Itachi melangkah memasuki sebuah kastil besar yang berada di tengah hutan barat Ondergrondse, pemuda itu menajamkan tatapannya saat menyusuri lorong koridor kastil tempat dia harus menemui seseorang. Itachi mulai memelankan langkahnya saat hampir sampai di tempat tujuannya, di depan sana terdapat sebuah pintu besar yang menghubungkan ruangan tempat pertemuannya dengan orang itu, terlihat ekspresi Itachi mengeras saat merasa tujuannya sudah dekat, dan pintu itu pun terbuka perlahan saat Itachi sampai di depan pintu tebal itu, mempermudah aksesnya untuk segera masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap di dalam sana. Kedua mata onyx Itachi langsung tertuju pada sosok berambut pirang panjang yang duduk di singgasananya di depan sana, dan tatapan pemuda itu pun menajam saat melihat seringai tipis tersungging di bibir sosok itu.
"Akhirnya kau datang juga My Knight!" sosok itu mulai berdiri dari duduknya.
"Kheh! Sayang sekali aku bukan milikmu dan tidak berminat untuk menjadi kesatriamu!" sahut Itachi langsung dan otomatis membuat seringai di bibir sosok berambut pirang itu lenyap.
"Tidak! Kau salah Itachi, aku akan menjadikanmu kesatriaku!" kata sosok itu dengan wajah angkuhnya.
"Aku kemari hanya untuk memastikan kalau kau tidak akan mengusik Ino lagi, aku sama sekali tidak berniat untuk berada di pihakmu!" kata Itachi yang mulai waspada.
"Ooooh…sebegitu pentingnyakah gadis itu bagimu hn? Dia bahkan hanya seorang half yang tidak mengerti posisinya kheh!" cibir si pirang sambil menyentakkan jubahnya ke belakang.
"Benar, dia sangat penting bagiku dan kau yang masih berhubungan darah dengannya seharusnya tahu juga posisimu!" balas Itachi yang membuat sosok pirang itu menatap tajam ke arah Itachi.
"Kau hanya takut kalau dia akan merebut posisimu karena dia keturunan Ushiromiya kan? Kheh menggelikan!" lanjut Itachi yang membuat sosok di depannya mengeraskan ekspresi wajahnya.
"Aku tak pernah menganggapnya bagian dari darah Ushiromiya, dan aku tak pernah takut akan keberadaannya!" sentak sosok pirang itu.
"Dia hanya seorang half yang takkan pernah bisa menduduki posisi paling tinggi di Ushiromiya!" lanjutnya terlihat sarat akan emosi dan kecemburuan.
"Bagaimanapun kau menyangkalnya, dia tetaplah bagian dari Ushiromiya!" seringai mulai muncul di bibir Itachi saat melihat sosok di depannya mulai gusar.
"Aku akan melenyapkannya,"
Itachi terbelalak saat tiba-tiba sosok itu sudah berada di belakangnya.
"Dengan caraku sendiri!"
PYASH!
Itachi melompat menghindari serangan sosok itu, namun sial baginya karena dia mendarat di sebuah pentagram besar yang tiba-tiba muncul di bawah kakinya.
"Kheh kau…sudah merencanakan semua ini?!" desis Itachi yang kini tak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.
"Khekhekhe kau benar sekali, aku akan menghancurkannya lewat dirimu Itachi Uchiha!"
Dan pentagram di bawah kaki Itachi bersinar kemerahan saat sosok berambut pirang itu meneteskan darahnya di atas simbol besar itu, dan perlahan huruf-huruf kuno yang tertulis dalam simbol itu terserap ke dahi Itachi.
Burung-burung malam beterbangan melarikan diri saat merasakan getaran dari bawah tanah dan suara jeritan kesakitan sang sulung Uchiha juga suara tawa kemenangan dari sosok berambut pirang yang tengah memerangkap Itachi itu.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Terimakasih untuk kalian yang sudah bersedia membaca, mereview, menyukai dan mengikuti fic ini hingga sekarang, thanks juga buat para silent reader kalau ada. Saya sangat menghargai apapun apresiasi kalian terhadap fic ini.
Here you go!
Black Pearl Exorcist
Sebelumnya di Black Pearl Exorcist:
Ino yang terbangun dan tak mendapati Sasuke di sisinya mulai mencari keberadaan pemuda itu, dia berinisiatif untuk menelusuri koridor Istana Uchiha untuk menemukan keberadaan kekasihnya, namun dia justru menemukan fakta yang menyakitkan mengenai Itachi yang merupakan kakak Sasuke. Kini Ino dan Sasuke sedang mengalami dilemma menyangkut perasaan mereka.
