Ini fic pertamaku, apabila ada kesalahan mohon bantuannya^^ (bungkuk-bungkuk badan)

Semoga fic saya dapat menghibur kalian

Maaf update-nya lama, menyesuaikan diri ke tingkat Universitas membuat saya jarang punya waktu luang.

Summary : Karin akhirnya tahu bahwa yang ditemuinya sewaktu berumur 5 tahun itu bukanlah Toushiro tetapi kembarannya. Kini ia mulai menyukai Toushiro. Namun hatinya menentangnya karena dia tidak ingin menyakiti temannya, Hinamori yang ternyata menyukai Toushiro sejak dulu. Apa yang akan Karin perbuat? Apakah ia benar-benar menyukai Toushiro dari dalam hatinya, bukan karena kemiripannya dengan Yuki?

Genre : Hurt/Comfrot/Romance

Rated : T

Pairing : HitsuXKarinXOC

Warning : Karena pemula mungkin banyak kesalahan dalam penulisan, mohon di maklumi (puppy eyes)

Disclaimer Tite Kubo-Sensei

'Akan ku sampaikan pada-Nya yang kau minta, wahai Manusia'

Chapter 8

(Aoi Tori – Blue Bird)

Angin berhembus diantara rindangnya dedaunan pepohonan, suara ombak laut musim dingin terdengar bergemuruh menerjang kokohnya karang yang dengan setia menemani tempat itu.

Seorang laki-laki berambut putih silver menatap tidak percaya kepada perempuan dihadapannya. Perempuan bertopi merah yang juga berdiri menatap kedua temannya, yang kali ini merasakan atmosfir yang berbeda diantara kedua temannya tersebut. Sang perempuan yang juga tadi menatap perempuan bertopi merah itu pun kini menundukan kepalanya.

"Hinamori-chan?" Suara perempuan bertopi merah yang tak lain adalah Karin membuat kedua temannya Hinamori Momo dan Hitsugaya Toushiro melirik ke arahnya.

Karin memperhatikan keadaan sekitar dan melihat Hinamori segera menundukan kepalanya ketika mata mereka saling bertemu.

Sedangkan Toushiro tampak masih memperhatikan Karin sambil mencerna kata-kata Hinamori yang ditujukan padanya.

Merasa ada sesuatu yang aneh diantara kedua temannya ini. Karin memutuskan untuk meninggalkan mereka pergi agar mereka dapat menyelesaikan masalah yang nampaknya sedang terjadi diantara mereka menurut Karin.

"Ano, Hinamori-chan, Toushiro-kun, aku sedang buru-buru, aku duluan ya?" Ucap Karin sambil akan berlalu pergi.

"Tunggu dulu Karin-chan" Ucapan Himanori membuat Karin berhenti dan segera membalikkan badannya kembali yang tadi akan pergi.

"Eh, ya ada apa?" Tanya Karin.

"Apa kau menyukai Shiro-chan?" Tanya Hinamori tanpa basa-basi.

"Eehh" jawab Karin bingung.

"Momo-chan!" Seru Toushiro.

"Shiro-chan, lebih baik diam dulu ya" Jawab Hinamori dengan tersenyum yang membuat Toushiro terdiam karena Hinamori nampaknya sedang serius.

"Bagaimana Karin? Tanya Hinamori ulang.

Karin menarik nafasnya berat. Selama ini dia tahu kalau Hinamori menyukai Toushiro. Namun selama ini juga ia merasakan ada perasaan hangat yang timbul jika ia bersama Toushiro. Selintas muncul bayangan Yukimaru 5 tahun dipikiran Karin yang sedang mengulurkan tangan untuknya. Karin mulai ragu akan perasaannya pada Toushiro atau kepada Yukimaru yang mirip dengan Toushiro. Setelah memejamkan matanya dan membukanya kembali, Karin sudah siap dengan ucapannya.

"nampaknya ini pertanyaan yang serius, aku…., aku tidak akan mungkin menyukai Toushiro karena didalam hati Toushiro sendiri aku pikir hanya ada kamu Hinamori-chan, apakah kamu tidak ingat betapa khawatirnya dia ketika kakimu tergelincir kemarin yang lalu, mukanya sangat mengkhawatirkanmu sejauh yang aku lihat. Hehehe" Karin memasang muka tertawa yang nampak dipaksakan dan kemudian melanjutkan perkataannya.

