Remake dari Kak Valeria Verawati yang judulnya "Pacarku Juniorku".
Novel ini adalah salah satu Novel favorit aku jaman sekolah dulu loh.
Jadi kupikir kayanya kalau diremake dengan member Bangtan cukup seru juga.
Semua alur cerita sesuai dengan Novel aslinya, cuma beberapa situasi akan disesuaikan dengan konsep boy x boy & imajinasiku :p
Sekali lagi aku bikin FF with no GS, semuanya cowok cakep yeee…
& mungkin karakter-karakter di sini adalah OOC. Tapi aku usahain supaya gak terlalu berbeda dengan karakter asli mereka, konsep 'Yoongi si manis galak' selalu aku tanamkan kok dipikiranku hihi.
Happy reading, semoga suka ya! ^^
Main cast: Min Yoongi (Uke)
MinYoon / JiHope / ChanJin / NamJin
Featuring: All BTS member & other Idol yang belum aku tentukan.
Rating T, Humor, Slice of Life, Fluff.
Yaoi, boy x boy.
DON'T LIKE DON'T READ.
Chapter 8
Dua minggu telah berlalu. Sampai hari ini Yoongi selalu menghindar dari JHope dan Jimin. Jin dan V yang nggak mengerti apa yang telah terjadi hanya berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang baik buat Yoongi maupun JHope yang enggan bertegur sapa.
"Yoongi, besok mau ikut belajar bersama di rumah gue nggak?" tanya V.
Yoongi, Jin, dan V duduk di kelas, menghabiskan sisa jam istirahat mereka.
"Hobi ikut?" tanya Yoongi to the point.
"Mmm... dia sih udah bilang oke," jawab V jujur.
V nggak mau bohong lagi sama Yoongi. Waktu itu dia dan Jin udah pernah bohong dan berusaha mempertemukan Yoongi dengan JHope. Mereka berharap dengan begitu masalah di antara Yoongi dan JHope Bisa selesai, tapi nyatanya keduanya malah marah besar dan pergi begitu aja tanpa bicara.
"Kalau ada Hobi, gue nggak ikutan," kata Yoongi. "Gue udah bilang sama kalian, gue nggak mau bicara lagi sama dia."
"Yoongi, lo kenapa sih?" tanya Jin kesal. "Kalian berdua kaya anak kecil, tau! Kalau memang ada masalah, ya dibicarain dong, jangan bersikap seperti ini!"
"Gue nggak ada masalah, tapi dia yang bermasalah," jawab Yoongi.
"Iya, tapi apa masalahnya?" tanya Jin lagi. "Kita udah temenan selama tiga tahun. Sebentar lagi kita bakal lulus SMA dan pisah. Apa lo mau kita terus-terusan seperti ini? Apa persahabatan kita berempat sama sekali nggak ada artinya buat elo?"
"Lo jangan bicara seperti ini ke gue, tapi ke Hobi," sahut Yoongi. "Lo tanyain ke dia apa selama tiga tahun ini dia berteman dengan gue karena kasihan dengan masa lalu gue."
"Siapa yang bilang gitu?" tanya V. "Lo pasti salah dengar. Ini pasti cuma salah paham."
Yoongi tertawa.
"Kalian juga nggak percaya, kan?"
"Yoongi, apa masalah lo dengan Hobi ada hubungannya dengan Jimin?" tanya Jin.
"Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di depan gue!" bentak Yoongi.
Jin dan V terdiam.
"Sori, Jinnie. Gue nggak bermaksud ngebentak elo," kata Yoongi, nyesel karena nggak bisa menahan emosinya. "Gue ke WC dulu ya."
Yoongi bangkit dari duduknya dan keluar kelas menyusuri koridor menuju WC.
Saat Yoongi berjalan sendirian, ada yang memanggilnya dari arah belakang.
"Yoongi!"
Yoongi menoleh, tapi begitu melihat sosok orang yang memanggilnya, dia langsung buang muka dan kembali berjalan.