Chapter VIII
=Awaken By Blood=
Angin malam berhembus perlahan menyibakkan tirai hitam yang menggantung di atas jendela besar yang terbuka lebar dan terhubung ke arah balkon. Kedua sosok yang berada di dalam ruangan itu masih terdiam dalam keheningan, suara isak tangis yang sebelumnya mendominasi pun kini telah lenyap digantikan oleh suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin malam, posisi mereka yang awalnya menjaga jarak kini telah berganti degan salah satu di antara mereka mendekap pasangannya.
Beberapa saat lalu ketika Ino sudah mulai memelankan isak tangisnya, Sasuke mulai memberanikan diri untuk mendekat dan menarik gadis itu dalam dekapannya, meskipun Ino sama sekali tak membalas namun gadis itu juga tidak menolaknya, kedua tangan Ino tetap menggantung di kedua sisi tubuhnya, dia sama sekali tak berniat untuk menggerakkan keduanya untuk mendorong atau membalas pelukan Sasuke. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya, Sasuke tak tahu harus berkata apa saat ini sedangkan Ino sama sekali tak ingin membuka suara karena tenggorokannya masih terasa kelu setelah mengetahui kenyataan tentang hubungan darah antara Itachi dan Sasuke.
=Black Pearl Exorcist=
Srek…srek…srek…
Suara langkah kaki Neji yang bergesekan dengan rumput hutan terdengar jelas dalam keheningan malam itu.
Neji yang meninggalkan acara pertunangan Sasuke dan ino itu tak juga berniat pulang ke kastilnya, dia malas menunjukkan wajah kusutnya saat itu pada sang ayah yang sudah memberikan kepercayaan padanya untuk mendatagi acara Uchiha, tentu dia tak ingin sang ayah kecewa padanya karena pulang sebelum acara selesai.
Neji menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang, diusapnya wajahnya yang dia yakin terlihat sangat kusut saat itu.
"Aku tidak percaya kalau aku masih memiliki persaan bodoh ini pada perempuan itu!" gumamnya sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
"Harusnya aku sedikit mempertimbangkan ucapan Hinata kemarin!" decaknya sambil kembali mengayunkan langkahnya menuju kedalaman hutan. Entah kenapa langkah kakinya seolah mengajaknya untuk melewati hutan liar itu, dia bahkan melangkah tanpa berpikir kemana dia akan pergi namun instingnya kali ini seolah mengajaknya untuk menelusuri hutan, mungkin saja dia kan menemukan sesuatu di sana, itulah yang dia pikirkan sebelum memasuki hutan beberapa saat lalu.
Syuuu…
Angin lembut berhembus dari sela-sela pepohonan di sekitar Neji, dan pemuda itu menghentikan langkahnya tiba-tiba saat mencium bau darah yang terbawa angin barusan. Mungkin dia tidak akan heran jika yang dia cium itu bau darah manusia atau darah goblin lain yang bertingkat rendah, tapi lain halnya kalau yang dia rasakan saat ini adalah darah elf yang memiliki kasta cukup tinggi di Ondergrondse.
"Kenapa di sini tercium darah elf? Dan lagi…ini terlalu pekat untuk ukuran seorang elf, jadi artinya…ada pembantaian elf di sekitar sini?!" pikir Neji yang kemudian mempercepat langkahnya dengan berlari menembus hutan gelap itu untuk mencari tahu sumber bau darah itu.
Deg!
Neji membelalakkan matanya saat melihat cukup banyak elf bergelimpangan di depan sana, darah mereka pun tak sedikit yang tertumpah menodai tanah dan pepohonan sekitar bekas medan perang itu. Kedua mata silver Neji mengamati sekelilingnya, dia merasa familiar dengan para elf yang tergelatak di sekitarnya itu, otaknya berpikir sambil melewati tubuh-tubuh elf itu hingga dia terhenti saat melihat sosok yang sangat dia kenal.
"Shizune-san?!" sebut Neji setengah ragu, namun dia langsung melangkahkan kakinya ke arah wanita elf yang kini sedang berusaha untuk bangkit itu.
"Shizune-san, ada apa ini?" tanya Neji yang kini telah berada di samping Shizune, membantu wanita itu untuk bangkit duduk di depannya.
"Ne..ji…sama…nige…te!"
WUSSSSH…
Neji tersentak saat merasakan hawa membunuh yang sangat pekat terbawa angin ribut barusan. Punggungnya terasa dingin dan gemetar ketika angin itu menghantam tubuhnya dari belakang, bahkan tubuhnya terasa kaku meskipun angin itu telah berlalu.
