A Romantic Story About Eunhyuk

Remake Story

Disclaimer: Cerita asli milik Shanty Agatha, saya hanya mengganti pemainnya dengan KyuHyuk. ^^

Warning: Genderswitch

Happy reading

Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara alat-alat penunjang kehidupan yang berbunyi secara teratur.

Eunhyuk duduk disana, disamping ranjang Donghae, menatap Donghae yang terbaring dengan damai. Dua jam lagi operasi ginjal Donghae akan dilaksanakan.

Kau harus kuat bertahan ya? demi aku kau harus bertahan, kau harus bertahan, demi aku Hae-ya...

Berkali-kali Eunhyuk merapalkan kata-kata itu seperti sebuah doa yang tidak ada putus-putusnya.

Donghae tampak lebih kurus, dan pucat, dan begitu diam, tetapi Eunhyuk meyakini masih ada kekuatan hidup yang tersembunyi di dalam tubuh Donghae, Eunhyuk mempercayainya. Eunhyuk percaya kepada Donghae, seluruh harapannya masih bertumpu kepada kepercayaannya itu.

Kemungkinan keberhasilan operasi itu adalah 40:60, dan Eunhyuk bergantung kepada 40% itu. Dia percaya Donghae adalah lelaki yang kuat, buktinya dia sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini.

Suster Kim masuk ke dalam ruangan, dan menyentuh pundak Eunhyuk.

"Kondisinya stabil Eunhyuk-ah, aku yakin dia akan berhasil melalui ini semua."

"Iya suster, Donghae pasti kuat."

Suster Kim mengecek denyut nadi Donghae lalu menatap Eunhyuk seolah teringat sesuatu.

"Bagaimana kau berpamitan dengan Tn. Cho?"

Eunhyuk merona.

"Aku bilang menemani teman yang akan melahirkan," gumamnya pelan, merasa berdosa karena tidak biasa berbohong.

Hari ini hari minggu, Kyuhyun kebetulan berencana melewatkan waktunya seharian dengan Eunhyuk. Tetapi dengan alasan palsu dan kebohongan yang terbata-bata, Eunhyuk berhasil membuat Kyuhyun melepaskannya.

Meskipun dahi Kyuhyun tampak berkerut curiga ketika Eunhyuk berpamitan tadi pagi.

"Kalau begitu kenapa kau tak mau kuantar?" kejar Kyuhyun tadi pagi ketika Eunhyuk menolak tawarannya.

"Karena temanku ini mengenalmu sebagai bosku, nanti dia bisa mengetahui semuanya." jawab Eunhyuk cepat-cepat.

Lelaki itu mengerutkan keningnya lagi, tidak puas.

"Apakah dia salah satu pegawaiku?"

"Bukan!"

Eunhyuk langsung menyela keras, karena setelah mengenal Kyuhyun lebih dekat, Eunhyuk tahu, jika dia menjawab 'iya', maka Kyuhyun pasti akan menyuruh salah satu staf personalianya untuk mengecek apakah benar ada karyawannya yang akan melahirkan, dan dia akan mendapati kalau Eunhyuk berbohong.

"Dia bukan pegawaimu, tapi dia banyak mengenal teman-teman kantor dan dia tahu tentangmu, jadi kalau dia melihatmu dia bisa bertanya-tanya kepada yang lain…."

"Oke, kalau begitu di Rumah Sakit mana?"

Eunhyuk kehilangan kata-kata, berusaha mencari jawaban.

"Eh...aku tidak tahu di Rumah Sakit mana."

Dengan cepat Kyuhyun melangkah ke hadapan Eunhyuk yang berusaha menghindari tatapannya.

"Kau bilang akan menemani temanmu itu di Rumah sakit, bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana rumah sakitnya?"

"A...aku...", dengan gugup Eunhyuk menelan ludah, "Aku akan menunggu di flat yang lama, suaminya akan menjemputku nanti", disyukurinya jawaban yang terlintas cepat di otaknya, dia jarang berbohong, dan tidak pandai berbohong, sementara Kyuhyun terlihat seperti seorang detektif yang mencurigai tindakan kriminal yang dilakukan di belakangnya.

"Suaminya?"

Jawaban itu sepertinya membuat Kyuhyun tidak senang karena ekspresi wajahnya semakin menggelap.

"Kau membiarkan suaminya menjemputmu? kalian hanya berdua di jalan?"

Eunhyuk merasa gugup, tapi kemudian dia merasa ingin tertawa mendengar perkataan Kyuhyun yang terasa aneh.