"Yoongi, tunggu!" Jimin menahan tangan Yoongi.
"Lepasin, brengsek!" seru Yoongi. "Gue nggak kenal sama lo, jadi jangan panggil-panggil nama gue seenak jidat lo!"
"Yoongi, kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya," mohon Jimin. "Gue sama JHope nggak ada hubungan apa-apa. Dia memang baik sama gue. Belakangan ini dia sering ke rumah gue, nelepon gue, ngobrol sama gue, nanyain tentang masa kecil gue, tapi cuma sebatas itu, nggak pernah lebih. Gue nggak punya perasaan khusus sama dia."
"Lo pikir gue percaya sama elo?" tanya Yoongi ketus. "Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, gimana mesranya elo sama dia, dan lo bilang elo nggak ada hubungan apa-apa sama dia? Lo pikir gue percaya sama kata-kata lo itu?"
Yoongi membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Jimin.
"Yoongi!" panggil Jimin. "Lo cemburu, ya?"
Yoongi berhenti dan membalikkan badannya, menatap Jimin yang tersenyum di hadapannya. "Dasar cowok nggak punya malu. Cemburu gara-gara elo cuma buang-buang tenaga. Pikir pakai otak, apa kelebihan lo yang bisa bikin gue cemburu gara-gara elo?"
"Jangan menipu diri sendiri, Yoongi," kata Jimin sambil tetap tersenyum. "Akui aja kalau elo memang udah jatuh cinta sama gue dan elo cemburu karena gue dekat sama JHope. Iya, kan?"
Yoongi tertawa mengejek. "Lebih baik gue jatuh cinta sama monyet daripada sama elo!"
Yoongi membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa memedulikan Jimin yang memanggil namanya berulang kali.
.
(^-^)
.
Satu hari lagi telah berlalu.
Yoongi melempar selimut yang menutup tubuhnya. Disambarnya handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, lalu bergegas menuju kamar mandi buat siap-siap ke sekolah.
Selesai mandi, Yoongi membawa ranselnya menuju ruang makan. Mama sudah menunggu dengan segelas kopi panas.
"Pagi, Ma," sapa Yoongi.
"Pagi, Sayang," sahut Mama. "Gimana tidur kamu semalam?"
"Mimpi buruk," jawab Yoongi. "Aku mimpi ketemu monster serem. Dia ngejar-ngejar aku sambil bawa bunga. Aku kabur sampai-sampai aku kecebur got, tapi makhluk itu sama sekali nggak mau berhenti ngejar aku."
Mama tertawa. "Untung monsternya bawa bunga, itu tandanya monsternya baik hati."
"Ih, Mama... Mau bawa bunga kek, mau bawa cokelat kek, yang namanya monster ya tetap aja nakutin."
"Monsternya cowok atau cewek?"
"Mana aku tau...," jawab Yoongi. "Memangnya aku sempat wawancara sama tu monster? Mama nih ada-ada aja."
Mama kembali tertawa. Yoongi mengambil setangkup roti tawar yang sudah diolesi selai kacang oleh Mama dan melahapnya.
"Yoongi, nanti malam papamu mau makan malam bersama di sini. Boleh, kan?" tanya Mama.
"Terserah."
"Kok terserah sih, Yoongi?" tanya Mama. "Papamu udah kangen sama kamu. Sejak makan malam waktu itu, kamu nggak pernah Bicara lagi sama dia. Setiap dia datang, kamu ngumpet di dalam kamar. Kasihan kan dia."
"Aku tuh lagi banyak tugas dan ujian, Ma. Dua bulan lagi kan aku udah mau ujian akhir."
"Mama ngerti. Tapi paling tidak, kamu kan bisa menyempatkan diri untuk sekadar menyapa papamu sebentar."
"Ma, jujur sama aku," kata Yoongi menghentikan kegiatan makannya, "apa Mama nggak takut kalau ternyata dia nggak sebaik yang Mama kira? Apa Mama nggak takut kalau suatu hari nanti dia ninggalin kita lagi? Apa Mama nggak takut kalau nanti dia selingkuh kaya Minwoo Ahjussi?"