Syut!
Sosok bayangan hitam muncul di belakang Neji, lengkap dengan sabit besarnya yang siap menebas leher pemuda itu hingga putus.
"HABUNAI!"
Deg!
Ino tersentak saat merasakan sesuatu di dalam jantungnya terasa panas, gadis itu langsung mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya hingga membuat Sasuke ikut tersentak kaget dengan tindakan tiba-tiba gadis itu.
"Ino?" lirih Sasuke.
"B…blood…pearl…" Gumam Ino dengan tubuh bergetar, kedua matanya terbelalak seolah tengah melihat sesuatu yang paling menakutkan di dunia.
"Blood Pearl?" ulang Sasuke tak yakin, namun sesaat kemudian kedua onyxnya terbelalak tak percaya.
"Mungkinkah…" belum sempat Sasuke mengatakan apa yang dia pikirkan, dia sudah dikejutkan dengan tindakan Ino selanjutnya yang langsung berbalik meninggalkannya menuju balkon.
"Matte! Ino!"
Sasuke mencoba meraih Ino namun terlambat, gadis itu telah melompat dari balkon dan menghilang di balik pepohonan rimbun di bawah sana. Sasuke pun langsung mengikuti Ino melompat dari balkon dan mengejar kemanapun Ino pergi saat ini.
"Dou shita Ino?" batin Sasuke yang semakin gusar dengan sikap Ino.
=oooooo=
"Khufufu…kali ini kau benar-benar melakukan pekerjaan dengan baik My Knight!" desis sosok berambut pirang yang kini tengah memeluk sosok berjubah hitam yang sama sekali tak meresponnya.
"Kau memang sangat berguna!" kata sosok itu lagi.
"Lihatlah itu, bukankah itu sangat indah?" tanya sosok berambut pirang itu sambil menunjuk hamparan mayat elf di depan sana, juga pertarungan seorang bangsawan vampir dengan nightmare dimana sang vampir sudah mulai kewalahan dan terluka di sana-sini.
"Darah elf yang harum ini benar-benar nikmat…" gumam sosok itu dengan seringai psikopatnya.
"Kau harus segera menambahkannya dengan darah half vampir exorcist itu, ini pasti akan menjadi taman mawar yang sangat indah jika ditengahnya tergeletak mayat gadis itu khufufufu…aku tidak sabar menantikannya…"
Slurp…
Sosok itu kini menjilat darah elf yang menodai jemari sosok berjubah hitam yang dia ajak bicara itu.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihatmu membunuhnya, itu pasti akan menjadi tontonan yang sangat menarik khukhukhu…." Seringai lebar kembali terlihat di bibir sosok berambut pirang itu, sedangkan sosok berjubah hitam di dekatnya sama sekali tak merespon apapun yang dia katakan.
"Menghancurkan hubungan sepasang kekasih itu ternyata semenyenangkan ini khufufufu…hahahaha…." Sosok itu tergelak dengan sombongnya sambil menginjak kepala mayat elf di bawahnya.
=oooooo=
Sepasang mata emerald menatap lapisan pelindung yang mengelilingi kastil Yamanaka dengan seksama, dia memang sudah mengamati keadaan kastil itu sejak beberapa hari yang lalu saat dia merasakan aura keberadaan sang pemilik kastil menghilang begitu saja.
"Tuan Gaara, Nona Muda…pergi ke Ondergrondse."
Teringat kembali ucapan Shizune saat dia datang ke tempat itu sesaat setelah kehilangan jejak keberadaan Ino.
"Untuk apa dia datang ke Ondergrondse? Apa lagi bersama vampir itu!" gumam Gaara yang masih tetap di posisinya.
"Kalau tidak terjadi sesuatu, tidak mungkin Shizune-san sampai menyusulnya ke sana kan?"
Mata emerald itu masih menatap lapisan pelindung di depan sana, dia memang bisa menembus pertahanan itu karena lapisan itu hanya berfungsi pada energi negatif yang mendekat, dan dia yakin sekali kalau dirinya bukanlah salah satu dari energi negatif itu.
"Tch, kalau saja aku bisa membuka gerbang Ogler pasti aku tidak hanya bisa duduk menunggu seperti ini!" decak Gaara kesal akan keterbatasannya.
