Cast : Kim Jaejoong (25)
Jung Yunho (27)
Shim Changmin (22)
Park Yoochun (26)
Kim Junsu (24)
Genre : Romance, Family, Sad
Rate : M hehe..
Disclaimer : Jaejoong is belong to Yunho. But this fanfic is belongs to me.
Warning : Yaoi alias Boys x boys love, alur gak jelas, mungkin agak OOC di awal. Maaf kalo kadang update lama.
And the story is begin …
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
"Apa memang tak ada lagi kesempatan bagiku ?"
"Maaf Yunho. Kau yang membuatku seperti ini."
.
.
Before the Light (Chap 7)
.
.
"Jae, kau tak apa ?"
Seung Hyun menyentuhkan telapak tangannya pada dahi Jaejoong. Dirinya cukup khawatir dengan Jaejoong. Setelah pertemuan Jaejoong dan Yunho tadi siang, namja cantik ini menjadi tak bersemangat. Ya, Seung Hyun tahu dengan kejadian tadi siang. Ia tak sengaja bertemu dengan Jaejoong di restoran itu, tadinya ia ingin menyapa Jaejoong tapi Yunho muncul terlebih dahulu. Sehingga dirinya memutuskan untuk diam-diam mendengarkan percakapan antar keduanya.
Jaejoong tersenyum lembut. Tangan Seung Hyun sangat nyaman saat menempel di dahinya. Seperti telapak tangan Siwon. Tangannya menggenggam tangan Seung Hyun dengan lembut. Ia cukup beruntung memiliki sahabat seperti Seung Hyun yang perhatian.
"Aku tak apa Seung Hyunie. Terima kasih sudah memperhatikanku. Bisa tolong angkat piring ini ke meja ?"
"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan, beri tahu saja aku. Okey ?"
"Iya, kau ini cerewet sekali."
Jaejoong mendorong bahu Seung Hyun hingga keluar dari dapur. Sudah cukup dengan Changmin yang mengganggu dengan alasan membantu dirinya di dapur. Ia tak mau menambah pengganggu di dapurnya satu lagi.
"Tapi aku tampan kan ?" Seung Hyun menaik turunkan alisnya sehingga terlihat seperti ajhussi mesum di bar.
Jaejoong memutar bola matanya malas. Temannya satu ini memang tak pernah berubah. Narsis tak tahu tempat. Tapi Jaejoong akui saat pertama bertemu dengan Seung Hyun dulu ia pernah kagum pada pemuda tampan ini beberapa bulan.
"Kau tampaaaannn sekali, sayang."
Jaejoong mengedipkan sebelah matanya, menggoda Seung Hyun. Lalu mengalungkan tangannya di leher namja tampan itu setelah menyingkirkan piring yang berada di tangan kiri pemuda tampan ini. Jika saja Jaejoong sedang tidak patah hati karena Yunho kembali, mungkin dengan mudahnya dirinya akan jatuh cinta pada Seung Hyun.
Jaejoong mendekatkan wajahnya pada telinga Seung Hyun.
"Kau tampan seperti pantat panci ku."
Jaejoong melepaskan pelukannya dan memukul perlahan bahu Seung Hyun. Jaejoong mengeluarkan senyuman jahilnya saat melihat wajah manyun Seung Hyun. Pemuda itu terlihat cukup kesal dengan perkataannya.
"Yahh ! Kau jahat sekali denganku."
Seung Hyun mencebilkan bibirnya maju kedepan. Mencoba terlihat imut, tapi usahanya gagal seratus persen. Ia berusaha membuat Jaejoong gemas padanya malah sekarang ia membuat Jaejoong iritasi padanya.
"Eww ! Jangan tunjukkan wajahmu yang seperti itu. Kau membuat Jiji muntah. Pergilah, temani Siwon hyung. Okey ?"
Saat Seung Hyun akan melangkahkan kakinya. Suara merdu muncul lagi dari belakang bahunya.
"Jangan lupa membawa piringnya, Tuan Tampan."
Entah suara merdu Jaejoong terdengar menyebalkan dan lagi pujian tampan di belakang kalimat namja cantik itu tak membuatnya merasa tampan. Ck ! Ia harus meminta jurus dari Siwon untuk menaklukan hati namja cantik itu.
.
.
RinFe Shaw
Before the Light
.
.
Drtt … drttt
Ponsel Changmin bergetar menandakan ada pesan masuk. Jaejoong yang berada disebelah ponsel Changmin, mengintip sedikit pesan yang masuk ke dalam ponsel adiknya itu. Nomor asing. Jaejoong tak kenal dengan nomor itu. Saat hendak mengambil ponsel Changmin. Jaejoong merasa seseorang memeluknya dari belakang.
