehun begitu menginginkan Luhan sampai di titik dimana ia tidak peduli meski ia mengacaukan Luhan ketika anak itu tidak sadar.

Dan itulah apa yang terjadi sekarang.

Luhan kini terbaring di bawahnya, telanjang dan putus asa menginginkan Sehun. Bisa dibilang segala fantasi liarnya sekarang telah menjadi kenyataan.

Tangan Sehun bergerak menyusuri tubuh telanjang Luhan. Berpikir segala tentangnya adalah keindahan yang memang sengaja dibuat hanya untuknya.

Tubuh Luhan begitu halus, sempurna dan kecil. Seolah seseorang telah memahatnya dengan penuh kehati-hatian, juga dengan ukuran yang pas untuk Sehun.

Puting Luhan merona dan membengkak minta perhatian dan Sehun menghisap itu. Ia mendapatkan suara manis Luhan yang merengek putus asa sebagai gantinya, meminta Sehun untuk tidak berhenti.

"Ahh!" Luhan mengerang keras. Seketika kepalanya terdongak nyaris tenggelam pada bantal, dan tubuhnya melengkung seperti busur dengan rusuk tercetak jelas, menandakan betapa kurusnya dia ketika jari Sehun yang sudah terlumuri cairan licin bermain-main menggoda lubangnya. Itu sekarang berkedut, menjerit ingin di masuki.

"Sehun, kumohon Sehun."

Luhan merengek putus asa. Jari-jari kakinya tertekuk dalam gairah, sementara tangannya mencengkram bantal di sisi kepalanya terlampau erat. Ia membuka kaki kecilnya lebar-lebar, memohon jari Sehun untuk segera masuk.

"Ini akan sangat menyakitkan Luhan, apa kau bisa menahannya?"

Luhan mengangguk. "Aku akan baik-baik saj—ahh," Dia menjerit di akhir kalimatnya karena Sehun segera mendorong jarinya masuk tanpa pemberitahuan. "Brengsek! Ohh! ohh!" Luhan mengumpat dan menangis karena rasa sakit. Ini adalah yang pertama untuknya.

Sehun terus memasukan jari kedua dan ketiga, tidak peduli akan umpatan dan tangisan Luhan yang semakin keras. Ini hanya sementara lagian.

Luhan merasa lubangnya akan robek sebentar lagi ketika Sehun mulai bergerak seperti menggunting di dalam sana. Namun tentu saja itu tidak akan dan si mungil berakhir tenang beberapa saat kemudian. Tangisannya berubah menjadi erangan kenikmatan ketika jari Sehun berhasil menemukan prostatnya dan menekannya berulang kali.

Itu terasa baik dan luar biasa menyenangkan untuk Luhan. Namun meski begitu hal itu belum cukup untuk membuatnya klimaks. Luhan benar-benar ingin merasakan pelepasannya karena sentuhan Sehun bukan karena tangannya sendiri, sejak laki-laki itu tidak pernah menyelesaikan apa yang dia mulai dan hanya meninggalkan Luhan dalam kefrustasian hingga ia terpaksa menyelesaikannya sendiri di kamar mandi sekolah yang rentan dan memungkinkan siapapun mendengar desahannya.

"Ouh!" Luhan mengigit bibirnya, matanya tertutup dalam kesenangan. "Kumohon lebih cepat." Ia memohon, namun alih-alih merasakan Sehun menggerakan jarinya lebih cepat sesuai yang dia inginkan, Luhan malah merasakan jari Sehun di tarik keluar. Ia merengek karena kekosongan.

Demi Tuhan, Luhan butuh klimaksnya sekarang juga.

Ia hampir mengumpat ketika merasakan kakinya di angkat kemudian di kaitkan pada pundak Sehun. Dan tanpa mengatakan apapun lagi, si pria dominan mendorong miliknya masuk dalam sekali hentakan, membuat si mungil di bawahnya tersentak dan menjerit. Ini bahkan lebih sakit dari sebelumnya dan Luhan berpikir kali ini lubangnya benar-benar robek.

Luhan menangis sementara Sehun mengerang, merasakan betapa hangat dan ketatnya Luhan menjempit dirinya. Ia berusaha keras menahan diri dari bergerak dan menumbuk Luhan dengan keras saat itu juga.

Ini adalah pertama kalinya untuk si mungil, dia tentu ia belum terbiasa dengan rasa saki, dan Sehun lebih dari bersedia untuk bersabar dan melakukannya selembut mungkin. Ia menunggu Luhan menyesuaikan diri dengan ukurannya, dan sementara dia menunggu, Sehun kembali menghujani wajah kesakitan anak mungil di bawahnya seraya berbisik; 'aku mencintaimu' dan 'maafkan aku' berulang kali. Ia juga berjanji pada Luhan jika ini akan lebih baik nanti.

Luhan menggerakkan pinggulnya setelah beberapa saat, mengisyaratkan Sehun untuk memulai. Laki-laki itu melihat anak di bawahnya sesaat untuk konfirmasi dan Luhan mengangguk.

Keduanya mengerang dengan suara Luhan yang tentu saja lebih mendominasi seiring pergerakan Sehun yang semakin cepat dan cepat menumbuk titik nikmatnya. Tubuh mungil Luhan terhentak-hentak di atas tempat tidur semetara kakinya yang terlingkar di tubuh Sehun ikut bergerak bersamaan dengan pergerakan laki-laki itu. Tangan Luhan memucat akibat ia yang terlampau erat mencengkram seprai di bawahnya.