Memang manusia biasa tidak akan bisa membuka gerbang Ogler yang menghubungkan dunia manusia dan dunia Ondergrondse, seperti halnya dengan Gaara meskipun tidak bisa dibilang manusia biasa karena dia seorang Exorcist namun dia tetaplah manusia yang tak bisa membuka gerbang kegelapan itu. Dia butuh orang dari Ondergrondse itu sendiri untuk mencapai dunia itu, dan dia sama sekali tak mempunyai kenalan makhluk dari Ondergrondse kecuali para penghuni Kastil Yamanaka.
"Sepertinya aku masih perlu menunggu beberapa saat lagi sampai mereka keluar sendiri dari gerbang itu, atau aku cari cara lain untuk menemukan gerbang Ogler yang kebetulan terbuka?" gumam Gaara yang kini sepertinya mendapatkan ide untuk menyusup ke Ondergrondse. Pemuda itu pun kini berbalik dan mulai melesat meninggalkan posisi pengamatannya.
=oooooo=
Tap! Tap! Tap! Syuut!
Ino berlarian melompati dahan-dahan pohon besar di hutan Ondergrondse mengikuti instingnya yang merasakan keberadaan Blood Pearl dan orang yang penting baginya, sedangkan Sasuke masih mengikutinya di belakang namun tetap menjaga jarak cukup jauh karena tidak ingin gadis itu kembali menolaknya seperti beberapa saat lalu.
Dada Ino berdesir hebat saat mencium bau darah elf di hutan itu dan satu lagi darah vampir yang sangat dia kenal ikut bercampur dengan bau darah elf itu.
"Neji?" satu nama meluncur mulus dari bibirnya, dan seketika dia teringat pada Sai yang sempat dipengaruhi oleh Blood Pearl sebelum tubuh pemuda itu lenyap.
"Tidak! Jangan dia!" Ino pun langsung memacu langkahnya lebih cepat lagi, tak perduli dengan kakinya yang masih terasa lemas dan kini terasa sakit karena dipaksa berlari, apa lagi dalam sosok manusianya.
Sring!
Kedua mata aquamarine Ino berkilat kemerahan saat merasakan keberadaan Blood Pearl yang semakin dekat, dan kejadian di depan sana membuat gadis itu tercekat dan hampir saja kehilangan suaranya untuk berteriak namun tetap dipaksa tenggorokannya untuk meneriakkan nama sosok di depan sana.
"NEJI!"
Ino menjejakkan kakinya lebih kuat pada batang pohon yang dia pijak dan langsung bertolak melompat dan menubruk tubuh Neji yang hampir terkena serangan energi padat Nightmare, keduanya pun terdorong jatuh berguling beberapa kali di tanah hingga akhirnya membentur pohon besar yang menghantam punggung Neji hingga pemuda itu menggerang sekilas saat merasakan sakit di punggungnya.
"Neji, kau tidak apa-apa? Kau masih hidup?!" buru Ino langsung.
"Urgh…Ino? K…kenapa kau di sini?" tanya Neji sambil mendekap lengannya yang terasa sakit karena pertarungannya dengan Nightmare beberapa saat lalu.
"Aku merasakan keberadaan Blood Pearl jadi…aku ke sini…" Ino tercekat saat melihat keadaan sekelilingnya di mana para elf yang dia kenal betul sebagai para pengikutnya telah bergelimpangan berlumur darah di sekitarnya.
"A…apa yang terjadi di sini?!" Ino tersentak berdiri menatap sekelilingnya, sedangkan Nigtmare yang hampir membunuh Neji tadi telah lenyap entah kemana, dan kini Ino mulai berjalan melewati tubuh-tubuh para elf pelayannya itu hingga kedua matanya tertuju pada sosok elf wanita yang sangat dia kenal.
"Shizune?!" Ino langsung berlari ke arah Shizune yang terlihat penuh luka.
"Shizune, apa yang terjadi?" tanya Ino yang berusaha mendapatkan fokus Shizune.
"Nona muda…syukurlah…anda selamat…" gumam Shizune sambil menyentuh pipi Ino dengan sayang bagaikan seorang ibu pada putrinya.
"Ino…" Neji berjalan terhuyung ke arah Ino.
"Sebaiknya…kau kembali ke dunia atas…aku merasa…di sini sangat berbahaya untukmu…" Akhirnya Neji jatuh terduduk di dekat Ino hingga gadis itu kini beralih menopang tubuh pemuda itu.
"Tapi sebelumnya kita harus menyembuhkan luka kalian dulu!" kata Ino yang kini menatap prihatin pada beberapa luka di tubuh Neji dan keadaan Shizune.
"Ino…" Neji menyibakkan rambut Ino dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu, memberi akses agar dirinya dapat melihat wajah cantik Ino dengan jelas.