Mama diam. Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ia berkata, "Kadang-kadang rasa takut itu muncul, Yoongi. Mama tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi. Tapi Mama belajar percaya dan pasrah. Kegagalan bukan berarti kita berhenti untuk berusaha, kan?"
"Kenapa Mama mau memaafkan dia?"
"Entahlah, Mama juga tidak tau. Mungkin karena dia papa kandungmu."
"Lalu kapan Mama mau menikah dengannya?"
Mama tertawa. "Sudahlah, jangan Bicarakan itu lagi. Habiskan sarapanmu, lalu cepat berangkat sekolah."
Yoongi menurut. Dia menghabiskan rotinya lalu meneguk susu cokelat di hadapannya tanpa sisa.
"Ya udah. Aku berangkat dulu ya, Ma," pamit Yoongi sambil menyambar tas ransel di sebelahnya lalu bangkit dan bergegas keluar.
Mama ikut berdiri dan mengantar putra semata wayangnya itu ke depan.
"Jangan pulang terlalu sore, ya!" pesan Mama sambil membukakan pintu buat Yoongi.
"Iya, aku tau," jawab Yoongi lalu segera keluar dari rumah.
Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Pemandangan di depannya membuat mulutnya terbuka lebar karena terkejut.
Mama Yoongi yang heran melihat tingkah putranya segera mendekati Yoongi sambil bertanya,
"Ada apa sih, Yoongi?"
Tapi pertanyaan mama nggak perlu Yoongi jawab. Pemandangan yang terhampar di hadapannya merupakan jawaban yang membuat Mama terpesona.
Di depan pagar rumah mereka, terpajang buket bunga berukuran besar, berisi beraneka mawar, dan spanduk bertulisan:
"YOONGI, I‟M SORRY!"
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Mama heran sekaligus takjub. "Ini benar-benar luar biasa."
Yoongi nggak menjawab. Matanya menatap spanduk yang terikat di pagar rumahnya. Kata-kata di spanduk itu membuat dia tahu siapa pelakunya. Tapi Yoongi memilih bungkam. Dia berjalan ke arah pagar dan berhenti tepat di depan spanduk. Dalam sekali tarikan, keras, Yoongi mencopot spanduk yang ternyata nggak terikat kuat di pagar. Lalu Yoongi menggulung dan menjejalkannya ke dalam tas ranselnya.
"Ma, tolong buang bunga-bunga ini ke tong sampah," pinta Yoongi. "Kalau perlu dibakar aja. Aku nggak mau saat aku pulang nanti bunga-bunga ini masih ada di halaman."
"Tapi, Yoongi..."
"Tolong, Ma," mohon Yoongi.
Mama akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, nanti Mama rapikan sebelum berangkat kerja."
"Makasih, Ma. Aku berangkat dulu ya," pamit Yoongi.
Yoongi membuka pintu pagar dan bergegas ke sekolah. Ada seseorang yang harus dia temui sekarang juga.
.
(^-^)
.
Yoongi melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Jimin. Ranselnya masih nangkring dengan manis di punggungnya, tapi gulungan spanduk udah pindah ke dalam genggaman tangannya.
Mata Yoongi mencari sosok Jimin di dalam kelas yang udah lumayan ramai pagi itu. Begitu matanya menemukan Jimin yang lagi duduk di meja bersama beberapa temannya, Yoongi langsung memanggilnya.
"Jimin!"
Cowok itu terkejut mendengar teriakan itu. Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Yoongi sedang berdiri di depan pintu kelasnya. Jimin tersenyum lalu berdiri dan berjalan mendekati Yoongi.
"Ada apa, Yoongi, pagi-pagi udah cari gue?" tanya Jimin manis.
"Nggak usah sok innocent deh!" bentak Yoongi tanpa memedulikan tatapan anak-anak kelas satu yang mengarah padanya. "Apa maksud lo dengan semua ini?" Yoongi menunjukkan gulungan spanduk di tangannya, tepat di depan hidung Jimin.