"Kyu" gumam Eunhyuk jengkel, " Dia seorang suami, dan isterinya akan melahirkan anaknya, apa yang ada di dalam pikiranmu?"

Perkataan itu membuat pipi Kyuhyun merona, dan dia melangkah mundur.

"Ah ya...maaf," lalu lelaki itu menatap Eunhyuk tajam, "kau boleh pergi, tapi begitu sampai di rumah sakit itu kau harus menghubungiku"

"Ne," jawaban Eunhyuk terlalu cepat sehingga Kyuhyun menatapnya makin curiga.

"Kau harus menghubungiku, Oke?"

"Oke", jawab Eunhyuk terlalu cepat.

"Eunhyuk-ah!" Suara Kyuhyun terdengar jengkel.

"Oke, Aku janji." Jawab Eunhyuk akhirnya.

"Dan sebelum jam delapan malam kau harus pulang."

"Baik Kyu", Eunhyuk berjanji meski tidak tahu apakah dia bisa menepatinya.

Dan sekarang, dengan sengaja Eunhyuk mematikan ponselnya. Bagaimanapun kemarahan Kyuhyun nanti akan ditanggungnya, sekarang yang paling penting adalah Donghae.

"Sudah waktunya", gumam suster Kim, membuyarkan lamunan Eunhyuk.

Dua perawat lain masuk ke ruangan dan mulai mempersiapkan mesin-mesin penunjang kehidupan untuk Donghae. Lalu mulai mendorong tubuh Donghae keluar ruangan.

Eunhyuk mengikuti di belakang, sampai Donghae menghilang di pintu khusus ruang operasi.

Dengan lemah dia menoleh ke suster Kim,

"Berapa lama suster operasinya?" Suster Kim memeluk Eunhyuk lembut.

"Untuk operasi berat seperti ini, minimal 4 jam Hyuk-ah."

4 jam

5 jam

6 jam

...

Napas Eunhyuk mulai terasa sesak, berkali kali dia melirik lampu di atas pintu ruang operasi. Tetapi tetap tidak ada gerakan di sana. Di setiap detik yang terlewatkan dengan begitu lambat, napas Eunhyuk terasa makin lama makin sesak.

Kenapa lama sekali? Apa yang terjadi? Apakah para dokter mengalami kesulitan? Bagaimana kondisi Donghae disana?

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Eunhyuk, membuatnya makin cemas dan ketakutan.

Suster Kim sudah berkali-kali menengok keadaan Eunhyuk di sela-sela tugas jaganya, membawakan Eunhyuk segelas teh dan makanan kecil karena Eunhyuk tidak mau makan.

"Makanlah dulu Hyuk-ah. Aku tidak mau kau pingsan nantinya." gumam suster Kim sambil memijit lembut pundak Eunhyuk.

Dengan lemah Eunhyuk menggeleng. "Tidak bisa suster, aku terlalu cemas untuk makan."

"Kalau begitu minumlah tehmu, kau sama sekali belum makan sejak tadi, setidaknya teh manis bisa memberikanmu sedikit tenaga."

Dengan patuh Eunhyuk meneguk teh manisnya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.

"Kenapa lama sekali suster operasinya?"

Suster Kim menghela napas.

"Aku tidak tahu Hyuk-ah, tapi Donghae kan kasus khusus, para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih lama."

Pandangan Eunhyuk tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi.

Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.

Dokter itu tersenyum sebelum Eunhyuk bertanya, dia mengenal EunHyuk, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.

"Tidak apa-apa Eunhyuk-ah, Donghae lelaki yang kuat, operasinya berhasil."

Tubuh Eunhyuk langsung lunglai penuh rasa syukur hingga sang dokter harus menopangnya.

"Selamat Eunhyuk-ah, kamu berhasil... Kalian berdua berhasil."

"Pulanglah dulu Eunhyuk-ah, ini sudah hampir jam tiga pagi", suster Kim yang masih setia menemani mengguncang pundak Eunhyuk.

Dia kasihan melihat gadis itu tertidur kelelahan di samping ranjang Donghae, begitu Donghae keluar dari ruang pemulihan dan kembali ke kamar perawatan intensif, Eunhyuk tak pernah beranjak dari sisi Donghae, tidak makan, tidak minum. Hanya duduk disana mengenggam tangan Donghae yang tidak terbalut infus, seolah olah akan ada keajaiban dimana Donghae akhirnya sadarkan diri.

Kasihan sekali kau Hyuk-ah, suster Kim menggumamkan rasa tersentuhnya dalam hati.

Eunhyuk berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.