"Terima kasih…kau sudah mau mengkhawatirkan aku…" kata Neji yang kemudian jatuh pingsan karena kehabisan tenaga. Sedangkan Sasuke yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat itu hanya bisa menatap sosok Ino yang tengah mendekap Neji dengan ekspresi terluka. Sekilas Ino dapat melihat sosok Sasuke yang berdiri tak jauh darinya itu namun dia langsung menundukkan wajahnya seolah tak berani berlama-lama menatap wajah pemuda yang entah sekarang masih dia anggap sebagai kekasihnya atau bukan, mengingat kesalahan yang dilakukan pemuda itu padanya.
Wuuuussssssh….
Angin kencang berhembus membuat dedaunan kering di sekitar Ino beterbangan menyamarkan penglihatan Ino, namun gadis itu dapat melihat sosok berjubah hitam di antara serpihan daun kering itu. Kedua mata Ino melebar dan dia pun tersentak berdiri ketika menangkap kilat kemerahan di kedua mata sosok itu.
Sasuke yang juga melihatnya pun terpaku di tempatnya seolah apa yang dia lihat itu sanggup melumpuhkan sistem syaraf motoriknya, bahkan nafasnya pun terasa sesak ketika sosok itu tak juga bergerak dan hanya diam di tempatnya sambil menatap dingin ke arah Ino berdiri.
"I..ta…"
Syuuut…
Deg!
Ino tersentak saat tiba-tiba sosok itu sudah berada di depannya dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kuat, gadis itu tak juga tersadar dari shocknya hingga dia merasakan jantungnya terkoyak dalam hitungan detik.
JRAT!
Ino tersentak saat merasakan sakit di dadanya, sedangkan Sasuke masih terpaku di tempatnya atas apa yang dia lihat. Itachi tengah menembus jantung Ino dan menggenggam Back Pearl di tangannya, darah segar mengalir deras dari lubang yang menganga di dada hingga punggung Ino, rambut Ino yang tadi pendek entah kenapa perlahan memanjang seiring dengan gerakan Itachi yang menembus tubuh kecil itu, tenggorokan Sasuke pun dipaksanya untuk bersuara di tengah keterkejutannya itu.
"INOOOOO!" seru Sasuke yang langsung melesat ke arah Ino dan Itachi, sedangkan Itachi langsung mencabut tangannya yang sempat menembus tubuh Ino tadi dengan kasar hingga darah Ino memuncrat menodai jubah dan wajahnya, sedangkan tubuh Ino yang tersentak kerena tindakan Itachi itu kini jatuh namun tak sampai menyentuh tanah karena Sasuke sudah lebih dulu menangkap tubuhnya.
"Ino...Ino!" Sasuke mengguncang tubuh Ino yang terkulai lemah dalam dekapannya, kedua mata Sasuke langsung berkilat kemerahan dan menatap sosok Itachi dengan tatapan tak percaya.
"A…Aniki…" desis Sasuke, tubuhnya bergetar tak percaya atas apa yang dia lihat saat ini, dekapannya pada tubuh Ino pun semakin menguat karena emosi yang dia rasakan.
"Aniki…dou shite Aniki?" Sasuke menggigit bibir bawahnya berusaha menahan luapan emosinya namun gagal, air matanya telah meluncur mulus melewati pipinya dan kini dia hanya bisa menenggelamkan wajahnya di puncak kepala Ino yang entah masih hidup atau tidak itu. Sedangkan Itachi tetap berdiri di tempatnya sambil menatap tajam nyaris kosong ke arah Sasuke dan Ino sedangkan tangannya masih menggenggam Black Pearl yang baru saja dia cabut dari jantung Ino.
Genggaman tangan Itachi menguat ketika merasakan hal yang aneh di dadanya, cipratan darah Ino yang menodai wajahnya pun terasa panas di kulitnya apa lagi saat tetesan darah itu perlahan turun dan mengenai Blood Pearl di dahinya hingga merembes ke dalam Blood Pearl itu. Seketika kepalanya terasa sakit luar biasa bahkan tubuhnya serasa bagaikan tersengat listrik ribuan volt hingga dirinya mengerang kesakitan sambil mencengkram kepalanya yang terasa sakit.
"AAAAAAAAAAARGH!" Jerit kesakitan pun keluar dari tenggorokan Itachi yang semakin serak karena kuatnya teriakan itu. Sedangkan Sasuke terbelalak menatap Itachi yang terlihat kesakitan sampai jatuh terduduk di tanah.