Ini adalah sensasi yang baru pertama kali Luhan rasakan dan rasanya...oh, luar biasa. Ia merasa seolah dia berada di suatu tempat entah dimana yang bukan di planet ini.

"Sehun! Sehun!" Luhan menjeritkan nama Sehun dengan putus asa dan terengah-engah ketika merasa isi perutnya di aduk-aduk. Pandangannya memutih pertanda ia akan sampai tak lama lagi.

Luhan mengejang akan keinginannya untuk keluar. Dan ketika ia merasa sudah berada di tepi, siap terjun dalam jurang kenikmatan yang Sehun berikan, pria itu menghentikan pergerakannya tiba-tiba dan menarik miliknya keluar.

"Tidaaak~~" Luhan menjerit frustasi kemudian meraung dalam tangis keskitan. Sehun melakukannya lagi. Si brengsek Oh Sehun melakukannya lagi, dan Luhan bahkan tidak bisa berpikir apalagi memiliki kekuatan untuk menghajarnya.

Sehun kembali menghujani wajah Luhan dengan ciuman dan mengusap sepanjang perut licin berkeringat anak itu sambil menghitung jumlah rusuknya yang tercetak jelas. Ia membalikan tubuh mungil Luhan dengan mudah hingga tengkurap setelahnya, menciptakan pekikan terkejut Luhan disusul erangan nikmat ketika tempat tidur di bawahnya menekan ereksinya.

Namun hal itu tak berlangsung lama karena Sehun segera menarik pinggul Luhan, membuatnya menungging dan menyatukan kembali tubuh mereka.

"Ahh!"

Keduanya mengerang. Sehun kembali bergerak dengan tangannya yang kemudian meraih ereksi Luhan dan mengocoknya seirama dengan tumbukannya di dalam Luhan. Itu membuat si mungil frustasi dan merasa semakin dekat dan dekat. Sampai kemudian...

"Sehun! Sehun! Seh—aahh."

Luhan sudah tidak lagi di bumi.

Ia melemas seketika setelah pelepasannya di tangan Sehun, membuat Sehun harus menahan pinggulnya agar tidak jatuh.

"Brengsek! Luhan—argh."

Sementara Sehun menggeram merasakan dinding Luhan semakin mencengkramnya ketat setelah anak itu sampai. Ia menunbuk Luhan dengan cepat dan keras, kemudian sampai di sepuluh detik setelahnya. Luhan melenguh lemah diantara kesadarannya yang semakin terkikis merasakan lubangnya begitu penuh.

Mereka berdua ambruk dengan Sehun menindih Luhan segera setelah Sehun menarik dirinya keluar dan melepaskan pinggang Luhan.

"Astaga Luhan, kau luar biasa," kata Sehun sementara ia mulai menjilati punggung berkeringat Luhan.

Kenyataannya ia belum sepenuhnya puas dan ingin mengulang ronde kedua. Tapi ia melihat Luhan sudah tampak kelelahan dan Sehun lebih dari bersedia untuk menekan gairahnya malam ini demi Luhan.

Bagaimanapun Luhan adalah yang lebih penting.

Si mungil tiba-tiba terkekeh lembut dan itu berhasil menghentikan pekerjaan iseng Sehun. Ia melihatnya dan menemukan Luhan tengah menunjukan cengiran polos.

"Rasanya hebat." Ia berkata. "Sehun, ayo kita melakukannya lagi nanti," katanya melindur sebelum akhirnya menghela napas panjang dan benar-benar tidak sadarkan diri.

"Tentu saja, kita akan melakukannya lagi." Sehun tersenyum mengusap dahi Luhan dan menempatkan ciuman disana. "Secepatnya." Ia menjawab meski tahu Luhan tidak akan bisa mendengarnya karena ia sudah jauh terlelap.

Mungkin.

Atau mungkin juga tidak karena ia melihat dahi anak itu tiba-tiba berkerut kemudian ia melenguh tidak nyaman.

"Sehun..." Si mungil memanggilnya masih dengan suara yang melindur dan mata yang tertutup.

"Hmmm?"

"Tubuhku rasanya lengket semua..." Ia merengek. "Sangat tidak nyaman."

Sehun beranjak dari posisinya di punggung Luhan. Terduduk di sisi tempat tidur dan menyaksikan Luhan bergerak merubah posisinya jadi merungkuk seperti bayi baru lahir—benar-benar seperti bayi baru lahir, karena dia sepenuhnya telanjang.

"Tidak apa, aku yang akan membersihkanmu, kau tidur saja lagi sana."

"Ung..." Luhan mengangguk dalam tidurnya dan Sehun berdiri untuk menyiapkan handuk basah juga mengambil salahsatu kemejanya di lemari untuk Luhan.

Sehun menyelimuti anak itu kembali setelah ia selesai membersihkan tubuhnya dan memakaikan kemeja miliknya yang kebesaran untuk si mungil. Ia mencium dahi Luhan, berkata 'selamat tidur' dan 'aku mencintaimu' sebelum kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.


.

.

.


Maaf jika ini gak sesuai ekspektasi kamu. Ini udah dirombak entah berapa kali, dan maaf kalo masih berasa aneh. Biasanya nulis nyerempet aja sementara ini sok soan mau ngejelasin dari awal ampe akhir. Pfffttt

Terimakasih sudah membaca tapinya^^

Sampai jumpa minggu depan^^

.

.

.

.

520!