"lagi pula ada seseorang yang akan selalu ada dihatiku" desah Karin pelan.

"Karin-chan" Ucap Hinamori pelan.

"Aku pikir itu yang dapat aku jawab, nee Toushiro-kun kau seharusnya menyadari perasaanmu pada Hinamori-chan" Ucap Karin dan kemudian berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.

"tapi Karin-chan" Jawab Toushiro.

Kaki Karin berhenti dari langkahnya kemudian berbalik dan mengucapkan

"Yuki-kun, akan selalu ada dihatiku" Jelas Karin dan kemudian pergi meninggalkan Toushiro dan Hinamori dengan sedikit berlari kecil.

Toushiro dan Hinamori hanya bisa terdiam sambil memandangi punggung Kurosaki Karin. Dan setelah ia tidak terlihat lagi. Hinamori mulai membuka mulutnya,

"Sekarang apa yang akan kau perbuat Shiro-chan? Karin tidak menyukaimu" Tanya Hinamori.

Toushiro menarik nafas pelan dan dengan mantap berkata

"Yuki-kun mungkin akan selalu ada di hati Karin-chan, tapi aku akan selalu ada disampingnya".

Setelah mengucapkan hal itu, Toushiro langsung pergi meninggalakn Hinamori untuk menyusul Karin tanpa memperdulikan muka Hinamori yang mulai mengeluarkan air mata.

Tanpa dikomando kini kaki Karin berlari dengan kencang, Tak tahu entah dia akan pergi kemana yang jelas pergi sejauh-jauhnya dari seseorang yang akan membuat hatinya sakit. Karin berlari melewati deretan-deratan pertokohan, kumpulan-kumpulan manusia yang sedang sibuk, anak-anak yang sedang bermain ditaman dan melewati semua yang ia tak peduli apa yang ia lewati.

Pikirannya berusaha mengingkari bahwa ia menyukai Toushiro dan lebih harus mengakui bahwa ia menyukai Yuki. Itu semua membuat dada Karin bertambah sesak. Nafasnya mulai tidak teratur, dipandangannya hanya ada sosok yang ingin ia hapuskan dari pandangannya. Karena ia sadar menyakiti seseorang adalah perbuatan yang akan menyakiti dirinya sendiri.

Karin hanya berpikir bahwa dia sendiri yang harus sakit tanpa melibatkan banyak orang lain. Karin tidak ingin temannya menganggap bahwa dirinya kehilangan orang yang dikasihinya. Ia tidak mau Himaori merasa ditinggalkan oleh Toushiro karena dirinya. Dia sadar ditinggalkan seseorang yang sangat dicintai itu sangat menyakitkan seperti ia ditinggalakn ibunya dan Yuki.

Tanpa ia sadari kepalanya menoleh ke arah kanan melihatkan sebuah temapt yang manusia sebut sebagai pemakaman, Pemakaman Karakura. Sesosok laki-laki berambut silver putih dengan syal biru es bermotifkan salju putih berdiri didepan tempat itu dan tersenyum padanya. Membuat langkah Karin berhenti dan berbelok berlari kearahnya tanpa memperdulikan keadaan sekeliling dan berpikir panjang lagi.

"Onna, awas" teriak seorang laki-laki paruh baya yang sedang berjualan bunga dipinggir jalan dan

'jreeeemb….'

Pandangan Karin menjadi gelap.

Mata emerald Toushiro berusaha mencari Karin ditengah-tengah riuhnya manusia dan padatnya pertokohan.

"sial, dimana kau Karin" desah Toushiro pelan

Untuk kedua kalinya Toushiro berlari berusaha mencari Karin. Ia tidak ingin kejadian ini berakhir seperti ketika di sekolah kemarin, saat Karin menangis.

Entah apa yang membuat Toushiro yakin bahwa Karin juga menyukai dirinya, yang jelas sekarang ini ia ingin bertemu dengan Karin.

Sebuah ingatan hadir di hadapannya saat ia membaca tulisan yang dituliskan Yuki untuknya pada buku putih bergambar bulu bluebird yang dulu diberikan Yuki..