"Jangan pernah menyentuh ponsel orang lain tanpa seijin pemiliknya, hyungie."
Changmin. Ia memang tak suka dengan orang yang seenaknya menyentuh ponselnya. Jaejoong mendengus pelan.
"Aku kan hanya ingin melihat. Lagi pula itu nomor asing Min."
"Ow ! Aku tak perduli itu nomor asing atau bukan, aku tetap tak suka."
"Baiklah dua porsi steak dan semangkuk ice cream vanilla dengan topping selai blueberry ?"
"Kumaafkan. Hyung yang terbaik." Ujar Changmin sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Sekarang bisa lepaskan pelukanmu ? Itu mengganggu. Dan tolong bantu aku menyiapkan makan malam oke ?"
Cup
Changmin mengecup sayang dahi hyungnya. Sungguh demi apapun, Changmin sangat menyayangi hyung nya ini, dan tak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagian hyungnya. Changmin memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia tak begitu perduli dengan pesan yang masuk. Lagipula Jaejoong bilang itu dari nomor asing.
Setelah hampir dua jam, dua orang manusia itu bergelut di dalam dapur. Akhirnya makanan lezat pun memenuhi meja makan. Sangat penuh hingga membuat tiga orang yang menatapnya bingung harus mulai makan darimana. Masakan Jaejoong tak ada tandingannya, semua terlihat lezat.
Drttt… drttt
Ponsel Changmin bergetar untuk kedua kalinya. Oke, untuk kali ini ia cukup terganggu dengan itu. Siapa sih orang asing yang mengganggunya malam-malam begini ? Dengan malas Changmin mengambil ponselnya dari dalam saku. Dua pesan masuk dari nomor asing yang sama. Pemuda jangkung itu segera membuka pesan pertama.
From : 010xxxxxxxxxx
Annyeong, ini aku Jung Yunho. Kau boleh marah, tapi tolong bantu aku. Tolong temui aku besok di Balero Café, aku menunggu jam tiga sore. Aku benar-benar butuh bantuanmu.
Dahi Changmin berkerut. Darimana si Jung itu mendapat nomor ponselnya. Changmin tahu ini pasti tentang Jaejoong. Seung Hyun tadi memberitahukannya tentang pertemuan mereka di restoran tadi siang. Changmin membaca pesan kedua.
From : 010xxxxxxxxxx
Changmin-ah, kumohon. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Temui aku besok di Balero Café pukul tiga sore. Kau boleh mengacuhkanku setelah itu, tapi kumohon temui aku.
Haruskah Changmin pergi ?
.
.
RinFe Shaw
Before the Light
.
.
Yunho duduk dengan gelisah di kursinya. Bukan karena ia bisulan atau kursi yang didudukinya kurang nyaman. Tapi tatapan tajam mata bulat Changmin seolah-olah akan menelannya bahkan jika ia menatapnya barang sedetik saja.
"Jadi Tuan Yunho Yang Terhormat bisakah kau mengatakan tujuanmu ingin bertemu denganku ? Kau tidak mungkin ingin bertemu denganku hanya untuk diam seperti ini kan ?"
Yunho menggerakan matanya dengan gelisah. Ia bingung akan memulai darimana. Oh Tuhan ! Rasanya lebih gugup dibanding dengan wawancara kerja. Terlalu banyak yang harus dikatakan.
"Bisakah kau mulai ? Aku ada janji setelah ini. Terserah katakan apapun !"
Changmin mulai kesal dengan pemuda tampan dihadapannya. Yunho berubah menjadi lembek jika sudah menyangkut Jaejoong. Changmin sedari-tadi terus menahan dirinya agar tidak kehilangan control. Ia bisa kapan saja melayangkan tinjunya kewajah pemuda dihadapannya ini. Emosinya semakin memuncak saat pemuda ini tidak mengeluarkan suaranya sejak lima belas menit yang lalu.
"Apa Jaejoong dan Seung Hyun menjalin hubungan ?"
Akhirnya ! Jung Yunho mengeluarkan suaranya juga. Harus Changmin akui pantatnya pegal karena terlalu lama duduk. Changmin menghela nafas, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Aku tak tahu, tapi mereka cukup dekat. Entahlah mereka sering pergi berdua dan kemarin mereka tidur dalam satu kamar."
Changmin hampir tergelak karena melihat ekspresi Yunho saat ia mengucapkan kalimat terakhir. Tentu saja Changmin tidak serius dengan ucapannya. Jaejoong tidur bersamanya kemarin malam, tapi memang ada Seung Hyun di kamar itu. Seung Hyun tidur dengan Siwon hyung di kasur sebelahnya. Changmin tak berbohongkan ? Jaejoong memang tidur bersama dengan Seung Hyun tapi dilain kasur.