"Ani…ki.." Sasuke tercekat saat melihat kilatan mata merah darah Itachi yang terlihat dari balik helaian rambut hitamnya yang menjuntai menutupi wajahnya. Pria itu terlihat menatap Ino dengan ekspresi terluka, bahkan air matanya tak terasa mengalir bercampur dengan darah yang menodai wajah rupawan pria itu seolah Itachi tengah menagis darah ketika melihat sosok Ino yang tak berdaya.
"AAAAAAAARGH!" Itachi kembali mengerang kesakitan saat Blood Pearl di dahinya mulai retak, dan di saat itu Nightmare muncul di belakang itachi kemudian menyelimuti sosok Itachi dengan bayangan hitamnya, kemudian di detik berikutnya sosoknya pun lenyap menyisakan udara kosong di tempat Itachi bersimpuh tadi.
Sasuke tercekat tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan, sosok Itachi yang dia pikir sudah lenyap itu baru saja menampakkan diri sedangkan Nightmare yang menyerangnya beberapa hari yang lalu itu rupanya milik sang kakak. Kini perhatiannya teralih pada sosok tak berdaya Ino dalam dekapannya, kemudian menatap sekelilingnya di mana sosok pra elf yang di kenal tengah terluka parah bahkan tak sedikit yang meninggal. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya bahkan dia berharap semua yang dia lihat itu hanyalah mimpi yang akan menghilang saat dia terbangun, namun harapannya itu tidak berarti ketika dia merasakan dinginnya suhu tubuh Ino dalam dekapannya hingga membuatnya semakin memperdalam dekapannya pada tubuh lemah itu.
=oooooo=
Itachi berjalan terseok ke dalam sebuah gua di kedalaman hutan, deru nafasnya terdengar berat seolah kehabisan tenaga karena sesuatu. Memang dia tengah kehabisan tenaga bahkan hampir pingsan karena sakit luarbiasa yang dideritanya saat darah Ino meresap ke dalam Blood Pearl di dahinya yang kini telah sepenuhnya hancur.
Hosh…hosh…
Bruk!
Tubuh itu akhirnya ambruk dan terhempas di salah satu batu besar di pinggir gua, kedua mata onyx Itachi yang masih setengah terbuka kini bergulir melihat sesuatu yang dia genggam. Emosinya kembali meluap seketika saat menyadari apa yang dia genggam saat ini. Black Pearl yang menjadi penopang hidup Ino sekaligus penyegel jiwa vampir gadis itu kini telah berada di genggamannya, tubuhnya bergetar hebat begitu menyadari kesalahannya, dia tak mampu lagi menahan luapan emosinya hingga kini hanya bisa menangisi apa yang sudah dia lakukan. Isak tangis penyesalan terdengar menggema di setiap sudut gua itu namun tak ada satupun orang yang mendengarnya , tak akan ada orang yang akan meredakan emosinya, tak akan ada orang yang akan membantunya menghentikan tangis yang mengalir deras menghapus noda darah di wajahnya. Darah gadis yang dia kasihi, darah gadis yang seharusnya dia lindungi dan ironisnya kini dia lah yang telah menumpahkan darah gadis itu hingga menodai sebagian besar tubuhnya.
"Ino…" suara pria itu terdengar serak tersamarkan oleh air mata yang menyumbat tenggorokannya.
"Gomen…Ino…" suara paraunya semakin terdengar menyayat saat pria itu mengucapkan maaf dengan penuh penyesalan pada sang pemilik Black Pearl.
=oooooo=
Shizune berjalan tergesa menyusuri koridor Istana Uchiha, beberapa kali dia membantah ucapan maid istana itu yang memintanya untuk tetap di kamarnya untuk beristirahat karena luka-lukanya belum pulih sepenuhnya.
"Shizune-san, tolong jangan bergerak dulu sebelum luka anda sembuh total!" buru salah satu maid yang masih mengikuti Shizune.
"Saya hanya perlu menemui majikan saya, tolong kalian jangan menghalangi saya dan tolong beri tahu saja di mana kamar Tuan Sasuke!" kata Shizune yang masih berusaha menepis cekalan para maid itu.
"Tapi Shizune-san, kami akan mendapat masalah kalau Sasuke-sama tahu anda yang belum pulih datang ke tempatnya!" para maid itu masih bersikeras membujuk Shizune, dan akhirnya Shizune pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap ke arah para maid yang mengejarnya.
"Saya cukup tahu bagaimana kondisi saya, karena saya sendiri adalah seorang Nature elf yang paham hal-hal medis!" kata Shizune yang membuat para maid itu terdiam.