"Ini...," Jimin mengambil gulungan spanduk dari tangan Yoongi sambil tersenyum, "adalah wujud permintaan maaf gue ke elo."
"Lo pikir gue cowok gampangan yang langsung klepek-klepek kalau dikasih bunga?"
"Yoongi, kenapa sih elo selalu menganggap negatif semua hal yang gue lakukan buat elo?" tanya Jimin pelan. "Gue melakukan semua itu dengan tulus, sama sekali nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma mau minta maaf sama elo."
"Trus, lo pikir dengan begitu gue bakal maafin elo?"
"Paling nggak, gue udah usaha, kan?"
"Lo salah!" bentak Yoongi. "Gue bukan cowok gampangan yang seneng dirayu sama bunga. Lo mau kasih gue seratus mawar kek, gue nggak akan peduli. Asal lo tau, Jimin, gue paling benci cowok gombal kaya elo!"
Yoongi membalikkan badannya dan segera berlalu dari kelas Jimin.
"Tunggu, Yoongi!" tahan Jimin. "Gue cuma mau minta maaf sama elo, dan bukan membuat elo semakin membenci gue."
Yoongi menatap kedua bola mata Jimin dengan tajam dan tanpa suara. Sorot matanya seakan ingin menusuk lawan bicaranya. Jimin perlahan melepaskan tangannya dari lengan Yoongi.
"Yoongi, please, maafin gue," Jimin memohon dengan wajah memelas.
Jujur, dia benar-benar tertekan menghadapi cowok keras kepala ini. Dia nggak tahu bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Yoongi. Dia tersiksa menghadapi sikap ketus Yoongi. Dia nggak mau cowok ini sampai benar-benar membencinya. Dia takut kehilangan Yoongi.
Tapi Yoongi tetap cuek. Dia nggak peduli dengan usaha-usaha Jimin untuk meluluhkan hatinya. Dia nggak peduli dengan permohonan maaf Jimin. Dia juga nggak peduli dengan wajah memelas di depannya itu. Yoongi telanjur sakit hati, dan dia nggak mau itu terulang untuk kedua kailnya.
Baginya, membuka hatinya untuk Jimin adalah sebuah kesalahan.
.
(^-^)
.
Malam itu Yoongi duduk di ruang tamu sambil membaca catatan matematika buat ulangan besok. Mama sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring bekas makan malam. Sebenarnya Yoongi mau ikut bantuin sih, tapi batal gara-gara Hae Jin Ahjussi udah duluan turun tangan membantu Mama membereskan meja makan. Yoongi malas kalau harus nimbrung di tengah-tengah mereka. Meskipun Hae Jin Ahjussi papa kandungnya, Yoongi tetap belum bisa menerima kehadiran laki-laki itu. Yoongi masih merasa asing dan belum sepenuhnya memaafkan dia.
Yoongi pengin segera masuk kamar setelah makan malam tadi dan menghindar dari laki-laki itu. Tapi Yoongi ingat percakapannya tadi pagi dengan Mama:
Yoongi nggak mau mengecewakan Mama.
Jadi dia terpaksa duduk manis di ruang tamu, meskipun nggak ngobrol dengan Hae Jin Ahjussi seperti permintaan Mama. Paling tidak, dia nggak mengunci diri di kamarnya.
Yoongi membalik halaman buku catatannya dan mulai mempelajari materi buat ulangan besok. Mulutnya komat kamit menghafalkan rumus dan bola matanya berputar-putar. Dia nggak sadar Hae Jin Ahjussi sudah berdiri di dekatnya.
"Besok ada ulangan ya, Yoongi?" suara Hae Jin Ahjussi mengagetkan Yoongi.
"Iya," jawab Yoongi sekadarnya.
Hae Jin Ahjussi duduk di dekat Yoongi sambil tersenyum. Yoongi menatap laki-laki itu kesal. Pede banget dia, duduk dekat-dekat tanpa permisi dulu, rutuk Yoongi dalam hati.