Yunho merasa dunianya runtuh seketika. Jaejoong sering menghabiskan waktunya bersama Seung Hyun dan mereka tidur bersama. Bukankan itu terdengar seperti sepasang suami istri ? Atau memang seperti itu ?
"Memang apa urusanmu ? Bukankah kau sudah punya keluarga sendiri Yunho-shi ?"
Yunho terpaku di tempat duduknya. Tak menyangka Changmin akan mengungkit hal itu lagi.
"Keluarga ? Siapa yang kau bicarakan ?"
"Anakmu akan menganggapmu sebagai ayah yang durhaka jika kau berbicara seperti itu Yunho-shi. Dan bagaimana dengan istrimu ?"
"Dia bukan anak dan istriku. Aku hanya punya satu tunangan yaitu Jaejoong."
Changmin mengepalkan jarinya di bawah meja. Sudah cukup selama ini ia menahan emosi. Ia tak habis pikir dengan manusia di depannya ini. Ia masih menganggap Jaejoong sebagai tunangannya setelah semua ini ? Pria ini benar-benar !
"Jaejoong hyung tak akan pernah terima jika kau masih menyebutnya sebagai tunangannya setelah apa yang kau lakukan padanya. Lagipula ia berencana menikahi Seung Hyun jika saja kau tak datang kembali."
DEG
Changmin bangkit dari duduknya. Ia muak dengan manusia seperti Yunho. Tangannya gatak ingin menonjok Yunho hingga giginya lepas. Changmin sudah berlatih berjam-jam untuk mengendalikan emosinya semalam sebelum bertemu Yunho dan akhirnya ia tak bisa menahannya lagi. Changmin benar-benar muak. Ia akan berjanji, dirinya tak akan membiarkan Jaejoong disakiti oleh Yunho lagi.
Yunho tersentak kaget. Ia baru menyadari kalau Changmin sudah tak dihadapannya lagi. Matanya dengan buru-buru menyapu seluruh ruangan mencari kemada pemuda jangkung itu pergi. Ia tak mengundang Changmin untuk bertengkar, tapi ia meminta bantuan. Yunho segera bangun dari duduknya dan mengejar Changmin.
"Tunggu dulu Changmin-ah."
Yunho menarik bahu Changmin dan membuat pemuda itu berhadapan dengannya. Changmin yang sudah kalut, karena emosi langsung saja meninju wajah Yunho sekuat yang ia bisa. Setelah puas melihat Yunho terjungkal ke belakang dan mendapat memar di pipinya, Changmin segera pergi dari sana. Namun sebelum ia meraih handle pintu restoran, ia berkata
"Jangan pernah ganggu Jae hyung lagi, atau aku tidak segan-segan membunuhmu."
Kejadian itu membuat seluruh pengunjung di café menjadi tercengang, tak terkecuali seorang pemuda yang duduk di pojokan café. Pemuda itu terlihat menyunggingkan senyuman liciknya. Rencananya berjalan sesuai dengan apa yang sudah dikiranya.
.
.
RinFe Shaw
Before the Light
.
.
.
"Dari mana ?"
Tidak lagi !. Changmin membatin dalam hati, ia tak mungkin tertangkap basah untuk kedua kalinya pergi tanpa ijin oleh Jaejoong kan. Namun suara dingin yang muncul dari belakangnya membuat hal itu hanya angan-angannya saja. Changmin membalikkan badannya, ia melihat Jaejoong berdiri tak jauh darinya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Jangan coba berbohong padaku."
Changmin memutar bola matanya malas. Sungguh ia bosan berkata bohong pada hyungnya. Sedari dulu ia selalu menutup mulutnya tentang masalah ini. Entah Changmin tak tahu sampai mana ia tahan menyembunyikan hal ini pada Jaejoong.
"Kau tidak terlihat menyeramkan hyung."
Jaejoong menggeram. Ia kesal dengan Changmin. Sedari dulu ia tahu Changmin menyembunyikan satu hal besar darinya. Ia tak tahu apa itu, tapi itu pasti berhubungan dengan dirinya dan Yunho. Yunho lagi ?! Tidak bosankah namja bermata musang itu mengusik kehidupannya.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan Tuan Shim. Katakan saja darimana kau ?"
Siwon yang baru kembali dari dapur, memandang aneh kedua manusia yang terlihat sedang mengobarkan bendera perang dingin di ruang keluarga. Ditangan kanannya ia menggenggam setoples cookies yang baru saja selesai dibuat Jaejoong. Ia berani bertaruh Changmin pasti akan iri jika ia tahu kalau Jaejoong sengaja membuatkan cookies untuknya. Tapi dugaannya meleset, Changmin hanya memandang sekilas dirinya lalu mengalihkan pandangan ke arah Jaejoong lagi. Siwon paham, sepertinya masalah ini lumayan rumit. Jadi ia memutuskan untuk duduk di kursi sambil mengunyah cookies dan mendengarkan percakapan kedua manusia itu.