'Oh ya, Kau ingin tahu apa yang kulakukan ditempat itu?

Disana aku berdoa agar kau dan Karin dapat bertemu'

"Jika kau memang ada Aoi Tori sampaikan keinginanku pada Tuhan. Bukan hanya Yuki yang berharap mempertemukannku dengan dia, tapi aku juga, aku benar-benar ingin bertemu dengan Karin-chan" Jerit Toushiro di dalam hatinya.

Seekor burung berwarna biru dengan sayap yang indah terbang melintas didepan mata Toushiro menuju ke arah kiri Toushiro. Tanpa pikir panjang bahwa itu bayangan atau bukan, pandangan Toushiro langsung ia tujukan ke arah kiri.

Diujung jalan di kiri sana tampak segerombolan orang sedang berkumpul tak tahu sedang mengerumuni siapa.

Hati Toushiro kini mulai cemas, langkah kakinya ia percepat.

Dipandangannya kini ada Karin, ketika Karin mengejeknya dengan sebutan Shiro-chan dan pecundang, ketika Karin tersenyum dan tertawa, ketika Karin menangis dihadapannya dan terakhir ketika Karin berjanji akan membuat ia tertawa.

Tubuh kecil Toushiro berusaha menyelinap diantara gerombolan manusia yang sedang bermuka prihatin melihat sesosok manusia didepannya.

Mata Toushiro terbuka terkejut melihat sesosok perempuan yang tak lain adalah Karin berlumuran darah. Di Pegangnya tangan Karin olehnya.

Dalam pikirannya ia memang ingin sekali bertemu Karin tapi bukan dalam kondisi seperti ini, ia ingin melihat Karin yang tersenyum dan tertawa dihadapannya.

Ia berusaha mengangkat tubuh Karin untuk segera dibawa ke rumah sakit, tapi kemudian mata Karin terbuka dan mulut kecilnya berusaha mengucapkan sesuatu dengan terbata-bata

"Toushiro….-kun, akhirnya a…aku akan…bertemu dengan Yuki-kun" Ucap Karin dengan senyum yang terukir di wajah putihnya yang sekarang berlumuran darah dari kepalanya.

"Karin-chan, kau tidak boleh bertemu dengannya, aku, aku membutuhkanmu disampingku" Teriak Toushiro.

"Ehm, aku tahu" Senyum itu kemudian hilang ditelan dinginnya musim dingin.

Musim dingin ini akan menjadi musim dingin di penantiannya yang terakhir. Perempuan bernama Kurosaki Karin.

-Owari-

Saya ucapkan terima kasih banyak buat yang udah sempet baca dan me-review cerita buatan saya ini. Semoga Chapter terakhir ini tidak dapat memuaskan kalian semua, pembaca.

Untuk saat ini, saya akan berkonsentrasi dulu pada fic saya yang ke-2, Parasite of Heart. Yang tertarik silahkan mampir dan tentu berikan kritik dan saran yang membangun untuk saya.

-Special Thank's-

*Nenk Rukiakate*

Ini udah saya lanjut. Terima kasih untuk semangatnya yang diberikan unutk saya

*Airhy Santi*

Endingnya saya pilih seperti ini, saya juga tidak tahu kenapa, mungkin karena pengalaman pribadi, ya walaupun saya ga sampe ketabrak mobil, hehehe. Makasih untuk review nya

*Yowarul*

Terima kasih sudah me-review dan memberikan saya semangat untuk menulis, Ceritamu yang lain di update dong, saya mau baca juga

*Rikimaru Night Stalker*

Rii-san, terimakasih buanyak atas review-nya, terimakasih banyak juga udah di fav, padahal saya pikir masih jauh lebih banyak hasil tulisan yang jauh lebih bagus dari punya saya, termasuk punyamu juga, saya pikir bagus.

Semoga tidak kecewa ini chapter yang terakhir, jujur karena saya berpikir keras untuk membuat ni cerita roman mengingat saya belum pernah pacaran, apalagi kepikiran pacaran. Hehehe (*lo kok malah curhat)

Silahkan mampir di cerita saya yang satunya lagi yang ber-genre mystery