"Katanya tadi pagi ada kiriman bunga ya di halaman?" tanya Hae Jin Ahjussi.
"Itu bukan urusan Ahjussi," jawab Yoongi keki. Sejak kapan laki-laki ini mulai berani ikut campur dalam masalahnya?
"Pasti cowok yang mengirim mawar itu sangat menyukai kamu..." Hae Jin Ahjussi seakan nggak peduli dengan kekesalan yang tersirat di wajah Yoongi.
"Udah aku bilang, ini bukan urusan Ahjussi!"
"Meskipun kamu cowok, tapi kamu memang cantik seperti mama kamu, wajar saja kalau banyak cowok yang jatuh hati padamu."
"Laki-laki semua sama aja," sindir Yoongi. "Cuma manis di mulut, tapi hatinya lebih busuk daripada sampah."
"Tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan, Yoongi."
"Tapi semua laki-laki yang hadir dalam hidupku malah membuat dugaanku semakin tepat."
Hae Jin Ahjussi menghela napas, lalu berkata lembut,
"Apa yang Ahjussi lakukan dulu memang tidak layak untuk mendapatkan maaf. Ahjussi telah membuat hidupmu menderita, dan Ahjussi pula yang telah membuatmu selalu berpikir negatif tentang laki-laki."
Yoongi cuma diam. Kali ini dia nggak bereaksi dengan ucapan Hae Jin Ahjussi.
"Kalau dulu Ahjussi berpamitan dengan mamamu sebelum berangkat ke Busan dan mengatakan kesediaan Ahjussi untuk bertanggung jawab, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia. Dan mungkin kamu tidak akan bersikap dingin pada laki-laki," lanjut Hae Jin Ahjussi. "Tapi apalah guna sebuah penyesalan. Yang sudah terjadi tak mungkin dapat diulang kembali. Saat ini Ahjussi hanya berusaha memperbaiki semua kesalahan Ahjussi dulu dan memperjuangkan kebahagiaan yang sangat Ahjussi inginkan saat ini, yaitu membahagiakan kamu dan mamamu."
"Membahagiakan aku dan Mama?"
"Benar, itulah tujuan hidup Ahjussi saat ini," jawab Hae Jin Ahjussi. "Yoongi, saat kamu mencintai seseorang dengan tulus, maka bagimu yang terpenting adalah melihat orang yang kamu cintai itu bahagia. Dan itulah yang Ahjussi rasakan saat ini."
Yoongi menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. Laki-laki yang sejak dulu begitu dibencinya. Entah kenapa untaian kata yang keluar dari mulut lelaki itu mengusik hatinya. Yoongi berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di wajah Hae Jin Ahjussi. Apa kata-kata yang keluar dari mulutnya berasal dari hati?
Dan Yoongi menemukan jawabannya.
Hae Jin Ahjussi nggak akan menipu. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih membuat hati Yoongi terasa hangat dan nyaman.
"Boleh aku bertanya satu hal?" tanya Yoongi pelan.
Hae Jin Ahjussi mengangguk sambil tersenyum.
"Jika seseorang yang Ahjussi percaya dan cintai mengkhianati Ahjussi, apa yang akan Ahjussi lakukan?"
"Tentu saja Ahjussi akan marah," jawab Hae Jin Ahjussi. "Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya. Dan itu pula yang akan Ahjussi lakukan."
"Seperti Mama memaafkan Ahjussi?"
"Mungkin seperti itu."
Yoongi teringat percakapannya dengan Mama tadi pagi tentang alasan Mama memaafkan Hae Jin Ahjussi. Sekarang Yoongi baru mengerti alasan itu. Alasan yang sederhana tapi memiliki kekuatan yang begitu dahsyat sehingga Mama dengan mudah melupakan sakit hatinya dan menerima laki-laki ini kembali.
Alasan itu adalah cinta.