"Aku habis menemui Yunho. Ia memintaku untuk menemuinya, dan meminta bantuan." Changmin berkata jujur.
Jaejoong memijat pelipisnya, ia pusing. Dirinya sedang tidak ingin membahas masalah Yunho dulu. Sudah cukup dengan masalah kerjaannya yang menumpuk. Ia tak mau mendadak gila karena Yunho.
"Kembalilah kekamarmu Min-ah." Kata Jaejoong seraya meninggalkan ruang keluarga dan menuju kamarnya. Siwon hanya memandang sendu punggung adik kesayangannya. Changmin kembali kekamar, Seung Hyun sedang pergi dan Jaejoong yang frustasi dikamarnya. Siwon merasa rumah ini mengejeknya karena hanya ia sendiri yang duduk di ruang keluarga.
Siwon menghela nafas keras. Mengacak rambutnya dan menghentakan kakinya kesal, kekanakan sekali. Ia menggeram lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar Jaejoong.
Tok tok …
Tanpa menunggu jawaban dari dalam Siwon langsung masuk kedalam kamar Jaejoong. Ia melihat Jaejoong meringkuk di kasur membelakanginya. Siwon menghela nafas, ia merebahkan dirinya disamping Jaejoong sambil memainkan ponselnya.
"Kau tak apa Joongie ?"
"Hmm."
Siwon tersenyum kecil. Ia menggerakkan tangan kanannya menarik Jaejoong agar berbalik menghadapnya. Jaejoong hanya menurut, ia mendekatkan kepalanya ke dada Siwon. Nyaman sekali. Dulu Yunho selalu melakukan hal ini saat mereka akan tidur. Jadi Jaejoong akan tertidur dalam pelukan Yunho sampai pagi dan bangun dengan aroma tubuh Yunho yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Beberapa hari yang lalu Yunho juga menghubungiku. Ia meminta bertemu denganku, tapi karena aku tak bisa akhirnya kami mengobrol lewat telepon."
Hening.
"Ia berkata kalau ia masih mencintaimu."
Hening.
"Dan berharap kau mau memaafkannya lalu kembali menjalin hubungan denganmu."
"Aku tak mencintainya lagi." Kata Jaejoong dengan ketus.
Siwon mengangkat alisnya, suara Jaejoong tidak terdengar seperti apa yang dikatakannya. Siwon menumpukan dagunya di kepala Jaejoong.
"Lagipula aku tak suka dengan orang sudah mempunyai istri dan anak." Sambung Jaejoong.
Siwon hanya tersenyum penuh arti. Jaejoong hanya tak mengerti kejadian yang sebenarnya. Kalau ia mengerti mungkin tak akan seperti ini akhirnya. Siwon tahu yang sebenarnya, tapi ia menyembunyikannya. Ia hanya ingin Yunho yang menjelaskan pada Jaejoong secara langsung. Yunho dan Jaejoong hanya butuh waktu untuk bertemu. Keduanya harus menurunkan ego dan emosinya masing-masing terlebih dahulu.
"Tidurlah. Aku akan keluar sebentar. Berbaikanlah dengan Changmin, okey sayang ?"
"Hmm."
Siwon menarik selimut menutupi Jaejoong hingga leher, lalu keluar dari kamar Jaejoong. Ia harus secepatnya bertemu dengan Yunho.
.
.
TBC
.
.
Uhuyyy ! Chap 7 keluarrrr ! Mian gak ada Yunjae momentnya. Di chap depan kali ya aku banyakin Yunjae momentnya. Masih pendek ya ? Mian yaa aku buatnya pendek-pendek banget *bow.
.
.
Big thanks to : BooBear1013, aprilyarahmadani, rinatya12JOYerYJS, Reanelisabeth, Clein cassie, chantycassie, , ruixi1, Mami Fate Kamikaze, gothiclolita89, boobearchangkyu, ShinJiWoo920202, JeremmyKim, narayejea, ClouDyRyeoRez, Yunjae, 5351, alby, foreverOTP, .7, minjaeboo, JungKimCaca, Yanie, dims, MyBabyWonKyu, shim shia, Vic89, jongindo, Shim JaeCho, Yanie, DINDA red-devil24, yeojakim2, zehera iona, Keyla6384, Dennis Park, babyblue137, BibiGembalaSapi, otomeharu22, azahra88, nimahnurun, Guest, and my precious silent reader.
.
.
Last, review please …