"Sekarang saya mohon pada kalian, tolong antarkan saya ke kamar Tuan Sasuke!" lanjut Shizune yang kini lebih memelankan nada suaranya. Para maid di depannya terlihat saling pandang dan pada akhirnya mereka mengangguk mengerti kemudian bersedia mengantarkan Shizune ke kamar Sasuke.
=oooooo=
Sasuke baru saja bangun saat mendengar suara ketukan pintu beberapa kali, pemuda itu mengernyit saat kepalanya terasa berdenyut sakit ketika dia berusaha untuk duduk, namun rasa pening itu segera menghilang ketika melihat sosok yang masih terbaring di sampingnya.
"Ino…" lirih Sasuke sambil merendahkan wajahnya dan mengecup dahi Ino sebagai bentuk rasa syukurnya karena gadis itu masih hidup entah bagaimana caranya, karena dia ingat betul semalam Itachi telah menembus jantungnya dan merenggut black pearl dari dalam tubuh Ino secara paksa.
"Sasuke-sama, Shizune-san datang menemui anda!"
Suara panggilan itu membuat Sasuke kembali teringat akan seseorang yang sempat membangunkannya lewat suara ketukan pintu beberapa saat lalu.
"Masuk!" perintah Sasuke sambil memperbaiki posisi duduknya, dan Shizune pun masuk ke dalam sementara para maid itu langsung undur diri setelah menunduk hormat pada Sasuke.
"Kau sudah pulih Shizune?" tanya Sasuke saat melihat Shizune tampaknya sudah jauh lebih baik dari pada semalam meskipun lengan dan kakinya masih terbalut perban.
"Ya Tuan, mestinya tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai keadaan saya, yang terpenting sekarang adalah Nona Muda!" kata Shizune tanpa mengurangi rasa hormat pada majikannya itu.
Kedua mata Shizune kini bergulir ke arah sosok yang masih berbaring di samping Sasuke, namun begitu kedua irisnya menangkap sesuatu yang ganjil dia segera terbelalak dan buru-buru melangkah mendekat.
"Ino-sama?! Masaka!" pekik Shizune di sela langkah tergesanya.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang dikagetkan dengan reaksi Shizune saat melihat Ino.
Shizune meraih helaian rambut panjang Ino yang menjuntai ke lantai, Sasuke dapat melihat tangan Shizune yang gemetar hebat saat menatap helaian rambut Ino, bahkan kedua mata Shizune terlihat menatap ketakutan ke arah helaian pirang pucat itu.
"Shizune, ada apa?" tanya Sasuke yang semakin penasaran atas reaksi Shizune itu, sedangkan sang wanita elf hanya mampu menelan ludahnya dengan susah payah sebelum kembali menatap Sasuke yang masih menunjukkan ekspresi bingung.
"T…Tuan…Sasuke…apa…yang terjadi saat saya pingsan semalam?" tanya Shizune yang terlihat semakin diliputi rasa takut.
Ekspresi penasaran Sasuke berubah menjadi ekspresi terluka, wajahnya ditundukkan dan kedua onyxnya bergulir menatap wajah tidur gadis di sebelahnya.
"Kakakku…Itachi…vampir pertama yang mendampingi Ino, dia…merenggut Black Pearl dari jantung Ino." Kata Sasuke yang sanggup membuat Shizune hampir kehilangan kesadarannya karena shock luar biasa.
"Tuan…Muda? Black…Pearl?" gumam Shizune tak begitu jelas, namun terdengar sarat akan ketakutan saat mengatakannya.
"Shizune, apa yang terjadi jika Black Pearl terenggut dari tubuh Ino?" Tanya Sasuke saat menyadari sesuatu yang gawat akan terjadi begitu melihat ekspresi shock Shizune.
"Tuan Sasuke, maaf saya harus membawa Nona Muda kembali ke dunia atas sekarang juga!" kata Shizune yang membuat Sasuke tercengang.
"Apa maksudmu? Dia bahkan belum sadar!" protes Sasuke sambil menghadang Shizune yang akan membawa pergi Ino.
"Saya mohon Tuan! Saya tahu anda menyayangi Nona, tapi…saat sadar nanti Nona Muda sudah bukan lagi pribadi yang anda kenal!" kata Shizune yang terlihat panik bercampur sedih karena harus memisahkan kedua majikannya.
"Apa maksudmu Shizune? Apa yang terjadi dengan Ino?!" buru Sasuke yang masih mempertahankan Ino dengan mendekap tubuh lemah itu.