Yoongi bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Hae Jin Ahjussi tanpa sepatah kata pun. Hae Jin Ahjussi hanya diam. Dia menatap punggung Yoongi sambil tersenyum. Dia sadar, kesalahannya terlalu besar dan nggak mudah untuk membuat Yoongi mau memaafkannya. Dia telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun.
Terlalu muluk rasanya jika dia mengharapkan Yoongi dengan tersenyum lebar langsung menerimanya kembali. Meskipun sesungguhnya hatinya nggak dapat menahan rasa rindu untuk dapat memeluk anak yang terus dicarinya selama ini.
Tiba-tiba Yoongi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Hae Jin Ahjussi. Matanya beradu dengan tatapan hangat lelaki itu. Lalu Yoongi berkata,
"Jangan pulang malam-malam. Bahaya, Ahjussi..."
Suara Yoongi yang lembut membuat Hae Jin Ahjussi terbelalak kaget. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban.
Yoongi masih berdiri di tempatnya sambil menatap Hae Jin Ahjussi, lalu kembali berkata, "Aku mau tidur dulu karena besok harus sekolah..."
Lagi-lagi Hae Jin Ahjussi hanya mengangguk.
Yoongi membalikkan badannya dan kembali berjalan. Tapi baru beberapa langkah, dia kembali berhenti dan berbalik menatap papanya lagi.
"Aku memang sangat membenci Ahjussi," katanya pelan. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan, "Tapi aku juga sangat merindukan Papa..."
Hae Jin Ahjussi terdiam. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya seakan bergolak. Perasaan bahagia perlahan meluap dalam dirinya. Senyum tersungging di bibirnya dan air mata menggenangi pelupuk matanya. Lelaki itu tak bisa menahan haru yang membungkus hatinya. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa kaku. Saat ini ia terlalu bahagia.
Sama seperti Yoongi. Rasa lega memasuki kalbunya. Kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti dirinya. Dia sama sekali nggak menyangka, lidahnya mampu memanggil laki-laki itu "Papa". Dan panggilan itu telah menyembuhkan begitu banyak luka yang membuat cacat hatinya.
Yoongi nggak bisa memungkiri, jauh di lubuk hatinya dia merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang mulai detik ini dan selamanya akan dipanggilnya Papa.
.
(^-^)
.
"Yoongi..." Suara Mama terdengar dari balik pintu kamar Yoongi. "Kamu sudah tidur, Sayang?"
Yoongi menutup catatan matematikanya dan berjalan membukakan pintu.
"Ada apa, Ma?" tanyanya begitu pintu kamarnya terbuka. "Aku masih belajar buat ulangan besok."
Mama tersenyum.
"Papamu sudah pulang."
"Aku tau," sahut Yoongi. "Aku dengar suara mobilnya."
"Papamu nggak mau mengganggu kamu," kata Mama. "Dia takut kamu sudah tidur."
Yoongi menganggukan kepala.
Mama diam. Yoongi juga diam.
"Yoongi..." Mama buka suara. "Makasih, ya."
"Makasih buat apa, Ma?"
"Makasih karena kamu sudah memaafkan papamu."
Yoongi diam. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar.
"Ma, apa sekarang Mama bahagia?" tanya Yoongi kemudian.
"Mama bahagia," jawab Mama mantap. "Mama bahagia karena Mama memiliki putra seperti kamu."
"Aku juga bahagia, Ma," sahut Yoongi. "Mama nggak perlu bilang makasih sama aku karena memang sudah wajib hukumnya seorang anak mengakui papanya."
Mama tersenyum lalu merengkuh tubuh Yoongi ke dalam pelukannya.
"Mama sayang kamu, Yoongi, dan Mama bangga padamu."
Yoongi membalas pelukan Mama. "Ma, di pesta pernikahan Mama dan Papa nanti, aku jadi pengiring pengantin wanitanya, ya? Aku mau menggandeng Mama."
Mama tertawa.
"Iya, Sayang."
Yoongi ikut tertawa. Rasanya belum pernah ia merasa begitu bahagia seperti hari ini. Begitu hebatkah kekuatan cinta dan maaf?