"Kau harus pulang Eunhyuk-ah, ingat, mungkin Kyuhyun kebingungan mencarimu."

Astaga! Astaga! Astaga! Ya Tuhan, Eunhyuk benar-benar lupa, Kyuhyun! Astaga, lelaki itu pasti akan mencarinya dan sekarang dia pasti sedang marah besar!

Dengan gugup Eunhyuk bangkit dari kursinya, sedikit gemetar membayangkan kemarahan Kyuhyun nantinya.

"Aku meminta supir rumah sakit mengantarmu pulang, jadi kau tidak perlu naik taksi dini hari begini", Suster Kim berusaha meredakan kegugupan Eunhyuk.

Dengan cepat Eunhyuk mengecup tangan Donghae yang masih ada dalam genggamannya, memeluk suster Kim dan setengah berlari keluar.

Ruangan itu gelap.

Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Eunhyuk menutup pintu terdengar begitu keras.

Dengan gugup Eunhyuk menelan ludah.

Kenapa sepi? Kemana Kyuhyun?

Apa Kyuhyun mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin dia tidak tahu kalau Eunhyuk belum pulang? Syukurlah kalau begitu kejadiannya.

Eunhyuk berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi, seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.

Dan bom itu memang meledak.

Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka, tidak, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala.

Kyuhyun tampak begitu menakutkan, matanya menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut masai. Yang pasti, lelaki itu kelihatan begitu murka mendapati Eunhyuk berdiri di ruang tamu apartemen itu, hanya menatapnya.

Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Eunhyuk dan mengguncangnya begitu keras sampai Eunhyuk merasa pusing,

"Kemana saja KAU?!", teriak KyuHyun, lepas kendali.

Eunhyuk berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa pusing karena Kyuhyun masih mengguncangnya.

"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu?!", Kyuhyun masih berteriak.

"Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi satu persatu, tapi kau tidak ada! Kemana saja KAU

?"

"Kyuhyun, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi", sebuah suara tenang terdengar di belakang Kyuhyun, membuat lelaki itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya.

Leeteuk berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Eunhyuk yang didamprat oleh Kyuhyun.

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengontrol emosinya.

Sialan benar kau Lee Eunhyuk! Sialan benar gadis ini! Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Eunhyuk tidak juga pulang? Tak tahukah dia betapa hati Kyuhyun dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Eunhyuk dan menemukan bahwa ponselnya mati?

Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak Kyuhyun, bagaimana kalau Eunhyuk kecelakaan? Atau dia menjadi korban kejahatan?! Bagaimana kalau gadis itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan?

Dan sekarang, menemukan gadis itu berdiri di ruang tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Kyuhyun dibanjiri perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena gadis itu telah membuatnya kacau balau, murka karena gadis itu telah membuatnya berubah dari Kyuhyun yang tenang menjadi Kyuhyun yang kacau, murka karena gadis itu telah menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.

"Pro... Proses melahirkan temanku bermasalah... Dia... Dia...ehh... Harus... Dioperasi...", Eunhyuk masih berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.

Tangan Kyuhyun yang masih berada di pundaknya mencengkeramnya kuat.

"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku?! Kenapa kau matikan ponselmu hah?!"

Eunhyuk mengerjapkan matanya gugup. "Baterai ponselku... Habis..."

"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi! "

"Kyu, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan selamat", Leeteuk menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Kyuhyun.

Dengan tajam Kyuhyun menoleh kepada sahabatnya itu,

"Cukup Leeteuk hyung, kau boleh pulang, terima kasih sudah menemaniku tadi."

Leeteuk hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu, dia menepuk-nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar pintu.

"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu", kata-kata Leeteuk ditujukan kepada Kyuhyun, tapi matanya menatap tajam ke arah Eunhyuk, menyalahkan.

"Dan kau, Tuan Putri, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!", sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Leeteuk.

Kyuhyun diam.

Dan Eunhyuk juga diam, menilai emosi Kyuhyun, takut salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Kyuhyun semakin parah.

Setelah mengamati dengan hati-hati, Eunhyuk menarik kesimpulan kalau kemarahan Kyuhyun sudah mulai mereda, matanya sudah tidak menyala lagi seperti api , dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.

"Maafkan aku," bisik Eunhyuk pelan, takut-takut.

Sejenak Kyuhyun tampak akan mendampratnya lagi, tetapi lelaki itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.

"Sudahlah", gumamnya, melangkah melewati Eunhyuk memasuki kamar.

Dengan gugup Eunhyuk berusaha mengejar langkah Kyuhyun yang begitu cepat.