"Tuan…Black Pearl telah tercabut dari tubuh Nona beserta jantungnya, itu artinya…sosok manusia Nona Muda…telah mati dan yang tersisa sekarang hanyalah sosok vampir Nona Muda." Shizune megakhiri penjelasannya dan menundukkan wajahnya tak berani menatap Sasuke yang kini terbelalak, bahkan dekapannya pada tubuh Ino pun mengendur seolah kesadaran Sasuke menghilang begitu saja ketika mendengar ucapan Shizune barusan.
"Ino…mati?" gumam Sasuke tak percaya.
"Maafkan saya Tuan, tapi mulai sekarang…mungkin anda tidak perlu lagi menemui Nona, karena Nona Muda yang mengikat anda sudah tidak ada." Kata Shizune berusaha terdengar tegas, padahal dia sendiri merasa tak tega jika harus memisahkan kedua majikannya itu, namun keadaan Ino sekarang sudah tidak memungkinkan untuk mereka tetap bersama.
=Black Pearl Exorcist=
Gaara menatap lubang hitam gerbang Ogler yang baru saja terbuka. Beberapa saat lalu dia membunuh Goblin yang baru muncul dari dalam gerbang Ogler, dan kini dia tengah berdiri di tepi gerbang itu bersiap masuk ke dalamnya namun baru saja dia akan melangkahkan kakinya ke permukaan gerbang, pemuda itu merasakan energi keberadaan Ino dan Shizune. Gaara pun mengurungkan niatnya dan tersentak mundur.
"Mereka sudah kembali?!" pekiknya yang kemudian langsung bertolak menuju Kastil Yamanaka.
*Kastil Yamanaka
Shizune berdiri di samping ranjang Ino di mana majikannya terbaring dengan mata terpejam. Gadis berambut pirang panjang itu masih belum membuka matanya setelah kehilangan Black Pearl dari tubuhnya, namun Shizune tahu kalau gadis itu akan segera sadar mengingat tubuhnya saat ini adalah tubuh vampir sang gadis Yamanaka.
Beberapa saat lalu Shizune kembali dari Ondergrondse bersama Ino dan beberapa elf rekannya yang masih selamat. Perasaannya sangat berat saat harus mengambil Ino dari sisi Sasuke yang masih diliputi rasa shock karena ucapan Shizune, namun dia tahu inilah yang terbaik bagi mereka berdua. Shizune yakin kalau saat sadar nanti majikannya tidak akan mengingat apapun kecuali dirinya, dia akan melupakan siapapun yang selama ini dekat dengannya dan sosok itu sudah bukan manusia lagi melainkan seorang vampir.
GROOOOMMMM!
Nafas Shizune tercekat saat merasakan energi vampir yang luarbiasa menekan pernafasannya, persis seperti saat Ino baru lahir dulu. Kedua mata Shizune terbelalak lebar dan dadanya terasa sesak seolah jantungnya akan terhenti begitu saja jika terlalu lama merasakan tekanan energi itu, namun tak berapa lama kemudian tekanan energi itu meredup dan kembali normal hingga membuat Shizune merosot jatuh ke lantai dengan nafas terengah-engah, ditatapnya sosok di atas ranjang di depannya dan iris coklatnya menangkap sosok majikannya telah bangkit duduk dan menatapnya dengan kedua mata crimsonnya.
"No…Nona Muda?" gumam Shizune dengan nada bergetar.
"Omae wa dare?" tanya Ino dengan nada dingin dan tatapan tajam. Hal itu pun membuat Shizune semakin gemetar begitu menyadari perubahan besar pada diri majikannya.
Sementara itu Gaara yang berada di luar lapisan pelindung terlihat membelalakkan matanya saat merasakan energi besar barusan, belum lagi kenyataan bahwa dirinya tak bisa menembus lapisan pelindung Kastil Yamanaka.
"Ada apa ini sebenarnya?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Arara…akhirnya aq apdet fic ini setelah bertahun-tahun lamanya XD
Gomen aq updatenya amat sangat lama sekali, soalnya aq terjangkit virus WB yang susah sembuhnya hehehe jadi apdetnya lelet sekali padahal spoiler gambarnya udah aq sebarin jauh-jauh hari hedeeeh gomen ne minna-san.
dan untuk pembaca fic Promise, akan segera aq usahakan untuk mengetiknya coz aq juga dah janji ma kalian kalo fic itu nggak akan discontinue.
Ah ya, buat yang pengen liat fanart cuplikan scene dari fic ini, silahkan liat di Facebook aq dengan nama (Yuzumi Haruka) ato di akun deviantart aq cloveruka/deviantart/com (ganti slashnya dengan titik)
Nah minna-san, silahkan masukkan pendapat kalian lewat review seikhlasnya hehehe
*Salam Cute*