Dering telepon membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas.
"Mama angkat telepon dulu, ya."
Yoongi mengangguk lalu menutup pintu kamarnya begitu Mama pergi. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar. Rasanya nggak percaya, dia dan Mama bisa tertawa seperti tadi. Hatinya kini terasa seringan kapas.
"Yoongi!" suara Mama memanggil Yoongi.
Yoongi terlonjak kaget dan langsung bangkit dari tidurnya.
"Telepon, Yoongi! Dari Jin!" ujar Mama. "Katanya penting!"
"Iya, Ma!" sahut Yoongi lalu bergegas keluar dari kamar.
Mama menyerahkan gagang telepon kepada Yoongi lalu menghilang ke kamarnya.
"Halo," sapa Yoongi.
"Sori, Yoongi, gue ganggu malam-malam gini."
"Nggak apa-apa, Jinnie," kata Yoongi. "Gue juga belum tidur kok."
"Gue cuma mau menyampaikan kabar buruk."
"Kabar buruk?" tanya Yoongi heran. "Kabar buruk apa?"
"Bokapnya Hobi meninggal."
"MENINGGAL?!" pekik Yoongi.
"Iya, baru aja."
"Kenapa?"
"Gue juga nggak tau," jawab Jin. "Terakhir kali gue jenguk bokapnya di rumah sakit, bokapnya masih bisa ngomong. Mungkin memang penyakitnya udah benar-benar parah."
"Bokapnya Hobi masuk rumah sakit, kok lo nggak kasih tau gue?"
"Bukannya lo lagi musuhan sama Hobi?" Jin malah balik bertanya dengan nada sinis. "Bukannya lo nggak mau denger gue dan Taetae nyebut nama Hobi?"
Yoongi terdiam. Jin benar. Selama ini dia yang melarang Jin dan V membicarakan JHope. Dia yang marah-marah waktu Jin dan V mempertemukannya dengan JHope. Dia yang menutup telinganya rapat-rapat setiap kali Jin dan V menyebut nama JHope. Jadi wajar saja kalau kedua temannya ini tidak memberitahunya kabar tentang papanya JHope.
"Jinnie, boleh gue tau bokapnya JHope disemayamkan di mana?"
"Sekarang masih di rumah sakit," jawab Jin. "Besok baru dipindah ke rumah duka. Gue belum tau bakal dimakamkan di mana."
Penyesalan masih merasuki hati Yoongi. Dia nggak tahu harus berkata apa. Sampai telepon ditutup, Yoongi nggak banyak bicara. Perasaannya saat ini benar-benar kacau.
Yoongi berjalan gontai menuju kamar Mama, lalu mengetuk pintunya pelan.
Pintu terbuka dan wajah Mama muncul dari baliknya.
"Ada apa, Yoongi?" tanya Mama.
"Aku boleh ke rumah sakit, Ma? Sekarang."
"Ke rumah sakit?" Mama bertanya heran. "Ada apa?"
"Papanya Hobi meninggal."
"Meninggal?!"
Yoongi mengangguk.
"Boleh ya, Ma?"
"Apa nggak bisa ditunda besok saja, Yoongi. Ini sudah malam."
"Nggak bisa, Ma. Perasaanku nggak tenang."
Mama menatap Yoongi dalam-dalam. Ia ragu memberikan ijin untuk Yoongi.
"Please, Ma," mohon Yoongi. "Aku nggak akan lama. Aku cuma mau ketemu dan bicara sama Hobi sebentar aja."
Mama menghela napas.
"Baiklah, tapi Yoongi papamu yang mengantar kamu."
"Jangan, Ma," tolak Yoongi segera. "Kasihan Papa. Dia baru aja pulang, masa harus balik lagi ke sini dan mengantar aku ke rumah sakit. Papa pasti capek."
"Papamu pasti bersedia," tegas Mama, "karena ini untuk putranya."
Yoongi nggak membantah lagi. Mama langsung berjalan mengambil HP dan menghubungi nomor Papa.
-TBC-