"Maafkan aku, aku tidak berpikir kau akan secemas itu", tersengal Eunhyuk berusaha menjajari langkah Kyuhyun menuju kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku..Kyu!", Eunhyuk setengah berseru karena lelaki itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.

Kyuhyun berhenti melangkah, menatap Eunhyuk, tampak begitu dingin.

"Yang penting kau sudah pulang dengan selamat", jawabnya datar.

"Kyu...?"

Eunhyuk merasa ragu mendengar nada dingin di dalam suara Kyuhyun.

"Sudah! Aku mau tidur!" geram Kyuhyun marah sambil melangkah ke arah ranjang.

Lelaki itu marah, marah besar padanya.

Eunhyuk bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.

Semalaman Eunhyuk tidak bisa tidur, dan Eunhyuk yakin Kyuhyun juga tidak tidur, karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.

Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.

Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Kyuhyun meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.

Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Kita berangkat bersama", desis Kyuhyun setelah membanting serbet makannya ke meja.

Tangan Eunhyuk yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah.

"Apa?"

"Kita berangkat bersama-sama", ulang Kyuhyun datar.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi Eunhyuk-ah," sela Kyuhyun kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu. "Ayo cepat!"

Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil buat Eunhyuk, dan membantingnya ketika Eunhyuk sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.

Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Eunhyuk hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Kyuhyun.

"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!", gumam Kyuhyun tanpa mau dibantah ketika menurunkan Eunhyuk di lobi kantor.

Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Eunhyuk, perasaannya tidak enak, sampai kapan Kyuhyun akan marah padanya? Sampai kapan Kyuhyun akan bersikap seperti ini kepadanya?

Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Kyuhyun?

Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.

Sebenarnya Eunhyuk tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah sakit menengok Donghae, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh kyuhyun pada waktu perjanjian awal mereka.

Tapi dengan ancaman Kyuhyun tadi pagi, Eunhyuk tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Kyuhyun untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.

Meja sekretaris Kyuhyun sudah kosong, dengan pelan Eunhyuk melangkah ke pintu besar ruangan Kyuhyun, mengetuknya pelan.

"Masuk."

Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Eunhyuk masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku.

Bukan Kyuhyun yang ada di sana, tetapi Leeteuk, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Eunhyuk dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.

"Tn. Cho menyuruh saya kesini jam pulang kantor.", jelas Eunhyuk terbata.

Leeteuk tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.

"Aku tahu, Kyuhyun menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jerman di ruang pertemuan."

"Oh."

Eunhyuk tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Eunhyuk memang tidak kenal dekat dengan Leeteuk, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Leeteuk.

"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja", gumam Eunhyuk cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.

"Bagaimana rasanya?"

Pertanyaan tiba-tiba Leeteuk itu menghentikan gerakan tangan Eunhyuk membuka pegangan pintu.

"Apa?"

"Bagaimana rasanya menjadi wanita simpanan CEO kaya seperti Cho Kyuhyun?" Leeteuk bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Eunhyuk.

Eunhyuk tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Leeteuk, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.

"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar," Eunhyuk berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Leeteuk mendorong pintu itu tertutup lagi.

"Aku bertanya padamu Tuan Putri", ulang Leeteuk sinis.

Eunhyuk menatap Leeteuk tajam.

"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya," desisnya pelan.

Ucapan itu membuat Leeteuk tertawa, penuh penghinaan.

"Merendahkan katamu?, bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan wanita simpanan oleh Kyuhyun?", ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Eunhyuk tak kalah kasar, tak peduli Eunhyuk mulai meronta-ronta.

"Kau adalah wanita paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Kyuhyun dengan tubuhmu", Leeteuk menyeringai sinis. "Tak kusangka Kyuhyun bisa bertekuk lutut pada wanita sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Kyuhyun terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."

"Anda salah! Saya tidak begitu", Eunhyuk berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Leeteuk, tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.

"Kau tidak bisa membohongiku dasar gadis licik!", Leeteuk menggeram pelan, "meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta won yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Kyuhyun untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"

"Anda salah paham!", Eunhyuk setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Leeteuk yang sangat keras.

"Kau wanita penghibur yang menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta won", Leeteuk mulai merapat ke tubuh Eunhyuk.

"Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"

"Tidaaak! Lepaskan saya!", Eunhyuk mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Leeteuk yang semakin gelap mata.

Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar

Eunhyuk meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Leeteuk, dia tidak mau!

KyuHyun-ah! KyuHyun-ah! Tolong aku!

TBC..